Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 385 : Independence Day

 


-  17 Agustus 2017, Halaman Kantor Dinas Walikota Surabaya –

 

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-72

 

 

 

“Yer, kami beneran nggak bawa Yuna?” bisik Chandra saat mereka memasuki area untuk tamu undangan VIP.

 

Yeriko menggelengkan kepala sambil memperbaiki posisi dasinya. “Kaku sendiri, nggak bawa Jheni?” tanya Yeriko balik.

 

Chandra menggelengkan kepala. “Dia nggak mau ikut upacara.”

 

“Kenapa?”

 

“Katanya sih malu. Nggak ada yang dia kenal di sini.”

 

“Ada Bunda Yana.”

 

“Iya, sih. Emang nggak mau kali. Makanya, banyak alasan.”

 

Yeriko tertawa kecil. “Istriku malah ngerengek mau ikut. Nggak aku bolehin.”

 

“Kenapa sih, Yer?”

 

“Chan, di sini banyak orang penting. Kita harus memanfaatkan momen ini. Kalo aku bawa Yuna, ntar nggak ada yang jagain dia.”

 

Chandra mengangguk-anggukkan kepala. Ia mengerti maksud Yeriko.

 

Beberapa menit kemudian. Prosesi upacara bendera dimulai dan berlangsung dengan hikmat hingga akhir.

 

Yeriko dan Chandra menyempatkan diri menyapa Walikota. Membuat mereka akhirnya masuk ke dalam gedung kantor dinas untuk menikmati hidangan yang telah disediakan.

 

“Yer, Kakak Ipar Kecil beneran nggak datang?” Satria yang masih mengenakan seragam militer langsung menghampiri Yeriko.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Ntar sore aja aku bawa ke area panahan.”

 

“Kenapa sih, Yer? Kamu jangan terlalu mengekang istrimu!” tutur Satria.

 

“Ini bukan mengekang, Sat. Tapi menjaga. Kamu tahu, dia lagi hamil. Aku nggak mungkin bawa dia ke tempat seramai ini.”

 

“Sat, kamu tahu kalau ada banyak perempuan yang terobsesi sama Yeri dan ingin menyingkirkan Yuna. Dia takut istrinya kenapa-kenapa.”

 

“Nggak sampe segitunya, Yer. Di sini aman. Aman banget. Udah disterilkan. Penjagaannya juga ketat banget. Kamu meragukan kemampuanku, hah!?”

 

“Aih, sudahlah ... nggak perlu dipermasalahkan. Dia juga butuh banyak istirahat. Semalam udah begadang. Ntar sore aja kuajak ke area panahan.”

 

“Hmm ... iya juga, sih. Takutnya dia kecapekan.” Satria mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

Yeriko tersenyum kecil.

 

“Eh, kamu yang bantu urus tes DNA Lutfi sama adiknya itu kan? Gimana hasilnya?” tanya Satria.

 

“Belum keluar.”

 

“Lama banget?” tanya Satria sambil menikmati hidangan yang tersedia.

 

“Dikira main sulap? Itu tes DNA harus diperiksa bener-bener. Dua sampai empat minggu baru bisa keluar hasilnya. Aku udah minta dipercepat. Kemungkinan satu mingguan baru selesai,” jelas Yeriko.

 

“Oh.” Satria manggut-manggut. “Kalo emang Icha adiknya Lutfi, aku pacaran aja. Lumayan.”

 

“Emangnya, Icha mau sama kamu?”

 

“Witing trenso, jalaran soko kulino!” sahut Satria.

 

“Yaelah, gayamu!”

 

Satria terkekeh. “Daripada Icha pacaran sama orang lain, mending sama aku kan?”

 

“Hahaha. Bener juga sih. Kamu nampung mantan pacar temen?”

 

“Asem ...!” dengus Satria.

 

“Jeruknya asem, Sat?” tanya Chandra sambil menahan tawa.

 

“Kamu yang asem!”

 

“Hahaha.”

 

Mereka menikmati jamuan sambil berbincang banyak hal. Yeriko dan Chandra juga menyempatkan diri untuk menyapa beberapa pejabat penting yang ada di kota tersebut.

 

 

 

Usai mengikuti upacara Hari Kemerdekaan, Yeriko langsung kembali ke rumah.

 

Begitu sampai di rumah, Yeriko langsung mencari Yuna. Namun, ia tak menemukan istrinya di dalam kamar.

 

“Yuna ...!” panggil Yeriko sambil mencari ke kamar bayi, ke balkon dan tempat-tempat yang biasa digunakan istrinya untuk bersantai.

 

“Bi, Yuna ke mana?” tanya Yeriko sambil menuruni anak tangga.

 

“Lagi berenang di belakang.”

 

“Berenang? Siang-siang gini?”

 

“Udah dari tadi pagi. Tapi belum masuk ke rumah. Masih santai di pinggir kolam.”

 

“Oh.” Yeriko bergegas melangkah menuju halaman belakang rumahnya. Ia menghampiri Yuna yang sedang berbaring di bangku yang ada di tepi kolam.

 

 Yeriko tersenyum sambil melihat wajah Yuna yang tertidur pulas. Ia langsung duduk di samping Yuna.

 

Yuna langsung membuka mata begitu ia merasakan sentuhan di pahanya. “Udah pulang?”

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kenapa tidur di sini?”

 

“Aku nggak tidur beneran. Cuma baring-baring aja.”

 

“Kamu habis berenang?” tanya Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Kamu udah makan?” tanyanya balik.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Emangnya, di sana nggak dikasih makan sama Bunda Yana?”

 

“Ada perjamuan untuk tamu. Tapi, aku nggak bisa makan di sana.”

 

“Kenapa?”

 

“Aku mau makan siang sama kamu.”

 

Yuna tersenyum. “Oke. Aku mandi dulu!” Ia bangkit dari duduknya.

 

Yeriko ikut bangkit. Ia melangkahkan kakinya sambil merangkul pinggang Yuna. “Lain kali, jangan berenang sendirian ya!” pintanya sambil mengelus perut Yuna.

 

“Kenapa?”

 

“Khawatir aja. Setidaknya, ada pelayan yang nemenin kamu.”

 

“Tadi aku ditemenin sama Bibi,” tutur Yuna.

 

“Oh. Baguslah.”

 

“Gimana upacara tadi?”

 

“Lancar. Abis makan siang, kita ke arena panahan. Yang lain, udah nunggu di sana.”

 

“Jadi mau lomba manah?”

 

“Jadi, dong.”

 

“Terus, aku ngapain? Nggak bisa ikut lomba dong?” tanya Yuna.

 

“Nggak usah ikut lomba manah. Kamu ikut lomba bikin anak aja!” sahut Yeriko.

 

“Iih ... aku nanya serius!” dengus Yuna sambil menepuk punggung tangan Yeriko yang masih bersarang di perutnya.

 

“Aku juga serius,” ucap Yeriko sambil menahan tawa.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Aku mandi dulu, kamu tunggu di sini aja!” pinta Yuna sambil melangkah menuju tangga ke kamarnya.

 

Yeriko mengangguk. Ia duduk di kursi meja makan sambil menyulut rokok.

 

“Mas, kok ngerokok di sini?” Bibi War yang sedang menyiapkan makan siang, langsung menegur Yeriko.

 

“Eh!?” Yeriko menatap Bibi War.

 

“Mbak Yuna lagi hamil. Nggak baik kalau kena asap rokok.”

 

“Lupa, Bi. Aku ke belakang dulu. Kalo Yuna udah turun, panggil aku ya!” pinta Yeriko sambil bangkit dari tempat duduknya.

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna turun dari kamar dan langsung menuju meja makan.

 

Sesuai perintah Yeriko, Bibi War langsung memanggilnya saat Yuna masih menuruni anak tangga.

 

Yeriko langsung mematikan rokoknya dan bergegas menghampiri Yuna di meja makan.

 

“Bi, sore ini nggak usah masak ya!” pinta Yeriko. “Aku sama Yuna, bakal keluar sampai  malam. Kita makan di luar.”

 

Bibi War menganggukkan kepala.

 

“Kita mau ke mana? Bukannya cuma mau lomba memanah sore ini?” tanya Yuna.

 

“Kita jalan-jalan.”

 

Yuna tersenyum senang. “Akhirnya ... beberapa hari ini udah bosen banget di dalam rumah terus,” batinnya.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil menatap wajah Yuna. “Makan yang banyak!” pintanya.

 

Yuna langsung melahap makanannya penuh semangat.

 

“Chandra dan Satria ikut upacara?” tanya Yuna.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Wah, sayang banget. Aku nggak bisa lihat. Ada pawai budaya atau nggak?”

 

“Ada.”

 

Yuna memonyongkan bibirnya.

 

“Kamu lagi hamil. Di sana terlalu ramai. Bukannya kamu nggak terlalu suka sama keramaian?”

 

Yuna terdiam. “Iya juga ya? Kenapa sekarang aku suka sedih kalo sendirian?” batinnya.

 

Yeriko tersenyum menatap Yuna. “Nggak usah sedih. Hari ini, aku bawa kamu jalan-jalan. Boleh ngelakuin apa aja sepuas kamu.”

 

“Serius?”

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Mmh ... enaknya ngapain ya?” tanya Yuna sambil mengetuk-ngetuk dagunya.

 

“Ntar aja kalo kita udah pulang dari area panahan. Aku bawa kamu keliling kota. Hari ini perayaan negara. Pasti ada banyak pertunjukkan di jalanan dan di taman-taman kota.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia terlihat sangat bersemangat.

 

“Dapet salam dari Bunda Yana.”

 

“Oh ya, salam balik ya! Mama Rully, di sana juga?”

 

“Mama nggak bilang apa-apa sama kamu?”

 

“Eh!? Dia bilang dapet undangan upacara juga.”

 

“Mama sama kakek, upacaranya di Istana Presiden. Di Jakarta sana. Bukan di sini.”

 

“Astaga ...! Jadi, kakek dan mama dapet undangan VIP dari presiden!?” seru Yuna.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Kakek pensiunan jenderal. Setiap tahunnya, beliau akan ikut upacara kenegaraan di Istana Negara.”

 

“Wah ... keren banget! Kapan aku bisa ketemu sama presiden?”

 

“Mau ketemu?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kalo udah nggak hamil, aku aturkan waktu buat ketemu sama presiden.”

 

“Hah!? Emang bisa? Semudah itu?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Kita bisa ikut kakek. Dia sering ketemu sama Presiden saat akhir pekan,” jawab Yeriko berbisik.

 

“Wah ...!” Mata Yuna berbinar. Ia tak menyangka kalau dirinya menjadi bagian dari keluarga yang begitu hebat. Bukan hanya suaminya yang terkenal sebagai direktur muda kaya raya. Tapi, mama mertua dan kakek mertuanya yang memiliki reputasi penting dalam dunia militer dan pemerintahan.

 

 ((Bersambung....))

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 384 : Independence of the Year

 


“Yer, giliranmu!” seru Satria.

 

“Bentar,” sahut Yeriko sambil merapatkan tubuh Yuna ke dalam jaketnya. Ia memutar dadu dan menjalankan boneka miliknya tepat sampai ke finish.

 

“Aargh, menang terus lu,” celetuk Lutfi.

 

Yeriko tertawa kecil.

 

“Hoki aja tuh dia,” sahut Satria.

 

“Sat, kalo menang lebih dari tiga kali, bukan hoki, tapi skill,” tutur Yeriko.

 

“Astaga ...! Mana ada main ular tangga pake skill,” seru Satria kesal.

 

Yeriko dan Yuna tertawa bersamaan.

 

“Yee ... ngaku aja kalau kalah,” tutur Yuna sambil menjulurkan lidahnya.

 

Satria berbisik ke telinga Lutfi.

 

“Hei, kalian lagi ngerencanain apa!?” seru Yeriko.

 

“Gimana kalau permainannya di ganti aja?” tanya Satria. “Aku bosen lihat dia menang mulu.”

 

“Ya udah, terserah kalian mau main apa!” sahut Yeriko santai.

 

“Udah jam setengah dua belas. Jatahku ngeluyur udah habis. Besok upacara bendera. Datang ya! Awas kalo nggak ikut upacara!” Satria bangkit dari tempat duduknya.

 

“Kok, maksa?” sahut Chandra.

 

“Lah? Katanya, cinta Indonesia? Lagian, papaku udah ngirim undangan VIP buat kalian ‘kan?” tanya Satria.

 

Chandra dan Yeriko hanya tertawa kecil menanggapi pertanyaan Satria.

 

“Ini para ibu PKK juga, ikutan upacara!” perintah Satria.

 

“Ibu PKK? Siapa yang kamu maksud?” tanya Jheni.

 

“Kamu, Icha, Kakak Ipar Kecil,” jawab Satria.

 

“Kita nggak dapet undangan. Berdiri di lapangan dong? Males banget panas-panasan,” sahut Jheni.

 

“Itu undangan buat sepasang. Kamu dateng sama Chandra! Sama panas aja takut,” seru Satria. “Ntar aku semprot air.”

 

“Idih, males banget. Dikira kita ini pendemo!?” dengus Jheni.

 

Satria terkekeh. “Kamu ini aneh, Jhen. Sama panas takut, sama air takut.”

 

“Dia beraninya sama Chandra doang,” sela Lutfi.

 

“Kata siapa!?” dengus Jheni sambil mendelik ke arah Lutfi.

 

“Galak amat! Kalah herder tetangga,” celetuk Lutfi sambil menatap wajah Jheni.

 

“Kamu yang ngatain aku penakut,” sahut Jheni.

 

“Aku nggak bilang kamu penakut, Jhen. Aku cuma bilang kalo kamu beraninya sama Chandra doang,” tutur Lutfi sambil menahan tawa.

 

“Sama aja!” dengus Jheni sambil menghunus garpu ke arah Lutfi. “Kamu mau ditusuk lagi, hah!?”

 

 “Aw ...!” Lutfi merintih sambil memegangi perutnya. “Aku ini pasien, masih aja ditindas.”

 

“Pura-pura sakit aja!” dengus Jheni sambil menoyor perut Lutfi.

 

Chandra langsung menarik tubuh Jheni ke pelukannya.

 

“Eh!? Kenapa?” Jheni langsung menatap wajah Chandra.

 

Satria tergelak. “Kamu cemburu sama Lutfi?” tanyanya sambil menatap Chandra.

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

“Nggak mau ngaku. Di pipimu ada tulisannya cemburu,” goda Lutfi sambil menunjuk wajah Chandra.

 

Chandra langsung menyentuh kedua pipinya.

 

Jheni menahan tawa sambil menatap Chandra. “Kamu cemburu?”

 

Chandra menggelengkan kepala.

 

“Awas kalo ketularan Yeriko!” ancam Jheni.

 

Yeriko membelalakkan matanya. “Maksud kamu!?” Ia menahan geram sambil menatap Jheni.

 

“Cemburuan!” celetuk Jheni.

 

“Kamu ...!?” Yeriko menunjuk wajah Jheni.

 

“Ay, nggak usah marah!” bisik Yuna sambil menarik lengan Yeriko dan memeluknya. “Aku nggak pernah mempermasalahkan itu.”

 

Lutfi tertawa kecil. “Nggak lama, kamu mati keracunan cemburu!”

 

Yeriko langsung melempar sampah makanan ke wajah Lutfi.

 

“Astaga ...! Kamu kira mukaku ini tempat sampah!” seru Lutfi.

 

Icha hanya tersenyum sambil membantu membersihkan wajah dan pakaian Lutfi.

 

“Cocok, Lut!” sahut Jheni.

 

“Sialan kamu, Jhen!”

 

“Eh, aku pulang dulu ya!” pamit Satria.

 

“Tunggu jam dua belas. Sepuluh menit lagi,” tutur Chandra.

 

Satria melirik arloji di pergelangan tangannya. “Iya juga, ya?”

 

Lutfi menunjuk-nunjuk ke arah Jendela.

 

Semua orang bangkit dari tempat duduk. Mereka melangkah menghampiri jendela. Berdiri menghadap keluar. Menatap pemandangan kota yang ada di bawah mereka.

 

Tiga.

 

Dua.

 

Satu.

 

 

 

Sirene pergantian malam mulai berbunyi, menandakan kalau sudah memasuki tanggal tujuh belas. Sebagian orang, akan memilih malam ini untuk membuat perayaan, berkumpul bersama teman atau keluarga untuk merayakan hari kemerdekaan negara. Sebelum mereka melakukan upacara sakral keesokan harinya.

 

 

 

DUAAR ...!!!

 

DUAAR ...!!!

 

DUAAR ...!!!

 

 

 

Cipratan kembang api mulai menghiasi kota. Malam ini, banyak pemuda-pemudi yang turun ke jalanan untuk merayakan malam kemerdekaan negara. Sebagian lagi, memilih berbaring di dalam kamar sambil mengucapkan hari kemerdekaan lewat media sosial mereka.

 

“Chan, apa arti merdeka buat kamu tahun ini?” tanya Satria.

 

Chandra menarik napas dalam-dalam. Setiap tahunnya, mereka akan mengungkapkan apa yang mereka sudah mereka lakukan pada tahun sebelumnya dan rencana mereka tahun depan. “Masih sama seperti tahun kemarin. Berdamai dengan papaku. Hal yang sangat sulit aku hadapi.”

 

Satria mengangguk-anggukkan kepala. “Merdekaku tahun ini ... kalau sudah bisa naik pangkat baru ke Perwira Menengah dan ketemu jodoh impian.”

 

“Kalau aku ... berharap bisa merdeka dari masalahku saat ini. Aku lagi nggak menginginkan hal lain,” tutur Lutfi.

 

Satria menghela napas sambil menggenggam pundak Lutfi. Mata mereka bertiga tertuju pada Yeriko.

 

Yeriko mengangkat kedua alisnya. “Kalian mau tahu harapan kebebasanku tahun ini?”

 

Satria dan yang lain menganggukkan kepala.

 

“Bisa melahirkan bayi yang lucu,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Eh, itu nggak masuk kategori. Yang melahirkan kan Kakak Ipar. Bukan kamu!” sahut Lutfi.

 

“Iya. Itu juga nggak masuk harapan kebebasan. Misalnya, kamu baru merdeka kalo udah punya istri baru,” goda Satria.

 

Yuna langsung mendelik ke arah Satria. “Kamu bilang apa!?”

 

“Bercanda ...,” jawab Satria sambil meringis.

 

“Bercandanya nggak lucu!” dengus Yuna kesal.

 

“Ya udah, kalo gitu ... kasih tahu kita-kita. Tahun ini, kamu mau merdeka dari apa?” tanya Satria lagi.

 

“Mmh ... bisnis tanpa regulasi,” jawab Yeriko sambil tersenyum.

 

“Eh, aku juga mau kalo itu,” sahut Lutfi.

 

“Kalian ini otak-otak bisnis,” celetuk Satria.

 

Yeriko tersenyum kecil menanggapi celetukan Satria. “Kamu juga punya bisnis. Nggak usah munafik!”

 

Satria terkekeh mendengar ucapan Yeriko. “Bisnisku nggak sebesar punyamu.”

 

“Tetep aja bisnis.”

 

Satria tertawa kecil.

 

“Jhen, kamu nggak punya harapan kebebasan tahun ini?” tanya Lutfi.

 

Jheni menggelengkan kepala.

 

“Ah, biasa ... perempuan lebih suka menyembunyikan keinginannya. Buat ngetes pria-pria di sampingnya itu peka atau nggak,” sela Satria.

 

Jheni tertawa kecil. “Nggak gitu juga. Aku mah terbuka. Mau apa aja tinggal ngomong. Soalnya, Chandra nggak peka.”

 

“Hahaha.” Satria tergelak mendengar ucapan Jheni. “Parah kamu, Chan!” lanjutnya sambil menatap Chandra.

 

“Ah, perasaan Jheni aja,” sahut Chandra.

 

Yuna tertawa kecil.

 

“Nggak usah cekikikan!” sahut Satria.

 

“Harapan merdekamu tahun ini apa?” lanjut Lutfi.

 

“Mmh ...”

 

“Jangan kelamaan mikirnya!” pinta Satria.

 

“Dia mah baru merdeka kalo punya suami yang nggak over protective,” sahut Jheni sambil tertawa kecil.

 

“Iih ... aku nggak pernah bilang begitu,” sahut Yuna.

 

“Terus apa?”

 

“Mmh ... bebas dari Bellina dan Maleficent itu, hihihi.”

 

“Hahaha.” Jheni tergelak mendengar ucapan Yuna. Matanya beralih ke arah Icha yang berdiri di sebelah Lutfi. “Cha ...!” panggilnya lirih karena sejak awal Icha tak banyak bicara.

 

“Apa?”

 

“Kalau kamu, gimana?” tanya Jheni.

 

Icha menghela napas sejenak. “Bisa terbebas dari hutang-hutangku.”

 

“Hmm, emang sulit kalo punya hutang sama pacar sendiri,” gumam Jheni.

 

“Ikhlasin aja, Lut. Pacar sendiri, masih aja ditindas,” sahut Satria.

 

“Aku nggak ngutangin. Dia sendiri yang maksa mau ngembaliin uang yang aku kasih,” tutur Lutfi.

 

“Aku akan tetap kembaliin uang itu dengan usahaku sendiri,” tegas Icha.

 

“Aih, sudah merdeka gini masih aja ngomongin hutang,” sela Satria. “Berapa hutangmu, Cha? Aku bayarin!”

 

“Dua ratus juta!” sahut Lutfi kesal. “Mau bayarin?” tanyanya sambil menatap Satria.

 

“Banyak banget!? Boleh kubayarin. Tapi si Icha jadi istriku!”

 

“Bangsat kamu!”

 

Satria terkekeh. “Dia sekarang sudah jadi adikmu. Masih aja perhitungan sama temen sendiri. Harusnya, kamu merestui adikmu sama aku,” ucap Satria sambil memainkan kedua alisnya.

 

“Hasil tes DNA belum keluar. Jangan macem-macem sama aku!”

 

Satria tertawa kecil sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Aku pulang dulu!” pamitnya sambil melangkah pergi.

 

“Kami juga pulang dulu!” pamit Yeriko sambil merangkul Yuna.

 

Yang lain juga berpamitan pergi meninggalkan Icha dan Lutfi.

 

“Eh, kalian mau pergi gitu aja? Beresin dulu mejanya!” pinta Lutfi.

 

“Kalian aja yang beresin!” sahut Jheni. Ia tertawa sambil keluar dari ruangan tersebut bersama yang lain.

 

“Kalian ...!?” Lutfi menunjuk ke arah pintu. “Bisa-bisanya yang lagi sakit disuruh beresin? Kejam banget!”

 

“Biar aku yang beresin,” tutur Icha sambil melangkah menghampiri meja dan mulai membersihkan sisa-sisa makanan mereka.

 

Lutfi duduk di atas tempat tidurnya sambil menatap Icha. Ia tersenyum kecil dan membaringkan tubuhnya. Waktu sudah semakin malam. Ia tak bisa menahan kelopak matanya terus terbuka. Sambil menatap Icha dari kejauhan. Kelopak matanya tertutup tanpa sadar. Membawanya masuk ke alam mimpi yang indah, hingga membuatnya rela tidak bangun untuk selamanya.

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas