“Selamat
pagi, Bu!” sapa salah seorang karyawan saat Bellina memasuki lobby kantor
Wijaya Group.
“Pagi
...!” balas Bellina sambil tersenyum. Ia melangkah beriringan dengan langkah
Lian yang berjalan di sampingnya.
Beberapa
pasang mata mulai tertuju pada sepasang suami istri pemilik perusahaan
tersebut.
“Eh,
itu Bu Belli kan?” tanya salah seorang karyawan yang melihat dari kejauhan.
“Iya.
Katanya, dia sekarang masuk kerja di perusahaan lagi.”
“Dia
sempat berhenti kerja karena hamil. Udah melahirkan ya?”
“Katanya
sih keguguran.”
“Hah!?
Serius?”
“Iya.”
“Jadi,
sekarang dia kerja di kantor utama? Bukan di kantor cabang lagi?”
“Aku
denger sih gitu.”
“Hmm
... pasti bakal seru kalau si Yuna ada di sini juga.”
“Ah,
kamu ini ... malah senang lihat orang berantem.”
“Huft,
perseteruan antar saudara memang yang paling seru untuk dinikmati. Apalagi,
sumbernya itu berawal dari cinta ...”
“Hahaha.”
“Eh,
tapi ... ngerasa ada yang beda atau nggak sih dari sebelumnya?”
“Beda
gimana?”
“Pak
Bos sama istrinya kelihatan mesra banget. Nggak kayak biasanya.”
“Iya,
juga sih. Bu Belli yang biasanya dateng dengan muka cemberut, sekarang nebar
senyuman ke mana-mana.”
“Baguslah.
Kita nggak perlu jadi korban kekesalan dia.”
“Hehehe.
Iya juga, sih.”
Semua
karyawan mulai membicarakan kehadiran Bellina sebagai Nyonya Bos di perusahaan
tersebut. Terlebih, Bellina akan menangani secara langsung Divisi Personalia.
Membuat banyak karyawan mulai khawatir dengan sikap Bellina yang kejam dan suka
menindas karyawan di bawahnya.
Di
ruangannya, Bellina terus tersenyum. Akhirnya, ia bisa bekerja di satu kantor
bersama Lian.
“Akhirnya,
aku bisa kerja di kantor utama juga,” ucap Bellina sambil tersenyum senang.
Sebelumnya,
Lian membiarkan dirinya bekerja di kantor anak perusahaan Wijaya Group.
Membuatnya selalu khawatir karena Lian lebih memilih Yuna bekerja di kantornya.
“Permisi,
Bu!” sapa salah seorang karyawan sambil masuk ke ruang kerja Bellina.
“Ya.”
“Ini
beberapa dokumen yang membutuhkan verifikasi dari ibu.”
“Oke.
Taruh aja di atas meja sini!” perintah Bellina.
Karyawan
tersebut mengangguk. Ia mengikuti perintah Bellina. Kemudian, bergegas keluar
dari ruangan tersebut.
Bellina
mulai bekerja seperti biasa. Kesibukannya kali ini benar-benar membuat dirinya
bisa melupakan semua masalah yang sedang ia hadapi.
Waktu
terus berjalan. Hingga sore hari, Bellina enggan beranjak dari ruang kerjanya.
Terlalu banyak hal yang harus ia hadapi dan enggan kembali ke rumah keluarga
Wijaya.
“Bel,
belum mau pulang?” Lian tiba-tiba sudah berdiri di depan meja kerja Bellina.
“Aku
masih banyak kerjaan.” Bellina mencoba mengalihkan perhatiannya ke layar
komputer yang ada di depannya.
“Ini
hari pertama kamu masuk kerja. Apa sudah sesibuk ini?”
Bellina
menganggukkan kepala.
Lian
menatap wajah Bellina. Ia bisa mengerti kalau Bellina sengaja menyibukkan diri
agar tidak kembali ke rumah keluarganya secepatnya.
“Aku
mau ajak kamu makan bareng di luar. Mau?”
Bellina
langsung menoleh ke arah Lian. “Sekarang?” tanyanya dengan mata berbinar.
Lian
menganggukkan kepala.
“Oke.”
Bellina tersenyum senang. Ia segera mematikan komputer dan bergegas keluar dari
ruangannya bersama Lian.
Beberapa
menit kemudian ...
Bellina
dan Lian sudah ada di salah satu restoran Perancis yang ada di pusat kota.
“Bel,
tadi mamaku telepon. Dia minta kita ke sana, malam ini,” tutur Lian di
sela-sela menikmati makanan yang sudah terhidang di mejanya.
“Malam
ini?” Bellina melebarkan kelopak matanya.
Lian
menganggukkan kepala.
“Besok
aja, gimana?” tanya Bellina.
“Mama
minta harus malam ini.”
“Hmm,
oke.”
Lian
tersenyum menatap wajah Bellina. Ia harap, hubungannya dengan Bellina bisa
membaik dan harmonis seperti dulu. Ia ingin belajar mencintai apa yang sudah ia
miliki saat ini.
Bellina
sengaja memperlambat makannya. Ia bahkan memesan beberapa makanan lagi agar ia
bisa lebih lama berada di restoran tersebut bersama Lian.
Lian
bisa mengerti mengapa Bellina merasa berat untuk kembali ke rumah keluarganya.
Sebab, Bellina seringkali bertengkar dengan mamanya dan membuat suasana hati
Bellina semakin memburuk. Ia hanya bisa menunggu Bellina dengan sabar.
Usai
makan malam bersama. Lian langsung mengajak Bellina pergi ke rumah keluarga
Wijaya.
“Li,
kamu nggak mau ajak aku jalan dulu?” tanya Bellina saat mereka dalam
perjalanan.
“Ke
mana?”
“Ke
mall atau ke bar gitu?”
“Mama
udah nyuruh kita cepet pulang. Jalan-jalannya diganti besok aja, ya?”
“Hmm
... oke.” Bellina meremas tali safety belt yang melingkar di dadanya. Ia
benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang untuk menghindari
pertengkaran dengan mama mertuanya.
Lian
tersenyum. Ia bergegas melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.
“Bel,
ayo turun!” ajak Lian begitu ia memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah.
Bellina
masih bergeming. Ia menggigit bibir sambil meremas tali safety belt. “Kalau
Mama Mega marah lagi sama aku, gimana?”
“Tenang
aja. Ada aku. Semua akan baik-baik aja.”
Bellina
mengangguk pelan. Ia melepas safety belt perlahan. Entah kenapa, ia tidak punya
keberanian berhadapan dengan mertuanya. Ia harap, setelah membuka pintu mobil,
ia terbangun dari mimpi.
Sayangnya,
khayalan Bellina tidak menjadi kenyataan. Ia keluar dari mobil. Menatap rumah
besar keluarga Wijaya.
Lian
menggenggam tangan Bellina dan mengajaknya masuk ke dalam rumah tersebut.
Bellina
menahan napas berkali-kali sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah
itu.
Lian
dengan santai masuk ke dalam rumah. Sementara, Mega dan Abdi sudah menunggu
kedatangan mereka.
Mega
menatap Bellina sambil menahan amarah hingga tubuhnya bergetar. Ia benar-benar
membenci semua hal yang telah dilakukan Bellina di belakangnya, membuat
keluarga Wijaya sangat malu.
“Akhirnya,
kalian datang juga. Udah jam berapa ini?” sapa Mega.
“Masih
makan di luar, Ma.” Lian menjawab santai.
“Mama
udah minta kamu datang ke rumah ini sejak tadi sore. Kenapa jam sembilan malam
baru muncul?” tanya Mega.
“Kami
masih makan dulu, Ma. Tadi udah aku jawab,” jawab Lian.
“Kenapa
nggak makan malam di sini? Malah di luar? Kalian sengaja mau menghindari kami?”
tanya Mega lagi.
Bellina
tak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala di samping Lian.
“Kami
nggak menghindar. Aku sudah terlanjur reservasi sejak siang tadi,” jawab Lian.
“Kamu
sekarang sudah pintar beralasan, hah!?”
“Ma,
ini kenyataan. Bukan alasan,” sahut Lian.
“Kamu
pikir Mama nggak tahu. Pasti dia udah pengaruhi kamu supaya nggak datang ke
sini, kan?” tanya Mega sambil menunjuk Bellina.
“Nggak
ada hubungannya sama dia. Aku yang ngajak dia makan di luar.”
“Kamu
sekarang bener-bener udah terpengaruh sama lintah satu ini!” dengus Mega kesal.
“Ma,
Mama terlalu berlebihan. Cuma karena masalah sepele, Mama selalu ngajak Belli
berantem. Dia juga sedih karena kehilangan anaknya. Mama seharusnya bisa
mengerti posisi Bellina saat ini.”
“Dia
yang seharusnya ngerti posisinya dia di keluarga kita!” seru Mega.
“Maksud
Mama?” Lian makin kesal dengan ucapan mamanya.
“Duduk
dulu!” pinta Abdi sambil menatap Lian.
“Pa
...!”
“Papa
minta, kalian duduk dulu! Ada hal yang harus kalian jelaskan pada kami.”
Lian
menatap wajah papanya. Akhirnya, ia mengajak Bellina untuk duduk di ruang tamu.
Berhadapan langsung dengan orang tuanya.
Bellina
menatap wajah mertuanya sambil meremas ujung bajunya.
“Bel,
kamu jelasin sama Mama soal alasan kamu masuk ke keluarga ini!” pinta Mega.
“Kamu nggak beneran sayang sama anak saya?”
Bellina
langsung menggelengkan kepalanya. “Aku sayang sama Lian, Ma.”
“Bohong!”
sahut Mega sambil memukul meja yang ada di depannya.
Bellina
terdiam. Ia mulai gelisah dengan pertanyaan Mega. Satu hal yang ia lupa hari
ini. Ia tidak memeriksa paketan yang dikirim ke kantor Wijaya Group atau pun ke
rumah besar keluarga Wijaya. Ia curiga kalau mama mertuanya sudah menerima
rekaman-rekaman yang ada di tangan Yeriko. Kini, ia tidak tahu harus bagaimana
untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ia hanya berharap, Lian akan mempercayai
ucapannya saja. Bukan mempercayai hasil rekaman yang dikumpulkan oleh Yeriko.
((Bersambung ...))
Terima kasih
sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment