Yuna
meletakkan secangkir teh panas ke hadapan Melan dengan kesal.
Adjie
memerhatikan sikap Yuna yang tidak ingin berdamai dengan tantenya sendiri.
Yuna
duduk di samping ayahnya, tepat di hadapan Melan. “Mau apa ke sini?” tanya Yuna
ketus.
“Yun,
nggak baik bersikap seperti itu sama orang tua!” tegur Adjie dengan lembut.
“Ayah
nggak usah bersikap baik sama dia!” pinta Yuna. “Nggak lama, sifat aslinya dia
bakal keluar.”
Melan
sangat kesal mendapat sambutan buruk dari Yuna. Ia memaksa bibirnya untuk
tersenyum demi mengambil perhatian semua orang.
“Kak
Adjie, sebenarnya aku ke sini karena ada perlu sama Yuna dan suaminya. Tadi,
aku sudah ke rumah mereka. Pembantu mereka bilang kalau mereka ada di sini.
Jadi, aku langsung nyusul ke sini.”
“Kenapa
Tante cari aku? Mau pura-pura minta maaf, terus jebak aku lagi?” tanya Yuna
ketus.
Melan
langsung membelalakkan matanya. Sikap dan perkataan Yuna berhasil menyulut
emosinya dengan mudah. “Yun, Tante ke sini dengan niat baik. Kenapa kamu malah
bersikap buruk sama Tante dan menuduh Tante sembarangan!”
“Tante
lupa kapan terakhir kali minta maaf sama aku?” tanya Yuna ketus. “Tante hampir
aja bikin aku masuk penjara!”
Melan
terdiam. “Tante tahu, itu semua memang kesalahan Bellina. Makanya, hari ini
Tante datang untuk minta maaf atas nama Bellina.”
“Minta
maaf? Kemarin Oom, sekarang Tante. Kalo emang mau minta maaf, kenapa nggak
Bellina yang datang sendiri ke sini?”
“Yun,
Bellina itu masih sangat muda. Emosinya tidak stabil. Dia nggak mikir dulu
kalau ngomong. Tante harap, kalian bisa memaklumi dan memaafkan Bellina.”
“Masih
sangat muda? Oh ya? Bellina lahir seminggu lebih dulu daripada aku. Walau dalam
urutan keluarga dia masih adikku. Usia dia hampir sama, sama aku. Apa cuma dia
yang bisa ditolerir kesalahannya, sementara aku nggak?” sahut Yuna kesal.
“Kamu!?”
Melan mulai geram dengan pertanyaan-pertanyaan Yuna. Bukan, itu bukan
pertanyaan, tapi serangan untuknya. Ia menatap Yeriko yang hanya tersenyum lima
puluh persen.Sementara, Adjie hanya mendengarkan ucapan puterinya tanpa ada
keinginan untuk mencegahnya.
Yuna
tersenyum menatap Melan. Banyak hal yang sudah ia lalui. Semuanya membuat
Yuna merasa kalau Melan dan keluarganya itu tidak akan pernah tulus meminta
maaf kepada dirinya.
“Yuna,
Tante bener-bener minta maaf atas semua kesalahan yang dilakukan Bellina. Tuan
Ye, tolong maafkan kami dan lepaskan Bellina!” pinta Melan. Ia bangkit dari
sofa sambil membungkukkan badannya di hadapan Yuna dan Yeriko.
Yuna
tersenyum sinis. Ia sangat mengetahui sifat tantenya. Ia tidak mungkin
membungkuk dan berlutut di depan orang lain hanya untuk meminta maaf atas
kesalahannya sendiri. Gengsi tantenya itu terlalu besar. Jika ia melakukannya
dengan mudah, sudah pasti ada maksud tertentu di baliknya.
“Tante
akan menjamin kalau Bellina tidak akan melakukan kesalahan dan mengganggu hidup
kalian lagi. Tante mohon, maafkan dan lepaskan Bellina!”
Yuna
menoleh ke arah Yeriko yang berdiri di sampingnya. Ia tidak tahu apa yang telah
diperbuat suaminya hingga membuat tantenya datang untuk meminta maaf.
Membungkuk di hadapannya tanpa diminta.
Yeriko
menggelengkan kepala.
Melan
melebarkan matanya menatap Yeriko. “Yeriko, kita masih keluarga. Tolong berikan
maaf untuk Bellina dan lepaskan dia!” pinta Melan.
“Bellina
bersalah sama istriku. Yang berhak memberikan maaf cuma Yuna. Yang seharusnya
meminta maaf juga Bellina. Kalau dia memang ingin mengakui kesalahannya,” tegas
Yeriko.
“Yer,
Bellina masih sangat muda. Dia butuh masa depan yang baik. Tolong, jangan
hancurkan hidup dia! Tante mohon sekali lagi, maafkan dan lepaskan dia!”
Yeriko
tersenyum sinis. “Aku nggak akan ngelepasin dia sekalipun dia berlutut di
hadapanku saat ini!”
Melan
menatap wajah Yuna dan Yeriko penuh kebencian. Ia sudah berkorban merendahkan
dirinya sendiri, namun tetap saja mendapatkan penolakan. Ia merasa kalau
pengorbanannya sia-sia saja.
“Oke,
kalau kalian emang nggak mau memaafkan dan melepaskan Bellina. Aku bakal
ngelawan kalian sampai titik darah penghabisan!” tutur Melan kesal.
Yeriko
tertawa kecil. “Tante nggak perlu melawan kami. Kami nggak akan menyentuh
kalian sejengkal pun dan nggak butuh perlawanan dari kalian!”
Melan
menatap sengit ke arah Yeriko. “Hentikan ancaman-ancaman kamu ke Bellina!”
pintanya.
“Ancaman
apa?”
“Kamu
yang ngirim rekaman-rekaman itu ke keluarga Wijaya untuk menghancurkan Bellina
‘kan?”
“Rekaman
apa?” tanya Yeriko santai.
“Rekaman
soal kejahatan Bellina.”
“Hahaha.”
Yuna tergelak mendengar ucapan Melan.
“Kenapa
kamu ketawa?” Melan mendelik ke arah Yuna.
“Tante
mengakui kalau Bellina sudah melakukan kejahatan?”
“Kamu!?”
Yuna
tertawa kecil. “Tante, Bellina yang udah ngebunuh anaknya sendiri. Dia sengaja
manfaatin aku buat menutupi kesalahan dan kejahatan dia selama ini. Aku dituduh
sebagai pembunuh. Melakukan perbuatan keji yang nggak pernah aku lakukan. Tante
pikir, kami akan ngelepasin Bellina gitu aja?”
“Jadi,
selama ini kamu sudah bersikap tidak adil terhadap anak saya?” tanya Adjie
sambil menatap Melan. “Saya sudah salah menilai kalian. Saya tidak bisa
membayangkan bagaimana hari-hari anak saya saat tinggal bersama kalian.”
“Kak
Adjie, ini nggak seperti yang dia katakan. Semua ini cuma salah paham,” tutur
Melan.
“Di
saat seperti ini, Tante masih aja berbohong untuk membela diri sendiri.” Yuna
tersenyum ke arah Melan. “Aku jadi pengen tahu, gimana reaksi keluarga Wijaya
kalau tahu, mereka sedang dipermainkan.”
Melan
membelalakkan matanya menatap Yuna.
“Kenapa,
Tante?” tanya Yuna menghadapi tatapan Melan. “Takut kalau Bellina dibuang dari
keluarga Wijaya?”
“Kalian!?
Berani-beraninya mengancam kami!?” seru Melan makin kesal.
Yuna
tersenyum kecil. “Suatu saat, Bellina akan menyadari kalau dia cuma dijadikan
alat untuk mendapatkan banyak uang. Aku masih nggak ngerti kenapa ada seorang
ibu yang tega menjual harga diri anaknya sendiri.”
“Kamu
jangan ngomong sembarangan ya!” sentak Melan.
“Aku
nggak ngomong sembarangan. Yeriko saksinya. Tante yang udah jual aku ke
direktur tua bangka itu. Tante nggak ada bedanya sama germo.”
Adjie
membelalakkan matanya mendengar ucapan Yuna. Ia kini mulai mengerti bagaimana
adik iparnya itu memperlakukan Yuna dengan keji. “Kamu tega menjual anak saya
demi uang!?” sentak Adjie.
Tubuh
Melan gemetaran mendapati bentakkan dari Adjie. Ia hanya menundukkan kepala.
Mulutnya bergetar seolah berada dalam ruang pendingin bersuhu minus lima
derajat.
“JAWAB
SAYA!” sentak Adjie.
Melan
meremas jemari tangannya sendiri. “Ka ... ka ... karena ... kami butuh uang
banyak untuk biaya pengobatan kamu.”
Tubuh
Adjie melemas mendengar ucapan Melan. Ia menoleh ke arah Yuna yang duduk di
sampingnya. Begitu banyak penderitaan yang dihadapi puterinya. Keluarga
satu-satunya yang ia percaya akan selalu mengayomi puterinya, justru menjadi
sebilah pisau yang terus menerus melukai Yuna.
“Mel,
aku udah kasih semua yang kalian mau!” seru Adjie menitikan air mata. “Saham
perusahaan sudah ada di tangan kalian. Bahkan, Yuna juga seharusnya menjadi
pemilik saham di perusahaan itu. Kenapa kalian memperlakukan anakku dengan
tidak adil setelah apa yang kalian dapatkan?”
Melan
terdiam. Ia tak bisa berkata-kata. Ia sangat tahu bagaimana saham Adjie
berpindah seluruhnya ke tangan suaminya.
Adjie
meratap pilu. Ia merasa hatinya sangat sakit saat mengetahui kalau selama ini
puterinya mendapatkan begitu banyak penderitaan.
Yuna
sangat kesal karena Melan membuat perasaan ayahnya sangat buruk. Ia bangkit dan
bergegas menuju dapur.
Melan
menarik napas dalam-dalam. “Tolong maafkan kami dan lepaskan Bellina!” pintanya
lagi.
Yuna
kembali menghampiri Melan sambil tersenyum lebar. Di tangannya masing-masing
memegang cangkir berisi air.
Melan
menatap wajah Yuna, ia balas tersenyum pada Yuna yang berdiri tak jauh di
hadapannya. Ia berpikir kalau Yuna akan memaafkan dan melepaskan puterinya. Ia
memperbaiki posisi duduknya dan siap meminta maaf kembali pada Yuna.
“Tante,
lebih baik pergi dari sini!” seru Yuna sambil menyiramkan air dingin yang ada
di tangannya ke wajah Melan.
Melan
langsung membuka mulutnya lebar-lebar saat air dingin membasahi kepala dan
gaunnya yang terlihat mahal. “Kamu!?” Ia mendelik kesal ke arah Yuna.
Yuna
tersenyum kecil. Ia masih memegang satu cangkir di tangannya.
Melan
menyadari kalau Yuna membawa air panas dalam cangkir tersebut, sebab asap masih
mengepul di atasnya.
Yuna
langsung melayangkan tangannya ke arah Melan. Membuat Melan spontan melindungi
wajah menggunakan tangannya.
“Kalo
nggak pergi sekarang juga, aku bakal siram air yang lebih banyak lagi!” sentak
Yuna.
Melan
meringis saat melihat lengannya memerah terkena cipratan air panas yang disiramkan oleh Yuna. Ia meraih tas
tangannya dan bangkit dari sofa.
Tatapan
Adjie dan Yeriko, membuat dirinya sangat ketakutan. Ia berlari keluar dari
rumah aji dengan tubuh gemetaran. Ia tak menyangka kalau Yuna berani
menyerangnya.
((Bersambung ...))
Terima kasih
sudah baca sampai di sini. Dukung terus cerita ini biar aku makin semangat
bikin cerita yang lebih seru lagi.
Much love,
@vellanine.tjahjadi

0 komentar:
Post a Comment