“Kak Dela ...!” panggil
Randi saat Delana sudah selesai mengajar.
“Ya.”
“Udah mau pulang?”
tanya Randi.
Delana menganggukkan
kepala sambil tersenyum.
“Aku punya sesuatu buat
Kakak,” tutur Randi.
“Eh!? Apaan?” tanya
Delana penasaran.
Randi membisikkan
sesuatu ke telinga Delana.
Delana melihat jam yang
ada di tangannya. “Udah malam, besok aja gimana?” tanya Delana.
“Mmh ... “ Randi
melirik langit-langit ruangan. “Boleh, deh. Ketemuan aja, gimana?” tanya Randi.
“Boleh. Di mana?” tanya
Delana.
“Enaknya di mana, Kak?”
Delana mengetuk-ngetuk
dagunya. “Di kafe aja, gimana?”
“Kafe mana?”
“Di Gade Coffee,
gimana?”
“Oke. Jam berapa, Kak?”
tanya Randi.
“Jam empat sore, bisa?”
tanya Delana balik.
Randi menganggukkan
kepala sambil tersenyum.
“Ya udah, Kakak pulang
dulu, ya!” pamit Delana.
Randi menganggukkan
kepala dan mengikuti langkah Delana keluar dari gedung. Mereka melangkah
bersama-sama di parkiran.
Delana menghentikan
langkahnya saat melihat Chilton sedang memakai helm dan sudah duduk di atas
motornya.
“Kenapa, Kak?” tanya
Randi. Ia sendiri menyadari kalau Delana berusaha menghindar dari Chilton.
“Nggak papa,” jawab
Delana.
Randi langsung
menggandeng tangan Delana.
“Apaan sih, Ran!?”
dengus Delana.
Randi hanya tersenyum
sambil menatap ke arah Chilton. Ia tahu kalau Chilton akan lebih kacau ketika
melihat Delana bersama cowok lain. Apalagi, ia masih sangat muda dan tampan.
Punya potensi besar membuat Chilton cemburu.
“Kita lihat reaksinya
dia!” bisik Randi di telinga Delana.
Chilton terperangah
melihat Randi dan Delana yang melintas di depannya. Ia merapatkan gigi-giginya menahan emosi.
Chilton menghela napas dan meninju pahanya sendiri. Ia langsung menyalakan
mesin motor dan mengopel keras-keras. Ia langsung melajukan sepeda motornya
keluar dari tempat les.
Satu hal yang sulit
dilakukan oleh Chilton adalah mengendalikan perasaannya setiap kali melihat
Delana bersama cowok lain. “Gila! Sekarang malah deketin muridnya sendiri!”
gerutu Chilton dengan wajah kesal.
Chilton tidak kembali
ke asrama. Saat ini perasaannya sedang kacau dan ia memilih pulang ke rumahnya
karena lebih dekat dengan tempat ia mengajar.
Sesampainya di rumah,
Chilton langsung memarkirkan sepeda motornya. Ia menendang pot bunga yang ia
lewati dan langsung masuk ke dalam rumah.
“Kamu kenapa?” tanya
Astria yang kebetulan sedang berada di dalam rumah.
Chilton tidak menjawab.
Ia langsung masuk ke dapur, mengambil beberapa botol bir.
Astria memerhatikan
anaknya yang terlihat begitu kacau. Ia masih tidak mengerti apa masalah yang
sedang dihadapi oleh Chilton. Ia merasa, kalau Chilton tak seperti biasanya. Ia
tak pernah terlihat sekacau ini.
Chilton tak
menghiraukan pertanyaan mamanya. Ia juga tidak peduli dengan mamanya yang terus
memerhatikan gerak-geriknya. Ia langsung naik ke lantai dua rumahnya. Bukannya
masuk ke dalam kamar, ia memilih berada di balkon rumah. Ia duduk di lantai
sambil menatap pagar balkon.
Di hadapannya,
tergambar jelas saat Delana tertawa bahagia sambil menikmati bintang-bintang
bersamanya. Ia juga merasa bahagia berdiri di tempat ini untuk pertama kalinya.
Delana, berhasil membuat harinya kacau.
Chilton menghela napas.
Ia membuka botol bir dan menegaknya perlahan. Ia merogoh saku celana dan
mengambil ponsel. Ia langsung mencari kontak Ratu dan meneleponnya.
“Halo, Sayang!” sapa
Ratu begitu panggilan teleponnya tersambung.
“Halo!” balas Chilton.
“Tumben telepon
malam-malam gini? Tadi, jadi ngajar?” tanya Ratu.
“Iya.”
“Sekarang di mana? Udah
di asrama? Cari makan, yuk!” ajak Ratu.
“Aku nggak di asrama.”
“Di mana?”
“Di rumah temen.”
“Oh. Mau nginap di
sana?” tanya Ratu.
“Iya.”
“Ada acara, ya?”
“Iya.”
“Kok, sepi?”
“Mereka di bawah. Aku
mau nelpon kamu dulu.”
“Ya ampun, kalo lagi
sibuk, chat aja kan bisa,” tutur Ratu.
“Nggak papa. Pengen
denger suara kamu.”
“Makasih sayang. Kangen, ya?” tanya Ratu ceria.
Chilton tertawa kecil.
“Seharian ini ke mana?” tanya Chilton.
“Nggak ke mana-mana.
Kan hari ini jadwal aku latihan nari. Cuma ke tempat latihan doang,” jawab
Ratu.
“Oh.”
“Kenapa? Tumben
nanyain?” tanya Ratu.
“Nggak papa. Jangan
tidur malam-malam, ya!” pinta Chilton.
“Iya, Sayang.”
“Ya udah. Bye!”
“Bye! I Love you ...”
ucap Ratu dengan nada manis.
“I Love you too,” sahut
Chilton. Ia langsung mematikan sambungan teleponnya.
Chilton meletakkan
ponsel di sampingnya. Ucapan Delana masih terngiang-ngiang di pikirannya.
Delana sempat mempermainkan perasaannya, bahkan perasaan cowok lain sebelumnya.
Ia memilih menolak Delana karena sifatnya yang suka mempermainkan perasaan
cowok.
Tapi, hari ini Delana
muncul dan mengatakan kalau Ratu hanya mempermainkannya saja? Ia sungguh tak
percaya karena selama ini sikap Ratu begitu baik dan manis padanya. Siapakah
yang seharusnya ia percaya?
“Aargh ...!” teriak
Chilton sambil membenturkan kepalanya ke dinding. Ia kembali menenggak bir yang
ada di tangannya. Kata-kata Delana terus terngiang-ngiang di telinganya. Ia
sendiri tidak tahu harus berbuat apa dengan hubungannya saat ini. Ia tidak
mungkin percaya pada Delana begitu saja.
“Del, kenapa sih kamu
selalu bikin pikiranku kacau?” gumam Chilton. Ia terus menenggak bir yang ada
di tangannya sampai habis. Ia membuka lagi botol bir yang lain dan
menenggaknya.
“Kamu bikin aku jadi
laki-laki yang ngerasa paling bahagia di dunia. Tapi kamu juga yang bikin aku
kecewa dan sakit hati. Kenapa sih kamu dengan mudahnya deket sama cowok lain?
Gonta-ganti cowok sesukamu. Kenapa kamu tega banget mainin perasaanku?” tanya
Chilton pada angin malam yang menemaninya.
“Saat aku udah hampir
berhasil ngelupain kamu. Kamu malah datang lagi dan bilang kalo kamu cinta sama
aku. Tapi setelah kamu bilang cinta, kamu dengan mudahnya gandengan tangan sama
Randi. Murid kamu sendiri, Del!?” seru Chilton. Ia mulai berbicara banyak
karena terlalu banyak minum bir.
“Jangan bikin aku kayak
gini, Del! Aku nggak bisa baca hatimu. Kalo kamu emang cinta, kenapa kamu bisa
jalan sama cowok lain?” Chilton menjatuhkan kepalanya ke lantai. “Aku udah
berusaha benci kamu dan aku gagal,” bisik Chilton pada lantai yang membisu.
Chilton menjambak
rambutnya kuat-kuat. Ia sendiri masih tidak paham kenapa ia merasakan cemburu
dan sakit hati setiap kali melihat Delana bersama cowok lain. Berbeda ketika ia
melihat Ratu, pacarnya sendiri dekat dengan mahasiswa lain.
“Chil, kamu kenapa?”
tanya Astria begitu melihat anak laki-lakinya tergeletak di lantai balkon.
Chilton memicingkan
mata menatap perempuan yang ada di depannya. Ia terkejut karena Delana
tiba-tiba ada di depan matanya. “Kamu kok bisa di sini?” tanya Chilton. Ia
mengangkat tubuhnya menatap wanita yang ada di depannya.
“Ini Mama!” Astria
menggoyang-goyangkan tubuh Chilton.
Chilton mengerjapkan
matanya. Perlahan-lahan wajah Delana berubah menjadi wajah mamanya. “Mama?”
“Kamu kenapa?” tanya
Astria.
“Nggak papa,” jawab
Chilton sambil menggelengkan kepala.
“Masalah perempuan?”
tanya Astria sambil menangkup wajah Chilton dengan telapak tangannya.
Chilton menggeleng
perlahan.
“Cerita sama Mama! Mama
dengar apa yang kamu omongin sejak tadi.”
Chilton menundukkan
kepalanya. Ia menertawakan dirinya sendiri.
“Ada cewek yang nolak
cintanya anak Mama?” tanya Astria.
Chilton menganggukkan
kepala. “Aku yang nolak dia,” jawabnya sambil tertawa kecil.
“Aku yang nolak dia,
Ma!” teriak Chilton sambil tertawa. Ia masih berada di bawah pengaruh alkohol
dan membuatnya bicara sesukanya.
“Aku nolak dia. Aku
pacaran sama cewek lain. Tapi, aku selalu cemburu setiap lihat dia jalan sama
cowok lain. Aku egois kan, Ma?” tanya Chilton sambil menertawakan dirinya
sendiri.
“Aku pengen dia cuma
buat aku. Aku nggak mau dia suka sama cowok lain. Aku jahat! Aku udah nolak
dia. Aku pacaran sama cewek lain. Aku udah nyakitin dia berkali-kali. Aku
egois, jahat!” cerocos Chilton sambil mengacak rambutnya yang sudah berantakan.
“Kamu lagi mabuk.
Sebaiknya kamu masuk ke kamar!” pinta Astria.
“Aku nggak mabuk!” seru
Chilton. Ia kembali mengambil botol bir dan menenggaknya.
Astria menatap lima
buah botol bir yang sudah kosong. Anaknya terlihat sangat kacau karena seorang
wanita. “Udah minumnya!” pinta Astria, ia merebut botol bir dari tangan
Chilton.
Astria mengangkat tubuh
anaknya dan menyeretnya masuk ke dalam kamar. Astria membiarkan Chilton terus
mengigau tak jelas tentang perempuan yang telah membuat harinya kacau.
Untuk pertama kali
Astria melihat anaknya begitu kacau. Ia ingin sekali bisa membantu, tapi ia
sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menatap wajah anaknya yang
sudah tertidur pulas di atas ranjangnya
***
Delana memenuhi
janjinya untuk bertemu dengan Randi di Gade Coffee. Jam empat lewat lima belas
menit, Delana baru sampai di Gade Coffee. Ia langsung menghampiri Randi yang
sudah menunggunya.
“Sorry, Kakak telat.
Udah nunggu dari tadi?” tanya Delana.
Randi tersenyum sambil
menggelengkan kepala. “Kalau nunggu Kakak, sampai tua di sini juga aku rela.”
“Gombal!” dengus
Delana.
Randi tertawa kecil.
“Kak Dela mau minum apa?” tanya Randi.
“Capucino aja!”
Randi langsung memesan
minuman yang dimaksud oleh Delana.
“Mau ngomonin apa soal
Chilton?” tanya Delana berbisik.
Randi menoleh ke kanan
dan ke kiri. Semua orang yang ada di tempat itu tidak mereka kenal. Kenapa
Delana harus berbicara berbisik dengannya.
“Eh, cepet! Malah
tolah-toleh!” celetuk Delana sambil menepuk lengan Randi.
“Nggak usah bisik-bisik
juga. Kan Kak Chilton juga nggak ada di sini,” tutur Randi.
Delana menghela napas.
“Oke.” Ia menegakkan tubuhnya.
“Kak Dela ngerasa nggak
kalo Kak Chilton itu sayang sama Kak Dela?” tanya Randi.
“Eh!? Enggak mungkin.
Kamu tahu dari mana?”
“Dari sikapnya.”
Delana menggelengkan
kepala. “Kak Chilton itu udah punya pacar di kampus. Pacarnya cantik banget.
Jadi, nggak mungkin dia suka sama aku. Kamu nggak usah sok tahu!” tutur Delana.
“Punya pacar belum
tentu cinta kan?” tanya Randi.
“Ya cintalah. Kalo
nggak cinta, ngapain pacaran?” sergah Delana.
Randi tertawa kecil.
“Tapi, Kak Chilton selalu cemburu setiap kali lihat aku deket sama Kak Dela.”
“Mungkin karena kamu
lebih ganteng dan lebih muda,” bisik Delana sambil tertawa kecil.
Randi tergelak
mendengar ucapan Delana. “Kak Dela bisa aja.”
“Gimana Sarah?” tanya
Delana.
“Baik.”
“Udah jadian apa
belum?” tanya Delana.
“Mmh ... nanti aku
kabarin kalo udah jadian.”
“Yah, jangan lama-lama!
Keburu dia diambil sama orang lain!”
“Kayak Kak Dela sama
Kak Chilton?” tanya Randi sambil tersenyum kecil.
Delana mengerucutkan
bibirnya. “Kok, jadi Kakak lagi?”
“Lagian, aku ke sini
buat bahas Kak Chilton dan Kak Dela. Kenapa malah bahas aku sama Sarah? Pasti
mau ngalihin pembicaraan ya?”
Delana meringis
mendengar pertanyaan dari Randi.
“Kak Dela mau tahu
gimana caranya biar Kak Dela tahu kalo Kak Chilton itu sayang sama Kak Dela
atau enggak?”
“Eh!?”
Randi berbisik ke
telinga Delana.
“Serius? Nggak
berlebihan?” tanya Delana.
“Nggaklah.”
“Kalo dia salah paham
gimana?”
“Kalo dia marah,
berarti cinta sama Kak Dela.”
“Emang gitu?”
Randi menganggukkan
kepala.
“Kalo yang lain yang
salah paham, gimana?”
“Maksudnya?”
“Sarah?”
“Ah, gampang itu mah.
Dia udah aku kasih tahu soal misi ini.”
“Nggak papa?”
“Nggak papa. Kan cuma
pura-pura aja, Kak.”
“Berlebihan nggak sih?”
tanya Delana masih kurang yakin dengan ide yang ada di kepala Randi.
“Nggak. Yakin, deh!”
Delana tersenyum. “Oke,
deh. Kita coba!”
Randi balas tersenyum
menatap Delana. Mereka akhirnya menikmati secangkir kopi sambil bercengkarama
seputar siswa-siswi yang ada di tempat lesnya.
***
Rabu sore, Delana
berangkat ke tempat les seperti biasa. Kebetulan di hari ini juga bersamaan
dengan jadwal Chilton mengajar.
Delana bertemu dengan
Chilton di parkiran dan ia hanya tersenyum. Seperti apa pun Chilton menyakiti,
ia tak bisa membuat hatinya membenci cowok itu. Huft, sungguh payah!
“Del ...!” panggil
Chilton saat Delana sudah mau masuk ke dalam gedung.
Delana membalikkan
tubuhnya. Ia tersenyum menatap Chilton. “Ada apa?”
“Are you OK?”
“Kelihatannya?” tanya
Delana balik sambil menunjukkan dirinya sendiri dengan wajah ceria.
Chilton tersenyum
kecil. Ia masih tidak bisa memahami isi hati Delana yang begitu mudahnya
berubah. Kemarin mereka bertengkar hebat sampai Delana menangis. Tapi, hari ini
Delana bertingkah seolah-olah tidak terjadj apa-apa di antara mereka.
“Ada yang mau
diomongin?” tanya Delana.
“Eh!? Nggak ada,” jawab
Chilton sambil mengusap tengkuknya.
Delana tersenyum, ia
membalikkan tubuhnya dan berlalu meninggalkan Chilton. Delana langsung masuk ke
dalam kelasnya untuk mengajar, begitu juga dengan Chilton.
Seperti biasa, di sore
hari mereka akan mengajar anak-anak tingkat sekolah dasar. Sehingga,
murid-murid sekolah menengah belum berdatangan.
“Sore, adik-adik ...!”
sapa Delana begitu masuk ke dalam kelas.
“Sore, Kak Dela!” sahut
murid-muridnya serempak.
Delana tak banyak
basa-basi. Karena jam mengajarnya tidak banyak, ia langsung memberikan materi
kepada murid-muridnya.
Dua jam kemudian, waktu
mengajar Delana usai. Murid-murid sekolah menengah mulai berdatangan.
“Hai, Kak!” sapa Randi
dan Sarah yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas Delana.
“Astaga! Kalian
ngagetin aku aja!” celetuk Delana.
“Ngelamunin siapa
hayo?” tanya Sarah.
“Siapa lagi kalo bukan
guru ganteng yang di kelas sebelah,” sahut Randi sambil memainkan kedua
alisnya.
“Kalian ngomong apa
sih!?” celetuk Delana dengan wajah merona.
“Cie ... mukanya merah.
Malu nih yee ...” goda Randi.
“Eh, rencana kita
gimana?” tanya Sarah.
“Jadi, dong. Kamu yang
giring Pak Guru ganteng itu!” pinta Randi.
“Males, ah! Dia mah
cuek banget,” sahut Sarah.
Randi menghela napas.
Ia mengintip keluar kelas dan mendapati Chilton sedang menuju ke toilet.
“Sini, Kak!” Randi
langsung menarik Delana keluar dari kelas.
Delana menatap Sarah
yang masih berdiri di samping meja belajar. Sarah melambaikan tangan ke arah
Delana sambil tersenyum. “Good luck!” ucapnya tanpa mengeluarkan suara.
Delana tersenyum sambil
menganggukkan kepala. Ia dan Randi bergegas menyusuri koridor, mengikuti
langkah Chilton menuju toilet. Randi terus menerus mengajak Delana bercanda dan
membuat Delana terus menerus tertawa.
“Kak, Kakak tahu nggak
si Ilham?” tanya Randi pada Delana.
“Ilham? Yang mana ya?”
Delana berusaha mengingat-ingat.
“Yang gendut, pendek,
hitam, hidungnya lebar,” jelas Randi.
“Yang sering pake topi
warna merah itu?” tanya Delana.
“Iya.”
“Kenapa dia?”
“Kemarin dia nembak si
Sarah. Langsung ditolak mentah-mentah.”
“What!? Serius?” tanya
Delana menahan tawa. Ia membayangkan sosok Ilham yang sedang mengejar-ngejar
Sarah yang cantik jelita.
“Udah gitu dia maksa
Sarah harus nerima cintanya. Sampe dikejar-kejar tuh si Sarah. Sarahnya
teriak-teriak nggak karuan karena ketakutan,” tutur Randi sambil tertawa geli.
Delana ikut tertawa
mendengar cerita Randi.
Randi menghentikan
tawanya. Ia menatap wajah cantik Delana saat tertawa. Wajah cerianya
benar-benar membuatnya nyaman. Satu hal yang ingin ia lihat ialah wajah ceria
Delana yang telah menghilang sejak beberapa bulan lalu.
“Kalo aku yang
ngejar-ngejar Kak Dela, gimana?” tanya Randi.
“Hmm ... perlu
dipertimbangkan karena kamu cukup ganteng,” sahut Delana sambil tersenyum.
“Cukup ganteng? Aku ini
ganteng banget kali, Kak!” dengus Randi sambil menggelitik pinggang Delana.
Delana berlari
menghindari Randi sampai ia terpojok di sudut koridor, tepat di depan pintu
toilet. Ia menatap wajah Randi yang berada begitu dekat dengannya.
Randi menatap lekat
wajah Delana. Ia pikir, cuma laki-laki bodoh yang tidak menyukai Delana.
Gurunya itu begitu cantik natural. Bibirnya yang mungil dan merona membuat
Randi ingin mengulumnya perlahan.
Randi meletakkan satu
telapak tangannya di dinding, tepat di sebelah kepala Delana yang bersandar di
dinding. Dari ekor matanya, ia bisa melihat pintu toilet terbuka dan sosok
Chilton keluar dari sana. Randi langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Delana
dan berpura-pura ingin menciumnya.
“Kakak diam aja,” bisik
Randi sambil terus mendekatkan bibirnya ke bibir Delana perlahan.
“Apa-apaan ini!?”
sentak Chilton yang melihat adegan mesra antara guru dan murid itu.
“Chilton?” Delana
langsung mendorong tubuh Randi dan memperbaiki posisinya.
“Kalian itu main gila
di sini! Apa kalian pikir ini tempat mesum? Ini tempat belajar!” sentak
Chilton.
Delana dan Randi saling
pandang. Untungnya, tak ada satupun murid atau guru yang melihat kejadian ini
karena jam kosong pergantian murid dan guru les.
Chilton menarik lengan
Delana dan menyeretnya menuju balkon yang ada di lantai dua.
“Lepasin!” pinta Delana
karena Chilton menggenggamnya begitu erat.
Chilton melepas
genggaman tangan Delana.
Delana langsung
mengusap pergelangan tangannya yang memerah dan menahan perasaan kesal. Ia
tidak tahu kalau Chiltona kan semarah ini padanya.
Chilton menatap Delana
yang masih tertunduk sambil meniup pergelangan tangannya perlahan. Ia langsung
menarik kepala Delana dan mencium bibir Delana dengan paksa.
Delana terkejut dan
tidak tahu harus berbuat apa. Ia langsung memeberontak, mendorong tubuh Chilton
agar menjauhinya. “Kamu gila ya!” sentak Delana.
“Kamu lebih gila lagi!”
sahut Chilton. “Kamu main gila sama murid kamu sendiri.”
Delana merapatkan
bibirnya. “Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Randi.”
“Tapi aku tahu kalau
dia suka sama kamu,” sahut Chilton. “Aku heran sama kamu. Kenapa kamu deketin
semua cowok-cowok ganteng. Apa mereka semua juga udah nyium kamu?” teriak
Chilton.
Delana semakin kesal
mendengar kalimat yang keluar dari mulut Chilton. “Emangnya kenapa kalo dia
suka sama aku, hah!?” tanya Delana sambil menatap Chilton penuh amarah. “Apa
hak kamu marah-marah sama aku? Kita nggak ada hubungan apa-apa dan kamu nggak
punya hak buat ngelarang aku deket sama siapa aja.”
Chilton terdiam. Ia
memang tak bisa mengendalikan rasa cemburunya setiap kali bertemu dengan
Delana. Ia bahkan tidak mengerti kenapa tiba-tiba di dalam hatinya ada
keinginan yang begitu besar untuk mencium Delana.
“Kamu harus ingat kalau
kamu udah punya pacar,” tutur Delana perlahan.
Chilton menundukkan
kepalanya. Ia tak sanggup menatap wajah Delana.
Delana melangkah
mendekati Chilton dan menatap cowok itu. “Chil, apa kamu udah lupa? Kamu yang
nolak aku beberapa bulan yang lalu. Kamu yang bilang kalau kita cuma bisa
berteman aja. Aku ngehargai keputusan kamu itu. Walaupun rasanya sakit,” tutur
Delana dengan bibir bergetar.
“Aku nggak pernah
ganggu hubungan kamu sama Ratu. Aku tetap support hubungan kalian sampai
sekarang. Berhari-hari, berminggu-minggu aku sibuk menata perasaanku supaya aku
bisa terima kenyataan kalau kamu lebih bahagia sama cewek lain. Tapi, kenapa
kamu sekarang malah kayak gini?” tanya Delana dengan mata berkaca-kaca.
Chilton bergeming.
“Kamu lupa? Baru
kemarin kamu ngatain aku cewek murahan!” dengus Delana. “Apa bedanya sama kamu?
Kamu udah punya pacar dan masih bisa nyium cewek lain.”
“Kita udah sama-sama
dewasa. Beda ceritanya kalau kamu dicium sama Randi. Apa kata semua orang? Guru
dan murid punya skandal cinta di tempat kursus. Kamu bener-bener nggak mikir!”
seru Chilton.
Delana semakin kesal.
Ia tak ingin lagi mendengar kalimat apa pun keluar dari mulut Chilton. Ia
memilih pergi daripada terus berdebat dengan Chilton.
Chilton menendang
dinding yang ada di depannya begitu Delana pergi. Ia merasa sangat kesal karena
Delana terus-menerus membuatnya cemburu. Ia juga kesal dengan dirinya sendiri
karena tidak dapat mengendalikan emosi. Kenapa ia harus begitu marah melihat
Delana dekat dengan cowok lain?
Semua hal tentang
Delana membuat dirinya semakin kacau. Ia sulit sekali menyembunyikan
perasaannya.
Demi bisa membuat hidup
Delana tenang bersama cowok yang ia sukai. Ia akhirnya mengundurkan diri dari
tempat les. Ia merasa ini adalah pilihan terbaik. Ia tidak harus marah melihat
Delana berhubungan dengan muridnya sendiri. Delana juga bisa menjalani harinya
dengan bahagia. Ia tak punya hak sedikitpun untuk melarang Delana dekat dengan
cowok lain.
“Kak Dela ...!” panggil
Sarah begitu Delana sudah ada di parkiran untuk kembali ke rumahnya.
“Ya.” Delana langsung
menoleh ke arah Sarah.
“Aku denger-denger, Kak
Chilton resign dari sini,” tutur Sarah.
“Oh ya? Terus?”
“Kalian berantem hebat
di atas? Kenapa Kak Chilton sampe resign?” tanya Sarah.
Delana mengedikkan
bahunya. “Biar aja kalo dia mau resign.”
“Kak ...!” Sarah
menggenggam lengan Delana. “Rencana kita malah bikin hubungan kalian makin
berantakan. Kami ...”
Delana tersenyum sambil
mengusap punggung tangan Sarah. “Bukan salah kalian. Hubungan kami memang sudah
memburuk sejak beberapa bulan lalu. Lagipula, Kak Dela sudah bilang ke kalian
kalau Kak Chilton sudah punya pacar.”
“Tapi, Kak ...”
“Udah, nggak usah
ngerasa bersalah! Positif thinking aja! Bisa aja kan Kak Chilton resign karena
ada kerjaan baru atau mau fokus sama kuliahnya,” tutur Delana sambil tersenyum.
“Tapi, kayaknya nggak
mungkin. Idenya Randi keterlaluan ya Kak?” tutur Sarah dengan wajah bersalah.
Delana menggelengkan
kepala sambil tersenyum. “Nggak, kok. Kalian udah berhasil nunjukkin ke Kak
Dela, siapa dia yang sebenarnya. Makasih ya!” Delana mengusap pundak Sarah. Ia
tersenyum dan bergegas pulang ke rumahnya.
.png)
0 komentar:
Post a Comment