“Ref,
aku tuh nggak bisa berhadapan sama kamu terus. Kamu kalo ngomong nggak pake
akal dan bikin nggak masuk akal. Lama-lama aku bisa gila kalo ngeladeni kamu
terus. Mending kamu keluar dari rumah aku!” pinta Yuna.
“Aku
nggak akan keluar sebelum kamu buat pimpinan perusahaan ngeluarin aku dari
daftar blacklist!” jawab Refi.
“Astaga
... Refi!” seru Yuna menahan geram. “Kamu menguji kesabaran aku banget,”
lanjutnya sambil mengepal gemas. “Aku udah bilang kalo aku nggak ada
hubungannya sama sekali sama masalah ini. Aku cuma ibu rumah tangga biasa. Cuma
bisa nyuci baju, nyuci piring, masak sama beres-beres rumah,” lanjutnya
merendah.
Refi
semakin menatap tajam ke arah Yuna.
“Aku
nggak punya kekuatan buat ngelakuin itu semua,” tutur Yuna.
“Nggak
usah pura-pura!” sahut Refi kesal. “Kamu bisa menjatuhkan dan mempermalukan aku
di depan orang-orang penting waktu presentasi di Galaxy waktu itu. Aku tahu,
kekuatan kamu sama dengan Yeriko karena kamu istrinya.”
Yuna
langsung tertawa mendengar ucapan Refi. “Iya juga ya? Akhirnya ... kamu
mengakui juga kalau aku ini istrinya Yeriko yang juga punya kekuatan. Kalo
gitu, nggak usah banyak tingkah di depanku!” pintanya sambil menahan tawa.
“Kamu keluar dari rumah ini. Hiduplah dengan damai tanpa mengganggu rumah
tangga orang lain!”
Refi
mengerutkan hidungnya. “Aku nggak akan pergi sebelum kamu penuhi permintaan
aku!”
“Aku
udah bilang berkali-kali kalau aku nggak ada hubungannya sama sekali sama
masalah kamu ini. Kamu kok masih ngotot!?” sentak Yuna.
“Aku
nggak percaya. Cuma kamu satu-satunya musuh aku di sini. Siapa lagi yang
ngelakuin ini kalau bukan kamu!” teriak Refi.
“Kamu
bikin kesabaranku habis, Ref. Aku menghargai kamu karena kamu pernah menjaga
dan menyayangi suamiku sebelum aku kenal sama dia. Kamu bisa nggak lepasin
suamiku? Biarin dia bahagia sama aku!” pinta Yuna kesal.
“Kamu
jangan ngimpi! Apa yang udah kamu rebut dari aku, aku akan ambil kembali!”
tegas Refi.
“Aku
nggak ngerebut apa pun dari kamu. Aku udah bosan ngeladeni kamu kayak gini
terus. Aku nggak ngerebut Yeriko. Aku nggak ngerebut dia!” tegas Yuna. “Justru
kamu yang mau ngerebut dia dari aku. Ingat, Ref! Sesuatu yang memang bukan hak
kamu, kamu nggak akan pernah bisa memilikinya seumur hidup!”
Refi
semakin kesal dengan Yuna yang tidak bisa ia pengaruhi dan ia kendalikan dengan
mudah.
“Terima
kasih, kamu sudah mencampakkan dia tiga tahun yang lalu. Kalau kamu nggak
ngelakuin itu, aku nggak akan kenal dan menikah sama Yeriko,” tutur Yuna sambil
tersenyum.
“Kamu
...!?” Refi semakin geram dengan sikap Yuna yang terus-menerus membuat
perasaannya semakin tak karuan.
“Bi,
bawa dia pergi dari sini!” perintah Yuna pada Bibi War yang berdiri tak jauh
darinya.
Bibi
War tersenyum senang. Ia memberikan kode pada dua pelayan rumah itu untuk
menyeret Refi keluar dari rumah tersebut.
“Yuna,
keluarin dulu aku dari daftar blacklist! Kalau kamu nggak ngelakuin itu, aku
bakal bilang ke penggemar-penggemarku supaya mereka semua tahu kelakuan busuk
istrinya Tuan Ye!” seru Refi sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman dua
pelayan yang mulai menyeretnya.
“Aku
nggak dengar!” teriak Yuna sambil menutup kedua telinganya.
“Yuna
...!” teriak Refi. “Aku nggak akan nyerah sampai kamu keluarin namaku dari
daftar blacklist!” lanjutnya saat ia sudah terseret sampai keluar dari
pintu.
“Maaf,
nggak boleh masuk lagi!” tutur salah seorang pelayan sambil menutup pintu rumah
Yuna.
“Yuna
...!”Refi masih terus berteriak sambil menggedor-gedor pintu rumah Yuna.
“Mbak
Yuna, dia masih gedor-gedor pintu,” tutur Bibi War.
“Biarkan
aja, Bi! Nanti dia capek sendiri.”
“Yun,
si Refi itu kayaknya punya kelainan jiwa. Jangan-jangan, dia penderita delusi
kayak Ibu Ratna itu?” tanya Jheni.
Yuna
mengedikkan bahunya. “Biar aja dia setres sendiri. Kayaknya dia emosi banget
karena kehilangan kerjaannya. Jadinya hilang akal.”
“Iya,sih.
Semoga aja dia nggak ajak-ajak orang lain buat setres juga. Hahaha,”
sahut Jheni.
“Bibi
bersyukur banget bukan dia yang jadi istrinya Mas Yeri,” tutur Bibi War.
“Eh,
aku penasaran. Gimana dulu waktu Yeriko pacaran sama Refi?” tanya Jheni sambil
menatap Bibi War. “Dia sering ke rumah ini juga?”
Bibi
War menggelengkan kepala. “Waktu pacaran sama Mbak Refi, Mas Yeri belum tinggal
di rumah ini. Baru tinggal di sini dua tahun yang lalu.”
“Berarti
sering ke rumah Mamanya Yeriko?”
Bibi
War menganggukkan kepala. “Tapi Ibu nggak suka sama Mbak Refi. Beliau nggak mau
anaknya nikah sama artis. Beliau maunya Mas Yeri punya istri yang mendukung
bisnisnya.”
Jheni
tersenyum sambil melirik wajah Yuna.
“Kenapa
ngelihatin aku kayak gitu?” tanya Yuna.
“Kamu
tenang banget. Udah pede ngedukung Yeriko?”
“Dia
nggak mau aku ngurus perusahaan. Dia nyuruh aku ngurus anak-anaknya dia aja,”
jawab Yuna sambil menjulurkan lidahnya.
“Disuruh
beranak terus?” tanya Jheni sambil menahan tawa.
“Beranak
itu enak. Eh, bikin anaknya sih yang enak,” jawab Yuna.
“Dasar!”
dengus Jheni sambil melempar bantal sofa ke arah Yuna.
Yuna
terkekh sambil menjulurkan lidahnya.
“Bi,
anak mantunya Bibi nih nakal dan mesum. Nggak nyesal punya mantu kayak gini?”
tanya Jheni sambil menahan tawa.
Bibi
War hanya tertawa kecil sambil menggelengkan kepala melihat tingkah dua sahabat
yang kerap kali saling mengejek, tapi tetap saling menyayangi.
“Dia
iri, Bi. Soalnya sampe sekarang nggak dilamar-lamar sama Chandra. Kan nggak
bisa bikin anak setiap hari. Hahaha.”
“Idih,
ngolok!” seru Jheni sambil menghampiri Yuna untuk menggelitiki perutnya.
Yuna
langsung berlari ke belakang Bibi War sebelum Jheni berhasil meraih tubuhnya.
“Help, Bi! Usir dia dari rumah ini!” seru Yuna sambil tertawa.
Bibi
War hanya tertawa kecil. Sejak Yuna masuk ke rumah ini, suasana di dalam rumah
berubah menjadi begitu hangat dan ceria.
“Coba
usir kalo berani!” seru Jheni sambil berkacak pinggang. Matanya melirik ke arah
pintu rumah yang sudah sepi. “Eh, dia udah pergi?” tanyanya sambil berlari ke
arah jendela dan mengintip dari balik tirai yang ada di dekat pintu tersebut.
“Masih
ada, nggak?” tanya Yuna penasaran.
“Masih,”
jawab Jheni sambil berbalik menatap Yuna. “Gilanya dia yang masih. Nggak
habis-habis,” lanjutnya.
“Aku
serius nanya!” sahut Yuna kesal.
“Nggak
ada. Udah pulang dia. Mudahan nggak datang lagi.”
“Bikin
emosi orang aja. Ya Tuhan ... amit-amit jabang bayi. Jangan sampe anakku
kelakuannya kayak Refi,” tutur Yuna sambil mengelus-elus perutnya.
“Jangan
sampe lah, Yun. Eh, Yeriko udah telepon kamu hari ini? Kok, Chandra belum ada
telepon dan chat aku, ya?”
“Udah.
Dia selalu chat di saat yang tepat. Pagi, siang, sore, malam. Dia nyesuaikan
jam dengan jam di sini pas banget. Padahal, perbedaan waktu Indonesia dan Eropa
kan jauh.”
“Hmm
... dia sampe sedetail itu sayangnya ke kamu.”
“Emangnya
Chandra nggak kayak gitu?”
Jheni
menggelengkan kepala. “Dia cuma chat atau telepon kalo udah kelar meeting
doang.”
“Dia
sibuk, Jhen. Ngertiin aja!”
Jheni
menganggukkan kepala. “Asal sibuknya nggak cari cewek bule aja di sana. Kalo
sampe dia macem-macem, aku pites-pites pokoknya!”
Yuna
terkekeh. “Chandra sabar banget ngadepin kamu yang barbar. Kalo aku jadi dia,
nggak betah punya pacar emosian.”
Jheni
memonyongkan bibirnya.
“Bercanda.
Serius banget? Lagi PMS?” tanya Yuna sambil menahan tawa.
Jheni
kembali duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya. “Apa aku harus jadi lebih
lembut?” gumamnya.
“Nggak
usah, Jhen! Chandra cinta sama kamu apa adanya.”
“Tahu
dari mana?”
“Dari
suamiku, dong!”
“Kalian
berdua suka gosipin orang juga?” tanya Jheni menyelidik.
Yuna
terkekeh. Ia tak bisa memungkiri kalau semua hal tentang kehidupannya akan
selalu menjadi topik pembahasan saat ia menghabiskan waktu berdua bersama
suaminya. Baginya, apa pun bisa menjadi cerita agar tidak saling diam dalam
ruang yang sama.
((Bersambung...))
Dukung cerita ini terus supaya aku makin semangat nulisnya dan bikin cerita
yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment