Thursday, February 12, 2026

Perfect Hero Bab 436 : Refi vs Belli

 


“Selamat sore, Mbak Refi ...!” sapa pemilik salon yang sudah sangat mengenal Refi.

 

“Sore ...!” balas Refi sambil tersenyum manis. “Aku mau paket perawatan seperti biasa ya!”

 

Pemilik salon tersebut mengangguk, ia segera memerintahkan karyawannya untuk melayani Refi.

 

Refi terus memikirkan kejadian yang baru saja terjadi di perusahaan Yeriko. “Huft, gimana caranya bikin Yuna salah paham dan ninggalin Yeriko?” gumamnya dalam hati.

 

Refi terus memikirkan cara yang bisa ia lakukan agar Yuna bisa pergi dari kehidupan Yeriko dengan sendirinya. Tapi, semua cara yang terpikir di kepalanya lebih buruk dari yang sudah ia lakukan dan membuatnya semakin kesal.

 

“Hmm ... kalau aku nggak bisa bikin Yuna salah paham ke Yeri, gimana kalau aku bikin Yeriko yang salah paham dan membenci perempuan itu?” batin Refi sambil menatap wajahnya di cermin. Ia tersenyum sambil memikirkan rencana yang akan ia buat. Ia merasa kalau Yeriko belum benar-benar melupakan kenangan bersamanya.

 

Tak jauh dari tempat duduknya, Refi mendengar pembicaraan dua orang wanita yang tidak asing lagi. Ia menoleh ke ruangan sebelahnya yang hanya disekat dengan tiang-tiang pergola.

 

“Bel, apa kamu belum mau hamil lagi?” tanya Melan yang duduk di sebelah Bellina.

 

“Mau, Ma. Tapi belum hamil. Mana bisa mau dipaksa,” jawab Bellina.

 

“Usaha, dong! Kalau kamu nggak secepatnya punya anak dari Lian. Lama-lama si Lian cari perempuan lain.”

 

Bellina tak menyahut. Ia tak ingin berdebat dengan mamanya sendiri. Ia hanya menyimpan perasaan kesalnya di dalam hati.

 

“Kamu ini menantu satu-satunya di keluarga Wijaya. Kalau nggak bisa ngasih keturunan, bisa-bisa keluarga Wijaya mecat kamu sebagai menantu.”

 

“Ma, anakku baru aja meninggal. Lian juga nggak menuntut aku untuk segera punya anak.”

 

“Kamu nggak KB kan?” tanya Melan.

 

“Enggak, Ma. Pengen punya anak, masa malah KB?” tanya Bellina balik.

 

“Kenapa belum hamil-hamil juga?” tanya Melan. “Hubungan kamu baik-baik aja kan?”

 

“Baik, Ma. Udah usaha terus, emang belum jadi aja.”

 

“Kamu coba pengobatan herbal atau konsultasi ke dokter supaya bisa cepet hamil. Si Yuna itu kan cold uterus. Dia bisa hamil. Coba kamu tanya-tanya ke dia!”

 

“Tanya apa, Ma?”

 

“Dia pakai obat dan perawatan apa supaya bisa hamil?”

 

“Ogah banget tanya ke dia. Yang ada, dia malah ngecewain aku,” sahut Bellina.

 

 “Cuma tanya itu doang, apa susahnya?” tanya Melan.

 

“Susah, Ma. Mau ditaruh mana mukaku kalau aku tanya-tanya ke dia. Mama tahu sendiri si Yuna itu kayak apa. Udah ngeselin, kurang ajar, nggak sopan, tukang ngolok, tukang ngelawan ... euuh, yang jelek-jelek ada di dia semua!”

 

Melan tertawa kecil mendengar ucapan Bellina. “Kamu memang anak mama yang paling manis,” pujinya sambil menoleh ke arah Bellina.

 

Bellina tersenyum bangga pada dirinya sendiri. Matanya tertuju pada pelanggan yang tak jauh darinya karena ada banyak orang yang mengerubungi dan meminta foto bersama.

 

“Ada apa, Mbak?” tanya Bellina pada salah seorang karyawan salon yang sedang melakukan perawatan pada rambutnya.

 

“Ada artis yang lagi viral, Refina.”

 

Bellina langsung menoleh ke arah kerumunan orang tersebut. Benar saja, wanita itu memang Refi. “Dia itu mantan pacarnya Yeriko ‘kan?” bisik Bellina dalam hati. “Bisa aku hasut untuk semakin membenci Yuna,” lanjutnya sambil tersenyum penuh arti.

 

“Kamu kenal sama perempuan itu?” tanya Melan.

 

Bellina mengangguk-anggukkan kepala. “Nggak kenal banget, cuma tahu aja.”

 

“Kalo itu sih, Mama juga tahu. Dia artis yang lagi viral itu ‘kan?”

 

Bellina mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tersenyum senang karena bisa bertemu dengan Refi di tempat ini. Ia harap Refi bisa membantunya, bekerja sama untuk membuat Yuna menderita.

 

“Ma, Mama pulang duluan ya!” pinta Bellina begitu mereka selesai mendapatkan perawatan di salon tersebut.

 

“Kamu mau ke mana?” tanya Melan.

 

“Aku ada urusan sedikit.”

 

“Bel, sejak kamu dan Lian tinggal di rumah sendiri. Kita jarang ketemu. Apa kamu nggak kangen sama Mama?” tanya Melan.

 

“Kangen, Ma. Makanya aku ajak Mama ke salon. Tapi, aku ada urusan penting banget. Mama tahu, aku juga punya kesibukan lain.”

 

Melan menghela napas. “Ya sudahlah. Lian juga butuh kamu untuk mendukung perusahaannya. Weekend nanti, nginap di rumah Mama ya!” pinta Melan.

 

“Iya, Ma.” Bellina memeluk tubuh Melan sambil mencium kedua pipinya.

 

“Ya udah, Mama pulang duluan!” pamit Melan. Ia tersenyum menatap Bellina dan bergegas pergi.

 

Bellina menganggukkan kepala. “Hati-hati ya, Ma! I love you ...” serunya sambil melambaikan tangan.

 

Bellina tersenyum senang. Ia mengambil tas tangannya dan melangkahkan kaki melewati Refi yang tak jauh dari pandangannya.

 

“Hei, kamu Refi ‘kan?” tanya Bellina sambil menghentikan langkahnya dan menatap Refi.

 

Refi langsung memutar kepalanya menatap Bellina. Ia tersenyum sinis dan mengalihkan pandangannya kembali ke cermin.

 

Bellina menahan geram melihat reaksi Refi yang hanya meliriknya tanpa membalas sapaannya. “Ini orang ngeselin banget? Sombong amat!” makinya dalam hati.

 

“Aku udah lihat berita kamu yang lagi viral di media sosial,” tutur Bellina. Ia berusaha mendekati Refi walau tidak mendapat sambutan baik.

 

Refi tersenyum sinis. Ia mengenal perempuan yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya itu. Ia sama sekali tidak tertarik untuk berhadapan dengan Bellina.

 

“Kamu mantan pacarnya Yeriko ‘kan? Suaminya Yuna, sepupuku.”

 

Refi menganggukkan kepala tanpa menoleh ke arah Bellina.

 

“Aku udah lihat semua postingan kamu di media sosial. Kamu pasti nggak rela kalau Yeriko nikah sama Yuna ‘kan? Secara, Yeriko itu ganteng, kaya, penyayang dan bertanggung jawab. Siapa yang nggak mau sama dia,” tutur Bellina dengan mata berbinar.

 

Refi langsung menoleh ke arah Bellina. Ia merasa kalau pujian Bellina terlalu berlebihan. Raut wajahnya, seolah menginginkan Yeriko. “Kamu tahu banget gimana Yeriko?” tanya Refi.

 

Bellina menganggukkan kepala. “Dia kan suaminya sepupu aku. Nggak mungkin aku nggak tahu.”

 

Refi tersenyum sinis. “Suami kamu juga mantan pacarnya Yuna, kan?”

 

“Kamu tahu dari mana?”

 

Refi tersenyum sinis. “Kamu pikir, aku nggak tahu. Aku kenal sama suami kamu itu. Dia masih ngejar-ngejar Yuna sampai sekarang. Kamu yang ngerebut pacar sepupu kamu sendiri. Jangan-jangan, sekarang kamu menginginkan Yeriko juga?”

 

Bellina gelagapan mendengar pertanyaan Refi. Kemudian, ia menggelengkan kepala. “Nggak. Aku nggak menginginkan Yeriko.”

 

Refi hanya tersenyum menanggapinya. Ia bisa membaca raut wajah Bellina yang terlihat sangat gugup.

 

“Aku suka banget sama video yang kamu bikin itu. Penuh kenangan dan romantis banget. Kamu bikin sendiri?” tanya Bellina.

 

Refi menganggukkan kepala. “Kamu mau apa?” tanyanya balik.

 

“Maksud kamu?” tanya Bellina sambil mengernyitkan dahi.

 

“Nggak usah kebanyakan basa-basi!” pinta Refi. “To the point aja! Sebenarnya, kamu mau ngomongin apa?”

 

Bellina tersenyum ke arah Refi. “Kamu lumayan peka juga,” jawabnya sambil tersenyum. “Aku mau menawarkan kerjasama buat kamu.”

 

“Kerjasama apa?” tanya Refi.

 

“Kamu masih menginginkan Yeriko balik ke kamu lagi ‘kan?” tanya Bellina sambil menatap wajah Refi.

 

“Kamu bisa bantu apa?” tanya Refi tanpa menoleh ke arah Bellina.

 

“Aku bisa bantu kamu buat misahin Yuna dan Yeriko.”

 

“Caranya?”

 

“Aku kenal banget sama Yuna. Kamu juga kenal banget sama Yeriko. Kalau kita bekerja sama, pasti akan lebih mudah untuk membuat mereka berpisah.”

 

Refi langsung menoleh ke arah Bellina. “Kenapa kamu mau misahin mereka? Kamu ngincar Yeriko juga?”

 

Bellina menggelengkan kepala. “Nggak mungkin aku ngincar Yeriko. Aku udah bersuami, Ref. Aku cuma pengen lihat Yuna menderita karena dia juga udah bikin aku menderita.”

 

Refi menaikkan kedua alisnya sambil menatap Bellina. “Oh ya? Bukan karena ngincar Yeriko juga? Bukannya ... Wilian akan punya kesempatan besar untuk balik ke Yuna lagi kalau Yeri sama Yuna pisah?”

 

Bellina gelagapan menanggapi pertanyaan Refi. Ucapan Refi memang ada benarnya. “Iya juga, ya? Kalau sampai Yuna berpisah sama Yeriko. Si Lian bakal makin ngejar-ngejar Yuna?” batin Bellina.

 

Refi terus menatap wajah Bellina. Ia menunggu Bellina memberikan respon untuk pertanyaannya kali ini.

 

“Mmh ... aku bukan ngincar Yeriko. Kamu jangan salah paham dulu!” pinta Bellina menanggapi tatapan mata Refi. “Aku cuma mau lihat Yuna menderita. Dia sayang banget sama Yeriko karena suaminya itu selalu jadi pelindung buat dia. Kalau Yeriko bisa kembali sama kamu, hidup dia pasti akan menderita. Aku nggak akan ngerebut Yeriko dari kamu.”

 

Refi tersenyum sinis menanggapi ucapan Bellina. Ia tidak mempercayai ucapan yang keluar dari mulut wanita itu. Ia tetap menganggap kalau Bellina juga menginginkan Yeriko, sosok pria idaman semua wanita yang ada di dunia ini.

 

“Ref, aku mau bantu kamu buat misahin mereka. Gimana?” tanya Bellina. Ia berharap kalau Refi mau bekerja sama dengannya untuk menghancurkan kehidupan rumah tangga Yuna dan membalaskan dendam pribadinya.

 

Refi hanya tersenyum menanggapi ucapan Bellina. “Aku nggak tertarik buat kerjasama sama kamu.”

 

Bellina mengerutkan hidungnya sambil menatap Refi. “Aku nawarin bantuan cuma-cuma buat kamu. Kamu malah kayak gini? Sombong banget jadi cewek!” ucapnya kesal.

 

“Kamu pikir, aku bakal tertarik buat kerjasama sama orang yang juga terobsesi sama Yeriko? Aku nggak akan ngebiarin kamu punya kesempatan buat deketin Yeri!” tegas Refi.

 

“Sialan ...!” umpat Bellina dalam hati. Tapi, ia memaksa bibirnya untuk terus tersenyum.

 

Refi terlihat sangat santai. Ia hanya melirik Bellina yang duduk di sampingnya.

 

Bellina semakin kesal karena Refi tak mau bekerjasama dengannya. Justru mengajaknya untuk berperang. “Cewek nggak tahu diuntung!” maki Bellina sambil bangkit dari tempat duduknya. “Masih bagus ada yang mau bantuin kamu. Malah kayak gitu,” omelnya sambil melangkah pergi.

 

Refi hanya tersenyum sinis sambil menatap Bellina dari ekor matanya. Ia sama sekali tak ingin menahannya. Membiarkan wanita itu pergi begitu saja karena ia tidak ingin ada wanita lain yang juga menginginkan Yeriko. Ia ingin memiliki Yeriko seorang diri. Tak ada orang lain yang boleh menginginkannya. Ia akan tetap mencari cara untuk menyingkirkan Yuna dari sisi Yeriko dan membuat pria itu kembali ke pelukannya.

 

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Sapa terus di kolom komentar biar author makin semangat ngais ide setiap hari.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas