“Ay,
kamu nggak papa?” tanya Yuna begitu Refi keluar dari ruang kerja suaminya. Ia
khawatir dengan perasaan suaminya yang berhadapan dengan Refi. Mungkin saja,
suaminya itu menyimpan rasa sakit yang tak mampu untuk diungkapkan.
“Aku
nggak papa. Kamu jangan terpengaruh sama Refi, percaya sama aku ya!” pinta
Yeriko.
Yuna
mengangguk sambil tersenyum. “Kita makan dulu, yuk! Aku laper banget.”
Yeriko
mengangguk sambil tersenyum. Mereka bangkit dari sofa, melangkah menuju meja
lain yang ada di dekat jendela. Mereka menikmati makan siang sambil menatap
langit yang terlihat jelas dari balik kaca gedung tersebut.
Yuna
dan Yeriko saling diam selama beberapa saat. Sesekali, Yuna melirik suaminya
yang terlihat begitu tenang menyikapi masalahnya sendiri. Sehingga, membuat
hatinya justru khawatir.
“Ay
...!” panggil Yuna lirih saat mereka sudah selesai makan siang.
“Mmh
...” Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna.
“Kamu
nggak papa?” tanya Yuna untuk kedua kalinya.
“Nggak
papa.”
Yuna
menghela napas sejenak. “Apa kamu menyesal karena berpisah sama Refi?” tanya
Yuna sambil menggigit bibirnya.
Yeriko
menggelengkan kepala. Ia memutar tubuhnya sambil meraih tangan Yuna. “Aku
memang menyesal sama masa laluku. Yang aku sesali, kenapa aku nggak mengenal
kamu lebih dulu,” tutur Yeriko sambil menatap wajah Yuna. Dari dinding-dinding
bola matanya, mengeluarkan kepedihan yang tak bisa dijelaskan.
Yuna
menggigit bibirnya. Ia tak kuat menahan raut wajah Yeriko yang terlihat sedih,
hatinya ikut tertusuk-tusuk saat Yeriko menatapnya.
Yeriko
mengecup punggung tangan Yuna. “Hal yang paling membahagiakan buatku adalah
mengenal kamu. Hal besar yang aku sesali dalam hidupku adalah tidak mengenal
kamu lebih dulu. Kamu terlalu indah untuk hatiku yang sederhana ini. Jangan
lepasin hati kamu dari genggamanku!” pintanya sambil menatap Yuna dengan mata
berkaca-kaca.
Yuna
langsung memeluk tubuh Yeriko. Air matanya ikut mengalir deras. Ia sangat
bahagia memiliki suami yang begitu istimewa. “Aku nggak akan ninggalin kamu.
Aku janji, akan selalu percaya sama kamu. Jangan sedih ya! Aku sakit banget
lihat kamu kayak gini.”
Yeriko
memeluk erat tubuh Yuna. “Aku takut, masa laluku akan melukai kamu.”
Yuna
melepas pelukkannya dan tersenyum ke arah Yeriko. “Kalau kamu sudah benar-benar
melepaskan semua masa lalu kamu, nggak akan ada yang terluka. Ada rasa sakit
yang lebih sakit lagi dari apa yang pernah aku lalui selama ini, yaitu melihat
kamu bersedih.”
“Kita
punya rasa yang sama. Aku juga nggak mau lihat kamu bersedih,” tutur Yeriko.
Yuna
tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. “Oke. Aku akan selalu bahagia untuk
kamu. Nggak perlu mengkhawatirkan aku. Aku percaya dan nggak pernah meragukan
perasaan kamu.”
Yeriko
tersenyum sambil mengelus pipi Yuna yang lembut.
Yuna
menghela napas. “Kira-kira, Refi bakal membuktikan ancamannya atau nggak ya?
Aku ngerasa agak khawatir. Aku takut, akan melukai anak kita.”
“Aku
pasti menjaga kamu dan anak kita. Kamu percaya sama aku ya!”
Yuna
menganggukkan kepalanya. Ia menatap wajah Yeriko penuh cinta. Ia tak ingin
mereka terlarut dalam kegelisahan dan kesedihan. Sehingga, mereka bekerjasama
untuk saling menghibur satu sama lain. Agar tak perlu ada kesedihan, sesulit
apa pun hal yang akan mereka lalui.
...
“Pasangan
sialan!” maki Refi begitu keluar dari kantor Galaxy Group. Ia langsung masuk ke
dalam mobil.
“Kenapa?”
tanya Deny yang sudah menunggunya di mobil.
“Cewek
sialan itu ada di sana. Aku udah gagal bikin dia salah paham sama Yeriko,”
jawab Refi ketus.
“Kok,
bisa?”
“Dia
nempel terus sama Yeriko. Aku nggak punya kesempatan buat deketin Yeriko lagi.
Udah gitu, si Yeri malah sengaja pamer kemesraan di depanku. Ngeselin banget!”
Deny
tertawa kecil. “Kamu masih belum berhasil juga?”
Refi
menghela napas. “Mereka susah banget dipisahkan. Ada laki-laki yang begitu.
Nggak tergoda sama sekali sama perempuan lain.”
“Bagus
yang begitu ‘kan?” sahut Deny sambil tertawa kecil.
Refi
menganggukkan kepala. “Itu yang bikin aku jatuh cinta sama dia. Di mana coba
bisa dapet cowok kayak gitu? Sayangnya, aku baru tahu setelah aku berpisah sama
dia.”
Deny
hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Refi. “Berusaha lagi!” pintanya. “Gedung
ini mewah banget. Tuan Muda itu pasti beneran kaya raya.”
“Di
otak kamu, nggak ada yang lain selain uang?” tanya Refi kesal.
“Otakku
udah di-setting untuk mendapatkan keuntungan.”
Refi
menghela napas. “Aku udah capek kayak gini terus. Kehadiranku selalu ditolak
sama Yeri. Lama-lama aku males kalo kayak gini terus,” tuturnya tak
bersemangat.
“Belum
apa-apa, kamu udah nyerah duluan?” tanya Deny sambil mengendarai mobilnya.
“Aku
capek, Den.”
“Ref,
kamu belum ada setahun memperjuangkan Tuan Muda itu. Palingan, dua tahun lagi
... cintanya ke perempuan itu memudar. Biasanya, orang kalau udah berumah
tangga nggak akan seromantis waktu masih pacaran. Akan lebih mudah untuk
dihancurkan.”
Refi
mengangguk-anggukkan kepala.
“Kamu
jangan sia-siain Tuan Muda kaya raya itu. Ladang duit buat kita.”
“Aku
beneran cinta sama dia, bukan cuma mau duitnya aja. Nggak kayak kamu!” dengus
Refi.
Deny
tertawa kecil. “Nggak usah munafik. Kamu suka sama dia karena dia kaya ‘kan?
Kalo dia cuma kuli bangunan, nggak mungkin kamu suka sama dia.”
“Ya
iyalah. Punya suami ganteng dan kaya raya, itu impian semua orang.”
“Kenapa
dulu kamu sia-siain dia?”
“Aku
mau ngejar impianku, Den. Walau punya pacar kaya, nggak mungkin mintain uang
dia terus. Keluarganya dia, nggak ada yang suka sama aku.”
Deny
tertawa kecil. “Kamu sendiri yang aneh,” gumamnya.
“Apa!?”
“Nggak
papa. Mau pergi ke mana lagi?”
“Cari
makan. Laper.”
“Mau
makan di mana?”
“Jamoo.”
“Oke.”
“Abis
makan, kita ke salon.”
“Salon
yang mana?”
“Tempat
biasa,” jawab Refi sambil menyandarkan kepalanya ke kursi mobil.
Deny
melajukan mobilnya sambil bersenandung santai. Di kepalanya, ia terus
memikirkan cara untuk menakhlukkan Tuan Muda itu dan menikmati semua
kekayaannya.
“Eh,
biasanya ... cowok yang sukses itu gampang digoda dengan cewek cantik dan
seksi. Itu si Tuan Muda kenapa nggak doyan cewek seksi? Dia normal ‘kan?” tanya
Deny.
“Normal,
Den. Kalo nggak normal, cewek itu nggak akan hamil!” sahut Refi kesal.
“Iya
juga, sih. Cewek itu pintar juga. Dia punya trik yang bagus. Dia bisa langsung
hamil. Otomatis, semua kekayaan pria itu akan diwariskan untuk anaknya.
Beruntung banget tuh cewek.”
“Den
...! Bisa nggak kalo nggak muji-muji dia terus!” seru Refi. Hatinya makin panas
mendengar ucapan Deny. “Heran, deh. Kenapa semua orang selalu melihat Yuna? Apa
bagusnya dia. Mukanya pas-pasan, nggak tinggi, nggak pernah make-up, style-nya
dia biasa aja.”
Deny
tertawa kecil. “Dia memang kelihatan biasa aja. Tapi, harga sandalnya dia doang
bisa belasan juta.”
“Kamu
...!?”
Deny
tertawa kecil. “Aku sudah menyelidiki kehidupan mereka setiap harinya. Tuan
Muda itu kaya raya, dia bisa aja menikmati liburan setiap hari, pergi ke salon
kecantikan atau shopping. Tapi ... aku perhatikan pergerakan cewek itu nggak
jauh. Cuma di dalam rumah atau ke apartemen ayahnya. Hidupnya sederhana
banget.”
“Bukan
sederhana, tapi kampungan!” sahut Refi kesal. “Zaman sekarang, mana ada sih
orang yang betah berlama-lama di dalam rumah?”
Deny
tertawa kecil. “Yang aku perhatikan ... dia memang nggak pernah pergi ke
tempat-tempat yang sering didatangi wanita sosialita.”
“Kamu
udah hafal jadwal dia? Perhatian banget!” celetuk Refi.
“Kamu
yang nyuruh aku untuk mantau dia. Jelas aku mendapatkan banyak hal. Termasuk
... dia jauh lebih baik dari kamu,” tutur Deny sambil tersenyum ke arah Refi.
Refi
menatap kesal ke arah Deny yang sudah memarkirkan mobilnya. Ia tak banyak
berkata lagi. Bergegas keluar dari mobil dan melangkah masuk ke restoran untuk
menikmati makan siangnya yang sudah terlambat sejak beberapa menit lalu.
((Bersambung ...))
Thanks udah dukung cerita ini terus.
Sapa terus di kolom komentar biar author makin semangat
ngais ide setiap hari.
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment