Wednesday, August 17, 2022

Bab 25 - Awal Penderitaan Nanda

 



Ayu mengerjapkan mata perlahan saat ia mendengar kumandang adzan subuh dari masjid yang berada di komplek perumahannya. Ia membuka mata dan mengangkat tubuhnya perlahan.

“Nan, sholat subuh!” pinta Ayu sambil meraba kasur di sebelahnya. Namun, ia  menemukan ranjang itu kosong. Ayu menoleh ke kasur itu sejenak dan mengedarkan pandangannya. Ia langsung turun dari ranjang dan memeriksa suaminya itu ke kamar mandi.

“Dia ke mana pagi-pagi gini? Tumben banget? Nggak ngantor ‘kan?” gumam Ayu. Rasa penasarannya bercampur khawatir, bergelayut di dalam dadanya. Ia bergegas keluar dari kamar sambil terus memanggil nama suaminya itu.

“Hhh ... hhh ... hhh ...” Ayu berusaha menarik napas sambil memegangi pinggangnya yang terasa sangat pegal setelah mengelilingi rumahnya. Ia tidak bisa melihat sosok Nanda di rumah itu. Namun, mobil pribadinya masih terparkir baik di carport dan semua pintu rumah terkunci dengan rapat.

“Kamu ke mana, sih? Nggak diculik orang ‘kan? Masa iya ada orang yang bisa nyulik kamu?” tanya Ayu sambil melangkah masuk ke dalam kamar. Ia menghampiri nakas dan meraih ponsel miliknya.

Ayu mengernyitkan dahi saat melihat belasan panggilan tak terjawab dari Sonny. “What happen?” gumamnya. “Apa Nanda lagi sama Sonny?” Ia langsung men-dial nomor ponsel Sonny, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban.

“Ada apa, Son?” Ayu akhirnya mengirimkan pesan singkat ke nomor kontak Sonny. Ia akhirnya memilih untuk menelepon mama mertuanya. Namun, Nanda juga tidak ada di rumah itu.

TING!

Ayu langsung melihat pop-up notifikasi dari akun LinkedIn miliknya. “Ayu, ini Arlita. Kamu blokir nomorku? Bisa ke rumah sakit, sekarang? Nanda harus dioperasi dan aku nggak punya uang buat bayar biaya operasi dia. Jangan kasih tahu keluarga dia dan keluarga kamu dulu, ya!”

Ponsel yang ada di tangan Ayu, langsung meluncur ke lantai begitu saja. “Na-nanda lagi sama Lita?” ucapnya lirih dengan tubuh gemetaran. Detik berikutnya, ia berusaha menguatkan diri dan menjaga kesadarannya.

Ayu melangkah perlahan menuju lemari pakaiannya, meraih sweeter tebal warna peach dan memakainya. Ia segera mengambil ponselnya yang terjatuh ke lantai, mengambil dompet dan memasukkan ke dalam tas tangannya. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, ia langsung bergegas keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil.

Ayu terdiam sejenak saat setir mobilnya menempel ke perutnya yang sudah membesar. Ia mencoba menggeser mundur kursi yang ia duduki, tapi macet. “Ini gimana? Kenapa deket banget sama setir?” gumamnya sambil menggerakkan setirnya perlahan. Ia berusaha keras menjaga keseimbangannya. Membawa mobil itu perlahan hingga ia sampai ke salah satu rumah sakit yang sudah diberitahukan Arlita lewat pesan singkat.

Setelah memarkirkan mobilnya dengan baik, Ayu langsung melangkah masuk ke dalam pintu IGD. Ia menghampiri Arlita yang duduk di ruang tunggu.

“Di mana suamiku?” tanya Ayu dingin.

Arlita langsung mengangkat wajahnya dan bangkit dari kursi. “Dia di dalam, Yu. Kata dokter, dia harus secepatnya dioperasi. Tapi, limit kartu kredit dia nggak cukup buat bayar uang mukanya,” ucap Arlita sambil menyodorkan kartu kredit Nanda ke hadapan Ayu.

Ayu langsung menyambar kasar kartu dari tangan Arlita. “Harusnya kamu sadar kalau kamu itu nggak berguna buat Nanda! Buat apa masih berhubungan sama dia di belakangku!?”

Arlita menitikan air mata sambil menatap wajah Ayu. “Yu, kamu tahu kalau aku dan Nanda udah pacaran selama bertahun-tahun. Kami masih saling mencintai, Yu. Bolehkah aku tetap di sisi dia, Yu?” pintanya.

“Pikirkan dulu apa gunamu di sisi dia! Kalau cuma buat puasin nafsu doang, semua orang juga bisa!” sahut Ayu kesal sambil melangkah memasuki pintu utama ruang IGD. “Oh ya, satu lagi. Aku nggak akan membiarkan ada dua mama untuk anakku! Aku nggak cinta sama Nanda, tapi aku butuh dia untuk anak kami. Aku diam bukan berarti lemah, Lit. Aku udah kasih kesempatan kamu supaya berubah dan ninggalin Nanda. Kalau kamu masih keukeuh main gila sama suami orang, aku bakal hancurkan hidupmu perlahan!” ancam Ayu sambil masuk ke dalam pintu tersebut dengan langkah pasti.

“Kamu yang ngerebut dia dari aku, Yu! Harusnya aku yang marah!” seru Arlita. Ia menarik napas dalam-dalam sambil menahan kekesalan di dalam hatinya. Sejak ia diusir keluar dari apartemen Nanda, kebenciannya terhadap Ayu semakin menjadi-jadi. “Aku pasti rebut Nanda lagi dari kamu!”

Ayu langsung melangkah menghampiri meja resepsionis yang ada di ruang IGD tersebut. “Mbak, saya istri dari pasien atas nama Ananda Putera Perdanakusuma,” ucap Ayu sambil menyodorkan copy dokumen kartu keluarga dan kartu identitas milik Nanda.

“Ananda Putera Perdanakusuma. Pasien yang harus operasi di bagian penisnya ya? Ini tagihannya! Setelah dibayar, barulah bisa dilakukan tindakan oleh dokter,” ucap perawat yang bertugas di meja resepsionis dan kasir.

“Operasi apa, Sus?” Mata Ayu nyaris terbelalak mendengar ucapan dari perawat itu.

“Operasi penis, Bu. Penisnya hancur karena terlibat perkelahian dengan temannya sendiri. Untuk lebih jelasnya, silakan tanyakan ke polisi itu!”

Ayu langsung memutar kepala menatap dua pria berseragam polisi yang terlihat sedang berbincang serius. Ia menatap tagihan yang ada di tangannya dan harus segera membayar untuk menyelamatkan suaminya.

“Aaargh ...!” Suara Nanda terdengar menggema ke semua ruangan itu. Ayu langsung berlari ke arah sumber suara dan membuka tirai yang menutupi salah satu ranjang pasien di sudut ruangan.

“Na-Nanda ...!?” Mulut Ayu terbuka lebar saat melihat alat kelamin milik Nanda sudah dipenuhi darah. Juga wajah tampannya yang sudah babak belur.

“Maaf, Bu ...! Anda siapa?”

“Saya istrinya, Suster.”

“Tagihan untuk operasi sudah dibayar?”

Ayu terdiam sambil menatap kertas tagihan di tangannya.

“Cepat dibayar supaya dokter bisa segera melakukan operasi!” pinta perawat yang ada di sana.

“Ayu, tolong! Sakit banget!” pinta Nanda sambil berusaha meraih lengan Ayu. “Aku udah kasih kartuku ke Lita dan dia belum bayarin tagihanku sampai sekarang. Aku sakit, Yu!” rintihnya.

Ayu menghela napas. “Limit kartu kredit kamu udah habis, Nan. Kamu terlalu banyak menggunakan uangmu buat menyenangkan wanita itu. Sekarang, kamu butuh uang cash delapan ratus juta untuk operasi. Bisa dapet dari mana? Aku minta sama Oom Andre?”

“Jangan kasih tahu papa, Ay! Please ...!” pinta Nanda sambil menatap nanar ke arah Ayu.

“Kami akan kasih anastesi dulu, Bu. Tolong segera lakukan pembayaran!” pinta perawat yang ada di sana. Ia tidak tahan mendengar Nanda yang terus berteriak kesakitan ketika anestesi yang mereka suntikan sudah habis.

“Nggak usah dianastesi, Suster. Dia kuat, kok. Cowok kayak dia, nggak butuh anastesi,” pinta Ayu. Meski kasihan, ia sangat kesal dengan Nanda yang masih diam-diam punya hubungan dengan Arlita.

“Ay, kamu ...!?” Nanda menggigit bibirnya, menahan rasa nyeri di bagian alat vitalnya.

“Aku bayar biaya operasi kamu dulu. Baik-baik di sini, ya! Harus kuat, dong! Bentar lagi jadi papa,” pinta Ayu. Ia tersenyum manis sambil menepuk pipi Nanda, kemudian bergegas pergi untuk melunasi tagihan rumah sakit agar Nanda bisa segera diselamatkan.

Setelah selesai membayar tagihannya, Ayu langsung bernapas lega. Ia tidak lagi peduli dengan uang tabungannya yang terkuras habis. Ia harap, kejadian ini bisa membuat Nanda berubah menjadi pria yang baik dan bertanggung jawab.

Ayu mengedarkan pandangannya. Ia langsung menghampiri dua orang polisi yang ada di sana. “Pak, saya boleh tahu ... apa yang sebenarnya terjadi sama suami saya?” tanya Ayu.

Dua orang polisi itu langsung menoleh ke arah Ayu. “Suaminya yang mana?”

“Yang dari tadi teriak-teriak kesakitan karena itunya luka,” jawab Ayu dengan nada malu-malu.

“Oh itu ... gini, Mbak ...!” Dua orang polisi itu langsung menceritakan kronologi kejadian dari versi Arlita dan Sonny. Mereka juga mengatakan kalau telah menahan Sonny untuk dimintai keterangan karena kasus perkelahian tersebut.

Ayu menghela napas kecewa. Yang ia tahu, Sonny tidak pernah marah sampai seperti ini. Jika dia sampai memukul Nanda, itu artinya kesalahan Nanda memang tidak termaafkan. Mungkinkah Sonny tahu kalau selama ini Nanda tidak pernah memperlakukannya sebagai istri dengan baik?

“Son, kamu boleh marah. Tapi tidak dengan menghancurkan dirimu sendiri seperti ini,” tutur Ayu dalam hati. Ia bergegas melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit. Ia berniat menjenguk Sonny yang sudah ditahan pihak kepolisian Reserse Kriminal kota Surabaya sembari menunggu Nanda yang masih harus menjalani operasi selama beberapa jam ke depan.

“Son, why you so stupid!”

 

 

((Bersambung...))

 

 

 

 

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas