Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 346 : We are the One

 


Yuna meringis sambil menutupi pergelangan tangan dengan telapak tangan satunya. Ia terlalu terburu-buru mengambil air panas di dapur hingga mengenai tangannya sendiri.

“Kamu kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna. Ia langsung meraih tangan Yuna. “Buka!” perintahnya saat Yuna semakin menekan kuat genggamannya.

Yuna melonggarkan genggamannya perlahan. Tanda kemerahan di lengannya cukup lebar dan berhasil membuat Yeriko panik.

“Ikut aku!” Yeriko langsung mengajak Yuna ke dapur.

“Kenapa nggak hati-hati, sih!?”

“Buru-buru.” Yuna menggigit bibirnya.

Yeriko langsung mengambil garam dapur. Menumpahkan di telapak tangannya dan langsung menggosok perlahan pergelangan tangan Yuna yang memerah.

“Kenapa pakai garam?” tanya Yuna mengerutkan dahi.

“Sebelum melepuh. Pakai garam ini bisa mencegah peradangan di kulit.”

“Oh ya? Aku baru tahu. Biasanya, kalo kena panas aku kasih air atau pasta gigi.”

“Nggak ada salep luka bakar di sini. Cuma ini cara yang bisa aku lakuin supaya tangan kamu nggak melepuh dan berbekas. Harus cepat dikasih garam sebelum kulit mengalami peradangan. Kalau kena benda panas, jangan langsung dikasih pertolongan dengan benda yang dingin. Kulit akan mengalami peradangan dan bisa melepuh. Semoga, cara ini berhasil,” jelas Yeriko sambil terus melumuri pergelangan tangan Yuna menggunakan garam.

Yuna terus memerhatikan wajah Yeriko dengan seksama. Ia benar-benar tak menyangka kalau suaminya itu masih begitu perhatian terhadap dirinya. “Kenapa kamu masih perhatian banget sama aku?” tanya Yuna lirih.

“Karena kamu istri aku dan aku sayang sama kamu,” jawab Yeriko sambil meniup perlahan pergelangan tangan Yuna.

Yuna tersenyum. Matanya tak berkedip menatap Yeriko. “Kata orang ... setelah menikah, laki-laki nggak akan begitu memperhatikan istrinya. Mereka jauh lebih sayang dan perhatian sebelum menikah.”

“Apa bedanya sebelum dan sesudah?” tanya Yeriko.

Yuna menggelengkan kepala. “Mungkin, karena sudah berhasil mendapatkan wanita yang mereka inginkan sepenuhnya.”

Yeriko menatap wajah Yuna. “Sebelum atau sesudah menikah. Bagiku sama aja. Kamu tetaplah Fristy Ayuna, wanita yang aku cintai dan harus aku lindungi. Sampai dunia ini kiamat ... aku cuma ada satu, begitu juga dengan kamu.  Aku dan kamu ... sekarang jadi satu kata. Yaitu, kita.”

Yuna ingin berteriak sekuat-kuatnya saat mendengar ucapan Yeriko. Teriakan itu hanya ia keluarkan dalam hati hingga membuat seluruh wajahnya tersenyum.

“Yun, kita adalah satu. Satu hal yang nggak akan bisa tergantikan oleh apa pun di dunia ini. Jika satu dari kita menghilang, maka hanya tersisa separuh. Maka, kita harus sama-sama menjaga separuh hati kita. Merawatnya, mencintainya dan melindungi separuh hati kita dengan sepenuh hati.”

Yuna tersenyum  sambil menganggukkan kepala. Ia tak pernah bisa membalas setiap ucapan-ucapan manis yang keluar dari mulut Yeriko. Ia tak pandai merangkai kata. Bicara asal-salan. Bahkan, ia lebih sering bercanda saat Yeriko mengajaknya membicarakan hal yang serius.

“Yun ... Yuna ...!” Yeriko melambaikan tangannya di depan wajah Yuna. “Kenapa bengong?”

Yuna gelagapan menanggapi pertanyaan Yeriko. “Aku bukan bengong. Aku nggak tahu harus jawab apa.”

“Aku nggak minta jawaban. Itu pernyataan, bukan pertanyaan!” tegas Yeriko.

Yuna tersenyum. “Jadi?”

“Kamu cukup jadi istri yang penurut!” pinta Yeriko sambil mencubit hidung Yuna.

“Baiklah.” Yuna mengangguk-anggukkan kepala.

“Cuci lenganmu!” perintah Yeriko.

“Sudah boleh?”

Yeriko menganggukkan kepala. Ia mencuci tangannya terlebih dahulu. Kemudian melangkah pergi menghampiri Adjie yang masih duduk di sofa.

“Yah, nggak usah khawatir! Yuna, sekarang baik-baik aja. Aku akan berusaha melindungi kalian,” tutur Yeriko.

Adjie menoleh ke arah Yeriko. Ia menatap pria itu penuh harap. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ayah percaya sama kamu.”

Yeriko mengangguk pasti. Ia tidak ingin semua orang saling mengkhawatirkan. “Jangan sampai Yuna mengkhawatirkan Ayah dan membuat janin di perutnya ikut tersakiti!” bisik Yeriko.

Adjie menghela napas sejenak. “Kamu benar. Seharusnya, Ayah bisa bersikap lebih tenang. Ayah hanya ... masih tidak percaya kalau Yuna benar-benar mendapatkan perlakuan buruk dari saudaranya sendiri.”

“Ayah nggak perlu khawatir sama aku. Aku udah terbiasa. Udah kebal,” tutur Yuna sambil meringis.

Adjie tersenyum menatap puterinya. Ia tahu, semakin ia mengkhawatirkan puterinya, Yuna akan semakin khawatir dengannya.

Yeriko merasa tidak nyaman karena suasana menjadi canggung. “Hmm ... sekarang sudah masuk bulan Agustus. Peringatan hari kemerdekaan sebentar lagi. Kamu punya ide?” tanya Yeriko menatap wajah Yuna.

“Ide apa?”

“Ide merayakan hari jadi negara.”

“Bukannya kamu yang keluarga militer. Pastinya, lebih banyak ide buat ngerayain hari ulang tahun negara.”

Yeriko memutar lidah di dalam mulutnya sendiri. Sebenarnya, ia hanya ingin mengembalikan suasana kebersamaan mereka agar tidak canggung. “Kami selalu membuat perayaan khusus untuk merayakannya. Aku mau dengar ide dari kamu.”

“Aku? Aku mau lomba lari dari kenyataan. Hahaha.”

“Serius, Yun!” pinta Yeriko lembut.

“Hehehe. Emangnya, mau buat acara di mana? Di kantor?”

“Di kantor udah ada yang urus. Buat kita.”

“Kita? Maksudnya, aku sama kamu?”

Yeriko menganggukkan kepala. “Sama yang lain juga.”

“Oh. Aku ngerti.” Yuna mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Gimana?” tanya Yeriko lagi.

“Mmh ... aku ikut aja. Biasanya, kamu bikin lomba apa?”

“Biasanya ... lomba memanah, gebuk bantal, makan kerupuk ... yah, gitu-gitu. Yang udah biasa dilakukan pada umumnya.”

“Ya udah. Kayak biasanya aja!”

“Nggak ada ide lain buat aku?”

“Mmh ... belum ada. Nanti, kalo sudah ada. Aku kasih tahu.”

Yeriko tertawa kecil sambil mengelus ujung kepala Yuna.

“Ayah ikut ya!” pinta Yuna.

Adjie tertawa kecil. “Ayah sudah tua. Mana bisa ikut lomba.”

“Nonton aja, Yah. Aku juga lagi hamil. Nggak bisa ikutan lomba-lomba gitu. Ayah temenin aku ya!” pinta Yuna.

“Kalian saja. Ayah nggak mau ganggu kebahagiaan kalian.”

Yeriko dan Yuna saling pandang. Kemudian sama-sama menatap ayahnya.

“Kenapa?” tanya Adjie saat mendapati tatapan mata Yuna dan Yeriko menodong ke arahnya.

“Sejak kapan kami bilang kalau Ayah mengganggu kebahagiaan kami?” tanya Yuna.

“Yun. Ayah ini sudah tua. Rasanya, sungkan kalau harus bergabung dengan kalian yang masih muda. Seharusnya, kalian bisa bebas melakukan apa pun sesuai dengan usia kalian. Lebih baik, ayah di rumah saja main catur.”

“Main catur sama siapa?” tanya Yuna.

“Eh!? Bisa main catur sama Rudi.”

“Ayah masih mau terima dia masuk ke rumah ini?” dengus Yuna.

“Rudi nggak pernah berbuat jahat pada Ayah. Ayah nggak punya alasan untuk menolak orang-orang yang datang ke rumah ini dan bersikap baik.”

Yuna memonyongkan bibirnya.

Yeriko melirik papan catur yang tergeletak di bawah meja. “Hmm, gimana kalau kita hari ini main catur?” tanya Yeriko sambil meraih papan catur tersebut dan meletakkannya di atas meja. “Kalau Ayah kalah, harus ikut kami. Gimana?”

Adjie tertawa kecil. “Oke.” Ia mengangguk-anggukkan kepala.

“Kamu yakin?” tanya Yeriko berbisik.

Yeriko mengangguk. Ia dan Adjie mulai bermain catur bersama. Sementara, Yuna bergelayut manja di pundak Yeriko.

“Yah, kakek juga suka main catur. Pasti, kalau kalian bertemu akan sangat cocok.”

“Oh ya?” Adjie tertawa kecil. “Kalau gitu, Ayah akan bawa papan catur ini saat bertemu sama beliau.”

Yeriko tertawa kecil. Sementara Yuna yang tidak mengerti bagaimana bermain catur, hanya bisa menunggunya hingga menguap beberapa kali.

Yeriko langsung meletakkan kepala Yuna di pangkuannya saat istrinya itu benar-benar terlelap.

“Mau dipindahin ke kamar saja?” tanya Adjie berbisik.

Yeriko menggelengkan kepala. “Biarkan di sini saja,” jawabnya ikut berbisik sambil mengelus lembut pipi Yuna. Ia terus tersenyum menatap wajah cantik istrinya itu.

“Baiklah.” Adjie manggut-manggut. Ia menjalankan salah satu kuda miliknya dan ...

SKAK MAT!

Yeriko membelalakkan matanya. Ia menertawakan dirinya sendiri sambil menepuk dahi.

“Kamu sengaja mengalah sama Ayah?” tanya Adjie.

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku kurang konsen.”

“Wanita memang sangat mengganggu konsentrasi,” celetuk Adjie menggoda.

“Ah, Ayah bisa aja.”

Mereka tertawa bersama dan kembali melanjutkan permainan untuk mengisi waktu luang mereka, sementara Yuna terlelap di tengah-tengah dua pria yang mencintainya sepenuh hati.

 

  ((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas