“Selamat
sore, Mbak Refi ...!” sapa pemilik salon yang sudah sangat mengenal Refi.
“Sore
...!” balas Refi sambil tersenyum manis. “Aku mau paket perawatan seperti biasa
ya!”
Pemilik
salon tersebut mengangguk, ia segera memerintahkan karyawannya untuk melayani
Refi.
Refi
terus memikirkan kejadian yang baru saja terjadi di perusahaan Yeriko. “Huft,
gimana caranya bikin Yuna salah paham dan ninggalin Yeriko?” gumamnya dalam
hati.
Refi
terus memikirkan cara yang bisa ia lakukan agar Yuna bisa pergi dari kehidupan
Yeriko dengan sendirinya. Tapi, semua cara yang terpikir di kepalanya lebih
buruk dari yang sudah ia lakukan dan membuatnya semakin kesal.
“Hmm
... kalau aku nggak bisa bikin Yuna salah paham ke Yeri, gimana kalau aku bikin
Yeriko yang salah paham dan membenci perempuan itu?” batin Refi sambil menatap
wajahnya di cermin. Ia tersenyum sambil memikirkan rencana yang akan ia buat.
Ia merasa kalau Yeriko belum benar-benar melupakan kenangan bersamanya.
Tak
jauh dari tempat duduknya, Refi mendengar pembicaraan dua orang wanita yang
tidak asing lagi. Ia menoleh ke ruangan sebelahnya yang hanya disekat dengan
tiang-tiang pergola.
“Bel,
apa kamu belum mau hamil lagi?” tanya Melan yang duduk di sebelah Bellina.
“Mau,
Ma. Tapi belum hamil. Mana bisa mau dipaksa,” jawab Bellina.
“Usaha,
dong! Kalau kamu nggak secepatnya punya anak dari Lian. Lama-lama si Lian cari
perempuan lain.”
Bellina
tak menyahut. Ia tak ingin berdebat dengan mamanya sendiri. Ia hanya menyimpan
perasaan kesalnya di dalam hati.
“Kamu
ini menantu satu-satunya di keluarga Wijaya. Kalau nggak bisa ngasih keturunan,
bisa-bisa keluarga Wijaya mecat kamu sebagai menantu.”
“Ma,
anakku baru aja meninggal. Lian juga nggak menuntut aku untuk segera punya
anak.”
“Kamu
nggak KB kan?” tanya Melan.
“Enggak,
Ma. Pengen punya anak, masa malah KB?” tanya Bellina balik.
“Kenapa
belum hamil-hamil juga?” tanya Melan. “Hubungan kamu baik-baik aja kan?”
“Baik,
Ma. Udah usaha terus, emang belum jadi aja.”
“Kamu
coba pengobatan herbal atau konsultasi ke dokter supaya bisa cepet hamil. Si
Yuna itu kan cold uterus. Dia bisa hamil. Coba kamu tanya-tanya ke dia!”
“Tanya
apa, Ma?”
“Dia
pakai obat dan perawatan apa supaya bisa hamil?”
“Ogah
banget tanya ke dia. Yang ada, dia malah ngecewain aku,” sahut Bellina.
“Cuma
tanya itu doang, apa susahnya?” tanya Melan.
“Susah,
Ma. Mau ditaruh mana mukaku kalau aku tanya-tanya ke dia. Mama tahu sendiri si
Yuna itu kayak apa. Udah ngeselin, kurang ajar, nggak sopan, tukang ngolok,
tukang ngelawan ... euuh, yang jelek-jelek ada di dia semua!”
Melan
tertawa kecil mendengar ucapan Bellina. “Kamu memang anak mama yang paling
manis,” pujinya sambil menoleh ke arah Bellina.
Bellina
tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Matanya tertuju pada pelanggan yang tak
jauh darinya karena ada banyak orang yang mengerubungi dan meminta foto
bersama.
“Ada
apa, Mbak?” tanya Bellina pada salah seorang karyawan salon yang sedang
melakukan perawatan pada rambutnya.
“Ada
artis yang lagi viral, Refina.”
Bellina
langsung menoleh ke arah kerumunan orang tersebut. Benar saja, wanita itu
memang Refi. “Dia itu mantan pacarnya Yeriko ‘kan?” bisik Bellina dalam hati.
“Bisa aku hasut untuk semakin membenci Yuna,” lanjutnya sambil tersenyum penuh
arti.
“Kamu
kenal sama perempuan itu?” tanya Melan.
Bellina
mengangguk-anggukkan kepala. “Nggak kenal banget, cuma tahu aja.”
“Kalo
itu sih, Mama juga tahu. Dia artis yang lagi viral itu ‘kan?”
Bellina
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tersenyum senang karena bisa bertemu dengan
Refi di tempat ini. Ia harap Refi bisa membantunya, bekerja sama untuk membuat
Yuna menderita.
“Ma,
Mama pulang duluan ya!” pinta Bellina begitu mereka selesai mendapatkan
perawatan di salon tersebut.
“Kamu
mau ke mana?” tanya Melan.
“Aku
ada urusan sedikit.”
“Bel,
sejak kamu dan Lian tinggal di rumah sendiri. Kita jarang ketemu. Apa kamu
nggak kangen sama Mama?” tanya Melan.
“Kangen,
Ma. Makanya aku ajak Mama ke salon. Tapi, aku ada urusan penting banget. Mama
tahu, aku juga punya kesibukan lain.”
Melan
menghela napas. “Ya sudahlah. Lian juga butuh kamu untuk mendukung
perusahaannya. Weekend nanti, nginap di rumah Mama ya!” pinta Melan.
“Iya,
Ma.” Bellina memeluk tubuh Melan sambil mencium kedua pipinya.
“Ya
udah, Mama pulang duluan!” pamit Melan. Ia tersenyum menatap Bellina dan
bergegas pergi.
Bellina
menganggukkan kepala. “Hati-hati ya, Ma! I love you ...” serunya sambil
melambaikan tangan.
Bellina
tersenyum senang. Ia mengambil tas tangannya dan melangkahkan kaki melewati
Refi yang tak jauh dari pandangannya.
“Hei,
kamu Refi ‘kan?” tanya Bellina sambil menghentikan langkahnya dan menatap Refi.
Refi
langsung memutar kepalanya menatap Bellina. Ia tersenyum sinis dan mengalihkan
pandangannya kembali ke cermin.
Bellina
menahan geram melihat reaksi Refi yang hanya meliriknya tanpa membalas
sapaannya. “Ini orang ngeselin banget? Sombong amat!” makinya dalam hati.
“Aku
udah lihat berita kamu yang lagi viral di media sosial,” tutur Bellina. Ia
berusaha mendekati Refi walau tidak mendapat sambutan baik.
Refi
tersenyum sinis. Ia mengenal perempuan yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya
itu. Ia sama sekali tidak tertarik untuk berhadapan dengan Bellina.
“Kamu
mantan pacarnya Yeriko ‘kan? Suaminya Yuna, sepupuku.”
Refi
menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah Bellina.
“Aku
udah lihat semua postingan kamu di media sosial. Kamu pasti nggak rela kalau
Yeriko nikah sama Yuna ‘kan? Secara, Yeriko itu ganteng, kaya, penyayang dan
bertanggung jawab. Siapa yang nggak mau sama dia,” tutur Bellina dengan mata
berbinar.
Refi
langsung menoleh ke arah Bellina. Ia merasa kalau pujian Bellina terlalu
berlebihan. Raut wajahnya, seolah menginginkan Yeriko. “Kamu tahu banget gimana
Yeriko?” tanya Refi.
Bellina
menganggukkan kepala. “Dia kan suaminya sepupu aku. Nggak mungkin aku nggak
tahu.”
Refi
tersenyum sinis. “Suami kamu juga mantan pacarnya Yuna, kan?”
“Kamu
tahu dari mana?”
Refi
tersenyum sinis. “Kamu pikir, aku nggak tahu. Aku kenal sama suami kamu itu.
Dia masih ngejar-ngejar Yuna sampai sekarang. Kamu yang ngerebut pacar sepupu
kamu sendiri. Jangan-jangan, sekarang kamu menginginkan Yeriko juga?”
Bellina
gelagapan mendengar pertanyaan Refi. Kemudian, ia menggelengkan kepala. “Nggak.
Aku nggak menginginkan Yeriko.”
Refi
hanya tersenyum menanggapinya. Ia bisa membaca raut wajah Bellina yang terlihat
sangat gugup.
“Aku
suka banget sama video yang kamu bikin itu. Penuh kenangan dan romantis banget.
Kamu bikin sendiri?” tanya Bellina.
Refi
menganggukkan kepala. “Kamu mau apa?” tanyanya balik.
“Maksud
kamu?” tanya Bellina sambil mengernyitkan dahi.
“Nggak
usah kebanyakan basa-basi!” pinta Refi. “To the point aja! Sebenarnya, kamu mau
ngomongin apa?”
Bellina
tersenyum ke arah Refi. “Kamu lumayan peka juga,” jawabnya sambil tersenyum.
“Aku mau menawarkan kerjasama buat kamu.”
“Kerjasama
apa?” tanya Refi.
“Kamu
masih menginginkan Yeriko balik ke kamu lagi ‘kan?” tanya Bellina sambil
menatap wajah Refi.
“Kamu
bisa bantu apa?” tanya Refi tanpa menoleh ke arah Bellina.
“Aku
bisa bantu kamu buat misahin Yuna dan Yeriko.”
“Caranya?”
“Aku
kenal banget sama Yuna. Kamu juga kenal banget sama Yeriko. Kalau kita bekerja
sama, pasti akan lebih mudah untuk membuat mereka berpisah.”
Refi
langsung menoleh ke arah Bellina. “Kenapa kamu mau misahin mereka? Kamu ngincar
Yeriko juga?”
Bellina
menggelengkan kepala. “Nggak mungkin aku ngincar Yeriko. Aku udah bersuami,
Ref. Aku cuma pengen lihat Yuna menderita karena dia juga udah bikin aku
menderita.”
Refi
menaikkan kedua alisnya sambil menatap Bellina. “Oh ya? Bukan karena ngincar
Yeriko juga? Bukannya ... Wilian akan punya kesempatan besar untuk balik ke
Yuna lagi kalau Yeri sama Yuna pisah?”
Bellina
gelagapan menanggapi pertanyaan Refi. Ucapan Refi memang ada benarnya. “Iya
juga, ya? Kalau sampai Yuna berpisah sama Yeriko. Si Lian bakal makin
ngejar-ngejar Yuna?” batin Bellina.
Refi
terus menatap wajah Bellina. Ia menunggu Bellina memberikan respon untuk
pertanyaannya kali ini.
“Mmh
... aku bukan ngincar Yeriko. Kamu jangan salah paham dulu!” pinta Bellina
menanggapi tatapan mata Refi. “Aku cuma mau lihat Yuna menderita. Dia sayang
banget sama Yeriko karena suaminya itu selalu jadi pelindung buat dia. Kalau
Yeriko bisa kembali sama kamu, hidup dia pasti akan menderita. Aku nggak akan
ngerebut Yeriko dari kamu.”
Refi
tersenyum sinis menanggapi ucapan Bellina. Ia tidak mempercayai ucapan yang
keluar dari mulut wanita itu. Ia tetap menganggap kalau Bellina juga
menginginkan Yeriko, sosok pria idaman semua wanita yang ada di dunia ini.
“Ref,
aku mau bantu kamu buat misahin mereka. Gimana?” tanya Bellina. Ia berharap
kalau Refi mau bekerja sama dengannya untuk menghancurkan kehidupan rumah
tangga Yuna dan membalaskan dendam pribadinya.
Refi
hanya tersenyum menanggapi ucapan Bellina. “Aku nggak tertarik buat kerjasama
sama kamu.”
Bellina
mengerutkan hidungnya sambil menatap Refi. “Aku nawarin bantuan cuma-cuma buat
kamu. Kamu malah kayak gini? Sombong banget jadi cewek!” ucapnya kesal.
“Kamu
pikir, aku bakal tertarik buat kerjasama sama orang yang juga terobsesi sama
Yeriko? Aku nggak akan ngebiarin kamu punya kesempatan buat deketin Yeri!”
tegas Refi.
“Sialan
...!” umpat Bellina dalam hati. Tapi, ia memaksa bibirnya untuk terus
tersenyum.
Refi
terlihat sangat santai. Ia hanya melirik Bellina yang duduk di sampingnya.
Bellina
semakin kesal karena Refi tak mau bekerjasama dengannya. Justru mengajaknya
untuk berperang. “Cewek nggak tahu diuntung!” maki Bellina sambil bangkit dari
tempat duduknya. “Masih bagus ada yang mau bantuin kamu. Malah kayak gitu,”
omelnya sambil melangkah pergi.
Refi
hanya tersenyum sinis sambil menatap Bellina dari ekor matanya. Ia sama sekali
tak ingin menahannya. Membiarkan wanita itu pergi begitu saja karena ia tidak
ingin ada wanita lain yang juga menginginkan Yeriko. Ia ingin memiliki Yeriko
seorang diri. Tak ada orang lain yang boleh menginginkannya. Ia akan tetap
mencari cara untuk menyingkirkan Yuna dari sisi Yeriko dan membuat pria itu
kembali ke pelukannya.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung cerita ini terus.
Sapa terus di kolom komentar biar author makin semangat
ngais ide setiap hari.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment