Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 353 : Laporan Chandra

 


“Yer, aku udah urus si Lian. Dia udah keluar dari hotel.” Chandra langsung masuk ke dalam ruang kerja Yeriko tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

“Bagus.”

“Kenapa kamu nyuruh aku bujuk dia? Bukannya dia musuh kamu?”

“Kamu nggak perlu tahu alasannya.”

“Punya rencana apa lagi?” tanya Chandra.

Yeriko mengedikkan bahunya.

Sikap Yeriko benar-benar sulit dimengerti. Semua orang ingin menghancurkan musuhnya. Yeriko justru menyelamatkan pria yang menjadi saingannya.

“Kamu nggak takut kalo dia ngerebut Yuna lagi?”

Yeriko menggelengkan kepala.

“Oh ... aku ngerti. Kamu mau bikin dia ngerasa punya hutang budi sama kamu?” tanya Chandra.

Yeriko tersenyum sinis menanggapi pertanyaan Chandra. “Proyek yang di Papua gimana?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Dipegang langsung sama Riyan. Aku sekarang pegang proyek di Region Satu aja.”

“Tukeran sama Riyan?”

Chandra menganggukkan kepala.

“Kenapa?”

“Males aku kalo harus ngecek ke Papua. Jauh banget, Yer.”

“Ke Eropa aja mau. Kenapa cuma ke Papua ngeluh?”

“Aku udah nyaman sama proyek di Sumatera.”

“Aha ... aku baru ingat. Orang tua Jheni di Sumatera. Makanya, kamu pilih ngerjain proyek yang di sana. Iya kan?”

Chandra mengerutkan dahi. “Sejak kapan kamu punya sifat kepo kayak gini?”

Yeriko menahan tawa. “Kamu aja yang terlalu sensitif.”

“Halah, ketularan virus kepo-nya si Yuna.”

Yeriko tertawa kecil. Ia bangkit dari kursi kerjanya dan menghampiri Chandra yang duduk di sofa. “Kalau kata dia, ini bukan kepo, tapi care.”

“Hahaha. Beneran ketularan sama dia. Dia itu kayak virus ya? Virus kepo dan cerianya itu menular ke mana-mana.”

Yeriko tersenyum menanggapi ucapan Chandra.

“Kamu nggak ada keinginan untuk menikah dalam waktu dekat?” tanya Yeriko.

Chandra langsung menatap wajah Yeriko. “Aku sama Jheni baru kenal dalam hitungan bulan. Masih banyak hal yang harus kami sesuaikan. Aku nggak mau buru-buru, Yer. Apalagi ... hubunganku sama keluargaku juga nggak begitu baik. Aku masih takut, keluargaku malah akan melukai Jheni.”

“Sabar ya! Menghadapi orang ibu tiri memang nggak mudah. Aku harap, kamu bisa memperbaiki hubungan kamu dengan ayah kamu.”

“Gimana dengan ayah kamu sendiri?” tanya Chandra.

Yeriko terdiam. “Aku anggap dia udah mati. Nggak perlu dibahas!” pinta Yeriko dengan wajah pahit.

Chandra menganggukkan kepala. Ia sangat mengerti kalau Yeriko tak pernah mau membahas soal ayah kandungnya sendiri. “Gimana kabar kandungannya istri kamu?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Baik banget. Semuanya, baik.”

“Baguslah. Untungnya, dia strong banget. Banyak yang mau mencelakai dia. Oh ya, aku dengar dari Riyan ... kamu ngatur kerjaan untuk Refi di Sudirman sana?” tanya Chandra.

Yeriko menganggukkan kepala.

“Kenapa nggak dibalikin ke Paris aja, Yer?”

“Kamu kira aku apaan!?” sahut Yeriko.

“Yah, kan bisa lebih tenang kalau dia jauh.”

“Kamu bantu aku, bikin dia pergi karena keinginannya sendiri. Kalo dia nggak mau ke sana. Sekalipun aku ngabisin duit banyak buat balikin dia ke Paris. Dia bakal balik lagi. Ngasih saran yang bagusan dikit, Chan!”

“Refi terlalu ambisius. Kamu sabar banget ngadepin dia.”

“Aku nggak sabar! Istriku aja yang kelewat baik. Kalau bukan karena Yuna. Aku udah jadi manusia paling keji di dunia. Aku udah muak banget ngadepin Refi.”

“Jangan terlalu benci gitu! Ntar kamu cinta lagi sama dia.”

“Keparat, kamu!”

“Hahaha.”

“Oh ya, ini udah bulan Agustus. Kita bikin perayaan apa buat memperingati Indonesia Merdeka?” tanya Yeriko.

“Tumben kamu nanyain?” tanya Chandra sambil menatap wajah Yeriko. “Biasanya, kamu nggak peduli sama kegiatan tahunan perusahaan. Mau gabung sama acara karyawan?”

Yeriko menggelengkan kepala. “Bikin acara untuk kita-kita aja. Kayak biasa.”

“Oh. Kirain mau berbaur sama karyawan perusahaan.”

“Mmh ... kalo menurut kamu, Yuna bakal suka yang mana? Acara bareng keluarga atau sama karyawan perusahaan?”

“Dia nggak terlalu suka keramaian kan? Lebih baik ikut acara keluarga aja, Yer. Aku khawatir juga sama keamanan dia di kerumunan banyak orang kayak gitu.”

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Bener juga, sih.”

“Nanti aku diskusi sama Lutfi. Kalo dia belum balik, biar aku sama Riyan yang urus.”

Yeriko manggut-manggut.

“Mau di rumah kamu atau di rumah kakek?”

“Di rumahku aja. Kakek sama semua ajudannya pasti ngerayain kemerdekaan di Kodam.”

“Iya juga, sih. Ya udah, ntar aku atur sama Riyan.”

“Riyan nggak ikutan urus acara kantor ‘kan?”

Chandra menggelengkan kepala. “Udah diurus semua sama HR Department.”

“Oke. Oh ya, satu lagi. Bisa ke panti asuhan minggu ini?”

“Biasanya, kamu nyuruh Riyan ke sana.”

“Aku mau bikin pengajian di panti aja. Syukuran kandungannya Yuna.”

“Oh. Mulai alim?”

“Nggak usah ngolok!” dengus Yeriko.

“Aku nggak ngolok, cuma nanya.”

“Sama aja. Mukamu songong!”

Chandra tertawa kecil. “Aku juga udah lama nggak lihat anak-anakmu di sana. Rencananya mau hari apa?”

“Sabtu sore, malam Minggu.”

“Abis dari panti, ke Club?” goda Chandra.

Yeriko langsung menendang kaki Chandra.

“Aw ...!” seru Chandra. “Kamu kan biasanya gitu.”

“Biar imbang, Chan.”

Chandra terkekeh menatap wajah Yeriko. “Malaikat sampe bingung nyatat amal kebaikan sama dosamu, Yer. Habis mabuk, masih aja ingat sholat!”

“Daripada nggak ingat sama sekali?”

“Hmm, iya juga sih. Banyak juga orang yang nggak pernah mabuk, nggak ingat sholat juga. Hahaha.”

“Aku nggak pernah mabuk kalo bukan karena kalian yang pengaruhi.”

“Hah!? Nggak kebalik? Kamu yang paling kuat minum!” sahut Chandra.

“Bagian dari pertahanan diri.”

“Ngeles aja!”

Yeriko terkekeh.

Chandra tersenyum menatap Yeriko. Pria yang selalu menyembunyikan kebaikannya di depan semua orang. Semua pesaing bisnisnya menganggap Yeriko sangat berbahaya. Membuat Yeriko terlihat seperti bos paling jahat di seluruh negeri. Tak banyak yang melihat kalau Yeriko adalah pria yang penyayang. Sangat menyayangi keluarga, teman-teman terdekatnya, juga orang-orang di perusahaannya.

“Makasih ya, Yer!”

“Kenapa tiba-tiba ngomong makasih? Kerasukan?” tanya Yeriko.

Chandra tersenyum kecil. “Kalau bukan karena kamu. Aku nggak akan jadi seperti ini.”

Yeriko menepuk-nepuk bahu Chandra. “Laki-laki nggak boleh mellow gini!” pintanya sambil tersenyum.

Chandra tersenyum kecil. Baginya, Yeriko adalah satu-satunya teman baik yang ia miliki. Setiap ia dalam masalah, Yeriko selalu menolongnya. Bahkan saat ini ... Yeriko diam-diam menolong musuhnya sendiri.  

“Heh!? Malah ngelamun?” Yeriko menepuk keras bahu Chandra.

Chandra tersenyum kecil. “Ya udah, aku balik dulu!” pamit Chandra. “Masih banyak kerjaan.” Ia bergegas keluar dari ruang kerja Yeriko.

“Oke. Thanks ya!” seru Yeriko. Ia tersenyum menatap kepergian Chandra.

Yeriko merasa hidupnya sangat beruntung. Ia memiliki seorang istri yang menyayanginya. Keluarga yang begitu hangat, juga teman-teman yang peduli terhadapnya.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas