“Yan,
sendirian aja?” tanya Yeriko sambil mengedarkan pandangannya karena hanya
menemukan sosok Riyan yang menunggunya di Terminal Kedatangan. Padahal,
istrinya sudah mengatakan kalau akan menjemputnya di bandara.
“Sama
Nyonya Muda dan Mbak Jheni juga,” jawab Riyan.
Chandra
dan Yeriko mengedarkan pandangannya. Mereka celingukan mencari dua sosok gadis
kesayangan mereka.
“Mereka
di mana?” tanya Yeriko.
“Di
toilet,” jawab Riyan sambil mengambil alih koper dari tangan Yeriko.
Yeriko
menaikkan kedua alisnya.
“Dari
tadi, Nyonya Muda uring-uringan nungguin Pak Bos. Katanya, dia nervous banget.
Jadi, dia kebelet,” jelas Riyan.
Yeriko
dan Chandra saling pandang, kemudian tertawa sambil menggeleng heran.
“Ada-ada
aja,” celetuk Yeriko. Ia memilih untuk duduk di kursi tunggu, menunggu istrinya
keluar dari toilet.
Beberapa
menit kemudian, Yuna dan Jheni muncul dari arah toilet.
“Yer,
itu mereka!” tutur Chandra sambil menunjuk Yuna dan Jheni yang berjalan ke arah
mereka.
“Jhen,
mereka udah datang. Malah mereka yang jadinya nunggu kita,” tutur Yuna saat
melihat Yeriko sudah duduk di kursi tunggu, tempat yang ia dan Jheni duduki
sebelumnya.
“Kamu,
sih. Lama banget di toilet,” sahut Jheni sambil mempercepat langkahnya.
Yuna
memonyongkan bibirnya. Ia menatap Yeriko yang berdiri dan balik menatap
dirinya. Ia langsung berlari dan menghambur ke pelukan suaminya.
Yeriko
tersenyum sambil memeluk erat tubuh Yuna. Ia mengecup kepala Yuna beberapa
kali. “Kangen?” tanyanya lirih.
Yuna
menganggukkan kepala. “Banget!”
“Kamu
nggak mau peluk aku?” tanya Chandra sambil menatap Jheni.
“Mau
dipeluk juga?” tanya Jheni balik.
Chandra
menggelengkan kepala. “Nggak usah, dah!”
“Peluk,
Jhen!” perintah Yuna sambil mendorong tubuh Jheni ke hadapan Chandra.
Chandra
tertawa kecil, ia langsung menarik tubuh Jheni ke pelukannya. “Kamu nggak
kangen sama aku?” bisiknya.
“Nggak,”
jawab Jheni ketus.
“Kenapa?
Masih marah?” tanya Chandra sambil mencubit dagu Jheni.
Jheni
menggelengkan kepala sambil menggigit bibir bawahnya.
Yeriko
dan Yuna masih tak melepas pelukannya walau mata mereka menatap ke arah Jheni
dan Chandra.
“Huu
... gengsian!” seru Yuna sambil menoyor pundak Jheni.
“Apaan
sih, Yun!?” sahut Jheni kesal.
“Udah,
jangan ngambek terus!” pinta Chandra lembut.
“Kamu
itu udah tahu salah. Minta maaf, kek!” seru Jheni kesal.
“Iya.
Aku minta maaf.”
“Nah,
gitu dong!” Jheni tersenyum sambil mengacak rambut Chandra.
Chandra
langsung merangkul dan mengajak Jheni melangkah keluar menuju mobil yang sudah
terparkir di depan pintu keluar bandara.
Yeriko
dan Yuna saling pandang dan tersenyum melihat Jheni dan Chandra yang sudah
kembali romantis.
“Jheni
kenapa? Lagi PMS?” tanya Yeriko.
Yuna
mengedikkan bahunya. “Entah. Dia marah-marah terus ke Chandra. Untungnya si
Chandra sabar banget ngadepin Jheni.”
“Dia
marah-marah kenapa?”
“Si
Chandra itu jarang hubungi dia. Nggak pernah telepon, nggak video call. Cuma
chat doang. Jheni ngambek.”
“Owalah,
rindu yang tak tersampaikan?” tanya Yeriko.
Yuna
menganggukkan kepala. “Biar aja mereka saling mengobati rindu malam ini,”
ucapnya sambil tersenyum.
“Kamu
nggak mau marah-marah sama aku?” tanya Yeriko.
“Marah
kenapa?”
Yeriko
menengadahkan kepalanya sambil memeluk kepala Yuna ke dadanya. “Mmh ... apa aku
nggak usah menghubungi kamu selama seminggu supaya kamu kangen sama aku sampe
marah-marah kayak Jheni juga?”
“Apaan,
sih?” sahut Yuna sambil mencubit perut Yeriko. Ia menengadahkan kepalanya
menatap dagu suaminya itu. “Kamu video call setiap hari aja aku masih kangen.
Gimana kalo seminggu? Mau bikin aku mati keracunan rindu?” tanya Yuna.
Yeriko
tertawa kecil. Ia mengecup bibir Yuna dan mengajaknya melangkah mengikuti Riyan
yang sudah lebih dahulu membawakan koper ke mobilnya.
Yeriko
terus memeluk tubuh Yuna saat mereka sudah masuk ke dalam mobil. Ia tak
membiarkan Yuna berjarak dengannya sedikit pun.
“Gimana
hasil kerjaan di Eropa selama seminggu ini?” tanya Yuna.
“Nggak
seminggu, cuma empat hari.”
“Sama
perjalanannya kan satu minggu,” sahut Yuna.
“Hehehe.
Iya, sih. Semuanya berjalan dengan baik. Chandra selalu bisa diandalkan.”
“Oh.
Jadi, kamu yang bikin si Chandra sibuk banget sampe nggak ada waktu buat
nelepon Jheni?” tanya Yuna.
“Nggaklah.
Emang dia yang inisiatif,” jawab Yeriko. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga
Yuna sambil membisikkan sesuatu.
“Serius?”
tanya Yuna sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah Yeriko.
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Kenapa
dia selalu cuek sama Jheni?” tanya Yuna.
“Cuek
itu bukan berarti nggak sayang. Ada hal yang harus diperjuangkan oleh seorang
pria. Terutama harga dirinya. Chandra juga melakukan banyak hal untuk Jheni.
Setiap orang, punya cara membahagiakan orang yang mereka cintai.”
“Kamu
sendiri?” tanya Yuna.
“Aku?”
tanya Yeriko sambil mengelus lembut perut Yuna.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Apa aku masih terlalu cuek sama kamu?” tanyanya.
Yuna
menggelengkan kepala. Ia masih menyandarkan punggungnya di dada Yeriko.
Tangannya memeluk lengan Yeriko yang sedang sibuk menimang-nimang anak dalam
perut Yuna.
“Yun,
apa pun hal yang kamu rasakan. Jangan menutupinya dari aku!” pinta Yeriko.
“Saat kamu kesepian, kamu hanya boleh cari aku untuk menemani kamu. Saat kamu
sedih, kamu hanya boleh gunakan punggungku untuk bersandar. Saat kamu takut,
kamu hanya boleh pakai dadaku untuk berlindung.”
Yuna
langsung menatap wajah Yeriko penuh cinta. Hatinya selalu berbunga-bunga setiap
kali mendengar ucapan manis yang keluar dari mulut suaminya itu. “Kamu juga,
jangan menutupi apa pun dari aku!” pinta Yuna lirih.
Yeriko
mengangguk sambil tersenyum. “Malam ini, kita makan di mana?”
“Di
rumah aja. Seharian aku udah siapin banyak makanan enak buat kamu.”
“Serius?”
“Dua
rius!” jawab Yuna.
Yeriko
tertawa kecil. “Mmh ... kebetulan, aku kangen masakan istriku.”
“Beneran?”
tanya Yuna.
Yeriko
mengangguk.
“Kalo
gitu, harus dihabiskan!”
“Iya.
Kalau piringnya bisa dimakan, aku makan juga.”
Yuna
tertawa mendengar candaan Yeriko.
“Kabarnya
ayah kamu gimana? Baik ‘kan?”
Yuna
menganggukkan kepala. “Sangat baik. Setiap pagi, aku selalu ngantar sarapan
untuk Ayah. Dia juga sering nanyain kamu.”
“Oh
ya? Kalau gitu, besok pagi kita sarapan bareng di rumah ayah kamu. Gimana?”
Yuna
menganggukkan kepala. “Dia pasti seneng banget kalo tahu ... menantu
kesayangannya ini sudah kembali dan mau sarapan sama dia.”
“Kamu
belum kasih tahu ayah kamu kalau aku pulang ke Indonesia hari ini?”
Yuna
menggelengkan kepalanya. “Besok pagi aja, kita langsung ke apartemen! Aku mau
lihat reaksi dia waktu lihat kamu datang.”
Yeriko
menjepit hidung Yuna. “Mulai nakal ya!? Ayahnya sendiri dijahilin.”
“Bukan
jahil, ini surprise!” sahut Yuna.
“Sama
aja.”
“Beda!”
“Bedanya
apa?”
“Ya
... beda aja!”
“Surprise
itu cuma kedok kejahilan kamu doang.”
“Idih
... kok, ngomongnya gitu sih?”
“Jadi,
maunya ngomong gini?” tanya Yeriko balik.
“Aku
serius!” seru Yuna.
“Aku
juga serius,” sahut Yeriko sambil tersenyum.
Yuna
tertawa kecil. Rasanya, memang sudah lama ia tidak berdebat dengan suaminya
hanya karena hal-hal sepele. Hal yang paling ia rindukan dari suaminya adalah
saat mereka duduk bersama di meja makan, di dalam mobil dan di ruang kerja.
Mereka bisa membicarakan banyak hal. Pengetahuan suaminya yang luas, membuat
Yuna tak kehabisan bahan pembicaraan.
Beberapa
menit kemudian, mereka sudah sampai di halaman rumah Yeriko.
Yeriko
mengedarkan pandangannya. Tak ada yang berubah dari rumah itu. Masih sama saja
seperti saat ia
tinggal seminggu lalu. Yuna, wanita
yang paling ia cintai juga masih ada di pelukannya hingga detik itu juga. Ia
merasa sangat bahagia begitu masuk ke dalam rumah.
Usai
membersihkan diri, Yuna dan Yeriko duduk bersama di meja makan sambil bercerita
tentang banyak hal. Sesuatu yang tak pernah mereka bicarakan lewat telepon
karena waktu istirahat Yeriko sangat terbatas selama Yeriko berada dalam
perjalanan dinasnya ke Eropa. Yuna juga tak ingin membuat suaminya kekurangan
waktu istirahat hanya karena keegoisannya semata.
((Bersambung ...))
Thanks udah baca terus sampai di sini. Sapa di kolom komentar supaya aku
makin semangat nulisnya.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment