“Hei,
kalian ini apa-apaan? Kenapa ribut-ribut? Ganggu tidur Mami aja!” teriak
seorang wanita setengah baya yang baru keluar dari kamarnya karena mendengar
suara keributan.
“Dia
tuh, Mi! Cari gara-gara aja,” sahut Geisha sambil menunjuk ke arah Amara.
“Kamu
yang cari masalah duluan!” seru Amara tak mau kalah.
“Dia
yang jambak aku duluan, Mi!” seru Geisha.
“Itu
karena kamu ngatain aku perempuan murahan!”
“Oh,
kamu marah? Ngerasa?” sahut Geisha, ia berusaha melepaskan diri dari tangan
teman-teman yang melerai perkelahiannya dengan Amara.
“Kamu
itu yang murahan! Dasar pelacur!” seru Amara.
“Kamu
pikir, kamu siapa? Lebih murahan dari pelacur!” teriak Geisha.
“Sudah,
sudah! Kalian berdua ini sama-sama pelacur. Ngapain saling ngata-ngatain? Cuma
kayak gini aja ribut!” tutur wanita yang dipanggil Mami tersebut.
“Dia
yang main tangan duluan, Mi!” sahut Geisha.
“Itu
karena kamu nyebelin!” seru Amara sambil menatap Geisha.
“Kalian
berdua masih mau berantem?” tanya Mami sambil berkacak pinggang.
Geisha
dan Amara terdiam. Mereka tak berani menjawab pertanyaan dari maminya.
“Kalau
kalian masih buat keributan lagi, Mami akan bikin kalian tidak mendapatkan upah
selama sebulan. Mau melayani pelanggan tanpa dibayar, hah!?”
“Aku
sih nggak mau. Kalau dia, mungkin mau,” sahut Geisha santai.
“Kamu
...!?” Amata menatap geram ke arah Geisha.
“Udahlah.
Daripada kalian berantem, lebih baik kalian siap-siap untuk melayani pelanggan
kalian. Ingat, jangan kecewakan pelanggan kesayangan Mami. Apalagi, malam ini
ada pelanggan VIP yang minta full service. Mami nggak mau kalian bikin ulah!”
“Iya,
Mi ...!” jawab semuanya serempak.
“Oke.
Mami mau lanjutin tidur. Awas kalau sampai bikin keributan lagi!”
“Siap,
Mi!” sahut Geisha sambil memberi hormat.
Amara
menghela napas sambil menatap Geisha. Ia menyadari kalau dirinya sudah terlalu
lama menumpuk emosi dalam batinnya sehingga bisa dengan mudah meluapkan begitu
saja saat Geisha terus menghina dan merendahkannya.
Geisha
menjulurkan lidahnya ke arah Amara, kemudian pergi begitu saja menuju kamarnya
yang ada di lantai tiga.
“Sabar
ya!” Salah satu teman Amara mencoba menghibur Amara. Ia tidak tahu harus
mengatakan apa, sehingga ia hanya bisa menerpuk-nepuk bahu Amara.
Amara
mengangguk kecil sambil berbalik dan pergi kembali ke kamarnya. Wanita-wanita
lain yang ada di sana juga ikut membubarkan diri dan kembali ke kamar
masing-masing untuk beristirahat. Sebagian lagi ada yang bersiap untuk melayani
pelanggan agar mereka segera mendapatkan uang yang mereka inginkan.
Amara
terduduk lemas di atas tempat tidurnya. Ia terus memikirkan kehidupannya yang
berubah banyak setelah ia berpisah dengan Chandra dan menikah dengan Harry. Ia
menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya sambil membayangkan dirinya
beberapa waktu yang lalu. Sebuah kesialan yang menimpa dirinya dan membuatnya
berakhir di tempat yang menyedihkan ini tanpa memiliki pilihan lain.
Dua
bulan yang lalu ...
“Apa
ini!?” seru Harry sambil menunjukkan dokumen di tangannya.
“Bukan
apa-apa,” jawab Amara sambil berusaha meraih dokumen dari tangan Harry.
“Kamu
mau macem-macem sama aku, hah!?”
Amara
menggelengkan kepala.
“Tugasnya
istri itu nurut sama suami. Bukannya malah bikin kayak gini!” teriak Harry
sambil merobek dokumen yang ada di tangannya. Jemari tangannya langsung
mencengkeram leher Amara.
Amara
menahan napas saat tangan Harry mendarat di lehernya. Ia tak punya keberanian
untuk melawan pria tersebut.
“Sampai
kapan pun, kamu nggak akan pernah bisa menggugat cerai aku!” tegas Harry.
“Aku
capek kayak gini terus, Har.” Amara berbicara dengan suara terputus-putus
karena Harry tak kunjung melonggarkan tangannya.
“Kamu
kira, aku mau hidup kayak gini? Gara-gara kamu, sekarang hidupku berantakan!”
seru Harry. “Papaku dipenjara, mamaku sakit. Aku jatuh miskin, banyak hutang.
Kamu istriku, bukannya membantu aku untuk bangkit. Malah mau minta cerai,
hah!?”
Amara
terdiam. Selama ini, ia sudah mengikuti semua yang diinginkan Harry. Termasuk
menjual tubuhnya untuk melunasi hutang-hutang Harry yang terlalu banyak.
Sementara kehidupan mereka tak lagi sebaik dulu.
“Har,
aku udah ikuti semua mau kamu. Gimana, kalau kamu coba untuk bisnis
kecil-kecilan lagi?” tanya Amara. “Aku bakal bantu kamu.”
“Bisnis?
Modalnya dari mana? Hutangku banyak. Ratusan juta. Cuma ini cara yang bisa kita
pakai untuk melunasi hutang-hutang kita dengan cepat,” tutur Harry sambil
melepaskan tangannya dari leher Amara.
“Kita?
Ini hutang kamu. Bukan hutang aku. Kenapa aku harus ikut nanggung semua
hutang-hutang kamu?”
“Kamu
lupa, bisa liburan ke luar negeri. Bisa foya-foya, beli tas bagus, sepatu
bagus. Duit dari mana? Dari aku juga. Sekarang, aku punya hutang banyak. Kamu
nggak mau bantuin, hah!?”
“Aku
nggak mau kayak gini terus, Har. Kamu makin gila! Kita bisa cari uang dengan
cara lain. Nggak perlu ...”
“Diam
kamu!” sentak Harry sambil menunjuk wajah Amara. “Aku nggak butuh saran dari
kamu! Aku cuma mau, kamu nurut sama aku!”
“Tapi
...”
“Nggak
ada tapi-tapian! Dalam seminggu, aku udah bisa dapet puluhan juta dari tubuh
kamu ini. Aku punya barang yang sangat berharga, kenapa nggak aku manfaatkan?”
tutur Harry sambil tertawa.
“Har,
aku ini istri kamu!” seru Amara. “Cuma laki-laki yang nggak waras yang mau jual
istrinya demi uang!”
Harry
tertawa kecil menanggapi ucapan Amara. “Aku emang nggak waras. Kamu yang bikin
aku bertahan dengan ketidakwarasanku ini!”
Amara
menghela napas sambil memejamkan matanya. “Aku nyesel sudah memilih untuk
menikah sama kamu,” tuturnya sambil menatap wajah Harry.
“Aku
juga nyesel udah punya istri nggak berguna kayak kamu!”
“Kamu
...!?” Amara langsung menunjuk wajah Harry dengan perasaan kesal.
Tok
... Tok ... Tok ...!
Harry
dan Amara langsung menoleh ke arah pintu.
“Aku
nggak akan ngelepasin kamu! Jangan macam-macam kalau masih mau hidup!” ancam
Harry sambil melangkahkan kakinya menuju pintu.
“Selamat
malam ...!” sapa seorang pria setengah baya begitu Harry membukakan pintu.
“Oh.
Selamat malam ...!” balas Harry dengan ramah. Ia sudah tak asing lagi dengan
pria yang ada di hadapannya tersebut. “Ayo, masuk!”
Pria
itu menganggukkan kepala. “Gimana? Aku bisa booking full malam ini?” bisiknya
di telinga Harry.
“Bisa,
bisa. Asal bayarannya sesuai.”
Pria
itu menganggukkan kepala.
Harry
langsung mengajak Amara untuk masuk ke dalam kamarnya. “Kamu siap-siap buat
melayani tamu selanjutnya!” perintah Harry.
“Har,
aku udah main sama tiga orang hari ini. Aku butuh istirahat. Kamu mau forsir
aku?” sahut Amara.
“Halah
... sekali lagi! Ayolah! Kita butuh duit banyak. Kali ini, dia minta full. Aku
bakal pergi dulu dari sini sampai kamu bisa puasin dia.”
“Aku
nggak mau, Har! Aku udah capek,” jawab Amara kesal. Ia langsung duduk di atas
tempat tidur dengan wajah tak bersemangat.
“Amara,
kamu baru melayani tiga orang. Satu orang lagi nggak akan jadi masalah,” tutur
Harry sambil menatap wajah Amara. “Setelah ini selesai, aku belikan baju dan
tas baru buat kamu. Gimana?”
Amara
menatap wajah Harry. “Beneran?”
Harry
menganggukkan kepala.
“Tapi,
aku udah capek. Kalau terlalu banyak main, sakit banget!” keluh Amara.
“Main
pelan-pelan aja ya!” pinta Harry. Ia mengeluarkan obat dari saku celananya dan
langsung memasukkan ke dalam mulut Amara dengan paksa.
“Telan!”
perintah Harry sambil menekan rahang Amara.
GLEG!
Amara
langsung menelan obat yang diberikan oleh Harry. Membuat Harry tersenyum puas
melihat istrinya yang masih mau menuruti kata-katanya.
“Kamu
selalu aja maksa aku kayak gini,” tutur Amara.
Harry
tersenyum kecil. “Karena aku butuh uang cepat. Lagian, main kayak gini juga
rasanya enak. Bayangin aja kalau kamu lagi main sama suami kamu sendiri!”
tuturnya sambil tersenyum menatap Amara. Ia bergegas keluar dari kamar dan
menyerahkan istrinya pada pria hidung belang.
Sejak
hari itu, Amara terus melalui kehidupannya penuh kekelaman. Dipaksa oleh
suaminya sendiri untuk melayani pria-pria hidung belang yang juga teman Harry.
Hingga Harry menjualnya pada seorang mucikari untuk mendapatkan uang lebih
banyak lagi.
Setiap
bulannya, Amara harus bisa mendapatkan uang dengan nominal tertentu agar bisa
segera melunasi hutang-hutang suaminya. Ia tidak ingin setiap harinya selalu
dikejar-kejar oleh preman-preman penagih hutang itu. Jika ia melarikan diri,
juga akan dikejar oleh anak buah Mami yang selalu standby menjaganya sampai ia
bisa melunasi semua hutang-hutangnya pada rentenir, juga hutangnya pada Mami
yang kini mengaturnya untuk menjual tubuh.
“Huft,
aku nggak punya pilihan lain lagi,” gumam Amara sambil menatap wajahnya di
cermin. Ia bergegas mengusap air matanya, membersihkan diri, berdandan dengan
baik, mengenakan pakaian seksi seperti biasanya dan pergi ke klub malam untuk
bertemu dengan pelanggannya sebelum ia menghabiskan malamnya bersama dengan
pria yang sudah membayarnya.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung terus sampai di sini.
Jangan lupa kasih star vote dan komentarnya juga ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment