Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 459 : Penjahat Amatir

 


“Kalian mau apa dari aku?” tanya Yuna saat mobil yang membawanya melaju kencang membelah jalanan kota.

 

“Nggak usah banyak tanya!” sahut pria yang memegangi tubuh Yuna.

 

“Kalian mau ngerampok aku? Aku bisa kasih kalian uang yang banyak, asal kalian lepasin aku!”

 

Pria yang menyetir hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Yuna. “Kami bukan mau merampok. Cuma mau ngasih sedikit pelajaran dan kesenangan untuk kamu.”

 

“Siapa yang udah nyuruh kalian buat nyulik aku?” tanya Yuna.

 

“Nanti akan tahu siapa orangnya,” jawab pria bertato itu dengan santai.

 

Yuna mengerutkan hidungnya. Hanya Refi seorang yang ada di dalam pikirannya. Tapi ia masih tidak yakin kalau Refi memiliki keberanian untuk melakukan tindakan kriminal seperti ini.

 

“Lepasin aku!” seru Yuna.

 

“Kamu pikir, kami akan melepas kamu dengan mudah?” tutur pria lain sambil tertawa.

 

Yuna menggigit kuat-kuat tangan pria yang memegangi tubuhnya.

 

“Aargh ...!” Pria itu terus mengerang karena Yuna tak berhenti menggigit pergelangan tangannya. Pria itu langsung mendorong tubuh Yuna hingga tubuh Yuna terbentur ke badan mobil.

 

Yuna menatap keluar jendela. Pepohonan dan bangunan terlihat berlari kencang berlawanan dengan kecepatan mobil yang membawanya. Ia berusaha meraih gagang pintu mobil untuk membukanya.

 

“Nggak usah macem-macem! Kamu mau mati!” seru pria yang bersama Yuna, ia langsung menarik tubuh Yuna dan mengikat tangan Yuna menggunakan selendang yang ada di dalam mobil tersebut.

 

“Bos, kita harus sampai ke lokasi secepatnya!” tutur seorang pria yang duduk di samping bosnya yang sedang menyetir. Ia memberikan cairan ke sapu tangan yang ia pegang dan memberikan pada temannya yang duduk di kursi belakang.

 

“Bius dia! Bikin ribut aja!” perintah pria yang duduk di kursi depan.

 

Pria yang memegangi tangan Yuna mengangguk.

 

“Mmh ... mmh ...” Yuna berusaha menghindari sapu tangan yang ada di tangan pria tersebut agar tidak sampai ke hidungnya. Baginya, kesadarannya adalah yang paling penting. Ia tidak ingin terbius dan tidak bisa melindungi anak yang ada di dalam perutnya.”

 

Hanya dalam hitungan detik, Yuna sudah tidak sadarkan diri. Ia langsung tertidur di dalam mobil tersebut.

 

“Udah aman, Bos!” tutur pria yang duduk di sebelah Yuna. “Ini bius beneran canggih ya?” tanyanya sambil menghirup sapu tangan yang ada di tangannya.

 

“Bos, kenapa aku nggak bisa lihat apa-apa?” tanya pria yang duduk di sebelah Yuna.

 

Pria yang duduk di depannya langsung menoleh ke belakang. “Goblok! Kenapa biusnya dihirup sendiri!?”

 

Pria yang menyetir mobil menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa kamu bisa dapet anak buah yang goblok begini?”

 

“Untungnya sandera kita juga sudah pingsan,” sahut pria itu. “Ini bocah baru belajar jadi penjahat. Nggak ngerti obat bius.”

 

Pria yang menyetir menggeleng-gelengkan kepala. “Kalau dia yang terbius duluan pas beraksi, habis kita!”

 

“Biarkan aja mereka berdua tidur. Kita harus sampai ke lokasi secepatnya sebelum orang-orang menyadari penculikan ini.”

 

Beberapa menit kemudian, mobil yang membawa Yuna berhenti di sebuah bangunan yang sudah tidak terawat lagi selama bertahun-tahun. Dua pria itu langsung membawa Yuna masuk ke dalam bangunan bekas pabrik karet yang ada di sebelah barat kota Surabaya.

 

“Ini cewek mau diapain, Bos?” tanya seorang pria gundul yang memegang tubuh Yuna.

 

“Ikat aja!” perintah pria yang dipanggil bos itu.

 

Pria gundul itu langsung mendudukkan Yuna dan mengikat tubuh Yuna menggunakan tali. Saat ia tak sengaja menyentuh perut Yuna, ia baru menyadari kalau wanita yang sedang ia culik sedang dalam keadaan hamil.

 

“Bos ...!” panggil pria gundul itu sambil menoleh ke arah bosnya.

 

“Mmh.” Pria yang dipanggil bos itu terlihat santai. Ia duduk di kursi, mengangkat kedua kakinya ke atas meja sambil menikmati bir yang sudah disiapkan sebelumnya.

 

“Dia lagi hamil, Bos.”

 

“Hah!? Serius?” tanya pria bertato yang dipanggil bos itu.

 

Pria gundul itu menganggukkan kepala. Ia menarik dress Yuna ke belakang hingga terlihat perut Yuna yang buncit.

 

Pria bertato itu terdiam. “Orang yang nyuruh kita nggak bilang kalau perempuan ini lagi hamil. Kalau tahu, aku nggak mungkin mau ngerjain ini.”

 

“Gimana, dong?” tanya pria gundul tersebut.

 

Pria bertato itu terlihat menimbang-nimbang tindakan yang sudah dilakukannya. “Sudah terlanjur. Kita juga sudah terima uangnya. Asal semua baik-baik aja. Kita nggak perlu takut.”

 

“Tapi, Bos ...”

 

“Kita ini penjahat. Nggak usah berbaik hati sama sandera!” sentak pria bertato tersebut.

 

Pria gundul itu mengelus-elus kepalanya. Ia bingung dengan tindakannya kali ini. Ia tidak tega melihat Yuna yang begitu lemah dan dalam keadaan hamil. Tapi, ia juga tak punya pilihan lain karena ia butuh uang. Ia hanya bisa menuruti perintah dari bos yang sudah membayarnya.

 

“Kamu bangunin bocah tengik yang masih di mobil itu!” perintah pria bertato itu.

 

Pria gundul itu mengangguk. Ia segera keluar dari bangunan dan berusaha membangunkan pria berambut kriting yang terbius oleh obat bius yang seharusnya untuk sandera mereka.

 

Ting, Keriting ...!” panggil pria gundul itu sambil menggoyang-goyangkan tubuh temannya itu. Ia mencoba melakukan berbagai cara agar temannya itu bisa segera terbangun dari tidurnya.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna membuka mata perlahan. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang gelap, kumuh dan bau. Bau yang ada di tempat ini sangat khas karena tempat tersebut adalah bekas pengolahan karet. Banyak limbah karet yang baunya tidak bisa hilang walau pabrik sudah ditinggalkan selama beberapa tahun.

 

“Aku di mana?” tanya Yuna sambil memijat keningnya sendiri. Ia merasa kepalanya sangat pusing dan tidak bisa mengingat apa-apa selain kejadian di mobil.

 

Mata Yuna langsung tertuju pada beberapa kecoa dan binatang lain yang bebas bermain di dinding yang tak jauh darinya. “Aku di mana?” tanyanya dengan bibir bergetar.

 

Yuna menundukkan kepalanya. Ia terbayang wajah suami yang selalu melindunginya setiap saat. Ia sangat mengkhawatirkan Yeriko saat ini. “Yeriko pasti lagi nyari aku,” batin Yuna. “Aku harus keluar dari tempat ini.”

 

Yuna berusaha melepas tangannya yang terikat di belakang pinggangnya. “Aargh ...! Kuat banget ikatannya!” seru Yuna. Semakin ia mencoba untuk memberontak, pergelangan tangannya justru semakin merah dan panas karena gesekan kain dan tali yang melilit pergelangan tangannya.

 

“Kamu sudah sadar juga?” tanya seorang pria yang bertato sambil berdiri di hadapan Yuna.

 

Yuna langsung menatap pria itu penuh kebencian. “Kalian mau apa?”

 

Pria itu tergelak mendengar pertanyaan dari Yuna. “Kami hanya ingin bermain dan bersenang-senang.”

 

“Suamiku nggak akan ngelepasin kalian semua!” seru  Yuna.

 

“Kamu pikir, kami takut sama perempuan kayak kamu, hah!?” sentak pria bertato tersebut.

 

Prook ... Prook ... Prook ...!

 

Terdengar  suara tepuk tangan dari belakang pria bertato itu. Pria itu langsung berbalik, ia tersenyum menatap wanita cantik yang berjalan ke arahnya.

 

“Perempuan ini sudah aku tangkap,” tutur pria itu sambil membelakangi tubuh Yuna.

 

“Bagus!” sahut wanita cantik tersebut sambil melangkah mendekati tubuh Yuna. Yuna bisa melihat langkah kaki wanita itu dari sela-sela kaki pria bertato yang berdiri di hadapannya. Yuna langsung melongo begitu pria itu menyingkir dari hadapannya, ia menatap wanita cantik bertubuh tinggi yang ada di hadapannya.

 

“Hai, Yuna ...!” sapa wanita cantik itu sambil menatap wajah Yuna yang terduduk di lantai dalam keadaan terikat.

 

“Ternyata memang kamu,” sahut Yuna sambil berusaha melepaskan ikatan di tangannya.

 

Wanita itu tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa sangat senang melihat Yuna yang terduduk lemah di lantai, tepat di bawah kakinya. Ia membungkukkan tubuhnya dan meraih dagu Yuna agar menatapnya. “Aku mau ngajak kamu bersenang-senang. Semoga, kamu suka dengan tempat ini. Aku mau lihat kamu berlutut di depanku!”

 

“Cuuiih ...!” Yuna menengadahkan kepala sambil meludahi wanita itu.

 

“Sialan kamu, Yun!” Wanita itu mengerutkan hidung sambil mencengkeram rahang Yuna.

 

“Aku nggak akan pernah berlutut di depan kamu!” sahut Yuna dengan mata berapi-api. Ia tidak suka berada di bawah perintah dan kendali orang lain. Terlebih, orang yang berusaha mengendalikannya adalah orang yang selalu berseteru dengannya.

 

((Bersambung ...))

 

Be carefull ...!

Bab-bab berikutnya akan penuh ketegangan dan mengandung banyak bawang. Yang nggak tahan, bisa menepi dulu ya.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas