“Aku
nggak bisa ngelakuin apa pun ke Yuna. Banyak banget orang yang melindungi dia.
Kenapa sih dia dapet perlakuan se-istimewa itu? Sementara aku? Aku juga pernah
jadi orang yang penting dalam kehidupan Yeriko. Kenapa aku diperlakukan
berbeda?” tanya Refi pada dirinya sendiri.
Refi
masih gelisah selama beberapa hari. Semua kegiatannya yang dihentikan oleh
pimpinan perusahaan, membuatnya hampir gila. Ia tidak bisa menumpahkan
kekesalannya pada Yuna. Setiap kali berhadapan dengan Yuna, ia selalu kehabisan
kata-kata dan hal ini membuat Refi membenci dirinya sendiri.
“Kenapa
aku nggak bisa ngelawan dia? Nggak mungkin orang kayak dia nggak punya
kelemahan. Kelemahan dia pasti Yeriko. Tapi, Yeriko nggak mudah buat dideketin.
Yuna juga yakin banget sama perasaan Yeriko. Gimana caranya supaya aku bisa
bikin mereka salah paham, terus pisah? Mereka berdua, kalau jadi pasangan
terus-menerus akan semakin berbahaya. Makin lama, aku makin kesulitan menemukan
celah untuk memisahkan mereka.”
Refi
terus sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia masih memikirkan segala cara untuk
membuat Yuna berpisah dengan Yeriko. Ia masih tidak bisa merelakan semuanya
untuk Yuna. Seharusnya, semua yang dimiliki oleh Yuna sekarang adalah miliknya.
Ia masih tak mempercayai kalau Yeriko sudah benar-benar lepas dari
genggamannya.
“Kamu
kenapa?” tanya Deny yang tiba-tiba sudah ada di belakang Refi.
“Astaga!”
Refi langsung terkejut mendengar suara Deny. “Kamu kayak jin aja. Kapan
masuknya?”
“Kamu
asyik ngobrol sendiri. Gimana bisa dengar kalau aku masuk ke rumah ini?” tanya
Deny sambil meletakkan kantong plastik berisi beberapa snack ke atas meja.
“Aku
udah mulai setres, Den. Udah seminggu aku nggak ada job sama sekali. Kalau cuma
ngandalin gaji pokok doang. Aku nggak bisa menikmati hidup!” tutur Refi.
“Kamu
tenang aja! Aku masih coba untuk negosiasi sama sampai ke atasan.”
“Aku
tuh di-blacklist tanpa alasan yang jelas. Kenapa coba?”
“Aku
juga masih cari tahu, Ref.”
“Kamu
yang kerjanya nggak becus. Ini udah seminggu, kamu nyari tahu terus. Kapan
dapetin informasi kebenarannya?” tanya Refi kesal.
Deny
menatap tajam ke arah Refi. “Ref, aku udah banyak bantuin kamu buat dapetin
karir kamu lagi. Kenapa seenaknya ngomongin aku kayak gini? Selama ini, siapa
yang masih mau berada di samping kamu buat dapetin semua yang kamu mau? Kalau
bukan karena aku, kamu udah jadi gembel yang tinggal di kolong jembatan!”
sentak Deny.
“Kalo
aku sampe jadi gembel, itu karena kegagalan kamu sebagai manager aku. Kamu
kerjanya yang becus, dong! Kalau tahu kayak gini, lebih baik aku pake manager
dari agency aja. Kerjanya mereka jelas dan lebih bagus.”
“Kamu
bener-bener nggak tahu terima kasih. Kamu tahu apa yang udah aku lakuin selama
ini. Aku udah usahain buat nego ke pimpinan supaya mereka bisa keluarin kamu
dari daftar hitam. Kamu paham nggak, sih? Kalau kamu emosi kayak gini, kita
nggak akan dapet apa-apa. Malah semuanya bisa lenyap gitu aja.”
“Aku
nggak sabar sama cara kerja kamu kali ini. Udah satu minggu, masih nggak ada
perkembangan. Kamu datengin aja si Yeriko! Suruh dia keluarin aku dari daftar
blacklist!” seru Refi.
“Tuan
Muda itu lagi nggak ada di perusahaannya. Dia lagi dinas ke luar negeri. Kamu
mau, aku nyusul dia?” tanya Deny.
“Susul
aja kalau perlu!”
“Mana
tiketnya? Kamu sekarang udah nggak sekaya dulu lagi. Nggak bisa ke luar negeri
seenaknya. Bisa berangkat, belum tentu bisa balik ke sini lagi. Apalagi, Tuan
Muda itu pergi ke beberapa kota di Eropa. Lebih baik, kita tunggu aja dia
kembali ke perusahaan dan minta bantuan dari dia.”
“Dia
itu dikendalikan sama Yuna. Yuna yang udah pengaruhi dia. Harusnya, kamu
datengin si Yuna. Desak dia buat ngubah keputusan suaminya itu!” pinta Refi.
“Aku
susah nemuin dia. Dia dijaga ketat. Aku nggak mau gegabah dan ambil resiko
besar.”
“Resiko
apaan? Dia itu cuma perempuan lemah yang berlindung di balik kekuatan suaminya.
Mumpung nggak ada suaminya, kenapa nggak kamu manfaatin momen ini buat desak
dia?”
“Aku
nggak mengenal dia. Gimana caranya meyakinkan dia kalau ...”
“Halah,
kamu terlalu banyak alasan. Aku udah muak sama kalian semua. Aku udah nemuin
Yuna, dia malah menghina aku dan masih nggak mau ngaku kalau dia terlibat dalam
masalah ini.”
“Apa!?
Kamu nemuin perempuan itu?” tanya Deny sambil menatap Refi.
Refi
gelagapan. Seharusnya, ia tak mengatakan pada Deny kalau ia sudah menemui Yuna
di rumahnya. Tapi, bibirnya terlanjur keceplosan.
“Ref,
aku tanya sama kamu! Jawab!”
“Iya.
Aku udah nemuin dia dua hari yang lalu.”
“Kenapa
kamu bertindak sendiri? Udah nggak menghargai kerja keras aku lagi? Kamu
terlalu gegabah. Gimana kalau misalnya mereka bener-bener nggak terlibat dalam
kasus ini? Aku belum selesai menyelidiki semua ini. Kamu bikin masalah baru!”
seru Deny kesal.
“Aku
...” Refi semakin kebingungan. Ia memang terlalu gegabah karena masih tidak
bisa menerima apa yang dialaminya kali ini. Ia tidak ingin karirnya kembali
hancur dan hidupnya semakin terpuruk. Dengan fans yang begitu banyak, bagaimana
bisa semua kegiatannya dihentikan tanpa alasan yang kuat.
“Kalau
kamu ngerasa bisa bertindak sendiri, lakuin aja!” sahut Deny kesal karena ia
merasa tak pernah ada nilainya di hadapan Refi, apa pun usaha yang sudah ia
lakukan.
“Oke.”
“Jangan
cari aku lagi kalau sampai kamu ada masalah!” seru Deny sambil melangkah pergi.
“Hei,
kamu mau ke mana?” tanya Refi.
“Aku
mau pergi. Kenapa? Takut kehilangan aku?” tanya Deny sambil menoleh ke arah
Refi.
Refi
gelagapan mendengar pertanyaan dari Deny.
Deny
tersenyum sinis sambil mengamati raut wajah Refi. “Kenapa? Kamu udah jatuh
cinta sama aku?”
Refi
melipat kedua tangan di dadanya sambil membuang wajah. “Nggak usah ngimpi!”
Deny
tertawa kecil. Ia kembali melangkah menghampiri Refi dan menekan tubuh wanita
itu ke dinding. “Kamu mau melayani aku bukan sekedar memuaskan nafsu, tapi
karena sudah jatuh cinta sama aku ‘kan?” tanya Deny berbisik.
“Nggak
usah ngimpi!” sahut Refi ketus.
Deny
menatap wajah Refi yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari ujung
hidungnya. “Nggak usah angkuh! Aku sudah tahu kamu luar dalam. Termasuk
kemunafikan yang ada di dalam hati kamu ini,” tuturnya sambil meletakkan ujung
jari telunjuk ke dada Refi.
Refi
terdiam menanggapi ucapan Deny.
Deny
tersenyum sambil meletakkan dahinya ke dahi Refi. “Aku tahu kamu terobsesi sama
Tuan Muda itu bukan karena kamu benar-benar mencintai dia. Tapi, karena kamu
nggak bisa menerima kekalahan kamu. Kamu nggak mau disaingi sama wanita lain
yang terlihat biasa-biasa aja.”
Refi
terus menatap mata Deny tanpa berkata-kata. Ia tak bisa menyangkal ucapan Deny,
tapi juga tak bisa mengiyakannya begitu saja.
Deny
tertawa kecil saat membaca kalimat yang tersirat dari tatapan mata Refi. Ia
sangat mengetahui kalau Refi melakukan banyak hal gila bukan karena ia
benar-benar mencintai Tuan Muda itu. Tapi, karena ia tidak ingin ada orang lain
yang lebih unggul dari dirinya. Sejak dulu, Refi memiliki obsesi yang besar dan
selalu ingin menang. Refi tak akan semudah itu mengalah pada orang asing.
“Ref,
aku tahu siapa kamu sejak dulu. Buang kesombongan kamu ini di depanku!” pinta
Deny sambil menarik tubuhnya menjauh dari Refi. “Aku tahu, kamu sudah jatuh
cinta sama aku. Tapi kamu terlalu angkuh untuk mengakuinya.”
Refi
terdiam. Ia hanya menatap tubuh Deny yang perlahan menjauh dari dirinya dan
lenyap di balik pintu. Ucapan Deny memang benar. Ia tak pernah ingin kalah dari
siapa pun. Terlebih dalam hal mendapatkan hati Yeriko. Sebab, hanya dia seorang
yang pernah masuk ke dalam kehidupan Yeriko walau hanya sesaat. Ia tidak ingin
mengakui kekalahannya dan menyerahkan Yeriko pada wanita lain begitu saja.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca terus sampai di sini. Sapa di kolom komentar supaya aku
makin semangat nulisnya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment