“Kakak Ipar, gimana kalau kamu lomba gigit koin dalam beras
juga?” tanya Satria sambil menghampiri Yuna.
Yuna menggelengkan kepala.
“Nggak sportif nih,” protes Satria.
“Aku kan sponsor, mana boleh ikutan lomba.” Yuna berkelit.
Satria membelalakkan matanya. “Sponsor apaan? Yeriko aja
ikutan lomba.”
Yuna tertawa kecil sambil menyembunyikan wajahnya di ketiak
Yeriko. “Aku nggak mau ikutan lomba, tolongin aku!” rengeknya.
“Curang ...!” seru Satria.
“Sat, kamu nggak bisa ngalah sama perempuan?”
“Nggak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam
duniaku. Semua harus diperlakukan sama.”
“Kamu pikir, istriku ini anak didik militermu!?” sentak
Yeriko sambil menendang kaki Satria.
“Astaga ...!” Satria mengelus-elus kakinya.
“Nggak usah macem-macem!” pinta Yeriko santai. “Aku mau
ajak dia jalan-jalan. Kalian mau ikut atau nggak?”
“Jalan ke mana?” tanya Satria.
“Keliling kota aja. Di mana tempat yang paling ramai malam
ini, Sat?” tanya Yeriko.
“Aku di kodam malam ini. Ke kodam aja!”
“Mana undangannya?” tanya Yeriko.
“Waduh, aku bukan panitia acara. Cuma jaga, Yer. Kayaknya,
nggak pake undangan. Masuk aja! Nanti aku jaga di pintu masuk.”
“Konser artis, Sat?”
“Iya.”
Yeriko menggelengkan kepala. “Mending kelonan daripada
desak-desakan di lapangan.”
“Seru, tahu!” sahut Yuna.
“Kamu lagi hamil, nggak usah pengen macem-macem!” pinta
Yeriko.
Yuna mengunci bibirnya. Ia hanya bisa menuruti suaminya
saja.
“Kita jalan-jalan keliling kota aja. Lihat tempat ramai
dari mobil. Nggak perlu turun dan membahayakan kandungan kamu.”
Yuna menganggukkan kepala. Akhir-akhir ini, suaminya
semakin protective. Ia juga tak bisa membantah karena ia juga ingin melindungi
janin yang ada dalam perutnya. Ia lebih menuruti keinginan Yeriko. Menghabiskan
waktu menikmati keramaian kota hanya dari dalam mobil.
...
Dua hari kemudian ...
“Yun, hasil tes DNA udah keluar. Kamu mau temenin aku
ambil?” tanya Yeriko.
“Hah!? Serius!? Ikut ...!” seru Yuna sambil bangkit dari
sofa. “Aku mandi dulu!”
“Cepet ya!”
Yuna menganggukkan kepala. Ia bergegas mandi dan mengganti
pakaiannya.
Yeriko menatap Yuna yang mengenakan dress warna tosca
dengan gambar bunga baby breath di beberapa sudutnya.
“Udah siap?” tanya Yeriko sambil menatap kaki Yuna untuk
memastikan kalau istrinya tidak mengenakan high heels.
“Kenapa? Bajuku jelek?” tanya Yuna sambil memerhatikan
tubuhnya sendiri.
Yeriko menggelengkan kepala. “Cantik.”
Yuna tersenyum. Ia merangkul lengan Yeriko dan bergegas
keluar dari kamarnya.
“Ay ...!” panggil Yuna saat ia sudah berada di dalam mobil.
“Umh.” Yeriko mulai menjalankan mobilnya.
“Mobil Porsche punya Andre mau diapain?”
“Nggak diapa-apain.”
“Gimana kalau dikembaliin aja?” tanya Yuna.
“Kenapa?” tanya Yeriko balik.
Yuna menghela napas. “Kasihan juga si Andre. Mobil itu juga
nggak kita pakai.”
“Duitnya dia banyak. Buat apa kasihan?”
Yuna terdiam.
Yeriko tersenyum sinis. Ia bergegas melajukan mobilnya
menuju ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Yeriko langsung menemui dokter
yang telah membuat janji dengannya beberapa jam lalu.
“Sore, Dok!” sapa Yeriko.
“Mas Yeri? Kebetulan sudah datang. Saya harus segera
pergi.” Dokter tersebut terlihat terburu-buru. “Ini hasil tes DNA yang Mas Yeri
minta.”
“Terima kasih, Dokter!” ucap Yeriko sambil menerima dokumen
yang diberikan oleh dokter tersebut.
Dokter tersebut mengangguk. Ia membereskan meja kerjanya
dengan buru-buru.
“Dokter, kami langsung pergi. Terima kasih atas
kerjasamanya ...!”
Dokter tersebut menganggukkan kepala.
Yeriko dan Yuna bergegas pergi meninggalkan dokter
tersebut.
“Gimana hasilnya? Aku penasaran,” tutur Yuna sambil
melangkah bersama Yeriko menyusuri koridor rumah sakit.
“Aku juga penasaran,” sahut Yeriko sambil menatap map yang
ada di tangannya.
“Gimana kalo kita buka dulu?” tanya Yuna penasaran.
PLUK ...!
Map yang ada di tangan Yeriko langsung mendarat di kepala
Yuna. “Nggak boleh ngintip rahasia orang lain!” dengusnya.
Yuna memonyongkan bibir sambil merapikan rambutnya. “Yah,
siapa tahu bisa. Lihat duluan, biar nggak penasaran.
Yeriko tertawa kecil. “Biar nggak penasaran, kita temui
Lutfi sekarang.”
“Oke Bos!” Yuna menautkan ujung jari telunjuk dengan ibu
jarinya. Ia bergegas melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Lutfi.
Yuna langsung membuka pintu tanpa mengetuk. “Selamat sor—”
Ucapannya terhenti saat Icha sedang membantu Lutfi memakai kaosnya. Ia langsung
menutup wajah dengan telapak tangannya. “Aku nggak lihat apa-apa, kok.” Ia
menahan tawa sambil mengintip lewat sela-sela jarinya.
“Kami nggak ngapa-ngapain,” sahut Lutfi sambil menatap
Yuna.
Icha tersenyum canggung. “Aku Cuma bantu Lutfi pakai kaos
doang.”
Yuna tertawa kecil. “Kenapa kalian harus jelasin ke aku
kalau emang nggak ngapa-ngapain?”
Icha dan Lutfi saling pandang.
“Kami punya hadiah buat kalian ...!” seru Yuna ceria sambil
menunjukkan map yang dibawa Yeriko.
“Hasil tes DNA udah keluar,” tutur Yeriko sambil
melemparkan amplop map ke pangkuan Lutfi.
“Cepet buka! Aku penasaran,” seru Yuna.
Lutfi menatap amplop di pangkuannya. Ia memegang amplop
tersebut perlahan dengan tangan gemetar.
Yuna dan Yeriko ikut cemas melihat sikap Lutfi.
Icha tersenyum kecil. Ia sudah melatih hatinya untuk
menerima Lutfi sebagai kakaknya. Ia tidak ingin merasa sakit lagi karena
terlalu berharap kalau Lutfi akan menjadi satu-satunya pria yang akan mencintai
seumur hidupnya.
Lutfi menatap wajah Icha. Ia merasa ada badai yang
tiba-tiba menyerang matanya. Sekuat mungkin, ia menahan matanya agar tetap
kering.
Yuna langsung meraih tangan Yeriko dan menggenggam sangat
erat. Ada hal sulit yang harus dihadapi oleh Icha saat dokumen itu dibuka. Jika
mereka benar kakak-beradik, Yuna sendiri tak bisa membayangkan apa yang akan
terjadi pada keduanya di masa depan. Ia tak yakin kalau Lutfi benar-benar bisa
menerima kenyataan pahit ini.
Icha tersenyum menatap Lutfi yang masih enggan membuka
dokumen tersebut. “Apa pun hasilnya, aku akan terima dengan lapang dada.”
“Kamu yakin?” tanya Lutfi.
Icha menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Berdoa dulu, Lut!” pinta Yuna, ikut cemas melihat
hasilnya.
Lutfi mengangguk, ia memejamkan matanya sambil berdoa.
“Semoga ... aku dan Icha nggak punya hubungan darah,” batinnya.
Lutfi membuka mata, ia merobek map amplop tersebut secara
perlahan. Ia mengeluarkan kertas di dalamnya secara perlahan. Kemudian,
meletakkan kembali dokumen itu ke atas tempat tidur. “Aku takut, Yer!” serunya.
“Takut kenapa?” tanya Yuna.
Lutfi menarik napas panjang, kemudian mengeluarkan
perlahan. Ia melakukannya beberapa kali.
“Lut, cepetan ...! Jangan bikin aku makin jantungan!” pinta
Yuna.
“Bentar,” jawab Lutfi sambil menelungkupkan tubuhnya di
atas ranjang dan melakukan push up beberapa kali.
Yuna makin tak sabar dengan sikap Lutfi. Perasaannya
semakin was-was.
Lutfi menarik napas dan langsung membuka dokumen yang ada
di hadapannya. Ia membacanya seorang diri.
Wajah Lutfi berubah masam seketika setelah membaca dokumen
tersebut. Ia memeluk dokumen itu ke dadanya dan meringkuk di atas ranjang.
“Lut ...!” panggil Yuna lirih.
Lutfi menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia tak mau
melihat tiga orang yang bersamanya melihat raut wajahnya yang buruk.
“Lut, apa pun itu ... aku terima kok. Aku bakal tetep
sayang sama kamu sebagai kakak,” tutur Icha lirih. Ia merasa sangat sakit
melihat Lutfi yang begitu menderita karena harus menerima kenyataan pahit
hubungannya kali ini.
“Lut ...!” panggil Icha lirih sambil menyentuh lembut
pundak Lutfi.
Lutfi langsung menyingkirkan tangan Icha. “Nggak usah hibur
aku. Aku nggak perlu hiburan saat ini!” tutur Lutfi sambil menutup seluruh
tubuhnya dengan selimut.
Yuna, Icha dan Yeriko saling pandang. Mereka tidak tahu
bagaimana caranya membujuk Lutfi agar tidak perlu bersedih lagi.
Melihat Lutfi terpuruk seperti ini, Icha merasa jauh lebih
sakit daripada menerima kenyataan kalau pria yang ia cintai adalah kakaknya
sendiri.

0 komentar:
Post a Comment