Friday, February 13, 2026

Perfect Hero Bab 440 : Sesama Pelacur

 


“Hei, kalian ini apa-apaan? Kenapa ribut-ribut? Ganggu tidur Mami aja!” teriak seorang wanita setengah baya yang baru keluar dari kamarnya karena mendengar suara keributan.

 

“Dia tuh, Mi! Cari gara-gara aja,” sahut Geisha sambil menunjuk ke arah Amara.

 

“Kamu yang cari masalah duluan!” seru Amara tak mau kalah.

 

“Dia yang jambak aku duluan, Mi!” seru Geisha.

 

“Itu karena kamu ngatain aku perempuan murahan!”

 

“Oh, kamu marah? Ngerasa?” sahut Geisha, ia berusaha melepaskan diri dari tangan teman-teman yang melerai perkelahiannya dengan Amara.

 

“Kamu itu yang murahan! Dasar pelacur!” seru Amara.

 

“Kamu pikir, kamu siapa? Lebih murahan dari pelacur!” teriak Geisha.

 

“Sudah, sudah! Kalian berdua ini sama-sama pelacur. Ngapain saling ngata-ngatain? Cuma kayak gini aja ribut!” tutur wanita yang dipanggil Mami tersebut.

 

“Dia yang main tangan duluan, Mi!” sahut Geisha.

 

“Itu karena kamu nyebelin!” seru Amara sambil menatap Geisha.

 

“Kalian berdua masih mau berantem?” tanya Mami sambil berkacak pinggang.

 

Geisha dan Amara terdiam. Mereka tak berani menjawab pertanyaan dari maminya.

 

“Kalau kalian masih buat keributan lagi, Mami akan bikin kalian tidak mendapatkan upah selama sebulan. Mau melayani pelanggan tanpa dibayar, hah!?”

 

“Aku sih nggak mau. Kalau dia, mungkin mau,” sahut Geisha santai.

 

“Kamu ...!?” Amata menatap geram ke arah Geisha.

 

“Udahlah. Daripada kalian berantem, lebih baik kalian siap-siap untuk melayani pelanggan kalian. Ingat, jangan kecewakan pelanggan kesayangan Mami. Apalagi, malam ini ada pelanggan VIP yang minta full service. Mami nggak mau kalian bikin ulah!”

 

“Iya, Mi ...!” jawab semuanya serempak.

 

“Oke. Mami mau lanjutin tidur. Awas kalau sampai bikin keributan lagi!”

 

“Siap, Mi!” sahut Geisha sambil memberi hormat.

 

Amara menghela napas sambil menatap Geisha. Ia menyadari kalau dirinya sudah terlalu lama menumpuk emosi dalam batinnya sehingga bisa dengan mudah meluapkan begitu saja saat Geisha terus menghina dan merendahkannya.

 

Geisha menjulurkan lidahnya ke arah Amara, kemudian pergi begitu saja menuju kamarnya yang ada di lantai tiga.

 

“Sabar ya!” Salah satu teman Amara mencoba menghibur Amara. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, sehingga ia hanya bisa menerpuk-nepuk bahu Amara.

 

Amara mengangguk kecil sambil berbalik dan pergi kembali ke kamarnya. Wanita-wanita lain yang ada di sana juga ikut membubarkan diri dan kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Sebagian lagi ada yang bersiap untuk melayani pelanggan agar mereka segera mendapatkan uang yang mereka inginkan.

 

Amara terduduk lemas di atas tempat tidurnya. Ia terus memikirkan kehidupannya yang berubah banyak setelah ia berpisah dengan Chandra dan menikah dengan Harry. Ia menutup wajah menggunakan kedua telapak tangannya sambil membayangkan dirinya beberapa waktu yang lalu. Sebuah kesialan yang menimpa dirinya dan membuatnya berakhir di tempat yang menyedihkan ini tanpa memiliki pilihan lain.

 

 

 

Dua bulan yang lalu ...

 

“Apa ini!?” seru Harry sambil menunjukkan dokumen di tangannya.

 

“Bukan apa-apa,” jawab Amara sambil berusaha meraih dokumen dari tangan Harry.

 

“Kamu mau macem-macem sama aku, hah!?”

 

Amara menggelengkan kepala.

 

“Tugasnya istri itu nurut sama suami. Bukannya malah bikin kayak gini!” teriak Harry sambil merobek dokumen yang ada di tangannya. Jemari tangannya langsung mencengkeram leher Amara.

 

Amara menahan napas saat tangan Harry mendarat di lehernya. Ia tak punya keberanian untuk melawan pria tersebut.

 

“Sampai kapan pun, kamu nggak akan pernah bisa menggugat cerai aku!” tegas Harry.

 

“Aku capek kayak gini terus, Har.” Amara berbicara dengan suara terputus-putus karena Harry tak kunjung melonggarkan tangannya.

 

“Kamu kira, aku mau hidup kayak gini? Gara-gara kamu, sekarang hidupku berantakan!” seru Harry. “Papaku dipenjara, mamaku sakit. Aku jatuh miskin, banyak hutang. Kamu istriku, bukannya membantu aku untuk bangkit. Malah mau minta cerai, hah!?”

 

Amara terdiam. Selama ini, ia sudah mengikuti semua yang diinginkan Harry. Termasuk menjual tubuhnya untuk melunasi hutang-hutang Harry yang terlalu banyak. Sementara kehidupan mereka tak lagi sebaik dulu.

 

“Har, aku udah ikuti semua mau kamu. Gimana, kalau kamu coba untuk bisnis kecil-kecilan lagi?” tanya Amara. “Aku bakal bantu kamu.”

 

“Bisnis? Modalnya dari mana? Hutangku banyak. Ratusan juta. Cuma ini cara yang bisa kita pakai untuk melunasi hutang-hutang kita dengan cepat,” tutur Harry sambil melepaskan tangannya dari leher Amara.

 

“Kita? Ini hutang kamu. Bukan hutang aku. Kenapa aku harus ikut nanggung semua hutang-hutang kamu?”

 

“Kamu lupa, bisa liburan ke luar negeri. Bisa foya-foya, beli tas bagus, sepatu bagus. Duit dari mana? Dari aku juga. Sekarang, aku punya hutang banyak. Kamu nggak mau bantuin, hah!?”

 

“Aku nggak mau kayak gini terus, Har. Kamu makin gila! Kita bisa cari uang dengan cara lain. Nggak perlu ...”

 

“Diam kamu!” sentak Harry sambil menunjuk wajah Amara. “Aku nggak butuh saran dari kamu! Aku cuma mau, kamu nurut sama aku!”

 

“Tapi ...”

 

“Nggak ada tapi-tapian! Dalam seminggu, aku udah bisa dapet puluhan juta dari tubuh kamu ini. Aku punya barang yang sangat berharga, kenapa nggak aku manfaatkan?” tutur Harry sambil tertawa.

 

“Har, aku ini istri kamu!” seru Amara. “Cuma laki-laki yang nggak waras yang mau jual istrinya demi uang!”

 

Harry tertawa kecil menanggapi ucapan Amara. “Aku emang nggak waras. Kamu yang bikin aku bertahan dengan ketidakwarasanku ini!”

 

Amara menghela napas sambil memejamkan matanya. “Aku nyesel sudah memilih untuk menikah sama kamu,” tuturnya sambil menatap wajah Harry.

 

“Aku juga nyesel udah punya istri nggak berguna kayak kamu!”

 

“Kamu ...!?” Amara langsung menunjuk wajah Harry dengan perasaan kesal.

 

Tok ... Tok ... Tok ...!

 

Harry dan Amara langsung menoleh ke arah pintu.

 

“Aku nggak akan ngelepasin kamu! Jangan macam-macam kalau masih mau hidup!” ancam Harry sambil melangkahkan kakinya menuju pintu.

 

“Selamat malam ...!” sapa seorang pria setengah baya begitu Harry membukakan pintu.

 

“Oh. Selamat malam ...!” balas Harry dengan ramah. Ia sudah tak asing lagi dengan pria yang ada di hadapannya tersebut. “Ayo, masuk!”

 

Pria itu menganggukkan kepala. “Gimana? Aku bisa booking full malam ini?” bisiknya di telinga Harry.

 

“Bisa, bisa. Asal bayarannya sesuai.”

 

Pria itu menganggukkan kepala.

 

Harry langsung mengajak Amara untuk masuk ke dalam kamarnya. “Kamu siap-siap buat melayani tamu selanjutnya!” perintah Harry.

 

“Har, aku udah main sama tiga orang hari ini. Aku butuh istirahat. Kamu mau forsir aku?” sahut Amara.

 

“Halah ... sekali lagi! Ayolah! Kita butuh duit banyak. Kali ini, dia minta full. Aku bakal pergi dulu dari sini sampai kamu bisa puasin dia.”

 

“Aku nggak mau, Har! Aku udah capek,” jawab Amara kesal. Ia langsung duduk di atas tempat tidur dengan wajah tak bersemangat.

 

“Amara, kamu baru melayani tiga orang. Satu orang lagi nggak akan jadi masalah,” tutur Harry sambil menatap wajah Amara. “Setelah ini selesai, aku belikan baju dan tas baru buat kamu. Gimana?”

 

Amara menatap wajah Harry. “Beneran?”

 

Harry menganggukkan kepala.

 

“Tapi, aku udah capek. Kalau terlalu banyak main, sakit banget!” keluh Amara.

 

“Main pelan-pelan aja ya!” pinta Harry. Ia mengeluarkan obat dari saku celananya dan langsung memasukkan ke dalam mulut Amara dengan paksa.

 

“Telan!” perintah Harry sambil menekan rahang Amara.

 

GLEG!

 

Amara langsung menelan obat yang diberikan oleh Harry. Membuat Harry tersenyum puas melihat istrinya yang masih mau menuruti kata-katanya.

 

“Kamu selalu aja maksa aku kayak gini,” tutur Amara.

 

Harry tersenyum kecil. “Karena aku butuh uang cepat. Lagian, main kayak gini juga rasanya enak. Bayangin aja kalau kamu lagi main sama suami kamu sendiri!” tuturnya sambil tersenyum menatap Amara. Ia bergegas keluar dari kamar dan menyerahkan istrinya pada pria hidung belang.

 

Sejak hari itu, Amara terus melalui kehidupannya penuh kekelaman. Dipaksa oleh suaminya sendiri untuk melayani pria-pria hidung belang yang juga teman Harry. Hingga Harry menjualnya pada seorang mucikari untuk mendapatkan uang lebih banyak lagi.

 

Setiap bulannya, Amara harus bisa mendapatkan uang dengan nominal tertentu agar bisa segera melunasi hutang-hutang suaminya. Ia tidak ingin setiap harinya selalu dikejar-kejar oleh preman-preman penagih hutang itu. Jika ia melarikan diri, juga akan dikejar oleh anak buah Mami yang selalu standby menjaganya sampai ia bisa melunasi semua hutang-hutangnya pada rentenir, juga hutangnya pada Mami yang kini mengaturnya untuk menjual tubuh.

 

“Huft, aku nggak punya pilihan lain lagi,” gumam Amara sambil menatap wajahnya di cermin. Ia bergegas mengusap air matanya, membersihkan diri, berdandan dengan baik, mengenakan pakaian seksi seperti biasanya dan pergi ke klub malam untuk bertemu dengan pelanggannya sebelum ia menghabiskan malamnya bersama dengan pria yang sudah membayarnya.

 

((Bersambung ...))

Thanks udah dukung terus sampai di sini. Jangan lupa kasih star vote dan komentarnya juga ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas