“Ada apa ini? Kok
rame-rame?” tanya Yuna saat melihat orang-orang berkerumun di halaman rumahnya.
“Maaf, Nyonya Bos!
Ini perempuan tiba-tiba masuk dan bikin ulah,” jawab Satpam yang sedang
menggenggam erat tangan Refi.
Yuna memerhatikan
Refi sejenak. “Oh,” ucapnya santai sambil melangkah pergi.
“Tunggu, Yun!”
seru Refi sambil berusaha melepaskan dirinya dari genggaman satpam.
Yuna menghentikan
langkahnya tanpa menoleh ke arah Refi.
“Aku ke sini nyari
kamu. Kenapa kamu sembunyi dari aku? Kamu nggak berani berhadapan langsung sama
aku? Pengecut kamu, Yun! Beraninya cuma bersembunyi di balik punggung suami
kamu dan orang-orangnya dia!” seru Refi.
Yuna menarik napas
dalam-dalam. “Ini orang maunya apa sih?” batinnya sambil memutar tubuhnya
menghadap Refi.
Refi masih
berusaha melepaskan diri dari satpam yang memegangi dirinya sambil menatap Yuna
sengit.
“Lepasin dia,
Pak!” perintah Yuna.
Satpam itu
langsung melepaskan tangannya perlahan.
Refi mendengus
kesal ke arah satpam tersebut.
“Yun, kamu yakin
mau izinin Refi masuk ke rumah ini?” bisik Jheni.
“Biar aja, Jhen.
Daripada dia makin gila. Ada banyak orang di sini, kalau dia mau macem-macem.
Dia tahu sendiri resikonya seperti apa,” jawab Yuna lirih.
Jheni
mengangguk-anggukkan kepala. Ia terus berada di sisi Yuna untuk melindungi
sahabatnya dari kemungkinan terburuk saat berhadapan dengan Refi.
Yuna tersenyum. Ia
mengajak Refi masuk ke dalam rumah dan mempersilakan duduk di sofa. Ia
memperlakukan Refi dengan baik layaknya tamu-tamu yang masuk ke dalam rumahnya.
“Bi, tolong
bikinkan minum buat Mbak Refi ya!” pinta Yuna dengan lembut.
Bibi War
menganggukkan kepala. Tapi matanya melirik tajam ke arah Refi yang sudah duduk
di sofa.
Jheni ikut duduk
santai di sofa, tepat di hadapan Refi.
Yuna bergerak
memindahkan benda dari kantong belanja dan memasukkan ke dalam lemari hias yang
adq di ruang tamu tersebut.
Refi terus
memerhatikan gerak-gerik Yuna yang terlihat sudah menguasai semua barang-barang
yang ada di rumah Yeriko tersebut.
“Seharusnya, aku
yang jadi nyonya di rumah ini. Kenapa dia tiba-tiba datang dan masuk ke
kehidupan Yeriko?” batin Refi sambil mengedarkan pandangannya. Ia terpesona
dengan furniture mewah yang mengisi rumah tersebut. Tak terlihat banyak barang
di rumah itu. Namun, semuanya terlihat mewah dan berkelas. Ia sibuk mengagumi
dan menghitung-hitung kekayaan Yeriko.
“Ada perlu apa ke
sini?” tanya Yuna begitu ia duduk di sofa.
“Aku ke sini mau
minta penjelasan dari suami kamu. Kenapa dia menghentikan semua jadwal syuting
aku?”
Yuna mengerutkan
dahinya. “Syuting?”
Refi menganggukkan
kepala. “Pasti kamu yang udah pengaruhi suami kamu buat balas dendam ke aku
‘kan? Kalo berani, jangan main belakang!” seru Refi.
“Main belakang
apaan?” tanya Yuna sambil menahan tawa. Ia hanya bisa melihat wajah Refi yang
begitu konyol, tak mengerti sedikit pun maksud perkataan Refi kali ini.
“Halah, nggak usah
pura-pura nggak tahu. Pasti suami kamu yang ngatur supaya pimpinan perusahaan
memberhentikan semua jadwalku. Suami kamu punya hubungan dekat sama pemilik
perusahaan yang menaungi aku ‘kan?”
Yuna tertawa
kecil. “Apa suamiku itu orang yang nggak punya kerjaan sampai ngurusi masalah
kayak gini? Dia itu sibuk. Nggak mungkin punya waktu buat ngurusin hal-hal
nggak penting kayak gini.”
“Kamu kira aku
nggak tahu siapa Yeriko. Aku udah lama kenal sama dia. Jauh sebelum kamu kenal
dia. Kamu nggak pernah tahu apa yang dimainkan sama dia di belakang kamu. Atau
... kamu emang pura-pura nggak tahu?” sahut Refi.
Yuna tersenyum
kecil. “Nggak ada satu hal pun yang aku nggak tahu soal Yeriko. Bahkan, aku
hafal berapa jumlah tahi lalat yang ada di badannya dia. Aku nggak butuh waktu
bertahun-tahun untuk bisa memahami dia dan bikin dia jatuh cinta sama aku.”
Refi mengerutkan
hidungnya. Ia sangat kesal mendengar ucapan Yuna.
Yuna tersenyum
manis sambil menatap Refi. Matanya mengisyaratkan agar Refi segera berhenti
berharap pada Yeriko. Sebab, kebaikan yang ia lakukan hanya untuk membuat Refi
sadar dengan sendirinya.
Refi menatap tajam
ke arah Yuna. Ia juga melirik dua pelayan yang ada di belakang Yuna.
Mereka saling diam
untuk beberapa menit sampai Bibi War meletakkan teh hangat ke hadapan mereka.
“Minum tehnya,
Ref!” perintah Yuna. “Ini teh hitam Kayu Aro. Teh terbaik di dunia. Dikirim
langsung dari Jambi. Dari salah satu perkebunan teh tertua di Indonesia yang
ada di bawah kaki Gunung Kerinci. Kapan lagi bisa menikmati teh favorite Ratu
Belanda ini gratis?” lanjutnya sambil menuangkan teh dari teko ke dalam cangkir
dan menyuguhkan ke hadapan Refi.
Jheni menahan tawa
melihat reaksi Refi.
“Cobain, Ref!”
pinta Yuna. Ia mengangkat cangkirnya sambil menyeruput teh tersebut
perlahan-lahan.
Refi menatap kesal
ke arah Yuna. Namun, ia ikut menyeruput teh yang wangi dan aromanya begitu
khas.
“Gimana? Enak?”
tanya Yuna.
“Biasa aja,” jawab
Refi ketus.
Jheni tertawa
mendengar jawaban Refi. “Yun, dia itu biasa beli teh yang harga enam ribuan.
Mana bisa bedain mana teh yang berkualitas sama yang nggak.”
Yuna hanya
tersenyum menanggapi ucapan Jheni.
Refi semakin kesal
melihat Yuna dan Jheni meremehkan keberadaannya. “Kalian nggak usah senang
dulu!” sentaknya.
Jheni dan Yuna
langsung menoleh ke arah Refi.
“Apa yang kalian
pamerkan ini, seharusnya adalah milikku!” seru Refi.
Jheni dan Yuna
saling pandang, kemudian tertawa bersamaan.
“Bubur ya, Ref?
Halusin nasi alias halusinasi!” sahut Jheni sambil tertawa lebar.
“Aku sadar, Jhen!”
sahut Refi. “Kalau bukan karena dia yang kegatelan, Yeriko nggak mungkin
berpaling dari aku. Cuma aku perempuan yang pernah deket sama dia dan pernah
jadi pacarnya.”
Jheni tertawa
kecil. “Pernah jadi pacar, bukan berarti jadi prioritas. Yeriko dan Yuna baik
sama kami, karena mereka punya hati dan berjiwa besar. Nggak kayak kamu ...
udah hatinya sempit, otaknya nggak ada pula ... kimak!”
“Kamu jangan asal
kalau ngatain orang. Kamu pikir, kamu udah bagus, hah!?” seru Refi tak mau
kalah.
“Aku emang nggak
bagus. Tapi kalo dibandingkan sama kamu. Jelas lebih bagus aku ke mana-mana,”
jawab Jheni santai.
Refi mengerutkan
hidung menatap dua wanita bersahabat itu. “Kalian berdua ini sama aja.
Sama-sama deketin cowok cuma buat ngincar hartanya doang.”
Jheni tersenyum
menatap Refi. “Harta itu bonus. Yang paling penting itu cinta. Kamu ngiri ya?
Nggak dapet harta, nggak dapet cinta juga?” goda Jheni.
Hati Refi semakin
memanas mendengar ucapan Jheni. Ia semakin iri melihat apa yang dimiliki oleh
Yuna saat ini. Bukan hanya Yeriko yang tergila-gila dengan Yuna, tapi semua
orang juga membela dan melindungi Yuna.
“Mata ko lah. Selo
aja. Gak usah kek apa kali nengoknya!” tutur Jheni saat mendapati tatapan sinis
dari wajah Refi.
“Udah, Jhen. Nggak
usah diladeni. Ngomong sama orang kayak gini, nggak ada kelar-kelarnya. Udah
salah, ngotot pula,” sela Yuna.
Jheni menahan
tawa. “Dari mana datangnya orang kayak begini?” tanya Jheni. “Yeriko udah
terang-terangan nolak kamu. Kenapa kamu masih kepedean aja ngejar-ngejar suami
orang?”
“Yeriko nolak aku
karena dipengaruhi sama Yuna. Kalo nggak ada Yuna, dia pasti udah balik ke
pelukkan aku lagi,” jawab Refi penuh percaya diri.
“Apa suami aku itu
orang yang bodoh sampai bisa dipengaruhi sama orang lain? Kamu yang udah kenal
dia bertahun-tahun pun, nggak bisa mempengaruhi pemikiran dia. Gimana sama
aku?” sahut Yuna.
Refi gelagapan. Ia
tak tahu harus menjawab apa. Setiap kalimat yang keluar dari mulutnya, selalu
disanggah oleh Yuna dan berhasil membuatnya tak bisa berkata-kata.
“Nyonya Refi yang
terhormat, kalau udah nggak ada keperluan lagi. Lebih baik keluar dari rumah
ini!” pinta Yuna.
“Aku nggak akan
keluar dari rumah ini sebelum kamu balikin jadwal-jadwal kerjaan aku yang udah
di-cancel sama perusahaanku!” tegas Refi keukeuh.
Yuna menghela
napas. “Aku nggak ada hubungan sama kerjaan kamu. Kamu salah orang,” jawabnya
lembut. Ia sudah lelah meladeni Refi yang terus-menerus mencari kesalahan
dirinya.
“Bohong! Aku tahu
Yeriko punya hubungan dekat sama pemilik SD Entertainment. Pasti dia yang
nyuruh direktur perusahaanku buat blacklist semua kegiatanku,” sahut Refi.
“Ya Allah ...
tabahkan hatiku!” ucap Yuna sambil menutup wajah dengan kedua telapak
tangannya. Kemudian, ia menatap wajah Refi.
“Aku nggak
ngelakuin kesalahan apa pun di perusahaan. Kenapa tiba-tiba dimasukin daftar
blacklist? Semua acara yang udah terjadwal, di-cancel tanpa alasan yang jelas.
Siapa lagi yang bisa ngelakuin itu kalau bukan kamu dan suami kamu? Kamu iri
sama aku karena aku punya banyak penggemar di media sosial?”
Yuna menahan tawa
mendengar ucapan Refi. “Ref, aku bukan artis kayak kamu. Mana mungkin aku iri.
Aku nggak pernah posting apa-apa, followers aku udah separuh dari followers
kamu. Gimana kalau aku posting foto dan video di sana. Kamu harus lebih
hati-hati kalau bicara! Kenapa kamu suka berasumsi sendiri tanpa dasar yang
jelas?”
Refi terdiam. Ia
tak bisa menyangkal ucapan Yuna. Tapi, ia juga tak mau menyerah begitu saja. Ia
tidak bisa mendapatkan pria kaya seperti Yeriko, ia juga tidak boleh kehilangan
karirnya di dunia hiburan yang baru saja membaik. Ia tak ingin jatuh miskin lagi
dan semakin terhina.
((Bersambung ...))
Dukung cerita ini terus supaya aku makin semangat nulisnya dan bikin cerita
yang lebih seru lagi.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment