Blog ini menceritakan tentang Kehidupan yang aku jalani. Keseharian yang ada dalam hidupku. Tentang cinta, tentang perjuangan dan pengorbanan, tentang rasa sakit dan tentang orang-orang yang ada di dalam kehidupanku. Tentang Desa Kecil dan gadis kecil yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat sekitar.

Tuesday, February 26, 2019

Filosofi Kerasukan Pada Tari Tradisional Kuda Lumping



Awalnya aku melihat kuda lumping sebagai pertunjukkan seni yang biasa. Terutama pada fenomena kerasukan. Banyak yang bilang pertunjukkan tersebut bekerja sama dengan makhluk ghaib. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa makhuk ghaib memang ada.
Menjadi hal biasa saat sebelum pertunjukkan melakukan sebuah ritual dengan membakar kemenyan dan menyiapkan beberapa sesajen. Aku tidak begitu tertarik dengan hal itu. Melihatnya sudah menjadi hal biasa dalam sebuah pertunjukkan seni kuda lumping yang merupakan sebuah warisan budaya. Memanggil arwah leluhur atau makhluk ghaib ini sudah menjadi sebuah pertunjukkan sejak zaman peradaban Hindu-Budha.
Sampai ketika tahun lalu, satu hal membuatku tercengang dan selalu membuatku penasaran. Biasanya, di Kalimantan ini banyak pertunjukkan Seni Kuda Lumping yang sama. Dengan penari-penari kuda dan Barongan/Reog. Mereka selalu membakar kemenyan dan menyiapkan sesajen untuk menghadirkan sebuah pertunjukkan “Kerasukan” pada penonton.
Tahun lalu, sebuah Paguyuban Seni Kuda Lumping yang baru berdiri menghadirkan kesan baru. Aku ada di antara mereka sebab memang aku asli keturunan Temanggung. Hanya saja keberadaanku yang memang sejak lahir di Kalimantan, aku tidak begitu paham dengan kesenian daerah. Sampai akhirnya kedewasaanlah yang membuatku meninggalkan kegemaranku pada seni-seni mancanegara dan beralih untuk lebih memaknai dunia Seni Tradisional. Sebab, banyak orang-orang luar negeri yang lebih menyukai kebudayaan Indonesia yang beragam.
Paguyuban Seni Kuda Lumping yang mengusung konsep Jaranan Temanggung menghadirkan warna baru dalam dunia Seni Budaya Jawa yang ada di Kalimantan. Awalnya, mereka tidak akan menghadirkan apapun yang berbau mistis. Hanya sekedar menghibur masyarakat dengan tari-tarian. Namun, siapa sangka jikalau tamu-tamu ghaib berdatangan tanpa diundang.
Hal ini membuatku terus merasa penasaran dan banyak bertanya.
“Man, kenapa kalau kuda lumping yang ini nggak pakai ritual, nggak pakai menyan dan sejenisnya tapi masih aja banyak kerasukan?” tanyaku pada salah satu Paman yang memang asli dari Jawa dan mengerti tentang kebudayaan Jawa.
“Ya itu. Bedanya antara undangan dan yang datang dengan kemauan sendiri. Contohnya kamu membuat sebuah pertunjukkan. Kalau kamu mengundang 300 orang untuk hadir. Yang hadir ya hanya 300 orang tersebut. Kamu juga harus menyiapkan hidangan untuk tamu-tamu yang kamu undang. Biasanya, undangan hanya akan datang, makan dan pulang. Berbeda ketika kamu membuat sebuah pertunjukkan dan banyak yang datang tanpa diundang. Pasti mereka mau menonton pertunjukkan sampai acara selesai dan kamu tidak perlu menyuguhkan apapun sebab kamu tidak mengundang mereka datang. Begitulah makhluk ghaib itu datang pada kami,” jawab Paman, cukup membuatku mengerti.
Lalu, apa yang menyebabkan makhluk ghaib mau datang? Sedangkan tidak ada ritual khusus untuk memanggil makhluk ghaib tersebut?
Pertanyaan ini kemudian aku lemparkan pada salah satu kawanku yang merupakan Jurnalis di Balikpapan. Dia asli orang jawa dan begitu mencintai sejarah dan kebudayaan Jawa. Dia tahu banyak tentang kehidupan orang jawa termasuk hal-hal ghaib yang sering menyelimuti kehidupan orang jawa.
“Mas... Kenapa makhluk ghaib bisa datang di saat pertunjukkan seni kuda lumping sementara tidak ada sesajen dan ritual untuk memanggil makhluk ghaib tersebut. Dari mana mereka datang? Apa dari musik yang dialunkan?” tanyaku.
“Nah, Iya bisa jadi itu. Jadi, dalam gending Jawa itu ada dua jenis. Yang pertama, gending untuk acara hiburan. Yang kedua, gending yang diperuntukkan untuk pemanggilan makhluk ghaib atau arwah. Coba kamu menyanyikan lagu ‘Lingsir Wengi’ di tengah malam. Pasti rasanya akan jauh berbeda saat kamu menyanyikannya di siang hari,” jawab Mas Jurnalis.
Aku mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda mengerti. Ya... cukup masuk akal karena menurutku gending klasik yang ada dalam Tarian Jawa Tengah itu cukup menghipotis jika benar-benar dinikmati. Kamu bisa dengarin musiknya dalam video ini. ( URL Video Pilihan Gue)
Oke... itu adalah jawaban dari rasa penasaranku. Tentang proses bagaimana makhluk ghaib itu berdatangan dalam sebuah pagelaran seni. Memang ada dua jenis, yang pertama diundang dan yang kedua tidak diundang. Makhluk ghaib bisa datang dengan sendirinya dan bisa datang dengan undangan (ritual).
Lalu... pertanyaan berikutnya, bagaimana menyembuhkan orang yang kesurupan?
Pertanyaan ini aku ajukan pada salah seorang guru yang juga mengerti agama. Beliau biasa membantu menyembuhkan kawan-kawan yang kerasukan ketika sedang melakukan pertunjukkan seni kuda lumping.
Why? Dan ternyata memang kebudayaan ini tidak bisa lepas dari sisi agama.
“Kamu nggak tahu kan filosofi kerasukan itu apa? Dan kenapa di zaman Walisongo tidak di larang?”
Aku menggelengkan kepala. “Kenapa gitu Pak?” tanyaku penasaran. Memperbaiki posisi duduk untuk menyimak dengan seksama setiap perkataannya.
“Karena zaman dahulu itu orang-orang belum banyak mengerti agama. Sedangkan kesenian ini sudah ada sejak zaman Hindu-Budha. Maka, dijadikan jalan dakwah bagi para Wali untuk menunjukkan bahwa sekuat apapun jin yang menguasai manusia. Akan kalah hanya dengan dua kalimat syahadat.” Bapak itu mengacungkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.
“Iya kah, Pak?” tanyaku makin penasaran.
“Iya... makanya zaman dahulu itu ketika Agama Islam masuk. Agama tidak menghapuskan kebudayaan yang sudah ada. Tapi, memperbaiki pemikiran masyarakat bahwa arwah atau jin yang mereka sembah, sekuat apapun akan kalah hanya dengan dua kalimat syahadat. Dua kalimat syahadat itu ditiupkan pada tali cemeti/pecut kemudian dipecutkan pada manusia yang sedang dikendalikan oleh Jin, maka Jin yang ada dalam tubuhnya akan pergi,” tutur Bapak itu.
Aku semakin tertarik dengan pembahasan ini. Mungkin bisa mengobati rasa penasaranku selama ini.
“Itulah sesungguhnya filosofi dari kerasukan dan pesan agama yang ingin disampaikan. Namun, memang ada beberapa pendapat yang berbeda. Karena tidak semua kesenian Jaranan berbau syariat Islam atau Dakwah. Memang masih ada pertunjukkan kesenian yang memang masih bekerjasama dengan makhluk ghaib untuk menunjukkan sebuah keperkasaan, keberanian dan kedigdayaan seseorang di beberapa daerah. Nggak masalah sih itu. Kepercayaan mereka dan kepercayaan kita berbeda. Kita tidak perlu mengusik mereka, begitu juga sebaliknya mereka tidak akan mengusik kita.”
Aku menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti.
Aku merasa, ucapan beliau memang benar. Sebab sebagai umat muslim, kita memang harus percaya dengan yang ghaib. Namun, tidak diperbolehkan menyembah atau memuja makhluk ghaib. Sebab makhluk yang paling tinggi derajatnya adalah manusia.
Beberapa juga ada yang berpendapat bahwa pertunjukkan kesenian kuda lumping bekerja sama dengan makhluk halus. Mungkin, mereka belum memaknai pesan yang ingin disampaikan dalam pertunjukkan tersebut. Seperti hal yang baru saja aku ketahui. Bahwa pesannya ada di akhir acara. Bahwa, sekuat dan sehebat apapun jin yang menguasai manusia (makan kaca, makan rumput dll.) akan kalah hanya dengan dua kalimat Syahadat. Dan aku memang baru tahu kalau ternyata hanya Dua Kalimat Syahadat yang ditiupkan di kedua telinga manusia yang bisa mengusir jin yang masuk ke dalam tubuhnya.
Sebenarnya, di setiap tubuh manusia sudah ada jin yang terus menemaninya. Hanya saja, ada manusia yang bisa mengendalikan dirinya dari gangguan jin dan ada manusia yang bisa dikendalikan oleh Jin/Setan. Sebab aku melihat sendiri tidak semua dikendalikan sepenuhnya oleh Jin. Masih ada beberapa yang mencoba melawan kehadiran makhluk ghaib dalam tubuhnya. 
Sama seperti dalam kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana mengendalikan diri kita dari rasa marah, rasa iri, dengki, benci dan sebagainya. Jika kita bisa mengendalikannya, maka hati kita sebagai pemenang atas semua rasa yang datangnya dari setan. Namun, jika kita tidak bisa mengendalikan, maka diri kita akan sepenuhnya dikuasai oleh setan. Perbanyaklah mengaji sebab Al-Qur’an adalah Ayat-Ayat Suci yang tidak perlu diragukan lagi kesucianNya. Sebab dengan dua kalimat syahadat saja sudah bisa mengusir Jin/Setan. Bagaimana jika kita bisa membaca lantuanan Ayat Suci setiap hari? Pastilah hati kita jauh dari gangguan jin/setan.
Sebab Setan/Jin itu mengganggu dengan cara “Membisikkan (kejahatan) ke dalam dada Manusia.” – (Surah An-Nas Ayat 5). Jin/Setan membisikkan ke dalam dada, bukan ke dalam telinga. Oleh karenanya penyakit-penyakit hati itulah yang sesungguhnya harus diobati. Termasuk orang yang suka nyinyirin tulisan aku dan bilang tulisan-tulisanku unfaedah.
Itulah informasi yang aku dapatkan demi memenuhi rasa penasaranku. Aku sampai berbulan-bulan bertanya pada banyak orang hingga mendapatkan jawaban yang memuaskan. Bagiku, semua rasa penasaranku sudah terjawab. Mungkin masih ada banyak pendapat lain yang berbeda di luar sana. It’s Oke, nggak masalah sebab setiap orang punya hak untuk berpendapat.
Sepertinya aku harus lebih banyak belajar tentang sejarah kebudayaan Indonesia. Karena pada zaman dahulu, orang-orang bisa menyampaikan pesan atau kritik melalui tari-tarian, tembang-tembang, seni rupa dan seni yang lainnya. Bagiku, itu hal yang indah. Mengkritik dengan sebuah karya.
 Cukup sampai di sini tulisan aku ya...
Mau jalan-jalan dahulu cari informasi, ilmu dan teman-teman baru.
Oh ya ... Salam Budaya Indonesia. Mari kita lestarikan kebudayaan yang merupakan ciri khas dan kekayaan orang Indonesia. Jika bukan kita, siapa lagi?


Ditulis oleh Rin Muna
Samboja, 8 September 2018

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas