Jheni
mondar-mandir di ruang tamu sambil memikirkan kejadian yang ia lihat hari ini.
Ia juga mengingat kalimat Icha yang memberitahukan kalau Amara bekerja di salah
satu klub sebagai penghibur.
“Apa
sekarang hidupnya dia susah banget? Kenapa sampai kerja di klub? Apalagi,
kata Icha ... dia jadi wanita penghibur. Bukan jadi pelayan kayak Icha.”
“Jhen,
apa yang harus kamu lakukan sekarang?” tanyanya pada diri sendiri. “Aku kasih
tahu si Chandra atau nggak ya? Kalo aku kasih tahu, dia bakal bereaksi atau
nggak? Kalo aku nggak kasih tahu, kasihan juga sama Amara. Walau dia pernah
jahat sama aku, tapi dia juga udah dapet hukuman yang setimpal.”
“Terus,
kalo si Chandra balik ke Amara lagi, gimana?” tanya Jheni pada diri sendiri.
“Huft,
aku nggak boleh egois. Biar gimana pun, Amara pernah deket sama Chandra. Bahkan
sudah bertunangan sama Chandra. Chandra pasti mau nolongin dia,” ucapnya
meyakinkan diri sendiri.
Jheni
masih mondar-mandir sambil memikirkan bagaimana memberitahukan semua yang ia
ketahui pada Chandra.
BRUG
...!
Tiba-tiba,
Jheni menabrak tubuh Chandra yang sudah berdiri di sana.
“Kamu!?
Ngapain di sini?” tanya Jheni sambil menatap Chandra yang sudah ada di
hadapannya.
“Kamu
kenapa?” tanya Chandra sambil mengusap rambutnya yang masih basah menggunakan
handuk.
“Nggak
papa.”
“Kenapa
gelisah banget? Ada masalah?”
Jheni
menggelengkan kepala. Ia langsung melangkah dan duduk di sofa. Ia tak tahu
harus memulai berbicara dengan kata apa agar Chandra bisa menerimanya.
Chandra
memerhatikan Jheni yang duduk di sofa sambil menggigiti jari tangannya.
“Ada
apa sih, Jhen?” tanya Chandra.
Jheni
langsung menoleh ke arah pria itu. “Ish ... aku bingung gimana ngomongnya.”
“To
the point aja!” pinta Chandra. “Kamu ada masalah apa? Penjualan buku kamu
bermasalah?”
Jheni
menggelengkan kepala.
“Terus?”
tanya Chandra sambil menghampiri Jheni dan duduk di sampingnya.
Jheni
menarik napas dalam-dalam. “Hari ini, aku ketemu sama Amara.”
Chandra
menaikkan kedua alisnya. “Terus? Dia ngajak kamu berantem?”
Jheni
menggelengkan kepala. “Ada yang aneh dari dia.”
“Anehnya?”
“Waktu
itu, Icha pernah bilang kalau dia kerja di klub ‘kan?”
Chandra
menganggukkan kepala.
“Aku
ketemu dia tuh kayak gembel. Sebenarnya, apa yang sudah terjadi sama Amara?
Kenapa dia bisa kayak gitu? Apa dia beneran jatuh miskin sampai segitunya?”
tanya Jheni beruntun.
Chandra
hanya tersenyum sinis sambil mengedikkan bahunya.
“Kamu
kok cuek sih?” tanya Jheni melihat reaksi Chandra yang begitu dingin menanggapi
ucapannya.
“Terus?
Aku suruh ngapain?” tanya Chandra, ia tetap bersikap santai seperti biasanya.
“Kamu
ini nggak ada pedulinya sama orang lain. Aku kasihan lihat dia kayak gitu,
Chan!” seru Jheni sambil menatap wajah Chandra.
“Aku
sudah pernah peduli sama dia. Buat apa peduli lagi?” tanyanya sambil menatap
Jheni.
Jheni
mengunci bibir, ia berpikir sejenak karena Chandra tak kunjung memberikan
empati pada apa yang telah terjadi dengan Amara.
“Udahlah.
Nggak usah mikirin Amara. Yang penting, dia nggak ganggu kamu dan nggak bikin
onar.”
“Tapi
... aku kasihan lihat dia kayak gitu. Kamu beneran udah nggak peduli ke dia
lagi?” tanya Jheni.
Chandra
tak menyahut. Ia mengambil kudapan yang ada di atas meja dan melahapnya.
“Chan
...!” panggil Jheni lagi.
“Hmm,”
jawab Chandra sambil mengunyah makanan.
“Kamu
beneran nggak peduli sama Amara?”
Chandra
menggelengkan kepala.
“Seandainya
... aku yang jadi dia. Apa kamu akan melakukan hal yang sama?”
“Maksud
kamu?” tanya Chandra dengan mulut penuh makanan.
“Yah,
maksudnya ... kalau kita putus, terus kehidupanku jadi buruk seperti Amara. Apa
kamu juga akan melakukan hal yang sama? Bakal cuek juga sama mantan pacar kamu
atau mantan tunangan kamu sendiri?”
“Mungkin
iya.”
Jheni
membelalakkan matanya sambil menatap Chandra. “Kamu itu beneran cinta atau
nggak sih sama aku?” tanyanya kesal.
“Beneran.”
“Kenapa
jawabannya gitu?”
“Kamu
mau jawaban yang gimana?”
Jheni
gelagapan mendengar pertanyaan Chandra. “Kamu itu ngeselin banget! Katanya,
sayang sama aku, cinta sama aku, tapi selalu aja bersikap cuek. Kalau aku jadi
mantan kamu, kamu nggak akan peduli lagi sama kehidupan aku sekalipun aku
menjalani kehidupan yang buruk? Kalau nggak peduli lagi, berarti kamu nggak
beneran cinta sama aku. Kalau kayak gini terus, mending kita ...” Ucapan Jheni
terhenti saat bibir Chandra tiba-tiba mendarat di bibirnya.
Jheni
langsung mendorong dada Chandra agar menjauh dari tubuhnya. “Aku lagi serius!
Bukan bercanda, Chan!”
“Udahlah,
aku tahu maksud kamu,” sahut Chandra sambil tersenyum.
“Tahu?”
Chandra
menganggukkan kepala.
“Beneran
tahu?”
Chandra
mengangguk lagi.
“Apa?”
tanya Jheni.
Chandra
menatap wajah Jheni. “Nggak usah bahas soal dia lagi!” pinta Chandra.
“Tuh,
kan? Nggak ada pedulinya sama sekali sama mantan tunangan kamu sendiri. Kamu
ingat nggak gimana sayangnya kamu ke dia? Aku bisa lihat sendiri, gimana
hari-hari kamu saat kamu putus sama dia. Kenapa sekarang malah secuek ini?”
“Terus,
kamu mau kalau aku balik ke Amara lagi!?” seru Chandra kesal.
“Aku
bukan nyuruh kamu balik ke Amara. Aku cuma mau kamu peduli sama orang lain.
Terutama, orang yang pernah deket sama kamu. Biar bagaimanapun, kamu pernah
sayang sama dia. Kalian pernah saling menyayangi. Apa kamu bakal ngelupain
semuanya begitu aja?”
“Jhen,
aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu kali ini. Kenapa kamu malah nyodorin
pacar kamu ke mantannya? Kamu nggak beneran sayang sama aku? Ngarep aku balik
ke Amara atau apa?”
Jheni
tak menyahut pertanyaan yang keluar dari mulut Chandra.
“Kamu
selalu aja mikir yang aneh-aneh. Bisa nggak menjalani hidup dengan tenang tanpa
memikirkan orang lain? Apalagi, dia pernah jahatin kamu. Buat apa kamu peduli
sama dia? Dia mantanku, Jhen. Kamu harus ingat itu. Aku susah payah buat
ngelupain dia dari kehidupanku. Sekarang, kamu malah maunya aku deketin Amara
lagi?” tanya Chandra.
Jheni
menggelengkan kepala.
“Terus,
mau kamu apa?” tanya Chandra lagi.
“Aku
cuma mau kamu bisa nolongin Amara, itu aja. Aku nggak tega lihat dia kayak
gitu.”
“Jhen,
kamu beneran sayang atau nggak sama aku? Kenapa kamu nggak punya rasa cemburu
sama sekali?”
“Aku
sayang sama kamu. Aku percaya sepenuhnya sama perasaan kamu ke aku. Makanya,
aku nggak akan cemburu kalau sama mantan tunangan kamu itu.”
“Jhen,
kamu bisa nggak hidup normal kayak yang lain. Lihat pacarnya peduli sama cewek
lain, harusnya kamu marah. Lihat pacarnya jalan sama perempuan lain, harusnya
kamu cemburu. Apa yang udah kamu lakuin selama ini, nggak pernah cemburu
sedikit pun ke aku.”
Jheni
memutar bola matanya. “Aku bukan nggak pernah cemburu. Aku juga ngerasain
cemburu, kali. Cuma aku nggak mau aja berantem sama orang lain karena cowok.
Kamu tahu sendiri, emosiku nggak stabil. Aku gampang emosi. Makanya, aku selalu
melatih hatiku untuk tetap mencintai kamu walau aku nggak bisa memiliki kamu
sekali pun. Kamu ngerti aku, dong! Aku itu sayang beneran sama kamu,”
cerocosnya dengan mata berkaca-kaca.
“Iya,
iya. Aku ngerti,” ucap Chandra sambil merengkuh Jheni ke pelukannya. “Udah.
Nggak usah mikirin Amara lagi. Dia sudah punya kehidupan sendiri. Kita nggak
perlu ikut campur sama kehidupan dia saat ini!” bisiknya.
“Tapi
...”
“Nggak
usah kebanyakan ‘tapi’! Kamu nurut sama aku!” pinta Chandra.
Jheni
menganggukkan kepala. “Kamu beneran sayang sama aku ‘kan?”
Chandra
menganggukkan kepala. “Sayang banget,” ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.
Jheni
tersenyum. Ia ingin, Chandra terus menyayanginya seperti ini. Ia juga berharap
kalau Chandra tetap menyayangi dia walau takdir menentukan kalau ia dan Chandra
tak bisa bersama. “God! Jangan pisahkan cinta kami sekalipun kami tak saling
melihat lagi!” bisik Jheni dalam hatinya.
Chandra
tersenyum sambil mengecup ujung kepala Jheni. Ia tidak ingin wanitanya
terus-menerus memikirkan hal yang tidak-tidak. Ia tak lagi bertanya soal
kehidupan Amara, ia mengalihkan pembicaraannya pada komik dan art project yang
sedang dikerjakan oleh Jheni agar hubungan mereka kembali hangat seperti
biasanya.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung cerita ini terus.
Salam sayang dari Chandra & Jheni.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment