Wednesday, February 4, 2026

Perfect Hero Bab 345 : Melawan Melan

 


Yuna meletakkan secangkir teh panas ke hadapan Melan dengan kesal.

Adjie memerhatikan sikap Yuna yang tidak ingin berdamai dengan tantenya sendiri.

Yuna duduk di samping ayahnya, tepat di hadapan Melan. “Mau apa ke sini?” tanya Yuna ketus.

“Yun, nggak baik bersikap seperti itu sama orang tua!” tegur Adjie dengan lembut.

“Ayah nggak usah bersikap baik sama dia!” pinta Yuna. “Nggak lama, sifat aslinya dia bakal keluar.”

Melan sangat kesal mendapat sambutan buruk dari Yuna. Ia memaksa bibirnya untuk tersenyum demi mengambil perhatian semua orang.

“Kak Adjie, sebenarnya aku ke sini karena ada perlu sama Yuna dan suaminya. Tadi, aku sudah ke rumah mereka. Pembantu mereka bilang kalau mereka ada di sini. Jadi, aku langsung nyusul ke sini.”

“Kenapa Tante cari aku? Mau pura-pura minta maaf, terus jebak aku lagi?” tanya Yuna ketus.

Melan langsung membelalakkan matanya. Sikap dan perkataan Yuna berhasil menyulut emosinya dengan mudah. “Yun, Tante ke sini dengan niat baik. Kenapa kamu malah bersikap buruk sama Tante dan menuduh Tante sembarangan!”

“Tante lupa kapan terakhir kali minta maaf sama aku?” tanya Yuna ketus. “Tante hampir aja bikin aku masuk penjara!”

Melan terdiam. “Tante tahu, itu semua memang kesalahan Bellina. Makanya, hari ini Tante datang untuk minta maaf atas nama Bellina.”

“Minta maaf? Kemarin Oom, sekarang Tante. Kalo emang mau minta maaf, kenapa nggak Bellina yang datang sendiri ke sini?”

“Yun, Bellina itu masih sangat muda. Emosinya tidak stabil. Dia nggak mikir dulu kalau ngomong. Tante harap, kalian bisa memaklumi dan memaafkan Bellina.”

“Masih sangat muda? Oh ya? Bellina lahir seminggu lebih dulu daripada aku. Walau dalam urutan keluarga dia masih adikku. Usia dia hampir sama, sama aku. Apa cuma dia yang bisa ditolerir kesalahannya, sementara aku nggak?” sahut Yuna kesal.

“Kamu!?” Melan mulai geram dengan pertanyaan-pertanyaan Yuna. Bukan, itu bukan pertanyaan, tapi serangan untuknya. Ia menatap Yeriko yang hanya tersenyum lima puluh persen.Sementara, Adjie hanya mendengarkan ucapan puterinya tanpa ada keinginan untuk mencegahnya.

Yuna tersenyum  menatap Melan. Banyak hal yang sudah ia lalui. Semuanya membuat Yuna merasa kalau Melan dan keluarganya itu tidak akan pernah tulus meminta maaf kepada dirinya.

“Yuna, Tante bener-bener minta maaf atas semua kesalahan yang dilakukan Bellina. Tuan Ye, tolong maafkan kami dan lepaskan Bellina!” pinta Melan. Ia bangkit dari sofa sambil membungkukkan badannya di hadapan Yuna dan Yeriko.

Yuna tersenyum  sinis. Ia sangat mengetahui sifat tantenya. Ia tidak mungkin membungkuk dan berlutut di depan orang lain hanya untuk meminta maaf atas kesalahannya sendiri. Gengsi tantenya itu terlalu besar. Jika ia melakukannya dengan mudah, sudah pasti ada maksud tertentu di baliknya.

“Tante akan menjamin kalau Bellina tidak akan melakukan kesalahan dan mengganggu hidup kalian lagi. Tante mohon, maafkan dan lepaskan Bellina!”

Yuna menoleh ke arah Yeriko yang berdiri di sampingnya. Ia tidak tahu apa yang telah diperbuat suaminya hingga membuat tantenya datang untuk meminta maaf. Membungkuk di hadapannya tanpa diminta.

Yeriko menggelengkan kepala.

Melan melebarkan matanya menatap Yeriko. “Yeriko, kita masih keluarga. Tolong berikan maaf untuk Bellina dan lepaskan dia!” pinta Melan.

“Bellina bersalah sama istriku. Yang berhak memberikan maaf cuma Yuna. Yang seharusnya meminta maaf juga Bellina. Kalau dia memang ingin mengakui kesalahannya,” tegas Yeriko.

“Yer, Bellina masih sangat muda. Dia butuh masa depan yang baik. Tolong, jangan hancurkan hidup dia! Tante mohon sekali lagi, maafkan dan lepaskan dia!”

Yeriko tersenyum sinis. “Aku nggak akan ngelepasin dia sekalipun dia berlutut di hadapanku saat ini!”

Melan menatap wajah Yuna dan Yeriko penuh kebencian. Ia sudah berkorban merendahkan dirinya sendiri, namun tetap saja mendapatkan penolakan. Ia merasa kalau pengorbanannya sia-sia saja.

“Oke, kalau kalian emang nggak mau memaafkan dan melepaskan Bellina. Aku bakal ngelawan kalian sampai titik darah penghabisan!” tutur Melan kesal.

Yeriko tertawa kecil. “Tante nggak perlu melawan kami. Kami nggak akan menyentuh kalian sejengkal pun dan nggak butuh perlawanan dari kalian!”

Melan menatap sengit ke arah Yeriko. “Hentikan ancaman-ancaman kamu ke Bellina!” pintanya.

“Ancaman apa?”

“Kamu yang ngirim rekaman-rekaman itu ke keluarga Wijaya untuk menghancurkan Bellina ‘kan?”

“Rekaman apa?” tanya Yeriko santai.

“Rekaman soal kejahatan Bellina.”

“Hahaha.” Yuna tergelak mendengar ucapan Melan.

“Kenapa kamu ketawa?” Melan mendelik ke arah Yuna.

“Tante mengakui kalau Bellina sudah melakukan kejahatan?”

“Kamu!?”

Yuna tertawa kecil. “Tante, Bellina yang udah ngebunuh anaknya sendiri. Dia sengaja manfaatin aku buat menutupi kesalahan dan kejahatan dia selama ini. Aku dituduh sebagai pembunuh. Melakukan perbuatan keji yang nggak pernah aku lakukan. Tante pikir, kami akan ngelepasin Bellina gitu aja?”

“Jadi, selama ini kamu sudah bersikap tidak adil terhadap anak saya?” tanya Adjie sambil menatap Melan. “Saya sudah salah menilai kalian. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hari-hari anak saya saat tinggal bersama kalian.”

“Kak Adjie, ini nggak seperti yang dia katakan. Semua ini cuma salah paham,” tutur Melan.

“Di saat seperti ini, Tante masih aja berbohong untuk membela diri sendiri.” Yuna tersenyum ke arah Melan. “Aku jadi pengen tahu, gimana reaksi keluarga Wijaya kalau tahu, mereka sedang dipermainkan.”

Melan membelalakkan matanya menatap Yuna.

“Kenapa, Tante?” tanya Yuna menghadapi tatapan Melan. “Takut kalau Bellina dibuang dari keluarga Wijaya?”

 “Kalian!? Berani-beraninya mengancam kami!?” seru Melan makin kesal.

Yuna tersenyum kecil. “Suatu saat, Bellina akan menyadari kalau dia cuma dijadikan alat untuk mendapatkan banyak uang. Aku masih nggak ngerti kenapa ada seorang ibu yang tega menjual harga diri anaknya sendiri.”

“Kamu jangan ngomong sembarangan ya!” sentak Melan.

“Aku nggak ngomong sembarangan. Yeriko saksinya. Tante yang udah jual aku ke direktur tua bangka itu. Tante nggak ada bedanya sama germo.”

Adjie membelalakkan matanya mendengar ucapan Yuna. Ia kini mulai mengerti bagaimana adik iparnya itu memperlakukan Yuna dengan keji. “Kamu tega menjual anak saya demi uang!?” sentak Adjie.

Tubuh Melan gemetaran mendapati bentakkan dari Adjie. Ia hanya menundukkan kepala. Mulutnya bergetar seolah berada dalam ruang pendingin bersuhu minus lima derajat.

“JAWAB SAYA!” sentak Adjie.

Melan meremas jemari tangannya sendiri. “Ka ... ka ... karena ... kami butuh uang banyak untuk biaya pengobatan kamu.”

Tubuh Adjie melemas mendengar ucapan Melan. Ia menoleh ke arah Yuna yang duduk di sampingnya. Begitu banyak penderitaan yang dihadapi puterinya. Keluarga satu-satunya yang ia percaya akan selalu mengayomi puterinya, justru menjadi sebilah pisau yang terus menerus melukai Yuna.

“Mel, aku udah kasih semua yang kalian mau!” seru Adjie menitikan air mata. “Saham perusahaan sudah ada di tangan kalian. Bahkan, Yuna juga seharusnya menjadi pemilik saham di perusahaan itu. Kenapa kalian memperlakukan anakku dengan tidak adil setelah apa yang kalian dapatkan?”

Melan terdiam. Ia tak bisa berkata-kata. Ia sangat tahu bagaimana saham Adjie berpindah seluruhnya ke tangan suaminya.

Adjie meratap pilu. Ia merasa hatinya sangat sakit saat mengetahui kalau selama ini puterinya mendapatkan begitu banyak penderitaan.

Yuna sangat kesal karena Melan membuat perasaan ayahnya sangat buruk. Ia bangkit dan bergegas menuju dapur.

Melan menarik napas dalam-dalam. “Tolong maafkan kami dan lepaskan Bellina!” pintanya lagi.

Yuna kembali menghampiri Melan sambil tersenyum lebar. Di tangannya masing-masing memegang cangkir berisi air.

Melan menatap wajah Yuna, ia balas tersenyum pada Yuna yang berdiri tak jauh di hadapannya. Ia berpikir kalau Yuna akan memaafkan dan melepaskan puterinya. Ia memperbaiki posisi duduknya dan siap meminta maaf kembali pada Yuna.

“Tante, lebih baik pergi dari sini!” seru Yuna sambil menyiramkan air dingin yang ada di tangannya ke wajah Melan.

Melan langsung membuka mulutnya lebar-lebar saat air dingin membasahi kepala dan gaunnya yang terlihat mahal. “Kamu!?” Ia mendelik kesal ke arah Yuna.

Yuna tersenyum kecil. Ia masih memegang satu cangkir di tangannya.

Melan menyadari kalau Yuna membawa air panas dalam cangkir tersebut, sebab asap masih mengepul di atasnya.

Yuna langsung melayangkan tangannya ke arah Melan. Membuat Melan spontan melindungi wajah menggunakan tangannya.

“Kalo nggak pergi sekarang juga, aku bakal siram air yang lebih banyak lagi!” sentak Yuna.

Melan meringis saat melihat lengannya memerah terkena cipratan air panas yang disiramkan oleh Yuna. Ia meraih tas tangannya dan bangkit dari sofa.

Tatapan Adjie dan Yeriko, membuat dirinya sangat ketakutan. Ia berlari keluar dari rumah aji dengan tubuh gemetaran. Ia tak menyangka kalau Yuna berani menyerangnya. 

 

  ((Bersambung ...))

 

Terima kasih sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much love,

@vellanine.tjahjadi

 

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas