“Kalian
mau apa dari aku?” tanya Yuna saat mobil yang membawanya melaju kencang
membelah jalanan kota.
“Nggak
usah banyak tanya!” sahut pria yang memegangi tubuh Yuna.
“Kalian
mau ngerampok aku? Aku bisa kasih kalian uang yang banyak, asal kalian lepasin
aku!”
Pria
yang menyetir hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Yuna. “Kami bukan mau
merampok. Cuma mau ngasih sedikit pelajaran dan kesenangan untuk kamu.”
“Siapa
yang udah nyuruh kalian buat nyulik aku?” tanya Yuna.
“Nanti
akan tahu siapa orangnya,” jawab pria bertato itu dengan santai.
Yuna
mengerutkan hidungnya. Hanya Refi seorang yang ada di dalam pikirannya. Tapi ia
masih tidak yakin kalau Refi memiliki keberanian untuk melakukan tindakan
kriminal seperti ini.
“Lepasin
aku!” seru Yuna.
“Kamu
pikir, kami akan melepas kamu dengan mudah?” tutur pria lain sambil tertawa.
Yuna
menggigit kuat-kuat tangan pria yang memegangi tubuhnya.
“Aargh
...!” Pria itu terus mengerang karena Yuna tak berhenti menggigit pergelangan
tangannya. Pria itu langsung mendorong tubuh Yuna hingga tubuh Yuna terbentur
ke badan mobil.
Yuna
menatap keluar jendela. Pepohonan dan bangunan terlihat berlari kencang
berlawanan dengan kecepatan mobil yang membawanya. Ia berusaha meraih gagang
pintu mobil untuk membukanya.
“Nggak
usah macem-macem! Kamu mau mati!” seru pria yang bersama Yuna, ia langsung
menarik tubuh Yuna dan mengikat tangan Yuna menggunakan selendang yang ada di
dalam mobil tersebut.
“Bos,
kita harus sampai ke lokasi secepatnya!” tutur seorang pria yang duduk di
samping bosnya yang sedang menyetir. Ia memberikan cairan ke sapu tangan yang
ia pegang dan memberikan pada temannya yang duduk di kursi belakang.
“Bius
dia! Bikin ribut aja!” perintah pria yang duduk di kursi depan.
Pria
yang memegangi tangan Yuna mengangguk.
“Mmh
... mmh ...” Yuna berusaha menghindari sapu tangan yang ada di tangan pria
tersebut agar tidak sampai ke hidungnya. Baginya, kesadarannya adalah yang
paling penting. Ia tidak ingin terbius dan tidak bisa melindungi anak yang ada
di dalam perutnya.”
Hanya
dalam hitungan detik, Yuna sudah tidak sadarkan diri. Ia langsung tertidur di
dalam mobil tersebut.
“Udah
aman, Bos!” tutur pria yang duduk di sebelah Yuna. “Ini bius beneran canggih
ya?” tanyanya sambil menghirup sapu tangan yang ada di tangannya.
“Bos,
kenapa aku nggak bisa lihat apa-apa?” tanya pria yang duduk di sebelah Yuna.
Pria
yang duduk di depannya langsung menoleh ke belakang. “Goblok! Kenapa biusnya
dihirup sendiri!?”
Pria
yang menyetir mobil menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa kamu bisa dapet anak
buah yang goblok begini?”
“Untungnya
sandera kita juga sudah pingsan,” sahut pria itu. “Ini bocah baru belajar jadi
penjahat. Nggak ngerti obat bius.”
Pria
yang menyetir menggeleng-gelengkan kepala. “Kalau dia yang terbius duluan pas
beraksi, habis kita!”
“Biarkan
aja mereka berdua tidur. Kita harus sampai ke lokasi secepatnya sebelum orang-orang menyadari penculikan ini.”
Beberapa
menit kemudian, mobil yang membawa Yuna berhenti di sebuah bangunan yang sudah
tidak terawat lagi selama bertahun-tahun. Dua pria itu langsung membawa Yuna
masuk ke dalam bangunan bekas pabrik karet yang ada di sebelah barat kota
Surabaya.
“Ini
cewek mau diapain, Bos?” tanya seorang pria gundul yang memegang tubuh Yuna.
“Ikat
aja!” perintah pria yang dipanggil bos itu.
Pria
gundul itu langsung mendudukkan Yuna dan mengikat tubuh Yuna menggunakan tali.
Saat ia tak sengaja menyentuh perut Yuna, ia baru menyadari kalau wanita yang
sedang ia culik sedang dalam keadaan hamil.
“Bos
...!” panggil pria gundul itu sambil menoleh ke arah bosnya.
“Mmh.”
Pria yang dipanggil bos itu terlihat santai. Ia duduk di kursi, mengangkat
kedua kakinya ke atas meja sambil menikmati bir yang sudah disiapkan
sebelumnya.
“Dia
lagi hamil, Bos.”
“Hah!?
Serius?” tanya pria bertato yang dipanggil bos itu.
Pria
gundul itu menganggukkan kepala. Ia menarik dress Yuna ke belakang hingga
terlihat perut Yuna yang buncit.
Pria
bertato itu terdiam. “Orang yang nyuruh kita nggak bilang kalau perempuan ini
lagi hamil. Kalau tahu, aku nggak mungkin mau ngerjain ini.”
“Gimana,
dong?” tanya pria gundul tersebut.
Pria
bertato itu terlihat menimbang-nimbang tindakan yang sudah dilakukannya. “Sudah
terlanjur. Kita juga sudah terima uangnya. Asal semua baik-baik aja. Kita nggak
perlu takut.”
“Tapi,
Bos ...”
“Kita
ini penjahat. Nggak usah berbaik hati sama sandera!” sentak pria bertato
tersebut.
Pria
gundul itu mengelus-elus kepalanya. Ia bingung dengan tindakannya kali ini. Ia
tidak tega melihat Yuna yang begitu lemah dan dalam keadaan hamil. Tapi, ia
juga tak punya pilihan lain karena ia butuh uang. Ia hanya bisa menuruti
perintah dari bos yang sudah membayarnya.
“Kamu
bangunin bocah tengik yang masih di mobil itu!” perintah pria bertato itu.
Pria
gundul itu mengangguk. Ia segera keluar dari bangunan dan berusaha membangunkan
pria berambut kriting yang terbius oleh obat bius yang seharusnya untuk sandera
mereka.
“Ting, Keriting ...!” panggil pria
gundul itu sambil menggoyang-goyangkan tubuh temannya itu. Ia mencoba melakukan
berbagai cara agar temannya itu bisa segera terbangun dari tidurnya.
Beberapa
menit kemudian, Yuna membuka mata perlahan. Ia mengedarkan pandangannya ke
seluruh ruangan yang gelap, kumuh dan bau. Bau yang ada di tempat ini sangat
khas karena tempat tersebut adalah bekas pengolahan karet. Banyak limbah karet
yang baunya tidak bisa hilang walau pabrik sudah ditinggalkan selama beberapa
tahun.
“Aku
di mana?” tanya Yuna sambil memijat keningnya sendiri. Ia merasa kepalanya
sangat pusing dan tidak bisa mengingat apa-apa selain kejadian di mobil.
Mata
Yuna langsung tertuju pada beberapa kecoa dan binatang lain yang bebas bermain
di dinding yang tak jauh darinya. “Aku di mana?” tanyanya dengan bibir
bergetar.
Yuna
menundukkan kepalanya. Ia terbayang wajah suami yang selalu melindunginya
setiap saat. Ia sangat mengkhawatirkan Yeriko saat ini. “Yeriko pasti lagi
nyari aku,” batin Yuna. “Aku harus keluar dari tempat ini.”
Yuna
berusaha melepas tangannya yang terikat di belakang pinggangnya. “Aargh ...!
Kuat banget ikatannya!” seru Yuna. Semakin ia mencoba untuk memberontak,
pergelangan tangannya justru semakin merah dan panas karena gesekan kain dan
tali yang melilit pergelangan tangannya.
“Kamu
sudah sadar juga?” tanya seorang pria yang bertato sambil berdiri di hadapan
Yuna.
Yuna
langsung menatap pria itu penuh kebencian. “Kalian mau apa?”
Pria
itu tergelak mendengar pertanyaan dari Yuna. “Kami hanya ingin bermain dan
bersenang-senang.”
“Suamiku
nggak akan ngelepasin kalian semua!” seru Yuna.
“Kamu
pikir, kami takut sama perempuan kayak kamu, hah!?” sentak pria bertato
tersebut.
Prook
... Prook ... Prook ...!
Terdengar
suara tepuk tangan dari belakang pria bertato itu. Pria itu langsung berbalik,
ia tersenyum menatap wanita cantik yang berjalan ke arahnya.
“Perempuan
ini sudah aku tangkap,” tutur pria itu sambil membelakangi tubuh Yuna.
“Bagus!”
sahut wanita cantik tersebut sambil melangkah mendekati tubuh Yuna. Yuna bisa
melihat langkah kaki wanita itu dari sela-sela kaki pria bertato yang berdiri
di hadapannya. Yuna langsung melongo begitu pria itu menyingkir dari
hadapannya, ia menatap wanita cantik bertubuh tinggi yang ada di hadapannya.
“Hai,
Yuna ...!” sapa wanita cantik itu sambil menatap wajah Yuna yang terduduk di
lantai dalam keadaan terikat.
“Ternyata
memang kamu,” sahut Yuna sambil berusaha melepaskan ikatan di tangannya.
Wanita
itu tersenyum penuh kemenangan. Ia merasa sangat senang melihat Yuna yang
terduduk lemah di lantai, tepat di bawah kakinya. Ia membungkukkan tubuhnya dan
meraih dagu Yuna agar menatapnya. “Aku mau ngajak kamu bersenang-senang.
Semoga, kamu suka dengan tempat ini. Aku mau lihat kamu berlutut di depanku!”
“Cuuiih
...!” Yuna menengadahkan kepala sambil meludahi wanita itu.
“Sialan
kamu, Yun!” Wanita itu mengerutkan hidung sambil mencengkeram rahang Yuna.
“Aku
nggak akan pernah berlutut di depan kamu!” sahut Yuna dengan mata berapi-api.
Ia tidak suka berada di bawah perintah dan kendali orang lain. Terlebih, orang
yang berusaha mengendalikannya adalah orang yang selalu berseteru dengannya.
((Bersambung ...))
Be carefull ...!
Bab-bab berikutnya akan penuh ketegangan dan
mengandung banyak bawang. Yang nggak tahan, bisa menepi dulu ya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment