Saturday, February 14, 2026

Perfect Hero Bab 451 : Bukan Karena Cinta

 


“Aku nggak bisa ngelakuin apa pun ke Yuna. Banyak banget orang yang melindungi dia. Kenapa sih dia dapet perlakuan se-istimewa itu? Sementara aku? Aku juga pernah jadi orang yang penting dalam kehidupan Yeriko. Kenapa aku diperlakukan berbeda?” tanya Refi pada dirinya sendiri.

Refi masih gelisah selama beberapa hari. Semua kegiatannya yang dihentikan oleh pimpinan perusahaan, membuatnya hampir gila. Ia tidak bisa menumpahkan kekesalannya pada Yuna. Setiap kali berhadapan dengan Yuna, ia selalu kehabisan kata-kata dan hal ini membuat Refi membenci dirinya sendiri.

“Kenapa aku nggak bisa ngelawan dia? Nggak mungkin orang kayak dia nggak punya kelemahan. Kelemahan dia pasti Yeriko. Tapi, Yeriko nggak mudah buat dideketin. Yuna juga yakin banget sama perasaan Yeriko. Gimana caranya supaya aku bisa bikin mereka salah paham, terus pisah? Mereka berdua, kalau jadi pasangan terus-menerus akan semakin berbahaya. Makin lama, aku makin kesulitan menemukan celah untuk memisahkan mereka.”

Refi terus sibuk dengan pemikirannya sendiri. Ia masih memikirkan segala cara untuk membuat Yuna berpisah dengan Yeriko. Ia masih tidak bisa merelakan semuanya untuk Yuna. Seharusnya, semua yang dimiliki oleh Yuna sekarang adalah miliknya. Ia masih tak mempercayai kalau Yeriko sudah benar-benar lepas dari genggamannya.

“Kamu kenapa?” tanya Deny yang tiba-tiba sudah ada di belakang Refi.

“Astaga!” Refi langsung terkejut mendengar suara Deny. “Kamu kayak jin aja. Kapan masuknya?”

“Kamu asyik ngobrol sendiri. Gimana bisa dengar kalau aku masuk ke rumah ini?” tanya Deny sambil meletakkan kantong plastik berisi beberapa snack ke atas meja.

“Aku udah mulai setres, Den. Udah seminggu aku nggak ada job sama sekali. Kalau cuma ngandalin gaji pokok doang. Aku nggak bisa menikmati hidup!” tutur Refi.

“Kamu tenang aja! Aku masih coba untuk negosiasi sama sampai ke atasan.”

“Aku tuh di-blacklist tanpa alasan yang jelas. Kenapa coba?”

“Aku juga masih cari tahu, Ref.”

“Kamu yang kerjanya nggak becus. Ini udah seminggu, kamu nyari tahu terus. Kapan dapetin informasi kebenarannya?” tanya Refi kesal.

Deny menatap tajam ke arah Refi. “Ref, aku udah banyak bantuin kamu buat dapetin karir kamu lagi. Kenapa seenaknya ngomongin aku kayak gini? Selama ini, siapa yang masih mau berada di samping kamu buat dapetin semua yang kamu mau? Kalau bukan karena aku, kamu udah jadi gembel yang tinggal di kolong jembatan!” sentak Deny.

“Kalo aku sampe jadi gembel, itu karena kegagalan kamu sebagai manager aku. Kamu kerjanya yang becus, dong! Kalau tahu kayak gini, lebih baik aku pake manager dari agency aja. Kerjanya mereka jelas dan lebih bagus.”

“Kamu bener-bener nggak tahu terima kasih. Kamu tahu apa yang udah aku lakuin selama ini. Aku udah usahain buat nego ke pimpinan supaya mereka bisa keluarin kamu dari daftar hitam. Kamu paham nggak, sih? Kalau kamu emosi kayak gini, kita nggak akan dapet apa-apa. Malah semuanya bisa lenyap gitu aja.”

“Aku nggak sabar sama cara kerja kamu kali ini. Udah satu minggu, masih nggak ada perkembangan. Kamu datengin aja si Yeriko! Suruh dia keluarin aku dari daftar blacklist!” seru Refi.

“Tuan Muda itu lagi nggak ada di perusahaannya. Dia lagi dinas ke luar negeri. Kamu mau, aku nyusul dia?” tanya Deny.

“Susul aja kalau perlu!”

“Mana tiketnya? Kamu sekarang udah nggak sekaya dulu lagi. Nggak bisa ke luar negeri seenaknya. Bisa berangkat, belum tentu bisa balik ke sini lagi. Apalagi, Tuan Muda itu pergi ke beberapa kota di Eropa. Lebih baik, kita tunggu aja dia kembali ke perusahaan dan minta bantuan dari dia.”

“Dia itu dikendalikan sama Yuna. Yuna yang udah pengaruhi dia. Harusnya, kamu datengin si Yuna. Desak dia buat ngubah keputusan suaminya itu!” pinta Refi.

“Aku susah nemuin dia. Dia dijaga ketat. Aku nggak mau gegabah dan ambil resiko besar.”

“Resiko apaan? Dia itu cuma perempuan lemah yang berlindung di balik kekuatan suaminya. Mumpung nggak ada suaminya, kenapa nggak kamu manfaatin momen ini buat desak dia?”

“Aku nggak mengenal dia. Gimana caranya meyakinkan dia kalau ...”

“Halah, kamu terlalu banyak alasan. Aku udah muak sama kalian semua. Aku udah nemuin Yuna, dia malah menghina aku dan masih nggak mau ngaku kalau dia terlibat dalam masalah ini.”

“Apa!? Kamu nemuin perempuan itu?” tanya Deny sambil menatap Refi.

Refi gelagapan. Seharusnya, ia tak mengatakan pada Deny kalau ia sudah menemui Yuna di rumahnya. Tapi, bibirnya terlanjur keceplosan.

“Ref, aku tanya sama kamu! Jawab!”

“Iya. Aku udah nemuin dia dua hari yang lalu.”

“Kenapa kamu bertindak sendiri? Udah nggak menghargai kerja keras aku lagi? Kamu terlalu gegabah. Gimana kalau misalnya mereka bener-bener nggak terlibat dalam kasus ini? Aku belum selesai menyelidiki semua ini. Kamu bikin masalah baru!” seru Deny kesal.

“Aku ...” Refi semakin kebingungan. Ia memang terlalu gegabah karena masih tidak bisa menerima apa yang dialaminya kali ini. Ia tidak ingin karirnya kembali hancur dan hidupnya semakin terpuruk. Dengan fans yang begitu banyak, bagaimana bisa semua kegiatannya dihentikan tanpa alasan yang kuat.

“Kalau kamu ngerasa bisa bertindak sendiri, lakuin aja!” sahut Deny kesal karena ia merasa tak pernah ada nilainya di hadapan Refi, apa pun usaha yang sudah ia lakukan.

“Oke.”

“Jangan cari aku lagi kalau sampai kamu ada masalah!” seru Deny sambil melangkah pergi.

“Hei, kamu mau ke mana?” tanya Refi.

“Aku mau pergi. Kenapa? Takut kehilangan aku?” tanya Deny sambil menoleh ke arah Refi.

Refi gelagapan mendengar pertanyaan dari Deny.

Deny tersenyum sinis sambil mengamati raut wajah Refi. “Kenapa? Kamu udah jatuh cinta sama aku?”

Refi melipat kedua tangan di dadanya sambil membuang wajah. “Nggak usah ngimpi!”

Deny tertawa kecil. Ia kembali melangkah menghampiri Refi dan menekan tubuh wanita itu ke dinding. “Kamu mau melayani aku bukan sekedar memuaskan nafsu, tapi karena sudah jatuh cinta sama aku ‘kan?” tanya Deny berbisik.

“Nggak usah ngimpi!” sahut Refi ketus.

Deny menatap wajah Refi yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari ujung hidungnya. “Nggak usah angkuh! Aku sudah tahu kamu luar dalam. Termasuk kemunafikan yang ada di dalam hati kamu ini,” tuturnya sambil meletakkan ujung jari telunjuk ke dada Refi.

Refi terdiam menanggapi ucapan Deny.

Deny tersenyum sambil meletakkan dahinya ke dahi Refi. “Aku tahu kamu terobsesi sama Tuan Muda itu bukan karena kamu benar-benar mencintai dia. Tapi, karena kamu nggak bisa menerima kekalahan kamu. Kamu nggak mau disaingi sama wanita lain yang terlihat biasa-biasa aja.”

Refi terus menatap mata Deny tanpa berkata-kata. Ia tak bisa menyangkal ucapan Deny, tapi juga tak bisa mengiyakannya begitu saja.

Deny tertawa kecil saat membaca kalimat yang tersirat dari tatapan mata Refi. Ia sangat mengetahui kalau Refi melakukan banyak hal gila bukan karena ia benar-benar mencintai Tuan Muda itu. Tapi, karena ia tidak ingin ada orang lain yang lebih unggul dari dirinya. Sejak dulu, Refi memiliki obsesi yang besar dan selalu ingin menang. Refi tak akan semudah itu mengalah pada orang asing.

“Ref, aku tahu siapa kamu sejak dulu. Buang kesombongan kamu ini di depanku!” pinta Deny sambil menarik tubuhnya menjauh dari Refi. “Aku tahu, kamu sudah jatuh cinta sama aku. Tapi kamu terlalu angkuh untuk mengakuinya.”

Refi terdiam. Ia hanya menatap tubuh Deny yang perlahan menjauh dari dirinya dan lenyap di balik pintu. Ucapan Deny memang benar. Ia tak pernah ingin kalah dari siapa pun. Terlebih dalam hal mendapatkan hati Yeriko. Sebab, hanya dia seorang yang pernah masuk ke dalam kehidupan Yeriko walau hanya sesaat. Ia tidak ingin mengakui kekalahannya dan menyerahkan Yeriko pada wanita lain begitu saja.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca terus sampai di sini. Sapa di kolom komentar supaya aku makin semangat nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                           

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas