Thursday, February 12, 2026

Perfect Hero Bab 435 : Nyaris Hopeless

 


“Ay, kamu nggak papa?” tanya Yuna begitu Refi keluar dari ruang kerja suaminya. Ia khawatir dengan perasaan suaminya yang berhadapan dengan Refi. Mungkin saja, suaminya itu menyimpan rasa sakit yang tak mampu untuk diungkapkan.

 

“Aku nggak papa. Kamu jangan terpengaruh sama Refi, percaya sama aku ya!” pinta Yeriko.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Kita makan dulu, yuk! Aku laper banget.”

 

Yeriko mengangguk sambil tersenyum. Mereka bangkit dari sofa, melangkah menuju meja lain yang ada di dekat jendela. Mereka menikmati makan siang sambil menatap langit yang terlihat jelas dari balik kaca gedung tersebut.

 

Yuna dan Yeriko saling diam selama beberapa saat. Sesekali, Yuna melirik suaminya yang terlihat begitu tenang menyikapi masalahnya sendiri. Sehingga, membuat hatinya justru khawatir.

 

“Ay ...!” panggil Yuna lirih saat mereka sudah selesai makan siang.

 

“Mmh ...” Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna.

 

“Kamu nggak papa?” tanya Yuna untuk kedua kalinya.

 

“Nggak papa.”

 

Yuna menghela napas sejenak. “Apa kamu menyesal karena berpisah sama Refi?” tanya Yuna sambil menggigit bibirnya.

 

Yeriko menggelengkan kepala. Ia memutar tubuhnya sambil meraih tangan Yuna. “Aku memang menyesal sama masa laluku. Yang aku sesali, kenapa aku nggak mengenal kamu lebih dulu,” tutur Yeriko sambil menatap wajah Yuna. Dari dinding-dinding bola matanya, mengeluarkan kepedihan yang tak bisa dijelaskan.

 

Yuna menggigit bibirnya. Ia tak kuat menahan raut wajah Yeriko yang terlihat sedih, hatinya ikut tertusuk-tusuk saat Yeriko menatapnya.

 

Yeriko mengecup punggung tangan Yuna. “Hal yang paling membahagiakan buatku adalah mengenal kamu. Hal besar yang aku sesali dalam hidupku adalah tidak mengenal kamu lebih dulu. Kamu terlalu indah untuk hatiku yang sederhana ini. Jangan lepasin hati kamu dari genggamanku!” pintanya sambil menatap Yuna dengan mata berkaca-kaca.

 

Yuna langsung memeluk tubuh Yeriko. Air matanya ikut mengalir deras. Ia sangat bahagia memiliki suami yang begitu istimewa. “Aku nggak akan ninggalin kamu. Aku janji, akan selalu percaya sama kamu. Jangan sedih ya! Aku sakit banget lihat kamu kayak gini.”

 

Yeriko memeluk erat tubuh Yuna. “Aku takut, masa laluku akan melukai kamu.”

 

Yuna melepas pelukkannya dan tersenyum ke arah Yeriko. “Kalau kamu sudah benar-benar melepaskan semua masa lalu kamu, nggak akan ada yang terluka. Ada rasa sakit yang lebih sakit lagi dari apa yang pernah aku lalui selama ini, yaitu melihat kamu bersedih.”

 

“Kita punya rasa yang sama. Aku juga nggak mau lihat kamu bersedih,” tutur Yeriko.

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. “Oke. Aku akan selalu bahagia untuk kamu. Nggak perlu mengkhawatirkan aku. Aku percaya dan nggak pernah meragukan perasaan kamu.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengelus pipi Yuna yang lembut.

 

Yuna menghela napas. “Kira-kira, Refi bakal membuktikan ancamannya atau nggak ya? Aku ngerasa agak khawatir. Aku takut, akan melukai anak kita.”

 

“Aku pasti menjaga kamu dan anak kita. Kamu percaya sama aku ya!”

 

Yuna menganggukkan kepalanya. Ia menatap wajah Yeriko penuh cinta. Ia tak ingin mereka terlarut dalam kegelisahan dan kesedihan. Sehingga, mereka bekerjasama untuk saling menghibur satu sama lain. Agar tak perlu ada kesedihan, sesulit apa pun hal yang akan mereka lalui.

 

 

 

...

 

 

 

 

 

“Pasangan sialan!” maki Refi begitu keluar dari kantor Galaxy Group. Ia langsung masuk ke dalam mobil.

 

“Kenapa?” tanya Deny yang sudah menunggunya di mobil.

 

“Cewek sialan itu ada di sana. Aku udah gagal bikin dia salah paham sama Yeriko,” jawab Refi ketus.

 

“Kok, bisa?”

 

“Dia nempel terus sama Yeriko. Aku nggak punya kesempatan buat deketin Yeriko lagi. Udah gitu, si Yeri malah sengaja pamer kemesraan di depanku. Ngeselin banget!”

 

Deny tertawa kecil. “Kamu masih belum berhasil juga?”

 

Refi menghela napas. “Mereka susah banget dipisahkan. Ada laki-laki yang begitu. Nggak tergoda sama sekali sama perempuan lain.”

 

“Bagus yang begitu ‘kan?” sahut Deny sambil tertawa kecil.

 

Refi menganggukkan kepala. “Itu yang bikin aku jatuh cinta sama dia. Di mana coba bisa dapet cowok kayak gitu? Sayangnya, aku baru tahu setelah aku berpisah sama dia.”

 

Deny hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Refi. “Berusaha lagi!” pintanya. “Gedung ini mewah banget. Tuan Muda itu pasti beneran kaya raya.”

 

“Di otak kamu, nggak ada yang lain selain uang?” tanya Refi kesal.

 

“Otakku udah di-setting untuk mendapatkan keuntungan.”

 

Refi menghela napas. “Aku udah capek kayak gini terus. Kehadiranku selalu ditolak sama Yeri. Lama-lama aku males kalo kayak gini terus,” tuturnya tak bersemangat.

 

“Belum apa-apa, kamu udah nyerah duluan?” tanya Deny sambil mengendarai mobilnya.

 

“Aku capek, Den.”

 

“Ref, kamu belum ada setahun memperjuangkan Tuan Muda itu. Palingan, dua tahun lagi ... cintanya ke perempuan itu memudar. Biasanya, orang kalau udah berumah tangga nggak akan seromantis waktu masih pacaran. Akan lebih mudah untuk dihancurkan.”

 

Refi mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Kamu jangan sia-siain Tuan Muda kaya raya itu. Ladang duit buat kita.”

 

“Aku beneran cinta sama dia, bukan cuma mau duitnya aja. Nggak kayak kamu!” dengus Refi.

 

Deny tertawa kecil. “Nggak usah munafik. Kamu suka sama dia karena dia kaya ‘kan? Kalo dia cuma kuli bangunan, nggak mungkin kamu suka sama dia.”

 

“Ya iyalah. Punya suami ganteng dan kaya raya, itu impian semua orang.”

 

“Kenapa dulu kamu sia-siain dia?”

 

“Aku mau ngejar impianku, Den. Walau punya pacar kaya, nggak mungkin mintain uang dia terus. Keluarganya dia, nggak ada yang suka sama aku.”

 

Deny tertawa kecil. “Kamu sendiri yang aneh,” gumamnya.

 

“Apa!?”

 

“Nggak papa. Mau pergi ke mana lagi?”

 

“Cari makan. Laper.”

 

“Mau makan di mana?”

 

“Jamoo.”

 

“Oke.”

 

“Abis makan, kita ke salon.”

 

“Salon yang mana?”

 

“Tempat biasa,” jawab Refi sambil menyandarkan kepalanya ke kursi mobil.

 

Deny melajukan mobilnya sambil bersenandung santai. Di kepalanya, ia terus memikirkan cara untuk menakhlukkan Tuan Muda itu dan menikmati semua kekayaannya.

 

“Eh, biasanya ... cowok yang sukses itu gampang digoda dengan cewek cantik dan seksi. Itu si Tuan Muda kenapa nggak doyan cewek seksi? Dia normal ‘kan?” tanya Deny.

 

“Normal, Den. Kalo nggak normal, cewek itu nggak akan hamil!” sahut Refi kesal.

 

“Iya juga, sih. Cewek itu pintar juga. Dia punya trik yang bagus. Dia bisa langsung hamil. Otomatis, semua kekayaan pria itu akan diwariskan untuk anaknya. Beruntung banget tuh cewek.”

 

“Den ...! Bisa nggak kalo nggak muji-muji dia terus!” seru Refi. Hatinya makin panas mendengar ucapan Deny. “Heran, deh. Kenapa semua orang selalu melihat Yuna? Apa bagusnya dia. Mukanya pas-pasan, nggak tinggi, nggak pernah make-up, style-nya dia biasa aja.”

 

Deny tertawa kecil. “Dia memang kelihatan biasa aja. Tapi, harga sandalnya dia doang bisa belasan juta.”

 

“Kamu ...!?”

 

Deny tertawa kecil. “Aku sudah menyelidiki kehidupan mereka setiap harinya. Tuan Muda itu kaya raya, dia bisa aja menikmati liburan setiap hari, pergi ke salon kecantikan atau shopping. Tapi ... aku perhatikan pergerakan cewek itu nggak jauh. Cuma di dalam rumah atau ke apartemen ayahnya. Hidupnya sederhana banget.”

 

“Bukan sederhana, tapi kampungan!” sahut Refi kesal. “Zaman sekarang, mana ada sih orang yang betah berlama-lama di dalam rumah?”

 

Deny tertawa kecil. “Yang aku perhatikan ... dia memang nggak pernah pergi ke tempat-tempat yang sering didatangi wanita sosialita.”

 

“Kamu udah hafal jadwal dia? Perhatian banget!” celetuk Refi.

 

“Kamu yang nyuruh aku untuk mantau dia. Jelas aku mendapatkan banyak hal. Termasuk ... dia jauh lebih baik dari kamu,” tutur Deny sambil tersenyum ke arah Refi.

 

Refi menatap kesal ke arah Deny yang sudah memarkirkan mobilnya. Ia tak banyak berkata lagi. Bergegas keluar dari mobil dan melangkah masuk ke restoran untuk menikmati makan siangnya yang sudah terlambat sejak beberapa menit lalu.

 

 

 ((Bersambung ...))

Thanks udah dukung cerita ini terus.

Sapa terus di kolom komentar biar author makin semangat ngais ide setiap hari.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas