“Yuna
tuh ngeselin banget!” seru Refi begitu ia sudah kembali ke apartemennya.
“Kenapa Yeriko bisa jatuh cinta sama cewek kayak gitu? Udah kasar, keras
kepala, nggak cantik juga!” makinya sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Refi
menghela napas sejenak. Ia tidak ingin memberitahu Deny kalau ia menemui Yuna
untuk membuat perhitungan. “Huft, apa aku terlalu gegabah, ya?” gumamnya
kemudian.
“Setres
banget aku, kenapa sih susah banget ngadepin Yuna dan Yeriko?” Refi menatap
beberapa kaleng bir yang ada di atas meja. Ia langsung meraih dan membukanya.
Banyak hal yang memaksanya melakukan hal-hal di luar batas. Himpitan ekonomi
yang ia hadapi, juga nasib percintaannya yang menyedihkan. Membuat ia selalu
melakukan banyak hal penuh dengan emosi.
Refi
memijat-mijat hidungnya sambil memejamkan mata. Bayangan tentang dirinya dan
Deny selalu membayangi hidupnya. Ia tidak bisa terlepas dengan mudah dari
tangan Deny. Andai ia bersama Yeriko, mungkin ia bisa menyingkirkan Deny dengan
mudah dan hidup bahagia.
Refi
menarik napas beberapa kali. Ia berusaha untuk tidak memikirkan kenangan
kotornya bersama Deny. Tapi, tetap saja kenangan-kenangan kotor itu selalu
membayangi dirinya setiap hari.
Satu
hal yang ingin Refi lakukan adalah menyelesaikan semuanya dengan cepat.
Emosinya yang tidak stabil kerap kali membuat dirinya bersikap gegabah,
kemudian menyesali apa yang sudah ia lakukan sebelumnya.
“Gimana
caranya aku nyingkirin Yuna dari kehidupan Yeriko?” tanya Refi pada dirinya
sendiri. Ia sibuk sendiri memikirkan cara untuk memisahkan Yuna dari Yeriko. Ia
akan melakukan apa pun asalkan bisa mendapatkan hati Yeriko kembali.
...
Surabaya
- Minggu, 17 September 2017, 05:00 (GMT+7): Berlin - Sabtu, 16 September 2017
23:00 (GMT+2).
Indonesia
dan Eropa memiliki selisih waktu enam jam. Setiap kali menyelesaikan urusannya,
Yeriko tak bisa menahan diri untuk menelepon istrinya. Sudah tiga hari ia dan
Chandra berkeliling ke beberapa kota di Eropa. Membuat ia merindukan istrinya.
Ia ingin memiliki waktu yang panjang agar ia bisa membawa istrinya berlibur ke
luar negeri setiap tahunnya.
Yeriko
menatap layar ponselnya sambil menunggu Yuna menjawab panggilan telepon
darinya.
“Halo
...!” Terdengar suara Yuna dari seberang telepon.
Yeriko
langsung tersenyum sambil menatap layar ponselnya. Ia sengaja mengaktifkan
loudspeaker ponselnya. Ia yang dulu menyukai ketenangan dan kesendirian, kini
selalu merindukan keributan dan kebisingan yang dibuat oleh istri tercintanya
itu.
“Halo
... Sayang! Udah bangun?” tanya Yeriko yang menyadari perbedaan waktu antara
dia dan istrinya.
“Iya.
Baru bangun. Kamu belum tidur?”
“Baru
kelar ngurus kerjaan. Sekarang, aku di Berlin.”
“Abis
dari situ, masih mau nambah kota lagi?” tanya Yuna. Ia sedikit kesal karena
Yeriko menambah jumlah hari perjalanan dinasnya. Seharusnya, Yeriko sudah
kembali di hari keenam perjalanannya. Namun, masih harus menambah satu hari
lagi. Sehingga, suaminya itu baru bisa pulang di hari ketujuh.
“Nggak.
Ini kota yang terakhir. Besok pagi banget, aku sudah terbang ke Indonesia
lagi.”
“Aargh
...! Beneran ya!” seru Yuna.
Yeriko
langsung tertawa kecil mendengar teriakan istrinya yang tiba-tiba. Untungnya,
ia tak memasang ponsel di telinganya. Gendang telinganya bisa meronta-ronta
mendengar teriakan Yuna yang begitu keras.
“Iya.
Aku nggak tahan berlama-lama di sini tanpa kamu.”
“Aku
juga udah kangen banget sama kamu. Untung masih ada Jheni yang nemenin aku
tidur. Kalo nggak, aku nggak bisa tidur semalaman.”
Yeriko
tertawa kecil. “Kalau aku udah pulang, kamu tidur di pelukkan aku siang malam.”
“Huu,
gaya banget! Kamu sibuk kerja terus. Emangnya ada waktu buat ngelonin istri
terus-terusan?”
“Ada,
dong.”
“Awas
kalau sampe bohong!” seru Yuna.
Yeriko
terkekeh mendengar ucapan Yuna.
“Iih
... ketawa ‘kan? Aku serius, nih!”
“Aku
juga serius. Kamu jemput aku di Bandara ya! Aku sampai di sana jam ... mmh ...
” Yeriko membaca lembaran tiket yang sudah ada di tangannya. “Sekitar jam enam
sore.”
“Berapa
jam perjalanan?” tanya Yuna.
“Sekitar
empat belas jam.”
“Kalo
nyampe sore, berarti kamu berangkatnya pagi banget?” tanya Yuna.
“He-em.
Jam empat subuh, aku sudah pergi ke Bandara.”
“Sekarang
jam berapa di sana?”
“Jam
sebelas malam.”
“Ya
udah, istirahat dulu gih! Bisa-bisa, nggak jadi pulang lagi kalo ketinggalan
jadwal penerbangan.”
Yeriko
tertawa kecil mendengar ucapan Yuna. “Bisa. Nanti, bisa istirahat di pesawat.”
“Huft,
kamu ini selalu aja menyepelekan waktu istirahat. Tidur dulu ya! Awas kalo
nggak tidur! Aku matikan dulu teleponnya! Bye-bye! Muuach ...!” Yuna langsung
mematikan panggilan telepon dari suaminya.
Yeriko
tertawa kecil sambil menatap layar ponselnya. Ia sangat bahagia dengan
perhatian-perhatian kecil istrinya. Pandangannya beralih pada koper yang masih
terbuka di atas meja. Jika ada istrinya di kamar ini, sudah pasti istrinya yang
merapikan semua pakaiannya sambil bercerita banyak hal.
Yeriko
mulai memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Ia sudah sangat merindukan istri
dan anaknya. Ia melakukan banyak hal untuk keduanya. Ia merasa sangat senang
saat mengetahui kalau Yuna selalu baik-baik saja. Bisa tidur dengan nyenyak,
bisa makan begitu lahap ... membuat Yeriko selalu bahagia.
“Yer,
kamu udah siap-siap?” tanya Chandra yang tiba-tiba masuk ke dalam
kamarnya.
“Iya.
Kamu sudah kabari Jheni?” tanya Yeriko balik.
Chandra
menganggukkan kepala. “Aku udah chat dia.”
“Chat
doang? Nggak telepon dia?”
“Jam
segini, dia pasti masih tidur. Kalau aku telepon, ntar ganggu tidurnya dia. Dia
sering tidur sampai tengah malam. Kasihan, Yer.”
“Oh.
Dia itu pekerja keras juga ya? Aku jadi ingat waktu istriku baru masuk kerja.
Dia semangat banget mempelajari banyak hal. Sampai sekarang, aku sering
mergokin dia diam-diam baca majalah bisnis yang aku taruh di kamar. Dia bilang
nggak suka baca itu. Tapi, diam-diam dia baca.”
“Penasaran
kali, Yer. Dia kan suka banget penasaran. Sama kayak Jheni.”
“Jheni
gitu juga?”
Chandra
mengangguk-anggukkan kepala. “Mereka itu sebelas dua belas.”
Yeriko
tertawa kecil. “Kapan kamu ngelamar Jheni?”
“Aish
... jangan itu terus yang ditanyain!” pinta Chandra. “Jheni belum siap nikah.
Aku juga baru beli tanah di kawasan Pantai Ria. Lokasinya bagus buat bikin
rumah, Yer. Cocok buat Jheni cari inspirasi kalau lagi jenuh. Jadi, nggak perlu
keluar jauh-jauh.”
Yeriko
tersenyum sambil menatap Chandra. “Kamu mau bikin rumah buat kalian berdua
dulu? Apartemen kamu buat apa?”
“Kamu
juga punya apartemen. Rumah yang lokasinya bagus juga enak,Yer. Tenang dan
nyaman buat Jheni yang butuh ide banyak buat buku-buku dia.”
Yeriko
mengangguk-anggukkan kepala. “Berapa milyar harga tanah di sana?”
“Nggak
mahal banget. Nggak melebihi harga Lamborghini kamu, kok. Lagian, cuma dua
belas menit dari kantor. Enak lah buat aku dan buat dia juga.”
Yeriko
mengangguk-anggukkan kepala. “Boleh juga persiapan kamu. Kenapa nggak lamar aja
dulu si Jheni? Keburu dia dilamar orang lain.”
“Sembarangan
kamu, Yer!” sahut Chandra. “Dia cinta mati sama aku, nggak mungkin dia nerima
lamaran orang lain.”
“Eh,
jangan salah! Yuna juga pernah cinta mati sama Lian, dia nerima lamaranku,”
tutur Yeriko. Ia tersenyum sambil memainkan menggoyangkan kedua alisnya.
Chandra
terdiam sejenak. “Iya juga ya?”
Yeriko
menahan tawa melihat Chandra yang sedang menimbang-nimbang rencananya.
Chandra
langsung melirik ke arah Yeriko. “Aargh, kebo kamu, Yer! Bikin rusak rencanaku
aja!”
Yeriko
terkekeh. “Ya udah, ikuti aja sesuai rencana kamu! Aku cuma ngasih saran.”
“Itu
bukan saran, tapi racun!” sahut Chandra kesal.
“Sebagai
teman yang baik, aku cuma bisa ngasih saran doang. Keputusannya ada di kamu.
Kira-kira, perasaan Jheni masih labil atau nggak? Atau kamunya yang labil?”
tanya Yeriko. Ia tertawa tanpa suara.
“Tau,
ah! Males ngomong sama kamu!” Chandra menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan
berlalu pergi meninggalkan Yeriko.
“Hati-hati,
Chan! Keburu ada cowok lain yang lebih keren dan lebih berinisiatif
ngejar-ngejar Jheni!” seru Yeriko.
“Awas
kalau sampai pengaruhi Jheni! Kubunuh kamu, Yer!” sahut Chandra sambil keluar
dari kamar Yeriko.
Yeriko
tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tahu, Chandra memang direktur
bagian Litbang di perusahaannya. Selalu memiliki perencanaan yang matang untuk
masa depannya. Termasuk, menyusun rencana rahasia untuk pasangannya. Ia harap,
kisah cinta Chandra dan Jheni bisa berjalan penuh kebahagiaan.
((Bersambung...))
Dukung cerita ini terus supaya aku makin semangat nulisnya dan bikin cerita
yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment