- 17 Agustus 2017, Halaman Kantor Dinas Walikota
Surabaya –
DIRGAHAYU
REPUBLIK INDONESIA KE-72
“Yer,
kami beneran nggak bawa Yuna?” bisik Chandra saat mereka memasuki area untuk
tamu undangan VIP.
Yeriko
menggelengkan kepala sambil memperbaiki posisi dasinya. “Kaku sendiri, nggak
bawa Jheni?” tanya Yeriko balik.
Chandra
menggelengkan kepala. “Dia nggak mau ikut upacara.”
“Kenapa?”
“Katanya
sih malu. Nggak ada yang dia kenal di sini.”
“Ada
Bunda Yana.”
“Iya,
sih. Emang nggak mau kali. Makanya, banyak alasan.”
Yeriko
tertawa kecil. “Istriku malah ngerengek mau ikut. Nggak aku bolehin.”
“Kenapa
sih, Yer?”
“Chan,
di sini banyak orang penting. Kita harus memanfaatkan momen ini. Kalo aku bawa
Yuna, ntar nggak ada yang jagain dia.”
Chandra
mengangguk-anggukkan kepala. Ia mengerti maksud Yeriko.
Beberapa
menit kemudian. Prosesi upacara bendera dimulai dan berlangsung dengan hikmat
hingga akhir.
Yeriko
dan Chandra menyempatkan diri menyapa Walikota. Membuat mereka akhirnya masuk
ke dalam gedung kantor dinas untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.
“Yer,
Kakak Ipar Kecil beneran nggak datang?” Satria yang masih mengenakan seragam
militer langsung menghampiri Yeriko.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Ntar sore aja aku bawa ke area panahan.”
“Kenapa
sih, Yer? Kamu jangan terlalu mengekang istrimu!” tutur Satria.
“Ini
bukan mengekang, Sat. Tapi menjaga. Kamu tahu, dia lagi hamil. Aku nggak
mungkin bawa dia ke tempat seramai ini.”
“Sat,
kamu tahu kalau ada banyak perempuan yang terobsesi sama Yeri dan ingin
menyingkirkan Yuna. Dia takut istrinya kenapa-kenapa.”
“Nggak
sampe segitunya, Yer. Di sini aman. Aman banget. Udah disterilkan. Penjagaannya
juga ketat banget. Kamu meragukan kemampuanku, hah!?”
“Aih,
sudahlah ... nggak perlu dipermasalahkan. Dia juga butuh banyak istirahat.
Semalam udah begadang. Ntar sore aja kuajak ke area panahan.”
“Hmm
... iya juga, sih. Takutnya dia kecapekan.” Satria mengangguk-anggukkan
kepalanya.
Yeriko
tersenyum kecil.
“Eh,
kamu yang bantu urus tes DNA Lutfi sama adiknya itu kan? Gimana hasilnya?”
tanya Satria.
“Belum
keluar.”
“Lama
banget?” tanya Satria sambil menikmati hidangan yang tersedia.
“Dikira
main sulap? Itu tes DNA harus diperiksa bener-bener. Dua sampai empat minggu
baru bisa keluar hasilnya. Aku udah minta dipercepat. Kemungkinan satu mingguan
baru selesai,” jelas Yeriko.
“Oh.”
Satria manggut-manggut. “Kalo emang Icha adiknya Lutfi, aku pacaran aja.
Lumayan.”
“Emangnya,
Icha mau sama kamu?”
“Witing
trenso, jalaran soko kulino!” sahut Satria.
“Yaelah,
gayamu!”
Satria
terkekeh. “Daripada Icha pacaran sama orang lain, mending sama aku kan?”
“Hahaha.
Bener juga sih. Kamu nampung mantan pacar temen?”
“Asem
...!” dengus Satria.
“Jeruknya
asem, Sat?” tanya Chandra sambil menahan tawa.
“Kamu
yang asem!”
“Hahaha.”
Mereka
menikmati jamuan sambil berbincang banyak hal. Yeriko dan Chandra juga
menyempatkan diri untuk menyapa beberapa pejabat penting yang ada di kota
tersebut.
Usai
mengikuti upacara Hari Kemerdekaan, Yeriko langsung kembali ke rumah.
Begitu
sampai di rumah, Yeriko langsung mencari Yuna. Namun, ia tak menemukan istrinya
di dalam kamar.
“Yuna
...!” panggil Yeriko sambil mencari ke kamar bayi, ke balkon dan tempat-tempat
yang biasa digunakan istrinya untuk bersantai.
“Bi,
Yuna ke mana?” tanya Yeriko sambil menuruni anak tangga.
“Lagi
berenang di belakang.”
“Berenang?
Siang-siang gini?”
“Udah
dari tadi pagi. Tapi belum masuk ke rumah. Masih santai di pinggir kolam.”
“Oh.”
Yeriko bergegas melangkah menuju halaman belakang rumahnya. Ia menghampiri Yuna
yang sedang berbaring di bangku yang ada di tepi kolam.
Yeriko
tersenyum sambil melihat wajah Yuna yang tertidur pulas. Ia langsung duduk di
samping Yuna.
Yuna
langsung membuka mata begitu ia merasakan sentuhan di pahanya. “Udah pulang?”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Kenapa tidur di sini?”
“Aku
nggak tidur beneran. Cuma baring-baring aja.”
“Kamu
habis berenang?” tanya Yeriko.
Yuna
menganggukkan kepala. “Kamu udah makan?” tanyanya balik.
Yeriko
menggelengkan kepala.
“Emangnya,
di sana nggak dikasih makan sama Bunda Yana?”
“Ada
perjamuan untuk tamu. Tapi, aku nggak bisa makan di sana.”
“Kenapa?”
“Aku
mau makan siang sama kamu.”
Yuna
tersenyum. “Oke. Aku mandi dulu!” Ia bangkit dari duduknya.
Yeriko
ikut bangkit. Ia melangkahkan kakinya sambil merangkul pinggang Yuna. “Lain
kali, jangan berenang sendirian ya!” pintanya sambil mengelus perut Yuna.
“Kenapa?”
“Khawatir
aja. Setidaknya, ada pelayan yang nemenin kamu.”
“Tadi
aku ditemenin sama Bibi,” tutur Yuna.
“Oh.
Baguslah.”
“Gimana
upacara tadi?”
“Lancar.
Abis makan siang, kita ke arena panahan. Yang lain, udah nunggu di sana.”
“Jadi
mau lomba manah?”
“Jadi,
dong.”
“Terus,
aku ngapain? Nggak bisa ikut lomba dong?” tanya Yuna.
“Nggak
usah ikut lomba manah. Kamu ikut lomba bikin anak aja!” sahut Yeriko.
“Iih
... aku nanya serius!” dengus Yuna sambil menepuk punggung tangan Yeriko yang
masih bersarang di perutnya.
“Aku
juga serius,” ucap Yeriko sambil menahan tawa.
Yuna
memonyongkan bibirnya. “Aku mandi dulu, kamu tunggu di sini aja!” pinta Yuna
sambil melangkah menuju tangga ke kamarnya.
Yeriko
mengangguk. Ia duduk di kursi meja makan sambil menyulut rokok.
“Mas,
kok ngerokok di sini?” Bibi War yang sedang menyiapkan makan siang, langsung
menegur Yeriko.
“Eh!?”
Yeriko menatap Bibi War.
“Mbak
Yuna lagi hamil. Nggak baik kalau kena asap rokok.”
“Lupa,
Bi. Aku ke belakang dulu. Kalo Yuna udah turun, panggil aku ya!” pinta Yeriko
sambil bangkit dari tempat duduknya.
Bibi
War menganggukkan kepala.
Beberapa
menit kemudian, Yuna turun dari kamar dan langsung menuju meja makan.
Sesuai
perintah Yeriko, Bibi War langsung memanggilnya saat Yuna masih menuruni anak
tangga.
Yeriko
langsung mematikan rokoknya dan bergegas menghampiri Yuna di meja makan.
“Bi,
sore ini nggak usah masak ya!” pinta Yeriko. “Aku sama Yuna, bakal keluar
sampai malam. Kita makan di luar.”
Bibi
War menganggukkan kepala.
“Kita
mau ke mana? Bukannya cuma mau lomba memanah sore ini?” tanya Yuna.
“Kita
jalan-jalan.”
Yuna
tersenyum senang. “Akhirnya ... beberapa hari ini udah bosen banget di dalam
rumah terus,” batinnya.
Yeriko
tersenyum kecil sambil menatap wajah Yuna. “Makan yang banyak!” pintanya.
Yuna
langsung melahap makanannya penuh semangat.
“Chandra
dan Satria ikut upacara?” tanya Yuna.
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Wah,
sayang banget. Aku nggak bisa lihat. Ada pawai budaya atau nggak?”
“Ada.”
Yuna
memonyongkan bibirnya.
“Kamu
lagi hamil. Di sana terlalu ramai. Bukannya kamu nggak terlalu suka sama
keramaian?”
Yuna
terdiam. “Iya juga ya? Kenapa sekarang aku suka sedih kalo sendirian?”
batinnya.
Yeriko
tersenyum menatap Yuna. “Nggak usah sedih. Hari ini, aku bawa kamu jalan-jalan.
Boleh ngelakuin apa aja sepuas kamu.”
“Serius?”
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Mmh
... enaknya ngapain ya?” tanya Yuna sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
“Ntar
aja kalo kita udah pulang dari area panahan. Aku bawa kamu keliling kota. Hari
ini perayaan negara. Pasti ada banyak pertunjukkan di jalanan dan di
taman-taman kota.”
Yuna
menganggukkan kepala. Ia terlihat sangat bersemangat.
“Dapet
salam dari Bunda Yana.”
“Oh
ya, salam balik ya! Mama Rully, di sana juga?”
“Mama
nggak bilang apa-apa sama kamu?”
“Eh!?
Dia bilang dapet undangan upacara juga.”
“Mama
sama kakek, upacaranya di Istana Presiden. Di Jakarta sana. Bukan di sini.”
“Astaga
...! Jadi, kakek dan mama dapet undangan VIP dari presiden!?” seru Yuna.
Yeriko
menganggukkan kepala. “Kakek pensiunan jenderal. Setiap tahunnya, beliau akan
ikut upacara kenegaraan di Istana Negara.”
“Wah
... keren banget! Kapan aku bisa ketemu sama presiden?”
“Mau
ketemu?”
Yuna
menganggukkan kepala.
“Kalo
udah nggak hamil, aku aturkan waktu buat ketemu sama presiden.”
“Hah!?
Emang bisa? Semudah itu?”
Yeriko
tertawa kecil. “Kita bisa ikut kakek. Dia sering ketemu sama Presiden saat
akhir pekan,” jawab Yeriko berbisik.
“Wah
...!” Mata Yuna berbinar. Ia tak menyangka kalau dirinya menjadi bagian dari
keluarga yang begitu hebat. Bukan hanya suaminya yang terkenal sebagai direktur
muda kaya raya. Tapi, mama mertua dan kakek mertuanya yang memiliki reputasi
penting dalam dunia militer dan pemerintahan.

0 komentar:
Post a Comment