Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 403 : Lemesin Aku, Cha!

 


“Cha ...!” panggil Lutfi.

 

“Apa?” tanya Icha sambil membaca majalah di tangannya.

 

“Icha ... Icha ... Icha ...!” panggil Lutfi lagi.

 

Icha memejamkan mata sambil menghela napas. “Kenapa sih, Lut?” tanyanya sambil menoleh ke arah Lutfi.

 

“Kalo dipanggil, bisa nggak noleh ke aku?” tanya Lutfi gemas sambil menekan rahang Icha.

 

“Aku kan udah nyahut. Lagi serius baca artikel,” jawab Icha.

 

“Artikel apaan sih?” tanya Lutfi sambil menarik majalah dari tangan Icha. Lutfi menatap majalah yang ada di tangannya. Ia menghela napas dan duduk di sebelah Icha. “Kamu masih mikirin dia?”

 

Icha menganggukkan kepala.

 

“Apa kamu nggak bisa kalo mikirin aku aja?” tanya Lutfi.

 

“Nggak bisa. Aku kepikiran terus,” jawab Icha sambil merebut majalahnya kembali dari tangan Lutfi.

 

“Cha, dia aja nggak mikirin kamu. Udah jahat sama kamu. Masih aja mau baik sama orang itu.”

 

“Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau nggak mau terus-terusan ada dendam dalam keluarga kamu?”

 

“Kamu nggak ada hubungannya sama keluargaku, juga keluarga dia. Ngapain sih ikut mikirin!?” sahut Lutfi kesal.

 

“Aku nggak tahu gimana menghadapi dia. Sampai sekarang aku belum berani ngomong apa-apa ke Abah.”

 

“Kapan kamu siap?” tanya Lutfi.

 

“Eh!? Siap apa?” tanya Icha balik.

 

“Siap aku kawinin,” jawab Lutfi sambil menahan tawa.

 

Icha langsung mencubit pinggang Lutfi.

 

“Aw ...! Bercanda, Cha. Kapan kita ke rumah abah kamu?” tanya Lutfi.

 

“Kapan ya? Aku nggak ada uang buat beli tiket pulang,” jawab Icha sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.

 

“Kamu jangan kayak orang susah gitu dong! Apa gunanya punya pacar banyak duit kayak aku?”

 

“Sombong ...!” dengus Icha.

 

Lutfi tergelak. “Kamu beneran nggak mau manfaatin aku? Aku pasrah nih,” tutur Lutfi sambil menelentangkan badannya ke sofa.

 

Icha menahan tawa melihat tingkah Lutfi. “Kok pasrahnya kayak gitu? Kayak mau diapain aja,” tutur Icha sambil menarik lengan Lutfi agar bangkit dari sofa.

 

“Cha, aku pasrah banget. Mau kamu apain aja, aku pasrah,” tutur Lutfi sambil melemaskan seluruh tubuhnya.

 

“Iih ... nggak usah pura-pura lemes gitu!” pinta Icha.

 

“Jadi, kamu maunya aku beneran lemes?” tanya Lutfi.

 

Icha mengerutkan dahinya menatap Lutfi.

 

“Lemesin aku, Cha!” rengek Lutfi sambil menjatuhkan dagunya ke pundak Icha.

 

“Idih, apa-apaan sih!?” sahut Icha sambil mendorong tubuh Lutfi menjauh darinya.

 

“Ck, kamu perhitungan banget sama pacar sendiri,” celetuk Lutfi.

 

“Kamu jangan kayak gini juga, aku geli,” tutur Icha.

 

Lutfi tersenyum sambil menatap wajah Icha. “Geli atau nafsu?” gida Lutfi.

 

“Tuh kan? Mulai bercanda kayak gini. Nggak lucu!” dengus Icha.

 

“Aku nggak bercanda. Aku serius, Cha.”

 

“Serius apaan? Kamu terlalu banyak main-main!” sahut Icha sambil bangkit dari sofa.

 

Lutfi langsung menarik lengan Icha dan menjatuhkan tubuh gadis itu ke atas dadanya.

 

Icha tak bisa menyeimbangkan tubuhnya untuk tetap bertahan. Kekuatan tangan Lutfi membuatnya tak berdaya hingga membuat hidungnya jatuh tepat di bibir Lutfi.

 

Lutfi tersenyum sambil menciumi wajah Icha dan memeluknya sangat erat.

 

“Lepasin, Lut ...!” pinta Icha.

 

“Lima menit aja,” pinta Lutfi balik.

 

Icha menghela napas sejenak. “Aku harus besuk Mama Ratna ke rumah sakit.”

 

Lutfi melihat arloji yang ada di tangannya. “Baru jam tujuh, Cha.”

 

“Terus?”

 

Lutfi terkekeh. “Masih sore, Cha. Masih sempat bercinta dulu.”

 

“Kamu ini otaknya terbuat dari apa?” tanya Icha. “Kalo ngomong suka ngasal.”

 

“Dari kamu,” jawab Lutfi sambil tersenyum.

 

“Hah!?”

 

“Kamu nggak tahu kalau otakku isinya kamu semua?”

 

“Gombal!” sahut Icha sambil tersenyum.

 

“Cewek emang suka digombalin kan?” goda Lutfi.

 

Icha langsung memukul dada Lutfi dan bangkit dari sofa. “Serius, Lut. Aku mau jenguk Mama Ratna.”

 

“Iya, iya. Aku antar.” Lutfi ikut bangkit dari sofa. Ia bergegas bersiap untuk mengantar Icha mengunjungi Ratna di rumah sakit.

 

 

 

...

 

 

 

“Bi, Yeriko mana?”

 

“Nggak ada di kamar?” tanya Bibi War balik.

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Mungkin di ruang kerjanya.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. Ia bergegas membuat susu jahe dan membawanya ke ruang kerja Yeriko.

 

“Malam ...!” sapa Yuna begitu ia masuk ke ruang kerja Yeriko.

 

“Malam,” sahut Yeriko tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.

 

Yuna tersenyum sambil menyuguhkan segelas susu ke hadapan Yeriko.

 

Yuna masih terus menatap Yeriko yang masih sibuk dengan pekerjaannya. “Masih banyak kerjaan?”

 

Yeriko mengangguk.

 

Yuna menghela napas. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju sofa. Menunggu Yeriko menyelesaikan pekerjaannya.

 

 

 

Tiga puluh menit berlalu ...

 

Yeriko masih berkutat dengan pekerjaannya.

 

“Kenapa aku dicuekin sih?” gumam Yuna dalam hatinya. Ia melipat kedua tangan sambil memainkan kakinya.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil memerhatikan gerak-gerik Yuna dari balik layar laptopnya.

 

Yuna bangkit dari tempat duduk, berjalan mondar-mandir di depan meja kerja Yeriko.

 

“Yun, kalo kamu mondar-mandir kayak gitu terus, aku nggak konsen kerja,” tegur Yeriko.

 

Yuna mengerutkan wajahnya. Ia menghentakkan kaki dengan kesal dan berlalu pergi meninggalkan ruang kerja Yeriko.

 

Yeriko menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Yuna. Ia segera melanjutkan pekerjaannya.

 

Yuna melangkahkan kakinya menuju balkon. Ia duduk di atas karpet bulu sambil memeluk boneka beruang yang ada di sana.

 

“Gimana aku ngomong ke Yeriko soal ulang tahun Andre? Dia cuek banget gitu,” gumam Yuna.

 

Yuna mengelus perutnya yang mulai membuncit. “Nak, kenapa sih ayah kamu makin hari makin nyebelin? Dia lebih mentingin kerjaan daripada kita. Udah jam segini, masih aja kerja di rumah. Emangnya kerja seharian di kantor masih nggak nggak cukup? Udah punya dua sekretaris, satu asisten pribadi. Masih aja sibuk terus sama kerjaan. Apa perlu nambah asisten lagi?” cerocos Yuna.

 

“Udah terlanjur beliin hadiah buat Andre, sekalinya malah nggak jadi ke sana.”

 

“Gimana kalo Andre beneran mikir, aku bakal ngelupain pertemanan kita? Aku berasa kayak orang yang nggak tahu diri,” gumam Yuna.

 

“Andre tuh serius tau bercanda sih ngomong kayak gitu?” tanya Yuna pada angin lalu.

 

“Oh, God! Gimana ngomongnya sama suamiku? Gimana kalo Yeriko makin cemburu? Ngelarang aku ke acara ulang tahun Andre dan ngurung aku terus di dalam rumah? Duh, gimana ngerayu dia? Kalo berhubungan sama Andre, pasti sensitif banget.”

 

“Andre ... oh, Andre! Kenapa kamu harus suka sama aku? Apa nggak bisa hubungan pertemanan kita itu biasa aja? Kayak aku berteman sama Pak Heru, Pak Bagio dan semua orang-orang yang ada di tempat kerjaku dulu. Kalo sama yang lain, Yeriko nggak pernah cemburu.”

 

“Mmh ... gimana mau cemburu? Semuanya udah berumur. Nggak mungkin dia cemburu sama laki-laki yang standar ketampanan dan kekayaannya jauh di bawah dia. Tapi si Andre ... Dia juga ganteng dan kaya. Makanya, Yeriko sensitif banget ke dia.”

 

“Ndre, kenapa kamu nggak nikah aja sih? Biar nggak bikin suamiku jealous terus!”

 

Yuna sibuk berbicara dengan dirinya sendiri. Kali ini, ia sangat bimbang karena tidak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Yeriko.

 

“Nak, bisa nggak sih kamu bilang ke ayah kamu? Ayah, kita pergi ke ulang tahun Oom Andre yuk! Oom Andre baik hati, tampan dan tidak sombong,” tutur Yuna sambil mengelus perutnya sendiri.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia berdiri beberapa meter dari balkon dan mendengar semua yang diucapkan Yuna. Ia sudah tahu sejak awal dan menunggu Yuna mengatakan secara langsung kepada dirinya. Ia hanya perlu menunggu, bagaimana istrinya bisa mencurahkan semua isi hati dan keinginannya secara terbuka di hadapannya.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.

Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas