Sunday, August 7, 2022

Bab 17 - Kerja Keras untuk Cinta

 



Di perusahaannya, Nanda tidak bisa berbuat apa-apa saat Ayu mulai ikut campur dan mengobrak-abrik management perusahaannya. Ia enggan berdebat dengan Ayu hanya karena ia memang enggan untuk berpikir dan lebih senang bersantai di kantornya.

“Nan, aku bisa diskusi sebentar sama kamu?” tanya Ayu sambil melangkah masuk ke ruang kerja Nanda.

Nanda mengangguk sambil memainkan penanya.

Ayu langsung meletakkan tumpukan dokumen yang ia bawa ke hadapan Nanda.

Nanda mengernyitkan dahi melihat dokumen yang ada di atas meja kerjanya. “Kamu nyuruh aku ngapain?” tanyanya sambil menelan saliva dengan susah payah.

“Ada hal penting yang mau aku diskusikan. Ini laporan dari semua departemen yang udah aku kumpulkan.”

Nanda memperhatikan judul map itu satu persatu. “Terus?”

“Keuangan perusahaan kamu sering minus seperti ini? Apa kamu nggak pernah ngecek di mana cost yang terlalu tinggi?” tanya Ayu.

“Aku pusing, Ay. Biar aja dicek sama manager yang lain. Aku percaya sama mereka aja,” jawab Nanda sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Nggak bisa terlalu percaya sama mereka juga, Nan. Kamu nggak sadar kalau sedang dikhianati sama mereka? Semua laporan dari departemen udah aku periksa satu persatu dan laporan yang dikasih manager keuangan kamu itu, udah dia ubah,” sahut Ayu.

“Kamu tahu dari mana? Ada buktinya kalau dia mengubah laporan?” tanya Nanda balik.

“Ada.” Ayu langsung menarik salah satu map yang ada di sana dan menyodorkannya ke hadapan Nanda. “Look at this!”

Nanda langsung membuka laporan itu dengan santai dan melihat laporan keuangan perusahaannya. Ia merasa, tidak ada yang ganjil dengan laporan keuangan tersebut.

“Semuanya kelihatan normal ‘kan? Ini laporan aslinya.” Ayu menyodorkan dokumen lain. “Aku juga sudah buat laporan analisa dan evaluasi kinerja setiap departemen. Main issue juga sudah aku susun rapi dan bisa kamu lihat dengan detail di sini.” Ia menyodorkan dokumen yang lain lagi.

Nanda tertegun saat melihat laporan yang dibuat oleh Ayu. Ia langsung ikut memeriksa semua transaksi yang terjadi di perusahaannya. Semua laporan keuangan selalu minus setiap bulannya. Namun, laporan yang ia terima dan tanda tangani tidak sesuai dengan laporan aslinya.

“Aku harus bikin perhitungan sama managerku!” ucap Nanda sambil menggaruk kepalanya yang terasa berdenyut. Semua laporan yang disodorkan istrinya, berhasil membuat suasana hatinya memburuk.

“Jangan kita yang bertindak! Kita cukup tahu saja orang-orang yang bermain dan menggerogoti perusahaanmu,” pinta Ayu sambil tersenyum manis.

“Terus? Siapa yang mau bertindak kalau bukan kita? Kita pimpinan di perusahaan ini, Ay,” tanya Nanda sambil menatap wajah Ayu yang berdiri di sampingnya.

Ayu membungkukkan tubuh dan mendekatkan wajahnya ke wajah Nanda. “Kita? Apa itu artinya kamu sudah mengakui kalau aku juga punya hak di perusahaan ini?” tanyanya sambil tersenyum manis.

Nanda terdiam sambil menatap wajah Ayu dengan perasaan tak karuan. Ia kesal dengan jantungnya yang tiba-tiba berdebar kencang dan matanya yang tertuju pada bibir mungil Ayu yang berwarna merah jambu dan mengkilap. Rasanya, ia ingin segera melumat bibir itu hingga habis.

“Nanda ...!” panggil Ayu sambil menjentikkan jarinya ke hadapan pria itu.

Nanda gelagapan dan salah tingkah. Ia menarik dokumen di atas meja untuk mengalihkan perhatiannya.

“Kenapa salting? Aku cantik?” tanya Ayu sambil memutar kursi Nanda agar pria itu menatap kembali ke arahnya.

“Ck. Kamu nggak usah centil kayak gini!” pinta Nanda sambil membuang pandangannya ke arah lain, bukannya menatap wajah Ayu.

“Bukannya kamu suka cewek-cewek yang centil, agresif dan selalu gerayangin badanmu di klub malam? Kenapa istri sendiri malah nggak boleh centil?” tanya Ayu sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nanda.

Nanda memutar kursinya menghadap Ayu. Ia langsung menarik pinggang wanita itu dan menjatuhkan ke pangkuannya. “Kamu tahu ini kantor ‘kan?”

“Yes,” jawab Ayu sambil tersenyum.

“Kamu sengaja godain aku, mau ngelayani aku di sini?” tanya Nanda.

Ayu langsung mengangkat tubuhnya dari pangkuan Nanda.

Nanda mengeratkan pelukannya ke perut Ayu. Ia langsung terdiam saat merasakan perut wanita itu sudah membuncit dan terasa begitu padat. Hatinya tiba-tiba bergetar hingga membuat kelopak matanya memanas. “It’s my baby?” batinnya sambil mengelus perut Ayu perlahan menggunakan jemari tangannya.

Ayu terdiam dan menundukkan kepala, menatap perutnya yang sedang dielus lembut oleh Nanda. Ia tersenyum dalam hati dan merasa sangat nyaman ketika Nanda memperlakukan bayi di dalam perutnya dengan lembut. Air matanya menetes terharu. Ikatan batin antara bayi dan sang ayah benar-benar bisa ia rasakan. Ia ingin, bisa diperlakukan seperti ini terus. Meski ia tidak mencintai Nanda, tapi janin di perutnya itu sangat membutuhkan sang ayah dan ... akan mencintainya.

Nanda tersenyum sambil mengendus punggung Ayu. Ia menciumi tubuh wanita itu perlahan, memperlakukannya seperti bayi kesayangan yang hadir dalam hidupnya. Begitu ia merasakan tetesan air jatuh di tangannya, ia langsung memutar wajah Ayu agar menatapnya. “Kamu nangis?”

Ayu terdiam sambil mengusap air matanya. Ia menarik cairan hidungnya yang ingin menetes keluar. Ia langsung tersenyum menatap wajah Nanda. “Nggak tahu. Tiba-tiba aja air mataku jatuh. Aku ngerasa ... aku ...” Ia menahan air matanya untuk jatuh kembali.

Nanda langsung melepaskan tangannya dari perut Ayu. “Sorry ...!”

Ayu tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ia menarik kembali tangan Nanda dan meletakkan di perutnya. “Dia bahagia karena kamu mau menyentuhnya.”

“Serius?”

Ayu mengangguk sambil menitikan air matanya.

“Kenapa kamu nangis?” tanya Nanda.

“Aku terharu. Aku masih nggak percaya kalau aku akan menjadi ibu. Aku sayang sama anak ini, Nan. Kalau kamu nggak bisa sayang sama aku ... bisakah sayangi dia? Dia anakmu dan ingin diperlakukan penuh kasih sayang sama ayahnya,” ucap Ayu sambil menitikan air mata.

Nanda mengangguk dan menatap lekat mata Ayu. Ia mengusap air mata wanita itu dengan lembut. Menangkup wajah Ayu dan mengulum lembut bibirnya. Setelah sekian lama, hari ini ia bisa merasakan getaran di dalam dadanya. Membuatnya merasa sangat nyaman saat memeluk dan menciuminya. Inikah rasanya cinta? Ia masih tidak percaya kalau ia akan menjadi seorang ayah. Dari sekian banyak wanita yang ia kenal dan menghangatkan ranjangnya, Tuhan memilih  Ayu menjadi wadah untuk melahirkan keturunan baginya.

“Bunda Yuna undang kita ke acara ulang tahunnya. Kamu bisa datang?” tanya Nanda sambil menatap wajah Ayu.

“Kapan?”

“Minggu ini. Kamu suka pakai gaun design siapa?”  tanya Nanda.

“Mmh ...” Ayu memutar bola matanya. “Aku nggak begitu perhatikan siapa designernya. Yang penting modelnya bagus dan sesuai seleraku, aku ambil.”

Nanda mengangguk-anggukkan kepalanya. “Baiklah. Abis pulang kerja, kita cari gaun baru untukmu. Gimana?”

Ayu mengangguk dan bangkit dari pangkuan Nanda. “Oke. Kamu lanjutkan pekerjaanmu biar cepat selesai! Aku pulang dulu, ya!”

“Pulang?”

Ayu mengangguk. “Aku capek. Kamu mau ajak aku belanja ‘kan? Aku mau istirahat dulu.”

“Aku antar kamu pulang!” Nanda langsung bangkit dari kursinya.

“Kerjaanmu gimana?” tanya Ayu.

“Gampang. Kayak nggak ada hari besok aja. Ngurusin kerjaan mah nggak ada selesainya,” jawab Nanda. Ia menarik jas yang tersampir di punggung kursi dan mengenakannya. Kemudian, merangkul pinggang Ayu dan keluar dari ruangan tersebut.

Ayu tersenyum kecil saat Nanda mau memperlakukannya dengan baik. Ia harap, Nanda bisa menjadi pria yang baik untuknya. Menjadi ayah yang baik untuk anaknya. Ia ingin menyingkirkan wanita-wanita di sekelilingnya, bukan karena ia mencintai Nanda. Tapi karena ia ingin, anaknya memiliki seorang ayah yang bertanggung jawab dan bisa menjadi panutan. Meski hari ini masih menjadi bajingan, ia akan bekerja keras untuk membuat anaknya merasa bangga terlahir dari seorang Ananda Putera Perdanakusuma. Pria yang akan menentukan ke mana arah hidup anaknya di masa depan.

 

 

((Bersambung...))

 

Terima kasih sudah jadi sahabat setia berkarya dan bercerita!

Dukung terus supaya author makin semangat nulisnya!

Jangan lupa untuk beli paket dukungan supaya bisa dapet harga lebih murah, karena harga satuan bab di sini tidak bisa di bawah 2K.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 


0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas