Yeriko
menyodorkan sebuah kotak ke arah Yuna saat mereka sedang berdua di dalam kamar.
“Apa
ini?” tanya Yuna.
“Oleh-oleh
buat kamu.”
Yuna
tersenyum. “Makasih ...!” ucapnya sambil membuka kotak tersebut. “Wah ...!
Cokelat Berlin!?” serunya dengan mata berbinar.
Yeriko
tersenyum kecil. “Suka?”
Yuna
menganggukkan kepala. Ia langsung mengambil satu cokelat berbentuk menara
Eiffel dan memandanginya. “Bentuknya bagus-bagus dan lucu-lucu banget. Nggak
tega mau makan,” gumamnya.
“Aku
beliin kamu buat dimakan. Bukan buat dipajang.”
Yuna
memonyongkan bibirnya. “Sayang. Aku simpan dulu, deh.” Ia kembali menutup kotak
tersebut.
“Mbak
...!” panggil Yuna pada seorang pelayan yang kebetulan melintas di depan
kamarnya karena pintu kamar terbuka.
“Iya,
Nyonya!” Pelayan tersebut langsung menoleh ke arah kamar dan menghampiri Yuna.
“Tolong
simpan ini di kulkas ya! Nggak boleh ada yang makan! Ini cokelat khusus buat
aku. Nanti aku beliin cokelat lain buat kalian,” perintah Yuna.
“Siap,
Nyonya Muda!” Pelayan itu segera mengambil kotak dari tangan Yuna dan bergegas
pergi.
“Besok
malam ... Lutfi sama Chandra ngajak ngumpul. Kamu mau ‘kan?”
“Di
mana?”
“Di
Sangri-La.”
Yuna
mengangguk-anggukkan kepala. “Aku juga udah kangen ngumpul bareng mereka.”
“Besok
pagi, jadi pergi?” tanya Yeriko.
“Ke
mana?” tanya Yuna balik.
“Mau
ke rumah ayah kamu ‘kan?”
Yuna
menganggukkan kepala. “Tapi ... aku masih kangen sama kamu. Ntar kamunya sibuk
ngobrol sama ayah terus,” tuturnya sambil menyandarkan kepalanya di dada
suaminya.
“Aku
juga kangen sama kamu,” bisik Yeriko sambil memeluk Yuna.
Yuna
tertawa kecil sambil mengeratkan pelukannya.
“Gimana
tidur kamu belakangan ini? Nyenyak?” tanya Yeriko.
Yuna
menggelengkan kepala. “Aku susah tidur kalau nggak ada kamu. Lain kali, kalau
pergi dinas lagi, jangan lama-lama ya!” pintanya manja.
Yeriko
menganggukkan kepala. “Lain kali, kamu mau ikut?”
Yuna
mengedikkan bahu. “Kalo aku ikut, malah ganggu konsentrasi kerjaan kamu.”
Yeriko
tertawa kecil. “Kamu memang sering mengganggu pikiranku. Kalau ada kamu,
pengennya bercinta terus.”
“Uch,
dasar mesum!” dengus Yuna sambil memonyongkan bibirnya.
“Siapa
yang suka godain duluan?” tanya Yeriko menyelidik.
Yuna
menggelengkan kepala. “Aku nggak pernah godain, kok.”
“Serius?”
tanya Yeriko sambil memasukkan tangannya ke dalam baju Yuna dan mengelus lembut
perut istrinya itu.
Yuna
menahan napas. Ia langsung meliukkan tubuhnya dan menciumi leher dan dada
Yeriko.
Yeriko
menggenggam pundak Yuna yang sudah menekannya di atas sofa. Ia menoleh ke arah
pintu kamar yang masih terbuka. “Nggak mau tutup pintu dulu?” tanyanya sambil
menatap wajah Yuna.
Yuna
menggelengkan kepala. Ia langsung melumat bibir suaminya. Tangannya dengan
lincah melepas kancing kemeja Yeriko satu per satu.
“Aku
tutup pintu dulu!” pinta Yeriko sambil berusaha bangkit dari sofa.
Yuna
mengatur napasnya yang memburu sambil menatap tubuh Yeriko yang sedang menutup
pintu kamar mereka.
Yeriko
tersenyum sambil menghampiri Yuna yang masih duduk di sofa. “Kangen banget ya?”
tanyanya sambil merapikan rambut Yuna yang berantakan.
“Apa
itu pertanyaan yang masih butuh jawaban lagi?” sahut Yuna ketus. Ia menarik
bantal sofa yang terjepit di punggungnya dan memeluknya erat. Tangan satunya
meraih remote televisi dan menyalakan televisi tersebut.
Yeriko
tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap istrinya yang
tiba-tiba marah saat mendengar pertanyaan darinya. Ia melepas kemeja yang semua
kancingnya sudah terbuka.
“Nggak
usah buka-bukaan di sini! Aku udah hilang mood.” Yuna menopang wajah dengan
kedua telapak tangannya sambil melirik Yeriko yang duduk di sampingnya.
“Jangan
ngambek, dong!” pinta Yeriko sambil meraih tangan Yuna. “Ntar cantiknya ilang.”
Yuna
tak menanggapi, matanya tetap saja fokus menatap layar televisi.
Yeriko
menghela napas. “Ya udah kalo mau ngambek. Aku tidur di ruang kerja aja,”
ucapnya sambil mengangkat pantatnya dari sofa.
“Jangan!”
Yuna langsung menyambar lengan Yeriko, menahannya agar tidak pergi.
Yeriko
tertawa dalam hati. Ia sangat mengetahui sifat istrinya yang sangat manja dan
selalu mencari perhatian darinya.
“Ay
...!” panggil Yuna sambil menggigit bibirnya.
“Masih
ngambek, nggak?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.
Yuna
menggelengkan kepala. Ia langsung menarik tubuh Yeriko hingga tubuh pria itu
menekannya di atas sofa. “Jangan candain aku terus!” pintanya sambil menatap
mata Yeriko yang jaraknya tak lebih dari sepuluh sentimeter dari matanya.
Yeriko
tersenyum sambil menatap wajah Yuna. Ia meletakkan ujung hidungnya ke ujung
hidung Yuna, lalu mengayunkannya dengan lembut. “Bukannya kamu yang lebih
sering bercanda dan main-main sama aku? Kenapa ngambek cuma karena aku tanya
begitu doang?” tanyanya lembut.
“Kesel
aja. Kamu udah tahu kalau aku kangen banget. Udah seminggu nggak ketemu.
Bisa-bisanya masih dijadiin bahan candaan. Kamu tuh nggak kangen sama aku?”
“Kangen
banget,” jawab Yeriko lembut sambil mengelus-elus pipi Yuna.
Yuna
tersenyum sambil menggigit bibirnya. Ia mengecup bibir Yeriko beberapa kali.
Yeriko
tersenyum, ia balas melumat bibir Yuna. Jemari tangannya mulai liar hingga
masuk ke sela-sela jemari tangan Yuna. Detak jantungnya semakin cepat saat
jemari tangan Yuna mencengkeram kuat punggung tangan Yeriko. Ia selalu bermain
dengan hati-hati agar bisa membuat Yuna bahagia tanpa menyakiti anak yang ada
di dalam perutnya.
“I
love you ...” bisik Yeriko lirih.
Yuna
tak menyahut, ia hanya membalas dengan menghisap leher dan dada Yeriko,
meninggalkan kissmark di tubuh suaminya itu. Mereka terus bercinta, melepas
kerinduan yang selama ini terpendam selama beberapa hari belakangan.
...
Keesokan
harinya ...
Yeriko
memenuhi janjinya untuk menikmati sarapan pagi di rumah ayah Yuna. Setelah
kembali dari perjalanan dinasnya, ia tidak langsung pergi ke perusahaan. Ia
mengendalikan pekerjaannya dari rumah dan mempercayakan semuanya pada Riyan.
Kali ini, ia ingin memberikan banyak waktu untuk keluarganya.
“Gimana
hasil pengembangan bisnis kamu di Eropa?” tanya Adjie begitu ia dan Yeriko
sudah duduk bersama-sama di meja makan.
“Lancar,
Yah,” jawab Yeriko. “Kami berencana meluncurkan merk baru. Merk yang lebih
mudah diterima secara internasional. Merk itu rencananya akan kami luncurkan
pertama kali di beberapa kota di Eropa. Setelahnya, baru akan merambah ke
negara lain. Termasuk Afrika dan Amerika.”
Adjie
mengangguk-anggukkan kepala. “Kenapa pilih Eropa? Bukannya, kamu dulu sekolah
di New York?”
“Ada
banyak pertimbangan soal ini. Kami sudah melakukan riset sebelumnya. Produk
yang kami luncurkan ini akan lebih mudah diterima di pasar Eropa. Secara
kualitas, juga bisa bersaing dengan produk-produk terkenal di Eropa.”
Adjie
mengangguk-angguk tanda mengerti. “Kamu pebisnis yang masih muda dan berbakat.
Ayah percaya, kamu pasti bisa membuat perusahaan kamu berkembang dengan pesat.”
Yeriko
tersenyum sambil menganggukkan kepala.
“Ayah
bangga sama kamu. Masih semuda ini, kamu sudah sukses.”
Yeriko
hanya tersenyum menanggapi ucapan Adjie. “Ah, Ayah terlalu berlebihan. Aku
masih belajar soal bisnis.”
“Belajar,
tapi hasilnya selalu mengejutkan.”
Yeriko
tertawa kecil. Sementara Yuna hanya menyimak pembicaraan dua orang lelaki yang
ada di hadapannya itu. Setiap kali keduanya membahas soal bisnis dan
perusahaan, Yuna selalu merasa kalau keberadaannya tak pernah dianggap.
Mereka
menikmati sarapan pagi sambil berbincang banyak hal hingga siang menjelang.
Saat jam makan siang, Yuna dan Yeriko sudah berpindah ke kediaman keluarga
besar Hadikusuma untuk menikmati makan siang bersama kakeknya.
Yuna
dan Yeriko selalu berusaha bersikap adil pada keluarga dan mertuanya. Sejak
menikah dengan Yuna, Yeriko yang jarang pulang ke rumah keluarga besarnya,
menjadi lebih sering pulang dan menginap di rumah orang tuanya. Bagi Yuna,
menjaga keharmonisan rumah tangga dan keluarganya adalah hal yang paling
penting. Ia menyayangi keluarga suaminya seperti keluarga kandungnya sendiri.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini
biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment