Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 384 : Independence of the Year

 


“Yer, giliranmu!” seru Satria.

 

“Bentar,” sahut Yeriko sambil merapatkan tubuh Yuna ke dalam jaketnya. Ia memutar dadu dan menjalankan boneka miliknya tepat sampai ke finish.

 

“Aargh, menang terus lu,” celetuk Lutfi.

 

Yeriko tertawa kecil.

 

“Hoki aja tuh dia,” sahut Satria.

 

“Sat, kalo menang lebih dari tiga kali, bukan hoki, tapi skill,” tutur Yeriko.

 

“Astaga ...! Mana ada main ular tangga pake skill,” seru Satria kesal.

 

Yeriko dan Yuna tertawa bersamaan.

 

“Yee ... ngaku aja kalau kalah,” tutur Yuna sambil menjulurkan lidahnya.

 

Satria berbisik ke telinga Lutfi.

 

“Hei, kalian lagi ngerencanain apa!?” seru Yeriko.

 

“Gimana kalau permainannya di ganti aja?” tanya Satria. “Aku bosen lihat dia menang mulu.”

 

“Ya udah, terserah kalian mau main apa!” sahut Yeriko santai.

 

“Udah jam setengah dua belas. Jatahku ngeluyur udah habis. Besok upacara bendera. Datang ya! Awas kalo nggak ikut upacara!” Satria bangkit dari tempat duduknya.

 

“Kok, maksa?” sahut Chandra.

 

“Lah? Katanya, cinta Indonesia? Lagian, papaku udah ngirim undangan VIP buat kalian ‘kan?” tanya Satria.

 

Chandra dan Yeriko hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan Satria.

 

“Ini para ibu PKK juga, ikutan upacara!” perintah Satria.

 

“Ibu PKK? Siapa yang kamu maksud?” tanya Jheni.

 

“Kamu, Icha, Kakak Ipar Kecil,” jawab Satria.

 

“Kita nggak dapet undangan. Berdiri di lapangan dong? Males banget panas-panasan,” sahut Jheni.

 

“Itu undangan buat sepasang. Kamu dateng sama Chandra! Sama panas aja takut,” seru Satria. “Ntar aku semprot air.”

 

“Idih, males banget. Dikira kita ini pendemo!?” dengus Jheni.

 

Satria terkekeh. “Kamu ini aneh, Jhen. Sama panas takut, sama air takut.”

 

“Dia beraninya sama Chandra doang,” sela Lutfi.

 

“Kata siapa!?” dengus Jheni sambil mendelik ke arah Lutfi.

 

“Galak amat! Kalah herder tetangga,” celetuk Lutfi sambil menatap wajah Jheni.

 

“Kamu yang ngatain aku penakut,” sahut Jheni.

 

“Aku nggak bilang kamu penakut, Jhen. Aku cuma bilang kalo kamu beraninya sama Chandra doang,” tutur Lutfi sambil menahan tawa.

 

“Sama aja!” dengus Jheni sambil menghunus garpu ke arah Lutfi. “Kamu mau ditusuk lagi, hah!?”

 

 “Aw ...!” Lutfi merintih sambil memegangi perutnya. “Aku ini pasien, masih aja ditindas.”

 

“Pura-pura sakit aja!” dengus Jheni sambil menoyor perut Lutfi.

 

Chandra langsung menarik tubuh Jheni ke pelukannya.

 

“Eh!? Kenapa?” Jheni langsung menatap wajah Chandra.

 

Satria tergelak. “Kamu cemburu sama Lutfi?” tanyanya sambil menatap Chandra.

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

“Nggak mau ngaku. Di pipimu ada tulisannya cemburu,” goda Lutfi sambil menunjuk wajah Chandra.

 

Chandra langsung menyentuh kedua pipinya.

 

Jheni menahan tawa sambil menatap Chandra. “Kamu cemburu?”

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

“Awas kalo ketularan Yeriko!” ancam Jheni.

 

Yeriko membelalakkan matanya. “Maksud kamu!?” Ia menahan geram sambil menatap Jheni.

 

“Cemburuan!” celetuk Jheni.

 

“Kamu ...!?” Yeriko menunjuk wajah Jheni.

 

“Ay, nggak usah marah!” bisik Yuna sambil menarik lengan Yeriko dan memeluknya. “Aku nggak pernah mempermasalahkan itu.”

 

Lutfi tertawa kecil. “Nggak lama, kamu mati keracunan cemburu!”

 

Yeriko langsung melempar sampah makanan ke wajah Lutfi.

 

“Astaga ...! Kamu kira mukaku ini tempat sampah!” seru Lutfi.

 

Icha hanya tersenyum sambil membantu membersihkan wajah dan pakaian Lutfi.

 

“Cocok, Lut!” sahut Jheni.

 

“Sialan kamu, Jhen!”

 

“Eh, aku pulang dulu ya!” pamit Satria.

 

“Tunggu jam dua belas. Sepuluh menit lagi,” tutur Chandra.

 

Satria melirik arloji di pergelangan tangannya. “Iya juga, ya?”

 

Lutfi menunjuk-nunjuk ke arah Jendela.

 

Semua orang bangkit dari tempat duduk. Mereka melangkah menghampiri jendela. Berdiri menghadap keluar. Menatap pemandangan kota yang ada di bawah mereka.

 

Tiga.

 

Dua.

 

Satu.

 

 

 

Sirene pergantian malam mulai berbunyi, menandakan kalau sudah memasuki tanggal tujuh belas. Sebagian orang, akan memilih malam ini untuk membuat perayaan, berkumpul bersama teman atau keluarga untuk merayakan hari kemerdekaan negara. Sebelum mereka melakukan upacara sakral keesokan harinya.

 

 

 

DUAAR ...!!!

 

DUAAR ...!!!

 

DUAAR ...!!!

 

 

 

Cipratan kembang api mulai menghiasi kota. Malam ini, banyak pemuda-pemudi yang turun ke jalanan untuk merayakan malam kemerdekaan negara. Sebagian lagi, memilih berbaring di dalam kamar sambil mengucapkan hari kemerdekaan lewat media sosial mereka.

 

“Chan, apa arti merdeka buat kamu tahun ini?” tanya Satria.

 

Chandra menarik napas dalam-dalam. Setiap tahunnya, mereka akan mengungkapkan apa yang mereka sudah mereka lakukan pada tahun sebelumnya dan rencana mereka tahun depan. “Masih sama seperti tahun kemarin. Berdamai dengan papaku. Hal yang sangat sulit aku hadapi.”

 

Satria mengangguk-anggukkan kepala. “Merdekaku tahun ini ... kalau sudah bisa naik pangkat baru ke Perwira Menengah dan ketemu jodoh impian.”

 

“Kalau aku ... berharap bisa merdeka dari masalahku saat ini. Aku lagi nggak menginginkan hal lain,” tutur Lutfi.

 

Satria menghela napas sambil menggenggam pundak Lutfi. Mata mereka bertiga tertuju pada Yeriko.

 

Yeriko mengangkat kedua alisnya. “Kalian mau tahu harapan kebebasanku tahun ini?”

 

Satria dan yang lain menganggukkan kepala.

 

“Bisa melahirkan bayi yang lucu,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Eh, itu nggak masuk kategori. Yang melahirkan kan Kakak Ipar. Bukan kamu!” sahut Lutfi.

 

“Iya. Itu juga nggak masuk harapan kebebasan. Misalnya, kamu baru merdeka kalo udah punya istri baru,” goda Satria.

 

Yuna langsung mendelik ke arah Satria. “Kamu bilang apa!?”

 

“Bercanda ...,” jawab Satria sambil meringis.

 

“Bercandanya nggak lucu!” dengus Yuna kesal.

 

“Ya udah, kalo gitu ... kasih tahu kita-kita. Tahun ini, kamu mau merdeka dari apa?” tanya Satria lagi.

 

“Mmh ... bisnis tanpa regulasi,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Eh, aku juga mau kalo itu,” sahut Lutfi.

 

“Kalian ini otak-otak bisnis,” celetuk Satria.

 

Yeriko tersenyum kecil menanggapi celetukan Satria. “Kamu juga punya bisnis. Nggak usah munafik!”

 

Satria terkekeh mendengar ucapan Yeriko. “Bisnisku nggak sebesar punyamu.”

 

“Tetep aja bisnis.”

 

Satria tertawa kecil.

 

“Jhen, kamu nggak punya harapan kebebasan tahun ini?” tanya Lutfi.

 

Jheni menggelengkan kepala.

 

“Ah, biasa ... perempuan lebih suka menyembunyikan keinginannya. Buat ngetes pria-pria di sampingnya itu peka atau nggak,” sela Satria.

 

Jheni tertawa kecil. “Nggak gitu juga. Aku mah terbuka. Mau apa aja tinggal ngomong. Soalnya, Chandra nggak peka.”

 

“Hahaha.” Satria tergelak mendengar ucapan Jheni. “Parah kamu, Chan!” lanjutnya sambil menatap Chandra.

 

“Ah, perasaan Jheni aja,” sahut Chandra.

 

Yuna tertawa kecil.

 

“Nggak usah cekikikan!” sahut Satria.

 

“Harapan merdekamu tahun ini apa?” lanjut Lutfi.

 

“Mmh ...”

 

“Jangan kelamaan mikirnya!” pinta Satria.

 

“Dia mah baru merdeka kalo punya suami yang nggak over protective,” sahut Jheni sambil tertawa kecil.

 

“Iih ... aku nggak pernah bilang begitu,” sahut Yuna.

 

“Terus apa?”

 

“Mmh ... bebas dari Bellina dan Maleficent itu, hihihi.”

 

“Hahaha.” Jheni tergelak mendengar ucapan Yuna. Matanya beralih ke arah Icha yang berdiri di sebelah Lutfi. “Cha ...!” panggilnya lirih karena sejak awal Icha tak banyak bicara.

 

“Apa?”

 

“Kalau kamu, gimana?” tanya Jheni.

 

Icha menghela napas sejenak. “Bisa terbebas dari hutang-hutangku.”

 

“Hmm, emang sulit kalo punya hutang sama pacar sendiri,” gumam Jheni.

 

“Ikhlasin aja, Lut. Pacar sendiri, masih aja ditindas,” sahut Satria.

 

“Aku nggak ngutangin. Dia sendiri yang maksa mau ngembaliin uang yang aku kasih,” tutur Lutfi.

 

“Aku akan tetap kembaliin uang itu dengan usahaku sendiri,” tegas Icha.

 

“Aih, sudah merdeka gini masih aja ngomongin hutang,” sela Satria. “Berapa hutangmu, Cha? Aku bayarin!”

 

“Dua ratus juta!” sahut Lutfi kesal. “Mau bayarin?” tanyanya sambil menatap Satria.

 

“Banyak banget!? Boleh kubayarin. Tapi si Icha jadi istriku!”

 

“Bangsat kamu!”

 

Satria terkekeh. “Dia sekarang sudah jadi adikmu. Masih aja perhitungan sama temen sendiri. Harusnya, kamu merestui adikmu sama aku,” ucap Satria sambil memainkan kedua alisnya.

 

“Hasil tes DNA belum keluar. Jangan macem-macem sama aku!”

 

Satria tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Aku pulang dulu!” pamitnya sambil melangkah pergi.

 

“Kami juga pulang dulu!” pamit Yeriko sambil merangkul Yuna.

 

Yang lain juga berpamitan pergi meninggalkan Icha dan Lutfi.

 

“Eh, kalian mau pergi gitu aja? Beresin dulu mejanya!” pinta Lutfi.

 

“Kalian aja yang beresin!” sahut Jheni. Ia tertawa sambil keluar dari ruangan tersebut bersama yang lain.

 

“Kalian ...!?” Lutfi menunjuk ke arah pintu. “Bisa-bisanya yang lagi sakit disuruh beresin? Kejam banget!”

 

“Biar aku yang beresin,” tutur Icha sambil melangkah menghampiri meja dan mulai membersihkan sisa-sisa makanan mereka.

 

Lutfi duduk di atas tempat tidurnya sambil menatap Icha. Ia tersenyum kecil dan membaringkan tubuhnya. Waktu sudah semakin malam. Ia tak bisa menahan kelopak matanya terus terbuka. Sambil menatap Icha dari kejauhan. Kelopak matanya tertutup tanpa sadar. Membawanya masuk ke alam mimpi yang indah, hingga membuatnya rela tidak bangun untuk selamanya.

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas