Tuesday, February 17, 2026

Perfect Hero Bab 455 : SangriLa Story

 


Tepat jam tujuh malam, Yeriko dan Yuna memasuki private room di Jamoo Restaurant yang ada di Sangri-La Hotel Surabaya.

 

“Hei ...!” sapa Lutfi yang sudah ada di dalam ruangan tersebut. “Tuan Muda terganteng di seluruh negeri akhirnya datang juga.”

 

Yeriko tersenyum menanggapi sapaan Lutfi. Ia langsung duduk di kursi kosong yang ada di ruangan tersebut. Di ruangan tersebut, sudah ada Chandra, Jheni dan Icha yang sudah menunggu kedatangan Yeriko dan istrinya.

 

“Yun, kamu makin cantik aja,” tutur Icha saat menatap Yuna yang sudah duduk di samping Yeriko.

 

“Gombal ...!” sahut Yuna sambil menatap Icha.

 

“Serius. Beberapa hari ini nggak ketemu, kamu makin ... ehem-ehem aja,” tutur Icha sambil tertawa kecil.

 

“Ehem-ehem apaan? Ambigu banget!” sahut Yuna.

 

“Itu bawaan ibu hamil, Cha. Kata orang, wanita kalau lagi hamil ... aura cantik alaminya terpancar.”

 

“Serius? Jadi pengen hamil juga,” celetuk Icha sambil tersenyum menatap Yuna.

 

Semua orang langsung mengangkat alis mendengar celetukan Icha.

 

“Eh!?” Icha langsung menatap semua orang bergantian saat ia menyadari celetukannya.

 

“Cha, kamu ngomong sama aku kalau minta dihamilin!” tutur Lutfi sambil menatap Icha.

 

Icha langsung mencubit paha Lutfi sambil mendelikkan matanya.

 

“Aw ...! Sakit, Cha!” seru Lutfi sambil mengelus-elus pahanya yang terasa panas akibat cubitan dari tangan Icha. “Jangan dicubit! Dielus-elus aja!” pintanya sambil tersenyum.

 

Icha mengerutkan hidungnya sambil memonyongkan bibirnya ke arah Lutfi.

 

Lutfi melebarkan kelopak matanya, ia langsung menyambar bibir Icha dengan bibirnya.

 

Icha langsung menarik wajahnya menjauh dari wajah Lutfi. Ia tersenyum kecut sambil mengelus tengkuknya. Pipinya merona karena semua orang yang ada di ruangan itu memandang ke arahnya.

 

“Ciye ...!” goda Yuna sambil menatap wajah Icha yang memerah.

 

“Nggak usah malu-malu, Cha! Yuna aja nggak pernah malu jadi cewek agresif,” tutur Jheni sambil melirik Yuna yang duduk di sampingnya.

 

“Yuna kan udah nikah, Jhen.”

 

“Halah, kalo nggak ada kita-kita ... nggak malu ‘kan?” goda Yuna.

 

Icha menundukkan kepala. Ia menahan tawa sambil menggaruk dahinya yang tidak gatal.

 

“Udah, udah! Icha pemalu, jangan digodain mulu!” pinta Lutfi.

 

“Ciye ... belain pacarnya,” goda Yuna.

 

Lutfi tertawa kecil. “Kasihan Icha, jangan digodain terus!”

 

“Halah, kamu kalo ngolokin orang, nomor satu. Giliran dibalas, nggak mau.”

 

“Balas aku, jangan balas Icha!” pinta Lutfi.

 

“Aku nggak papa, udah biasa diolokin sama Yuna. Dia emang kayak gitu,” tutur Icha.

 

Yuna langsung menjulurkan lidahnya ke arah Lutfi.

 

“Eh, kalau anakmu cowok ... ntar mirip sama aku!” sahut Lutfi sambil menunjuk wajah Yuna.

 

“Nggak mungkin!” sahut Yuna.

 

“Kakak Ipar sering ngolokin aku. Lihat aja, mirip sama aku ntar!”

 

“Nggak mau. Anakku mirip ayahnya, dong!”

 

“Ini berdebatnya mau sampai besok?” tanya Chandra. “Nggak mau pesen makan?”

 

“Kamu belum pesenin makan, Lut?” tanya Yeriko sambil menatap Lutfi.

 

“Udah. Tapi punya Kakak Ipar belum aku pesenin. Menunya dia kan diatur sama ahli gizi. Mana berani aku pesen menu sembarangan,” jawab Lutfi.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia memanggil pelayan dan memesan menu untuk Yuna.

 

Semenjak kehamilannya, Yuna selalu mengikuti anjuran ahli gizinya agar janin yang ada di dalam perutnya mendapat nutrisi yang baik.

 

“Yer, emang harus sampe segitunya ya soal makanan ibu hamil?” tanya Lutfi. “Setahu aku, makan apa aja boleh asal sehat.”

 

“Aku mau yang terbaik buat anak dan istriku.”

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, ya, ya.”

 

Yuna hanya tersenyum sambil memandang Yeriko yang duduk di sampingnya. Tangan Yeriko, selalu menggenggam tangannya sejak mereka masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

Beberapa menit kemudian, makanan sudah terhidang di atas meja. Mereka semua menikmati makan malam bersama sambil berbincang.

 

“Yun, si Refi nggak nyari kamu lagi ‘kan?” tanya Jheni.

 

Yuna menggelengkan kepalanya.

 

“Kenapa lagi si Reptil itu?” tanya Lutfi.

 

“Waktu aku masih nginap di rumah Yuna. Dia tiba-tiba datang, marah-marah soal dia yang di-blacklist sama perusahaan yang orbitin dia,” jawab Jheni.

 

Yeriko dan Chandra menahan tawa. Mereka sudah mengetahui apa yang terjadi sebelumnya.

 

“Hahaha.” Suara Lutfi tiba-tiba memenuhi seisi ruangan.

 

Yuna dan Jheni saling pandang melihat reaksi Lutfi yang berlebihan.

 

“Kamu udah tahu soal ini?” tanya Yuna sambil menatap Lutfi yang masih tertawa.

 

Lutfi menganggukkan kepala, ia memegangi perutnya sambil berusaha menghentikan tawanya.

 

Yuna merapatkan bibir sambil menatap Lutfi. “Ada apa, sih? Kenapa ketawanya sampe segitunya?”

 

“Uring-uringan dia sekarang?” tanya Lutfi. “Bagus!”

 

Yuna menarik napas sambil menatap Lutfi. Ia masih tidak mengerti apa maksud Lutfi.

 

“Dia lagi viral gitu. Lagi naik daun, terus di-blacklist dari semua kegiatan perusahaan. Mampus!”

 

“Kamu yang ngerencanain ini semua?” tanya Jheni sambil menatap Lutfi.

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Aku yang narik dia masuk ke perusahaanku supaya bisa ngerjain dia, hahaha.”

 

“Hah!? SD Entertainment punya kamu?”

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Iya. Punya ayahku. Aku cuma mewarisi aja.”

 

“Oh ... jadi, selama ini kamu sengaja bikin sensasi buat naikkan popularitas artis kamu sendiri? Bukan cuma endorse villa doang?” tanya Jheni.

 

Lutfi tertawa sambil memainkan alisnya. “Gimana? Keren ‘kan?”

 

Yuna dan Jheni mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Cha, kamu udah tahu soal ini?” tanya Yuna.

 

“Tahu, dong!” sambar Lutfi.

 

“Biasa aja jawabnya! Nggak usah nyolot gitu!” sela Jheni.

 

“Kalo nggak nyolot, nggak asyik, Jhen!” sahut Lutfi.

 

Jheni terkekeh. “Icha aja biasa aja.”

 

“Icha mah kalem. Istri tercinta ....” Lutfi langsung merangkul Icha yang duduk di sampingnya.

 

Icha hanya tersenyum sambil menatap teman-temannya yang ada di ruangan tersebut.

 

Lutfi tersenyum sambil memain-mainkan alisnya menatap Yuna. “Kakak Ipar ...!”

 

“Apa?”

 

“Aku kan sengaja ngerjain Refi buat balasin dendam Kakak Ipar. Aku nggak dikasih pelukan terima kasih?” tanya Lutfi.

 

Yeriko langsung menatap tajam ke arah Lutfi.

 

 

 

GLEG!

 

Lutfi menelan ludah begitu mendapati tatapan Yeriko yang mengancam dirinya. “Peluk doang, Yer.”

 

“Coba kalo berani!” sahut Yeriko menantang.

 

Lutfi bangkit dari kursi. Ia langsung menghampiri Yuna, ia merentangkan tangannya dan bersiap memeluk Yuna dari belakang.

 

Tangan Yeriko langsung menahan dada Lutfi agar tidak mendekati istrinya.

 

Yuna tertawa kecil sambil memutar kepalanya menatap Lutfi yang ada di belakangnya.

 

“Kakak Ipar ...! Peluk!” rengek Lutfi sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna tertawa kecil sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko menggelengkan kepala sambil menatap Yuna.

 

“Ck, kamu ini ... pelit banget! Cuma peluk Kakak Ipar doang,” tutur Lutfi kesal.

 

“Nggak ada peluk-peluk!” sahut Yeriko sambil mendorong dada Lutfi.

 

“Cha, aku boleh peluk Kakak Ipar ‘kan?” tanya Lutfi sambil menatap Icha.

 

Icha hanya tertawa melihat tingkah pacarnya itu. Ia sudah terbiasa melihat Refi berpelukan dengan artis-artisnya. Ia tak lagi cemburu ketika Lutfi memeluk atau mencium pipi wanita lain. Ia percaya sepenuhnya pada Lutfi yang selalu meyakinkan keraguan yang kerap melanda hatinya.

 

“Awas kalo kamu iyain, ya!” ancam Yeriko sambil menunjuk wajah Icha.

 

Icha hanya menahan tawa melihat dua pria yang sedang berebut sahabat baiknya itu.

 

“Yer, cuma peluk doang! Kasih aja!” tutur Jheni sambil menatap Yeriko.

 

“Kamu yang wakilin Yuna!” perintah Yeriko sambil menatap Jheni.

 

“Nggak bisa!” sambar Chandra. “Cha, pacarmu tolong dikondisikan ya!” pintanya sambil menoleh ke arah Icha.

 

“Astaga ...! Cuma peluk doang, nggak papa,” sahut Jheni. “Aku wakilin Yuna buat peluk kamu,” tutur Jheni sambil menatap Lutfi.

 

Lutfi langsung tertawa bahagia. “Nggak papa, deh. Kalo kamu yang wakilin,” ucapnya sambil merentangkan kedua tangan ke arah Jheni.

 

“Apaan sih, Lut!” seru Chandra sambil menahan tubuh Lutfi. “Jhen, kamu nggak usah kecentilan juga!”

 

“Kecentilan gimana? Cuma peluk doang sebagai sesama teman. Ada yang salah?” sahut Jheni.

 

Chandra nyengir menanggapi pertanyaan Jheni. Ia tidak ingin berdebat dengan Jheni dan memilih untuk memendam kekesalannya. “Aku aja yang wakilin!” pinta Chandra sambil memeluk erat tubuh Lutfi.

 

“Ah, males dipeluk sama kamu! Nggak ada empuk-empuknya,” tutur Lutfi sambil mendorong tubuh Chandra.

 

“Bangsat kamu, Lut!” sahut Chandra.

 

“Udah tahu aku otak mesumnya si Lutfi,” tutur Yeriko.

 

“Cha, kamu maunya punya calon suami kayak gini. Nggak cemburu?” tanya Chandra sambil menatap Icha.

 

Icha menggelengkan kepala. “Udah biasa lihat dia foto mesra sama artis-artisnya.”

 

“Kamu nggak punya rasa cemburu, Cha?” tanya Chandra.

 

Lutfi terkekeh. Ia kembali duduk di samping Icha dan merangkul gadis itu ke pelukannya. “Nggak, dong! Dia mah pacar paling the best,” ucapnya sambil mengelus lembut dagu Icha.

 

“Udah kebal aku, Chan. Kalo aku cemburu terus, hubungan kita udah kelar.”

 

“Ini yang bikin aku makin sayang sama Icha. Dia yang paling pengertian dan kuat bertahan dengan kerjaanku yang kayak gini,” tutur Lutfi. “Kalian jangan racuni Icha lagi ya!” lanjutnya sambil menunjuk wajah sahabat-sahabatnya.

 

“Kuatkan hatimu, Cha!” tutur Jheni sambil menatap wajah Icha.

 

Icha mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku selalu kuat, Jhen. Asal nggak kelewatan aja.”

 

“Kelewatan itu yang gimana?” tanya Jheni penasaran.

 

“Dia bebas, tapi ada batasan juga. Kalo sampe kelewat batas, aku nggak akan maafin!” tegas Icha.

 

“Nggak, Sayangku,” sahut Lutfi sambil mengecup pelipis Icha. “Cintaku buat kamu aja.”

 

“Ciye ...!” goda Yuna.

 

“Nggak usah ciye-ciye!” sahut Lutfi sambil mengalihkan pandangannya ke wajah Yuna. “Dipeluk nggak mau aja.”

 

“Ngambek dia gara-gara nggak dapet pelukan. Hahaha,” sahut Jheni.

 

“Peluk Icha aja!” perintah Yuna. “Daripada kecentilan mau peluk yang lain.”

 

Lutfi langsung mengeratkan rangkulannya. “Udah puas peluk dia setiap hari.”

 

“Jadi, kamu cari kepuasan lain?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

“Eh!? Sembarangan kalo ngomong!” sahut Lutfi sambil melempar biji kacang polong ke arah Yuna.

 

“Iih ... aku nggak suka dilempar makanan!” seru Yuna. “Baju aku kotor,” lanjutnya sambil menarik tisu di atas meja, kemudian mengusap lengannya yang terkena kotoran makanan.

 

“Ya udah, besok aku lempar batu,” sahut Lutfi.

 

“Coba kalo berani!” Yeriko langsung mendelik ke arah Lutfi.

 

“Bercanda, Yer. Mana tega sih aku ngelempar Kakak Ipar pake batu beneran,” sahut Lutfi.

 

“Lempar pake bibir aja, Lut!” sahut Yuna sambil tertawa geli.

 

Yeriko langsung menoleh ke arah Yuna. “Kamu ...!? Udah mulai nakal ya!?” tanyanya menahan geram.

 

Yuna meringis ke arah Yeriko. “Cuma bercanda, Mr. Jealous!” sahutnya sambil mengecup pipi Yeriko.

 

Yeriko tersenyum, ia balik mengecup istrinya. Mereka berenam melanjutkan makan malam sambil bercanda dan berbincang banyak hal.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini  biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 454 : Rindu yang Menggebu

 


Yeriko menyodorkan sebuah kotak ke arah Yuna saat mereka sedang berdua di dalam kamar.

 

“Apa ini?” tanya Yuna.

 

“Oleh-oleh buat kamu.”

 

Yuna tersenyum. “Makasih ...!” ucapnya sambil membuka kotak tersebut. “Wah ...! Cokelat Berlin!?” serunya dengan mata berbinar.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Suka?”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia langsung mengambil satu cokelat berbentuk menara Eiffel dan memandanginya. “Bentuknya bagus-bagus dan lucu-lucu banget. Nggak tega mau makan,” gumamnya.

 

“Aku beliin kamu buat dimakan. Bukan buat dipajang.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Sayang. Aku simpan dulu, deh.” Ia kembali menutup kotak tersebut.

 

“Mbak ...!” panggil Yuna pada seorang pelayan yang kebetulan melintas di depan kamarnya karena pintu kamar terbuka.

 

“Iya, Nyonya!” Pelayan tersebut langsung menoleh ke arah kamar dan menghampiri Yuna.

 

“Tolong simpan ini di kulkas ya! Nggak boleh ada yang makan! Ini cokelat khusus buat aku. Nanti aku beliin cokelat lain buat kalian,” perintah Yuna.

 

“Siap, Nyonya Muda!” Pelayan itu segera mengambil kotak dari tangan Yuna dan bergegas pergi.

 

“Besok malam ... Lutfi sama Chandra ngajak ngumpul. Kamu mau ‘kan?”

 

“Di mana?”

 

“Di Sangri-La.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Aku juga udah kangen ngumpul bareng mereka.”

 

“Besok pagi, jadi pergi?” tanya Yeriko.

 

“Ke mana?” tanya Yuna balik.

 

“Mau ke rumah ayah kamu ‘kan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Tapi ... aku masih kangen sama kamu. Ntar kamunya sibuk ngobrol sama ayah terus,” tuturnya sambil menyandarkan kepalanya di dada suaminya.

 

“Aku juga kangen sama kamu,” bisik Yeriko sambil memeluk Yuna.

 

Yuna tertawa kecil sambil mengeratkan pelukannya.

 

“Gimana tidur kamu belakangan ini? Nyenyak?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku susah tidur kalau nggak ada kamu. Lain kali, kalau pergi dinas lagi, jangan lama-lama ya!” pintanya manja.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Lain kali, kamu mau ikut?”

 

Yuna mengedikkan bahu. “Kalo aku ikut, malah ganggu konsentrasi kerjaan kamu.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kamu memang sering mengganggu pikiranku. Kalau ada kamu, pengennya bercinta terus.”

 

“Uch, dasar mesum!” dengus Yuna sambil memonyongkan bibirnya.

 

“Siapa yang suka godain duluan?” tanya Yeriko menyelidik.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku nggak pernah godain, kok.”

 

“Serius?” tanya Yeriko sambil memasukkan tangannya ke dalam baju Yuna dan mengelus lembut perut istrinya itu.

 

Yuna menahan napas. Ia langsung meliukkan tubuhnya dan menciumi leher dan dada Yeriko.

 

Yeriko menggenggam pundak Yuna yang sudah menekannya di atas sofa. Ia menoleh ke arah pintu kamar yang masih terbuka. “Nggak mau tutup pintu dulu?” tanyanya sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia langsung melumat bibir suaminya. Tangannya dengan lincah melepas kancing kemeja Yeriko satu per satu.

 

“Aku tutup pintu dulu!” pinta Yeriko sambil berusaha bangkit dari sofa.

 

Yuna mengatur napasnya yang memburu sambil menatap tubuh Yeriko yang sedang menutup pintu kamar mereka.

 

Yeriko tersenyum sambil menghampiri Yuna yang masih duduk di sofa. “Kangen banget ya?” tanyanya sambil merapikan rambut Yuna yang berantakan.

 

“Apa itu pertanyaan yang masih butuh jawaban lagi?” sahut Yuna ketus. Ia menarik bantal sofa yang terjepit di punggungnya dan memeluknya erat. Tangan satunya meraih remote televisi dan menyalakan televisi tersebut.

 

Yeriko tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat sikap istrinya yang tiba-tiba marah saat mendengar pertanyaan darinya. Ia melepas kemeja yang semua kancingnya sudah terbuka.

 

“Nggak usah buka-bukaan di sini! Aku udah hilang mood.” Yuna menopang wajah dengan kedua telapak tangannya sambil melirik Yeriko yang duduk di sampingnya.

 

“Jangan ngambek, dong!” pinta Yeriko sambil meraih tangan Yuna. “Ntar cantiknya ilang.”

 

Yuna tak menanggapi, matanya tetap saja fokus menatap layar televisi.

 

Yeriko menghela napas. “Ya udah kalo mau ngambek. Aku tidur di ruang kerja aja,” ucapnya sambil mengangkat pantatnya dari sofa.

 

“Jangan!” Yuna langsung menyambar lengan Yeriko, menahannya agar tidak pergi.

 

Yeriko tertawa dalam hati. Ia sangat mengetahui sifat istrinya yang sangat manja dan selalu mencari perhatian darinya.

 

“Ay ...!” panggil Yuna sambil menggigit bibirnya.

 

“Masih ngambek, nggak?” tanya Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia langsung menarik tubuh Yeriko hingga tubuh pria itu menekannya di atas sofa. “Jangan candain aku terus!” pintanya sambil menatap mata Yeriko yang jaraknya tak lebih dari sepuluh sentimeter dari matanya.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap wajah Yuna. Ia meletakkan ujung hidungnya ke ujung hidung Yuna, lalu mengayunkannya dengan lembut. “Bukannya kamu yang lebih sering bercanda dan main-main sama aku? Kenapa ngambek cuma karena aku tanya begitu doang?” tanyanya lembut.

 

“Kesel aja. Kamu udah tahu kalau aku kangen banget. Udah seminggu nggak ketemu. Bisa-bisanya masih dijadiin bahan candaan. Kamu tuh nggak kangen sama aku?”

 

“Kangen banget,” jawab Yeriko lembut sambil mengelus-elus pipi Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menggigit bibirnya. Ia mengecup bibir Yeriko beberapa kali.

 

Yeriko tersenyum, ia balas melumat bibir Yuna. Jemari tangannya mulai liar hingga masuk ke sela-sela jemari tangan Yuna. Detak jantungnya semakin cepat saat jemari tangan Yuna mencengkeram kuat punggung tangan Yeriko. Ia selalu bermain dengan hati-hati agar bisa membuat Yuna bahagia tanpa menyakiti anak yang ada di dalam perutnya.

 

“I love you ...” bisik Yeriko lirih.

 

Yuna tak menyahut, ia hanya membalas dengan menghisap leher dan dada Yeriko, meninggalkan kissmark di tubuh suaminya itu. Mereka terus bercinta, melepas kerinduan yang selama ini terpendam selama beberapa hari belakangan.

 

 

 

...

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

Yeriko memenuhi janjinya untuk menikmati sarapan pagi di rumah ayah Yuna. Setelah kembali dari perjalanan dinasnya, ia tidak langsung pergi ke perusahaan. Ia mengendalikan pekerjaannya dari rumah dan mempercayakan semuanya pada Riyan. Kali ini, ia ingin memberikan banyak waktu untuk keluarganya.

 

“Gimana hasil pengembangan bisnis kamu di Eropa?” tanya Adjie begitu ia dan Yeriko sudah duduk bersama-sama di meja makan.

 

“Lancar, Yah,” jawab Yeriko. “Kami berencana meluncurkan merk baru. Merk yang lebih mudah diterima secara internasional. Merk itu rencananya akan kami luncurkan pertama kali di beberapa kota di Eropa. Setelahnya, baru akan merambah ke negara lain. Termasuk Afrika dan Amerika.”

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala. “Kenapa pilih Eropa? Bukannya, kamu dulu sekolah di New York?”

 

“Ada banyak pertimbangan soal ini. Kami sudah melakukan riset sebelumnya. Produk yang kami luncurkan ini akan lebih mudah diterima di pasar Eropa. Secara kualitas, juga bisa bersaing dengan produk-produk terkenal di Eropa.”

 

Adjie mengangguk-angguk tanda mengerti. “Kamu pebisnis yang masih muda dan berbakat. Ayah percaya, kamu pasti bisa membuat perusahaan kamu berkembang dengan pesat.”

 

Yeriko tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Ayah bangga sama kamu. Masih semuda ini, kamu sudah sukses.”

 

Yeriko hanya tersenyum menanggapi ucapan Adjie. “Ah, Ayah terlalu berlebihan. Aku masih belajar soal bisnis.”

 

“Belajar, tapi hasilnya selalu mengejutkan.”

 

Yeriko tertawa kecil. Sementara Yuna hanya menyimak pembicaraan dua orang lelaki yang ada di hadapannya itu. Setiap kali keduanya membahas soal bisnis dan perusahaan, Yuna selalu merasa kalau keberadaannya tak pernah dianggap.

 

Mereka menikmati sarapan pagi sambil berbincang banyak hal hingga siang menjelang. Saat jam makan siang, Yuna dan Yeriko sudah berpindah ke kediaman keluarga besar Hadikusuma untuk menikmati makan siang bersama kakeknya.

 

Yuna dan Yeriko selalu berusaha bersikap adil pada keluarga dan mertuanya. Sejak menikah dengan Yuna, Yeriko yang jarang pulang ke rumah keluarga besarnya, menjadi lebih sering pulang dan menginap di rumah orang tuanya. Bagi Yuna, menjaga keharmonisan rumah tangga dan keluarganya adalah hal yang paling penting. Ia menyayangi keluarga suaminya seperti keluarga kandungnya sendiri.

 

((Bersambung ...))

Dukung terus cerita ini  biar aku makin semangat bikin cerita yang lebih seru lagi.

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Saturday, February 14, 2026

Dari Sampah jadi Solusi: Cover Printer dari Daur Ulang Kain Perca

 


Saat kita berbicara tentang masalah sampah, yang sering terlintas dalam pikiran adalah plastik atau kertas. Namun, ada satu jenis limbah yang sering terabaikan namun berdampak besar terhadap lingkungan, yakni limbah tekstil

Setiap tahunnya, jutaan ton kain dan pakaian dibuang di tempat pembuangan, sebagian besar akan tetap berada di sana selama bertahun-tahun karena sulit terurai secara alami. Sementara itu, sebagian besar industri tekstil menghasilkan sisa potongan kain atau kain perca yang sering dianggap tidak berguna dan berakhir sebagai sampah.


Limbah Kain adalah Masalah Lingkungan yang Sering Dilupakan

Kain perca berasal dari sisa produksi jahit-menjahit, konveksi, atau pabrik garmen — potongan kain yang tak lagi dipakai. Karena tak mudah terurai dan sering dibakar begitu saja, limbah ini berpotensi mencemari tanah, udara, dan bahkan memengaruhi kesehatan jika dibakar tanpa pengelolaan tepat.

Berbagai studi dan program komunitas menunjukkan kenyataan itu. Di banyak desa dan kota, masyarakat diajak untuk memberikan nilai pada sisa kain ini melalui pelatihan daur ulang — menjahitnya menjadi kerajinan seperti scrunchies, keset kaki, tas, atau aksesori fashion.

Melihat fakta tersebut, pertanyaan yang muncul adalah: apa yang bisa kita lakukan untuk menjadikan limbah kain bukan beban, tapi aset?



Ide Inovatif: Cover Printer dari Kain Perca

Bayangkan sepintas produk sederhana seperti cover printer. Biasanya terbuat dari bahan sintetis atau plastik tipis yang justru menambah beban lingkungan setelah rusak. Namun kini, kamu bisa menggantinya dengan cover printer yang terbuat dari kain perca daur ulang — sebuah inovasi ramah lingkungan yang penuh nilai estetika dan fungsi.

Kenapa Menggunakan Cover Printer ini Penting?

  1. Mengurangi sampah tekstil
    Cover printer dari kain perca memberi second life pada kain sisa produksi tekstil yang seharusnya hanya jadi sampah. Daripada menumpuk atau dibakar, kain ini diolah menjadi produk fungsional.

  2. Menyalurkan ekonomi kreatif
    Produk seperti ini membuka peluang kerja bagi perajin lokal, terutama mereka yang sudah terlatih mengolah kain perca melalui proses daur ulang.

  3. Meningkatkan kesadaran lingkungan
    Ketika pengguna melihat produk yang cantik sekaligus ramah lingkungan, pesan tentang pentingnya daur ulang dan gaya hidup berkelanjutan ikut tersampaikan.



Inspirasi dan Berita Global tentang Limbah Tekstil

Masalah limbah tekstil bukan hanya terjadi di tingkat lokal saja — ini adalah fenomena global. Industri fashion dan tekstil besar merupakan salah satu kontributor utama limbah yang mencemari lingkungan dunia.

Contohnya, laporan dari dunia internasional mengungkap bahwa puluhan ribu ton pakaian bekas dari Eropa dan Amerika yang sesungguhnya tak layak pakai berujung di wilayah sensitif seperti lahan basah di Ghana. Ini menciptakan dampak serius pada ekosistem lokal sambil memperlihatkan bagaimana limbah tekstil global bergulir tanpa henti.

Di sisi lain, beberapa negara besar penghasil tekstil, seperti Bangladesh, kini didesak untuk meningkatkan sistem daur ulang sampah tekstilnya karena volume limbah yang sangat besar dan dampaknya terhadap lingkungan.

Seni, Fungsi, dan Lingkungan Berkelanjutan

Produk sederhana seperti cover printer dari kain perca daur ulang bukan hanya sekadar aksesori kantor yang menarik. Ia menjadi simbol bagaimana kreativitas dapat mengubah masalah menjadi peluang — mengurangi dampak lingkungan sekaligus memperkuat ekonomi lokal.

Inovasi semacam ini menunjukkan bahwa pelestarian lingkungan tak hanya soal besar atau teknologi canggih. Tapi juga bagaimana kita melihat kembali nilai dari apa yang selama ini dianggap “sampah” dan memberinya kehidupan baru yang lebih bermanfaat.



Referensi

Berikut sumber yang mendukung fakta dan pandangan dalam artikel ini:

  1. Textile recycling, Wikipedia — jumlah limbah tekstil global dan dampaknya terhadap lingkungan.

  2. Pemanfaatan limbah kain perca sebagai produk bernilai jual dan strateginya dalam pengelolaan limbah tekstil.

  3. Pelatihan dan program pengabdian masyarakat dalam daur ulang kain perca.

  4. Berita internasional tentang pakaian bekas yang mencemari lingkungan di Ghana.

  5. Tantangan besar pengelolaan limbah tekstil di negara penghasil teksil seperti Bangladesh. 






Mari dukung pemanfaatan limbah kain di Rumah Karya Rin Muna dengan membeli produk daur ulang ini supaya program pelestarian lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan. Tanpa dukungan dan peran dari masyarakat yang peduli terhadap lingkungan, program ini tidak akan berjalan dengan baik dan tidak akan mampu bertahan.
Silakan klik keranjang berikut ini untuk memberi dukungan dan memesan produk : 
























Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas