Wednesday, August 17, 2022

Bab 65 - Sulit Bertemu

 


“Ay, kamu kenapa?” seru Nanda saat Ayu malah masuk ke dalam keraton tersebut dan menutup rapat pintu megah yang ada di hadapannya.

“Maaf, Mas! Ndoro Puteri tidak ingin bertemu dengan sampeyan. Silakan pergi dari sini!” pinta salah satu penjaga sambil menghunuskan pedang ke leher Nanda. “Dia memberi izin pada kami untuk membunuh Anda jika tetap memaksa masuk ke keraton kami.”

Nanda memundurkan kepalanya saat mata pedang itu berada tepat beberapa senti dari lehernya.

“Nan, istri kamu kenapa? Kenapa anak buahnya nyerang kamu?” Karina langsung menarik tubuh Nanda agar tidak terkena hunusan pedang dari pengawal keraton tersebut.

Nanda menggelengkan kepala. “Nggak tahu, Rin.”

“Apa karena aku?” tanya Karina.

Nanda menggelengkan kepala. “Dia bukan perempuan yang seperti itu,” ucapnya sambil mengedarkan pandangannya dan melangkah menyusuri pagar istana yang berdiri kokoh dan megah.

“Mbak ...! Mbak ...!” Nanda langsung berlari menghampiri pelayan keraton yang baru saja keluar dari dalam pintu khusus pelayan yang ada di bagian belakang istana tersebut.

“Ada apa?” tanya pelayan itu sambil mengerutkan dahi menatap Nanda.

“Hhh ... hhh ... hhh.” Nanda terdiam sejenak sambil mengatur napasnya yang tersengal. “Bisa panggilkan pelayan istana puteri mahkota yang namanya Sri?”

“Sampeyan siapanya Sri?” tanya pelayan itu.

“Saudara sepupunya,” jawab Nanda.

“Oh. Sebentar, Mas.”

Nanda mengangguk.

Pelayan itu berbalik dan melangkah menuju pintu khusus pelayan. Tapi pintu mungil itu sudah terbuka lebih dahulu dan Sri keluar dari sana sembari membawa keranjang di tangannya.

“Sri, ada yang cari kamu. Katanya, saudaramu,” ucap pelayan yang tadi sambil menatap wajah Sri.

Sri langsung menatap wajah Nanda dengan tatapan tak bersahabat. “Dia bukan saudaraku, aku nggak kenal,” ucapnya dengan dialek Jawa yang begitu kental. Ia langsung melangkah pergi begitu saja dan tidak menghiraukan keberadaan Nanda.

“Hei, dia siapa?” tanya Karina sambil menyenggol lengan Nanda.

“Pelayan pribadinya Roro Ayu,” jawab Nanda.

Karina menahan tawa mendengar jawaban Nanda. “Pelayan pun ikut ketus dan cuek sama kamu? Bener-bener cocok sama majikannya.” Ia menepuk tangan di depan wajah Nanda.

Nanda langsung menepis tangan Karina. “Nggak lucu!” ucapnya kesal.

Karina tertawa sambil merangkul tubuh Nanda. “Eh, perjalanan Surabaya-Surakarta cukup menghabiskan energi. Kamu belum ajak aku makan. Aku laper banget, Nan. Kita makan dulu, gimana? Kalau laper, nggak bisa mikir. Setelah isi perut, barulah kita pikirkan cara untuk masuk ke keraton ini.”

Nanda menghela napas. “Sepertinya memang harus begitu. Aku juga laper.”

“Oke. Kita cari makan di dekat sini. Enaknya makan apa, ya?”

“Aku pengen makan orang, Rin.”

“Hahaha.” Karina menoyor kepala Nanda. Ia langsung merangkul lengan pria itu sambil melenggang ceria mencari tempat makanan enak di sekitar keraton tersebut.

 

...

Karina tersenyum lebar setelah ia menikmati beberapa makanan enak yang ia pesan di salah satu kedai seafood sekitaran keraton tersebut.

“Mmh ... ini enak banget!” seru Karina sambil menghisap jemari-jemari tangannya.

Nanda tersenyum sambil menatap wajah Karina. “Kamu belum punya ide buat masuk ke keraton itu?”

“Mmh, bentar. Aku telepon papaku dulu. Kayaknya, dia pernah punya kerjasama bisnis sama pihak keraton. Kita bisa masuk ke keraton itu untuk hubungan bisnis,” jawab Karina sambil menggeser ponselnya dan mencari kontak papanya.

“Halo, Karina ...! Ada apa?”

“Pa, aku mau tanya ... mmh, perusahaan papa ada hubungan bisnis sama keraton Surakarta atau nggak, ya?”

“Ada. Kenapa?”

“Aku bisa minta datanya, Pa? Kebetulan aku lagi di Solo, siapa tahu bisa bantu Papa untuk ngurus bisnis dengan keluarga bangsawan keraton,” tutur Karina sambil membasuh tangannya dan menyemprotkan hand sanitizer.

“Tumben kamu mau ngurus bisnis di luar kota?”

“Hehehe. Nggak papa, Pa. Pengen aja belajar pitching ke keluarga bangsawan itu. Sepertinya lebih menantang.”

“Baiklah. Akan Papa kirimkan datanya untukmu.”

“He-em. Cepet ya, Pa! Nggak pake lama!” seru Karina.

“Kamu ini ... kalau punya keinginan, nggak sabaran!”

“Kalau udah tahu, jangan lama-lama Papa Sayang!” pinta Karina.

“Tutup teleponnya supaya Papa bisa carikan file kerjasama itu secepatnya!”

“Oke.” Karina langsung menutup panggilan teleponnya.

“Gimana?” tanya Karina penuh harap.

“Santai. Jangan tergesa-gesa! Kita atur waktu untuk masuk ke dalam keraton itu. Karena ini udah terlalu sore, nggak pantas kalau membahas bisnis malam hari. Kita masuk ke tempat itu besok pagi.”

“Serius!?” tanya Nanda dengan mata berbinar. “Makasih, Rin!”

Karina mengangguk. “Kita cari hotel dulu untuk menginap. Kamu juga harus mempersiapkan dirimu dengan baik! Masuk ke tempat itu nggak mudah. Jadi, jangan sia-siakan pengorbananku. Harus berhasil membujuk istri tercintamu itu.”

Nanda menganggukkan kepala. “Mmh ... aku nggak bawa baju ganti, Rin. Bisa pinjam uangmu dulu buat beli baju ganti?”

Karina tertawa kecil sambil menatap Nanda. “Bisa banget. Istrimu itu kaya raya dan punya status sosial yang tinggi. Saat aku masuk ke keraton itu, aku akan kasih semua tagihanmu ke dia.”

“Jangan, Rin!” pinta Nanda sambil menatap serius ke arah Karina. “Jangan bikin aku malu, dong!”

“Malu kenapa? Karena sekarang jadi pria payah?” tanya Karina sambil menatap wajah Nanda.

“Jangan tunjukkan kepayahanku di depan Roro Ayu, dong! Kamu ngomong yang baik-baik aja tentang aku! Kalau kamu ngomong macem-macem, dia bisa makin menghindar dari aku, Rin. Kamu tahu, perempuan itu yang paling susah aku hadapi. Nggak tahu maunya apa, nggak bisa ditebak juga,” cerocos Nanda.

Karina mengangguk-anggukkan kepala. “Baiklah. Aku akan bicarakan yang baik-baik tentang kamu. Tapi, tarifnya beda ya!”

“Kamu mata duitan, ya!?” dengus Nanda.

“Hahaha.” Karina terus tertawa dan bercanda sembari membicarakan beberapa bisnis yang sudah dikirim papanya untuk mereka bciarakan dengan pihak kesultanan.

 

...

Sementara itu, Ayu semakin mengurung dirinya di ruang perpustakaan karena ia kembali harus terluka. Ia benar-benar tidak menyangka jika Nanda datang ke keraton dengan membawa wanita lain, bukan karena ingin menjemput dirinya seperti yang pernah dijanjikan oleh pria itu.

Tok ... tok ... tok ...!

Ayu menoleh ke arah pintu yang diketuk. “AKU NGGAK MAU MAKAN APA PUN!” serunya.

“Ini aku. Mas Enggar.”

Ayu terdiam sambil menatap pintu perpustakaannya.

“Boleh masuk?” tanya Enggar lagi.

Ayu menghela napas. Ia bangkit dari tempat duduknya dan melangkah menuju pintu perpustakaan tersebut. “Masuklah!” perintahnya sambil membuka pintu.

Enggar tersenyum sambil melangkahkan kakinya memasuki perpustakaan tersebut. “Aku dengar, kamu sudah satu minggu mengurung diri di perpustakaan. Ada banyak tugas?”

Ayu menganggukkan kepala mendengar pertanyaan Enggar.

“Keningmu sudah terlalu banyak kerutan karena terlalu lama berpikir. Sudah lama kita tidak menari. Gimana kalau kita nari bareng?” ajak Enggar.

“Mmh ...”

“Ayolah!” ajak Enggar sambil menatap Ayu. “Sudah berlalu sangat lama. Kamu nggak lupa dengan gerakan-gerakan tari di sanggar ‘kan? Nggak rindu menari?”

Ayu tersenyum sambil menganggukkan kepala. “Boleh juga.”

“Kita menari di pendopo yang ada di kolam belakang. Suasananya nyaman dan penerangan di sana cukup bagus. Gimana?”

Ayu menganggukkan kepala sambil tersenyum manis. Ia segera melangkah keluar dari perpustakaan tersebut bersama Enggar. Ia pikir, menari juga bisa membuat suasana hatinya membaik dan tidak terus-menerus terisi sesak oleh Nanda yang kerap membuat suasana hatinya memburuk dalam sekejap. Enggar juga tidak begitu buruk. Berasal dari keluarga bangsawan dan selalu bersikap baik terhadapnya. Mungkin, ia bisa belajar membuka hati untuk orang lain agar ia tidak lagi terluka karena terikat begitu kuat dengan Nanda.

 

 

((Bersambung...))

 

Terima kasih sudah jadi sahabat setia bercerita!

Dukung terus supaya author makin semangat nulisnya, ya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas