Yuna
meringis sambil menutupi pergelangan tangan dengan telapak tangan satunya. Ia
terlalu terburu-buru mengambil air panas di dapur hingga mengenai tangannya
sendiri.
“Kamu
kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna. Ia langsung meraih tangan
Yuna. “Buka!” perintahnya saat Yuna semakin menekan kuat genggamannya.
Yuna
melonggarkan genggamannya perlahan. Tanda kemerahan di lengannya cukup lebar
dan berhasil membuat Yeriko panik.
“Ikut
aku!” Yeriko langsung mengajak Yuna ke dapur.
“Kenapa
nggak hati-hati, sih!?”
“Buru-buru.”
Yuna menggigit bibirnya.
Yeriko
langsung mengambil garam dapur. Menumpahkan di telapak tangannya dan langsung
menggosok perlahan pergelangan tangan Yuna yang memerah.
“Kenapa
pakai garam?” tanya Yuna mengerutkan dahi.
“Sebelum
melepuh. Pakai garam ini bisa mencegah peradangan di kulit.”
“Oh
ya? Aku baru tahu. Biasanya, kalo kena panas aku kasih air atau pasta gigi.”
“Nggak
ada salep luka bakar di sini. Cuma ini cara yang bisa aku lakuin supaya tangan
kamu nggak melepuh dan berbekas. Harus cepat dikasih garam sebelum kulit
mengalami peradangan. Kalau kena benda panas, jangan langsung dikasih
pertolongan dengan benda yang dingin. Kulit akan mengalami peradangan dan bisa
melepuh. Semoga, cara ini berhasil,” jelas Yeriko sambil terus melumuri
pergelangan tangan Yuna menggunakan garam.
Yuna
terus memerhatikan wajah Yeriko dengan seksama. Ia benar-benar tak menyangka
kalau suaminya itu masih begitu perhatian terhadap dirinya. “Kenapa kamu masih
perhatian banget sama aku?” tanya Yuna lirih.
“Karena
kamu istri aku dan aku sayang sama kamu,” jawab Yeriko sambil meniup perlahan
pergelangan tangan Yuna.
Yuna
tersenyum. Matanya tak berkedip menatap Yeriko. “Kata orang ... setelah
menikah, laki-laki nggak akan begitu memperhatikan istrinya. Mereka jauh lebih
sayang dan perhatian sebelum menikah.”
“Apa
bedanya sebelum dan sesudah?” tanya Yeriko.
Yuna
menggelengkan kepala. “Mungkin, karena sudah berhasil mendapatkan wanita yang
mereka inginkan sepenuhnya.”
Yeriko
menatap wajah Yuna. “Sebelum atau sesudah menikah. Bagiku sama aja. Kamu
tetaplah Fristy Ayuna, wanita yang aku cintai dan harus aku lindungi. Sampai
dunia ini kiamat ... aku cuma ada satu, begitu juga dengan kamu. Aku dan
kamu ... sekarang jadi satu kata. Yaitu, kita.”
Yuna
ingin berteriak sekuat-kuatnya saat mendengar ucapan Yeriko. Teriakan itu hanya
ia keluarkan dalam hati hingga membuat seluruh wajahnya tersenyum.
“Yun,
kita adalah satu. Satu hal yang nggak akan bisa tergantikan oleh apa pun di
dunia ini. Jika satu dari kita menghilang, maka hanya tersisa separuh. Maka,
kita harus sama-sama menjaga separuh hati kita. Merawatnya, mencintainya dan
melindungi separuh hati kita dengan sepenuh hati.”
Yuna
tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia tak pernah bisa membalas setiap
ucapan-ucapan manis yang keluar dari mulut Yeriko. Ia tak pandai merangkai
kata. Bicara asal-salan. Bahkan, ia lebih sering bercanda saat Yeriko
mengajaknya membicarakan hal yang serius.
“Yun
... Yuna ...!” Yeriko melambaikan tangannya di depan wajah Yuna. “Kenapa
bengong?”
Yuna
gelagapan menanggapi pertanyaan Yeriko. “Aku bukan bengong. Aku nggak tahu
harus jawab apa.”
“Aku
nggak minta jawaban. Itu pernyataan, bukan pertanyaan!” tegas Yeriko.
Yuna
tersenyum. “Jadi?”
“Kamu
cukup jadi istri yang penurut!” pinta Yeriko sambil mencubit hidung Yuna.
“Baiklah.”
Yuna mengangguk-anggukkan kepala.
“Cuci
lenganmu!” perintah Yeriko.
“Sudah
boleh?”
Yeriko
menganggukkan kepala. Ia mencuci tangannya terlebih dahulu. Kemudian melangkah
pergi menghampiri Adjie yang masih duduk di sofa.
“Yah,
nggak usah khawatir! Yuna, sekarang baik-baik aja. Aku akan berusaha melindungi
kalian,” tutur Yeriko.
Adjie
menoleh ke arah Yeriko. Ia menatap pria itu penuh harap. Ia
mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ayah percaya sama kamu.”
Yeriko
mengangguk pasti. Ia tidak ingin semua orang saling mengkhawatirkan. “Jangan
sampai Yuna mengkhawatirkan Ayah dan membuat janin di perutnya ikut tersakiti!”
bisik Yeriko.
Adjie
menghela napas sejenak. “Kamu benar. Seharusnya, Ayah bisa bersikap lebih
tenang. Ayah hanya ... masih tidak percaya kalau Yuna benar-benar mendapatkan
perlakuan buruk dari saudaranya sendiri.”
“Ayah
nggak perlu khawatir sama aku. Aku udah terbiasa. Udah kebal,” tutur Yuna
sambil meringis.
Adjie
tersenyum menatap puterinya. Ia tahu, semakin ia mengkhawatirkan puterinya,
Yuna akan semakin khawatir dengannya.
Yeriko
merasa tidak nyaman karena suasana menjadi canggung. “Hmm ... sekarang sudah
masuk bulan Agustus. Peringatan hari kemerdekaan sebentar lagi. Kamu punya
ide?” tanya Yeriko menatap wajah Yuna.
“Ide
apa?”
“Ide
merayakan hari jadi negara.”
“Bukannya
kamu yang keluarga militer. Pastinya, lebih banyak ide buat ngerayain hari
ulang tahun negara.”
Yeriko
memutar lidah di dalam mulutnya sendiri. Sebenarnya, ia hanya ingin
mengembalikan suasana kebersamaan mereka agar tidak canggung. “Kami selalu
membuat perayaan khusus untuk merayakannya. Aku mau dengar ide dari kamu.”
“Aku?
Aku mau lomba lari dari kenyataan. Hahaha.”
“Serius,
Yun!” pinta Yeriko lembut.
“Hehehe.
Emangnya, mau buat acara di mana? Di kantor?”
“Di
kantor udah ada yang urus. Buat kita.”
“Kita?
Maksudnya, aku sama kamu?”
Yeriko
menganggukkan kepala. “Sama yang lain juga.”
“Oh.
Aku ngerti.” Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Gimana?”
tanya Yeriko lagi.
“Mmh
... aku ikut aja. Biasanya, kamu bikin lomba apa?”
“Biasanya
... lomba memanah, gebuk bantal, makan kerupuk ... yah, gitu-gitu. Yang udah
biasa dilakukan pada umumnya.”
“Ya
udah. Kayak biasanya aja!”
“Nggak
ada ide lain buat aku?”
“Mmh
... belum ada. Nanti, kalo sudah ada. Aku kasih tahu.”
Yeriko
tertawa kecil sambil mengelus ujung kepala Yuna.
“Ayah
ikut ya!” pinta Yuna.
Adjie
tertawa kecil. “Ayah sudah tua. Mana bisa ikut lomba.”
“Nonton
aja, Yah. Aku juga lagi hamil. Nggak bisa ikutan lomba-lomba gitu. Ayah temenin
aku ya!” pinta Yuna.
“Kalian
saja. Ayah nggak mau ganggu kebahagiaan kalian.”
Yeriko
dan Yuna saling pandang. Kemudian sama-sama menatap ayahnya.
“Kenapa?”
tanya Adjie saat mendapati tatapan mata Yuna dan Yeriko menodong ke arahnya.
“Sejak
kapan kami bilang kalau Ayah mengganggu kebahagiaan kami?” tanya Yuna.
“Yun.
Ayah ini sudah tua. Rasanya, sungkan kalau harus bergabung dengan kalian yang
masih muda. Seharusnya, kalian bisa bebas melakukan apa pun sesuai dengan usia
kalian. Lebih baik, ayah di rumah saja main catur.”
“Main
catur sama siapa?” tanya Yuna.
“Eh!?
Bisa main catur sama Rudi.”
“Ayah
masih mau terima dia masuk ke rumah ini?” dengus Yuna.
“Rudi
nggak pernah berbuat jahat pada Ayah. Ayah nggak punya alasan untuk menolak
orang-orang yang datang ke rumah ini dan bersikap baik.”
Yuna
memonyongkan bibirnya.
Yeriko
melirik papan catur yang tergeletak di bawah meja. “Hmm, gimana kalau kita hari
ini main catur?” tanya Yeriko sambil meraih papan catur tersebut dan
meletakkannya di atas meja. “Kalau Ayah kalah, harus ikut kami. Gimana?”
Adjie
tertawa kecil. “Oke.” Ia mengangguk-anggukkan kepala.
“Kamu
yakin?” tanya Yeriko berbisik.
Yeriko
mengangguk. Ia dan Adjie mulai bermain catur bersama. Sementara, Yuna
bergelayut manja di pundak Yeriko.
“Yah,
kakek juga suka main catur. Pasti, kalau kalian bertemu akan sangat cocok.”
“Oh
ya?” Adjie tertawa kecil. “Kalau gitu, Ayah akan bawa papan catur ini saat
bertemu sama beliau.”
Yeriko
tertawa kecil. Sementara Yuna yang tidak mengerti bagaimana bermain catur,
hanya bisa menunggunya hingga menguap beberapa kali.
Yeriko
langsung meletakkan kepala Yuna di pangkuannya saat istrinya itu benar-benar
terlelap.
“Mau
dipindahin ke kamar saja?” tanya Adjie berbisik.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Biarkan di sini saja,” jawabnya ikut berbisik sambil
mengelus lembut pipi Yuna. Ia terus tersenyum menatap wajah cantik istrinya
itu.
“Baiklah.”
Adjie manggut-manggut. Ia menjalankan salah satu kuda miliknya dan ...
SKAK
MAT!
Yeriko
membelalakkan matanya. Ia menertawakan dirinya sendiri sambil menepuk dahi.
“Kamu
sengaja mengalah sama Ayah?” tanya Adjie.
Yeriko
menggelengkan kepala. “Aku kurang konsen.”
“Wanita
memang sangat mengganggu konsentrasi,” celetuk Adjie menggoda.
“Ah,
Ayah bisa aja.”
Mereka
tertawa bersama dan kembali melanjutkan permainan untuk mengisi waktu luang
mereka, sementara Yuna terlelap di tengah-tengah dua pria yang mencintainya
sepenuh hati.
((Bersambung ...))
Terima kasih
sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment