Chandra,
Lutfi, Satria dan Riyan menyebar ke beberapa titik untuk melakukan pencarian.
Riyan bersama tim keamanan kantornya, bergegas menyusuri pabrik yang telah
ditunjukkan oleh Satria. Chandra bersama tiga orang anak buah Satria menyusuri
lokasi yang telah ditentukan. Lutfi dan Satria juga melakukan hal yang sama.
Mereka mendatangi tempat-tempat yang kemungkinan memiliki ciri-ciri seperti
yang dimaksud oleh Yuna dalam rekaman video.
“Sat,
aku sudah ketemu sama anak buah kamu. Kami langsung bergerak!” tutur Chandra
sambil mengendarai mobilnya. Mereka berempat sudah saling tersambung lewat
panggilan grup.
“Bagus,
Chan. Lutfi gimana?” tanya Satria.
“Siap,
Komandan! Sudah bergerak!” sahut Lutfi.
“Bagus!
Jangan sampai komunikasi kita terputus!” pinta Satria.
“Siap!”
sahut semuanya lewat panggilan telepon. Mobil mereka terus bergerak ke arah
yang berbeda.
“Yeriko,
gimana?”
“Baru
sampai lokasi,” jawab Yeriko sambil memarkirkan mobilnya di parkiran Sheraton
Hotel. “Aku matikan dulu sambungan teleponnya.” Yeriko langsung mematikan
sambungan telepon dan bergegas keluar dari mobil.
Yeriko
menghampiri mobil Innova yang ada di belakangnya.
“Gimana,
Mas?” tanya seorang pria sambil membuka kaca jendela mobilnya.
Yeriko
memasukkan kepalanya ke dalam mobil. “Kalian pantau pergerakan perempuan yang
aku temui. Aku di kamar tiga kosong lima, lima menit setelah aku masuk,
kalian berjaga di depan pintu kamar itu. Kalau dalam lima belas menit aku belum
keluar, kalian harus masuk ke dalam kamar itu, gimana pun caranya!” perintah
Yeriko sambil menatap lima ajudan kakeknya yang ada di dalam mobil tersebut.
“Siap,
Mas!”
Yeriko
mengangguk sambil mengacungkan jempol. Ia bergegas melangkahkan kakinya menuju
kamar hotel yang sudah disiapkan oleh Refi. Ia melirik arloji di pergelangan
tangannya sambil menarik napas dalam-dalam. Ia berusaha setenang mungkin
menghadapi keinginan gila Refi. Ia tidak ingin Refi membahayakan istri dan
anaknya.
Beberapa
menit kemudian, Yeriko sudah berdiri di depan pintu kamar yang dipesan Refi. Ia
mengetuk pintu beberapa kali.
Tak
perlu menunggu lama, pintu kamar tersebut langsung terbuka. Refi tersenyum
bahagia melihat kedatangan Yeriko. Akhirnya, saat-saat yang ia impikan datang
juga.
“Hai,
Yer! Aku tahu, kamu pasti datang ke sini,” sapa Refi sambil menyentuh dada
Yeriko. Ia merasa sangat bahagia dan berpikir kalau semua sudah ada di bawah
kendalinya.
Yeriko
menurunkan telapak tangan Refi dari dadanya. Ia langsung masuk ke kamar
tersebut tanpa mengatakan apa pun. Ia duduk di salah satu sofa yang ada di
dalam ruangan tersebut.
Refi
tersenyum manis. Gestur tubuhnya begitu menggoda dengan pakaian seksi yang
sengaja ia siapkan untuk bertemu dengan Yeriko. Ia melangkah perlahan menuju
meja, menuangkan wine ke dalam gelas dan menyodorkan gelas tersebut ke hadapan
Yeriko.
Yeriko
tersenyum sambil meraih wine dari tangan Refi. Ia tak berniat untuk meminumnya,
sehingga ia letakkan begitu saja di atas meja.
“Kamu
tenang aja! Aku nggak kasih obat apa pun ke dalam minuman ini,” tutur Refi
sambil menuangkan wine ke dalam gelas lain dan meminumnya perlahan.
Yeriko
masih bergeming. Ia tak berbicara sedikit pun, sikap tenangnya ini membuat Refi
merasa tidak puas.
“Kenapa
dia masih tenang banget?” batin Refi sambil menatap Yeriko. Ia
menggoyang-goyangkan gelas wine yang ada di tangannya sambil menunggu Yeriko
bereaksi.
Yeriko
berusaha menyembunyikan kekesalan dalam hatinya. Tubuh seksi Refi yang duduk di
meja, tepat di depannya, sama sekali tidak membuatnya tertarik.
“Yer,
kamu ingat kalau dulu kita pernah sama-sama. Kamu begitu sayang dan perhatian
sama aku. Kenapa kamu tiba-tiba berubah kayak gini? Aku yakin, masih ada
perasaan cinta di dalam hati kamu buat aku. Nggak bener-bener ngelupain aku,”
tutur Refi.
“Kalau
kamu khawatir melukai Yuna. Kita bisa menjalin hubungan diam-diam di belakang
dia. Aku masih cinta sama kamu. Aku rela jika harus jadi selingkuhan kamu. Aku
cuma mau selalu ada di dekat kamu seperti dulu.”
Yeriko
tak menanggapi ucapan Refi. Raut wajahnya begitu datar sehingga membuat Refi
kesulitan untuk menebak isi hati Yeriko.
Refi
sangat kesal melihat Yeriko yang masih tak menghiraukan ucapannya. Ia terpaksa
tersenyum untuk menenangkan dirinya sendiri. Ia ingin mendapatkan sesuatu yang
gagal ia dapatkan saat hari ulang tahunnya.
Refi
meletakkan gelas wine yang ada di tangannya ke atas meja, kemudian melangkahkan
kakinya ke belakang Yeriko. Perlahan, kedua tangan Refi bertengger di bahu
Yeriko. Sampai detik ini, Yeriko masih tak bereaksi.
“Yer,
aku bakal ngasih tahu keberadaan Yuna ... asal kamu mau bercinta sama aku malam
ini,” bisik Refi sambil menjalankan telapak tangannya ke dada Yeriko.
Yeriko
langsung menghentikan tangan Refi saat wanita itu mengendus telinganya. “Kamu
jangan ngimpi, Ref! Satu detik ada di dekat kamu aja, aku udah jijik. Apalagi
kamu ngancam aku atas nama Yuna. Aku nggak akan nuruti kemauan gila kamu ini!”
tegasnya.
Refi
langsung bangkit sambil mengerutkan wajahnya. “Kamu tahu, apa yang bisa aku
lakuin ke Yuna kalau kamu nggak mau nuruti semua keinginanku, hah!?” seru Refi
tak mau kalah.
Yeriko
tertawa kecil. “Kamu pikir, kamu sudah hebat sampai aku nggak bisa menemukan
keberadaan istriku?” tanyanya.
“Maksud
kamu?” tanya Refi sambil mengerutkan dahinya.
Yeriko
langsung memutar kepalanya menatap Refi. “Aku sudah tahu keberadaan Yuna dari
awal. Aku sengaja mengulur waktu untuk melihat apa yang mau kamu lakukan. Apa
kamu nggak pernah melihat diri kamu sendiri? Kamu itu perempuan paling
menjijikkan di dunia!”
Refi
membelalakkan matanya. “Kamu pernah sayang sama aku, Yer. Sekarang, kamu bisa
ngatain aku sekejam ini. Kamu nggak ingat apa yang pernah kamu lakukan ke aku?”
“Pernah
tertarik sama kamu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku terlalu bodoh
sampai tertipu dengan sikap lembut kamu itu. Sekarang, aku semakin tahu siapa
kamu sebenarnya. Kamu nggak pantas ada di dekatku, bahkan ada di dekat
orang-orangku!”
“Kamu
yang lagi ditipu sama Yuna. Dia yang sudah nipu kamu, Yer. Dia deketin kamu
karena harta yang kamu punya!”
Yeriko
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, dia memang cinta sama aku karena harta
yang aku punya. Apa yang aku punya saat ini adalah bukti cintaku ke dia. Aku
nggak pernah menyesal memberikan seluruh harta dan kehidupanku untuk dia!”
“Kamu
udah bener-bener buta, Yer!” seru Refi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ia masih tak mempercayai apa yang ia dengar dari mulut Yeriko. “Kamu cinta sama
dia? Kenapa masih belum bisa nemuin dia sampai sekarang? Pasti, kamu cuma
ngarang cerita doang. Kamu nggak takut kalau aku bunuh dia?”
Yeriko
menggelengkan kepala. “Sebelum kamu bunuh dia, aku pastikan kalau kamu yang
akan mati duluan!”
Refi
tergelak mendengar ucapan Yeriko. Ia sudah tidak peduli lagi dengan apa yang
sudah ia lakukan selama ini. Kebenciannya semakin memuncak karena Yuna dan
Yeriko tak bisa ia pengaruhi. Ia sangat membenci hubungan cinta yang tidak
terpisahkan itu.
Yeriko
menatap Refi tanpa berkata-kata.
Refi
langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. “Aku tinggal bilang sama
orang suruhanku untuk menghabisi Yuna sekarang juga!” ancam Refi.
Yeriko
langsung menyambar ponsel dari tangan Refi.
Refi
terkejut dengan Yeriko yang begitu cepat mengambil alih ponsel dari tangannya.
Yeriko
langsung membanting ponsel tersebut ke lantai hingga setiap part ponsel Refi
berserakan tak karuan.
“Yer,
kamu ...!?” Refi menatap kesal ke arah Yeriko. Ia mulai gentar menghadapi
tatapan mata Yeriko yang penuh amarah. Ia memberanikan diri untuk tersenyum
sambil menatap Yeriko. “Kamu nggak akan pernah menemukan istri kamu sampai
kapan pun!” serunya.
Yeriko
tersenyum sinis. “Aku bukan orang bodoh, Ref. Aku udah pasang GPS di liontin
Yuna. Kamu pikir, aku nggak tahu kalau kamu sembunyikan istriku di gudang yang
ada di pelabuhan utara?”
Refi
langsung tertawa mendengar ucapan Yeriko. “Ketahuan banget kalau kamu
sebenarnya nggak tahu di mana istri kamu. Jelas-jelas aku bawa dia ke bekas
Pabrik Karet yang ada di daerah Warugunung, jauh banget sama pelabuhan Utara.
GPS kamu eror?” tuturnya sambil tertawa. Ia merasa sangat bahagia karena
sebenarnya Yeriko tak memiliki kemampuan untuk menyelamatkan istrinya.
Yeriko
tersenyum kecil. “Thanks, Ref!” ucapnya sambil melangkah keluar dari kamar
hotel tersebut.
Refi
membelalakkan matanya. Ia baru menyadari kalau ia keceplosan bicara tentang
keberadaan Yuna. Ia langsung berlari menghadang Yeriko agar tidak keluar dari
kamar tersebut.
Yeriko
langsung menyingkirkan tubuh Refi dengan mudah. Ia tidak ingin bernegosiasi
soal perasaannya. Apalagi bermain-main dengan wanita yang menjijikkan seperti
Refi.
Refi
tertawa terbahak-bahak sebelum Yeriko benar-benar pergi meninggalkan kamar
tersebut. “Percuma kalau kamu pergi ke sana sekarang. Aku udah siapin banyak
orang untuk memenuhi kebutuhan biologis istri kamu. Dia nggak akan merasa
kekurangan sedikit pun. Dia akan tetap merasa bahagia dan terpuaskan di tempat
itu.”
PLAK
...!
PLAK
...!
Yeriko
langsung menampar wajah Refi beberapa kali. “Bangsat, kamu! Kalau sampai
istriku kenapa-kenapa, aku bakal bikin perhitungan sama kamu seumur hidup!”
sentak Yeriko. Ia langsung menarik gagang pintu dan keluar dari kamar tersebut.
Refi
memegangi pipinya yang memerah sambil menatap Yeriko yang mulai melangkah
keluar dari kamarnya. Air matanya mengalir karena ia masih tidak bisa
mendapatkan Yeriko walau ia sudah melakukan hal yang paling berbahaya dalam
hidupnya.
“Beresin
dia!” perintah Yeriko pada lima ajudan yang menunggu di luar pintu.
Ajudan-ajudan
itu mengangguk. Mereka bergegas menerobos ke kamar Refi. Membuat Refi terkejut
bukan main. “Kalian siapa?” tanya Refi.
Semua
orang yang masuk ke ruangannya itu tidak menjawab. Salah seorang memukul
tengkuk Refi hingga membuat wanita itu pingsan.
Yeriko
melangkahkan kakinya menyusuri koridor hotel sambil menempelkan ponsel di
telinganya.
“Halo
...! Yuna disekap di bekas Pabrik Karet daerah Warugunung. Semua bergerak ke
sana!” perintah Yeriko.
“Siap,
Yer!” sahut Chandra.
“Semua
langsung meluncur ke sana!” Satria tak mau kalah.
“Lutfi
sama Riyan, tolong urus si Refi!” perintah Yeriko.
“Siap,
Bos!” sahut Lutfi.
Yeriko
menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku. Ia mempercepat langkah kakinya
keluar dari hotel tersebut dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju
Warugunung.
“Yun,
tunggu aku!” pinta Yeriko sambil melajukan mobilnya membelah jalanan. Ia ingin
bisa sampai lebih cepat untuk menyelamatkan istrinya.
((Bersambung ...))
Dukung terus ceritanya biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi. Kasih support untuk Mr. And Ms. Ye ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment