Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 347 : Menghindar

 


“Selamat pagi, Bu!” sapa salah seorang karyawan saat Bellina memasuki lobby kantor Wijaya Group.

“Pagi ...!” balas Bellina sambil tersenyum. Ia melangkah beriringan dengan langkah Lian yang berjalan di sampingnya.

Beberapa pasang mata mulai tertuju pada sepasang suami istri pemilik perusahaan tersebut.

“Eh, itu Bu Belli kan?” tanya salah seorang karyawan yang melihat dari kejauhan.

“Iya. Katanya, dia sekarang masuk kerja di perusahaan lagi.”

“Dia sempat berhenti kerja karena hamil. Udah melahirkan ya?”

“Katanya sih keguguran.”

“Hah!? Serius?”

“Iya.”

“Jadi, sekarang dia kerja di kantor utama? Bukan di kantor cabang lagi?”

“Aku denger sih gitu.”

“Hmm ... pasti bakal seru kalau si Yuna ada di sini juga.”

“Ah, kamu ini ... malah senang lihat orang berantem.”

“Huft, perseteruan antar saudara memang yang paling seru untuk dinikmati. Apalagi, sumbernya itu berawal dari cinta ...”

“Hahaha.”

“Eh, tapi ... ngerasa ada yang beda atau nggak sih dari sebelumnya?”

“Beda gimana?”

“Pak Bos sama istrinya kelihatan mesra banget. Nggak kayak biasanya.”

“Iya, juga sih. Bu Belli yang biasanya dateng dengan muka cemberut, sekarang nebar senyuman ke mana-mana.”

“Baguslah. Kita nggak perlu jadi korban kekesalan dia.”

“Hehehe. Iya juga, sih.”

Semua karyawan mulai membicarakan kehadiran Bellina sebagai Nyonya Bos di perusahaan tersebut. Terlebih, Bellina akan menangani secara langsung Divisi Personalia. Membuat banyak karyawan mulai khawatir dengan sikap Bellina yang kejam dan suka menindas karyawan di bawahnya.

Di ruangannya, Bellina terus tersenyum. Akhirnya, ia bisa bekerja di satu kantor bersama Lian.

“Akhirnya, aku bisa kerja di kantor utama juga,” ucap Bellina sambil tersenyum senang.

Sebelumnya, Lian membiarkan dirinya bekerja di kantor anak perusahaan Wijaya Group. Membuatnya selalu khawatir karena Lian lebih memilih Yuna bekerja di kantornya.

“Permisi, Bu!” sapa salah seorang karyawan sambil masuk ke ruang kerja Bellina.

“Ya.”

“Ini beberapa dokumen yang membutuhkan verifikasi dari ibu.”

“Oke. Taruh aja di atas meja sini!” perintah Bellina.

Karyawan tersebut mengangguk. Ia mengikuti perintah Bellina. Kemudian, bergegas keluar dari ruangan tersebut.

Bellina mulai bekerja seperti biasa. Kesibukannya kali ini benar-benar membuat dirinya bisa melupakan semua masalah yang sedang ia hadapi.

Waktu terus berjalan. Hingga sore hari, Bellina enggan beranjak dari ruang kerjanya. Terlalu banyak hal yang harus ia hadapi dan enggan kembali ke rumah keluarga Wijaya.

“Bel, belum mau pulang?” Lian tiba-tiba sudah berdiri di depan meja kerja Bellina.

“Aku masih banyak kerjaan.” Bellina mencoba mengalihkan perhatiannya ke layar komputer yang ada di depannya.

“Ini hari pertama kamu masuk kerja.  Apa sudah sesibuk ini?”

Bellina menganggukkan kepala.

Lian menatap wajah Bellina. Ia bisa mengerti kalau Bellina sengaja menyibukkan diri agar tidak kembali ke rumah keluarganya secepatnya.

“Aku mau ajak kamu makan bareng di luar. Mau?”

Bellina langsung menoleh ke arah Lian. “Sekarang?” tanyanya dengan mata berbinar.

Lian menganggukkan kepala.

“Oke.” Bellina tersenyum senang. Ia segera mematikan komputer dan bergegas keluar dari ruangannya bersama Lian.

 

Beberapa menit kemudian ...

Bellina dan Lian sudah ada di salah satu restoran Perancis yang ada di pusat kota.

“Bel, tadi mamaku telepon. Dia minta kita ke sana, malam ini,” tutur Lian di sela-sela menikmati makanan yang sudah terhidang di mejanya.

“Malam ini?” Bellina melebarkan kelopak matanya.

Lian menganggukkan kepala.

“Besok aja, gimana?” tanya Bellina.

“Mama minta harus malam ini.”

“Hmm, oke.”

Lian tersenyum menatap wajah Bellina. Ia harap, hubungannya dengan Bellina bisa membaik dan harmonis seperti dulu. Ia ingin belajar mencintai apa yang sudah ia miliki saat ini.

Bellina sengaja memperlambat makannya. Ia bahkan memesan beberapa makanan lagi agar ia bisa lebih lama berada di restoran tersebut bersama Lian.

Lian bisa mengerti mengapa Bellina merasa berat untuk kembali ke rumah keluarganya. Sebab, Bellina seringkali bertengkar dengan mamanya dan membuat suasana hati Bellina semakin memburuk. Ia hanya bisa menunggu Bellina dengan sabar.

Usai makan malam bersama. Lian langsung mengajak Bellina pergi ke rumah keluarga Wijaya.

“Li, kamu nggak mau ajak aku jalan dulu?” tanya Bellina saat mereka dalam perjalanan.

“Ke mana?”

“Ke mall atau ke bar gitu?”

“Mama udah nyuruh kita cepet pulang. Jalan-jalannya diganti besok aja, ya?”

“Hmm ... oke.” Bellina meremas tali safety belt yang melingkar di dadanya. Ia benar-benar tak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang untuk menghindari pertengkaran dengan mama mertuanya.

Lian tersenyum. Ia bergegas melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya.

“Bel, ayo turun!” ajak Lian begitu ia memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah.

Bellina masih bergeming. Ia menggigit bibir sambil meremas tali safety belt. “Kalau Mama Mega marah lagi sama aku, gimana?”

“Tenang aja. Ada aku. Semua akan baik-baik aja.”

Bellina mengangguk pelan. Ia melepas safety belt perlahan. Entah kenapa, ia tidak punya keberanian berhadapan dengan mertuanya. Ia harap, setelah membuka pintu mobil, ia terbangun dari mimpi.

Sayangnya, khayalan Bellina tidak menjadi kenyataan. Ia keluar dari mobil. Menatap rumah besar keluarga Wijaya.

Lian menggenggam tangan Bellina dan mengajaknya masuk ke dalam rumah tersebut.

Bellina menahan napas berkali-kali sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu.

Lian dengan santai masuk ke dalam rumah. Sementara, Mega dan Abdi sudah menunggu kedatangan mereka.

Mega menatap Bellina sambil menahan amarah hingga tubuhnya bergetar. Ia benar-benar membenci semua hal yang telah dilakukan Bellina di belakangnya, membuat keluarga Wijaya sangat malu.

“Akhirnya, kalian datang juga. Udah jam berapa ini?” sapa Mega.

“Masih makan di luar, Ma.” Lian menjawab santai.

“Mama udah minta kamu datang ke rumah ini sejak tadi sore. Kenapa jam sembilan malam baru muncul?” tanya Mega.

“Kami masih makan dulu, Ma. Tadi udah aku jawab,” jawab Lian.

“Kenapa nggak makan malam di sini? Malah di luar? Kalian sengaja mau menghindari kami?” tanya Mega lagi.

Bellina tak menjawab. Ia hanya menundukkan kepala di samping Lian.

“Kami nggak menghindar. Aku sudah terlanjur reservasi sejak siang tadi,” jawab Lian.

“Kamu sekarang sudah pintar beralasan, hah!?”

“Ma, ini kenyataan. Bukan alasan,” sahut Lian.

“Kamu pikir Mama nggak tahu. Pasti dia udah pengaruhi kamu supaya nggak datang ke sini, kan?” tanya Mega sambil menunjuk Bellina.

“Nggak ada hubungannya sama dia. Aku yang ngajak dia makan di luar.”

“Kamu sekarang bener-bener udah terpengaruh sama lintah satu ini!” dengus Mega kesal.

“Ma, Mama terlalu berlebihan. Cuma karena masalah sepele, Mama selalu ngajak Belli berantem. Dia juga sedih karena kehilangan anaknya. Mama seharusnya bisa mengerti posisi Bellina saat ini.”

“Dia yang seharusnya ngerti posisinya dia di keluarga kita!” seru Mega.

“Maksud Mama?” Lian makin kesal dengan ucapan mamanya.

“Duduk dulu!” pinta Abdi sambil menatap Lian.

“Pa ...!”

“Papa minta, kalian duduk dulu! Ada hal yang harus kalian jelaskan pada kami.”

Lian menatap wajah papanya. Akhirnya, ia mengajak Bellina untuk duduk di ruang tamu. Berhadapan langsung dengan orang tuanya.

Bellina menatap wajah mertuanya sambil meremas ujung bajunya.

“Bel, kamu jelasin sama Mama soal alasan kamu masuk ke keluarga ini!” pinta Mega. “Kamu nggak beneran sayang sama anak saya?”

Bellina langsung menggelengkan kepalanya. “Aku sayang sama Lian, Ma.”

“Bohong!” sahut Mega sambil memukul meja yang ada di depannya.

Bellina terdiam. Ia mulai gelisah dengan pertanyaan Mega. Satu hal yang ia lupa hari ini. Ia tidak memeriksa paketan yang dikirim ke kantor Wijaya Group atau pun ke rumah besar keluarga Wijaya. Ia curiga kalau mama mertuanya sudah menerima rekaman-rekaman yang ada di tangan Yeriko. Kini, ia tidak tahu harus bagaimana untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Ia hanya berharap, Lian akan mempercayai ucapannya saja. Bukan mempercayai hasil rekaman yang dikumpulkan oleh Yeriko.

 

  ((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas