Blog ini menceritakan tentang Kehidupan yang aku jalani. Keseharian yang ada dalam hidupku. Tentang cinta, tentang perjuangan dan pengorbanan, tentang rasa sakit dan tentang orang-orang yang ada di dalam kehidupanku. Tentang Desa Kecil dan gadis kecil yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat sekitar.

Thursday, November 2, 2017

Cerpen "Ikhtiar Cinta"

CERPEN “IKHTIAR CINTA”
 Karya : Walrina

Sudah 6 bulan ini perasaan hatiku tak karuan. Entah apa yang ada di dalam hatiku sehingga selalu bergetar ketika aku melihat Lisa, bahkan memandangnya dari kejauhan. Dia satu-satunya wanita yang tak pernah bergeming saat yang lain asyik bersorak memberiu semangat ketika sedang bermain basket di lapangan sekolah ataupun saat aku menunjukkan aksiku bernyanyi di atas panggung. Dia adalah satu-satunya wanita yang aku kagumi keindahan dan kesederhanaannya. Tubuhnya yang tinggi semampai, kulitnya yang putih dan wajahnya yang cantik alami, semakin cantik dalam balutan hijab. Sangat sederhana dibanding perempuan-perempuan lain di sekolah ini, tapi dia terlihat istimewa. Saat semua cewek sekolah sibuk berteriak histeris memanggil namaku dalam pertandingan basket, dia hanya lewat tanpa menoleh sedikitpun, bahkan sepertinya dia tidak tertarik dengan keramaian. Sejak ia muncul dari ujung koridor utara hingga hilang di koridor selatan, ia sama sekali tak menoleh sedikitpun. Justu aku yang tidak fokus saat latihan atau pertandingan jika dia melintas di sisi lapangan. Beberapa teman selalu menepuk bahuku, mungkin mereka tersadar dengan lamunan atau pandanganku yang tak ingin lepas dari gerak-gerik Lisa. Sudah lama sekali aku memperhatikannya, dia gadis yang sangat berbeda. Pakaiannya santun, tidak seperti anak-anak lain yang terlihat heboh dan berlebihan. Setiap jam istirahat makan siang, aku selalu mendapatinya berjalan menuju musholla, melaksanakan sholat dzuhur dan kemudian menghampiri teman sekelasnya di kantin untuk makan siang. Terkadang ia terlihat duduk manis di antara rak-rak buku perpustakaan. Aku ingin sekali bisa menyapanya, berkenalan dengannya, dan bisa mendengar suaranya dari dekat. Tapi aku tidak punya keberanian untuk itu, jangankan untuk menyapa, mendekatinya saja aku tak punya kekuatan.
Seperti biasa, aku selalu ada di kursi kantin paling pojok agar aku bisa bebas memandang Lisa dari kejauhan. Sepertinya beberapa temanku sudah mengetahui perubahan yang terjadi padaku dan kali ini mereka ada di meja bersamaku. Aku tak bisa menyembunyikan apa yang terjadi dalam hatiku, bahkan aku tak bisa mengalihkan pandanganku dari Lisa. Walau kami asyik bercanda bersama, tapi sesekali mataku tertuju pada Lisa yang sedang asyik makan bakso. Terkadang Lisa terlihat lucu, bibirnya merah merona alami karena kepedasan dan dia terlihat semakin cantik. Alisnya yang rapi bak semut beriring, alami tanpa harus menggunakan pensil alis. Matanya bulat indah dengan bulu mata yang lentik dan tebal alami, seperti gadis di anime Jepang. Dia terlihat sempurna, bahkan mungkin satu sekolah akan memuji kecantikannya.
“Ardi...!” teriak Bayu tepat di telingaku.
“Woii,,, sakit kupingku, kayak Jakarta-Bandung aja pake teriak-teriak segala.” Spontan aku terkejut dengan kelakuan Bayu.
“Kamu kenapa dari tadi kita ajak ngomong gak dengerin?” tanya Bayu kemudian.
“Eh...oh...eh.... denger kok aku.” Jawabku gugup.
“Apa kalau dengar?” tanya Reno.
Aku berpikir dan keki, karena sebenarnya aku tidak mendengarkan apa yang mereka ceritakan. Aku sibuk mengagumi Lisa dari kejauhan.
“Sepertinya dia sedang jatuh cinta pada gadis manis berhijab pink rawis itu.” Celetuk Andra sok puitis.
Aku hanya diam dan tersipu malu, entah apa yang ingin ku katakan. Berbohongpun aku tak bisa, karena aku yakin mereka sudah memperhatikan apa yang selama ini kuperhatikan.
“Kenapa gak kamu samperin aja Di?” tanya Bayu.
“Gak berani.” Jawabku singkat sambil memainkan sedotan di dalam gelas minumku.
“Hahahaha...” tiba-tiba tawa keras Bayu, Reno dan Andra membuat gaduh suasana kantin dan semua mata memandang ke arah kami.
“Ssst... jangan keras-keras ketawanya!” pintaku sambil melihat ke arah Lisa. Dan untuk pertama kalinya Lisa juga menengok ke arah kami. Dia teapt memandangku dan kedua mata kami bertemu. Hanya dalam hitungan detik saja dia kembali mengalihkan pandangannya, beranjak dari tempat duduk dan pergi meninggalkan kantin.
“Nah,,, pergi kan dia. Kalian sih ribut!” sentakku sebal.
Sementara Bayu masih terus tertawa kaku sambil memegangi perutnya. “Hahaha... akhirnya ketahuan juga kalau kamu beneran lagi perhatiin dia.” Ucap Bayu sambil menahan tawanya. “Sejak kapan seorang Ardi, seorang kapten basket, ketua osis yang don juan takut buat deketin cewek.” Celetuknya kemudian.
Aku langsung bergegas pergi meninggalkan kantin tanpa sepatah kata yang ku ucapkan pada teman-temanku. Bahkan aku tak peduli mereka masih bergumam dan menertawakanku. Mereka tidak mengerti bagaimana perasaaan hatiku, mungkin inilah perasaan yang sebenarnya. Alamiah dan datang begitu saja tanpa aku memintanya.
“Ardi....! Di panggil Kepsek ke ruangannya.” Sapa salah satu teman sekelas dan seketika membuyarkan lamunanku.
Tanpa banyak bertanya aku langsung bergegas menuju ruang Kepala Sekolah. Aku tahu Kepala Sekolah memanggilku hanya untuk hal-hal penting saja. Sebagai Ketua Osis yang masih aktif, aku punya tanggung jawab terhadap semua kegiatan murid di sekolah ini. Aku duduk di kursi tepat di hadapan meja kepala sekolah. Kemudian, dia mulai mengajakku berbincang-bincang basa-basi sebelum ke pokok permasalahan utama yang akan dia utarakan.
“Begini, sekolah kita diminta untuk mengirimkan putra-putri berprestasi diajang kompetisi siswa teladan antar sekolah dan antar provinsi. Saya ingin mengirim kamu dan salah satu adik kelasmu yang sangat berprestasi di sekolah ini sebagai kandidat untuk mewakili sekolah kita. Kamu bersedia?” tanya Pak Kepala Sekolah kemudian.
“Saya siap-siap saja Pak, kira-kira apa saja yang harus saya persiapkan untuk mengikuti kompetisi itu?” tanyaku penasaran.
“Sebentar, kita tunggu dulu dia datang ke sini. Nanti akan saya jelaskan detilnya saat dia sudah di sini. Agar saya tidak perlu menjelaskan ulang. Kalian harus bekerjasama dengan baik, karena di sini bukan kompetisi individual. “ ujar Pak Kepala Sekolah.
Tak lama kemudian terdengar pintu kepala sekolah yang diketuk. Kepala sekolah mempersilahkan masuk dan aku sangat terkejut ketika melihat siapa yang datang.
“Akhirnya datang juga, kenapa lama sekali Lisa?” tanya Kepala Sekolah.
“Maaf Pak, tadi saya masih sholat dzuhur terlebih dahulu.” jawabnya dengan suara yang lembut.
“Oh... oke.” kata Pak Kepala Sekolah sambil memperbaiki posisi kacamatanya. “Silahkan duduk!” perintahnya pada Lisa.
Lisa duduk tepat di kursi sebelahku. Untuk pertama kalinya aku berada dekat dengan dia, wanita yang selama ini begitu ku kagumi. Perasaanku semakin tak karuan, tubuhku keringat dingin dan aku merasa gugup. Bapak Kepala Sekolah menjelaskan panjang lebar tentang kompetisi yang akan kami hadapi berdua. Sejak saat itu, aku dan Lisa lebih sering bertemu untuk belajar bersama. Bukan hanya teori yang kami pelajari, tapi juga ada beberapa praktikum yang akan jadi kompetisi. Aku bahkan tidak pernah menyangka kalau aku bisa sedekat ini dengan Lisa. Dia gadis yang ceria, cerdas dan bijaksana. Tak jarang kami berdebat mempertahankan pendapat masing-masing. Saling bercanda dan tertawa bersama. Dan kami bisa lebih sering menikmati makan siang bersama. Aku juga mulai belajar untuk dapat beribadah dan menjadi imam di musholla sekolah. Banyak teman-teman yang heran dengan perubahanku, tapi aku tidak malu karena aku berubah menjadi lebih baik. Seperti apa yang pernah diucapkan Lisa padaku “Jangan pernah malu bila kita melakukan hal yang baik!”.
Sampai kompetisi berakhir dan kami berhasil menjadi juara kebanggan sekolah. Aku masih belum punya keberanian untuk menyatakan perasaanku. Hingga aku naik ke kelas 3 dan dinyatakan lulus. Aku masih memendam perasaanku, sampai ucapan salah satu teman menyadarkanku apa arti kejujuran hati. Diterima atau tidak, setidaknya aku bisa tahu bagaimana perasaan Lisa padaku. Di penghujung acara perpisahan sekolah, aku mencoba menyatakan perasaanku pada Lisa. Aku menghampirinya dengan perasaan gugup, tubuh yang keringat dingin.
“Lisa...!” sapaku ketika sudah berada di sisinya.
“Ya Kak.” Jawabnya dengan nada lembut.
“Kakak mau bilang sesuatu sebelum Kakak pergi dari sekolah ini. Ini adalah hari terakhir Kakak ada di sekolah ini. Kakak akan melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi dan kita tidak akan bisa bertemu setiap hari lagi.” Ucapku lirih.
“Iya, aku tahu kok Kak. Semoga saja di kampus nanti Kakak tetap jadi mahasiswa yang berprestasi. Dan jangan lupakan sholat ya!” tutur Lisa sambil memandang ke arah panggung pensi.
“Aku cinta kamu Lisa.” Celetukku tiba-tiba.
Lisa terdiam tak berkata sedikitpun, tidak juga menoleh ke arahku. Jantungku semakin tak karuan ketika aku tahu bahwa dia tak punya perasaan apa-apa. Bahkan setelah beberapa detik, dia tidak merespon ucapanku. Lima detik, sepuluh detik, lima belas detik, tiga puluh detik dan dia masih diam. Aku berharap dia menjawab perasaanku, tapi dia tidak bergeming dan seolah-olah tak menganggap aku ada di sisinya. Aku membalikkan tubuhku dan pergi meninggalkan Lisa penuh kekecewaan. Lisa memang tak seperti gadis lain, dia lebih sibuk dengan buku-bukunya. Dia tak mau disibukkan dengan perasaan cinta, baginya itu hanya akan mengganggu kegiatan belajarnya. Aku berjalan menghampiri teman-temanku yang sedang asyik membicarakan universitas yang akan mereka masuki setelah lulus SMA. Tiga puluh menit kemudian aku berpamitan kembali ke kelas untuk mengambil tas dan pulang ke rumah. Ini terkahir kalinya aku pandangi kelasku beberapa menit, banyak hal yang akan kurindukan dari kelas dan sekolah ini, terutama Lisa.
“Ah, aku harus segera melupakannya. Dia tak menyukaiku sama sekali, apalagi berharap membalas cintaku”. Batinku sambil menuju ke meja mengambil tas yang aku sandarkan di kursi tempat dudukku. Aku terkejut mendapati ada amplop merah jambu yang ada di mejaku bertuliskan ‘Untuk Kak Ardi’, aku segera membuka dan membacanya.
“Maaf bila aku belum bisa membalas perasaan cintamu. Bahkan aku sendiri belum tahu apa itu cinta, aku sendiri belum yakin apakah aku mencintaimu atau tidak. Bila tiba waktunya, kita akan dipertemukan kembali. Tuhan menciptakan dua hati yang berbeda untuk saling mencintai, perasaan itu datang tanpa aku memintanya. Tapi, aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku masih punya banyak hal yang harus kuperbaiki, aku belum jadi wanitamu yang baik, belum pantas hadir dalam kehidupanmu. Aku tahu kamu sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik, bahkan saat aku tidak pernah memintanya. Maka, jadilah yang terbaik untukku. Tuhan pasti akan mempersatukan bila hati kita berjanji untuk tidak menghianati. Aku akan menunggu kamu mengucapkannya lagi ketika kita sudah sama-sama dewasa dan siap berikrar di hadapan Tuhan. Aku hargai ikhtiar cintamu dan aku akan menunggumu menikahiku.” –Lisa-.
Aku melompat kegirangan membaca sepucuk surat itu. Setidaknya aku tahu bagaimana perasaan Lisa padaku. Aku akan terus berusaha mempertahankan perasaan cintaku. Bahkan sampai saat ini, saat aku sudah mendapat gelar S1, perasaanku terhadap Lisa tak pernah berubah. Masih terus mencintainya walau kami berjauhan. Sampai akhirnya waktu itu tiba.

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas