Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 441 : Melatih Hati

 


Jheni mondar-mandir di ruang tamu sambil memikirkan kejadian yang ia lihat hari ini. Ia juga mengingat kalimat Icha yang memberitahukan kalau Amara bekerja di salah satu klub sebagai penghibur.

 

“Apa sekarang hidupnya dia susah  banget? Kenapa sampai kerja di klub? Apalagi, kata Icha ... dia jadi wanita penghibur. Bukan jadi pelayan kayak Icha.”

 

“Jhen, apa yang harus kamu lakukan sekarang?” tanyanya pada diri sendiri. “Aku kasih tahu si Chandra atau nggak ya? Kalo aku kasih tahu, dia bakal bereaksi atau nggak? Kalo aku nggak kasih tahu, kasihan juga sama Amara. Walau dia pernah jahat sama aku, tapi dia juga udah dapet hukuman yang setimpal.”

 

“Terus, kalo si Chandra balik ke Amara lagi, gimana?” tanya Jheni pada diri sendiri.

 

“Huft, aku nggak boleh egois. Biar gimana pun, Amara pernah deket sama Chandra. Bahkan sudah bertunangan sama Chandra. Chandra pasti mau nolongin dia,” ucapnya meyakinkan diri sendiri.

 

Jheni masih mondar-mandir sambil memikirkan bagaimana memberitahukan semua yang ia ketahui pada Chandra.

 

 

 

BRUG ...!

 

 

 

Tiba-tiba, Jheni menabrak tubuh Chandra yang sudah berdiri di sana.

 

“Kamu!? Ngapain di sini?” tanya Jheni sambil menatap Chandra yang sudah ada di hadapannya.

 

“Kamu kenapa?” tanya Chandra sambil mengusap rambutnya yang masih basah menggunakan handuk.

 

“Nggak papa.”

 

“Kenapa gelisah banget? Ada masalah?”

 

Jheni menggelengkan kepala. Ia langsung melangkah dan duduk di sofa. Ia tak tahu harus memulai berbicara dengan kata apa agar Chandra bisa menerimanya.

 

Chandra memerhatikan Jheni yang duduk di sofa sambil menggigiti jari tangannya.

 

“Ada apa sih, Jhen?” tanya Chandra.

 

Jheni langsung menoleh ke arah pria itu. “Ish ... aku bingung gimana ngomongnya.”

 

“To the point aja!” pinta Chandra. “Kamu ada masalah apa? Penjualan buku kamu bermasalah?”

 

Jheni menggelengkan kepala.

 

“Terus?” tanya Chandra sambil menghampiri Jheni dan duduk di sampingnya.

 

Jheni menarik napas dalam-dalam. “Hari ini, aku ketemu sama Amara.”

 

Chandra menaikkan kedua alisnya. “Terus? Dia ngajak kamu berantem?”

 

Jheni menggelengkan kepala. “Ada yang aneh dari dia.”

 

“Anehnya?”

 

“Waktu itu, Icha pernah bilang kalau dia kerja di klub ‘kan?”

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Aku ketemu dia tuh kayak gembel. Sebenarnya, apa yang sudah terjadi sama Amara? Kenapa dia bisa kayak gitu? Apa dia beneran jatuh miskin sampai segitunya?” tanya Jheni beruntun.

 

Chandra hanya tersenyum sinis sambil mengedikkan bahunya.

 

“Kamu kok cuek sih?” tanya Jheni melihat reaksi Chandra yang begitu dingin menanggapi ucapannya.

 

“Terus? Aku suruh ngapain?” tanya Chandra, ia tetap bersikap santai seperti biasanya.

 

“Kamu ini nggak ada pedulinya sama orang lain. Aku kasihan lihat dia kayak gitu, Chan!” seru Jheni sambil menatap wajah Chandra.

 

“Aku sudah pernah peduli sama dia. Buat apa peduli lagi?” tanyanya sambil menatap Jheni.

 

Jheni mengunci bibir, ia berpikir sejenak karena Chandra tak kunjung memberikan empati pada apa yang telah terjadi dengan Amara.

 

“Udahlah. Nggak usah mikirin Amara. Yang penting, dia nggak ganggu kamu dan nggak bikin onar.”

 

“Tapi ... aku kasihan lihat dia kayak gitu. Kamu beneran udah nggak peduli ke dia lagi?” tanya Jheni.

 

Chandra tak menyahut. Ia mengambil kudapan yang ada di atas meja dan melahapnya.

 

“Chan ...!” panggil Jheni lagi.

 

“Hmm,” jawab Chandra sambil mengunyah makanan.

 

“Kamu beneran nggak peduli sama Amara?”

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

“Seandainya ... aku yang jadi dia. Apa kamu akan melakukan hal yang sama?”

 

“Maksud kamu?” tanya Chandra dengan mulut penuh makanan.

 

“Yah, maksudnya ... kalau kita putus, terus kehidupanku jadi buruk seperti Amara. Apa kamu juga akan melakukan hal yang sama? Bakal cuek juga sama mantan pacar kamu atau mantan tunangan kamu sendiri?”

 

“Mungkin iya.”

 

Jheni membelalakkan matanya sambil menatap Chandra. “Kamu itu beneran cinta atau nggak sih sama aku?” tanyanya kesal.

 

“Beneran.”

 

“Kenapa jawabannya gitu?”

 

“Kamu mau jawaban yang gimana?”

 

Jheni gelagapan mendengar pertanyaan Chandra. “Kamu itu ngeselin banget! Katanya, sayang sama aku, cinta sama aku, tapi selalu aja bersikap cuek. Kalau aku jadi mantan kamu, kamu nggak akan peduli lagi sama kehidupan aku sekalipun aku menjalani kehidupan yang buruk? Kalau nggak peduli lagi, berarti kamu nggak beneran cinta sama aku. Kalau kayak gini terus, mending kita ...” Ucapan Jheni terhenti saat bibir Chandra tiba-tiba mendarat di bibirnya.

 

Jheni langsung mendorong dada Chandra agar menjauh dari tubuhnya. “Aku lagi serius! Bukan bercanda, Chan!”

 

“Udahlah, aku tahu maksud kamu,” sahut Chandra sambil tersenyum.

 

“Tahu?”

 

Chandra menganggukkan kepala.

 

“Beneran tahu?”

 

Chandra mengangguk lagi.

 

“Apa?” tanya Jheni.

 

Chandra menatap wajah Jheni. “Nggak usah bahas soal dia lagi!” pinta Chandra.

 

“Tuh, kan? Nggak ada pedulinya sama sekali sama mantan tunangan kamu sendiri. Kamu ingat nggak gimana sayangnya kamu ke dia? Aku bisa lihat sendiri, gimana hari-hari kamu saat kamu putus sama dia. Kenapa sekarang malah secuek ini?”

 

“Terus, kamu mau kalau aku balik ke Amara lagi!?” seru Chandra kesal.

 

“Aku bukan nyuruh kamu balik ke Amara. Aku cuma mau kamu peduli sama orang lain. Terutama, orang yang pernah deket sama kamu. Biar bagaimanapun, kamu pernah sayang sama dia. Kalian pernah saling menyayangi. Apa kamu bakal ngelupain semuanya begitu aja?”

 

“Jhen, aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu kali ini. Kenapa kamu malah nyodorin pacar kamu ke mantannya? Kamu nggak beneran sayang sama aku? Ngarep aku balik ke Amara atau apa?”

 

Jheni tak menyahut pertanyaan yang keluar dari mulut Chandra.

 

“Kamu selalu aja mikir yang aneh-aneh. Bisa nggak menjalani hidup dengan tenang tanpa memikirkan orang lain? Apalagi, dia pernah jahatin kamu. Buat apa kamu peduli sama dia? Dia mantanku, Jhen. Kamu harus ingat itu. Aku susah payah buat ngelupain dia dari kehidupanku. Sekarang, kamu malah maunya aku deketin Amara lagi?” tanya Chandra.

 

Jheni menggelengkan kepala.

 

“Terus, mau kamu apa?” tanya Chandra lagi.

 

“Aku cuma mau kamu bisa nolongin Amara, itu aja. Aku nggak tega lihat dia kayak gitu.”

 

“Jhen, kamu beneran sayang atau nggak sama aku? Kenapa kamu nggak punya rasa cemburu sama sekali?”

 

“Aku sayang sama kamu. Aku percaya sepenuhnya sama perasaan kamu ke aku. Makanya, aku nggak akan cemburu kalau sama mantan tunangan kamu itu.”

 

“Jhen, kamu bisa nggak hidup normal kayak yang lain. Lihat pacarnya peduli sama cewek lain, harusnya kamu marah. Lihat pacarnya jalan sama perempuan lain, harusnya kamu cemburu. Apa yang udah kamu lakuin selama ini, nggak pernah cemburu sedikit pun ke aku.”

 

Jheni memutar bola matanya. “Aku bukan nggak pernah cemburu. Aku juga ngerasain cemburu, kali. Cuma aku nggak mau aja berantem sama orang lain karena cowok. Kamu tahu sendiri, emosiku nggak stabil. Aku gampang emosi. Makanya, aku selalu melatih hatiku untuk tetap mencintai kamu walau aku nggak bisa memiliki kamu sekali pun. Kamu ngerti aku, dong! Aku itu sayang beneran sama kamu,” cerocosnya dengan mata berkaca-kaca.

 

“Iya, iya. Aku ngerti,” ucap Chandra sambil merengkuh Jheni ke pelukannya. “Udah. Nggak usah mikirin Amara lagi. Dia sudah punya kehidupan sendiri. Kita nggak perlu ikut campur sama kehidupan dia saat ini!” bisiknya.

 

“Tapi ...”

 

“Nggak usah kebanyakan ‘tapi’! Kamu nurut sama aku!” pinta Chandra.

 

Jheni menganggukkan kepala. “Kamu beneran sayang sama aku ‘kan?”

 

Chandra menganggukkan kepala. “Sayang banget,” ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.

 

Jheni tersenyum. Ia ingin, Chandra terus menyayanginya seperti ini. Ia juga berharap kalau Chandra tetap menyayangi dia walau takdir menentukan kalau ia dan Chandra tak bisa bersama. “God! Jangan pisahkan cinta kami sekalipun kami tak saling melihat lagi!” bisik Jheni dalam hatinya.

 

Chandra tersenyum sambil mengecup ujung kepala Jheni. Ia tidak ingin wanitanya terus-menerus memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia tak lagi bertanya soal kehidupan Amara, ia mengalihkan pembicaraannya pada komik dan art project yang sedang dikerjakan oleh Jheni agar hubungan mereka kembali hangat seperti biasanya.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Salam sayang dari Chandra & Jheni.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas