Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 450 : Terpisah Jarak dan Waktu

 


“Yuna tuh ngeselin banget!” seru Refi begitu ia sudah kembali ke apartemennya. “Kenapa Yeriko bisa jatuh cinta sama cewek kayak gitu? Udah kasar, keras kepala, nggak cantik juga!” makinya sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.

 

Refi menghela napas sejenak. Ia tidak ingin memberitahu Deny kalau ia menemui Yuna untuk membuat perhitungan. “Huft, apa aku terlalu gegabah, ya?” gumamnya kemudian.

 

“Setres banget aku, kenapa sih susah banget ngadepin Yuna dan Yeriko?” Refi menatap beberapa kaleng bir yang ada di atas meja. Ia langsung meraih dan membukanya. Banyak hal yang memaksanya melakukan hal-hal di luar batas. Himpitan ekonomi yang ia hadapi, juga nasib percintaannya yang menyedihkan. Membuat ia selalu melakukan banyak hal penuh dengan emosi.

 

Refi memijat-mijat hidungnya sambil memejamkan mata. Bayangan tentang dirinya dan Deny selalu membayangi hidupnya. Ia tidak bisa terlepas dengan mudah dari tangan Deny. Andai ia bersama Yeriko, mungkin ia bisa menyingkirkan Deny dengan mudah dan hidup bahagia.

 

Refi menarik napas beberapa kali. Ia berusaha untuk tidak memikirkan kenangan kotornya bersama Deny. Tapi, tetap saja kenangan-kenangan kotor itu selalu membayangi dirinya setiap hari.

 

Satu hal yang ingin Refi lakukan adalah menyelesaikan semuanya dengan cepat. Emosinya yang tidak stabil kerap kali membuat dirinya bersikap gegabah, kemudian menyesali apa yang sudah ia lakukan sebelumnya.

 

“Gimana caranya aku nyingkirin Yuna dari kehidupan Yeriko?” tanya Refi pada dirinya sendiri. Ia sibuk sendiri memikirkan cara untuk memisahkan Yuna dari Yeriko. Ia akan melakukan apa pun asalkan bisa mendapatkan hati Yeriko kembali.

 

 

 

...

 

 

 

Surabaya - Minggu, 17 September 2017, 05:00 (GMT+7): Berlin - Sabtu, 16 September 2017 23:00 (GMT+2).

 

Indonesia dan Eropa memiliki selisih waktu enam jam. Setiap kali menyelesaikan urusannya, Yeriko tak bisa menahan diri untuk menelepon istrinya. Sudah tiga hari ia dan Chandra berkeliling ke beberapa kota di Eropa. Membuat ia merindukan istrinya. Ia ingin memiliki waktu yang panjang agar ia bisa membawa istrinya berlibur ke luar negeri setiap tahunnya.

 

Yeriko menatap layar ponselnya sambil menunggu Yuna menjawab panggilan telepon darinya.

 

“Halo ...!” Terdengar suara Yuna dari seberang telepon.

 

Yeriko langsung tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Ia sengaja mengaktifkan loudspeaker ponselnya. Ia yang dulu menyukai ketenangan dan kesendirian, kini selalu merindukan keributan dan kebisingan yang dibuat oleh istri tercintanya itu.

 

“Halo ... Sayang! Udah bangun?” tanya Yeriko yang menyadari perbedaan waktu antara dia dan istrinya.

 

“Iya. Baru bangun. Kamu belum tidur?”

 

“Baru kelar ngurus kerjaan. Sekarang, aku di Berlin.”

 

“Abis dari situ, masih mau nambah kota lagi?” tanya Yuna. Ia sedikit kesal karena Yeriko menambah jumlah hari perjalanan dinasnya. Seharusnya, Yeriko sudah kembali di hari keenam perjalanannya. Namun, masih harus menambah satu hari lagi. Sehingga, suaminya itu baru bisa pulang di hari ketujuh.

 

“Nggak. Ini kota yang terakhir. Besok pagi banget, aku sudah terbang ke Indonesia lagi.”

 

“Aargh ...! Beneran ya!” seru Yuna.

 

Yeriko langsung tertawa kecil mendengar teriakan istrinya yang tiba-tiba. Untungnya, ia tak memasang ponsel di telinganya. Gendang telinganya bisa meronta-ronta mendengar teriakan Yuna yang begitu keras.

 

“Iya. Aku nggak tahan berlama-lama di sini tanpa kamu.”

 

“Aku juga udah kangen banget sama kamu. Untung masih ada Jheni yang nemenin aku tidur. Kalo nggak, aku nggak bisa tidur semalaman.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kalau aku udah pulang, kamu tidur di pelukkan aku siang malam.”

 

“Huu, gaya banget! Kamu sibuk kerja terus. Emangnya ada waktu buat ngelonin istri terus-terusan?”

 

“Ada, dong.”

 

“Awas kalau sampe bohong!” seru Yuna.

 

Yeriko terkekeh mendengar ucapan Yuna.

 

“Iih ... ketawa ‘kan? Aku serius, nih!”

 

“Aku juga serius. Kamu jemput aku di Bandara ya! Aku sampai di sana jam ... mmh ... ” Yeriko membaca lembaran tiket yang sudah ada di tangannya. “Sekitar jam enam sore.”

 

“Berapa jam perjalanan?” tanya Yuna.

 

“Sekitar empat belas jam.”

 

“Kalo nyampe sore, berarti kamu berangkatnya pagi banget?” tanya Yuna.

 

“He-em. Jam empat subuh, aku sudah pergi ke Bandara.”

 

“Sekarang jam berapa di sana?”

 

“Jam sebelas malam.”

 

“Ya udah, istirahat dulu gih! Bisa-bisa, nggak jadi pulang lagi kalo ketinggalan jadwal penerbangan.”

 

Yeriko tertawa kecil mendengar ucapan Yuna. “Bisa. Nanti, bisa istirahat di pesawat.”

 

“Huft, kamu ini selalu aja menyepelekan waktu istirahat. Tidur dulu ya! Awas kalo nggak tidur! Aku matikan dulu teleponnya! Bye-bye! Muuach ...!” Yuna langsung mematikan panggilan telepon dari suaminya.

 

Yeriko tertawa kecil sambil menatap layar ponselnya. Ia sangat bahagia dengan perhatian-perhatian kecil istrinya. Pandangannya beralih pada koper yang masih terbuka di atas meja. Jika ada istrinya di kamar ini, sudah pasti istrinya yang merapikan semua pakaiannya sambil bercerita banyak hal.

 

Yeriko mulai memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Ia sudah sangat merindukan istri dan anaknya. Ia melakukan banyak hal untuk keduanya. Ia merasa sangat senang saat mengetahui kalau Yuna selalu baik-baik saja. Bisa tidur dengan nyenyak, bisa makan begitu lahap ... membuat Yeriko selalu bahagia.

 

“Yer, kamu udah siap-siap?” tanya Chandra yang  tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya.

 

“Iya. Kamu sudah kabari Jheni?” tanya Yeriko balik.

 

Chandra menganggukkan kepala. “Aku udah chat dia.”

 

“Chat doang? Nggak telepon dia?”

 

“Jam segini, dia pasti masih tidur. Kalau aku telepon, ntar ganggu tidurnya dia. Dia sering tidur sampai tengah malam. Kasihan, Yer.”

 

“Oh. Dia itu pekerja keras juga ya? Aku jadi ingat waktu istriku baru masuk kerja. Dia semangat banget mempelajari banyak hal. Sampai sekarang, aku sering mergokin dia diam-diam baca majalah bisnis yang aku taruh di kamar. Dia bilang nggak suka baca itu. Tapi, diam-diam dia baca.”

 

“Penasaran kali, Yer. Dia kan suka banget penasaran. Sama kayak Jheni.”

 

“Jheni gitu juga?”

 

Chandra mengangguk-anggukkan kepala. “Mereka itu sebelas dua belas.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kapan kamu ngelamar Jheni?”

 

“Aish ... jangan itu terus yang ditanyain!” pinta Chandra. “Jheni belum siap nikah. Aku juga baru beli tanah di kawasan Pantai Ria. Lokasinya bagus buat bikin rumah, Yer. Cocok buat Jheni cari inspirasi kalau lagi jenuh. Jadi, nggak perlu keluar jauh-jauh.”

 

Yeriko tersenyum sambil menatap Chandra. “Kamu mau bikin rumah buat kalian berdua dulu? Apartemen kamu buat apa?”

 

“Kamu juga punya apartemen. Rumah yang lokasinya bagus juga enak,Yer. Tenang dan nyaman buat Jheni yang butuh ide banyak buat buku-buku dia.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Berapa milyar harga tanah di sana?”

 

“Nggak mahal banget. Nggak melebihi harga Lamborghini kamu, kok. Lagian, cuma dua belas menit dari kantor. Enak lah buat aku dan buat dia juga.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Boleh juga persiapan kamu. Kenapa nggak lamar aja dulu si Jheni? Keburu dia dilamar orang lain.”

 

“Sembarangan kamu, Yer!” sahut Chandra. “Dia cinta mati sama aku, nggak mungkin dia nerima lamaran orang lain.”

 

“Eh, jangan salah! Yuna juga pernah cinta mati sama Lian, dia nerima lamaranku,” tutur Yeriko. Ia tersenyum sambil memainkan menggoyangkan kedua alisnya.

 

Chandra terdiam sejenak. “Iya juga ya?”

 

Yeriko menahan tawa melihat Chandra yang sedang menimbang-nimbang rencananya.

 

Chandra langsung melirik ke arah Yeriko. “Aargh, kebo kamu, Yer! Bikin rusak rencanaku aja!”

 

Yeriko terkekeh. “Ya udah, ikuti aja sesuai rencana kamu! Aku cuma ngasih saran.”

 

“Itu bukan saran, tapi racun!” sahut Chandra kesal.

 

“Sebagai teman yang baik, aku cuma bisa ngasih saran doang. Keputusannya ada di kamu. Kira-kira, perasaan Jheni masih labil atau nggak? Atau kamunya yang labil?” tanya Yeriko. Ia tertawa tanpa suara.

 

“Tau, ah! Males ngomong sama kamu!” Chandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berlalu pergi meninggalkan Yeriko.

 

“Hati-hati, Chan! Keburu ada cowok lain yang lebih keren dan lebih berinisiatif ngejar-ngejar Jheni!” seru Yeriko.

 

“Awas kalau sampai pengaruhi Jheni! Kubunuh kamu, Yer!” sahut Chandra sambil keluar dari kamar Yeriko.

 

Yeriko tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tahu, Chandra memang direktur bagian Litbang di perusahaannya. Selalu memiliki perencanaan yang matang untuk masa depannya. Termasuk, menyusun rencana rahasia untuk pasangannya. Ia harap, kisah cinta Chandra dan Jheni bisa berjalan penuh kebahagiaan.

 

 

((Bersambung...))

Dukung cerita ini terus supaya aku makin semangat nulisnya dan bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas