“Yer,
aku udah urus si Lian. Dia udah keluar dari hotel.” Chandra langsung masuk ke
dalam ruang kerja Yeriko tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Bagus.”
“Kenapa
kamu nyuruh aku bujuk dia? Bukannya dia musuh kamu?”
“Kamu
nggak perlu tahu alasannya.”
“Punya
rencana apa lagi?” tanya Chandra.
Yeriko
mengedikkan bahunya.
Sikap
Yeriko benar-benar sulit dimengerti. Semua orang ingin menghancurkan musuhnya.
Yeriko justru menyelamatkan pria yang menjadi saingannya.
“Kamu
nggak takut kalo dia ngerebut Yuna lagi?”
Yeriko
menggelengkan kepala.
“Oh
... aku ngerti. Kamu mau bikin dia ngerasa punya hutang budi sama kamu?” tanya
Chandra.
Yeriko
tersenyum sinis menanggapi pertanyaan Chandra. “Proyek yang di Papua gimana?”
tanyanya mengalihkan pembicaraan.
“Dipegang
langsung sama Riyan. Aku sekarang pegang proyek di Region Satu aja.”
“Tukeran
sama Riyan?”
Chandra
menganggukkan kepala.
“Kenapa?”
“Males
aku kalo harus ngecek ke Papua. Jauh banget, Yer.”
“Ke
Eropa aja mau. Kenapa cuma ke Papua ngeluh?”
“Aku
udah nyaman sama proyek di Sumatera.”
“Aha
... aku baru ingat. Orang tua Jheni di Sumatera. Makanya, kamu pilih ngerjain
proyek yang di sana. Iya kan?”
Chandra
mengerutkan dahi. “Sejak kapan kamu punya sifat kepo kayak gini?”
Yeriko
menahan tawa. “Kamu aja yang terlalu sensitif.”
“Halah,
ketularan virus kepo-nya si Yuna.”
Yeriko
tertawa kecil. Ia bangkit dari kursi kerjanya dan menghampiri Chandra yang
duduk di sofa. “Kalau kata dia, ini bukan kepo, tapi care.”
“Hahaha.
Beneran ketularan sama dia. Dia itu kayak virus ya? Virus kepo dan cerianya itu
menular ke mana-mana.”
Yeriko
tersenyum menanggapi ucapan Chandra.
“Kamu
nggak ada keinginan untuk menikah dalam waktu dekat?” tanya Yeriko.
Chandra
langsung menatap wajah Yeriko. “Aku sama Jheni baru kenal dalam hitungan bulan.
Masih banyak hal yang harus kami sesuaikan. Aku nggak mau buru-buru, Yer.
Apalagi ... hubunganku sama keluargaku juga nggak begitu baik. Aku masih takut,
keluargaku malah akan melukai Jheni.”
“Sabar
ya! Menghadapi orang ibu tiri memang nggak mudah. Aku harap, kamu bisa
memperbaiki hubungan kamu dengan ayah kamu.”
“Gimana
dengan ayah kamu sendiri?” tanya Chandra.
Yeriko
terdiam. “Aku anggap dia udah mati. Nggak perlu dibahas!” pinta Yeriko dengan
wajah pahit.
Chandra
menganggukkan kepala. Ia sangat mengerti kalau Yeriko tak pernah mau membahas
soal ayah kandungnya sendiri. “Gimana kabar kandungannya istri kamu?” tanyanya
mengalihkan pembicaraan.
“Baik
banget. Semuanya, baik.”
“Baguslah.
Untungnya, dia strong banget. Banyak yang mau mencelakai dia. Oh ya, aku dengar
dari Riyan ... kamu ngatur kerjaan untuk Refi di Sudirman sana?” tanya Chandra.
Yeriko
menganggukkan kepala.
“Kenapa
nggak dibalikin ke Paris aja, Yer?”
“Kamu
kira aku apaan!?” sahut Yeriko.
“Yah,
kan bisa lebih tenang kalau dia jauh.”
“Kamu
bantu aku, bikin dia pergi karena keinginannya sendiri. Kalo dia nggak mau ke
sana. Sekalipun aku ngabisin duit banyak buat balikin dia ke Paris. Dia bakal
balik lagi. Ngasih saran yang bagusan dikit, Chan!”
“Refi
terlalu ambisius. Kamu sabar banget ngadepin dia.”
“Aku
nggak sabar! Istriku aja yang kelewat baik. Kalau bukan karena Yuna. Aku udah
jadi manusia paling keji di dunia. Aku udah muak banget ngadepin Refi.”
“Jangan
terlalu benci gitu! Ntar kamu cinta lagi sama dia.”
“Keparat,
kamu!”
“Hahaha.”
“Oh
ya, ini udah bulan Agustus. Kita bikin perayaan apa buat memperingati Indonesia
Merdeka?” tanya Yeriko.
“Tumben
kamu nanyain?” tanya Chandra sambil menatap wajah Yeriko. “Biasanya, kamu nggak
peduli sama kegiatan tahunan perusahaan. Mau gabung sama acara karyawan?”
Yeriko
menggelengkan kepala. “Bikin acara untuk kita-kita aja. Kayak biasa.”
“Oh.
Kirain mau berbaur sama karyawan perusahaan.”
“Mmh
... kalo menurut kamu, Yuna bakal suka yang mana? Acara bareng keluarga atau
sama karyawan perusahaan?”
“Dia
nggak terlalu suka keramaian kan? Lebih baik ikut acara keluarga aja, Yer. Aku
khawatir juga sama keamanan dia di kerumunan banyak orang kayak gitu.”
Yeriko
mengangguk-anggukkan kepala. “Bener juga, sih.”
“Nanti
aku diskusi sama Lutfi. Kalo dia belum balik, biar aku sama Riyan yang urus.”
Yeriko
manggut-manggut.
“Mau
di rumah kamu atau di rumah kakek?”
“Di
rumahku aja. Kakek sama semua ajudannya pasti ngerayain kemerdekaan di Kodam.”
“Iya
juga, sih. Ya udah, ntar aku atur sama Riyan.”
“Riyan
nggak ikutan urus acara kantor ‘kan?”
Chandra
menggelengkan kepala. “Udah diurus semua sama HR Department.”
“Oke.
Oh ya, satu lagi. Bisa ke panti asuhan minggu ini?”
“Biasanya,
kamu nyuruh Riyan ke sana.”
“Aku
mau bikin pengajian di panti aja. Syukuran kandungannya Yuna.”
“Oh.
Mulai alim?”
“Nggak
usah ngolok!” dengus Yeriko.
“Aku
nggak ngolok, cuma nanya.”
“Sama
aja. Mukamu songong!”
Chandra
tertawa kecil. “Aku juga udah lama nggak lihat anak-anakmu di sana. Rencananya
mau hari apa?”
“Sabtu
sore, malam Minggu.”
“Abis
dari panti, ke Club?” goda Chandra.
Yeriko
langsung menendang kaki Chandra.
“Aw
...!” seru Chandra. “Kamu kan biasanya gitu.”
“Biar
imbang, Chan.”
Chandra
terkekeh menatap wajah Yeriko. “Malaikat sampe bingung nyatat amal kebaikan
sama dosamu, Yer. Habis mabuk, masih aja ingat sholat!”
“Daripada
nggak ingat sama sekali?”
“Hmm,
iya juga sih. Banyak juga orang yang nggak pernah mabuk, nggak ingat sholat
juga. Hahaha.”
“Aku
nggak pernah mabuk kalo bukan karena kalian yang pengaruhi.”
“Hah!?
Nggak kebalik? Kamu yang paling kuat minum!” sahut Chandra.
“Bagian
dari pertahanan diri.”
“Ngeles
aja!”
Yeriko
terkekeh.
Chandra
tersenyum menatap Yeriko. Pria yang selalu menyembunyikan kebaikannya di depan
semua orang. Semua pesaing bisnisnya menganggap Yeriko sangat berbahaya.
Membuat Yeriko terlihat seperti bos paling jahat di seluruh negeri. Tak banyak
yang melihat kalau Yeriko adalah pria yang penyayang. Sangat menyayangi
keluarga, teman-teman terdekatnya, juga orang-orang di perusahaannya.
“Makasih
ya, Yer!”
“Kenapa
tiba-tiba ngomong makasih? Kerasukan?” tanya Yeriko.
Chandra
tersenyum kecil. “Kalau bukan karena kamu. Aku nggak akan jadi seperti ini.”
Yeriko
menepuk-nepuk bahu Chandra. “Laki-laki nggak boleh mellow gini!” pintanya
sambil tersenyum.
Chandra
tersenyum kecil. Baginya, Yeriko adalah satu-satunya teman baik yang ia miliki.
Setiap ia dalam masalah, Yeriko selalu menolongnya. Bahkan saat ini ... Yeriko
diam-diam menolong musuhnya sendiri.
“Heh!?
Malah ngelamun?” Yeriko menepuk keras bahu Chandra.
Chandra
tersenyum kecil. “Ya udah, aku balik dulu!” pamit Chandra. “Masih banyak
kerjaan.” Ia bergegas keluar dari ruang kerja Yeriko.
“Oke.
Thanks ya!” seru Yeriko. Ia tersenyum menatap kepergian Chandra.
Yeriko
merasa hidupnya sangat beruntung. Ia memiliki seorang istri yang menyayanginya.
Keluarga yang begitu hangat, juga teman-teman yang peduli terhadapnya.

0 komentar:
Post a Comment