Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 455 : SangriLa Story

 


Tepat jam tujuh malam, Yeriko dan Yuna memasuki private room di Jamoo Restaurant yang ada di Sangri-La Hotel Surabaya.

 

“Hei ...!” sapa Lutfi yang sudah ada di dalam ruangan tersebut. “Tuan Muda terganteng di seluruh negeri akhirnya datang juga.”

 

Yeriko tersenyum menanggapi sapaan Lutfi. Ia langsung duduk di kursi kosong yang ada di ruangan tersebut. Di ruangan tersebut, sudah ada Chandra, Jheni dan Icha yang sudah menunggu kedatangan Yeriko dan istrinya.

 

“Yun, kamu makin cantik aja,” tutur Icha saat menatap Yuna yang sudah duduk di samping Yeriko.

 

“Gombal ...!” sahut Yuna sambil menatap Icha.

 

“Serius. Beberapa hari ini nggak ketemu, kamu makin ... ehem-ehem aja,” tutur Icha sambil tertawa kecil.

 

“Ehem-ehem apaan? Ambigu banget!” sahut Yuna.

 

“Itu bawaan ibu hamil, Cha. Kata orang, wanita kalau lagi hamil ... aura cantik alaminya terpancar.”

 

“Serius? Jadi pengen hamil juga,” celetuk Icha sambil tersenyum menatap Yuna.

 

Semua orang langsung mengangkat alis mendengar celetukan Icha.

 

“Eh!?” Icha langsung menatap semua orang bergantian saat ia menyadari celetukannya.

 

“Cha, kamu ngomong sama aku kalau minta dihamilin!” tutur Lutfi sambil menatap Icha.

 

Icha langsung mencubit paha Lutfi sambil mendelikkan matanya.

 

“Aw ...! Sakit, Cha!” seru Lutfi sambil mengelus-elus pahanya yang terasa panas akibat cubitan dari tangan Icha. “Jangan dicubit! Dielus-elus aja!” pintanya sambil tersenyum.

 

Icha mengerutkan hidungnya sambil memonyongkan bibirnya ke arah Lutfi.

 

Lutfi melebarkan kelopak matanya, ia langsung menyambar bibir Icha dengan bibirnya.

 

Icha langsung menarik wajahnya menjauh dari wajah Lutfi. Ia tersenyum kecut sambil mengelus tengkuknya. Pipinya merona karena semua orang yang ada di ruangan itu memandang ke arahnya.

 

“Ciye ...!” goda Yuna sambil menatap wajah Icha yang memerah.

 

“Nggak usah malu-malu, Cha! Yuna aja nggak pernah malu jadi cewek agresif,” tutur Jheni sambil melirik Yuna yang duduk di sampingnya.

 

“Yuna kan udah nikah, Jhen.”

 

“Halah, kalo nggak ada kita-kita ... nggak malu ‘kan?” goda Yuna.

 

Icha menundukkan kepala. Ia menahan tawa sambil menggaruk dahinya yang tidak gatal.

 

“Udah, udah! Icha pemalu, jangan digodain mulu!” pinta Lutfi.

 

“Ciye ... belain pacarnya,” goda Yuna.

 

Lutfi tertawa kecil. “Kasihan Icha, jangan digodain terus!”

 

“Halah, kamu kalo ngolokin orang, nomor satu. Giliran dibalas, nggak mau.”

 

“Balas aku, jangan balas Icha!” pinta Lutfi.

 

“Aku nggak papa, udah biasa diolokin sama Yuna. Dia emang kayak gitu,” tutur Icha.

 

Yuna langsung menjulurkan lidahnya ke arah Lutfi.

 

“Eh, kalau anakmu cowok ... ntar mirip sama aku!” sahut Lutfi sambil menunjuk wajah Yuna.

 

“Nggak mungkin!” sahut Yuna.

 

“Kakak Ipar sering ngolokin aku. Lihat aja, mirip sama aku ntar!”

 

“Nggak mau. Anakku mirip ayahnya, dong!”

 

“Ini berdebatnya mau sampai besok?” tanya Chandra. “Nggak mau pesen makan?”

 

“Kamu belum pesenin makan, Lut?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi.

 

“Udah. Tapi punya Kakak Ipar belum aku pesenin. Menunya dia kan diatur sama ahli gizi. Mana berani aku pesen menu sembarangan,” jawab Lutfi.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia memanggil pelayan dan memesan menu untuk Yuna.

 

Semenjak kehamilannya, Yuna selalu mengikuti anjuran ahli gizinya agar janin yang ada di dalam perutnya mendapat nutrisi yang baik.

 

“Yer, emang harus sampe segitunya ya soal makanan ibu hamil?” tanya Lutfi. “Setahu aku, makan apa aja boleh asal sehat.”

 

“Aku mau yang terbaik buat anak dan istriku.”

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, ya, ya.”

 

Yuna hanya tersenyum sambil memandang Yeriko yang duduk di sampingnya. Tangan Yeriko, selalu menggenggam tangannya sejak mereka masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

Beberapa menit kemudian, makanan sudah terhidang di atas meja. Mereka semua menikmati makan malam bersama sambil berbincang.

 

“Yun, si Refi nggak nyari kamu lagi ‘kan?” tanya Jheni.

 

Yuna menggelengkan kepalanya.

 

“Kenapa lagi si Reptil itu?” tanya Lutfi.

 

“Waktu aku masih nginap di rumah Yuna. Dia tiba-tiba datang, marah-marah soal dia yang di-blacklist sama perusahaan yang orbitin dia,” jawab Jheni.

 

Yeriko dan Chandra menahan tawa. Mereka sudah mengetahui apa yang terjadi sebelumnya.

 

“Hahaha.” Suara Lutfi tiba-tiba memenuhi seisi ruangan.

 

Yuna dan Jheni saling pandang melihat reaksi Lutfi yang berlebihan.

 

“Kamu udah tahu soal ini?” tanya Yuna sambil menatap Lutfi yang masih tertawa.

 

Lutfi menganggukkan kepala, ia memegangi perutnya sambil berusaha menghentikan tawanya.

 

Yuna merapatkan bibir sambil menatap Lutfi. “Ada apa, sih? Kenapa ketawanya sampe segitunya?”

 

“Uring-uringan dia sekarang?” tanya Lutfi. “Bagus!”

 

Yuna menarik napas sambil menatap Lutfi. Ia masih tidak mengerti apa maksud Lutfi.

 

“Dia lagi viral gitu. Lagi naik daun, terus di-blacklist dari semua kegiatan perusahaan. Mampus!”

 

“Kamu yang ngerencanain ini semua?” tanya Jheni sambil menatap Lutfi.

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Aku yang narik dia masuk ke perusahaanku supaya bisa ngerjain dia, hahaha.”

 

“Hah!? SD Entertainment punya kamu?”

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya. Punya ayahku. Aku cuma mewarisi aja.”

 

“Oh ... jadi, selama ini kamu sengaja bikin sensasi buat naikkan popularitas artis kamu sendiri? Bukan cuma endorse villa doang?” tanya Jheni.

 

Lutfi tertawa sambil memainkan alisnya. “Gimana? Keren ‘kan?”

 

Yuna dan Jheni mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Cha, kamu udah tahu soal ini?” tanya Yuna.

 

“Tahu, dong!” sambar Lutfi.

 

“Biasa aja jawabnya! Nggak usah nyolot gitu!” sela Jheni.

 

“Kalo nggak nyolot, nggak asyik, Jhen!” sahut Lutfi.

 

Jheni terkekeh. “Icha aja biasa aja.”

 

“Icha mah kalem. Istri tercinta ....” Lutfi langsung merangkul Icha yang duduk di sampingnya.

 

Icha hanya tersenyum sambil menatap teman-temannya yang ada di ruangan tersebut.

 

Lutfi tersenyum sambil memain-mainkan alisnya menatap Yuna. “Kakak Ipar ...!”

 

“Apa?”

 

“Aku kan sengaja ngerjain Refi buat balasin dendam Kakak Ipar. Aku nggak dikasih pelukan terima kasih?” tanya Lutfi.

 

Yeriko langsung menatap tajam ke arah Lutfi.

 

 

 

GLEG!

 

Lutfi menelan ludah begitu mendapati tatapan Yeriko yang mengancam dirinya. “Peluk doang, Yer.”

 

“Coba kalo berani!” sahut Yeriko menantang.

 

Lutfi bangkit dari kursi. Ia langsung menghampiri Yuna, ia merentangkan tangannya dan bersiap memeluk Yuna dari belakang.

 

Tangan Yeriko langsung menahan dada Lutfi agar tidak mendekati istrinya.

 

Yuna tertawa kecil sambil memutar kepalanya menatap Lutfi yang ada di belakangnya.

 

“Kakak Ipar ...! Peluk!” rengek Lutfi sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna tertawa kecil sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko menggelengkan kepala sambil menatap Yuna.

 

“Ck, kamu ini ... pelit banget! Cuma peluk Kakak Ipar doang,” tutur Lutfi kesal.

 

“Nggak ada peluk-peluk!” sahut Yeriko sambil mendorong dada Lutfi.

 

“Cha, aku boleh peluk Kakak Ipar ‘kan?” tanya Lutfi sambil menatap Icha.

 

Icha hanya tertawa melihat tingkah pacarnya itu. Ia sudah terbiasa melihat Refi berpelukan dengan artis-artisnya. Ia tak lagi cemburu ketika Lutfi memeluk atau mencium pipi wanita lain. Ia percaya sepenuhnya pada Lutfi yang selalu meyakinkan keraguan yang kerap melanda hatinya.

 

“Awas kalo kamu iyain, ya!” ancam Yeriko sambil menunjuk wajah Icha.

 

Icha hanya menahan tawa melihat dua pria yang sedang berebut sahabat baiknya itu.

 

“Yer, cuma peluk doang! Kasih aja!” tutur Jheni sambil menatap Yeriko.

 

“Kamu yang wakilin Yuna!” perintah Yeriko sambil menatap Jheni.

 

“Nggak bisa!” sambar Chandra. “Cha, pacarmu tolong dikondisikan ya!” pintanya sambil menoleh ke arah Icha.

 

“Astaga ...! Cuma peluk doang, nggak papa,” sahut Jheni. “Aku wakilin Yuna buat peluk kamu,” tutur Jheni sambil menatap Lutfi.

 

Lutfi langsung tertawa bahagia. “Nggak papa, deh. Kalo kamu yang wakilin,” ucapnya sambil merentangkan kedua tangan ke arah Jheni.

 

“Apaan sih, Lut!” seru Chandra sambil menahan tubuh Lutfi. “Jhen, kamu nggak usah kecentilan juga!”

 

“Kecentilan gimana? Cuma peluk doang sebagai sesama teman. Ada yang salah?” sahut Jheni.

 

Chandra nyengir menanggapi pertanyaan Jheni. Ia tidak ingin berdebat dengan Jheni dan memilih untuk memendam kekesalannya. “Aku aja yang wakilin!” pinta Chandra sambil memeluk erat tubuh Lutfi.

 

“Ah, males dipeluk sama kamu! Nggak ada empuk-empuknya,” tutur Lutfi sambil mendorong tubuh Chandra.

 

“Bangsat kamu, Lut!” sahut Chandra.

 

“Udah tahu aku otak mesumnya si Lutfi,” tutur Yeriko.

 

“Cha, kamu maunya punya calon suami kayak gini. Nggak cemburu?” tanya Chandra sambil menatap Icha.

 

Icha menggelengkan kepala. “Udah biasa lihat dia foto mesra sama artis-artisnya.”

 

“Kamu nggak punya rasa cemburu, Cha?” tanya Chandra.

 

Lutfi terkekeh. Ia kembali duduk di samping Icha dan merangkul gadis itu ke pelukannya. “Nggak, dong! Dia mah pacar paling the best,” ucapnya sambil mengelus lembut dagu Icha.

 

“Udah kebal aku, Chan. Kalo aku cemburu terus, hubungan kita udah kelar.”

 

“Ini yang bikin aku makin sayang sama Icha. Dia yang paling pengertian dan kuat bertahan dengan kerjaanku yang kayak gini,” tutur Lutfi. “Kalian jangan racuni Icha lagi ya!” lanjutnya sambil menunjuk wajah sahabat-sahabatnya.

 

“Kuatkan hatimu, Cha!” tutur Jheni sambil menatap wajah Icha.

 

Icha mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku selalu kuat, Jhen. Asal nggak kelewatan aja.”

 

“Kelewatan itu yang gimana?” tanya Jheni penasaran.

 

“Dia bebas, tapi ada batasan juga. Kalo sampe kelewat batas, aku nggak akan maafin!” tegas Icha.

 

“Nggak, Sayangku,” sahut Lutfi sambil mengecup pelipis Icha. “Cintaku buat kamu aja.”

 

“Ciye ...!” goda Yuna.

 

“Nggak usah ciye-ciye!” sahut Lutfi sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Yuna. “Dipeluk nggak mau aja.”

 

“Ngambek dia gara-gara nggak dapet pelukan. Hahaha,” sahut Jheni.

 

“Peluk Icha aja!” perintah Yuna. “Daripada kecentilan mau peluk yang lain.”

 

Lutfi langsung mengeratkan rangkulannya. “Udah puas peluk dia setiap hari.”

 

“Jadi, kamu cari kepuasan lain?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

“Eh!? Sembarangan kalo ngomong!” sahut Lutfi sambil melempar biji kacang polong ke arah Yuna.

 

“Iih ... aku nggak suka dilempar makanan!” seru Yuna. “Baju aku kotor,” lanjutnya sambil menarik tisu di atas meja, kemudian mengusap lengannya yang terkena kotoran makanan.

 

“Ya udah, besok aku lempar batu,” sahut Lutfi.

 

“Coba kalo berani!” Yeriko langsung mendelik ke arah Lutfi.

 

“Bercanda, Yer. Mana tega sih aku ngelempar Kakak Ipar pake batu beneran,” sahut Lutfi.

 

“Lempar pake bibir aja, Lut!” sahut Yuna sambil tertawa geli.

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna. “Kamu ...!? Udah mulai nakal ya!?” tanyanya menahan geram.

 

Yuna meringis ke arah Yeriko. “Cuma bercanda, Mr. Jealous!” sahutnya sambil mengecup pipi Yeriko.

 

Yeriko tersenyum, ia balik mengecup istrinya. Mereka berenam melanjutkan makan malam sambil bercanda dan berbincang banyak hal.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini  biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas