“Cha ...!” panggil
Lutfi.
“Apa?” tanya Icha
sambil membaca majalah di tangannya.
“Icha ... Icha ...
Icha ...!” panggil Lutfi lagi.
Icha memejamkan
mata sambil menghela napas. “Kenapa sih, Lut?” tanyanya sambil menoleh ke arah
Lutfi.
“Kalo dipanggil,
bisa nggak noleh ke aku?” tanya Lutfi gemas sambil menekan rahang Icha.
“Aku kan udah
nyahut. Lagi serius baca artikel,” jawab Icha.
“Artikel apaan
sih?” tanya Lutfi sambil menarik majalah dari tangan Icha. Lutfi menatap
majalah yang ada di tangannya. Ia menghela napas dan duduk di sebelah Icha.
“Kamu masih mikirin dia?”
Icha menganggukkan
kepala.
“Apa kamu nggak
bisa kalo mikirin aku aja?” tanya Lutfi.
“Nggak bisa. Aku
kepikiran terus,” jawab Icha sambil merebut majalahnya kembali dari tangan
Lutfi.
“Cha, dia aja
nggak mikirin kamu. Udah jahat sama kamu. Masih aja mau baik sama orang itu.”
“Bukannya kamu
sendiri yang bilang kalau nggak mau terus-terusan ada dendam dalam keluarga
kamu?”
“Kamu nggak ada
hubungannya sama keluargaku, juga keluarga dia. Ngapain sih ikut mikirin!?”
sahut Lutfi kesal.
“Aku nggak tahu
gimana menghadapi dia. Sampai sekarang aku belum berani ngomong apa-apa ke
Abah.”
“Kapan kamu siap?”
tanya Lutfi.
“Eh!? Siap apa?”
tanya Icha balik.
“Siap aku
kawinin,” jawab Lutfi sambil menahan tawa.
Icha langsung
mencubit pinggang Lutfi.
“Aw ...! Bercanda,
Cha. Kapan kita ke rumah abah kamu?” tanya Lutfi.
“Kapan ya? Aku
nggak ada uang buat beli tiket pulang,” jawab Icha sambil menyandarkan
punggungnya ke sofa.
“Kamu jangan kayak
orang susah gitu dong! Apa gunanya punya pacar banyak duit kayak aku?”
“Sombong ...!”
dengus Icha.
Lutfi tergelak.
“Kamu beneran nggak mau manfaatin aku? Aku pasrah nih,” tutur Lutfi sambil
menelentangkan badannya ke sofa.
Icha menahan tawa
melihat tingkah Lutfi. “Kok pasrahnya kayak gitu? Kayak mau diapain aja,” tutur
Icha sambil menarik lengan Lutfi agar bangkit dari sofa.
“Cha, aku pasrah
banget. Mau kamu apain aja, aku pasrah,” tutur Lutfi sambil melemaskan seluruh
tubuhnya.
“Iih ... nggak
usah pura-pura lemes gitu!” pinta Icha.
“Jadi, kamu maunya
aku beneran lemes?” tanya Lutfi.
Icha mengerutkan
dahinya menatap Lutfi.
“Lemesin aku,
Cha!” rengek Lutfi sambil menjatuhkan dagunya ke pundak Icha.
“Idih, apa-apaan
sih!?” sahut Icha sambil mendorong tubuh Lutfi menjauh darinya.
“Ck, kamu
perhitungan banget sama pacar sendiri,” celetuk Lutfi.
“Kamu jangan kayak
gini juga, aku geli,” tutur Icha.
Lutfi tersenyum
sambil menatap wajah Icha. “Geli atau nafsu?” gida Lutfi.
“Tuh kan? Mulai
bercanda kayak gini. Nggak lucu!” dengus Icha.
“Aku nggak
bercanda. Aku serius, Cha.”
“Serius apaan?
Kamu terlalu banyak main-main!” sahut Icha sambil bangkit dari sofa.
Lutfi langsung
menarik lengan Icha dan menjatuhkan tubuh gadis itu ke atas dadanya.
Icha tak bisa
menyeimbangkan tubuhnya untuk tetap bertahan. Kekuatan tangan Lutfi membuatnya
tak berdaya hingga membuat hidungnya jatuh tepat di bibir Lutfi.
Lutfi tersenyum
sambil menciumi wajah Icha dan memeluknya sangat erat.
“Lepasin, Lut
...!” pinta Icha.
“Lima menit aja,”
pinta Lutfi balik.
Icha menghela
napas sejenak. “Aku harus besuk Mama Ratna ke rumah sakit.”
Lutfi melihat
arloji yang ada di tangannya. “Baru jam tujuh, Cha.”
“Terus?”
Lutfi terkekeh.
“Masih sore, Cha. Masih sempat bercinta dulu.”
“Kamu ini otaknya
terbuat dari apa?” tanya Icha. “Kalo ngomong suka ngasal.”
“Dari kamu,” jawab
Lutfi sambil tersenyum.
“Hah!?”
“Kamu nggak tahu
kalau otakku isinya kamu semua?”
“Gombal!” sahut
Icha sambil tersenyum.
“Cewek emang suka
digombalin kan?” goda Lutfi.
Icha langsung
memukul dada Lutfi dan bangkit dari sofa. “Serius, Lut. Aku mau jenguk Mama
Ratna.”
“Iya, iya. Aku
antar.” Lutfi ikut bangkit dari sofa. Ia bergegas bersiap untuk mengantar Icha
mengunjungi Ratna di rumah sakit.
...
“Bi, Yeriko mana?”
“Nggak ada di
kamar?” tanya Bibi War balik.
Yuna menggelengkan
kepala.
“Mungkin di ruang
kerjanya.”
Yuna
mengangguk-anggukkan kepala. Ia bergegas membuat susu jahe dan membawanya ke
ruang kerja Yeriko.
“Malam ...!” sapa
Yuna begitu ia masuk ke ruang kerja Yeriko.
“Malam,” sahut
Yeriko tanpa mengalihkan pandangan dari laptop.
Yuna tersenyum
sambil menyuguhkan segelas susu ke hadapan Yeriko.
Yuna masih terus
menatap Yeriko yang masih sibuk dengan pekerjaannya. “Masih banyak kerjaan?”
Yeriko mengangguk.
Yuna menghela
napas. Ia melangkahkan kakinya perlahan menuju sofa. Menunggu Yeriko
menyelesaikan pekerjaannya.
Tiga puluh menit
berlalu ...
Yeriko masih
berkutat dengan pekerjaannya.
“Kenapa aku
dicuekin sih?” gumam Yuna dalam hatinya. Ia melipat kedua tangan sambil
memainkan kakinya.
Yeriko tersenyum
kecil sambil memerhatikan gerak-gerik Yuna dari balik layar laptopnya.
Yuna bangkit dari
tempat duduk, berjalan mondar-mandir di depan meja kerja Yeriko.
“Yun, kalo kamu
mondar-mandir kayak gitu terus, aku nggak konsen kerja,” tegur Yeriko.
Yuna mengerutkan
wajahnya. Ia menghentakkan kaki dengan kesal dan berlalu pergi meninggalkan
ruang kerja Yeriko.
Yeriko
menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Yuna. Ia segera melanjutkan
pekerjaannya.
Yuna melangkahkan
kakinya menuju balkon. Ia duduk di atas karpet bulu sambil memeluk boneka
beruang yang ada di sana.
“Gimana aku
ngomong ke Yeriko soal ulang tahun Andre? Dia cuek banget gitu,” gumam Yuna.
Yuna mengelus
perutnya yang mulai membuncit. “Nak, kenapa sih ayah kamu makin hari makin
nyebelin? Dia lebih mentingin kerjaan daripada kita. Udah jam segini, masih aja
kerja di rumah. Emangnya kerja seharian di kantor masih nggak nggak cukup? Udah
punya dua sekretaris, satu asisten pribadi. Masih aja sibuk terus sama kerjaan.
Apa perlu nambah asisten lagi?” cerocos Yuna.
“Udah terlanjur
beliin hadiah buat Andre, sekalinya malah nggak jadi ke sana.”
“Gimana kalo Andre
beneran mikir, aku bakal ngelupain pertemanan kita? Aku berasa kayak orang yang
nggak tahu diri,” gumam Yuna.
“Andre tuh serius
tau bercanda sih ngomong kayak gitu?” tanya Yuna pada angin lalu.
“Oh, God! Gimana
ngomongnya sama suamiku? Gimana kalo Yeriko makin cemburu? Ngelarang aku ke
acara ulang tahun Andre dan ngurung aku terus di dalam rumah? Duh, gimana
ngerayu dia? Kalo berhubungan sama Andre, pasti sensitif banget.”
“Andre ... oh,
Andre! Kenapa kamu harus suka sama aku? Apa nggak bisa hubungan pertemanan kita
itu biasa aja? Kayak aku berteman sama Pak Heru, Pak Bagio dan semua
orang-orang yang ada di tempat kerjaku dulu. Kalo sama yang lain, Yeriko nggak
pernah cemburu.”
“Mmh ... gimana
mau cemburu? Semuanya udah berumur. Nggak mungkin dia cemburu sama laki-laki
yang standar ketampanan dan kekayaannya jauh di bawah dia.
Tapi si Andre ... Dia juga ganteng dan kaya. Makanya, Yeriko sensitif banget ke
dia.”
“Ndre, kenapa kamu
nggak nikah aja sih? Biar nggak bikin suamiku jealous terus!”
Yuna sibuk
berbicara dengan dirinya sendiri. Kali ini, ia sangat bimbang karena tidak
memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Yeriko.
“Nak, bisa nggak
sih kamu bilang ke ayah kamu? Ayah, kita pergi ke ulang tahun Oom Andre yuk!
Oom Andre baik hati, tampan dan tidak sombong,” tutur Yuna sambil mengelus
perutnya sendiri.
Yeriko tersenyum
kecil. Ia berdiri beberapa meter dari balkon dan mendengar semua yang diucapkan
Yuna. Ia sudah tahu sejak awal dan menunggu Yuna mengatakan secara langsung
kepada dirinya. Ia hanya perlu menunggu, bagaimana istrinya bisa mencurahkan
semua isi hati dan keinginannya secara terbuka di hadapannya.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.
Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment