Tepat
jam tujuh malam, Yeriko dan Yuna memasuki private room di Jamoo Restaurant yang
ada di Sangri-La Hotel Surabaya.
“Hei
...!” sapa Lutfi yang sudah ada di dalam ruangan tersebut. “Tuan Muda
terganteng di seluruh negeri akhirnya datang juga.”
Yeriko
tersenyum menanggapi sapaan Lutfi. Ia langsung duduk di kursi kosong yang ada
di ruangan tersebut. Di ruangan tersebut, sudah ada Chandra, Jheni dan Icha
yang sudah menunggu kedatangan Yeriko dan istrinya.
“Yun,
kamu makin cantik aja,” tutur Icha saat menatap Yuna yang sudah duduk di
samping Yeriko.
“Gombal
...!” sahut Yuna sambil menatap Icha.
“Serius.
Beberapa hari ini nggak ketemu, kamu makin ... ehem-ehem aja,” tutur Icha
sambil tertawa kecil.
“Ehem-ehem
apaan? Ambigu banget!” sahut Yuna.
“Itu
bawaan ibu hamil, Cha. Kata orang, wanita kalau lagi hamil ... aura cantik
alaminya terpancar.”
“Serius?
Jadi pengen hamil juga,” celetuk Icha sambil tersenyum menatap Yuna.
Semua
orang langsung mengangkat alis mendengar celetukan Icha.
“Eh!?”
Icha langsung menatap semua orang bergantian saat ia menyadari celetukannya.
“Cha,
kamu ngomong sama aku kalau minta dihamilin!” tutur Lutfi sambil menatap Icha.
Icha
langsung mencubit paha Lutfi sambil mendelikkan matanya.
“Aw
...! Sakit, Cha!” seru Lutfi sambil mengelus-elus pahanya yang terasa panas
akibat cubitan dari tangan Icha. “Jangan dicubit! Dielus-elus aja!” pintanya
sambil tersenyum.
Icha
mengerutkan hidungnya sambil memonyongkan bibirnya ke arah Lutfi.
Lutfi
melebarkan kelopak matanya, ia langsung menyambar bibir Icha dengan bibirnya.
Icha
langsung menarik wajahnya menjauh dari wajah Lutfi. Ia tersenyum kecut sambil
mengelus tengkuknya. Pipinya merona karena semua orang yang ada di ruangan itu
memandang ke arahnya.
“Ciye
...!” goda Yuna sambil menatap wajah Icha yang memerah.
“Nggak
usah malu-malu, Cha! Yuna aja nggak pernah malu jadi cewek agresif,” tutur
Jheni sambil melirik Yuna yang duduk di sampingnya.
“Yuna
kan udah nikah, Jhen.”
“Halah,
kalo nggak ada kita-kita ... nggak malu ‘kan?” goda Yuna.
Icha
menundukkan kepala. Ia menahan tawa sambil menggaruk dahinya yang tidak gatal.
“Udah,
udah! Icha pemalu, jangan digodain mulu!” pinta Lutfi.
“Ciye
... belain pacarnya,” goda Yuna.
Lutfi
tertawa kecil. “Kasihan Icha, jangan digodain terus!”
“Halah,
kamu kalo ngolokin orang, nomor satu. Giliran dibalas, nggak mau.”
“Balas
aku, jangan balas Icha!” pinta Lutfi.
“Aku
nggak papa, udah biasa diolokin sama Yuna. Dia emang kayak gitu,” tutur Icha.
Yuna
langsung menjulurkan lidahnya ke arah Lutfi.
“Eh,
kalau anakmu cowok ... ntar mirip sama aku!” sahut Lutfi sambil menunjuk wajah
Yuna.
“Nggak
mungkin!” sahut Yuna.
“Kakak
Ipar sering ngolokin aku. Lihat aja, mirip sama aku ntar!”
“Nggak
mau. Anakku mirip ayahnya, dong!”
“Ini
berdebatnya mau sampai besok?” tanya Chandra. “Nggak mau pesen makan?”
“Kamu
belum pesenin makan, Lut?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi.
“Udah.
Tapi punya Kakak Ipar belum aku pesenin. Menunya dia kan diatur sama ahli gizi.
Mana berani aku pesen menu sembarangan,” jawab Lutfi.
Yeriko
tersenyum kecil. Ia memanggil pelayan dan memesan menu untuk Yuna.
Semenjak
kehamilannya, Yuna selalu mengikuti anjuran ahli gizinya agar janin yang ada di
dalam perutnya mendapat nutrisi yang baik.
“Yer,
emang harus sampe segitunya ya soal makanan ibu hamil?” tanya Lutfi. “Setahu
aku, makan apa aja boleh asal sehat.”
“Aku
mau yang terbaik buat anak dan istriku.”
Lutfi
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, ya, ya.”
Yuna
hanya tersenyum sambil memandang Yeriko yang duduk di sampingnya. Tangan
Yeriko, selalu menggenggam tangannya sejak mereka masuk ke dalam ruangan
tersebut.
Beberapa
menit kemudian, makanan sudah terhidang di atas meja. Mereka semua menikmati
makan malam bersama sambil berbincang.
“Yun,
si Refi nggak nyari kamu lagi ‘kan?” tanya Jheni.
Yuna
menggelengkan kepalanya.
“Kenapa
lagi si Reptil itu?” tanya Lutfi.
“Waktu
aku masih nginap di rumah Yuna. Dia tiba-tiba datang, marah-marah soal dia yang
di-blacklist sama perusahaan yang orbitin dia,” jawab Jheni.
Yeriko
dan Chandra menahan tawa. Mereka sudah mengetahui apa yang terjadi sebelumnya.
“Hahaha.”
Suara Lutfi tiba-tiba memenuhi seisi ruangan.
Yuna
dan Jheni saling pandang melihat reaksi Lutfi yang berlebihan.
“Kamu
udah tahu soal ini?” tanya Yuna sambil menatap Lutfi yang masih tertawa.
Lutfi
menganggukkan kepala, ia memegangi perutnya sambil berusaha menghentikan
tawanya.
Yuna
merapatkan bibir sambil menatap Lutfi. “Ada apa, sih? Kenapa ketawanya sampe
segitunya?”
“Uring-uringan
dia sekarang?” tanya Lutfi. “Bagus!”
Yuna
menarik napas sambil menatap Lutfi. Ia masih tidak mengerti apa maksud Lutfi.
“Dia
lagi viral gitu. Lagi naik daun, terus di-blacklist dari semua kegiatan
perusahaan. Mampus!”
“Kamu
yang ngerencanain ini semua?” tanya Jheni sambil menatap Lutfi.
Lutfi
menganggukkan kepala. “Aku yang narik dia masuk ke perusahaanku supaya bisa
ngerjain dia, hahaha.”
“Hah!?
SD Entertainment punya kamu?”
Lutfi
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya. Punya ayahku. Aku cuma mewarisi aja.”
“Oh
... jadi, selama ini kamu sengaja bikin sensasi buat naikkan popularitas artis
kamu sendiri? Bukan cuma endorse villa doang?” tanya Jheni.
Lutfi
tertawa sambil memainkan alisnya. “Gimana? Keren ‘kan?”
Yuna
dan Jheni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Cha,
kamu udah tahu soal ini?” tanya Yuna.
“Tahu,
dong!” sambar Lutfi.
“Biasa
aja jawabnya! Nggak usah nyolot gitu!” sela Jheni.
“Kalo
nggak nyolot, nggak asyik, Jhen!” sahut Lutfi.
Jheni
terkekeh. “Icha aja biasa aja.”
“Icha
mah kalem. Istri tercinta ....” Lutfi langsung merangkul Icha yang duduk di
sampingnya.
Icha
hanya tersenyum sambil menatap teman-temannya yang ada di ruangan tersebut.
Lutfi
tersenyum sambil memain-mainkan alisnya menatap Yuna. “Kakak Ipar ...!”
“Apa?”
“Aku
kan sengaja ngerjain Refi buat balasin dendam Kakak Ipar. Aku nggak dikasih
pelukan terima kasih?” tanya Lutfi.
Yeriko
langsung menatap tajam ke arah Lutfi.
GLEG!
Lutfi
menelan ludah begitu mendapati tatapan Yeriko yang mengancam dirinya. “Peluk
doang, Yer.”
“Coba
kalo berani!” sahut Yeriko menantang.
Lutfi
bangkit dari kursi. Ia langsung menghampiri Yuna, ia merentangkan tangannya dan
bersiap memeluk Yuna dari belakang.
Tangan
Yeriko langsung menahan dada Lutfi agar tidak mendekati istrinya.
Yuna
tertawa kecil sambil memutar kepalanya menatap Lutfi yang ada di belakangnya.
“Kakak
Ipar ...! Peluk!” rengek Lutfi sambil menatap wajah Yuna.
Yuna
tertawa kecil sambil menatap Yeriko.
Yeriko
menggelengkan kepala sambil menatap Yuna.
“Ck,
kamu ini ... pelit banget! Cuma peluk Kakak Ipar doang,” tutur Lutfi kesal.
“Nggak
ada peluk-peluk!” sahut Yeriko sambil mendorong dada Lutfi.
“Cha,
aku boleh peluk Kakak Ipar ‘kan?” tanya Lutfi sambil menatap Icha.
Icha
hanya tertawa melihat tingkah pacarnya itu. Ia sudah terbiasa melihat Refi
berpelukan dengan artis-artisnya. Ia tak lagi cemburu ketika Lutfi memeluk atau
mencium pipi wanita lain. Ia percaya sepenuhnya pada Lutfi yang selalu
meyakinkan keraguan yang kerap melanda hatinya.
“Awas
kalo kamu iyain, ya!” ancam Yeriko sambil menunjuk wajah Icha.
Icha
hanya menahan tawa melihat dua pria yang sedang berebut sahabat baiknya itu.
“Yer,
cuma peluk doang! Kasih aja!” tutur Jheni sambil menatap Yeriko.
“Kamu
yang wakilin Yuna!” perintah Yeriko sambil menatap Jheni.
“Nggak
bisa!” sambar Chandra. “Cha, pacarmu tolong dikondisikan ya!” pintanya sambil
menoleh ke arah Icha.
“Astaga
...! Cuma peluk doang, nggak papa,” sahut Jheni. “Aku wakilin Yuna buat peluk
kamu,” tutur Jheni sambil menatap Lutfi.
Lutfi
langsung tertawa bahagia. “Nggak papa, deh. Kalo kamu yang wakilin,” ucapnya
sambil merentangkan kedua tangan ke arah Jheni.
“Apaan
sih, Lut!” seru Chandra sambil menahan tubuh Lutfi. “Jhen, kamu nggak usah
kecentilan juga!”
“Kecentilan
gimana? Cuma peluk doang sebagai sesama teman. Ada yang salah?” sahut Jheni.
Chandra
nyengir menanggapi pertanyaan Jheni. Ia tidak ingin berdebat dengan Jheni dan
memilih untuk memendam kekesalannya. “Aku aja yang wakilin!” pinta Chandra
sambil memeluk erat tubuh Lutfi.
“Ah,
males dipeluk sama kamu! Nggak ada empuk-empuknya,” tutur Lutfi sambil
mendorong tubuh Chandra.
“Bangsat
kamu, Lut!” sahut Chandra.
“Udah
tahu aku otak mesumnya si Lutfi,” tutur Yeriko.
“Cha,
kamu maunya punya calon suami kayak gini. Nggak cemburu?” tanya Chandra sambil
menatap Icha.
Icha
menggelengkan kepala. “Udah biasa lihat dia foto mesra sama artis-artisnya.”
“Kamu
nggak punya rasa cemburu, Cha?” tanya Chandra.
Lutfi
terkekeh. Ia kembali duduk di samping Icha dan merangkul gadis itu ke
pelukannya. “Nggak, dong! Dia mah pacar paling the best,” ucapnya sambil
mengelus lembut dagu Icha.
“Udah
kebal aku, Chan. Kalo aku cemburu terus, hubungan kita udah kelar.”
“Ini
yang bikin aku makin sayang sama Icha. Dia yang paling pengertian dan kuat
bertahan dengan kerjaanku yang kayak gini,” tutur Lutfi. “Kalian jangan racuni
Icha lagi ya!” lanjutnya sambil menunjuk wajah sahabat-sahabatnya.
“Kuatkan
hatimu, Cha!” tutur Jheni sambil menatap wajah Icha.
Icha
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku selalu kuat, Jhen. Asal nggak kelewatan
aja.”
“Kelewatan
itu yang gimana?” tanya Jheni penasaran.
“Dia
bebas, tapi ada batasan juga. Kalo sampe kelewat batas, aku nggak akan maafin!”
tegas Icha.
“Nggak,
Sayangku,” sahut Lutfi sambil mengecup pelipis Icha. “Cintaku buat kamu aja.”
“Ciye
...!” goda Yuna.
“Nggak
usah ciye-ciye!” sahut Lutfi sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Yuna.
“Dipeluk nggak mau aja.”
“Ngambek
dia gara-gara nggak dapet pelukan. Hahaha,” sahut Jheni.
“Peluk
Icha aja!” perintah Yuna. “Daripada kecentilan mau peluk yang lain.”
Lutfi
langsung mengeratkan rangkulannya. “Udah puas peluk dia setiap hari.”
“Jadi,
kamu cari kepuasan lain?” tanya Yuna sambil menahan tawa.
“Eh!?
Sembarangan kalo ngomong!” sahut Lutfi sambil melempar biji kacang polong ke
arah Yuna.
“Iih
... aku nggak suka dilempar makanan!” seru Yuna. “Baju aku kotor,” lanjutnya
sambil menarik tisu di atas meja, kemudian mengusap lengannya yang terkena
kotoran makanan.
“Ya
udah, besok aku lempar batu,” sahut Lutfi.
“Coba
kalo berani!” Yeriko langsung mendelik ke arah Lutfi.
“Bercanda,
Yer. Mana tega sih aku ngelempar Kakak Ipar pake batu beneran,” sahut Lutfi.
“Lempar
pake bibir aja, Lut!” sahut Yuna sambil tertawa geli.
Yeriko
langsung menoleh ke arah Yuna. “Kamu ...!? Udah mulai nakal ya!?” tanyanya
menahan geram.
Yuna
meringis ke arah Yeriko. “Cuma bercanda, Mr. Jealous!” sahutnya sambil mengecup
pipi Yeriko.
Yeriko
tersenyum, ia balik mengecup istrinya. Mereka berenam melanjutkan makan malam
sambil bercanda dan berbincang banyak hal.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini
biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment