Saturday, October 18, 2025

THEN LOVE BAB 50 : CARI MUKA

 


 “Del, kamu ada denger gosip soal Chilton?” tanya Ratu saat ia berada di kamar asrama bersama Delana dan Belvina.

Delana mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak bersemangat membahas Chilton. Lagipula, untuk apa Ratu mengajaknya membicarakan pacarnya itu?

Ratu menatap Delana dan Belvina bergantian. “Kalian belum tahu?” tanya Ratu.

“Aku rasa kami nggak perlu tahu urusannya pacar orang,” sahut Belvina.

Ratu menghela napas. Ia mendekat ke arah Delana dan Belvina. “Kalian nggak peduli sama aku sebagai teman kalian?” tanya Ratu dengan wajah murung.

Delana dan Belvina saling pandang. Kemudian menatap Ratu yang duduk di hadapan mereka. “Emangnya kenapa?” tanya mereka bersamaan.

Ratu mendesah, ia memperlihatkan wajah murungnya. “Chilton bakal ikut pertukaran pelajar. Artinya, dia bakal ninggalin aku,” tutur Ratu perlahan sambil menundukkan kepala.

“Bukannya kamu seneng kalo Chilton pergi? Jadi, bisa bebas jalan sama cowok lain,” dengus Belvina.

Ratu mendongakkan kepala menatap Belvina. “Bel, kenapa sih kamu selalu aja berprasangka buruk sama aku? Chilton itu pacarku dan aku cinta sama dia.”

“Kalo kamu cinta sama dia, kenapa kamu jalan sama cowok lain?” tanya Delana.

Ratu terdiam, ia memegangi kepalanya dan pura-pura sakit kepala. “Aku lagi nggak enak badan. Chilton sibuk, jadi aku minta tolong temen buat antarin aku ke rumah sakit.”

“Nggak usah akting, deh!” Belvina menepis lengan Ratu. “Kamu pikir kita nggak tahu kalo kamu cuma suka duitnya Chilton doang. Kalo ada cowok lain yang lebih kaya, kamu pasti bakal ninggalin Chilton 'kan?”

“Enggak. Aku tulus sayang sama Chilton. Kamu percaya aku kan, Del?” tanya Ratu sambil meraih jemari tangan Delana.

Belvina berdehem. Memberi isyarat pada Delana agar tidak mudah terpengaruh dengan ucapan Ratu.

“Kalian tahu kalau aku udah lama pacaran sama Chilton dan aku nerima dia apa adanya. Setiap jalan cuma naik motor juga aku nggak pernah keberatan. Kenapa kalian masih ngatain aku cuma manfaatin Chilton doang?” tanya Ratu.

“Munafik!” celetuk Belvina sambil membuang muka.

“Udah, jangan berantem!” sergah Delana.

Ratu tersenyum menatap Delana. Ia sudah mempersiapkan diri jika suatu hari nanti ia harus berpisah dengan Chilton. Lagipula, ia merasa kalau Chilton tidak terlalu menguntungkan untuk dirinya dan sudah seharusnya ia mencari pengganti.

Seluruh kampus sudah mendengar bahwa Raditya Chilton akan ikut pertukaran pelajar. Ratu sudah merasa kalau kondisi keuangan keluarga Chilton biasa-biasa saja. Sehingga ia sudah yakin kalau Chilton akan mengikuti pertukaran pelajar.

Tiba-tiba ponsel Delana berdering. Delana langsung meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja rias dan menjawab panggilan telepon dari Dhanuar.

“Ada apa, Dhan?” tanya Delana begitu panggilan teleponnya tersambung.

“....”

“Oh. Aku lagi di asrama.”

“....”

“Oke.” Delana langsung mematikan sambungan teleponnya.

“Ada apa, Del?” tanya Belvina.

“Dhanu sama Alan mau jemput aku,” jawab Belvina.

“Mau ke mana?” tanya Belvina.

“Ke rumah Dhanu,” jawab Delana.

“Ada acara lagi?” tanya Belvina.

Delana mengedikkan bahunya. “Mungkin mereka kangen sama aku,” tutur Delana sambil tersenyum.

“Dhanu siapa?” tanya Ratu.

“Kamu pernah lihat Delana dijemput pakai mobil Porsche?” tanya Belvina balik.

Ratu menganggukkan kepala. “Oh, cowok itu namanya Dhanu? Pacar kamu, Del?” tanya Ratu dengan mata berbinar.

“Bukan.”

“Kelihatannya deket banget. Waktu di kampus, kalian pelukan dengan mesra,” tutur Ratu sambil tersenyum.

“Mereka udah kayak gitu dari kecil,” sahut Belvina.

“Oh, kalian sahabatan?” tanya Ratu.

Delana hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ratu.

“Kalo cowok yang sebelumnya? Yang pernah main basket di kampus,” tanya Ratu.

“Alan?” tanya Belvina dan Delana bersamaan.

Ratu menganggukkan kepala. “Aku nggak tahu namanya siapa.”

“Namanya Alan Satria. Ganteng kan?” tanya Belvina sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ratu.

“Eh!?” Wajah Ratu menegang karena Belvina bertanya seolah-olah ingin menelannya mentah-mentah.

Belvina melipat kedua tangannya di depan dada. “Dia itu keturunan Swedia. Jauh lebih ganteng dari pacar kamu!”

Ratu mengangguk-anggukkan kepala. “Mobilnya juga bagus,” gumamnya.

Belvina langsung melirik ke arah Delana. Ia kini mengerti kalau Ratu mulai melirik cowok-cowok kaya. Belvina berniat untuk membuat hati Ratu semakin panas karena Delana dikelilingi oleh banyak pria kaya.

“Iya. Kamu bisa lihat sendiri. Cowok-cowok yang deket sama Delana semuanya berkelas. Mereka masih muda, tampan dan kaya raya,” tutur Belvina sambil tersenyum menatap Ratu.

Delana menyikut Belvina. Ia merasa, Belvina terlalu berlebihan menceritakan cowok-cowok yang ada di sekitar Delana.

Belvina tak menghiraukan Delana.

“Kalo Delana mau, dia bisa dapetin sepuluh cowok kaya pakai mobil Porsche,” tutur Belvina membuat Ratu semakin panas. “Kamu kan cantik, apa cuma bisa ngerayu cowok sekelas Chilton? Yang setiap hari cuma naik sepeda motor?”

Ratu terdiam menatap Belvina. Ia merasa kesal karena Belvina terus meremehkan dirinya. Ratu langsung bangkit dan kembali ke ranjangnya.

Belvina tersenyum penuh kemenangan.

“Bel, jangan berlebihan gitu! Kasihan si Ratu,” bisik Delana.

“Ngapain kasihan sama orang yang nggak kaya tapi sombong!” seru Belvina sambil melirik Ratu.

Ratu pura-pura tidak mendengar ucapan Belvina. Ia memilih berbaring di tempat tidur sambil memainkan smartphone-nya.

Beberapa menit kemudian, terdengar suara klakson mobil. Belvina langsung melompat dari atas ranjang dan memandang ke luar jendela. Di depan pintu gerbang asrama sudah terparkir mobil mewah yang sudah tak asing lagi di matanya.

“Mereka udah datang, Del!” seru Belvina.

“Iya.” Delana langsung memasukkan ponsel ke dalam tasnya dan bergegas pergi.

 “Aku pulang dulu ya!” pamit Delana sambil membuka pintu kamar. Ia menoleh ke arah Ratu yang masih berbaring di ranjangnya.

“Ratu ... aku pulang dulu ya!” pamit Delana sambil tersenyum.

Ratu menoleh ke arah Delana sambil tersenyum. “Hati-hati ya!”

Delana menganggukkan kepala. Ia langsung bergegas keluar dari asrama.

Hampir semua mata tertuju pada mobil Porsche berharga milyaran rupiah itu. Mereka semua sudah mengetahui kalau mobil itu pernah menjemput Delana di kampus. Benar saja, beberapa menit kemudian Delana keluar dari asrama dan langsung berlari memasuki mobil mewah itu.

“Cepetan!” pinta Delana pada Dhanuar. Ia tidak ingin berlama-lama dan menjadi pusat perhatian seluruh penghuni asrama.

Dhanuar menganggukkan kepala dan langsung melajukan mobilnya ke arah rumahnya yang berada di daerah Mediterania.

Sementara itu Belvina hanya memerhatikan Delana lewat jendela kamarnya.

“Rat, kamu nggak pengen?” tanya Belvina sambil tertawa kecil.

“Pengen apa?” tanya Ratu sambil menatap Belvina.

“Cowok kaya raya,” jawab Belvina sambil memainkan kedua alisnya.

Ratu tak menghiraukan, ia kembali menatap layar ponselnya.

“Oh, iya. Aku tahu. Kamu sudah punya cowok kaya raya yang pakai Chevrolet kuning itu kan?” tanya Belvina.

Ratu langsung menoleh ke arah Delana. “Kamu tahu dari mana?” tanya Ratu.

Belvina tersenyum kecil. “Apa kamu pikir kita semua ini buta?”

“Aku cuma temenan sama dia.”

“Nggak menutup kemungkinan kalo kamu ada hubungan gelap sama cowok itu. Kamu juga dibelanjain tas branded sama cowok itu kan?”

“Bukan urusan kamu!”

“Hmm ... emang sih bukan urusan aku. Tapi, ketika ada sangkut pautnya sama Delana. Kamu bakal berurusan sama aku!” ancam Belvina.

“Kamu ngancam aku?” Ratu menatap tajam ke arah Belvina.

Belvina tersenyum sinis ke arah Ratu. “Kenapa kamu nggak seberani ini saat ada Delana?”

Ratu mengepalkan kedua tangannya menahan emosi. “Mau kamu apa sih, Bel!? Cari masalah terus sama aku!”

“Bukan aku yang cari masalah. Kamu sumber masalahnya!” dengus Belvina penuh kebencian.

Ratu bangkit dari tempat tidur dan ingin menyerang Belvina. Tapi, ia berusaha menahan diri karena ia ingat kalau masih butuh Delana untuk ia manfaatkan.

“Kenapa berhenti? Mau nampar? Tampar nah!” seru Belvina sambil menyodorkan pipinya ke hadapan Ratu.

Ratu terdiam dan hanya mengepalkan tangannya. Ia menatap tajam ke arah Belvina dengan penuh kebencian. Andai Belvina bukan sahabat dekat Delana, mungkin ia sudah menyerang Belvina habis-habisan karena Belvina seringkali mempermalukan dirinya di depan orang banyak.

“Aku heran, kalo ada Delana. Kamu kelihatan manis banget. Giliran dia nggak ada, kelakuan setanmu keluar!” Belvina menatap tajam ke arah Ratu.

Ratu menghentakkan kakinya. Ia berbalik, meyambar tas miliknya dan bergegas keluar dari kamar.

Belvina menggelang-gelengkan kepala melihat tingkah Ratu. “Cewek gila!” umpatnya.

 

***

 

“Hai, Del!” sapa Ratu saat Delana baru saja keluar dari kelasnya.

“Ya. Ada apa?” tanya Delana. Tak biasanya Ratu menghampirinya.

“Nggak papa,” jawab Ratu sambil tersenyum.

Delana balas tersenyum. Ia terus melangkahkan kaki dan Ratu terus mengikutinya.

“Del, sore ini ada waktu nggak?” tanya Ratu.

“Mmh ... kayaknya sih nggak ada kegiatan. Kenapa?” tanya Delana.

“Jalan bareng yuk!”

“Ke mana?” tanya Delana.

“Ke Bekapai gimana?” tanya Ratu.

Delana mendesah. Ia sama sekali tidak punya keinginan untuk menginjakkan kaki ke taman itu lagi. “Tempat lain!” pinta Delana. Ia tidak ingin mengingat kejadian di mana Chilton menolak cintanya.

“Melawai gimana?” tanya Ratu.

Delana menghentikan langkahnya. “Boleh. Jam berapa?” tanya Delana.

“Jam empat sore, bisa?” tanya Ratu balik.

Delana menganggukkan kepalanya.

“Nanti aku jemput kamu,” tutur Ratu.

“Nggak usah. Ntar aku aja yang ke asrama.”

“Kenapa?”

“Nggak papa. Biar aku aja yang ke asrama.”

“Mmh ... oke, deh.”

Delana tersenyum. “Aku mau ke ruangan dosen dulu,” pamit Delana begitu ia sudah sampai di dekat ruangan dosen.

Ratu menganggukkan kepala dan berlalu pergi meninggalkan Delana ke kantin.

Sepulang kuliah, Delana langsung pergi ke asrama. Ia langsung bersiap untuk pergi keluar rumah bersama Ratu. Kebetulan, Belvina sedang ada kegiatan di luar sehingga ia tidak tahu kalau Delana pergi bersama Ratu.

“Del, kamu mau minum apa?” tanya Ratu saat mereka sudah sampai di Melawai. Delana dan Ratu memilih untuk duduk santai sambil menghadap ke arah pantai.

“Sembarang aja,” jawab Delana.

“Es teh mau?” tanya Ratu.

“Mmh ... jus aja, deh!” pinta Delana.

“Tadi bilangnya sembarang,” tutur Ratu sambil tertawa. “Mau jus apa?” tanya Ratu lagi.

“Jus mangga atau alpukat,” jawab Delana.

“Oke.” Ratu bergegas memesan minuman untuk Delana dan dirinya. Kemudian, ia kembali duduk di samping Delana.

“Del, kamu sekarang lagi deket sama siapa?” tanya Ratu.

“Nggak ada deket sama siapa-siapa,” jawab Delana.

“Cowok yang pakai mobil Porsche itu siapa?” tanya Ratu.

Delana terdiam. Ia merasa tak perlu memberitahu pada Ratu siapa sebenarnya Alan dan Dhanuar.

“Del ...!” panggil Ratu karena melihat Delana malah melamun.

“Eh!?”

“Kamu belum jawab pertanyaanku.”

“Oh, temen dari kecil,” jawab Delana.

“Aku lihat, temen-temen kamu banyak yang tajir-tajir. Kenapa nggak ada yang kamu pacarin?” tanya Ratu.

“Aku nggak lihat cowok dari harta yang dia punya,” jawab Delana sambil menatap jauh ke arah lautan yang luas.

“Terus? Kamu lihatnya dari apa? Dari ketampanan mereka? Aku rasa, cowok-cowok yang deket sama kamu nggak kurang tampan sedikitpun.”

Delana menatap Ratu sambil tersenyum. “Suka sama cowok tampan dan kaya itu impian semua orang dan itu perasaan yang lumrah. Aku bisa suka sama semua cowok yang aku mau, tapi hatiku nggak akan bisa mencintai semua cowok yang ada dalam hidupku.”

“Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu. Kamu udah nyia-nyiain cowok ganteng dan kaya raya yang ada di sekitar kamu. Semua cewek pengen punya pacar yang ganteng dan kaya,” tutur Ratu.

“Buat apa kaya?” tanya Delana.

“Buat bikin kamu bahagia. Zaman sekarang, mana ada sih cewek yang nggak matre? Secara logika, kita butuh bedak, lisptik dan gaya hidup yang semuanya perlu duit.”

Delana menghela napas. “Aku udah punya semuanya,” sahut Delana sambil menatap Ratu.

Ratu mengernyitkan dahi. “Maksudnya?”

“Aku masih bisa beli pake uangku sendiri. Aku bukan cewek yang kekurangan duit sampe harus cari cowok kaya!” sahut Delana.

Ratu terkejut dengan ucapan Delana. Ia merasa begitu bodoh karena telah menyinggung perasaan Delana. “Sorry ...! Aku nggak bermaksud bikin kamu tersinggung.”

“Aku tahu kamu suka sama cowok karena materi yang dia punya. Jangan samain aku sama kamu atau perempuan lain yang punya pandangan sama dengan kamu!” tegas Delana.

“Del, bukan itu maksud aku,” tutur Ratu sambil meraih lengan Delana.

“Terus apa?”

“Kalo aku matre. Aku nggak mungkin pacaran sama Chilton yang cuma punya motor butut doang. Aku pasti lebih milih cowok lain yang lebih kaya dari dia,” jawab Ratu. “Aku nggak seperti yang kamu pikirkan, Del.”

 

 

 

 Delana menghela napas. Ia menyeruput jus mangga yang baru saja diantar oleh penjualnya ke hadapan mereka. Ia memikirkan kalimat yang baru saja diucapkan oleh Ratu. Memang benar kalau Ratu lebih memilih cowok yang hanya memakai sepeda motor ketimbang mereka yang pakai mobil.

Delana teringat sesuatu, ia kemudian menoleh ke arah Ratu dan menatap wajahnya lekat.

“Kenapa?” tanya Ratu, ia heran dengan tatapan Delana kali ini.

“Kamu pernah ke rumah Chilton?” tanya Delana.

Ratu tergelak. “Astaga ...! Cuma mau nanya itu? Kirain ada apaan,” sahut Ratu. “Aku nggak pernah ke rumahnya. Katanya, rumahnya di daerah Berau. Jauh banget dan dia belum pernah ngajak aku ke sana,” lanjut Ratu.

Delana menaikkan satu alisnya. Ia tidak percaya kalau Chilton membohongi Ratu. Itu artinya, Ratu memang tidak tahu sama sekali kalau sebenarnya Chilton juga punya mobil dan rumahnya juga tidak begitu buruk.

Banyak pertanyaan yang kini melayang-layang di pikiran Delana. Kenapa Chilton membohongi Ratu soal identitasnya? Bukankah seharusnya ia jujur pada wanita yang dicintainya. Semakin hari, Delana semakin tidak mengerti dengan sandiwara yang terjadi antara dirinya, Chilton dan Ratu.

“Del, kenapa? Kok, malah ngelamun?” tanya Ratu sambil menepuk bahu Delana.

“Eh!? Nggak papa.”

Ratu tersenyum. Ia kemudian menatap laut yang ada di depannya. “Waktu itu aku pernah pengen tahu soal kondisi keluarganya. Aku tanya ke dia, kenapa dia tinggal di asrama dan dia sendiri yang bilang karena dia berasal dari daerah yang jauh dari sini,” jelas Ratu. Ia kemudian menyeruput es teh yang ia pesan.

Delana hanya tersenyum menanggapi ucapan Ratu.

“Del, kamu kan pernah deket sama Chilton. Kamu tahu nggak apa yang disukai sama dia. Aku pengen banget ngasih kenang-kenangan sebelum dia pergi pertukaran pelajar.”

Delana menggelengkan kepala.

“Masa kamu nggak tahu?”

“Kamu pacarnya, harusnya lebih tahu dong!” sahut Delana.

Tiba-tiba ponsel Delana berdering. Ia mengambil ponsel yang ia simpan di dalam tas dan langsung menjawab telepon dari Dhanuar.

“Ya, Dhan. Kenapa?” tanya Delana begitu panggilan teleponnya tersambung.

“Aku lagi di rumah kamu sama Alan,” sahut Dhanuar.

“Bryan di rumah kan?” tanya Delana.

“Iya. Mereka lagi main PS. Kamu di mana?” tanya Dhanuar balik.

“Aku lagi jalan sama temen,” jawab Delana.

“Temen cewek apa cowok?” tanya Dhanuar lagi.

“Cewek,” jawab Delana singkat. Ia tahu kalau Dhanuar adalah playboy yang tidak akan menyia-nyiakan cewek cantik di sekitarnya.

“Cantik nggak?” tanya Dhanuar.

“Cantiklah. Cewek mana ada yang ganteng,” jawab Delana.

“Hahaha. Itu sih aku tahu. Kenalin dong sama temen kamu yang cantik!” pinta Dhanuar.

Delana melirik Ratu yang sedang tersenyum sambil menatap lautan di hadapan mereka. “Ogah!”

“Kenapa?”

“Kalian udah makan?” tanya Delana mengalihkan pembicaraan.

“Nah, kan. Pasti nggak mau ngenalin aku sama temennya. Eh, katanya kamu deket sama Ivona Kanaya yang artis itu. Kenalin aku sama dia, dong!” pinta Dhanuar.

“Kamu tahu dari mana?” tanya Delana sambil membelalakkan matanya.

“Dari Bryan. Aku juga lihat ada foto kamu bareng Kanaya di kamar kamu.”

“Kamu ngapain  masuk-masuk ke kamar aku!?” seru Delana.

“Cuma mau pinjam charger hp,” jawab Dhanuar.

“Awas aja kalo sampe kalian berantakin kamarku!” ancam Delana.

“Nggak, cantik. Asal kamu kenalin aku sama temen kamu yang artis itu,” sahut Dhanuar.

“Nggak bakalan aku kenalin!” dengus Delana.

“Kenapa?”

“Dia terlalu cantik. Nggak cocok sama kamu,” sahut Delana.

Dhanuar tergelak. “Aku pasti bisa dapetin dia,” ucapnya penuh percaya diri.

“Pede amat!?”

“Dhanu gitu loh. Cewek mana sih yang nggak mau sama aku?”

“Nggak usah pembualan! Kamu nelpon aku mau ngapain?” tanya Delana. Ia merasa tidak enak jika berlama-lama menerima telepon dari Dhanuar.

“Aku laper.”

“Mau nitip apa?” tanya Delana.

“Pengen makan masakan kamu,” tutur Dhanuar.

“Nggak usah manja, deh. Aku tuh baru aja nyampe, nggak mungkin balik lagi cuma buat masakin kalian. Mau makan apa? Ntar aku beliin.”

“Sembarang, yang penting enak.”

“Seafood mau?” tanya Delana.

“Boleh.”

“Oke. Ntar aku beliin pas udah pulang. Jam enam aku udah balik, kok.”

“Eh, satu lagi!”

“Apa?”

“Stock bir kamu habis. Beli sekalian ya!” pinta Dhanuar.

“Itu pesan aja langsung. Ada nomor kontaknya di atas kulkas atau tanya sama Bryan. Biasanya diantar sampe rumah.”

“Astaga ...! Oke. Aku ngomong sama Bryan.”

“Oke. Udah dulu ya!”

“Yups.”

Delana langsung mematikan sambungan teleponnya.

“Siapa, Del?” tanya Ratu begitu Delana memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.

“Dhanuar,” jawab Delana.

“Cowok yang pakai mobil Porsche itu?” tanya Ratu dengan mata berbinar.

Delana hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ratu.

“Kalian deket banget ya?”

Delana menganggukkan kepala.

“Tadi, dia ngajak kenalan siapa?” tanya Ratu.

“Ivo.”

“Oh ...” Ratu tersenyum kecut. Sejak tadi ia sudah percaya diri kalau cowok kaya raya itu akan mengajaknya berkenalan. Ternyata, cowok itu menanyakan Ivona. Ivona memang sangat cantik dan terkenal. Wajar saja kalau banyak pria kaya yang menyukainya. Tapi, Ratu sendiri merasa tidak kalah cantik dengan Ivona. Hampir semua pria di kampus menyukainya.

“Kamu sering ke sini?” tanya Delana.

“Nggak juga. Kadang-kadang aja,” jawab Ratu.

“Suasana di sini enak juga ya?” tutur Delana sambil menikmati semilir angin pantai.

“Kamu belum pernah ke sini?” tanya Ratu heran.

“Nggak pernah. Cuma lewat doang,” jawab Delana.

“Oh ya? Terus kalo jalan sama temen-temen kamu ke mana aja?” tanya Ratu.

“Aku suka di Ocean’s,” jawab Delana.

Ratu mengangguk-anggukkan kepala. Delana memang cewek yang cukup berkelas dan menyukai tempat-tempat yang berkelas juga.

“Papa kamu kerja apa, Del?” tanya Ratu.

“Bisnis,” jawab Delana.

“Bisnis apa?”

“Property.”

“Wah, banyak duitnya dong?” tanya Ratu.

Delana tersenyum.

“Kenapa penampilan kamu biasa aja?” tanya Ratu.

“Maksud kamu?” Delana mengernyitkan dahinya.

“Aku lihat kamu sederhana banget. Ke mana-mana juga cuma naik motor. Orang kaya seperti kamu pasti punya mobil 'kan?”

“Punya.”

“Aku nggak pernah lihat kamu bawa mobil,” tutur Ratu.

“Lebih nyaman pake motor. Kalau jalan jauh aja baru pake mobil.”

“Owh ...” Ratu mengangguk-anggukkan kepala.

Delana tersenyum menatap Ratu.

“Del, kapan-kapan aku boleh main ke rumah kamu?” tanya Ratu basa-basi. Ia berencana mendekati Delana agar bisa berkenalan dengan cowok-cowok kaya yang ada di sekitar Delana. Setidaknya, ia bisa mendapat kepercayaan dari Delana dan punya kesempatan untuk berkenalan dengan banyak pria kaya di kota ini.

“Boleh,” jawab Delana sambil tersenyum.

“Tapi, aku nggak mau kalau pas ada Belvina.”

“Kenapa?” tanya Delana.

“Kamu tahu kan kalo Belvi itu sentimen sama aku. Dia pasti nggak suka sama aku dan suka mikir yang jelek-jelek tentang aku,” tutur Ratu sambil menundukkan kepala.

Delana menatap Ratu, ia mengelus pundak Ratu perlahan. “Kamu maklum aja. Belvi emang sifatnya kayak gitu. Yang sabar ya!” tutur Delana sambil menepuk-nepuk pundak Ratu perlahan.

Ratu menganggukkan kepala. “Aku ngerti, kok. Kadang aku sedih aja. Dia selalu ngehina aku di depan banyak orang. Padahal, kamu jauh lebih kaya dari dia dan nggak pernah ngehina aku sedikitpun.”

Delana merangkul Ratu. “Udah, nggak usah sedih gitu. Biarpun Belvi sedikit kasar, tapi aslinya dia baik kok.”

Ratu tersenyum menatap Delana. “Makasih ya, Del! Kamu udah ngertiin aku banget. Kamu baik banget!” puji Ratu. Ia berharap kalau Delana akan terkesan dan bersikap baik dengannya tanpa terpengaruh oleh orang-orang di sekitarnya.

“Kamu juga temenku, nggak usah sungkan!” pinta Delana sambil tersenyum menatap Ratu.

Ratu menganggukkan kepala dan langsung memeluk Delana.


((Bersambung...))

 

THEN LOVE BAB 49 : BERTENGKAR HEBAT

 


“Kak Dela ...!” panggil Randi saat Delana sudah selesai mengajar.

“Ya.”

“Udah mau pulang?” tanya Randi.

Delana menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Aku punya sesuatu buat Kakak,” tutur Randi.

“Eh!? Apaan?” tanya Delana penasaran.

Randi membisikkan sesuatu ke telinga Delana.

Delana melihat jam yang ada di tangannya. “Udah malam, besok aja gimana?” tanya Delana.

“Mmh ... “ Randi melirik langit-langit ruangan. “Boleh, deh. Ketemuan aja, gimana?” tanya Randi.

“Boleh. Di mana?” tanya Delana.

“Enaknya di mana, Kak?”

Delana mengetuk-ngetuk dagunya. “Di kafe aja, gimana?”

“Kafe mana?”

“Di Gade Coffee, gimana?”

“Oke. Jam berapa, Kak?” tanya Randi.

“Jam empat sore, bisa?” tanya Delana balik.

Randi menganggukkan kepala sambil tersenyum.

“Ya udah, Kakak pulang dulu, ya!” pamit Delana.

Randi menganggukkan kepala dan mengikuti langkah Delana keluar dari gedung. Mereka melangkah bersama-sama di parkiran.

Delana menghentikan langkahnya saat melihat Chilton sedang memakai helm dan sudah duduk di atas motornya.

“Kenapa, Kak?” tanya Randi. Ia sendiri menyadari kalau Delana berusaha menghindar dari Chilton.

“Nggak papa,” jawab Delana.

Randi langsung menggandeng tangan Delana.

“Apaan sih, Ran!?” dengus Delana.

Randi hanya tersenyum sambil menatap ke arah Chilton. Ia tahu kalau Chilton akan lebih kacau ketika melihat Delana bersama cowok lain. Apalagi, ia masih sangat muda dan tampan. Punya potensi besar membuat Chilton cemburu.

“Kita lihat reaksinya dia!” bisik Randi di telinga Delana.

Chilton terperangah melihat Randi dan Delana yang melintas di depannya.  Ia merapatkan gigi-giginya menahan emosi. Chilton menghela napas dan meninju pahanya sendiri. Ia langsung menyalakan mesin motor dan mengopel keras-keras. Ia langsung melajukan sepeda motornya keluar dari tempat les.

Satu hal yang sulit dilakukan oleh Chilton adalah mengendalikan perasaannya setiap kali melihat Delana bersama cowok lain. “Gila! Sekarang malah deketin muridnya sendiri!” gerutu Chilton dengan wajah kesal.

Chilton tidak kembali ke asrama. Saat ini perasaannya sedang kacau dan ia memilih pulang ke rumahnya karena lebih dekat dengan tempat ia mengajar.

Sesampainya di rumah, Chilton langsung memarkirkan sepeda motornya. Ia menendang pot bunga yang ia lewati dan langsung masuk ke dalam rumah.

“Kamu kenapa?” tanya Astria yang kebetulan sedang berada di dalam rumah.

Chilton tidak menjawab. Ia langsung masuk ke dapur, mengambil beberapa botol bir.

Astria memerhatikan anaknya yang terlihat begitu kacau. Ia masih tidak mengerti apa masalah yang sedang dihadapi oleh Chilton. Ia merasa, kalau Chilton tak seperti biasanya. Ia tak pernah terlihat sekacau ini.

Chilton tak menghiraukan pertanyaan mamanya. Ia juga tidak peduli dengan mamanya yang terus memerhatikan gerak-geriknya. Ia langsung naik ke lantai dua rumahnya. Bukannya masuk ke dalam kamar, ia memilih berada di balkon rumah. Ia duduk di lantai sambil menatap pagar balkon.

Di hadapannya, tergambar jelas saat Delana tertawa bahagia sambil menikmati bintang-bintang bersamanya. Ia juga merasa bahagia berdiri di tempat ini untuk pertama kalinya. Delana, berhasil membuat harinya kacau.

Chilton menghela napas. Ia membuka botol bir dan menegaknya perlahan. Ia merogoh saku celana dan mengambil ponsel. Ia langsung mencari kontak Ratu dan meneleponnya.

“Halo, Sayang!” sapa Ratu begitu panggilan teleponnya tersambung.

“Halo!” balas Chilton.

“Tumben telepon malam-malam gini? Tadi, jadi ngajar?” tanya Ratu.

“Iya.”

“Sekarang di mana? Udah di asrama? Cari makan, yuk!” ajak Ratu.

“Aku nggak di asrama.”

“Di mana?”

“Di rumah temen.”

“Oh. Mau nginap di sana?” tanya Ratu.

“Iya.”

“Ada acara, ya?”

“Iya.”

“Kok, sepi?”

“Mereka di bawah. Aku mau nelpon kamu dulu.”

“Ya ampun, kalo lagi sibuk, chat aja kan bisa,” tutur Ratu.

“Nggak papa. Pengen denger suara kamu.”

“Makasih sayang. Kangen, ya?” tanya Ratu ceria.

Chilton tertawa kecil. “Seharian ini ke mana?” tanya Chilton.

“Nggak ke mana-mana. Kan hari ini jadwal aku latihan nari. Cuma ke tempat latihan doang,” jawab Ratu.

“Oh.”

“Kenapa? Tumben nanyain?” tanya Ratu.

“Nggak papa. Jangan tidur malam-malam, ya!” pinta Chilton.

“Iya, Sayang.”

“Ya udah. Bye!”

Bye! I Love you ...” ucap Ratu dengan nada manis.

I Love you too,” sahut Chilton. Ia langsung mematikan sambungan teleponnya.

Chilton meletakkan ponsel di sampingnya. Ucapan Delana masih terngiang-ngiang di pikirannya. Delana sempat mempermainkan perasaannya, bahkan perasaan cowok lain sebelumnya. Ia memilih menolak Delana karena sifatnya yang suka mempermainkan perasaan cowok.

Tapi, hari ini Delana muncul dan mengatakan kalau Ratu hanya mempermainkannya saja? Ia sungguh tak percaya karena selama ini sikap Ratu begitu baik dan manis padanya. Siapakah yang seharusnya ia percaya?

“Aargh ...!” teriak Chilton sambil membenturkan kepalanya ke dinding. Ia kembali menenggak bir yang ada di tangannya. Kata-kata Delana terus terngiang-ngiang di telinganya. Ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa dengan hubungannya saat ini. Ia tidak mungkin percaya pada Delana begitu saja.

“Del, kenapa sih kamu selalu bikin pikiranku kacau?” gumam Chilton. Ia terus menenggak bir yang ada di tangannya sampai habis. Ia membuka lagi botol bir yang lain dan menenggaknya.

“Kamu bikin aku jadi laki-laki yang ngerasa paling bahagia di dunia. Tapi kamu juga yang bikin aku kecewa dan sakit hati. Kenapa sih kamu dengan mudahnya deket sama cowok lain? Gonta-ganti cowok sesukamu. Kenapa kamu tega banget mainin perasaanku?” tanya Chilton pada angin malam yang menemaninya.

“Saat aku udah hampir berhasil ngelupain kamu. Kamu malah datang lagi dan bilang kalo kamu cinta sama aku. Tapi setelah kamu bilang cinta, kamu dengan mudahnya gandengan tangan sama Randi. Murid kamu sendiri, Del!?” seru Chilton. Ia mulai berbicara banyak karena terlalu banyak minum bir.

“Jangan bikin aku kayak gini, Del! Aku nggak bisa baca hatimu. Kalo kamu emang cinta, kenapa kamu bisa jalan sama cowok lain?” Chilton menjatuhkan kepalanya ke lantai. “Aku udah berusaha benci kamu dan aku gagal,” bisik Chilton pada lantai yang membisu.

Chilton menjambak rambutnya kuat-kuat. Ia sendiri masih tidak paham kenapa ia merasakan cemburu dan sakit hati setiap kali melihat Delana bersama cowok lain. Berbeda ketika ia melihat Ratu, pacarnya sendiri dekat dengan mahasiswa lain.

“Chil, kamu kenapa?” tanya Astria begitu melihat anak laki-lakinya tergeletak di lantai balkon.

Chilton memicingkan mata menatap perempuan yang ada di depannya. Ia terkejut karena Delana tiba-tiba ada di depan matanya. “Kamu kok bisa di sini?” tanya Chilton. Ia mengangkat tubuhnya menatap wanita yang ada di depannya.

“Ini Mama!” Astria menggoyang-goyangkan tubuh Chilton.

Chilton mengerjapkan matanya. Perlahan-lahan wajah Delana berubah menjadi wajah mamanya. “Mama?”

“Kamu kenapa?” tanya Astria.

“Nggak papa,” jawab Chilton sambil menggelengkan kepala.

“Masalah perempuan?” tanya Astria sambil menangkup wajah Chilton dengan telapak tangannya.

Chilton menggeleng perlahan.

“Cerita sama Mama! Mama dengar apa yang kamu omongin sejak tadi.”

Chilton menundukkan kepalanya. Ia menertawakan dirinya sendiri.

“Ada cewek yang nolak cintanya anak Mama?” tanya Astria.

Chilton menganggukkan kepala. “Aku yang nolak dia,” jawabnya sambil tertawa kecil.

“Aku yang nolak dia, Ma!” teriak Chilton sambil tertawa. Ia masih berada di bawah pengaruh alkohol dan membuatnya bicara sesukanya.

“Aku nolak dia. Aku pacaran sama cewek lain. Tapi, aku selalu cemburu setiap lihat dia jalan sama cowok lain. Aku egois kan, Ma?” tanya Chilton sambil menertawakan dirinya sendiri.

“Aku pengen dia cuma buat aku. Aku nggak mau dia suka sama cowok lain. Aku jahat! Aku udah nolak dia. Aku pacaran sama cewek lain. Aku udah nyakitin dia berkali-kali. Aku egois, jahat!” cerocos Chilton sambil mengacak rambutnya yang sudah berantakan.

“Kamu lagi mabuk. Sebaiknya kamu masuk ke kamar!” pinta Astria.

“Aku nggak mabuk!” seru Chilton. Ia kembali mengambil botol bir dan menenggaknya.

Astria menatap lima buah botol bir yang sudah kosong. Anaknya terlihat sangat kacau karena seorang wanita. “Udah minumnya!” pinta Astria, ia merebut botol bir dari tangan Chilton.

Astria mengangkat tubuh anaknya dan menyeretnya masuk ke dalam kamar. Astria membiarkan Chilton terus mengigau tak jelas tentang perempuan yang telah membuat harinya kacau.

Untuk pertama kali Astria melihat anaknya begitu kacau. Ia ingin sekali bisa membantu, tapi ia sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa menatap wajah anaknya yang sudah tertidur pulas di atas ranjangnya

 

***

 

Delana memenuhi janjinya untuk bertemu dengan Randi di Gade Coffee. Jam empat lewat lima belas menit, Delana baru sampai di Gade Coffee. Ia langsung menghampiri Randi yang sudah menunggunya.

“Sorry, Kakak telat. Udah nunggu dari tadi?” tanya Delana.

Randi tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Kalau nunggu Kakak, sampai tua di sini juga aku rela.”

“Gombal!” dengus Delana.

Randi tertawa kecil. “Kak Dela mau minum apa?” tanya Randi.

“Capucino aja!”

Randi langsung memesan minuman yang dimaksud oleh Delana.

“Mau ngomonin apa soal Chilton?” tanya Delana berbisik.

Randi menoleh ke kanan dan ke kiri. Semua orang yang ada di tempat itu tidak mereka kenal. Kenapa Delana harus berbicara berbisik dengannya.

“Eh, cepet! Malah tolah-toleh!” celetuk Delana sambil menepuk lengan Randi.

“Nggak usah bisik-bisik juga. Kan Kak Chilton juga nggak ada di sini,” tutur Randi.

Delana menghela napas. “Oke.” Ia menegakkan tubuhnya.

“Kak Dela ngerasa nggak kalo Kak Chilton itu sayang sama Kak Dela?” tanya Randi.

“Eh!? Enggak mungkin. Kamu tahu dari mana?”

“Dari sikapnya.”

Delana menggelengkan kepala. “Kak Chilton itu udah punya pacar di kampus. Pacarnya cantik banget. Jadi, nggak mungkin dia suka sama aku. Kamu nggak usah sok tahu!” tutur Delana.

“Punya pacar belum tentu cinta kan?” tanya Randi.

“Ya cintalah. Kalo nggak cinta, ngapain pacaran?” sergah Delana.

Randi tertawa kecil. “Tapi, Kak Chilton selalu cemburu setiap kali lihat aku deket sama Kak Dela.”

“Mungkin karena kamu lebih ganteng dan lebih muda,” bisik Delana sambil tertawa kecil.

Randi tergelak mendengar ucapan Delana. “Kak Dela bisa aja.”

“Gimana Sarah?” tanya Delana.

“Baik.”

“Udah jadian apa belum?” tanya Delana.

“Mmh ... nanti aku kabarin kalo udah jadian.”

“Yah, jangan lama-lama! Keburu dia diambil sama orang lain!”

“Kayak Kak Dela sama Kak Chilton?” tanya Randi sambil tersenyum kecil.

Delana mengerucutkan bibirnya. “Kok, jadi Kakak lagi?”

“Lagian, aku ke sini buat bahas Kak Chilton dan Kak Dela. Kenapa malah bahas aku sama Sarah? Pasti mau ngalihin pembicaraan ya?”

Delana meringis mendengar pertanyaan dari Randi.

“Kak Dela mau tahu gimana caranya biar Kak Dela tahu kalo Kak Chilton itu sayang sama Kak Dela atau enggak?”

“Eh!?”

Randi berbisik ke telinga Delana.

“Serius? Nggak berlebihan?” tanya Delana.

“Nggaklah.”

“Kalo dia salah paham gimana?”

“Kalo dia marah, berarti cinta sama Kak Dela.”

“Emang gitu?”

Randi menganggukkan kepala.

“Kalo yang lain yang salah paham, gimana?”

“Maksudnya?”

“Sarah?”

“Ah, gampang itu mah. Dia udah aku kasih tahu soal misi ini.”

“Nggak papa?”

“Nggak papa. Kan cuma pura-pura aja, Kak.”

“Berlebihan nggak sih?” tanya Delana masih kurang yakin dengan ide yang ada di kepala Randi.

“Nggak. Yakin, deh!”

Delana tersenyum. “Oke, deh. Kita coba!”

Randi balas tersenyum menatap Delana. Mereka akhirnya menikmati secangkir kopi sambil bercengkarama seputar siswa-siswi yang ada di tempat lesnya.

 

***

 

Rabu sore, Delana berangkat ke tempat les seperti biasa. Kebetulan di hari ini juga bersamaan dengan jadwal Chilton mengajar.

Delana bertemu dengan Chilton di parkiran dan ia hanya tersenyum. Seperti apa pun Chilton menyakiti, ia tak bisa membuat hatinya membenci cowok itu. Huft, sungguh payah!

“Del ...!” panggil Chilton saat Delana sudah mau masuk ke dalam gedung.

Delana membalikkan tubuhnya. Ia tersenyum menatap Chilton. “Ada apa?”

Are you OK?

“Kelihatannya?” tanya Delana balik sambil menunjukkan dirinya sendiri dengan wajah ceria.

Chilton tersenyum kecil. Ia masih tidak bisa memahami isi hati Delana yang begitu mudahnya berubah. Kemarin mereka bertengkar hebat sampai Delana menangis. Tapi, hari ini Delana bertingkah seolah-olah tidak terjadj apa-apa di antara mereka.

“Ada yang mau diomongin?” tanya Delana.

“Eh!? Nggak ada,” jawab Chilton sambil mengusap tengkuknya.

Delana tersenyum, ia membalikkan tubuhnya dan berlalu meninggalkan Chilton. Delana langsung masuk ke dalam kelasnya untuk mengajar, begitu juga dengan Chilton.

Seperti biasa, di sore hari mereka akan mengajar anak-anak tingkat sekolah dasar. Sehingga, murid-murid sekolah menengah belum berdatangan.

“Sore, adik-adik ...!” sapa Delana begitu masuk ke dalam kelas.

“Sore, Kak Dela!” sahut murid-muridnya serempak.

Delana tak banyak basa-basi. Karena jam mengajarnya tidak banyak, ia langsung memberikan materi kepada murid-muridnya.

Dua jam kemudian, waktu mengajar Delana usai. Murid-murid sekolah menengah mulai berdatangan.

“Hai, Kak!” sapa Randi dan Sarah yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas Delana.

“Astaga! Kalian ngagetin aku aja!” celetuk Delana.

“Ngelamunin siapa hayo?” tanya Sarah.

“Siapa lagi kalo bukan guru ganteng yang di kelas sebelah,” sahut Randi sambil memainkan kedua alisnya.

“Kalian ngomong apa sih!?” celetuk Delana dengan wajah merona.

“Cie ... mukanya merah. Malu nih yee ...” goda Randi.

“Eh, rencana kita gimana?” tanya Sarah.

“Jadi, dong. Kamu yang giring Pak Guru ganteng itu!” pinta Randi.

“Males, ah! Dia mah cuek banget,” sahut Sarah.

Randi menghela napas. Ia mengintip keluar kelas dan mendapati Chilton sedang menuju ke toilet.

“Sini, Kak!” Randi langsung menarik Delana keluar dari kelas.

Delana menatap Sarah yang masih berdiri di samping meja belajar. Sarah melambaikan tangan ke arah Delana sambil tersenyum. “Good luck!” ucapnya tanpa mengeluarkan suara.

Delana tersenyum sambil menganggukkan kepala. Ia dan Randi bergegas menyusuri koridor, mengikuti langkah Chilton menuju toilet. Randi terus menerus mengajak Delana bercanda dan membuat Delana terus menerus tertawa.

“Kak, Kakak tahu nggak si Ilham?” tanya Randi pada Delana.

“Ilham? Yang mana ya?” Delana berusaha mengingat-ingat.

“Yang gendut, pendek, hitam, hidungnya lebar,” jelas Randi.

“Yang sering pake topi warna merah itu?” tanya Delana.

“Iya.”

“Kenapa dia?”

“Kemarin dia nembak si Sarah. Langsung ditolak mentah-mentah.”

“What!? Serius?” tanya Delana menahan tawa. Ia membayangkan sosok Ilham yang sedang mengejar-ngejar Sarah yang cantik jelita.

“Udah gitu dia maksa Sarah harus nerima cintanya. Sampe dikejar-kejar tuh si Sarah. Sarahnya teriak-teriak nggak karuan karena ketakutan,” tutur Randi sambil tertawa geli.

Delana ikut tertawa mendengar cerita Randi.

Randi menghentikan tawanya. Ia menatap wajah cantik Delana saat tertawa. Wajah cerianya benar-benar membuatnya nyaman. Satu hal yang ingin ia lihat ialah wajah ceria Delana yang telah menghilang sejak beberapa bulan lalu.

“Kalo aku yang ngejar-ngejar Kak Dela, gimana?” tanya Randi.

“Hmm ... perlu dipertimbangkan karena kamu cukup ganteng,” sahut Delana sambil tersenyum.

“Cukup ganteng? Aku ini ganteng banget kali, Kak!” dengus Randi sambil menggelitik pinggang Delana.

Delana berlari menghindari Randi sampai ia terpojok di sudut koridor, tepat di depan pintu toilet. Ia menatap wajah Randi yang berada begitu dekat dengannya.

Randi menatap lekat wajah Delana. Ia pikir, cuma laki-laki bodoh yang tidak menyukai Delana. Gurunya itu begitu cantik natural. Bibirnya yang mungil dan merona membuat Randi ingin mengulumnya perlahan.

Randi meletakkan satu telapak tangannya di dinding, tepat di sebelah kepala Delana yang bersandar di dinding. Dari ekor matanya, ia bisa melihat pintu toilet terbuka dan sosok Chilton keluar dari sana. Randi langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Delana dan berpura-pura ingin menciumnya.

“Kakak diam aja,” bisik Randi sambil terus mendekatkan bibirnya ke bibir Delana perlahan.

“Apa-apaan ini!?” sentak Chilton yang melihat adegan mesra antara guru dan murid itu.

“Chilton?” Delana langsung mendorong tubuh Randi dan memperbaiki posisinya.

“Kalian itu main gila di sini! Apa kalian pikir ini tempat mesum? Ini tempat belajar!” sentak Chilton.

Delana dan Randi saling pandang. Untungnya, tak ada satupun murid atau guru yang melihat kejadian ini karena jam kosong pergantian murid dan guru les.

Chilton menarik lengan Delana dan menyeretnya menuju balkon yang ada di lantai dua.

“Lepasin!” pinta Delana karena Chilton menggenggamnya begitu erat.

Chilton melepas genggaman tangan Delana.

Delana langsung mengusap pergelangan tangannya yang memerah dan menahan perasaan kesal. Ia tidak tahu kalau Chiltona kan semarah ini padanya.

Chilton menatap Delana yang masih tertunduk sambil meniup pergelangan tangannya perlahan. Ia langsung menarik kepala Delana dan mencium bibir Delana dengan paksa.

Delana terkejut dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia langsung memeberontak, mendorong tubuh Chilton agar menjauhinya. “Kamu gila ya!” sentak Delana.

“Kamu lebih gila lagi!” sahut Chilton. “Kamu main gila sama murid kamu sendiri.”

Delana merapatkan bibirnya. “Aku nggak ada hubungan apa-apa sama Randi.”

“Tapi aku tahu kalau dia suka sama kamu,” sahut Chilton. “Aku heran sama kamu. Kenapa kamu deketin semua cowok-cowok ganteng. Apa mereka semua juga udah nyium kamu?” teriak Chilton.

Delana semakin kesal mendengar kalimat yang keluar dari mulut Chilton. “Emangnya kenapa kalo dia suka sama aku, hah!?” tanya Delana sambil menatap Chilton penuh amarah. “Apa hak kamu marah-marah sama aku? Kita nggak ada hubungan apa-apa dan kamu nggak punya hak buat ngelarang aku deket sama siapa aja.”

Chilton terdiam. Ia memang tak bisa mengendalikan rasa cemburunya setiap kali bertemu dengan Delana. Ia bahkan tidak mengerti kenapa tiba-tiba di dalam hatinya ada keinginan yang begitu besar untuk mencium Delana.

“Kamu harus ingat kalau kamu udah punya pacar,” tutur Delana perlahan.

Chilton menundukkan kepalanya. Ia tak sanggup menatap wajah Delana.

Delana melangkah mendekati Chilton dan menatap cowok itu. “Chil, apa kamu udah lupa? Kamu yang nolak aku beberapa bulan yang lalu. Kamu yang bilang kalau kita cuma bisa berteman aja. Aku ngehargai keputusan kamu itu. Walaupun rasanya sakit,” tutur Delana dengan bibir bergetar.

“Aku nggak pernah ganggu hubungan kamu sama Ratu. Aku tetap support hubungan kalian sampai sekarang. Berhari-hari, berminggu-minggu aku sibuk menata perasaanku supaya aku bisa terima kenyataan kalau kamu lebih bahagia sama cewek lain. Tapi, kenapa kamu sekarang malah kayak gini?” tanya Delana dengan mata berkaca-kaca.

Chilton bergeming.

“Kamu lupa? Baru kemarin kamu ngatain aku cewek murahan!” dengus Delana. “Apa bedanya sama kamu? Kamu udah punya pacar dan masih bisa nyium cewek lain.”

“Kita udah sama-sama dewasa. Beda ceritanya kalau kamu dicium sama Randi. Apa kata semua orang? Guru dan murid punya skandal cinta di tempat kursus. Kamu bener-bener nggak mikir!” seru Chilton.

Delana semakin kesal. Ia tak ingin lagi mendengar kalimat apa pun keluar dari mulut Chilton. Ia memilih pergi daripada terus berdebat dengan Chilton.

Chilton menendang dinding yang ada di depannya begitu Delana pergi. Ia merasa sangat kesal karena Delana terus-menerus membuatnya cemburu. Ia juga kesal dengan dirinya sendiri karena tidak dapat mengendalikan emosi. Kenapa ia harus begitu marah melihat Delana dekat dengan cowok lain?

Semua hal tentang Delana membuat dirinya semakin kacau. Ia sulit sekali menyembunyikan perasaannya.

Demi bisa membuat hidup Delana tenang bersama cowok yang ia sukai. Ia akhirnya mengundurkan diri dari tempat les. Ia merasa ini adalah pilihan terbaik. Ia tidak harus marah melihat Delana berhubungan dengan muridnya sendiri. Delana juga bisa menjalani harinya dengan bahagia. Ia tak punya hak sedikitpun untuk melarang Delana dekat dengan cowok lain.

“Kak Dela ...!” panggil Sarah begitu Delana sudah ada di parkiran untuk kembali ke rumahnya.

“Ya.” Delana langsung menoleh ke arah Sarah.

“Aku denger-denger, Kak Chilton resign dari sini,” tutur Sarah.

“Oh ya? Terus?”

“Kalian berantem hebat di atas? Kenapa Kak Chilton sampe resign?” tanya Sarah.

Delana mengedikkan bahunya. “Biar aja kalo dia mau resign.”

“Kak ...!” Sarah menggenggam lengan Delana. “Rencana kita malah bikin hubungan kalian makin berantakan. Kami ...”

Delana tersenyum sambil mengusap punggung tangan Sarah. “Bukan salah kalian. Hubungan kami memang sudah memburuk sejak beberapa bulan lalu. Lagipula, Kak Dela sudah bilang ke kalian kalau Kak Chilton sudah punya pacar.”

“Tapi, Kak ...”

“Udah, nggak usah ngerasa bersalah! Positif thinking aja! Bisa aja kan Kak Chilton resign karena ada kerjaan baru atau mau fokus sama kuliahnya,” tutur Delana sambil tersenyum.

“Tapi, kayaknya nggak mungkin. Idenya Randi keterlaluan ya Kak?” tutur Sarah dengan wajah bersalah.

Delana menggelengkan kepala sambil tersenyum. “Nggak, kok. Kalian udah berhasil nunjukkin ke Kak Dela, siapa dia yang sebenarnya. Makasih ya!” Delana mengusap pundak Sarah. Ia tersenyum dan bergegas pulang ke rumahnya.

 

 ((Bersambung...))

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas