“Ada apa ini?” Lutfi terkejut saat banyak orang tiba-tiba
masuk ke dalam ruangannya.
“Malam ini kita mau buat perayaan tujuh belasan. Karena
kamu sakit, jadi kita buat perayaan di sini aja.”
Lutfi mengerutkan dahinya. “Kalian mau melanggar peraturan
rumah sakit? Aku ini pasien. Kalian mau bikin perayaan malam di sini?”
Yeriko tertawa kecil. “Ini kamar VVIP. Nggak akan ganggu
pasien lain. Lagipula, kamu juga udah baikan.”
Lutfi tertawa kecil. “Oke. Oke. Kamu yang jamin!” Ia
langsung turun dari tempat tidur dan bergabung di sofa bersama teman-teman yang
lainnya.
“Gampang,” sahut Yeriko.
“Sat, kamu nggak ke kompi?”
“Besok aja pas upacara.”
“Nggak latihan?”
“Latihan apaan jam segini?” tanya Satria balik.
“Buat upacara besok.”
“Udah latihan dari beberapa hari lalu. Hari ini, waktunya
mereka istirahat buat persiapan upacara besok.”
“Kamu nggak istirahat?” tanya Yuna sambil menatap Satria.
“Aku di sini sampai jam dua belas aja,” jawab Satria.
“Oh.” Yuna hanya menyahut santai.
“Kamu juga nggak boleh malam-malam. Bumil nggak boleh
begadang!” sahut Jheni sambil menatap Yuna.
“Iya, Bos!” dengus Yuna.
“Tuh, Yer. Istri kamu ini nakal banget. Nggak bisa
dinasehati,” tutur Jheni sambil menoleh ke arah Yeriko.
“Kata siapa? Aku ini penurut,” sahut Yuna.
“Penurut tapi nyolot. Mana ada orang nurut, tapi mukanya
begitu.”
“Kenapa sama mukaku?” tanya Yuna sambil menahan tawa.
“Masih tanya?” Jheni langsung menyerang pinggang Yuna.
“Hahaha. Jangan gelitikin aku, Jhen!” serunya sambil
mencoba melakukan perlawanan. Ia langsung melompat ke pelukan Yeriko.
“Culas! Berlindung sama suami,” dengus Jheni.
“Biarin!” sahut Yuna sambil menjulurkan lidahnya.
Yeriko ikut tertawa kecil sambil memeluk tubuh Yuna.
“Cha, kamu jangan murung terus!” tutur Jheni. “Minum nih,
spesial aku tuangin buat kamu.”
Icha hanya tersenyum kecil sambil meraih gelas dari tangan
Jheni. “Thanks ...!”
Riyan mengeluarkan semua makanan dan minuman yang mereka
bawa ke atas meja.
“Besok pagi, kalian ikut upacara di lapangan utama aja!”
pinta Satria.
Yeriko menganggukkan kepala.
“Mau ikut upacara? Aku ikut!” bisik Yuna.
“Nggak usah. Ntar kamu kecapean berjemur di lapangan,”
tutur Yeriko.
“Bukannya papaku ngirim undangan VIP ke kamu. Duduk di
tribun kan? Mana ada panas-panasan. Meremehkan papaku!” sahut Satria.
Yeriko tertawa kecil.
“Kamu bohongin aku?” tanya Yuna.
Yeriko langsung menendang kaki Satria. “Nggak bisa banget
diajak kompromi!”
“Kenapa?” tanya Satria sambil menahan tawa.
Yuna mengerutkan hidungnya menatap Yeriko.
Yeriko langsung merengkuh kepala Yuna ke dadanya. “Nggak
usah ngambek! Aku cuma nggak mau kamu kecapean. Lagi hamil, baik-baik di
rumah!” pinta Yeriko.
“Yer, istrimu sepanjang hari di dalam rumah. Kamu bikin dia
kayak hewan peliharaan. Cuma ikut upacara doang, masa nggak boleh? Ada mamaku
di sana.”
Yeriko menatap Satria kesal. “Kamu ...!?” Yeriko mengepal
tangan ke arah Satria.
“Udah, nggak usah marah!” pinta Yuna sambil menarik dan
memeluk tubuh Yeriko. “Aku nggak ikut upacara. Cuma bercanda doang.”
“Bilang aja takut sama suami,” celetuk Satria.
“Kamu!?” Yeriko kembali menendang kaki Satria.
“Sakit, Yer!” seru Satria sambil mengusap kakinya sendiri.
“Kamu ini suka banget nendangin. Kenapa nggak jadi pemain bola aja sana!”
“Kamu yang jadi bolanya,” sahut Yeriko kesal.
“Asyik kali kalo jadi bola. Direbutin orang banyak. Aku mau
banget kalo yang ngerebutin cewek-cewek cantik.”
“Halah, kamu demen sama cewek cantik. Sampe sekarang masih
jomblo aja,” sahut Yeriko.
“Aih ... banyak cewek cantik yang mau sama aku. Akunya aja
yang nggak mau. Terlalu ganteng.”
“Pedenya kamu ngomong gitu,” sahut Lutfi.
“Yee ... pede, lah.” Satria merangkul Lutfi. Matanya
melirik Icha yang tak jauh darinya. “Cha, ganteng mana? Aku atau Lutfi?”
“Eh ...?” Icha melongo mendengar pertanyaan Satria.
“Heh, dia ini bukan pacarmu lagi. Kakak kamu sendiri. Jujur
aja! Mana yang lebih ganteng?”
“Sama-sama ganteng,” jawab Icha.
“Halah, jawaban bohong!” sahut Satria. “Yang jujur, dong!”
pintanya.
Icha tertawa kecil.
“Nggak berani jujur kalau aku yang lebih ganteng dari
Lutfi. Kakak Ipar Kecil, menurut kamu gimana?” tanya Satria sambil menoleh ke
arah Yuna.
“Huu ... tetep ganteng suamiku ke mana-mana,” sahut Yuna
penuh percaya diri.
“Iya, sih. Dia aja yang udah laku di sini.”
“Kamu yang paling nggak laku. Semuanya punya pasangan. Kamu
aja yang ...” Lutfi mengedarkan pandangannya.
“Ya Tuhan ... baru di sini aku dibully. Riyan ... come
here!” perintah Satria. “Jadilah pasanganku malam ini!”
“Bang Sat ...!” Riyan enggan menghampiri Satria.
“Apa kamu bilang? Barusan ngatain apa?”
“Nggak ngatain, Bang. Cuma manggil nama doang,” sahut
Riyan.
“Hahaha.” Lutfi tergelak sambil memegangi perutnya yang
terasa nyeri.
“Jangan lebar-lebar ketawanya!” bisik Icha. “Luka kamu
belum sembuh banget.”
Lutfi mengangguk-angguk sambil menahan tawanya. Sementara,
teman-teman yang lain juga ikut tertawa. “Bangsat memang kamu, Sat. Hahaha.”
“Makanya, cepet cari pacar!” tutur Chandra.
“Susah, Chan. Yang suka banyak. Yang mau diajak pacaran,
nggak ada. Hahaha.”
“Cari di sini aja, Sat. Sesuai dengan kriteria idamanmu,”
tutur Chandra.
“Oh ya? Siapa?” tanya Yuna penasaran.
“Dia suka perawat yang tinggi badannya lebih dari seratus
enam puluh lima sentimeter,” bisik Yeriko.
“Oh.” Yuna mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Kamu aneh juga. Nyari pacar, kalo bukan perawat, nggak
mau,” sahut Lutfi.
“Bukan nggak mau, Lut. Alangkah baiknya kalau aku punya
pacar perawat. Kalo sakit, ada yang ngerawat aku dengan baik.”
Yeriko tersenyum kecil. “Dia juga tugas merawat orang lain,
Sat. Egois banget!”
“Bilang aja kalo iri!”
“Ngapain iri? Udah punya istri yang bisa melayani dan
merawat aku dengan baik,” sahut Yeriko santai.
“Perawat itu, profesi yang mulia. Orang lain aja dirawat
sampai sembuh. Apalagi pasangan sendiri,” tutur Satria tak mau kalah.
“Aargh ... sudah, sudah. Perdebatan kayak gini, nggak bakal
ada berhentinya,” sela Chandra. “Mending, kita nge-games sambil ngerayain malam
kemerdekaan.”
“Jangan games yang terlalu berisik!” pinta Lutfi. “Ntar,
dimarahin sama petugas kesehatan yang jaga kalau terlalu ribut,” tutur Lutfi.
“Tenang aja. Sudah diamankan sama Yeriko,” sahut Chandra.
“Maksudnya?”
“Ah, nggak usah banyak nanya! Kayak cewek aja.” Chandra
langsung mengeluarkan papan ular tangga berukuran besar ke atas meja.
“Game apa ini? Kayak anak kecil,” tanya Lutfi sambil
tertawa.
“Ck, game ini aja yang bisa dilakuin sama orang sakit, tapi
tetep seru.”
“Hmm ... lumayan,” tutur Lutfi sambil mengelus-ngelus dagu
dan memandang papan ular tangga yang ada di hadapannya.
“Jumlah pemainnya juga nggak dibatasi. Bisa langsung main
sepuluh orang sekaligus.”
“Iya juga, sih. Ya udah. Main ini aja!”
“Kalo delapan orang, perputarannya terlalu lama. Gimana,
kalau satu boneka, untuk satu pasangan?”
“Boleh,” sahut Yeriko. Yang lain juga setuju untuk
memainkan berpasangan.
“Aku pasangan sama siapa?” tanya Satria.
“Sama Riyan. Mau sama siapa lagi?” sahut Lutfi.
“Ck, apes jadi jomblo,” gumam Satria.
Semua orang tertawa mendengar gumaman Satria.
“Ayo, kita mulai. Siapa yang mau jalan duluan?”
“Batu Gunting Kain dulu, dong!” pinta Satria.
“Oke. Perwakilan pasangan, silakan!” tutur Chandra.
Setelah mereka menentukan giliran main. Akhirnya, mereka
memilih menghabiskan malam pesta perayaan kemerdekaan negara mereka di dalam
bangsal rumah sakit. Bermain ular tangga sambil membicarakan banyak hal tentang
kehidupan mereka, menghabiskan banyak waktu bersama sahabat dalam canda tawa.

0 komentar:
Post a Comment