Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 448 : Mr. Ye vs Mantan Pacar

 


“Ada apa ini? Kok rame-rame?” tanya Yuna saat melihat orang-orang berkerumun di halaman rumahnya.

 

“Maaf, Nyonya Bos! Ini perempuan tiba-tiba masuk dan bikin ulah,” jawab Satpam yang sedang menggenggam erat tangan Refi.

 

Yuna memerhatikan Refi sejenak. “Oh,” ucapnya santai sambil melangkah pergi.

 

“Tunggu, Yun!” seru Refi sambil berusaha melepaskan dirinya dari genggaman satpam.

 

Yuna menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke arah Refi.

 

“Aku ke sini nyari kamu. Kenapa kamu sembunyi dari aku? Kamu nggak berani berhadapan langsung sama aku? Pengecut kamu, Yun! Beraninya cuma bersembunyi di balik punggung suami kamu dan orang-orangnya dia!” seru Refi.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam. “Ini orang maunya apa sih?” batinnya sambil memutar tubuhnya menghadap Refi.

 

Refi masih berusaha melepaskan diri dari satpam yang memegangi dirinya sambil menatap Yuna sengit.

 

“Lepasin dia, Pak!” perintah Yuna.

 

Satpam itu langsung melepaskan tangannya perlahan.

 

Refi mendengus kesal ke arah satpam tersebut.

 

“Yun, kamu yakin mau izinin Refi masuk ke rumah ini?” bisik Jheni.

 

“Biar aja, Jhen. Daripada dia makin gila. Ada banyak orang di sini, kalau dia mau macem-macem. Dia tahu sendiri resikonya seperti apa,” jawab Yuna lirih.

 

Jheni mengangguk-anggukkan kepala. Ia terus berada di sisi Yuna untuk melindungi sahabatnya dari kemungkinan terburuk saat berhadapan dengan Refi.

 

Yuna tersenyum. Ia mengajak Refi masuk ke dalam rumah dan mempersilakan duduk di sofa. Ia memperlakukan Refi dengan baik layaknya tamu-tamu yang masuk ke dalam rumahnya.

 

“Bi, tolong bikinkan minum buat Mbak Refi ya!” pinta Yuna dengan lembut.

 

Bibi War menganggukkan kepala. Tapi matanya melirik tajam ke arah Refi yang sudah duduk di sofa.

 

Jheni ikut duduk santai di sofa, tepat di hadapan Refi.

 

Yuna bergerak memindahkan benda dari kantong belanja dan memasukkan ke dalam lemari hias yang adq di ruang tamu tersebut.

 

Refi terus memerhatikan gerak-gerik Yuna yang terlihat sudah menguasai semua barang-barang yang ada di rumah Yeriko tersebut.

 

“Seharusnya, aku yang jadi nyonya di rumah ini. Kenapa dia tiba-tiba datang dan masuk ke kehidupan Yeriko?” batin Refi sambil mengedarkan pandangannya. Ia terpesona dengan furniture mewah yang mengisi rumah tersebut. Tak terlihat banyak barang di rumah itu. Namun, semuanya terlihat mewah dan berkelas. Ia sibuk mengagumi dan menghitung-hitung kekayaan Yeriko.

 

“Ada perlu apa ke sini?” tanya Yuna begitu ia duduk di sofa.

 

“Aku ke sini mau minta penjelasan dari suami kamu. Kenapa dia menghentikan semua jadwal syuting aku?”

 

Yuna mengerutkan dahinya. “Syuting?”

 

Refi menganggukkan kepala. “Pasti kamu yang udah pengaruhi suami kamu buat balas dendam ke aku ‘kan? Kalo berani, jangan main belakang!” seru Refi.

 

“Main belakang apaan?” tanya Yuna sambil menahan tawa. Ia hanya bisa melihat wajah Refi yang begitu konyol, tak mengerti sedikit pun maksud perkataan Refi kali ini.

 

“Halah, nggak usah pura-pura nggak tahu. Pasti suami kamu yang ngatur supaya pimpinan perusahaan memberhentikan semua jadwalku. Suami kamu punya hubungan dekat sama pemilik perusahaan yang menaungi aku ‘kan?”

 

Yuna tertawa kecil. “Apa suamiku itu orang yang nggak punya kerjaan sampai ngurusi masalah kayak gini? Dia itu sibuk. Nggak mungkin punya waktu buat ngurusin hal-hal nggak penting kayak gini.”

 

“Kamu kira aku nggak tahu siapa Yeriko. Aku udah lama kenal sama dia. Jauh sebelum kamu kenal dia. Kamu nggak pernah tahu apa yang dimainkan sama dia di belakang kamu. Atau ... kamu emang pura-pura nggak tahu?” sahut Refi.

 

Yuna tersenyum kecil. “Nggak ada satu hal pun yang aku nggak tahu soal Yeriko. Bahkan, aku hafal berapa jumlah tahi lalat yang ada di badannya dia. Aku nggak butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa memahami dia dan bikin dia jatuh cinta sama aku.”

 

Refi mengerutkan hidungnya. Ia sangat kesal mendengar ucapan Yuna.

 

Yuna tersenyum manis sambil menatap Refi. Matanya mengisyaratkan agar Refi segera berhenti berharap pada Yeriko. Sebab, kebaikan yang ia lakukan hanya untuk membuat Refi sadar dengan sendirinya.

 

Refi menatap tajam ke arah Yuna. Ia juga melirik dua pelayan yang ada di belakang Yuna.

 

Mereka saling diam untuk beberapa menit sampai Bibi War meletakkan teh hangat ke hadapan mereka.

 

“Minum tehnya, Ref!” perintah Yuna. “Ini teh hitam Kayu Aro. Teh terbaik di dunia. Dikirim langsung dari Jambi. Dari salah satu perkebunan teh tertua di Indonesia yang ada di bawah kaki Gunung Kerinci. Kapan lagi bisa menikmati teh favorite Ratu Belanda ini gratis?” lanjutnya sambil menuangkan teh dari teko ke dalam cangkir dan menyuguhkan ke hadapan Refi.

 

Jheni menahan tawa melihat reaksi Refi.

 

“Cobain, Ref!” pinta Yuna. Ia mengangkat cangkirnya sambil menyeruput teh tersebut perlahan-lahan.

 

Refi menatap kesal ke arah Yuna. Namun, ia ikut menyeruput teh yang wangi dan aromanya begitu khas.

 

“Gimana? Enak?” tanya Yuna.

 

“Biasa aja,” jawab Refi ketus.

 

Jheni tertawa mendengar jawaban Refi. “Yun, dia itu biasa beli teh yang harga enam ribuan. Mana bisa bedain mana teh yang berkualitas sama yang nggak.”

 

Yuna hanya tersenyum menanggapi ucapan Jheni.

 

Refi semakin kesal melihat Yuna dan Jheni meremehkan keberadaannya. “Kalian nggak usah senang dulu!” sentaknya.

 

Jheni dan Yuna langsung menoleh ke arah Refi.

 

“Apa yang kalian pamerkan ini, seharusnya adalah milikku!” seru Refi.

 

Jheni dan Yuna saling pandang, kemudian tertawa bersamaan.

 

“Bubur ya, Ref? Halusin nasi alias halusinasi!” sahut Jheni sambil tertawa lebar.

 

“Aku sadar, Jhen!” sahut Refi. “Kalau bukan karena dia yang kegatelan, Yeriko nggak mungkin berpaling dari aku. Cuma aku perempuan yang pernah deket sama dia dan pernah jadi pacarnya.”

 

Jheni tertawa kecil. “Pernah jadi pacar, bukan berarti jadi prioritas. Yeriko dan Yuna baik sama kami, karena mereka punya hati dan berjiwa besar. Nggak kayak kamu ... udah hatinya sempit, otaknya nggak ada pula ... kimak!”

 

“Kamu jangan asal kalau ngatain orang. Kamu pikir, kamu udah bagus, hah!?” seru Refi tak mau kalah.

 

“Aku emang nggak bagus. Tapi kalo dibandingkan sama kamu. Jelas lebih bagus aku ke mana-mana,” jawab Jheni santai.

 

Refi mengerutkan hidung menatap dua wanita bersahabat itu. “Kalian berdua ini sama aja. Sama-sama deketin cowok cuma buat ngincar hartanya doang.”

 

Jheni tersenyum menatap Refi. “Harta itu bonus. Yang paling penting itu cinta. Kamu ngiri ya? Nggak dapet harta, nggak dapet cinta juga?” goda Jheni.

 

Hati Refi semakin memanas mendengar ucapan Jheni. Ia semakin iri melihat apa yang dimiliki oleh Yuna saat ini. Bukan hanya Yeriko yang tergila-gila dengan Yuna, tapi semua orang juga membela dan melindungi Yuna.

 

“Mata ko lah. Selo aja. Gak usah kek apa kali nengoknya!” tutur Jheni saat mendapati tatapan sinis dari wajah Refi.

 

“Udah, Jhen. Nggak usah diladeni. Ngomong sama orang kayak gini, nggak ada kelar-kelarnya. Udah salah, ngotot pula,” sela Yuna.

 

Jheni menahan tawa. “Dari mana datangnya orang kayak begini?” tanya Jheni. “Yeriko udah terang-terangan nolak kamu. Kenapa kamu masih kepedean aja ngejar-ngejar suami orang?”

 

“Yeriko nolak aku karena dipengaruhi sama Yuna. Kalo nggak ada Yuna, dia pasti udah balik ke pelukkan aku lagi,” jawab Refi penuh percaya diri.

 

“Apa suami aku itu orang yang bodoh sampai bisa dipengaruhi sama orang lain? Kamu yang udah kenal dia bertahun-tahun pun, nggak bisa mempengaruhi pemikiran dia. Gimana sama aku?” sahut Yuna.

 

Refi gelagapan. Ia tak tahu harus menjawab apa. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, selalu disanggah oleh Yuna dan berhasil membuatnya tak  bisa berkata-kata.

 

“Nyonya Refi yang terhormat, kalau udah nggak ada keperluan lagi. Lebih baik keluar dari rumah ini!” pinta Yuna.

 

“Aku nggak akan keluar dari rumah ini sebelum kamu balikin jadwal-jadwal kerjaan aku yang udah di-cancel sama perusahaanku!” tegas Refi keukeuh.

 

Yuna menghela napas. “Aku nggak ada hubungan sama kerjaan kamu. Kamu salah orang,” jawabnya lembut. Ia sudah lelah meladeni Refi yang terus-menerus mencari kesalahan dirinya.

 

“Bohong! Aku tahu Yeriko punya hubungan dekat sama pemilik SD Entertainment. Pasti dia yang nyuruh direktur perusahaanku buat blacklist semua kegiatanku,” sahut Refi.

 

“Ya Allah ... tabahkan hatiku!” ucap Yuna sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Kemudian, ia menatap wajah Refi.

 

“Aku nggak ngelakuin kesalahan apa pun di perusahaan. Kenapa tiba-tiba dimasukin daftar blacklist? Semua acara yang udah terjadwal, di-cancel tanpa alasan yang jelas. Siapa lagi yang bisa ngelakuin itu kalau bukan kamu dan suami kamu? Kamu iri sama aku karena aku punya banyak penggemar di media sosial?”

 

Yuna menahan tawa mendengar ucapan Refi. “Ref, aku bukan artis kayak kamu. Mana mungkin aku iri. Aku nggak pernah posting apa-apa, followers aku udah separuh dari followers kamu. Gimana kalau aku posting foto dan video di sana. Kamu harus lebih hati-hati kalau bicara! Kenapa kamu suka berasumsi sendiri tanpa dasar yang jelas?”

 

Refi terdiam. Ia tak bisa menyangkal ucapan Yuna. Tapi, ia juga tak mau menyerah begitu saja. Ia tidak bisa mendapatkan pria kaya seperti Yeriko, ia juga tidak boleh kehilangan karirnya di dunia hiburan yang baru saja membaik. Ia tak ingin jatuh miskin lagi dan semakin terhina.

 

((Bersambung ...))

 

Dukung cerita ini terus supaya aku makin semangat nulisnya dan bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas