“Nyonya muda, ini pesanan Nyonya.” Riyan langsung
menghampiri Yuna sambil membawa tiga buah nampan, beras dan uang koin yang
diminta oleh Yuna.
Yuna langsung bangkit dari tempat duduk. Ia menghampiri
seorang pria pemilik tempat latihan tersebut dan membisikkan sesuatu di
telinganya.
Pria itu mengangguk sambil mengacungkan jempol.
“Makasih ...!” Yuna berbalik menghampiri Riyan.
“Yan, bantu aku ya!” pinta Yuna.
Riyan menganggukkan kepala.
“Berasnya, dibagi ke tiga nampan ini!” perintah Yuna sambil
menyodorkan nampan berbentuk bundar ke hadapan Riyan.
Riyan meletakkan nampan tersebut di atas meja.
“Yun, kamu mau bikin apa?” tanya Jheni.
“Bikin lomba tujuh belasan,” jawab Yuna santai sambil
menghitung uang koin yang ada di tangannya.
“Mau lomba makan beras? Kamu ini, jangan aneh-aneh deh!”
Yuna tertawa kecil. “Ini ... baru lomba yang bakal seru
untuk tiga tuan muda yang manja itu. Sayangnya, Lutfi masih sakit. Kalo ada
dia, pasti lebih seru lagi.”
Jheni tertawa kecil. Ia memerhatikan Yuna yang memasukkan
koin ke dalam beras yang ada di nampan tersebut.
“Perlombaan sudah siap!” seru Yuna sambil menunjukkan meja
yang ada di sebelahnya.
Yeriko dan dua sahabatnya langsung menoleh ke arah Yuna.
“Lomba apaan?” tanya Satria sambil menatap tiga nampan
berisi beras yang ada di atas meja. “Mau nyuruh kami lomba makan beras?”
Yuna menganggukkan kepala. “Nggak makan beras. Lebih
tepatnya, lomba nyari koin di dalam beras ini,” jawab Yuna sambil tersenyum.
Ketiga pria itu saling pandang selama beberapa saat.
“Kenapa? Nggak berani?” tanya Yuna.
“Yer, otaknya istrimu ini terbuat dari apa?” bisik Satria.
Yeriko mengedarkan pandangannya, kemudian melihat wajah
Yuna. “Sat, di sini nggak rame, kok. Ikuti aja maunya istriku!” pinta Yeriko
berbisik.
“Kamu ...!?” Satria mendelik ke arah Yeriko. Ia menoleh ke
arah Chandra yang terlihat sangat tenang.
“Chan ...! Kamu mau kayak gini?” bisik Satria.
“Kamu bisa ngelawan kemauan Yeriko?” balas Chandra
berbisik.
Satria menahan geram.
“Kenapa? Takut sama beras?” tantang Jheni sambil menatap
Satria.
“Siapa yang takut?” sahut Satria.
Jheni memberi isyarat dengan kepalanya agar tiga pria itu
segera berdiri di depan meja.
Ketiga pria itu berdiri di depan meja. Jheni langsung
mengikat tangan mereka di belakang badan.
“Kenapa diikat?” tanya Satria.
“Nggak boleh pake tangan,” jawab Jheni.
“Terus? Pake apa?” tanya Satria.
“Pake mulut,” jawab Yuna.
“APA!?” seru Satria.
Yuna dan Jheni menahan tawa. Mereka berdiri di seberang
ketiga pria tersebut untuk menjaga mereka.
“Jhen, mau ditaruh mana muka gantengku ini!?” seru Satria.
“Taruh aja di situ!” sahut Jheni.
“Awas kamu ya! Abis ini, aku bakal bikin permainan yang
lebih seru lagi buat kalian berdua!” ancam Satria.
Yuna dan Jheni hanya tersenyum menanggapi ucapan Satria.
“Waktunya enam puluh detik ya! Yang paling banyak ngumpulin
koin, dia yang menang,” tutur Yuna.
Tiga ...
Dua ...
Satu ...
“Mulai ...!” seru Jheni sambil menekan stopwatch di
ponselnya.
Ketiga pria itu langsung mencari koin di dalam beras
menggunakan mulutnya. Wajah mereka berubah seketika menjadi putih karena Yuna
dengan sengaja menambahkan tepung ke dalamnya.
“Aseem ...!” seru Satria setelah mendapatkan satu koin dari
jilatan lidahnya.
Yuna dan Jheni tergelak melihat tiga pria tampan yang kini
wajahnya tak berbentuk lagi.
“Ayo ...!”
“Ayo ...!”
“Ayo ...!”
Seketika, mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang
ada di tempat itu. Mereka semua menonton perlombaan gigit koin dalam beras yang
dilakukan oleh tiga pria tampan itu.
Yuna menahan tawa saat melihat Yeriko ragu-ragu
menyentuhkan bibirnya ke beras. “Ayo, sayangku! Harus menang!” seru Yuna sambil
menatap wajah Yeriko.
Yeriko melirik ke arah istrinya. Ia bergegas mengejar
ketertinggalannya. Buru-buru mencari koin lebih banyak untuk menyenangkan hati
istrinya itu.
Semua orang terus berteriak memberi semangat. Sampai
akhirnya, waktu mereka habis.
“Jhen, kamu hitung punya Chandra. Riyan hitung punya
Satria. Aku hitung punya suamiku,” tutur Yuna sambil meraih gelas berisi koin
yang ada di meja tersebut.
Jheni dan Riyan menganggukkan kepala. Mereka mulai
menghitung koin yang didapat oleh ketiga pria tersebut.
“Lepasin tanganku!” pinta Satria.
Beberapa orang yang ada di sana, membantu melepas ikatan
tali yang ada di tangan ketiga pria tersebut.
“Yeay ...! Chandra pemenangnya!” seru Jheni. Ia melompat
kegirangan sambil memeluk tubuh Chandra.
Yuna memonyongkan bibirnya. “Kita kalah lagi,” ucapnya tak
bersemangat.
“Nggak papa. Cuma permainan,” tutur Yeriko sambil
membersihkan wajahnya menggunakan tisu yang ada di atas meja tersebut.
“Aku ke toilet dulu!” tutur Satria sambil melangkah pergi.
Chandra dan Yeriko mengikuti langkahnya dari belakang. Mereka bergegas masuk ke
dalam toilet pria untuk mencuci wajahnya.
“Istri kalian ini bener-bener nggak punya perasaan!” dengus
Satria sambil menatap wajahnya di cermin.
Yeriko tertawa kecil. “Tapi, seru juga sih.”
“Seru apanya? Muka jadi begini. Tadi, ada yang videoin kita
atau nggak ya?” tanya Satria.
“Banyak,” jawab Chandra santai.
“Aih, bakal rame lagi di instagram. Anak Walikota yang
super ganteng ini, tiba-tiba jadi badut kayak gini,” tutur Satria sambil
mengelap wajahnya menggunakan handuk miliknya.
“Hahaha.” Yeriko tergelak.
“Kamu nggak malu, Yer?” tanya Satria.
Yeriko menggelengkan kepala. “Malu kenapa?”
“Mukamu dilihat banyak orang dalam keadaan kayak gini.”
“Mau diapain lagi? Waktu latihan militer, mukaku jauh lebih
buruk dari ini.”
“Beda, Yer!” sahut Satria kesal. “Latihan militer, nggak
ada mata kamera di mana-mana.”
“Anggap aja nggak ada,” tutur Chandra.
“Eh, kalian berdua ini udah diracuni sama cinta? Sampe mau
jadi jelek kayak gini buat nyenengin wanita kalian itu?”
Yeriko dan Chandra hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan
Satria. Setelah memastikan wajah mereka bersih kembali, mereka bergegas keluar
dari toilet.
“Woii ...! Kebiasaan, main tinggalin aja!” seru Satria. Ia
ingin mengejar langkah Yeriko, namun panggilan alam menghentikan langkah
kakinya. “Duh, malah mau pipis.” Ia kembali masuk ke dalam toilet.
Yeriko dan Chandra melangkah santai mendekati Yuna dan
Jheni.
“Ay, lihat deh!” Yuna menghampiri Yeriko sambil menunjukkan
rekaman video yang ada di ponselnya. “Kalian lucu banget. Hahaha.”
Yeriko ikut tertawa melihat rekaman video tersebut. “Chan,
jeleknya mukamu!” serunya sambil tertawa terbahak-bahak.
“Sama aja. Kamu juga.”
“Eits, lihat! Aku tetep ganteng walau kayak gini,” sahut
Yeriko.
“Lihat mukanya Satria! Astaga! Hahaha.” Chandra tertawa
lebar sambil memegangi perutnya.
“Kalo dia tahu ini ... bisa dibanting ini hape,” tutur
Yeriko sambil menahan tawanya.
“Eh, harusnya ... yang perempuan juga lomba kayak gini.
Lumayan pake masker beras, nggak usah ke salon lagi,” tutur Chandra sambil
menatap wajah Jheni dan Yuna.
Yuna memonyongkan bibirnya.
“Nggak mau!” sahut Jheni dan Yuna bersamaan.
“Kompak banget,” tutur Chandra sambil memutar ulang video
tersebut. Ia dan Yeriko tertawa bersamaan.
Chandra menatap wajah Yeriko sejenak. Sudah lama, mereka
tidak pernah tertawa sebahagia ini. Kehadiran Yuna dan Jheni, berhasil membuat
dunianya jauh lebih indah.
“Eh, simpan hapenya!” pinta Chandra sambil mematikan layar
ponsel Yuna dan memberikannya pada Yeriko saat Satria melangkah ke arah mereka.
“Kalian lagi pada ngetawain apa?” tanya Satria.
“Nggak ada,” jawab Chandra santai.
Satria langsung duduk santai di kursi sambil mengeluarkan
rokok dari sakunya.
“Jangan ngerokok di dekat istriku! Dia lagi hamil,” pinta
Yeriko.
“Ck.” Satria berdecak dan mencari tempat duduk yang lebih
jauh dari Yuna.
Yeriko tersenyum kecil. Ia merangkul lengan istrinya sambil
mengajaknya duduk bersantai di tempat tersebut bersama Chandra dan Jheni.
((Bersambung...))

0 komentar:
Post a Comment