Saturday, October 18, 2025

THEN LOVE BAB 52 : HATI YANG PATAH

 


Delana mondar-mandir di dalam kamar. Ia terus menggigiti jemarinya sendiri karena gelisah. Ia tidak tahu bagaimana caranya mengatakan keinginan Ratu.

“Iih ... gimana ngomongnya?” tanya Delana pada dirinya sendiri. Ia kembali duduk sambil mengacak rambutnya.

“Ratu gila!” umpatnya. “Tapi, aku udah janji bakal ngomong ke Chilton. Gimana dong?” tanya Delana pada dirinya sendiri.

Delana menghela napas. Ia mengumpulkan keberanian sebanyak-banyaknya dan keluar dari kamar.

Awalnya, Delana melangkah dengan ragu-ragu. Kemudian ia terus memberanikan diri sampai ia sudah berdiri di depan kamar Chilton.

Tok ... tok ... tok ...!

Delana mengetuk pintu kamar Chilton perlahan.

Beberapa menit kemudian, pintu kamar Chilton terbuka.

“Dela?” Chilton terkejut saat membuka pintu kamar dan mendapati Delana sudah berdiri di depannya. “Ngapain di sini?” tanya Chilton.

“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” jawab Delana.

“Soal Ratu?” tanya Chilton.

Delana menganggukkan kepala.

“Lebih baik kamu pergi sekarang juga!” tutur Chilton dingin.

“Aku cuma mau nyampaikan pesan dari Ratu,” tutur Delana. Ia tidak akan menyerah sampai Chilton bisa mendengarkan kalimat yang akan ia sampaikan.

“Ratu itu pacarku. Kalo dia mau ngomong, nggak perlu lewat kamu,” sahut Chilton ketus.

“Ratu yang minta aku buat ngomong ke kamu.” Delana masih tidak menyerah.

“Ck.” Chilton semakin kesal karena Delana tak kunjung pergi dari depan kamarnya. “Kamu ngerti kata pergi nggak?” tanya Chilton sambil mendorong pundak Delana.

“Aku nggak bakal pergi sampai kamu mau dengerin aku,” sahut Delana.

Chilton tersenyum sinis. “Aku heran sama kamu. Kenapa kamu mau aja disuruh-suruh sama Ratu? Ratu itu pacarku. Aku sering jalan sama dia, jadi kamu nggak perlu repot-repot ke sini cuma buat nyampein pesan dari dia.”

“Terserah kamu mau ngomong apa. Aku bakal pergi setelah aku nyampein pesan dari Ratu,” tutur Delana.

Chilton menyandarkan pundaknya di bibir pintu. “Ya udah, ngomong aja! Cepet!” pinta Chilton tanpa menatap wajah Delana.

Delana menghela napas. Jantungnya berdegup sangat kencang dan seluruh tubuhnya terasa begitu dingin.

“Cepet!” sentak Chilton.

Delana menarik napas dalam-dalam. “Ratu pengen bisa tidur seranjang sama kamu sebelum kamu berangkat ke luar negeri,” tutur Delana perlahan.

“Apa!?” Chilton mengerutkan dahinya.

Delana menulan ludahnya. “Dia pengen bisa tidur sama kamu ...”

“Kamu gila ya!?” dengus Chilton.

Delana terperangah mendengar pertanyaan dari Chilton. Ia sudah menduga kalau Chilton tidak akan menyukainya. “Pacar kamu itu lebih gila lagi!” seru Delana.

Chilton mengernyitkan dahinya. “Kamu tuh yang gila! Mau aja disuruh-suruh ngomong kayak gitu sama Ratu,” sahut Chilton. “Oh, apa kamu emang udah sering tidur sama laki-laki makanya kamu nggak malu ngomong kayak gini sama aku?”

PLAK!

Delana langsung menampar Chilton begitu mendengar kalimat yang dari mulut cowok itu. Hatinya begitu tersayat saat laki-laki yang pernah ia cintai begitu dalam justru merendahkannya serendah-rendahnya.

“Kamu nggak tahu apa-apa sama sekali soal aku,” tutur Delana dengan mulut bergetar.

Chilton melirik Delana sambil memegangi pipinya yang terasa pedis karena tamparan dari Delana. Ini bukan pertama kalinya Delana menampar pipinya. Ia memang tak bisa mengendalikan diri, selalu berpikir negatif tentang Delana. Sesungguhnya, ia memang tidak pernah memahami Delana sama sekali.

“Sampai saat ini aku belum pernah pacaran. Ciuman aja aku nggak pernah. Gimana kamu bisa ngatain aku sering tidur sama laki-laki!? Apa kamu pikir aku semurah itu?” tanya Delana dengan mata berkaca-kaca.

Chilton bergeming. Ia tak berani menatap Delana sedikitpun.

“Aku di sini karena kamu. Karena permintaan pacar kamu yang sinting itu! Apa kamu pikir, aku seneng ngelakuin ini semua? Aku suka sama kamu dari pertama kali kita ketemu. Kamu sendiri yang bilang ke aku kalo aku harus ngebuktiin keseriusan aku. Aku udah ngelakuin banyak hal buat kamu.” Delana tak mampu lagi membendung air matanya.

“Selama enam bulan kita dekat. Tiba-tiba aja kamu nolak aku setelah aku ngerasa jadi wanita yang paling dicintai di dunia ini,” tutur Delana sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya.

“Apa kamu pikir itu nggak sakit? Terlebih lagi kamu lebih milih buat jadian sama cewek lain yang lebih cantik, lebih populer dan lebih segalanya dari aku.” Air mata Delana terus berderai dan ia tak bisa membendungnya lagi.

“Lihat kamu jalan sama cewek lain aja aku udah ngerasa sakit hati banget. Apalagi aku harus tahu kamu bakal tidur sama cewek lain. Itu sakit banget!” tutur Delana sambil memukul dadanya sendiri.

“Aku cuma pengen lihat kamu bahagia sekalipun itu sama orang lain. Itu alasannya kenapa sekarang aku di sini,” tutur Delana sambil menahan emosinya.

“Makasih buat penghinaan kamu selama ini!” tutur Delana sambil membalikkan tubuhnya. Ia tak sanggup lagi menahan semua rasa sakit di dalam hatinya.

Chilton hanya diam. Ia menatap punggung Delana yang mulai melangkah pergi.

“Satu lagi!” tutur Delana sambil menoleh ke arah Chilton. “Cowok-cowok tampan dan kaya yang deket sama aku selama ini, mereka semua saudaraku. Bukan cowok-cowok yang selama ini kamu pikirkan,” tutur Delana sambil melangkahkan kaki perlahan meninggalkan Chilton.

Delana menghentikan langkahnya saat melihat mobil Chevrolet kuning yang terparkir di depan gerbang asrama cewek. Karena kamar Chilton berada di lantai dua, ia bisa melihat dengan leluasa siapa saja yang keluar masuk asrama puteri.

Delana menoleh ke arah Chilton yang masih berdiri di pintu kamarnya. “Gerbang asrama tepat menghadap ke pintu kamar Chilton. Artinya, dia bisa memerhatikan siapa saja dari sini. Apa Chilton belum pernah lihat cowok yang pakai mobil kuning itu?” tanya Delana dalam hatinya.

Chilton langsung membuang pandangannya saat melihat Delana masih menoleh ke arahnya. Ia mengusap tengkuknya, ia langsung salah tingkah karena ketahuan sedang memerhatikan Delana. Chilton langsung menarik gagang pintu dan melangkah masuk ke kamarnya.

“Tunggu!” teriak Delana. Ia berlari menghampiri Chilton.

Chilton menaikkan kedua alisnya sambil menoleh ke arah Delana. Ia heran dengan Delana yang begitu mudahnya berubah atau memang dia hanya pura-pura tegar?

“Ikut aku!” Delana menarik lengan Chilton dan mengajaknya berdiri di balkon yang tak jauh dari pintu kamar Chilton.

“Lihat?” tanya Delana sambil menatap lurus ke depan.

Chilton tak mengerti maksud Delana. Ia malah menoleh ke arah Delana sambil menaikkan satu alisnya.

Delana gemas melihat sikap Chilton. Ia langsung menggenggam wajah Chilton dan mengarahkan pandangannya pada mobil Chevrolet kuning yang ada di bawah mereka.

Chilton membelalakkan matanya melihat Ratu keluar dari mobil dan terlihat begitu ceria berbicara dengan laki-laki yang mengantarnya.

“Udah lihat?” tanya Delana sambil menatap Chilton.

Chilton tak menjawab. Matanya terus memerhatikan Ratu yang terlihat begitu akrab dengan cowok pemilik mobil Chevrolet itu.

“Cowok itu kelihatan berkelas,” gumam Delana. “Kamu nggak ada apa-apanya di mata Ratu,” tutur Delana sambil berlalu pergi.

Chilton bergeming. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Meninggalkan cewek sebaik Delana untuk cewek seperti Ratu. Hatinya begitu terpukul ketika ia mengetahui kalau Ratu mempermainkan perasaannya.

Chilton menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia tidak menyangka kalau cewek yang ia pilih menjadi kekasih justru menghianatinya. Ia malu pada dirinya sendiri. Selama ini ia sibuk berpikir negatif tentang Delana, hingga ia sendiri tak tahu kalau kelakuan pacarnya jauh lebih buruk.

“Maafin aku, Del!” bisiknya sambil membenturkan kepalanya ke dinding. Cinta telah membutakan mata hatinya. Ia seringkali menuduh Delana sebagai cewek murahan tanpa ia tahu sama sekali siapa sebenarnya orang-orang yang ada di sekitar Delana. Hatinya begitu tersayat ketika ia tahu kalau cowok-cowok yang selama ini dekat dengan Delana adalah saudaranya sendiri.

Chilton melangkahkan kakinya perlahan memasuki kamar dan langsung terduduk lemas di atas ranjangnya.

Sementara itu, Delana melangkahkan kakinya menahan kekesalan. Ia langsung menghampiri Ratu yang sedang berbincang mesra dengan laki-laki lain.

“Dela?” sapa Ratu begitu melihat Delana sudah ada di depannya.

Delana tak menjawab. Ratu terlihat salah tingkah dan berusaha menyembunyikan kesalahannya dengan senyuman paling manis yang ia miliki.

“Del, kenalin ini ...”

Belum sempat Ratu memperkenalkan cowok yang bersamanya. Delana langsung menarik lengan Ratu.

“Kenapa, Del?” tanya Ratu heran.

“Ikut aku!” pinta Delana sambil mengeratkan genggaman tangannya.

“Aku pergi dulu, ya!” pamit Ratu sambil melambaikan tangan dengan ceria pada cowok pemilik Chevrolet itu.

Delana terus menarik lengan Ratu dan membawanya masuk ke dalam halaman asrama cowok.

“Ada apa sih, Del?” tanya Ratu heran. Ia berusaha melepas genggaman tangan Delana namun Delana menggenggamnya semakin erat.

Delana tak menjawab. Ia membawa Ratu menaiki anak tangga ke arah kamar Chilton.

“Lepasin, Del!” pinta Ratu. “Sakit.”

Delana tak peduli, ia terus membawa Ratu sampai di depan pintu kamar Chilton yang masih sedikit terbuka. Delana langsung mendorong pintu kamar Chilton tanpa mengetuknya.

Chilton mengangkat wajahnya menatap pintu kamarnya yang tiba-tiba terbuka lebar. Ia terkejut ketika melihat Delana membawa Ratu masuk ke dalam kamarnya.

Delana langsung menarik tubuh Ratu dan menghempaskannya ke ranjang Chilton sampai Ratu tersungkur di sisi Chilton.

“Kasar banget, sih,” gumam Ratu sambil mengelus pergelangan tangannya yang terasa sakit.

Chilton menelan ludah. Ia sama sekali tidak punya keinginan menatap Ratu yang sudah duduk di sampingnya. Ia merasa sakit hati karena dibohongi oleh wanita yang ia pilih menjadi kekasihnya.

“Kamu lihat sendiri, dia jalan sama cowok pemilik chevrolet kuning itu!” tutur Delana sambil menunjuk wajah Ratu.

“Selama ini kamu ngata-ngatain aku murahan. Gonta-ganti cowok sana-sini tanpa kamu bisa buktiin sama sekali cowok-cowok itu punya hubungan apa sama aku. Sekarang kamu lihat sendiri kalau pacar kamu ini jauh lebih murahan dari aku!” seru Delana.

Chilton memejamkan matanya menahan kekesalan. “Keluar dari kamarku sekarang!” pintanya tanpa menatap Delana.

“Chil, aku kayak gini karena belain kamu biar nggak disakitin sama cewek brengsek ini!” sahut Delana.

“KELUAR!” pinta Chilton dengan wajah yang dingin sedingin salju.

“Chil, kamu malah belain dia? Dia itu udah jelas-jelas ngehianati kamu,” tutur Delana lirih. Ia menatap wajah Chilton yang masih tertunduk sambil menatap lantai yang ada di bawah kakinya.

“Kamu denger nggak aku bilang? KELUAR!” teriak Chilton sambil berdiri menatap wajah Delana penuh amarah.

Delana terdiam. Ia menatap lekat wajah Chilton yang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Wajah Chilton terlihat merah padam menahan emosi. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Chilton justru akan mengusirnya. Ia melakukan ini semua karena tidak ingin Chilton disakiti oleh orang lain.

Bukannya dihargai, usaha Delana untuk membela Chilton justru mendapat penolakan. Chilton sama sekali tidak mendengarkan dirinya.

Mata Delana berkaca-kaca menatap mata Chilton yang memerah. Luka dalam hatinya menghasilkan bulir-bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya.

“Aku kayak gini karena aku peduli sama kamu. Aku nggak bisa lihat kamu disakiti,” tutur Delana lirih.

Chilton menatap mata Delana yang berlinang air mata. Ini bukan pertama kalinya Chilton membuat Delana menangis. Ia berkali-kali melukai hati Delana dan ia masih melakukanya hingga saat ini.

“Aku nyesel pernah kenal sama kamu. Pernah cinta sama kamu itu kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku benci sama diriku sendiri karena aku nggak pernah bisa benci kamu sekalipun kamu nyakitin aku berkali-kali, sekalipun kamu udah bikin aku nangis berkali-kali,” tutur Delana dengan derai air mata.

“Sekarang aku sadar kalo kamu bukan laki-laki yang pantas buat aku. Sekarang ... AKU BENCI KAMU! Raditya Chilton!” teriak Delana sambil mendorong dada Chilton hingga cowok itu kembali terduduk di atas ranjangnya. Delana langsung berlari keluar dari kamar Chilton.

Chilton tidak menghentikan Delana untuk pergi meninggalkannya. Membuat Delana semakin yakin kalau ia harus bisa membenci cowok itu. Menghapus semua kenangan manis yang pernah mereka jalani bersama.

Delana terus berlari sambil menangis. Ia tak peduli dengan beberapa orang yang kebetulan berpapasan dengannya dan menatap heran. Delana terus saja berlari sampai di depan pintu gerbang rumahnya. Ia berusaha menghapus air matanya sambil membuka pintu rumahnya. Tapi ia gagal, air matanya justru mengalir semakin deras.

“Kakak kenapa?” tanya Bryan heran melihat kakaknya masuk ke dalam rumah sambil menangis.

Delana tak menjawab. Ia langsung berlari masuk ke dalam kamar dan menangis sejadi-jadinya.

Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya. Perlahan ia menaiki anak tangga dan menghampiri kamar Delana. Bryan menarik gagang pintu kamar Delana. Terkunci.

Bryan mengetuk pintu kamar Delana perlahan. “Kak ...!” panggilnya.

“Kakak nggak papa, Dek,” sahut Delana dari dalam kamar. Ia menahan isak tangisnya.

“Beneran?” tanya Bryan lagi.

“Iya. Kakak ngantuk, mau tidur!” teriak Delana.

Bryan menghela napas. Ia tidak tahu sama sekali apa yang terjadi pada kakaknya dan tidak tahu harus berbuat apa.

Delana menyambar remote televisi yang ia letakkan di atas meja meja lampu tidur. Ia langsung menyalakan televisi dan menambah volume televisinya sangat keras.

Bryan menggeleng heran ketika terdengar suara televisi dari luar kamar kakaknya. Ia memilih untuk menuruni tangga dan menelepon seseorang.

“Halo ...!” sapa seseorang di seberang sana.

“Halo, Kak Belvi lagi di mana?” tanya Bryan.

“Lagi di perpustakaan, Dek. Ngerjain tugas. Ada apa?” tanya Belvina balik.

“Oh. Nggak papa. Cuma nanya aja,” jawab Bryan.

“Serius? Ada apa? Nggak biasanya kamu nelpon cuma nanya doang,” sahut Belvina.

“Mmh ... Kak Dela sama Kakak?” tanya Bryan berbohong. Ia tidak ingin mengganggu Belvina yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya.

“Nggak. Mungkin ke asrama kali, Dek. Atau lagi ngajar di Prapatan,” jawab Belvina. “Nggak kamu telepon dia?”

“Hp-nya ketinggalan di rumah,” jawab Bryan.

“Oh. Gimana ya? Ntar Kakak bantu cari, deh.”

“Nggak usah, Kak. Makasih ya!” ucap Bryan sambil menutup panggilan teleponnya.

Bryan menjatuhkan tubuhnya di sofa. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk menghibur kakaknya.

Delana terus menangis di dalam kamarnya. Kali ini ia tidak ingin diganggu oleh siapapun. Ia ingin menata hatinya sendiri. Mengumpulkan kebencian sebanyak-banyak pada cowok yang telah menyakitinya berkali-kali.

“AKU BENCI KAMU!” teriak Delana sambil memukul-mukul bantal.

Delana mengusap air matanya. “Kenapa sih aku harus nangis gara-gara kamu?” tanya Delana pada dirinya sendiri. Telah banyak air mata yang ia keluarkan untuk cowok itu. Cowok yang tidak bisa menghargai perasaannya sedikitpun.

Delana bangkit dan berdiri di depan cermin. Ia menarik napas dalam-dalam dan menghapus sisa-sisa air mata yang membasahi wajahnya. Ia tersenyum memberi semangat pada dirinya sendiri. “Kamu nggak boleh nangis, Del! Nggak boleh nangis cuma karena cowok brengsek itu. Dia nggak pantas buat kamu. Nggak pantas sama sekali,” tutur Delana pada bayangan dirinya sendiri.

Ia menatap layar televisi yang masih menyala. Ada acara kuliner yang begitu menggoda mata Delana.

Delana menarik napas dalam-dalam. “Hmm ... daripada aku sibuk nangisin cowok itu. Lebih baik aku masak aja dan ngajak bubuhannya makan bareng di sini. Kayaknya lebih seru,” tutur Delana sambil tersenyum.

Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, Delana memilih mengalihkan perhatiannya pada hal lain yang akan membuatnya lupa pada Chilton dan kisah manis yang pernah mereka lalui bersama.

Delana menyambar tas miliknya dan keluar dari kamar.

Bryan langsung menoleh ke arah tangga begitu mendengar suara langkah kaki. Ia bangkit dan menatap kakaknya yang sudah terlihat lebih baik.

“Kakak udah makan?” tanya Bryan.

“Belum,” jawab Delana.

“Aku bikinin nasi goreng, mau?” tanya Bryan.

“Nggak usah, Dek. Biar Kakak aja yang masak. Kamu mau makan apa?” tanya Delana.

“Yakin mau masak?” tanya Bryan kurang yakin melihat kakaknya yang terlihat masih kacau.

Delana mengangguk pasti.

“Kita makan di luar aja, gimana?” tanya Bryan.

“Kakak lagi malas keluar,” jawab Delana.

“Terus mau masak apa? Di dapur nggak ada apa-apa,” tutur Bryan.

“Kakak ke pasar dulu sebentar,” sahut Delana.

“Biar aku aja yang ke pasar.” Bryan menawarkan diri.

Delana mengerutkan dahinya. “Bisa?”

Bryan menganggukkan kepala. “Catat aja yang mau dibeli!” pinta Bryan.

“Oke, deh.” Delana melenggang ke arah dapur. Ia mengambil kertas catatan dan pena, kemudian menulis semua bahan yang akan ia beli ke pasar.

“Nih!” Delana menyodorkan catatan belanja pada Bryan.

“Oke. Duitnya?” tanya Bryan sambil menengadahkan tangannya.

Delana langsung membuka dompet dan memberikan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Bryan.

“Aku berangkat dulu ya!” pamit Bryan setelah menerima uang dari kakaknya.

“Hati-hati ya!” seru Delana.

“Iya.”

Delana mengedarkan pandangannya ke arah dapur. Sembari menunggu Bryan kembali. Ia memilih untuk mengupas bawang terlebih dahulu. Menyiapkan bumbu-bumbu yang ia butuhkan untuk membuat masakannya kali ini.

Air mata Delana kembali mengalir. Ia mengingat masa-masa di mana dirinya menyiapkan sarapan setiap hari untuk Chilton. Saat itu, Chilton terlihat sangat bahagia menikmati hasil masakannya. Memakan semua masakan Delana dengan lahap.

Delana mengusap air matanya. “Jangan nangis, Del!” ucapnya pada dirinya sendiri. “Kenangan itu terlalu manis untuk ditangisi. Seharusnya kamu bisa mengingatnya sambil tersenyum bahagia,” tutur Delana sambil tersenyum.

Banyak hal yang membuatnya tidak bisa melupakan hari-harinya bersama Chilton. Setiap sudut rumahnya, setiap sudut kota ini, selalu mengingatkan banyak hal tentang cowok itu.

Delana yakin kalau suatu hari ia akan melupakan Chilton. Seperti bagaimana ia melupakan Aravin dalam hidupnya. Ketika mereka tak lagi saling bertemu, dunia akan berubah. Delana akan bertemu dengan orang-orang baru, begitu juga dengan Chilton.

Drrt ... Drrt ... Drrt ...

Ponsel Delana yang ia letakkan di atas meja tiba-tiba bergetar. Ia langsung menatap layar ponsel dan membaca nama seseorang yang memanggilnya. Delana langsung menjawab dan mengaktifkan loudspeeker.

“Halo, Dhan! Kenapa?” tanya Delana.

“Kamu di mana?”

“Di rumah.”

“Aku ke sana ya!”

“Wah, iya. Kebetulan aku mau masak banyak. Ajakin Alan sama Anshu juga ya!”

“Alan aja. Anshu udah berangkat ke Surabaya.”

“Kapan berangkatnya? Dia nggak ada pamitan sama aku.”

“Kemarin. Tahu sendiri dia kayak apa.”

“Oh. Ya udah, aku tunggu di rumah ya!”

“Oke. On the way ...” sahut Dhanuar, ia langsung mematikan sambungan teleponnya.

Delana tersenyum. Ia merasa bersyukur karena dikelilingi oleh orang-orang menyayanginya. Menghabiskan waktu bersama sepupu-sepupunya memang sangat seru dan bisa mengalihkan perhatiannya agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan.

Beberapa menit kemudian, Bryan sudah kembali dari pasar. Ia membawa dua kantong plastik besar berisi sayuran dan bahan-bahan yang dipesan oleh Delana.

“Banyak banget belanjaan Kakak!” seru Bryan sambil meletakkan kantong plastik itu di dekat Delana.

“Kok cepet? Udah pinter belanja, nih,” puji Delana sambil menepuk Bryan.

“Aku nyuruh orang, hehehe,” sahut Bryan sambil meringis.

“Nyuruh orang? Siapa yang kamu suruh? Untung uangnya nggak dibawa kabur sama orangnya.”

“Bibi,” jawab Bryan sambil memainkan alisnya.

Delana langsung menatap wajah Bryan. “Bibi yang bersih-bersih di rumah sini?”

“Iya. Kebetulan ketemu di pasar.”

“Kamu ini, ngerepotin orang terus!”

“Bibi juga nggak keberatan, kok. Dia kasihan lihat aku kebingungan belanja sendiri.”

“Huu ... dasar! Tadi nawarkan diri buat belanja sendiri. Kalo tahu gitu, mending kakak yang pergi belanja.”

“Udahlah, kakak masak aja!” tutur Bryan sambil meninggalkan Delana di dapur seorang diri.

“Eh, bantuin kakak!” pinta Delana.

“Butuh bantuan?” tanya Bryan sambil membalikkan tubuhnya menatap Delana.

“Iya. Bantu kupas-kupas sama potong-potong sayurnya biar cepet. Alan sama Dhanu mau ke sini. Kita makan bersama!” seru Delana ceria.

Bryan tertawa kecil. “Tunggu aja mereka datang sekalian baru masak. Biar ikut bantuin masak sekalian.”

Delana tertawa. “Alan sama Dhanu bantuin masak? Yang ada malah ngacau.”

Bryan langsung membantu Delana. Mengikuti setiap intruksi Delana dengan baik.

“Tuh, mereka udah datang!” tutur Bryan saat mendengar suara mobil terparkir di depan halaman rumahnya.

“Bukain pintu, gih!” perintah Delana.

Bryan langsung membersihkan tangannya dan bergegas membukakan pintu untuk kedua kakak sepupunya.

Akhirnya, Delana bisa mengalihkan kesedihannya dengan menghabiskan waktu bersama adik dan sepupunya. Mereka menikmati makan malam bersama penuh canda tawa.

 

 ((Bersambung...))

 

 


THEN LOVE BAB 51 : KEINGINAN GILA RATU

 


“Hai, sorry telat!” suara di belakang Ratu mengagetkannya.

“Hai, Sayang!” Ratu langsung menoleh ke arah sumber suara. Ia langsung merangkul Chilton dan mengajaknya duduk di sampingnya.

“Udah lama nunggu?” tanya Chilton sambil tersenyum menatap Ratu. Tapi, ia tidak benar-benar memandang Ratu. Pandangannya justru terfokus pada gadis yang ada di sebelah Ratu, Delana Aubrey.

Sementara Delana terdiam. Entah kenapa Ratu mengajak pacarnya datang ke tempat ini. Ia pikir, Ratu hanya akan mengajaknya saja. Tapi kini ia merasa seperti kambing congek dan tidak tahu harus berbuat apa karena ia menjadi orang ketiga antara Chilton dan Ratu.

“Nggak, kok. Kita juga baru nyampe di sini. Kamu mau minum apa?” tanya Ratu.

Chilton menggelengkan kepala.

“Kenapa?”

“Nggak haus,” jawab Chilton sambil tersenyum. Ia melirik Delana yang terlihat begitu cuek menyikapi kehadirannya.

Delana teringat kejadian malam itu saat Chilton tiba-tiba menciumnya dengan paksa karena sikap cemburunya yang begitu besar. Saat itu, Delana merasa kalau Chilton masih menyukainya.

Tapi, tiba-tiba ia melihat Chilton bergandengan mesra dengan Ratu hari ini. Semudah itu Chilton melupakan kejadian yang terjadi di antara mereka dan membuat Delana merasa begitu sakit.

“Kamu nggak ngajar hari ini?” tanya Ratu.

Chilton menggelengkan kepala. “Udah resign.”

“Hah!? Kenapa resign?” tanya Ratu sambil menatap Chilton serius.

Chilton hanya tersenyum kecil, membuat Ratu akhirnya bertanya pada Delana.

“Del, kamu tahu Chilton resign? Kalian satu tempat kerja kan?”

Delana menelan ludah mendengar pertanyaan dari Ratu. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin ia mengatakan soal pertengkaran yang terjadi antara Chilton dan dirinya.

“Dia belum tahu. Aku baru aja resign. Mau fokus sama materi kuliahku,” sahut Chilton.

“Oh ... kamu jadi ikut pertukaran pelajar?” tanya Ratu.

Chilton tersenyum. “Tahu dari mana?”

“Semua orang di kampus bicarain soal kamu yang mau ikut pertukaran pelajar,” jawab Ratu.

“Gosip?” Chilton menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa cewek seneng banget ngegosip?”

Ratu nyengir menanggapi pertanyaan dari Chilton. Ia memang salah satu mahasiswa yang selalu update informasi seputar kampus.

Delana menghela napas perlahan. Rasanya ia ingin segera berlari pergi melihat Chilton dan Ratu yang terlihat begitu mesra. Tapi, ia berangkat ke taman ini bersama dengan Ratu. Bagaimana ia bisa pulang lebih dulu?

Delana tertunduk lesu sambil memainkan gelas yang isinya sudah habis ia minum.

Chilton memberi isyarat pada Ratu kalau Delana mulai merasa bad mood dengan suasana mereka bertiga.

Ratu malah tersenyum sambil menatap Delana yang masih tertunduk sambil memainkan gelas di tangannya.

“Del, kamu belum mau pulang 'kan?” tanya Ratu pada Delana.

“Eh!?” Delana mengangkat wajahnya menatap Ratu. “Santai aja,” ucapnya sambil tersenyum walau dalam hati ia merasa begitu kesal. Terlebih melihat Chilton yang memperlakukan Ratu begitu manis setelah apa yang terjadi di antara mereka.

“Sip, deh! Pulang bareng aja. Aku cuma mau ngobrol bentar sama Chilton,” tutur Ratu.

Delana tersenyum. “Ngobrol aja!” pintanya. Ia langsung bangkit dari tempat duduknya.

“Mau ke mana?” tanya Ratu begitu melihat Delana sudah bersiap pergi.

“Mau pesen jus buat adik sama sepupuku di rumah,” jawab Delana.

“Oh. Kirain udah mau pergi ninggalin aku,” tutur Ratu.

“Nggaklah. Selow! Aku pesen dulu ya!” pinta Delana sambil bergegas menghampiri para pedagang yang berjualan menggunakan rombong. Ia sama sekali tak ingin mendengarkan pembicaraan sepasang kekasih itu.

“Sayang, kamu beneran mau ikut pertukaran pelajar?” tanya Ratu. Ia memeluk lengan Chilton sambil menyandarkan kepala di pundak Chilton.

“Sepertinya begitu,” jawab Chilton.

“Kita bakal LDR dong?”

Chilton tersenyum. “Kita bukan anak kecil lagi. Aku rasa kamu sudah bisa menyikapinya dengan cara dewasa.”

Ratu menghela napas. “Tapi, aku bakal kangen terus sama kamu setiap hari. Aku nggak bakal lihat kamu. Cewek mana sih yang nggam sedih kalo ditinggal sama cowoknya?”

“Kamu tenang aja! Semuanya bakal baik-baik aja. Toh, sekarang zaman udah modern. Kalo kangen bisa video call.”

“Mmh ... iya sih. Tapi, rasanya pasti beda sama ketemu langsung.”

Chilton terdiam. Ia menatap jauh ke lautan yanv berkilauan diterpa sinar mentari sore. Semuanya akan berbeda. Ia pasti akan kehilangan sosok wanita yang dicintainya. Ah, ia sendiri tak yakin kalau mencintai Ratu. Jauh di dalam lubuk hatinya, ada seseorang yang telah berhasil mengusik hatinya. Bukan hanya mengusik hati, orang itu juga berhasil menguasai pikirannya hingga ia kehilangan akal sehatnya.

Terkadang, Chilton berpikir ingin membenci gadis itu. Tapi, semakin lama ia semakin tidak bisa membenci. Tak ada hal yang seharusnya ia benci dari gadis secantik dan sebaik Delana.

“Chil ...!” panggil Ratu.

Chilton langsung menatap wajah Ratu yang ada di sampingnya.

“Aku bakal nunggu kamu, kok.” Ratu tersenyum manis menatap wajah Chilton.

“Makasih.”

Ratu tersenyum dan langsung memeluk tubuh Chilton dengan erat.

“Apaan sih!? Dilihatin banyak orang!” Chilton berusaha melepas pelukan Ratu sambil mengedarkan pandanganya. Matanya tertuju pada sosok gadis yang berdiri di sisi rombong. Gadis itu tepat sedang menatapnya dan membuatnya begitu salah tingkah.

“Emangnya kenapa? Kan Cuma pelukan doang. Biasanya juga nggak papa,” tutur Ratu.

Chilton menghela napas.  Ia sadar kalau Ratu adalah kekasihnya dan bukan hal aneh jika Ratu hanya ingin memeluknya saja. Chilton langsung melingkarkan tangannya di pundak Ratu, memeluk gadis itu penuh kehangatan.

“Chil, kamu sayang nggak sih sama aku?” tanya Ratu.

“Kalo nggak sayang, nggak mungkin jadi pacar aku kan?”

“Mmh ... iya, sih. Tapi selama kita pacaran, kamu nggak pernah cium aku sama sekali. Padahal, kamu rela beliin aku tas mahal setelah tiga bulan kita jadian. Aku jadi bingung, sebenarnya kamu sayang beneran sama aku atau enggak?” tanya Ratu.

Chilton terdiam. Ia tak menjawab pertanyaan Ratu. Ia hanya mengelus lembut rambut Ratu yang terurai panjang.

Ratu menghela napas. Ia merasa kesal dengan sikap Chilton yang lebih banyak diam. Cowok itu tak banyak bicara dan seringkali membuatnya bosan.

“Kalian mau salome?” tanya Delana yang tiba-tiba sudah ada di belakang Ratu dan Chilton.

Ratu dan Chilton menoleh ke arah Delana bersamaan.

Delana tersenyum manis. Walau bagaimanapun, Ratu dan Chilton adalah temannya dan sudah seharusnya ia bersikap baik. “Mau nggak?” tanya Delana lagi.

“Boleh, deh,” jawab Ratu.

“Mau berapa?”

“Sepuluh ribu aja.”

“Pedes nggak?” tanya Delana lagi.

“Sedang aja,” jawab Ratu. “Kamu mau nggak?” tanya Ratu pada Chilton.

“Boleh.”

“Berapa?”

“Samain aja!” pinta Chilton.

Ratu tersenyum dan menatap Delana. “Dua ya!” Ratu mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan. “Samain aja!” pintanya.

“Oke.” Delana langsung melenggang, ia menghampiri penjual salome yang sedang mangkal di tepi jalan.

“Dela tuh anaknya baik dan polos banget ya?” tutur Ratu sambil tersenyum menatap Delana yang sudah berdiri mengantri salome.

Chilton tertawa kecil. Ia mengingat kejadian kemarin. Delana memang berbeda dengan cewek-cewek lain. Sikap dan sifatnya benar-benar membuat semua orang menyukainya. Bahkan pacarnya sendiri saja memuji kebaikan hati Delana.

“Kamu kenapa? Tumben banget jalan sama Dela?” tanya Chilton.

“Nggak papa. Aku cuma mau memperbaiki hubunganku sama dia aja.”

Chilton mengernyitkan dahinya. Ia tak mengerti maksud perkataan Ratu.

“Aku sama dia sering salah paham. Apalagi dia dulu pernah deket sama kamu. Temen-temen di asrama juga makin memperburuk keadaan. Mereka suka ngompor-ngomporin Dela dan bikin dia jaga jarak sama aku.”

“Sebenarnya, Dela anaknya baik dan fun banget. Sayangnya temen-temen dia mempengaruhi buat nggak berteman sama aku karena mereka anggap aku udah ngerebut kamu dari Dela.”

“Maaf soal itu. Aku sama Dela nggak ada hubungan apa-apa,” sahut Chilton.

“Iya, aku udah tahu. Dela juga sebenarnya nggak keberatan kok sama hubungan kita. Dia dukung-dukung aja. Tapi, aku sebel banget sama temen sekamarku, si Belvi. Dia sering banget banding-bandingin aku sama Dela. Emangnya si Dela itu kaya raya banget ya?” tanya Ratu.

Chilton tertawa kecil. Ia tidak mungkin mengatakan kalau Ratu terlalu biasa bila dibandingkan dengan apa yang Dela miliki.

“Kok, malah ketawa? Aku serius nanyanya. Kamu ikutan ngolok aku juga?” tanya Ratu sambil mengerucutkan bibirnya.

“Enggak Sayang. Kamu tuh tetep yang paling cantik,” tutur Chilton sambil menekan hidung Ratu dengan jari telunjuknya.

“Cuma paling cantik doang?” tanya Ratu.

“Terus? Maunya apa lagi?” tanya Chilton balik.

“Semuanya, dong! Kayak Delana.”

“Ck, Dela itu biasa aja. Nggak ada istimewanya. Ngapain sih pengen jadi kayak dia?”

“Karena Dela itu dikelilingi sama cowok-cowok ta—” Ratu langsung menghentikan ucapannya. Ia tidak mungkin mengatakan pada Chilton kalau ia sangat suka cowok tajir alias kaya raya.

“Cowok-cowok apa?” tanya Chilton penasaran.

“Mmh ...” Ratu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Cowok-cowok tampan!” seru Ratu begitu mendapat kata yang tepat untuk diucapkan.

Chilton tersenyum kecil. “Bukannya dia memang suka sama cowok tampan?”

“Hehehe.” Ratu meringis. Chilton memang pernah mengatakan sebelumnya kalau Delana menyukai cowok-cowok tampan.

“Nih, punya kalian!” Delana muncul dan langsung menyodorkan kantong plastik berisi dua bungkus salome. Ia langsung duduk di samping Ratu. Bukan menatap ke arah laut, ia justru asyik menatap para pedagang dan aktivitas orang yang lalu lalang di tepi jalan. Delana tersenyum sambil menikmati salome yang sudah ada di tangannya.

“Makasih ya, Del!” ucap Ratu. Ia memberikan satu bungkus salome pada Chilton dan Chilton langsung menerimanya.

Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum. Ia mengambil ponsel yang ada di sakunya dan mulai membuka beberapa chat yang masuk.

Chilton langsung memperbaiki posisi duduknya menghadap ke Ratu dan Delana. Salah satu tangannya melingkar ke pinggang Ratu, tapi matanya sesekali menatap Delana yang terlihat sibuk membalas chat sambil tersenyum sendiri.

Delana berusaha mengalihkan perhatian, ia menganggap Ratu dan Chilton tidak ada di sampingnya agar ia bisa merasa lebih tenang. Daripada harus memikirkan cowok itu terus-menerus. Rasanya, waktu dan pikirannya sudah banyak ia habiskan hanya untuk memikirkan satu orang cowok dalam hidupnya, Raditya Chilton.

“Kalian belum mau pulang? Udah senja,” tutur Chilton saat melihat matahari sudah mulai terbenam.

Delana tak menjawab. Ia sudah mengenakan earphone di telinganya dan asyik menonton video yang ada di ponselnya.

Ratu dan Chilton saling pandang kemudian menatap Delana yang sudah asyik dengan dunianya.

“Del, mau balik, nggak?” tanya Ratu sambil menepuk bahu Delana.

Delana langsung menoleh dan melepas earphone-nya. “Apa?”

“Udah sore. Mau balik atau nggak?” tanya Ratu.

“Ayo!” Delana langsung melompat dari tempat duduknya.

Ratu tersenyum. “Kita pulang dulu, ya!” pamitnya pada Chilton. Ia langsung mencium pipi Chilton dan bergegas menyusul Delana.

Chilton tersenyum kecil menatap dua cewek yang hadir dalam hidupnya. Ia senang karena keduanya terlihat sangat akrab walau mereka sama-sama menyukai pria yang sama.

Chilton menghela napas panjang. Tatapannya tiba-tiba tertuju pada sepasang muda-mudi yang sedang bergandengan tangan dengan mesra. Perasaan Chilton semakin gelisah. Terlebih saat sepasang muda-mudi itu berjalan menghampirinya. Chilton berusaha mengalihkan perhatian dan pura-pura tidak melihat keduanya.

“Hai, Kak ...!” sapa kedua orang itu begitu sampai di depan Chilton.

Chilton tersenyum kecut sambil menatap dua orang yang ada di depannya. “Hai ...!” balas Chilton.

“Sendirian aja?” tanya Randi.

Chilton menganggukkan kepala. Ia menatap tangan Randi yang menggenggam tangan Sarah.

“Aku mau ngomong sesuatu sama Kakak. Bisa?” tanya Randi.

“Ngomong aja!” pinta Chilton.

Randi menoleh ke arah Sarah yang ada di sampingnya. Sarah tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia melepas genggaman tangan Randi dan meninggalkan dua cowok yang ada di depannya agar bisa leluasa bicara.

Randi duduk di samping Chilton. Sekalipun usianya jauh lebih muda, tapi ia tak kalah dewasa dalam berpikir. Kali ini, Randi mengajak Chilton bicara sebagai laki-laki.

 

 

***

Delana dan Ratu langsung masuk ke dalam kamar asrama. Belvina belum juga kembali ke asrama dan Ratu dengan leluasa bercerita banyak dengan Delana.

“Del, menurut kamu si Chilton itu sayang beneran sama aku atau nggak sih?” tanya Ratu sambil berbaring dalam satu ranjang dengan Delana.

“Kalo nggak sayang, kenapa dia jadiin kamu pacarnya?” tanya Delana balik.

Ratu menghela napas dan menatap Delana. “Tapi, dia nggak pernah nyium aku.”

“Eh!?” Delana mengernyitkan dahinya. Ia tak menyangka kalau Ratu akan mengajaknya membicarakan privasi soal hubungannya dengan Chilton.

“Iya. Dia tuh nggak pernah nyium aku sama sekali. Logikanya ya, cowok yang cinta sama cewek pasti dia punya nafsu buat ciuman. Dia tuh nggak pernah nyium aku biar cuma sekali aja. Padahal, aku juga pengen kali dicium sama pacar sendiri.”

Delana langsung menutup mulutnya. Ia teringat kejadian malam itu saat Chilton menciumnya dengan paksa. Bagaimana bisa Chilton lebih memilih mencium wanita lain daripada pacarnya sendiri? Hal ini benar-benar membuat pikiran Delana semakin tidak karuan. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh pria itu.

“Kenapa, Del?” tanya Ratu yang menyadari perubahan sikap pada Delana.

“Eh!? Nggak papa,” jawab Delana sambil menatap kosong ke arah Ratu.

“Eh, Chilton kan bakal lanjut sekolah ke luar negeri. Pasti lama banget baru bisa ketemu sama dia. Aku udah bilang ke dia kalo aku bakal nunggu dia balik ke Indonesia. Tapi, sebelum dia pergi ke luar negeri. Aku pengen ngelakuin sesuatu buat dia biar dia nggak akan pernah bisa lupa sama aku,” tutur Ratu.

Ratu menatap lekat wajah Delana. “Kamu bisa bantu aku?”

“Bantu apa?” tanya Delana balik.

“Kamu kan pernah deket sama Chilton dan sepertinya dia itu dengerin apa yang kamu bilang ke dia. Buktinya, dia beneran beliin aku tas harga puluhan juta karena permintaan dari kamu. Kalo kali ini, aku minta bantuan kamu lagi, bisa kan?” tanya Ratu.

“Bantuan apa? Jangan bilang kalo kamu mau minta beliin mobil?” dengus Delana.

Ratu tergelak. “Nggak lah. Kali ini aku mau minta sesuatu yang bukan berupa barang. Tapi, bakal dia ingat terus seumur hidupnya.”

Delana mengernyitkan dahinya. “Apa itu?” tanyanya heran.

“Kamu bisa ngaturkan gimana caranya aku bisa tidur seranjang sama dia?” tanya Ratu berbisik di telinga Delana.

“Apa!?” Delana langsung bangkit dari tempat tidur. “Kamu gila, ya!?”

Ratu tersenyum sambil menatap Delana. “Nggak.”

“Kamu nyuruh aku ngomong sama Chilton kalo kamu pengen tidur sama dia?” tanya Delana.

Ratu menganggukkan kelapanya sambil tersenyum.

Delana menggeleng-gelengkan kepala. “Ndak waras kah kamu?”

“Udahlah, Del. Nggak usah munafik. Namanya juga orang pacaran. Tidur bareng itu udah biasa. Lagian, kalo dia cinta sama aku. Seharusnya dia mau dong tidur seranjang sama aku,” tutur Ratu sambil memainkan kedua alisnya.

Delana mengernyitkan dahinya. Ia masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Ratu. Dengan mudahnya Ratu ingin memberikan tubuhnya untuk cowok yang baru saja menjadi pacarnya beberapa bulan belakangan ini.

“Please, Del!” Ratu menangkupkan kedua tangannya memohon pada Delana.

Delana menghela napas. Ia sebenarnya keberatan dengan keinginan gila Ratu. Tapi, ia juga tidak bisa menolaknya. Terlebih saat melihat wajah Ratu yang mengiba kepadanya.

“Del, ayolah!” pinta Ratu sambil menggoyang-goyangkan lengan Delana.

“Iya,” jawab Delana dengan terpaksa.

“Makasih, ya!” Ratu langsung memeluk Delana erat-erat. “Kamu emang temenku yang paling baik sedunia.”

Delana tersenyum kecil.

Ratu tersenyum lega karena akhirnya ia akan memiliki cinta Chilton seutuhnya.

Delana menelan ludah begitu Ratu melepaskan pelukannya. Ia sungguh merasa tidak enak dengan keduanya. Bagaimana ia mengatakan pada Chilton tentang keinginan Ratu.

“Del, First kiss kamu waktu umur berapa?” tanya Ratu.

“Eh!? Maksudnya?”

“First kiss. Masa nggak tau?” Ratu memonyongkan bibirnya seolah-olah ingin berciuman dengan seseorang.

Delana tertawa kecil. “Aku nggak pernah pacaran. No first kiss,” sahut Delana.

“What!? Kamu nggak pernah pacaran!?” tanya Ratu terbelalak. “Nggak nyangka. Ternyata masih ada orang di dunia ini yang nggak pernah pacaran, ckckck.” Ratu menggeleng-gelengkan kepalanya.

Delana tersenyum kecil.

“Berarti, kamu belum pernah ngerasain having sex, dong?” tanya Ratu.

“Having sex?” Delana mengernyitkan dahinya.

“He eh.” Ratu menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Kamu bisa ngelakuin hubungan sex tanpa cinta?” tanya Delana.

Ratu tersenyum menanggapi pertanyaan Delana. “Yang penting enak aja.”

Delana menggeleng heran. Ia merasa, Ratu benar-benar gila. Pantas saja ia bisa bermesraan dengan cowok lain. Bisa jadi, Ratu memang sudah terbiasa dengan hal itu. Kencan dengan banyak pria tanpa harus menjadi pacarnya.

“Cowok-cowok yang sering ketemu sama kamu itu, bukan pacar  atau calon pacar? Kelihatannya kalian deket banget,” tanya Ratu.

Delana menggelengkan kepala.

“Kenapa nggak kamu pacarin aja, Del?”

Delana tertawa kecil. “Nggak mungkin pacaran sama mereka.”

“Apanya yang nggak mungkin? Di dunia ini, apa sih yang nggak mungkin? Apalagi cowok yang pakai mobil Porsche itu. Udah ganteng, kaya raya dan kelihatannya dia tertarik sama kamu.”

“Kita udah saling kenal dari kita masih bayi,” sahut Delana.

“Ya nggak papa. Kan sekarang banyak juga yang sahabat jadi pacar.”

Delana hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Ratu. Ia tidak mungkin pacaran dengan kakak sepupunya sendiri. Dhanuar sudah seperti kakaknya dan ia tidak mungkin mengotori hubungan darah keluarga dengan percintaan yang belum tentu akan bertahan lama.

“Kalo kamu nggak mau. Aku juga mau sama dia,” tutur Ratu.

Delana langsung menoleh ke arah Ratu. Ia membelalakkan matanya karena terkejut. Bukannya dia baru saja meminta untuk bisa tidur satu ranjang dengan Chilton. Kenapa sekarang berusaha mengejar cowok lain?

“Bukannya kamu cintanya sama Chilton?” tanya Delana.

“Hehehe. Ya nggak papa. Siapa tahu masih ada cowok yang lebih keren dari Chilton dan dia mau sama aku,” jawab Ratu tersipu.

Delana mengernyitkan dahinya. “Kalo kamu cuma mau main-main sama Chilton. Lebih baik kamu nggak usah minta tolong sama aku!” Delana berdiri dan langsung menyambar tasnya.

“Eh!? Mau ke mana?” tanya Ratu.

“Mau pulang,” jawab Delana sambil menarik gagang pintu kamarnya.

“Eits, tunggu!” Ratu langsung melompat dan menghadang Delana. Ia tersenyum sambil menatap Delana yang ada di depannya.

“Kenapa lagi?” tanya Delana kesal.

“Aku cuma bercanda aja, Del. Serius amat nanggepinnya,” tutur Ratu.

Delana menghela napas. “Kamu mau ngasih tubuh kamu ke Chilton dan kamu bilang itu cuma bercanda? Sinting kamu ya!”

“Bukan, Del! Bukan itu maksud aku. Soal cowok lain itu aku cuma bercanda aja. Aku cuma cinta sama Chilton doang,” tutur Ratu sambil menatap manik mata Delana.

“Terserah kamu!” tutur Delana sambil menarik gagang pintu.

Ratu masih terus menghalangi agar Delana tidak keluar dari dalam kamar.

“Aku mau pulang!” seru Delana.

“Janji dulu, bakal bantu aku!” pinta Ratu setengah memaksa.

“Ck.” Delana semakin kesal dengan tingkah Ratu yang menganggap cinta adalah hal yang remeh.

“Please, bantu aku tidur sama Chilton! Satu kali aja!” pinta Ratu sambil menangkupkan kedua tangannya.

Delana menghela napas. “Iya!” jawabnya sambil mendelik ke arah Ratu.

“Janji!?” Ratu mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Delana.

Delana merapatkan bibirnya. Ia langsung menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Ratu. “Iya,” tuturnya.

“Nah, gitu dong! Makasih ya!” tutur Ratu sambil tersenyum manis.

“Udah?”

Ratu menganggukkan kepala.

“Aku mau pulang!” pamit Delana sambil menarik gagang pintu kamar dan segera keluar.

“Makasih ya! Aku tunggu kabar baiknya!” seru Ratu sambil melambaikan tangan ke arah Delana.

Delana langsung bergegas pergi dan tidak menghiraukan Ratu lagi. Ia masih merasa kesal karena Ratu berniat mempermainkan Chilton. Ia bahkan tidak bisa membedakan apakah Ratu sungguh-sungguh mencintai Chilton atau tidak.

Hal yang paling parah adalah ketika Delana tidak bisa menolak keinginan gila dari seorang Ratu. Ia harus menemui Chilton dan memintanya tidur dengan wanita lain. Ini gila! Benar-benar gila!

Kepala Delana hampir pecah membayangkan Chilton tidur dengan wanita lain. Melihat Chilton jalan dengan cewek lain saja ia sudah merasa sakit. Kini, ia harus merasakan lebih sakit lagi karena merelakan cowok yang ia cintai tidur dengan cewek lain.

“Oh ... God! Aku harus gimana!” teriak Delana sambil melangkahkan kakinya menyusuri gang yang menuju rumahnya.

 ((Bersambung...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas