Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 449 : Diusir Mr. Ye

 


“Ref, aku tuh nggak bisa berhadapan sama kamu terus. Kamu kalo ngomong nggak pake akal dan bikin nggak masuk akal. Lama-lama aku bisa gila kalo ngeladeni kamu terus. Mending kamu keluar dari rumah aku!” pinta Yuna.

 

“Aku nggak akan keluar sebelum kamu buat pimpinan perusahaan ngeluarin aku dari daftar blacklist!” jawab Refi.

 

“Astaga ... Refi!” seru Yuna menahan geram. “Kamu menguji kesabaran aku banget,” lanjutnya sambil mengepal gemas. “Aku udah bilang kalo aku nggak ada hubungannya sama sekali sama masalah ini. Aku cuma ibu rumah tangga biasa. Cuma bisa nyuci baju, nyuci piring, masak sama beres-beres rumah,” lanjutnya merendah.

 

Refi semakin menatap tajam ke arah Yuna.

 

“Aku nggak punya kekuatan buat ngelakuin itu semua,” tutur Yuna.

 

“Nggak usah pura-pura!” sahut Refi kesal. “Kamu bisa menjatuhkan dan mempermalukan aku di depan orang-orang penting waktu presentasi di Galaxy waktu itu. Aku tahu, kekuatan kamu sama dengan Yeriko karena kamu istrinya.”

 

Yuna langsung tertawa mendengar ucapan Refi. “Iya juga ya? Akhirnya ... kamu mengakui juga kalau aku ini istrinya Yeriko yang juga punya kekuatan. Kalo gitu, nggak usah banyak tingkah di depanku!” pintanya sambil menahan tawa. “Kamu keluar dari rumah ini. Hiduplah dengan damai tanpa mengganggu rumah tangga orang lain!”

 

Refi mengerutkan hidungnya. “Aku nggak akan pergi sebelum kamu penuhi permintaan aku!”

 

“Aku udah bilang berkali-kali kalau aku nggak ada hubungannya sama sekali sama masalah kamu ini. Kamu kok masih ngotot!?” sentak Yuna.

 

“Aku nggak percaya. Cuma kamu satu-satunya musuh aku di sini. Siapa lagi yang ngelakuin ini kalau bukan kamu!” teriak Refi.

 

“Kamu bikin kesabaranku habis, Ref. Aku menghargai kamu karena kamu pernah menjaga dan menyayangi suamiku sebelum aku kenal sama dia. Kamu bisa nggak lepasin suamiku? Biarin dia bahagia sama aku!” pinta Yuna kesal.

 

“Kamu jangan ngimpi! Apa yang udah kamu rebut dari aku, aku akan ambil kembali!” tegas Refi.

 

“Aku nggak ngerebut apa pun dari kamu. Aku udah bosan ngeladeni kamu kayak gini terus. Aku nggak ngerebut Yeriko. Aku nggak ngerebut dia!” tegas Yuna. “Justru kamu yang mau ngerebut dia dari aku. Ingat, Ref! Sesuatu yang memang bukan hak kamu, kamu nggak akan pernah bisa memilikinya seumur hidup!”

 

Refi semakin kesal dengan Yuna yang tidak bisa ia pengaruhi dan ia kendalikan dengan mudah.

 

“Terima kasih, kamu sudah mencampakkan dia tiga tahun yang lalu. Kalau kamu nggak ngelakuin itu, aku nggak akan kenal dan menikah sama Yeriko,” tutur Yuna sambil tersenyum.

 

“Kamu ...!?” Refi semakin geram dengan sikap Yuna yang terus-menerus membuat perasaannya semakin tak karuan.

 

“Bi, bawa dia pergi dari sini!” perintah Yuna pada Bibi War yang berdiri tak jauh darinya.

 

Bibi War tersenyum senang. Ia memberikan kode pada dua pelayan rumah itu untuk menyeret Refi keluar dari rumah tersebut.

 

“Yuna, keluarin dulu aku dari daftar blacklist! Kalau kamu nggak ngelakuin itu, aku bakal bilang ke penggemar-penggemarku supaya mereka semua tahu kelakuan busuk istrinya Tuan Ye!” seru Refi sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman dua pelayan yang mulai menyeretnya.

 

“Aku nggak dengar!” teriak Yuna sambil menutup kedua telinganya.

 

“Yuna ...!” teriak Refi. “Aku nggak akan nyerah sampai kamu keluarin namaku dari daftar blacklist!”  lanjutnya saat ia sudah terseret sampai keluar dari pintu.

 

“Maaf, nggak boleh masuk lagi!” tutur salah seorang pelayan sambil menutup pintu rumah Yuna.

 

“Yuna ...!”Refi masih terus berteriak sambil menggedor-gedor pintu rumah Yuna.

 

“Mbak Yuna, dia masih gedor-gedor pintu,” tutur Bibi War.

 

“Biarkan aja, Bi! Nanti dia capek sendiri.”

 

“Yun, si Refi itu kayaknya punya kelainan jiwa. Jangan-jangan, dia penderita delusi kayak Ibu Ratna itu?” tanya Jheni.

 

Yuna mengedikkan bahunya. “Biar aja dia setres sendiri. Kayaknya dia emosi banget karena kehilangan kerjaannya. Jadinya hilang akal.”

 

“Iya,sih. Semoga aja dia nggak  ajak-ajak orang lain buat setres juga. Hahaha,” sahut Jheni.

 

“Bibi bersyukur banget bukan dia yang jadi istrinya Mas Yeri,” tutur Bibi War.

 

“Eh, aku penasaran. Gimana dulu waktu Yeriko pacaran sama Refi?” tanya Jheni sambil menatap Bibi War. “Dia sering ke rumah ini juga?”

 

Bibi War menggelengkan kepala. “Waktu pacaran sama Mbak Refi, Mas Yeri belum tinggal di rumah ini. Baru tinggal di sini dua tahun yang lalu.”

 

“Berarti sering ke rumah Mamanya Yeriko?”

 

Bibi War menganggukkan kepala. “Tapi Ibu nggak suka sama Mbak Refi. Beliau nggak mau anaknya nikah sama artis. Beliau maunya Mas Yeri punya istri yang mendukung bisnisnya.”

 

Jheni tersenyum sambil melirik wajah Yuna.

 

“Kenapa ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Yuna.

 

“Kamu tenang banget. Udah pede ngedukung Yeriko?”

 

“Dia nggak mau aku ngurus perusahaan. Dia nyuruh aku ngurus anak-anaknya dia aja,” jawab Yuna sambil menjulurkan lidahnya.

 

“Disuruh beranak terus?” tanya Jheni sambil menahan tawa.

 

“Beranak itu enak. Eh, bikin anaknya sih yang enak,” jawab Yuna.

 

“Dasar!” dengus Jheni sambil melempar bantal sofa ke arah Yuna.

 

Yuna terkekh sambil menjulurkan lidahnya.

 

“Bi, anak mantunya Bibi nih nakal dan mesum. Nggak nyesal punya mantu kayak gini?” tanya Jheni sambil menahan tawa.

 

Bibi War hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala melihat tingkah dua sahabat yang kerap kali saling mengejek, tapi tetap saling menyayangi.

 

“Dia iri, Bi. Soalnya sampe sekarang nggak dilamar-lamar sama Chandra. Kan nggak bisa bikin anak setiap hari. Hahaha.”

 

“Idih, ngolok!” seru Jheni sambil menghampiri Yuna untuk menggelitiki perutnya.

 

Yuna langsung berlari ke belakang Bibi War sebelum Jheni berhasil meraih tubuhnya. “Help, Bi! Usir dia dari rumah ini!” seru Yuna sambil tertawa.

 

Bibi War hanya tertawa kecil. Sejak Yuna masuk ke rumah ini, suasana di dalam rumah berubah menjadi begitu hangat dan ceria.

 

“Coba usir kalo berani!” seru Jheni sambil berkacak pinggang. Matanya melirik ke arah pintu rumah yang sudah sepi. “Eh, dia udah pergi?” tanyanya sambil berlari ke arah jendela dan mengintip dari balik tirai yang ada di dekat pintu tersebut.

 

“Masih ada, nggak?” tanya Yuna penasaran.

 

“Masih,” jawab Jheni sambil berbalik menatap Yuna. “Gilanya dia yang masih. Nggak habis-habis,” lanjutnya.

 

“Aku serius nanya!” sahut Yuna kesal.

 

“Nggak ada. Udah pulang dia. Mudahan nggak datang lagi.”

 

“Bikin emosi orang aja. Ya Tuhan ... amit-amit jabang bayi. Jangan sampe anakku kelakuannya kayak Refi,” tutur Yuna sambil mengelus-elus perutnya.

 

“Jangan sampe lah, Yun. Eh, Yeriko udah telepon kamu hari ini? Kok, Chandra belum ada telepon dan chat aku, ya?”

 

“Udah. Dia selalu chat di saat yang tepat. Pagi, siang, sore, malam. Dia nyesuaikan jam dengan jam di sini pas banget. Padahal, perbedaan waktu Indonesia dan Eropa kan jauh.”

 

“Hmm ... dia sampe sedetail itu sayangnya ke kamu.”

 

“Emangnya Chandra nggak kayak gitu?”

 

Jheni menggelengkan kepala. “Dia cuma chat atau telepon kalo udah kelar meeting doang.”

 

“Dia sibuk, Jhen. Ngertiin aja!”

 

Jheni menganggukkan kepala. “Asal sibuknya nggak cari cewek bule aja di sana. Kalo sampe dia macem-macem, aku pites-pites pokoknya!”

 

Yuna terkekeh. “Chandra sabar banget ngadepin kamu yang barbar. Kalo aku jadi dia, nggak betah punya pacar emosian.”

 

Jheni memonyongkan bibirnya.

 

“Bercanda. Serius banget? Lagi PMS?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

Jheni kembali duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya. “Apa aku harus jadi lebih lembut?” gumamnya.

 

“Nggak usah, Jhen! Chandra cinta sama kamu apa adanya.”

 

“Tahu dari mana?”

 

“Dari suamiku, dong!”

 

“Kalian berdua suka gosipin orang juga?” tanya Jheni menyelidik.

 

Yuna terkekeh. Ia tak bisa memungkiri kalau semua hal tentang kehidupannya akan selalu menjadi topik pembahasan saat ia menghabiskan waktu berdua bersama suaminya. Baginya, apa pun bisa menjadi cerita agar tidak saling diam dalam ruang yang sama.

 

((Bersambung...))

Dukung cerita ini terus supaya aku makin semangat nulisnya dan bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas