Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 454 : Rindu yang Menggebu

 


Yeriko menyodorkan sebuah kotak ke arah Yuna saat mereka sedang berdua di dalam kamar.

 

“Apa ini?” tanya Yuna.

 

“Oleh-oleh buat kamu.”

 

Yuna tersenyum. “Makasih ...!” ucapnya sambil membuka kotak tersebut. “Wah ...! Cokelat Berlin!?” serunya dengan mata berbinar.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Suka?”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung mengambil satu cokelat berbentuk menara Eiffel dan memandanginya. “Bentuknya bagus-bagus dan lucu-lucu banget. Nggak tega mau makan,” gumamnya.

 

“Aku beliin kamu buat dimakan. Bukan buat dipajang.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Sayang. Aku simpan dulu, deh.” Ia kembali menutup kotak tersebut.

 

“Mbak ...!” panggil Yuna pada seorang pelayan yang kebetulan melintas di depan kamarnya karena pintu kamar terbuka.

 

“Iya, Nyonya!” Pelayan tersebut langsung menoleh ke arah kamar dan menghampiri Yuna.

 

“Tolong simpan ini di kulkas ya! Nggak boleh ada yang makan! Ini cokelat khusus buat aku. Nanti aku beliin cokelat lain buat kalian,” perintah Yuna.

 

“Siap, Nyonya Muda!” Pelayan itu segera mengambil kotak dari tangan Yuna dan bergegas pergi.

 

“Besok malam ... Lutfi sama Chandra ngajak ngumpul. Kamu mau ‘kan?”

 

“Di mana?”

 

“Di Sangri-La.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Aku juga udah kangen ngumpul bareng mereka.”

 

“Besok pagi, jadi pergi?” tanya Yeriko.

 

“Ke mana?” tanya Yuna balik.

 

“Mau ke rumah ayah kamu ‘kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Tapi ... aku masih kangen sama kamu. Ntar kamunya sibuk ngobrol sama ayah terus,” tuturnya sambil menyandarkan kepalanya di dada suaminya.

 

“Aku juga kangen sama kamu,” bisik Yeriko sambil memeluk Yuna.

 

Yuna tertawa kecil sambil mengeratkan pelukannya.

 

“Gimana tidur kamu belakangan ini? Nyenyak?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku susah tidur kalau nggak ada kamu. Lain kali, kalau pergi dinas lagi, jangan lama-lama ya!” pintanya manja.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Lain kali, kamu mau ikut?”

 

Yuna mengedikkan bahu. “Kalo aku ikut, malah ganggu konsentrasi kerjaan kamu.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kamu memang sering mengganggu pikiranku. Kalau ada kamu, pengennya bercinta terus.”

 

“Uch, dasar mesum!” dengus Yuna sambil memonyongkan bibirnya.

 

“Siapa yang suka godain duluan?” tanya Yeriko menyelidik.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak pernah godain, kok.”

 

“Serius?” tanya Yeriko sambil memasukkan tangannya ke dalam baju Yuna dan mengelus lembut perut istrinya itu.

 

Yuna menahan napas. Ia langsung meliukkan tubuhnya dan menciumi leher dan dada Yeriko.

 

Yeriko menggenggam pundak Yuna yang sudah menekannya di atas sofa. Ia menoleh ke arah pintu kamar yang masih terbuka. “Nggak mau tutup pintu dulu?” tanyanya sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia langsung melumat bibir suaminya. Tangannya dengan lincah melepas kancing kemeja Yeriko satu per satu.

 

“Aku tutup pintu dulu!” pinta Yeriko sambil berusaha bangkit dari sofa.

 

Yuna mengatur napasnya yang memburu sambil menatap tubuh Yeriko yang sedang menutup pintu kamar mereka.

 

Yeriko tersenyum sambil menghampiri Yuna yang masih duduk di sofa. “Kangen banget ya?” tanyanya sambil merapikan rambut Yuna yang berantakan.

 

“Apa itu pertanyaan yang masih butuh jawaban lagi?” sahut Yuna ketus. Ia menarik bantal sofa yang terjepit di punggungnya dan memeluknya erat. Tangan satunya meraih remote televisi dan menyalakan televisi tersebut.

 

Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap istrinya yang tiba-tiba marah saat mendengar pertanyaan darinya. Ia melepas kemeja yang semua kancingnya sudah terbuka.

 

“Nggak usah buka-bukaan di sini! Aku udah hilang mood.” Yuna menopang wajah dengan kedua telapak tangannya sambil melirik Yeriko yang duduk di sampingnya.

 

“Jangan ngambek, dong!” pinta Yeriko sambil meraih tangan Yuna. “Ntar cantiknya ilang.”

 

Yuna tak menanggapi, matanya tetap saja fokus menatap layar televisi.

 

Yeriko menghela napas. “Ya udah kalo mau ngambek. Aku tidur di ruang kerja aja,” ucapnya sambil mengangkat pantatnya dari sofa.

 

“Jangan!” Yuna langsung menyambar lengan Yeriko, menahannya agar tidak pergi.

 

Yeriko tertawa dalam hati. Ia sangat mengetahui sifat istrinya yang sangat manja dan selalu mencari perhatian darinya.

 

“Ay ...!” panggil Yuna sambil menggigit bibirnya.

 

“Masih ngambek, nggak?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia langsung menarik tubuh Yeriko hingga tubuh pria itu menekannya di atas sofa. “Jangan candain aku terus!” pintanya sambil menatap mata Yeriko yang jaraknya tak lebih dari sepuluh sentimeter dari matanya.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap wajah Yuna. Ia meletakkan ujung hidungnya ke ujung hidung Yuna, lalu mengayunkannya dengan lembut. “Bukannya kamu yang lebih sering bercanda dan main-main sama aku? Kenapa ngambek cuma karena aku tanya begitu doang?” tanyanya lembut.

 

“Kesel aja. Kamu udah tahu kalau aku kangen banget. Udah seminggu nggak ketemu. Bisa-bisanya masih dijadiin bahan candaan. Kamu tuh nggak kangen sama aku?”

 

“Kangen banget,” jawab Yeriko lembut sambil mengelus-elus pipi Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menggigit bibirnya. Ia mengecup bibir Yeriko beberapa kali.

 

Yeriko tersenyum, ia balas melumat bibir Yuna. Jemari tangannya mulai liar hingga masuk ke sela-sela jemari tangan Yuna. Detak jantungnya semakin cepat saat jemari tangan Yuna mencengkeram kuat punggung tangan Yeriko. Ia selalu bermain dengan hati-hati agar bisa membuat Yuna bahagia tanpa menyakiti anak yang ada di dalam perutnya.

 

“I love you ...” bisik Yeriko lirih.

 

Yuna tak menyahut, ia hanya membalas dengan menghisap leher dan dada Yeriko, meninggalkan kissmark di tubuh suaminya itu. Mereka terus bercinta, melepas kerinduan yang selama ini terpendam selama beberapa hari belakangan.

 

 

 

...

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

Yeriko memenuhi janjinya untuk menikmati sarapan pagi di rumah ayah Yuna. Setelah kembali dari perjalanan dinasnya, ia tidak langsung pergi ke perusahaan. Ia mengendalikan pekerjaannya dari rumah dan mempercayakan semuanya pada Riyan. Kali ini, ia ingin memberikan banyak waktu untuk keluarganya.

 

“Gimana hasil pengembangan bisnis kamu di Eropa?” tanya Adjie begitu ia dan Yeriko sudah duduk bersama-sama di meja makan.

 

“Lancar, Yah,” jawab Yeriko. “Kami berencana meluncurkan merk baru. Merk yang lebih mudah diterima secara internasional. Merk itu rencananya akan kami luncurkan pertama kali di beberapa kota di Eropa. Setelahnya, baru akan merambah ke negara lain. Termasuk Afrika dan Amerika.”

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala. “Kenapa pilih Eropa? Bukannya, kamu dulu sekolah di New York?”

 

“Ada banyak pertimbangan soal ini. Kami sudah melakukan riset sebelumnya. Produk yang kami luncurkan ini akan lebih mudah diterima di pasar Eropa. Secara kualitas, juga bisa bersaing dengan produk-produk terkenal di Eropa.”

 

Adjie mengangguk-angguk tanda mengerti. “Kamu pebisnis yang masih muda dan berbakat. Ayah percaya, kamu pasti bisa membuat perusahaan kamu berkembang dengan pesat.”

 

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Ayah bangga sama kamu. Masih semuda ini, kamu sudah sukses.”

 

Yeriko hanya tersenyum menanggapi ucapan Adjie. “Ah, Ayah terlalu berlebihan. Aku masih belajar soal bisnis.”

 

“Belajar, tapi hasilnya selalu mengejutkan.”

 

Yeriko tertawa kecil. Sementara Yuna hanya menyimak pembicaraan dua orang lelaki yang ada di hadapannya itu. Setiap kali keduanya membahas soal bisnis dan perusahaan, Yuna selalu merasa kalau keberadaannya tak pernah dianggap.

 

Mereka menikmati sarapan pagi sambil berbincang banyak hal hingga siang menjelang. Saat jam makan siang, Yuna dan Yeriko sudah berpindah ke kediaman keluarga besar Hadikusuma untuk menikmati makan siang bersama kakeknya.

 

Yuna dan Yeriko selalu berusaha bersikap adil pada keluarga dan mertuanya. Sejak menikah dengan Yuna, Yeriko yang jarang pulang ke rumah keluarga besarnya, menjadi lebih sering pulang dan menginap di rumah orang tuanya. Bagi Yuna, menjaga keharmonisan rumah tangga dan keluarganya adalah hal yang paling penting. Ia menyayangi keluarga suaminya seperti keluarga kandungnya sendiri.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini  biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas