- De Mandailing Cafe & Eatery –
“Cha,
kamu beneran tinggal bareng sama Lutfi?” tanya Jheni sambil menyeruput Yoghurt
Mango yang ada di tangannya.
Icha
menganggukkan kepala.
“Aargh
...! So sweet banget!” seru Jheni.
“Kamu
mau juga tinggal sama Chandra?” tanya Yuna.
“Apaan
sih, Yun!?” dengus Jheni sambil menendang kaki Yuna.
Icha
tertawa kecil sambil menatap Jheni. “Jhen, bukannya kalian udah jadian duluan?
Hubungan kalian belum ada kemajuan?”
“Cha,
kamu kalo ngomong suka bener,” sahut Yuna sambil cekikikan.
Jheni
mengerutkan dahi menatap kedua sahabatnya. “Kalian tega banget. Bantuin kek
biar si Chandra ngelamar aku.”
“Eh,
serius kamu pengen dilamar? Aku bilang ke suamiku,” tutur Yuna.
“Jangan
...!” sergah Jheni.
“Kenapa?”
tanya Icha.
“Aku
belum siap nikah,” jawab Jheni. “Kalian tahu kalau aku nggak bisa ngurus rumah
dengan baik. Aku kejar deadline komik aku aja mau klenger. Aku belum siap punya
suami, punya anak, ngurus rumah ... aargh! Aku bisa gila!”
Yuna
dan Icha saling pandang.
“Aku
masih mau bebas. Nggak mau diatur sama suami,” lanjut Jheni.
“Bukannya
selama ini Chandra yang nurut banget sama kamu? Kamu yang ngatur dia.”
“Astaga
...! Aku tahu diri. Kalo udah jadi istrinya dia, pasti semuanya berubah. Aku
nggak mungkin bisa sebebas sekarang. Apalagi, mama tirinya dia jahat. Bisa
kurus mendadak aku. Aku harus bisa menaklukan hati mamanya dia dulu.”
“Serius?”
tanya Icha.
“Udah
punya nyali berhadapan sama mama tirinya Chandra?”
Jheni
menatap mata kedua sahabatnya bergantian. Ia terlihat sangat berani dan penuh
percaya diri. Hanya beberapa detik, ia menghela napas sambil menjatuhkan
kepalanya. “Aku nggak berani ... huaaa ...!”
Yuna
dan Icha menahan tawa. “Ya udahlah. Kamu terima aja hubungan kalian kayak gini
terus. Katanya, mau jalani aja dulu. Asalkan si Chandra betah dan nggak
ngelirik cewek lain.”
“Sialan
kamu!” dengus Jheni sambil menatap Yuna. “Kamu berharap kalau Chandra bakal
ngelirik cewek lain?”
“Iya.
Dia itu kan ganteng, duitnya banyak dan baik hati. Siapa sih yang nggak suka
sama cowok kayak gitu. Kasihan juga kalo dianggurin, Jhen. Gantengnya mubazir,”
tutur Yuna sambil menahan tawa.
“Eh,
dia punya pacar. Kamu nggak lihat kalo pacarnya di sini!?” seru Jheni sambil
mendelik ke arah Yuna.
Yuna
terkekeh melihat raut wajah Jheni.
“Kalian
ini senang banget menindas orang yang lagi susah!”
“Sama.
Kamu juga gitu. Hahaha,” sahut Yuna.
“Handphone
kamu bunyi, Yun.” Icha langsung menunjuk tas yang ada di samping Yuna.
Yuna
langsung merogoh tas dan menatap layar ponselnya. Ia menatap Icha dan Jheni
bergantian.
“Siapa?
Suami kamu?” tanya Jheni.
Yuna
menggelengkan kepala. “Andre,” jawabnya lirih.
Jheni
memutar bola matanya. “Dia masih aja nggak bisa move on dari kamu.”
“Sst
...!” Yuna meletakkan jari telunjuk di bibirnya dan menjawab panggilan telepon
dari Andre.
“Halo
...!” sapa Andre begitu Yuna menjawab panggilan telepon dari Andre.
“Halo,
Ndre! Ada apa?” tanya Yuna.
“Jangan
lupa besok ya!”
“Eh!?”
“Acara
ulang tahun aku, Yun.”
“Hehehe.
Aku nggak janji, Ndre. Aku usahain ya!”
“Kalau
kamu masih ingat sama temen, harusnya kamu bisa datang.”
“Kok
gitu sih ngomongnya?” sahut Yuna.
Andre
terdengar menghela napas. “Aku berharap kamu bisa datang. Mungkin, ini terakhir
kalinya kamu bisa ke acara ulang tahunku. Saat kamu udah punya anak. Kamu bakal
ngelupain hubungan pertemanan kita.”
“Ndre,
aku nggak pernah bilang begitu.”
“Kamu
nggak akan pernah bilang begitu. Tapi, mayoritas memang seperti itu. Sekalipun
orang berteman akrab. Saat sudah menikah, akan sibuk dengan kehidupan barunya
masing-masing. Mungkin, kita akan saling melupakan kalau kita pernah melakukan
banyak hal bersama-sama.”
Yuna
menarik napas sambil memejamkan matanya. Ia kesal dengan sikap Andre yang
seolah-olah menganggap dirinya seperti orang yang tidak tahu diri dan tidak
mengerti balas budi.
“Ndre,
kamu nggak perlu ngomong kayak gini supaya aku datang ke acara ulang tahun
kamu!” pinta Yuna.
“Kamu
marah, Yun?” tanya Andre.
“Kamu
pikir aja sendiri!” jawab Yuna sambil mematikan panggilan telepon dari Andre.
“Kenapa,
Yun?” tanya Jheni.
“Andre
nyuruh aku ke acara ulang tahunnya dia. Tapi, omongannya dia ngeselin banget.
Bikin aku nggak enak kalo nggak bisa datang.”
“Emang
dia ngomong apaan?”
“Dia
bilang kalau aku bakal ngelupain pertemanan aku sama dia. Nggak masuk akal
banget.”
Jheni
tertawa kecil. “Kayaknya, dia masih belum rela kehilangan kamu. Tuh!” Jheni
menunjuk ponsel Yuna dengan dagunya.
Yuna
menatap layar ponselnya yang memperlihatkan Andre yang sedang menelepon
dirinya.
“Jhen,
aku bingung harus gimana. Aku nggak mungkin pergi ke acara ulang tahun Andre
kalo Yeriko nggak izinin. Kamu tahu sendiri si Yeri gimana. Tanduk apinya bakal
keluar kalo aku deket sama Andre lagi.”
Jheni
terkekeh sambil menatap Yuna. “Emang paling enak jadi si Icha. Lutfi nggak
pernah overprotective kayak Yeriko.”
“Yee
... dia bar-bar juga kalo udah ketemu sama Juan. Masih mending suamiku, walau
cemburu, cemburunya elegan. Nggak pernah nonjok saingan seenaknya dia.”
“Terus
... maksud kamu, pacarku cemburunya nggak elegan?” dengus Icha.
“Lutfi
mana bisa elegan. Sama kursi taman aja masih elegan kursi taman,” tutur Jheni
sambil tertawa.
“Hush,
kalo dia denger kamu ngomong kayak gini. Bisa misuh-misuh dari sabang sampai
merauke,” sahut Yuna.
“Misuh-misuh
apaan?” tanya Icha.
“Marah-marah,
Cha. Angry!” sahut Yuna.
“Dia mah Angry Bird. Walau marah, tetep aja kelihatan
lucu,” tutur Jheni.
Icha
langsung tertawa.
“Udahlah,
jangan ngomongin Lutfi! Ntar dia bersin-bersin diomongin mulu,” pinta Yuna.
“Hahaha.
Pindah topik! Pindah topik!” pinta Jheni.
“Topik
anaknya Pak Jahal?” tanya Yuna.
“Pak
Jahal siapa?” tanya Icha.
“Hahaha.”
Jheni dan Yuna tertawa menanggapi pertanyaan Icha.
“Ihh
... serius!” seru Icha. “Aku beneran nggak paham candaan kalian.”
“Kamu
pernah baca komiknya Jheni?” tanya Yuna.
Icha
menggelengkan kepala.
“Baca,
gih! Biar tau,” tutur Jheni.
“Judulnya
apa? Bacanya di mana?” tanya Icha.
“Di
instagram dia ada. Kalau mau bukunya ya beli. Judulnya Pak Jahal,” jawab Yuna.
“Cerita
tentang apa? Ntar aku cari bukunya.”
“Nggak
mau aku ceritain. Supaya kamu beli bukunya. Hahaha,” jawab Jheni.
“Pelit
banget!” dengus Icha.
“Kamu
yang pelit kalo nggak mau beli bukuku. Lihat! Jariku sampe bengkak-bengkak,
tiap hari harus gambar dan nyari ide,” sahut Jheni.
“Mana
yang bengkak?” tanya Icha.
Yuna
menahan tawa. “Gambar pake stylus pen aja udah kayak gambar di zaman
megalitikum aja.”
“Emang
kamu tahu zaman megalitikum itu gimana?”
“Tahu.
Zaman batu,” jawab Yuna.
“Jangan-jangan,
kamu ini perempuan dari zaman batu. Soalnya, kamu kan kepala batu.”
Yuna
memonyongkan bibirnya. “Kamu yang kepala batu!”
“Sama-sama
kepala batu, nggak usah berantem!” sela Icha.
Yuna
dan Jheni langsung tertawa lebar.
“Eh,
kalian bantu aku cariin kado yang cocok buat Andre, dong!” pinta Yuna.
“Kamu
mau datang ke sana?”
“Aku
coba ngerayu Yeriko dulu. Hehehe.”
Jheni
tertawa kecil menatap Yuna. “Kalo Yeriko mah gampang klepek-klepek sama kamu.
Tinggal kasih layanan plus-plus, bakal nurutin permintaan kamu.”
“Sok
tahu kamu, Jhen!” dengus Yuna.
“Halah
... laki-laki emang gitu. Mana tahan sama godaan perempuan.”
“Idih,
suamiku nggak haus nafsu,” sergah Yuna.
“Hah!?
Serius? Berarti kamu jablay dong?”
“Iih
... nggak gitu juga.”
“Terus,
yang bener yang mana?” goda Jheni.
“Au
ah, gelap!”
“Hahaha.”
“Serius,
Jhen! Bercanda mulu,” pinta Yuna.
“Oke.
Oke. Kita serius. Kalo ngasih kado buat cowok. Bagusnya apa ya?” tanya Jheni
sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
“Sepatu,”
jawab Icha.
“Aku
nggak tahu nomor sepatunya Andre. Kalo nomor sepatu Yeriko, aku tahu.”
“Baju?”
tanya Icha lagi.
“Terlalu
biasa.”
“Dompet!?”
seru Jheni.
Mereka
bertiga saling pandang.
“Boleh
juga,” jawab Yuna.
“Aha,
biar dia makin nggak bisa move on dari kamu setiap kali buka dompetnya,” tutur
Jheni.
“Nggak
segitunya juga kali, Jhen. Aku sama Andre cuma sahabat. Alangkah baiknya kalau
kita tidak saling melupakan.”
“Preet
... nggak ada persahabatan murni antara perempuan dan laki-laki. Cuma modus
doang!” sahut Jheni.
“Iih
... aku nggak gitu. Aku nggak suka ke Andre.”
“Tapi
Andre suka kamu ‘kan?” goda Jheni sambil menunjuk hidung Yuna.
“Udah,
deh. Nggak usah ngolokin terus!” pinta Yuna sambil menepis tangan Jheni dari
hadapannya. “Temenin aku cari kado, yuk!” ajak Yuna sambil bangkit dari tempat
duduk.
“Eh,
ini semua siapa yang bayar?” tanya Jheni.
“Kamu,
Jhen,” jawab Yuna.
“Astaga!
Kamu udah jadi nyonya kaya raya. Masih pelit aja!”
“Kamu
baru dapet royalti penjualan komik kamu ‘kan?”
“Tahu
dari mana?” tanya Jheni.
“Ada,
deh,” jawab Yuna sambil melangkah keluar dari kafe tersebut.
“Aku
susul Yuna ya!” pamit Icha sambil bangkit dari tempat duduknya. “Makasih ya
traktirannya!” bisiknya sambil menepuk-nepuk bahu Jheni dan berlari menghampiri
Yuna.
“Yuna
...!” seru Jheni geram. “Tukang ngintip privasi orang!” dengusnya. Ia menghela
napas, kemudian melangkah menuju kasir untuk membayar pesanan dessert dan
minuman yang sudah mereka habiskan.
Jheni
bergegas menyusul Icha dan Yuna. Mereka bertiga menikmati waktu bersama,
berkeliling mencari hadiah sambil bercanda ria.
((Bersambung ...))
Dukung terus cerita ini supaya author makin semangat menulis setiap hari.
Jangan lupa sapa author di kolom komentar ya!
Much Love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment