Wednesday, August 17, 2022

Bab 76 - Persiapan Pernikahan

 



Nanda menggandeng tangan Ayu sembari melangkah memasuki Chel’s Modista. Salah satu butik yang paling terkenal di kota Surabaya. Hari ini, ia sengaja membawa Ayu untuk memilih sendiri gaun pengantin yang akan mereka kenakan untuk acara pernikahan.

“Ay, kamu suka yang mana?” tanya Nanda sambil mengedarkan pandangannya. Menatap gaun-gaun pengantin yang terpajang indah di sana.

“Selamat sore, Mbak, Mas ...!” sapa seorang pegawai sambil menghampiri Nanda dan Ayu. “Ada yang bisa kami bantu? Mau pilih gaun pengantin yang seperti apa?”

Ayu tersenyum saat pegawai butik itu menyambutnya dengan ramah. “Mmh ... saya mau gaun yang sederhana aja. Nggak terlalu ramai dan ... nuansa budaya jawanya tetap terlihat meski gaunnya modern,” jawabnya.

“Oh. Silakan lihat di lorong sebelah  sini, Mbak!” Pegawai itu langsung menunjuk lorong yang ada di sayap kanan bangunana tersebut.

Ayu mengangguk dan segera mengikuti langkah pegawai tersebut. Ia mengedarkan pandangannya dan tersenyum menatap design gaun pengantin bernuansa moden yang dipadukan dengan motif tradisional, tapi tetap terlihat cantik dan elegan.

“Suka yang mana?” tanya Nanda sambil menatap wajah Ayu.

“Suka semuanya,” jawab Ayu sambil menahan senyumannya.

Nanda langsung menatap serius ke arah Ayu. “Di sini ada puluhan gaun dan kamu mau pakai semuanya? Mau resepsi setiap hari selama setahun?”

Ayu tertawa kecil. “Kapan malam pertamanya kalau resepsi mulu?”

“Eh!? Barusan kamu ngomong apa?” tanya Nanda sambil merangkul tubuh Ayu dan mengendus telinga wanita itu. “Udah centil, ya?” bisiknya.

Ayu tertawa kecil sambil menatap wajah Nanda yang menempel tepat di pipinya. “Kamu suka sama yang centil-centil ‘kan?”

Nanda tersenyum sambil menarik dagu Ayu dan mengecup lembut bibirnya.

“Lihat tempat! Main cium-cium aja!” dengus Ayu sambil melepaskan tubuh Nanda dan kembali melihat-lihat gaun pengantin yang akan ia kenakan.

“Mbak, aku suka model yang ini. But, motifnya bisa diganti pakai motif batik Solo?” tanya Ayu sambil menunjuk salah satu gaun warna putih yang dihiasi motif batik Borneo yang dibordir dengan benang warna keemasan di bagian bawahnya.  Juga dihiasi oleh kristal swarovski di bagian dada dan pinggangnya.

“Bisa banget, Mbak. Ini salah satu model favorite beberapa pengantin. Terlihat lebih bersih dan elegan. Cocok untuk hari pernikahan yang sakral. Akan saya catat dan sampaikan ke designernya. Ada lagi yang diminati?”

Ayu menggeleng. “Satu aja, Mbak. Mmh, budgetnya kira-kira berapa, ya?”

“Nggak terlalu mahal, kok. Yang ini cuma sekitar delapan puluh jutaan aja,” jawab pegawai itu sambil tersenyum manis.

Ayu mengangguk dan tersenyum lega. Meski Nanda sanggup membayar gaun pengantin itu, tapi ia juga tidak ingin memberatkan pria itu karena ia tahu kalau kondisi keuangan Nanda tidak begitu baik. Hanya mengandalkan harta dari orang tua karena saat ini ia harus memulai semuanya dari nol. Jika ia memilih gaun yang lebih mahal lagi, Nanda mungkin akan membatalkan pernikahan mereka karena menganggap Ayu terlalu materialistis.

“Kamu mau pilih setelan jas yang mana?” tanya Ayu sambil menatap wajah Nanda.

“Apa pun yang kamu pilih, aku ikut aja,” jawab Nanda sambil memainkan ponselnya.

“Kamu ngapain, sih!?” Ayu langsung menyambar ponsel Nanda dan melihat game online yang sedang dimainkan oleh pria itu. “NANDA ...! Yang mau nikah itu kita berdua. Kenapa yang mikir cuma aku doang!?” serunya protes.

“Aku udah kasih modal, Ay. Kamu pilih aja mana yang kamu suka. Aku nggak ngerti beginian,” sahut Nanda sambil menarik kembali ponselnya dari tangan Ayu.

Ayu mendengus kesal sambil melipat kedua tangannya di depan dada. “Ya udah, nggak usah nikah. Kalau cuma aku yang mikir, mending aku nikah sama tiang listrik.”

Nanda langsung mematikan ponsel dan menyimpan di saku jasnya. “Jangan ngambek, dong!”

“Pulang aja, deh!” ucap Ayu menahan kesal sambil melangkahkan kakinya.

“Jangan, Ay! Belum selesai, kan?” Nanda langsung menghadang langkah kaki Ayu.

“Kalau udah tahu belum selesai, kamu jangan main game, dong! Apa susahnya sih diskusi bareng? Aku nggak suka kalau cowok itu ngomong ikut aja – ikut aja! Ngeselin tahu, nggak!?” sahut Ayu.

“Hehehe. Iya, iya.” Nanda langsung merangkul tubuh Ayu. “Pilih, deh! Kamu sukanya yang mana?”

“Aku udah pilih, Nanda! Tinggal cari baju untuk kamu. Kamu sukanya yang mana?” seru Ayu menahan kesal.

“Apa pun pilihan kamu, aku pasti suka, Ay. Kamu aja yang pilih, ya! Sesuaikan aja sama baju pengantin kamu,” jawab Nanda sambil menatap wajah Ayu.

“Ntar kamu nggak suka, Nan. Kalau warnanya putih juga, bagus atau nggak, sih? Kayak gimana gitu, ya?”

“Yang ini aja, deh!” Nanda menunjuk salah satu jas berwarna cream dengan lis cokelat keemasan.

Ayu mengangguk. “Oke. Ambil yang ini aja.”

Nanda tersenyum sambil menatap Ayu yang sedang berbincang dengan pegawai butik tersebut. Hal sederhana yang kerap dipermasalahkan oleh wanita hanyalah ketika pria mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Meski jawaban sama dari pertanyaan sama, akan menjadi berbeda saat moment-nya pun berbeda. Mood wanita memang mudah berubah, bahkan hanya karena hal sepele saja.

 

 

Di saat bersamaan ...

Nia tersenyum lebar saat melihat kotak seserahan dan mahar pernikahan untuk puteranya sudah tersusun rapi dan cantik di ruang keluarga. Ia menoleh pada Yuna, Icha dan Mira, sahabat sejak masih muda dan kini ikut membantunya mempersiapkan pernikahan puteranya.

“Makasih ya, kalian udah repot-repot bantu aku mempersiapkan ini semua,” ucap Nia sambil tersenyum manis.

“Nggak papa, kami senang karena bisa membantumu. Pernikahan sebelumnya, kamu tidak melibatkan kami,” ucap Yuna sambil menatap wajah Nia.

“Tapi ... aku nggak bisa ikut ke Solo, Nia. Pernikahan Nanda dan Roro Ayu akan digelar di Solo? Beneran nggak bikin resepsi di Surabaya juga?” tanya Mira sambil menatap wajah Nia.

Nia menggelengkan kepala. “Cukup di sana aja, Mir. Kesehatanku juga nggak sebaik dulu. Kalau harus gelar resepsi lagi, aku nggak mampu.”

“Kamu beneran nggak dateng, Mir? Nggak penasaran sama pernikahan ala keraton?” tanya Icha.

“Lumayan penasaran. But, aku tetep nggak bisa datang karena bertepatan dengan upacara kematian suamiku, Cha,” jawab Mira. “Eh, si Ayu kenapa pesen gaun modern mix tradisional gitu? Di keraton, nggak harus pakai baju khas sana, ya?” tanya Mira.

“Pakai. Mungkin, ada beberapa yang sudah disiapkan sama keraton dan dia menginginkan gaun khusus untuk dia sendiri.”

“Oh. I see.” Mira mengangguk-anggukkan tanda mengerti.

Yuna tersenyum sambil duduk kembali di sisi Nia. “Kalau ada almarhumah Jenny, dia pasti yang paling bersemangat menyiapkan pernikahan anak-anak kita,” ucapnya. Ia selalu tersenyum sambil menitikan air mata saat teringat pada salah satu sahabat mereka yang harus pergi lebih dahulu.

Nia tersenyum sambil mengelus lembut pundak Yuna. Dari mereka semua, Yuna dan Jheni adalah sahabat yang berteman paling lama karena teman sejak kecil. Sedang ia adalah wanita paling terakhir yang dekat dengan mereka karena hubungannya dengan Andre. Ia merasa sangat bahagia karena mendapatkan dunia baru. Meski terkadang, Andre lebih banyak menghindari interaksinya dengan Yuna. Walau bagaimana pun, suaminya itu pernah menjadi pria yang begitu mencintai Yuna. Jika tidak ada Yeriko yang begitu kuat, mungkin Yuna akan bersanding dengan suaminya.

Nia kembali melanjutkan menyiapkan keperluan pernikahan Nanda bersama dengan teman-teman lamanya sambil bercanda tawa bahagia. Ia harap, pernikahan puteranya kali ini mendapat restu dari langit dan kehidupan rumah tangganya bisa bahagia.

 

 

((Bersambung...))

 

 

 

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas