“Jhen,
bagusnya pake baju yang mana ya?” tanya Yuna sambil mengeluarkan beberapa
pakaiannya dari dalam lemari dan mencobanya satu per satu.
Jheni
menatap tubuh Yuna dan pakaian yang sudah berserakan di atas tempat tidur.
“Kamu mau kencan?” tanya Jheni sambil menahan tawa.
“Iih
... aku kan mau jemput suami aku di Bandara. Harus kelihatan cantik, dong!”
jawab Yuna sambil memilih pakaian yang akan ia kenakan. “Bagus yang mana,
Jhen?” tanya Yuna sambil mengangkat dua dress yang berbeda motif.
“Semuanya
bagus,” jawab Jheni sambil menatap layar tabletnya. Ia sibuk menggambar dengan
stylus pen di tangannya.
“Serius,
Jhen! Kamu belum lihat!” seru Yuna sambil menghentakkan kakinya.
“Aku
serius. Kamu pake apa aja cantik, Yun. Nggak pake baju juga cantik.”
Yuna
memonyongkan bibirnya ke arah Jheni. “Kalo nggak pake baju mah, ntaran aja pas
udah nyampe rumah,” ucapnya sambil terkekeh.
“Dasar
cewek mesum!” celetuk Jheni.
“Biar
aja. Mesum sama suami sendiri mah, wajib!”
Jheni
langsung melirik tajam ke arah Yuna.
“Apa
lihat-lihat!?” dengus Yuna.
“Kamu
sama suami kamu tuh paling pinter kalo nyiksa kita-kita yang belum nikah. Kan
jadi pengen, Yun.”
“Kalo
pengen ya tinggal lakuin aja!” sahut Yuna.
Jheni
langsung melempar bantal boneka ke arah Yuna. “Kamu suruh aku yang keganjenan
duluan gitu?”
Yuna
terkekeh. “Emangnya Chandra nggak pernah minta sama kamu?”
“Minta
apaan?” tanya Jheni.
“Nggak
usah pura-pura polos!” sahut Yuna sambil mengganti pakaiannya.
“Aku
emang polos, Yun.” Jheni menyahut santai sambil memainkan styllus pen di
tangannya.
“Polos
apaan? Komik kamu banyak adegan dewasanya!” seru Yuna geram.
“Ya
kan ceritanya emang romance dewasa, Yun. Masa aku bikin cerita romance,
adegannya main gundu? Kan nggak nyambung.”
“Kamu
gambar apaan sih?” tanya Yuna sambil menghampiri Jheni.
“Mau
tahu aja,” jawab Jheni sambil menutup tablet yang ada di tangannya.
“Ish
... kamu sekarang main rahasia-rahasiaan sama aku ya!?” dengus Yuna. Ia
berusaha merebut tablet dari tangan Jheni.
“Jangan,
Yun!” pinta Jheni dengan wajah memelas.
Yuna
menatap wajah Jheni. Ia langsung melepaskan tablet yang coba ia rebut dari
tangan Jheni. “Ya udah, kalo gitu. Mulai sekarang, kita main
rahasia-rahasiaan!”
“Jangan
ngambek, dong!” rayu Jheni. “Aku kasih tahu kamu, tapi jangan dibocorin ke
Yeriko ya!”
Yuna
tak menoleh ke arah Jheni. Ia memilih untuk duduk di kursi meja riasnya dan
mulai merias wajahnya.
Jheni
menghela napas sambil memutar bola matanya. Ia melangkah menghampiri Yuna. “Aku
mau kasih hadiah buat Chandra.” Ia meletakkan tabletnya ke atas meja, tepat di
hadapan Yuna. “Bagus, nggak?”
Yuna
melihat gambar yang terpampang di layar tablet milik Jheni. “Ini maksudnya apa?
Nggak paham.”
“Aku
buat banyak gambar. Nanti mau kubikin animasi gitu. Bagus atau nggak?” tanya
Jheni sambil mengusap layar tabletnya untuk menunjukkan gambar lainnya.
“Bagus,
Jhen. Bikinin buat aku sama Yeriko juga!”
Jheni
memonyongkan bibirnya sambil mengambil kembali tab yang ada di atas meja.
“Cepet dandannya!” perintahnya tanpa menghiraukan permintaan Yuna.
“Sabar,
Jhen!” pinta Yuna sambil mengamati wajahnya di cermin.
“Kamu
tuh udah nikah, masih aja centil kayak gini,” celetuk Jheni.
“Biar
aja. Biar suami makin sayang sama aku.” Ia menjulurkan lidah dan bangkit dari
duduknya.
Yuna
berdiri sambil mengamati tubuhnya yang sudah mengenakan dress warna hijau botol
dengan pita warna putih di bagian pinggangnya. “Bagus atau nggak, Jhen?” tanya
Yuna sambil menatap bayangan dirinya di cermin.
“Bagus,
Yun.”
“Cantik,
nggak?” tanya Yuna lagi.
“Cantik.
Cantik banget!” sahut Jheni yang sudah terlihat rapi dan cantik terlebih dahulu
sebelum Yuna selesai mandi.
“Serius?”
tanya Yuna sambil menatap Jheni.
Jheni
menganggukkan kepala. Ia tersenyum ke arah Yuna yang terlihat sangat anggun dan
cantik. Kulit putihnya terpancar saat warna dress warna hijau membalut
tubuhnya. “Yeriko pasti terpesona kalau lihat kamu.”
“Serius?”
tanya Yuna sambil tersenyum.
“Iya.
Buruan, deh! Ntar si Chandra sama Yeriko keburu sampai di bandara duluan kalau
kamu lama banget kayak gini,” jawab Jheni. Ia mulai tak sabar karena Yuna
terus-menerus memerhatikan penampilannya.
Yuna
menarik napas dalam-dalam. Ia memang sedikit kurang percaya diri seiring dengan
pipinya yang semakin chubby dan berat badannya yang terus bertambah setiap
bulannya. Wajar saja karena ia sedang hamil. Tapi, ia takut kalau Yeriko malu
berjalan beriringan dengan wanita gemuk di depan umum.
Jheni
ikut menghela napas karena Yuna tak segera beranjak dari tempatnya. “Yun, ayo!”
Yuna
mengangguk. Ia mulai melangkah keluar dari kamarnya, diikuti langkah Jheni yang
mengikutinya dari belakang.
Di
halaman rumahnya, sudah ada Riyan yang menunggu di mobil.
“Kamu
mau ikut aku atau Riyan?” tanya Jheni sambil menatap Yuna.
Yuna
menimbang-nimbang pertanyaan Jheni. “Ikut kamu atau Riyan, ya?” gumamnya.
“Astaga!
Kenapa sih, kayak gini aja mikirnya lama banget?”
“Bingung,
Jhen,” jawab Yuna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Nyonya
Muda ikut sama Mbak Jheni saja!” sahut Riyan. “Saya ikuti dari belakang.”
Yuna
langsung tersenyum sambil menatap Riyan yang berdiri di sisi mobil suaminya.
“Oke,” sahutnya sambil tersenyum bahagia. Mereka bergegas melaju ke bandara
untuk menjemput Chandra dan Yeriko.
Sesampainya
di Bandara ... Yuna celingukan mencari sosok suaminya.
“Yan,
jadwal pesawatnya landing jam berapa?” tanya Yuna pada Riyan. Ia menunggu di
ruang tunggu International Flight Arrival, Surabaya Juanda Airport.
“Lima
belas menit lagi, Nyonya.”
Yuna
menarik napas beberapa kali sambil meremas jemari tangannya. Lima belas menit
baginya seperti lima belas tahun. Ia sudah uring-uringan menunggu kedatangan
suaminya.
“Yun,
kamu ini kenapa sih?” tanya Jheni yang terlihat begitu tenang.
“Jhen,
aku nervous!” jawab Yuna sambil menggenggam lengan Jheni.
Jheni
menahan tawa saat merasakan telapak tangan Yuna sedingin es. “Kamu beneran
nervous?”
“Beneran,
Jhen.”
“Nervous
kenapa, sih?”
“Udah
seminggu aku nggak ketemu sama suamiku. Gimana reaksinya dia kalau lihat aku?
Aku udah cantik ‘kan?” tanya Yuna sambil merapikan rambut dan pakaiannya yang
sudah rapi.
“Ya
ampun ... tiap hari juga kamu teleponan dan video call sama dia. Kenapa harus
se-nervous ini?”
“Iih
... kamu tuh nggak ngerti perasaanku, Jhen!” sahut Yuna kesal. “Lihat! Pipiku
udah tambah tembem kayak gini, berat badanku naik gini. Aku kelihatan gemuk
banget atau nggak, sih?” tanya Yuna. “Aku udah naik delapan kiloan, Jhen. Aku
jadi nggak pede sama diriku sendiri. Takut kalau Yeriko nggak suka lihat aku
yang gemuk kayak gini,” cerocos Yuna.
Jheni
tertawa kecil. Meski berat badan Yuna naik, tapi ia melihat tubuh Yuna justru
semakin ideal dan proporsional. Biasanya, berat badan Yuna tidak pernah lebih
dari empat puluh lima kilogram walau banyak makan. “Berat badanmu sekarang
berapa?” tanyanya sambil mengamati tubuh Yuna.
“Lima
puluh dua, Jhen.”
Jheni
langsung tertawa mendengar jawaban Yuna.
Yuna
langsung menggigit bibir melihat reaksi Jheni. “Tuh, kan. Kamu aja ngetawain
aku.”
Jheni
memegangi perutnya sambil menahan tawa. “Aku emang ngetawain kamu. Tapi bukan
karena kamu gemuk. Itu berat badan yang ideal banget buat kamu, Yun. Udah nggak
kurus banget kayak dulu. Lagian, cuma lima puluh dua. Berat badanku yang lima
puluh empat aja, biasa aja.”
“Kamu
lebih tinggi dari aku. Walau berat, nggak kelihatan banget!” sahut Yuna.
“Kita
cuma selisih dua senti doang. Si Icha noh yang tinggi banget.”
“Eh,
kita nggak ngajakin Icha ke sini?”
“Buat
apa, Bambang!?” sahut Jheni kesal. “Lutfi aja di rumah. Ngapain dia ikut ke
Bandara. Lagian, tadi waktu aku telepon ... dia lagi jenguk mama palsunya yang
gila itu.”
Yuna
menghela napas. “Iya juga, ya? Duh, nervous gini bikin aku nggak bisa mikir.
Udah berapa menit kita di sini?” tanyanya sambil menoleh ke arah Riyan.
Riyan
melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya. “Baru lima menit, Nyonya.”
“Masih
sepuluh menit lagi?” tanya Yuna.
Riyan
menganggukkan kepala.
Yuna
menggigit jemari tangannya sambil berjalan mondar-mandir. “Kenapa sepuluh menit
lama banget?”
“Bukan
waktunya yang lama. Kamunya yang nggak sabaran!” sahut Jheni.
“Aku
sabar, Jhen. Duh, aku ke toilet dulu!” Yuna langsung melangkah pergi menuju
toilet.
Jheni
langsung bangkit dari kursi, ia berlari mengikuti langkah Yuna. Sejak
sahabatnya itu hamil, ia tak pernah sedikit pun menjaga jarak dengan Yuna. Ia
selalu berusaha melindungi Yuna dari kemungkinan apa pun.
“Yan,
kamu tunggu di sini ya! Aku susul Yuna ke toilet!” perintah Jheni dari
kejauhan.
Riyan
menganggukkan kepala. Ia berdiri di dekat kursi tunggu sambil menunggu kedua
bosnya itu datang. Bukan hanya dua bosnya, tapi juga dua wanita dari bos-bosnya
yang sedang berada di toilet. Ia harap, dua pasangan itu bisa bertemu di saat
yang tepat.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca terus sampai di sini. Sapa di kolom komentar supaya aku
makin semangat nulisnya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment