Tuesday, February 24, 2026

Perfect Hero Bab 467 : Always Be Hero

 


 Chandra, Lutfi, Satria dan Riyan menyebar ke beberapa titik untuk melakukan pencarian. Riyan bersama tim keamanan kantornya, bergegas menyusuri pabrik yang telah ditunjukkan oleh Satria. Chandra bersama tiga orang anak buah Satria menyusuri lokasi yang telah ditentukan. Lutfi dan Satria juga melakukan hal yang sama. Mereka mendatangi tempat-tempat yang kemungkinan memiliki ciri-ciri seperti yang dimaksud oleh Yuna dalam rekaman video.

 

“Sat, aku sudah ketemu sama anak buah kamu. Kami langsung bergerak!” tutur Chandra sambil mengendarai mobilnya. Mereka berempat sudah saling tersambung lewat panggilan grup.

 

“Bagus, Chan. Lutfi gimana?” tanya Satria.

 

“Siap, Komandan! Sudah bergerak!” sahut Lutfi.

 

“Bagus! Jangan sampai komunikasi kita terputus!” pinta Satria.

 

“Siap!” sahut semuanya lewat panggilan telepon. Mobil mereka terus bergerak ke arah yang berbeda.

 

“Yeriko, gimana?”

 

“Baru sampai lokasi,” jawab Yeriko sambil memarkirkan mobilnya di parkiran Sheraton Hotel. “Aku matikan dulu sambungan teleponnya.” Yeriko langsung mematikan sambungan telepon dan bergegas keluar dari mobil.

 

Yeriko menghampiri mobil Innova yang ada di belakangnya.

 

“Gimana, Mas?” tanya seorang pria sambil membuka kaca jendela mobilnya.

 

Yeriko memasukkan kepalanya ke dalam mobil. “Kalian pantau pergerakan perempuan yang aku temui.  Aku di kamar tiga kosong lima, lima menit setelah aku masuk, kalian berjaga di depan pintu kamar itu. Kalau dalam lima belas menit aku belum keluar, kalian harus masuk ke dalam kamar itu, gimana pun caranya!” perintah Yeriko sambil menatap lima ajudan kakeknya yang ada di dalam mobil tersebut.

 

“Siap, Mas!”

 

Yeriko mengangguk sambil mengacungkan jempol. Ia bergegas melangkahkan kakinya menuju kamar hotel yang sudah disiapkan oleh Refi. Ia melirik arloji di pergelangan tangannya sambil menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha setenang mungkin menghadapi keinginan gila Refi. Ia tidak ingin Refi membahayakan istri dan anaknya.

 

Beberapa menit kemudian, Yeriko sudah berdiri di depan pintu kamar yang dipesan Refi. Ia mengetuk pintu beberapa kali.

 

Tak perlu menunggu lama, pintu kamar tersebut langsung terbuka. Refi tersenyum bahagia melihat kedatangan Yeriko. Akhirnya, saat-saat yang ia impikan datang juga.

 

“Hai, Yer! Aku tahu, kamu pasti datang ke sini,” sapa Refi sambil menyentuh dada Yeriko. Ia merasa sangat bahagia dan berpikir kalau semua sudah ada di bawah kendalinya.

 

Yeriko menurunkan telapak tangan Refi dari dadanya. Ia langsung masuk ke kamar tersebut tanpa mengatakan apa pun. Ia duduk di salah satu sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.

 

Refi tersenyum manis. Gestur tubuhnya begitu menggoda dengan pakaian seksi yang sengaja ia siapkan untuk bertemu dengan Yeriko. Ia melangkah perlahan menuju meja, menuangkan wine ke dalam gelas dan menyodorkan gelas tersebut ke hadapan Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil meraih wine dari tangan Refi. Ia tak berniat untuk meminumnya, sehingga ia letakkan begitu saja di atas meja.

 

“Kamu tenang aja! Aku nggak kasih obat apa pun ke dalam minuman ini,” tutur Refi sambil menuangkan wine ke dalam gelas lain dan meminumnya perlahan.

 

Yeriko masih bergeming. Ia tak berbicara sedikit pun, sikap tenangnya ini membuat Refi merasa tidak puas.

 

“Kenapa dia masih tenang banget?” batin Refi sambil menatap Yeriko. Ia menggoyang-goyangkan gelas wine yang ada di tangannya sambil menunggu Yeriko bereaksi.

 

Yeriko berusaha menyembunyikan kekesalan dalam hatinya. Tubuh seksi Refi yang duduk di meja, tepat di depannya, sama sekali tidak membuatnya tertarik.

 

“Yer, kamu ingat kalau dulu kita pernah sama-sama. Kamu begitu sayang dan perhatian sama aku. Kenapa kamu tiba-tiba berubah kayak gini? Aku yakin, masih ada perasaan cinta di dalam hati kamu buat aku. Nggak bener-bener ngelupain aku,” tutur Refi.

 

“Kalau kamu khawatir melukai Yuna. Kita bisa menjalin hubungan diam-diam di belakang dia. Aku masih cinta sama kamu. Aku rela jika harus jadi selingkuhan kamu. Aku cuma mau selalu ada di dekat kamu seperti dulu.”

 

Yeriko tak menanggapi ucapan Refi. Raut wajahnya begitu datar sehingga membuat Refi kesulitan untuk menebak isi hati Yeriko.

 

Refi sangat kesal melihat Yeriko yang masih tak menghiraukan ucapannya. Ia terpaksa tersenyum untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia ingin mendapatkan sesuatu yang gagal ia dapatkan saat hari ulang tahunnya.

 

Refi meletakkan gelas wine yang ada di tangannya ke atas meja, kemudian melangkahkan kakinya ke belakang Yeriko. Perlahan, kedua tangan Refi bertengger di bahu Yeriko. Sampai detik ini, Yeriko masih tak bereaksi.

 

“Yer, aku bakal ngasih tahu keberadaan Yuna ... asal kamu mau bercinta sama aku malam ini,” bisik Refi  sambil menjalankan telapak tangannya ke dada Yeriko.

 

Yeriko langsung menghentikan tangan Refi saat wanita itu mengendus telinganya. “Kamu jangan ngimpi, Ref! Satu detik ada di dekat kamu aja, aku udah jijik. Apalagi kamu ngancam aku atas nama Yuna. Aku nggak akan nuruti kemauan gila kamu ini!” tegasnya.

 

Refi langsung bangkit sambil mengerutkan wajahnya. “Kamu tahu, apa yang bisa aku lakuin ke Yuna kalau kamu nggak mau nuruti semua keinginanku, hah!?” seru Refi tak mau kalah.

 

Yeriko tertawa kecil. “Kamu pikir, kamu sudah hebat sampai aku nggak bisa menemukan keberadaan istriku?” tanyanya.

 

“Maksud kamu?” tanya Refi sambil mengerutkan dahinya.

 

Yeriko langsung memutar kepalanya menatap Refi. “Aku sudah tahu keberadaan Yuna dari awal. Aku sengaja mengulur waktu untuk melihat apa yang mau kamu lakukan. Apa kamu nggak pernah melihat diri kamu sendiri? Kamu itu perempuan paling menjijikkan di dunia!”

 

Refi membelalakkan matanya. “Kamu pernah sayang sama aku, Yer. Sekarang, kamu bisa ngatain aku sekejam ini. Kamu nggak ingat apa yang pernah kamu lakukan ke aku?”

 

“Pernah tertarik sama kamu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku terlalu bodoh sampai tertipu dengan sikap lembut kamu itu. Sekarang, aku semakin tahu siapa kamu sebenarnya. Kamu nggak pantas ada di dekatku, bahkan ada di dekat orang-orangku!”

 

“Kamu yang lagi ditipu sama Yuna. Dia yang sudah nipu kamu, Yer. Dia deketin kamu karena harta yang kamu punya!”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, dia memang cinta sama aku karena harta yang aku punya. Apa yang aku punya saat ini adalah bukti cintaku ke dia. Aku nggak pernah menyesal memberikan seluruh harta dan kehidupanku untuk dia!”

 

“Kamu udah bener-bener buta, Yer!” seru Refi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masih tak mempercayai apa yang ia dengar dari mulut Yeriko. “Kamu cinta sama dia? Kenapa masih belum bisa nemuin dia sampai sekarang? Pasti, kamu cuma ngarang cerita doang. Kamu nggak takut kalau aku bunuh dia?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Sebelum kamu bunuh dia, aku pastikan kalau kamu yang akan mati duluan!”

 

Refi tergelak mendengar ucapan Yeriko. Ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang sudah ia lakukan selama ini. Kebenciannya semakin memuncak karena Yuna dan Yeriko tak bisa ia pengaruhi. Ia sangat membenci hubungan cinta yang tidak terpisahkan itu.

 

Yeriko menatap Refi tanpa berkata-kata.

 

Refi langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. “Aku tinggal bilang sama orang suruhanku untuk menghabisi Yuna sekarang juga!” ancam Refi.

 

Yeriko langsung menyambar ponsel dari tangan Refi.

 

Refi terkejut dengan Yeriko yang begitu cepat mengambil alih ponsel dari tangannya.

 

Yeriko langsung membanting ponsel tersebut ke lantai hingga setiap part ponsel Refi berserakan tak karuan.

 

“Yer, kamu ...!?” Refi menatap kesal ke arah Yeriko. Ia mulai gentar menghadapi tatapan mata Yeriko yang penuh amarah. Ia memberanikan diri untuk tersenyum sambil menatap Yeriko. “Kamu nggak akan pernah menemukan istri kamu sampai kapan pun!” serunya.

 

Yeriko tersenyum sinis. “Aku bukan orang bodoh, Ref. Aku udah pasang GPS di liontin Yuna. Kamu pikir, aku nggak tahu kalau kamu sembunyikan istriku di gudang yang ada di pelabuhan utara?”

 

Refi langsung tertawa mendengar ucapan Yeriko. “Ketahuan banget kalau kamu sebenarnya nggak tahu di mana istri kamu. Jelas-jelas aku bawa dia ke bekas Pabrik Karet yang ada di daerah Warugunung, jauh banget sama pelabuhan Utara. GPS kamu eror?” tuturnya sambil tertawa. Ia merasa sangat bahagia karena sebenarnya Yeriko tak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan istrinya.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Thanks, Ref!” ucapnya sambil melangkah keluar dari kamar hotel tersebut.

 

Refi membelalakkan matanya. Ia baru menyadari kalau ia keceplosan bicara tentang keberadaan Yuna. Ia langsung berlari menghadang Yeriko agar tidak keluar dari kamar tersebut.

 

Yeriko langsung menyingkirkan tubuh Refi dengan mudah. Ia tidak ingin bernegosiasi soal perasaannya. Apalagi bermain-main dengan wanita yang menjijikkan seperti Refi.

 

Refi tertawa terbahak-bahak sebelum Yeriko benar-benar pergi meninggalkan kamar tersebut. “Percuma kalau kamu pergi ke sana sekarang. Aku udah siapin banyak orang untuk memenuhi kebutuhan biologis istri kamu. Dia nggak akan merasa kekurangan sedikit pun. Dia akan tetap merasa bahagia dan terpuaskan di tempat itu.”

 

PLAK ...!

 

PLAK ...!

 

Yeriko langsung menampar wajah Refi beberapa kali. “Bangsat, kamu! Kalau sampai istriku kenapa-kenapa, aku bakal bikin perhitungan sama kamu seumur hidup!” sentak Yeriko. Ia langsung menarik gagang pintu dan keluar dari kamar tersebut.

 

Refi memegangi pipinya yang memerah sambil menatap Yeriko yang mulai melangkah keluar dari kamarnya. Air matanya mengalir karena ia masih tidak bisa mendapatkan Yeriko walau ia sudah melakukan hal yang paling berbahaya dalam hidupnya.

 

“Beresin dia!” perintah Yeriko pada lima ajudan yang menunggu di luar pintu.

 

Ajudan-ajudan itu mengangguk. Mereka bergegas menerobos ke kamar Refi. Membuat Refi terkejut bukan main. “Kalian siapa?” tanya Refi.

 

Semua orang yang masuk ke ruangannya itu tidak menjawab. Salah seorang memukul tengkuk Refi hingga membuat wanita itu pingsan.

 

Yeriko melangkahkan kakinya menyusuri koridor hotel sambil menempelkan ponsel di telinganya.

 

“Halo ...! Yuna disekap di bekas Pabrik Karet daerah Warugunung. Semua bergerak ke sana!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Yer!” sahut Chandra.

 

 “Semua langsung meluncur ke sana!” Satria tak mau kalah.

 

“Lutfi sama Riyan, tolong urus si Refi!” perintah Yeriko.

 

“Siap, Bos!” sahut Lutfi.

 

Yeriko menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku. Ia mempercepat langkah kakinya keluar dari hotel tersebut dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju Warugunung.  

 

“Yun, tunggu aku!” pinta Yeriko sambil melajukan mobilnya membelah jalanan. Ia ingin bisa sampai lebih cepat untuk menyelamatkan istrinya. 

 

((Bersambung ...))

Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi. Kasih support untuk Mr. And Ms. Ye ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas