Saturday, February 14, 2026

Perfect Hero Bab 452 : Nervous

 


“Jhen, bagusnya pake baju yang mana ya?” tanya Yuna sambil mengeluarkan beberapa pakaiannya dari dalam lemari dan mencobanya satu per satu.

Jheni menatap tubuh Yuna dan pakaian yang sudah berserakan di atas tempat tidur. “Kamu mau kencan?” tanya Jheni sambil menahan tawa.

“Iih ... aku kan mau jemput suami aku di Bandara. Harus kelihatan cantik, dong!” jawab Yuna sambil memilih pakaian yang akan ia kenakan. “Bagus yang mana, Jhen?” tanya Yuna sambil mengangkat dua dress yang berbeda motif.

“Semuanya bagus,” jawab Jheni sambil menatap layar tabletnya. Ia sibuk menggambar dengan stylus pen di tangannya.

“Serius, Jhen! Kamu belum lihat!” seru Yuna sambil menghentakkan kakinya.

“Aku serius. Kamu pake apa aja cantik, Yun. Nggak pake baju juga cantik.”

Yuna memonyongkan bibirnya ke arah Jheni. “Kalo nggak pake baju mah, ntaran aja pas udah nyampe rumah,” ucapnya sambil terkekeh.

“Dasar cewek mesum!” celetuk Jheni.

“Biar aja. Mesum sama suami sendiri mah, wajib!”

Jheni langsung melirik tajam ke arah Yuna.

“Apa lihat-lihat!?” dengus Yuna.

“Kamu sama suami kamu tuh paling pinter kalo nyiksa kita-kita yang belum nikah. Kan jadi pengen, Yun.”

“Kalo pengen ya tinggal lakuin aja!” sahut Yuna.

Jheni langsung melempar bantal boneka ke arah Yuna. “Kamu suruh aku yang keganjenan duluan gitu?”

Yuna terkekeh. “Emangnya Chandra nggak pernah minta sama kamu?”

“Minta apaan?” tanya Jheni.

“Nggak usah pura-pura polos!” sahut Yuna sambil mengganti pakaiannya.

“Aku emang polos, Yun.” Jheni menyahut santai sambil memainkan styllus pen di tangannya.

“Polos apaan? Komik kamu banyak adegan dewasanya!” seru Yuna geram.

“Ya kan ceritanya emang romance dewasa, Yun. Masa aku bikin cerita romance, adegannya main gundu? Kan nggak nyambung.”

“Kamu gambar apaan sih?” tanya Yuna sambil menghampiri Jheni.

“Mau tahu aja,” jawab Jheni sambil menutup tablet yang ada di tangannya.

“Ish ... kamu sekarang main rahasia-rahasiaan sama aku ya!?” dengus Yuna. Ia berusaha merebut tablet dari tangan Jheni.

“Jangan, Yun!” pinta Jheni dengan wajah memelas.

Yuna menatap wajah Jheni. Ia langsung melepaskan tablet yang coba ia rebut dari tangan Jheni. “Ya udah, kalo gitu. Mulai sekarang, kita main rahasia-rahasiaan!”

“Jangan ngambek, dong!” rayu Jheni. “Aku kasih tahu kamu, tapi jangan dibocorin ke Yeriko ya!”

Yuna tak menoleh ke arah Jheni. Ia memilih untuk duduk di kursi meja riasnya dan mulai merias wajahnya.

Jheni menghela napas sambil memutar bola matanya. Ia melangkah menghampiri Yuna. “Aku mau kasih hadiah buat Chandra.” Ia meletakkan tabletnya ke atas meja, tepat di hadapan Yuna. “Bagus, nggak?”

Yuna melihat gambar yang terpampang di layar tablet milik Jheni. “Ini maksudnya apa? Nggak paham.”

“Aku buat banyak gambar. Nanti mau kubikin animasi gitu. Bagus atau nggak?” tanya Jheni sambil mengusap layar tabletnya untuk menunjukkan gambar lainnya.

“Bagus, Jhen. Bikinin buat aku sama Yeriko juga!”

Jheni memonyongkan bibirnya sambil mengambil kembali tab yang ada di atas meja. “Cepet dandannya!” perintahnya tanpa menghiraukan permintaan Yuna.

“Sabar, Jhen!” pinta Yuna sambil mengamati wajahnya di cermin.

“Kamu tuh udah nikah, masih aja centil kayak gini,” celetuk Jheni.

“Biar aja. Biar suami makin sayang sama aku.” Ia menjulurkan lidah dan bangkit dari duduknya.

Yuna berdiri sambil mengamati tubuhnya yang sudah mengenakan dress warna hijau botol dengan pita warna putih di bagian pinggangnya. “Bagus atau nggak, Jhen?” tanya Yuna sambil menatap bayangan dirinya di cermin.

“Bagus, Yun.”

“Cantik, nggak?” tanya Yuna lagi.

“Cantik. Cantik banget!” sahut Jheni yang sudah terlihat rapi dan cantik terlebih dahulu sebelum Yuna selesai mandi.

“Serius?” tanya Yuna sambil menatap Jheni.

Jheni menganggukkan kepala. Ia tersenyum ke arah Yuna yang terlihat sangat anggun dan cantik. Kulit putihnya terpancar saat warna dress warna hijau membalut tubuhnya. “Yeriko pasti terpesona kalau lihat kamu.”

“Serius?” tanya Yuna sambil tersenyum.

“Iya. Buruan, deh! Ntar si Chandra sama Yeriko keburu sampai di bandara duluan kalau kamu lama banget kayak gini,” jawab Jheni. Ia mulai tak sabar karena Yuna terus-menerus memerhatikan penampilannya.

Yuna menarik napas dalam-dalam. Ia memang sedikit kurang percaya diri seiring dengan pipinya yang semakin chubby dan berat badannya yang terus bertambah setiap bulannya. Wajar saja karena ia sedang hamil. Tapi, ia takut kalau Yeriko malu berjalan beriringan dengan wanita gemuk di depan umum.

Jheni ikut menghela napas karena Yuna tak segera beranjak dari tempatnya. “Yun, ayo!”

Yuna mengangguk. Ia mulai melangkah keluar dari kamarnya, diikuti langkah Jheni yang mengikutinya dari belakang.

Di halaman rumahnya, sudah ada Riyan yang menunggu di mobil.

“Kamu mau ikut aku atau Riyan?” tanya Jheni sambil menatap Yuna.

Yuna menimbang-nimbang pertanyaan Jheni. “Ikut kamu atau Riyan, ya?” gumamnya.

“Astaga! Kenapa sih, kayak gini aja mikirnya lama banget?”

“Bingung, Jhen,” jawab Yuna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Nyonya Muda ikut sama Mbak Jheni saja!” sahut Riyan. “Saya ikuti dari belakang.”

Yuna langsung tersenyum sambil menatap Riyan yang berdiri di sisi mobil suaminya. “Oke,” sahutnya sambil tersenyum bahagia. Mereka bergegas melaju ke bandara untuk menjemput Chandra dan Yeriko.

Sesampainya di Bandara ... Yuna celingukan mencari sosok suaminya.

“Yan, jadwal pesawatnya landing jam berapa?” tanya Yuna pada Riyan. Ia menunggu di ruang tunggu International Flight Arrival, Surabaya Juanda Airport.

“Lima belas menit lagi, Nyonya.”

Yuna menarik napas beberapa kali sambil meremas jemari tangannya. Lima belas menit baginya seperti lima belas tahun. Ia sudah uring-uringan menunggu kedatangan suaminya.

“Yun, kamu ini kenapa sih?” tanya Jheni yang terlihat begitu tenang.

“Jhen, aku nervous!” jawab Yuna sambil menggenggam lengan Jheni.

Jheni menahan tawa saat merasakan telapak tangan Yuna sedingin es. “Kamu beneran nervous?”

“Beneran, Jhen.”

“Nervous kenapa, sih?”

“Udah seminggu aku nggak ketemu sama suamiku. Gimana reaksinya dia kalau lihat aku? Aku udah cantik ‘kan?” tanya Yuna sambil merapikan rambut dan pakaiannya yang sudah rapi.

“Ya ampun ... tiap hari juga kamu teleponan dan video call sama dia. Kenapa harus se-nervous ini?”

“Iih ... kamu tuh nggak ngerti perasaanku, Jhen!” sahut Yuna kesal. “Lihat! Pipiku udah tambah tembem kayak gini, berat badanku naik gini. Aku kelihatan gemuk banget atau nggak, sih?” tanya Yuna. “Aku udah naik delapan kiloan, Jhen. Aku jadi nggak pede sama diriku sendiri. Takut kalau Yeriko nggak suka lihat aku yang gemuk kayak gini,” cerocos Yuna.

Jheni tertawa kecil. Meski berat badan Yuna naik, tapi ia melihat tubuh Yuna justru semakin ideal dan proporsional. Biasanya, berat badan Yuna tidak pernah lebih dari empat puluh lima kilogram walau banyak makan. “Berat badanmu sekarang berapa?” tanyanya sambil mengamati tubuh Yuna.

“Lima puluh dua, Jhen.”

Jheni langsung tertawa mendengar jawaban Yuna.

Yuna langsung menggigit bibir melihat reaksi Jheni. “Tuh, kan. Kamu aja ngetawain aku.”

Jheni memegangi perutnya sambil menahan tawa. “Aku emang ngetawain kamu. Tapi bukan karena kamu gemuk. Itu berat badan yang ideal banget buat kamu, Yun. Udah nggak kurus banget kayak dulu. Lagian, cuma lima puluh dua. Berat badanku yang lima puluh empat aja, biasa aja.”

“Kamu lebih tinggi dari aku. Walau berat, nggak kelihatan banget!” sahut Yuna.

“Kita cuma selisih dua senti doang. Si Icha noh yang tinggi banget.”

“Eh, kita nggak ngajakin Icha ke sini?”

“Buat apa, Bambang!?” sahut Jheni kesal. “Lutfi aja di rumah. Ngapain dia ikut ke Bandara. Lagian, tadi waktu aku telepon ... dia lagi jenguk mama palsunya yang gila itu.”

Yuna menghela napas. “Iya juga, ya? Duh, nervous gini bikin aku nggak bisa mikir. Udah berapa menit kita di sini?” tanyanya sambil menoleh ke arah Riyan.

Riyan melirik arloji yang ada di pergelangan tangannya. “Baru lima menit, Nyonya.”

“Masih sepuluh menit lagi?” tanya Yuna.

Riyan menganggukkan kepala.

Yuna menggigit jemari tangannya sambil berjalan mondar-mandir. “Kenapa sepuluh menit lama banget?”

“Bukan waktunya yang lama. Kamunya yang nggak sabaran!” sahut Jheni.

“Aku sabar, Jhen. Duh, aku ke toilet dulu!” Yuna langsung melangkah pergi menuju toilet.

Jheni langsung bangkit dari kursi, ia berlari mengikuti langkah Yuna. Sejak sahabatnya itu hamil, ia tak pernah sedikit pun menjaga jarak dengan Yuna. Ia selalu berusaha melindungi Yuna dari kemungkinan apa pun.

“Yan, kamu tunggu di sini ya! Aku susul Yuna ke toilet!” perintah Jheni dari kejauhan.

Riyan menganggukkan kepala. Ia berdiri di dekat kursi tunggu sambil menunggu kedua bosnya itu datang. Bukan hanya dua bosnya, tapi juga dua wanita dari bos-bosnya yang sedang berada di toilet. Ia harap, dua pasangan itu bisa bertemu di saat yang tepat.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca terus sampai di sini. Sapa di kolom komentar supaya aku makin semangat nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas