Saturday, February 14, 2026

Perfect Hero Bab 453 : Pelukan Rindu

 


“Yan, sendirian aja?” tanya Yeriko sambil mengedarkan pandangannya karena hanya menemukan sosok Riyan yang menunggunya di Terminal Kedatangan. Padahal, istrinya sudah mengatakan kalau akan menjemputnya di bandara.

 

“Sama Nyonya Muda dan Mbak Jheni juga,” jawab Riyan.

 

Chandra dan Yeriko mengedarkan pandangannya. Mereka celingukan mencari dua sosok gadis kesayangan mereka.

 

“Mereka di mana?” tanya Yeriko.

 

“Di toilet,” jawab Riyan sambil mengambil alih koper dari tangan Yeriko.

 

Yeriko menaikkan kedua alisnya.

 

“Dari tadi, Nyonya Muda uring-uringan nungguin Pak Bos. Katanya, dia nervous banget. Jadi, dia kebelet,” jelas Riyan.

 

Yeriko dan Chandra saling pandang, kemudian tertawa sambil menggeleng heran.

 

“Ada-ada aja,” celetuk Yeriko. Ia memilih untuk duduk di kursi tunggu, menunggu istrinya keluar dari toilet.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna dan Jheni muncul dari arah toilet.

 

“Yer, itu mereka!” tutur Chandra sambil menunjuk Yuna dan Jheni yang berjalan ke arah mereka.

 

“Jhen, mereka udah datang. Malah mereka yang jadinya nunggu kita,” tutur Yuna saat melihat Yeriko sudah duduk di kursi tunggu, tempat yang ia dan Jheni duduki sebelumnya.

 

“Kamu, sih. Lama banget di toilet,” sahut Jheni sambil mempercepat langkahnya.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. Ia menatap Yeriko yang berdiri dan balik menatap dirinya. Ia langsung berlari dan menghambur ke pelukan suaminya.

 

Yeriko tersenyum sambil memeluk erat tubuh Yuna. Ia mengecup kepala Yuna beberapa kali. “Kangen?” tanyanya lirih.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Banget!”

 

“Kamu nggak mau peluk aku?” tanya Chandra sambil menatap Jheni.

 

“Mau dipeluk juga?” tanya Jheni balik.

 

Chandra menggelengkan kepala. “Nggak usah, dah!”

 

“Peluk, Jhen!” perintah Yuna sambil mendorong tubuh Jheni ke hadapan Chandra.

 

Chandra tertawa kecil, ia langsung menarik tubuh Jheni ke pelukannya. “Kamu nggak kangen sama aku?” bisiknya.

 

“Nggak,” jawab Jheni ketus.

 

“Kenapa? Masih marah?” tanya Chandra sambil mencubit dagu Jheni.

 

Jheni menggelengkan kepala sambil menggigit bibir bawahnya.

 

Yeriko dan Yuna masih tak melepas pelukannya walau mata mereka menatap ke arah Jheni dan Chandra.

 

“Huu ... gengsian!” seru Yuna sambil menoyor pundak Jheni.

 

“Apaan sih, Yun!?” sahut Jheni kesal.

 

“Udah, jangan ngambek terus!” pinta Chandra lembut.

 

“Kamu itu udah tahu salah. Minta maaf, kek!” seru Jheni kesal.

 

“Iya. Aku minta maaf.”

 

“Nah, gitu dong!” Jheni tersenyum sambil mengacak rambut Chandra.

 

Chandra langsung merangkul dan mengajak Jheni melangkah keluar menuju mobil yang sudah terparkir di depan pintu keluar bandara.

 

Yeriko dan Yuna saling pandang dan tersenyum melihat Jheni dan Chandra yang sudah kembali romantis.

 

“Jheni kenapa? Lagi PMS?” tanya Yeriko.

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Entah. Dia marah-marah terus ke Chandra. Untungnya si Chandra sabar banget ngadepin Jheni.”

 

“Dia marah-marah kenapa?”

 

“Si Chandra itu jarang hubungi dia. Nggak pernah telepon, nggak video call. Cuma chat doang. Jheni ngambek.”

 

“Owalah, rindu yang tak tersampaikan?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Biar aja mereka saling mengobati rindu malam ini,” ucapnya sambil tersenyum.

 

“Kamu nggak mau marah-marah sama aku?” tanya Yeriko.

 

“Marah kenapa?”

 

Yeriko menengadahkan kepalanya sambil memeluk kepala Yuna ke dadanya. “Mmh ... apa aku nggak usah menghubungi kamu selama seminggu supaya kamu kangen sama aku sampe marah-marah kayak Jheni juga?”

 

“Apaan, sih?” sahut Yuna sambil mencubit perut Yeriko. Ia menengadahkan kepalanya menatap dagu suaminya itu. “Kamu video call setiap hari aja aku masih kangen. Gimana kalo seminggu? Mau bikin aku mati keracunan rindu?” tanya Yuna.

 

Yeriko tertawa kecil. Ia mengecup bibir Yuna dan mengajaknya melangkah mengikuti Riyan yang sudah lebih dahulu membawakan koper ke mobilnya.

 

Yeriko terus memeluk tubuh Yuna saat mereka sudah masuk ke dalam mobil. Ia tak membiarkan Yuna berjarak dengannya sedikit pun.

 

“Gimana hasil kerjaan di Eropa selama seminggu ini?” tanya Yuna.

 

“Nggak seminggu, cuma empat hari.”

 

“Sama perjalanannya kan satu minggu,” sahut Yuna.

 

“Hehehe. Iya, sih. Semuanya berjalan dengan baik. Chandra selalu bisa diandalkan.”

 

“Oh. Jadi, kamu yang bikin si Chandra sibuk banget sampe nggak ada waktu buat nelepon Jheni?” tanya Yuna.

 

“Nggaklah. Emang dia yang inisiatif,” jawab Yeriko. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Yuna sambil membisikkan sesuatu.

 

“Serius?” tanya Yuna sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Kenapa dia selalu cuek sama Jheni?” tanya Yuna.

 

“Cuek itu bukan berarti nggak sayang. Ada hal yang harus diperjuangkan oleh seorang pria. Terutama harga dirinya. Chandra juga melakukan banyak hal untuk Jheni. Setiap orang, punya cara membahagiakan orang yang mereka cintai.”

 

“Kamu sendiri?” tanya Yuna.

 

“Aku?” tanya Yeriko sambil mengelus lembut perut Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Apa aku masih terlalu cuek sama kamu?” tanyanya.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia masih menyandarkan punggungnya di dada Yeriko. Tangannya memeluk lengan Yeriko yang sedang sibuk menimang-nimang anak dalam perut Yuna.

 

“Yun, apa pun hal yang kamu rasakan. Jangan menutupinya dari aku!” pinta Yeriko. “Saat kamu kesepian, kamu hanya boleh cari aku untuk menemani kamu. Saat kamu sedih, kamu hanya boleh gunakan punggungku untuk bersandar. Saat kamu takut, kamu hanya boleh pakai dadaku untuk berlindung.”

 

Yuna langsung menatap wajah Yeriko penuh cinta. Hatinya selalu berbunga-bunga setiap kali mendengar ucapan manis yang keluar dari mulut suaminya itu. “Kamu juga, jangan menutupi apa pun dari aku!” pinta Yuna lirih.

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. “Malam ini, kita makan di mana?”

 

“Di rumah aja. Seharian aku udah siapin banyak makanan enak buat kamu.”

 

“Serius?”

 

“Dua rius!” jawab Yuna.

 

Yeriko tertawa kecil. “Mmh ... kebetulan, aku kangen masakan istriku.”

 

“Beneran?” tanya Yuna.

 

Yeriko mengangguk.

 

“Kalo gitu, harus dihabiskan!”

 

“Iya. Kalau piringnya bisa dimakan, aku makan juga.”

 

Yuna tertawa mendengar candaan Yeriko.

 

“Kabarnya ayah kamu gimana? Baik ‘kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Sangat baik. Setiap pagi, aku selalu ngantar sarapan untuk Ayah. Dia juga sering nanyain kamu.”

 

“Oh ya? Kalau gitu, besok pagi kita sarapan bareng di rumah ayah kamu. Gimana?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Dia pasti seneng banget kalo tahu ... menantu kesayangannya ini sudah kembali dan mau sarapan sama dia.”

 

“Kamu belum kasih tahu ayah kamu kalau aku pulang ke Indonesia hari ini?”

 

Yuna menggelengkan kepalanya. “Besok pagi aja, kita langsung ke apartemen! Aku mau lihat reaksi dia waktu lihat kamu datang.”

 

Yeriko menjepit hidung Yuna. “Mulai nakal ya!? Ayahnya sendiri dijahilin.”

 

“Bukan jahil, ini surprise!” sahut Yuna.

 

“Sama aja.”

 

“Beda!”

 

“Bedanya apa?”

 

“Ya ... beda aja!”

 

“Surprise itu cuma kedok kejahilan kamu doang.”

 

“Idih ... kok, ngomongnya gitu sih?”

 

“Jadi, maunya ngomong gini?” tanya Yeriko balik.

 

“Aku serius!” seru Yuna.

 

“Aku juga serius,” sahut Yeriko sambil tersenyum.

 

Yuna tertawa kecil. Rasanya, memang sudah lama ia tidak berdebat dengan suaminya hanya karena hal-hal sepele. Hal yang paling ia rindukan dari suaminya adalah saat mereka duduk bersama di meja makan, di dalam mobil dan di ruang kerja. Mereka bisa membicarakan banyak hal. Pengetahuan suaminya yang luas, membuat Yuna tak kehabisan bahan pembicaraan.

 

Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di halaman rumah Yeriko.

 

Yeriko mengedarkan pandangannya. Tak ada yang berubah dari rumah itu. Masih sama saja seperti saat ia tinggal seminggu lalu. Yuna, wanita yang paling ia cintai juga masih ada di pelukannya hingga detik itu juga. Ia merasa sangat bahagia begitu masuk ke dalam rumah.

 

Usai membersihkan diri, Yuna dan Yeriko duduk bersama di meja makan sambil bercerita tentang banyak hal. Sesuatu yang tak pernah mereka bicarakan lewat telepon karena waktu istirahat Yeriko sangat terbatas selama Yeriko berada dalam perjalanan dinasnya ke Eropa. Yuna juga tak ingin membuat suaminya kekurangan waktu istirahat hanya karena keegoisannya semata.

 

 

((Bersambung ...))

Thanks udah baca terus sampai di sini. Sapa di kolom komentar supaya aku makin semangat nulisnya.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas