Wednesday, August 17, 2022

Bab 38 - Bangkit dari Rasa Sakit

 



Tiga bulan kemudian ...

Bunda Rindu dan suaminya melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit St. Thomas Hospital yang ada di Westminster Bridge Road, kota London. Mereka langsung pergi ke rumah saskit tersebut saat mendapat kabar kalau tubuh Roro Ayu memberikan respon positif dan kemungkinan akan segera bangun dari komanya.

“Dokter, gimana keadaan puteri kami?” tanya Ayah Edi dalam bahasa Inggris.

“Puteri kalian memberikan respon yang baik akhir-akhir ini. Kami sudah melakukan berapa kali uji respon sarafnya. Perkiraan kami, hari ini dia bisa bangun jika tidak ada masalah,” jawab dokter tersebut.

Bunda Rindu tersenyum lega mendengar kondisi kesehatan Roro Ayu yang terus membaik. Ia tidak menyesal membawa puterinya itu ke luar negeri meski harus menghabiskan uang yang tidak sedikit.

Bunda Rindu dan Ayah Edi langsung menghampiri tubuh puterinya yang masih terbaring di ranjang rumah sakit tersebut. Ia tersenyum lega ketika perawat tetap menjaga puterinya terlihat cantik dan baik.

“Roro, bunda sama ayah datang. Kamu bangun, ya! Kami kangen sama kamu. Kalau Roro bangun, bunda akan penuhi semua permintaan Roro, apa pun itu. Maafkan kami yang sudah memberikanmu pada orang yang salah. Bunda dan Ayah janji, tidak akan membiarkanmu menderita lagi,” bisik Bunda Rindu di telinga Ayu.

Ayu menggerakkan jemari tangannya perlahan. Ia bisa mendengar bisikan dari bundanya itu dengan jelas dan berusaha keras membuka matanya. “Bunda ...!” panggilnya lirih.

Bunda Rindu melebarkan kelopak mata dan menatap wajah Ayu yang sudah membuka matanya. “Bunda di sini ...! Ayu sudah bangun?” tanyanya sembari menitikan air mata. Ia langsung mengusap lembut kening Ayu, membelai rambutnya dengan hangat dan menciumi wajah puteri kesayangannya itu.

“Aku tidur berapa lama? Anakku mana, Bunda?” tanya Ayu lirih sambil mengusap perutnya yang sudah datar.

Bunda Rindu tersenyum sambil memeluk lengan Ayu. “Ayu jangan sedih, ya! Anak Ayu sudah bahagia sama Tuhan.”

“Maksud Bunda?” Ayu menatap nanar ke arah Bunda Rindu. “Dia nggak selamat?”

Bunda Rindu mengangguk. Ia berusaha untuk tetap tersenyum meski perasaannya sangat sakit. “Nggak usah sedih, ya! Dia sudah jadi anak yang baik selama bersamamu. Di atas sana, dia sedang berusaha membuatmu hidup dengan baik dan kembali ke sisi kami semua. Sudah tiga bulan Roro koma. Sekarang, kita di London.”

“London?” tanya Ayu lirih sambil menoleh ke luar jendela. Kemudian, mengalihkan pandangannya kembali pada Bunda Rindu dan Ayah Edi yang berdiri di belakangnya. “Nanda mana?”

Bunda Rindu dan Ayah Edi saling pandang. Mereka tidak menyangka kalau Ayu masih mempertanyakan keberadaan Nanda saat baru saja terbangun dari komanya.

“Nanda lagi keluar sebentar. Roro istirahat dulu, ya!” pinta Bunda Rindu saat tim dokter mulai menghampiri ranjang Ayu untuk memeriksa kondisi kesehatannya.

Ayu mengangguk kecil. Ia merasakan seluruh tubuhnya sangat sakit dan sulit untuk ia gerakkan. Ia hanya bisa menatap tubuh Bunda Rindu dan ayahnya yang sedang duduk di sofa yang tidak jauh dari ranjangnya. Menunggu dokter memeriksa kondisi kesehatannya.

Bunda Rindu dan Ayah Edi terus menjaga Roro Ayu hingga puteri kesayangannya itu benar-benar sehat dan bisa keluar dari rumah sakit.

“Bunda ...!” panggil Ayu saat ia sudah berdiri di depan halaman rumah sakit St. Thomas tersebut. Ia menggenggam paspor dan visa di tangannya.

“Ada apa?” tanya Bunda Rindu sambil menghentikan gerakan tangannya yang sedang membukakan pintu mobil untuk puterinya.

“Bolehkah aku melanjutkan S2 di kota ini? Aku belum mau kembali ke Indonesia,” ucapnya lirih sembari menahan rasa sesak di dadanya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Kehilangan seorang anak dan suami, membuatnya tidak menginginkan apa pun. Ia harap, dengan menempuh pendidikan lagi, bisa mengalihkan kesedihannya dan membuat masa depannya lebih baik lagi. Ia ingin menebus kegagalan yang telah membuat kedua orang tua kecewa.

Bunda Rindu langsung tersenyum mendengar permintaan puterinya. Ia menoleh ke arah Ayah Edi untuk meminta persetujuan pria itu.

Ayah Edi mengangguk sambil tersenyum. “Kamu mau lanjut di universitas mana? Ayah akan bantu mengurusnya.”

“Cambridge,” jawab Ayu tanpa berpikir lama.

Ayah Edi menganggukkan kepala. “Ayah akan bantu mengurus tempat tinggal dan sekolahmu. Untuk sementara, kamu tinggal di hotel tempat kami menginap. Gimana?”

Ayu mengangguk. Ia segera masuk ke mobil dan menuju hotel tempat kedua orang tuanya menginap selama menjaganya di kota tersebut. Ia tahu, titik terapuh dalam hidup manusia adalah ketika ia berlari dan tidak berani menghadapi takdir yang sesungguhnya. Dan dia ... sedang berada di titik itu.

Ayu  menyalakan ponselnya yang baru saja disodorkan oleh ayahnya. Ia membuka semua aplikasi pesan yang ada di sana. Tidak ada satu pesan pun dari Nanda. Mungkin, pria itu memang tidak pernah mempedulikan bagaimana keadaannya. Tidak pernah mencarinya meski ia menghilang dalam waktu lama.

Pesan yang masuk secara beruntun ke dalam ponselnya, malah penuh dengan pesan perhatian dari Sonny. Sonny tahu, Ayu tidak akan pernah mengganti nomor ponselnya meski ponsel itu hilang. Membuat pria itu tidak berhenti mengirimkan pesan setiap harinya.

Membaca semua pesan dari Sonny, seharusnya ia sangat bahagia. Terlebih, kedua orang tuanya sudah mendapatkan surat pembatalan pernikahannya dengan Nanda. Tapi kali ini, pesan dari Sonny terasa hampa di hatinya. Ia tidak berniat membalas pesan tersebut dan memilih untuk meninggalkan semua masa lalunya bersama Sonny. Ia pikir, menjalani kehidupan masing-masing adalah cara paling baik agar tidak saling menyakiti.

Setelah kedua orang tuanya kembali ke Indonesia. Ayu memilih menjalani hari-harinya di kota London. Tidak hanya mengambil pendidikan di Cambridge, ia juga mengambil pekerjaan paruh waktu. Bekerja bukan karena kekurangan uang, tapi ia bekerja untuk menambah kesibukannya hingga ia lupa pada semua masa lalu yang begitu menyakitkan. Sibuk meningkatkan diri adalah cara terbaik untuk penyembuhan.

Setiap hari libur, Ayu selalu pergi ke perpustakaan kota. Tidak hanya membaca buku, ia juga menyempatkan diri untuk belajar menulis jurnal tentang bisnis. Setelah mendapatkan gelar sebagai lulusan terbaik di Melbourne University, ia juga ingin mendapatkan prestari yang baik di Cambridge. Andai ia tidak bisa lulus dengan nilai yang baik, ia masih bisa meninggalkan jurnal-jurnal ini untuk masa depan.

Jika nasib percintaannya tidak berakhir dengan baik, maka nasib pendidikan dan finansialnya harus berakhir baik. Setidaknya, ia masih memiliki satu alasan untuk tetap bertahan hidup dan membahagiakan orang-orang yang ia cintai.

Roro Ayu tersenyum sambil menatap satu eksemplar buku yang sudah berhasil diterbitkan oleh penerbit universitas tersebut. Tahun pertamanya di Cambridge University, ditutup dengan terbitnya jurnal bisnis yang ia susun selama satu tahun dan dijadikan sebagai referensi pendidikan untuk generasi selanjutnya. Nama Raden Roro Ayu Rizky Prameswari menjadi satu-satunya nama asli Indonesia yang mengukir sejarah International Woman Business Journal di seluruh dunia.

 

((Bersambung...))

 

Gimana dengan nasib Nanda?

Lihat di part selanjutnya, ya!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas