Friday, August 15, 2025

THEN LOVE BAB 11 : LOVE STARTS FROM THE STOMACH

 

BAB 11 - LOVE STARTS FROM THE STOMACH



“Hai ...!” sapa Delana sambil mengiringi langkah Chilton yang sedang berjalan di koridor kampus.

“Hei ... baru datang?” tanya Chilton.

“Hehehe ... Aku telat bangun.”

“Tumben? Nggak ada sarapan gratis buat aku?” dengus Chilton ke wajah Delana.

“Mmh ... maaf, aku nggak sempat masak. Kamu belum sarapan?” tanya Delana.

Chilton tidak menjawab. Ia meneruskan langkahnya dengan santai.

“Aku delivery sarapan buat kamu, gimana?” tanya Delana sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.

Chilton menghentikan langkahnya. Ia menghela napas. “Kalo itu bisa aku lakuin sendiri.” Ia menoleh sejenak ke arah Delana dan langsung kembali melangkahkan kakinya dengan sikap cuek.

Delana menghela napas panjang. Ia tahu kalau ia salah. Sudah terbiasa membawakan Chilton sarapan pagi, tiba-tiba saja ia bangun kesiangan dan lupa membawakan makanan untuknya. Jelas saja Delana merasa bersalah dengan sikapnya kali ini.

“Hmm ... aku ganti makan malam gimana? Aku anterin ke asrama kamu, deh.” Delana masih berusaha membujuk Chilton agar tidak marah.

“Nggak usah!”

“Kalau makan siang, aku nggak bisa. Aku kan masih di kampus,” tutur Delana.

Chilton menghentikan langkahnya kembali dan menghadap ke arah Delana yang berjalan di sampingnya. “Apa aku kelihatan kayak orang yang nggak bisa cari makan sendiri?”

“Bukan itu maksud aku. Aku cuma ­­­­—”

Chilton memalingkan wajahnya dan bergegas meninggalkan Delana.

“Chilton ...!” Delana menahan lengan Chilton agar tidak pergi dari hadapannya.

“Kenapa lagi?”

“Kamu yang kenapa? Cuma nggak dibawain sarapan aja, kamu udah merajuk kayak gini,” tutur Delana lirih.

Chilton menghela napas. Ia baru menyadari kalau perasaannya memang tak bisa diatur sesuai keinginannya. Ia merasa kesal pada Delana karena ia merasa kalau sarapan yang dibuat untuknya adalah salah satu bukti perhatian Delana terhadapnya. Ia tak ingin marah, tapi ia sendiri tak bisa mengatur perasaannya. Kalau dia marah seperti ini, artinya memang dia berharap kalau Delana selalu menyiapkan sarapan pagi untuknya. Delana bukan siapa-siapa dan ini sikap konyol yang membuatnya ingin menertawakan dirinya sendiri.

“Aku nggak merajuk. Ntar aku beli sarapan di kantin,” tutur Chilton sambil tersenyum agar Delana tak merasa bersalah.

“Serius? Biar aku yang beliin, ya!” pinta Delana.

“Kalau itu bisa bikin kamu ngerasa lebih baik?” Chilton mendengus ke wajah Delana sembari menaikkan kedua alisnya.

Delana tersenyum. “Yuk!” Ia menarik lengan Chilton menuju kantin. Ia kini tak lagi peduli dengan tatapan mata mahasiswa lain yang melihat kedekatannya dengan Chilton. Baginya, merasa nyaman saja sudah cukup. Apalagi Chilton juga tak pernah menolak permintaan Delana.

“Kamu nggak takut telat masuk kelas kalo ngantin dulu?” tanya Chilton.

“Gampang itu, mah!” sahut Delana.

Chilton tertawa kecil melihat sikap Delana. Ia tak menyangka kalau cewek yang di depannya ini memiliki sifat hampir sama dengannya. Sama-sama menyepelekan materi kuliah dari dosen. Dan yang lebih konyol lagi, mereka sekarang menjadi guru les.

“Chil, ntar sore kamu ada jadwal ngajar ‘kan?” tanya Delana saat mereka sudah duduk di meja kantin dan memesan makanan sesuai keinginan mereka.

“Iya. Kamu juga ya?” tanya Chilton.

Delana menganggukkan kepala. “Berangkat bareng ya!” pinta Delana.

Chilton menganggukkan kepalanya. “Mau aku jemput di depan rumah atau depan gang?” tanya Chilton.

“Depan gang aja, ya!” pinta Delana.

“Kenapa sih kamu selalu takut aku ngantar atau jemput sampai depan rumahmu? Ayah kamu marah kalo ada temen cowok main ke rumah?”

“Hmm ...” Delana memutar bola matanya. “Maybe yes, maybe no,” ucapnya sambil tersenyum.

“Tapi kayaknya bosmu bakal suka sama aku,” celetuk Chilton.

“Eh!? Bos?”

“Iya, maksudnya ayah kamu.”

“Iih ... pede banget!?” dengus Delana.

“Pede, lah. Ganteng gini,” ujar Chilton sembari mengibaskan kerah kemejanya.

“Yah ... percaya aja, deh. Aku ke kelas dulu ya!” pamit Delana sambil menyeruput es jeruk yang ia pesan dengan tergesa-gesa. “Kamu kelarin makannya! Aku mau masuk kelas dulu!” pinta Delana. “Biar aku yang bayar.”

“Hmm ... takut juga telat masuk kelas kelamaan?” tanya Chilton sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Delana meringis menanggapi pertanyaan Chilton. Ia boleh saja terlambat, tapi tidak boleh meninggalkan keseluruhan mata kuliahnya. Setidaknya ia terlihat disiplin walau hanya sedikit.

Chilton tertawa kecil sembari menatap Delana yang mulai menghilang.

 

***

Sepulang kuliah, Delana langsung mandi, makan siang dan bersiap-siap pergi ke tempat lesnya.

“Kakak mau ke mana?” tanya Bryan yang baru saja pulang dari sekolah.

“Mau ngajar. Kamu baru pulang?” tanya Delana yang melihat Bryan masuk ke rumah dengan seragam sekolahnya.

“Iya. Sama siapa, Kak? Mau kuantar?” tanya Bryan lagi.

“Nggak usah. Kakak udah janji berangkat sama temen.”

“Naik apa?” tanya Bryan.

“Mmh .. biasanya dia bawa mobil.”

“Temen cowok?” selidik Bryan.

“Idih ... kepo!” dengus Delana sambil berlalu pergi, keluar dari rumahnya. Ia tak lagi memperdulikan adiknya dan berjalan menyusuri jalan keluar dari gang.

“Aaargh ...! Tolong ...!” teriak Delana saat sudah berada di ujung gang. Seorang pria tidak dikenal menarik tangannya erat. Pria itu mengenakan helm dan jaket. Ia duduk di atas motor dan langsung menarik lengan Delana begitu ia melintas.

“Ini aku!” teriak cowok itu sembari membuka kaca helmnya.

“Chilton!?” tanya Delana heran. Ia menghela napas lega.

“Kenapa, Mbak?” tanya beberapa warga yang mendengar teriakan Delana. Mereka langsung menghampiri Delana yang sedang dipegang oleh Chilton.

“Nggak papa, Pak. Ini temen saya ngerjain,” tutur Delana. “Maaf, Pak!” Delana menundukkan kepalanya tanda meminta maaf.

“Kamu kenapa sih ngagetin aku!?” Delana mendelik ke arah Chilton begitu warga yang menghampirinya pergi menjauh. “Aku kirain kamu mau nyulik atau mau ngerampok,” celetuk Delana.

“Gila aja ngerampok di tempat rame begini,” sahut Chilton.

“Lah? Kamu juga, kenapa nggak dilepas helmnya? Aku kan bisa ngenalin kamu dari jauh,” tutur Delana sambil menepuk helm Chilton.

“Ngenalin gimana? Orang dari tadi kamu jalannya nunduk terus. Kayak orang lagi cari duit jatuh.”

“Aku malu.”

“Malu sama siapa?”

“Dilihatin orang.”

“Nggak mau dilihatin orang ya ngeram aja di dalam rumah!” gumam Chilton.

“Kamu sensi banget,” celetuk Delana merengut.

Chilton tertawa kecil. “Jangan cemberut gitu!” Chilton menjepit dagu Delana dengan jemarinya. “Jalan, yuk!” ajak Chilton sembari memperbaiki posisi duduknya di atas motor.

“Naik motor?” tanya Delana.

Chilton mengangguk. “Kenapa? Kamu nggak mau naik motor?” tanya Chilton sembari menatap Delana.

“Mau sih, tapi ...,”

“Tapi apa? Kamu cuma mau jalan sama cowok yang pake mobil doang?” tanya Chilton.

“Enggak. Iih ... kamu kok mikirnya gitu sih?”

“Terus apa? Kenapa nggak mau naik motor?” tanya Chilton mulai kesal.

“Aku nggak bilang nggak mau!” sentak Delana.

Chilton melongo mendengar sentakan dari Delana.

“Aku nggak bawa helm. Emang mau kena tilang?” dengus Delana.

“Oh, soal itu? Tenang! Aku bawa helm, kok.” Chilton mengambil helm yang ia selipkan di bagian depan motornya.

“Nggak mau pake itu. Gede banget!”

“Terus mau pake mana? Adanya ini.”

“Aku pulang dulu, ambil helm.”

“Pake ini aja, kenapa?”

“Nggak mau. Aku pake helm aku sendiri aja!”

Chilton menghela napas. “Cewek emang ribet!” celetuknya. “Ayo, naik!” pinta Chilton agar Delana naik ke motornya.

“Aku ambil helm dulu.”

“Iya. Aku antar ambil helmnya,” tutur Chilton mulai geram. “Kugigit juga kamu nda lama. Geregeten aku!” gerutu Chilton.

Delana meringis. Ia menaiki motor Chilton dan kembali ke rumah untuk mengambil helm miliknya.

“Helm ini gimana?” tanya Chilton sembari menunjukkan helm yang ia bawa.

“Taruh di rumah aku aja!” Delana menyambar helm yang dipegang Chilton dan meletakkannya di atas kursi yang ada di teras rumahnya.

Chilton menyalakan mesin motornya dan bergegas pergi bersama-sama ke tempat les.

Delana merasa gugup karena untuk pertama kalinya ia duduk bersentuhan dengan tubuh Chilton. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia tidak berani berpegangan pada tubuh Chilton seperti saat ia dibonceng oleh Bryan atau ayahnya.

Chilton merasa aneh karena Delana tidak mengajaknya bicara sama sekali. Ia melirik dari kaca spion untuk memastikan kalau cewek itu masih duduk di belakangnya dan tidak berubah jadi kuntilanak seperti di film-film. Ah, konyol sekali pikirannya. Masih sore saja sudah membayangkan Delana menjadi kuntilanak. Delana terlalu cantik untuk menjadi kuntilanak.

Chilton menarik tangan kanan Delana menggunakan tangan kirinya. Ia meletakkan tangan Delana di atas perutnya. “Pegangan! Ntar jatuh!”

Delana menelan ludah. Ia semakin gugup dan tidak bisa berkata apa pun. Jantungnya berdebar begitu kencang seperti ingin meloncat dari tempatnya. Kalau saat ini ia berada di dalam kamar, mungkin ia akan melompat-lompat ke sana ke mari saking bahagianya. Tapi, hal itu hanya bisa ia lakukan di dalam pikirannya sendiri.

“Kamu kenapa? Kok, diam aja?” tanya Chilton.

“Hah!?” seru Delana karena tidak begitu mendengar ucapan Chilton.

“Nggak papa. Pegangan yang kuat!” teriak Chilton. Ia langsung menambah kecepatan motornya. Membuat Delana langsung memeluk tubuh Chilton sangat erat.

“Jangan laju-laju!” teriak Delana.

“Apa?”

“Jangan laju-laju! Aku takut!” seru Delana sambil menyubit perut Chilton.

“Sakit, nah!” Chilton memperlambat laju motornya.

“Jangan laju-laju bawa motornya!” pinta Delana.

Chilton melambatkan motornya seperti siput yang sedang berjalan.

“Ck, nggak kayak gini juga kali,” tutur Delana kesal.

Chilton tertawa kecil dan terus menambah kecepatan motornya.

“Jangan laju-laju!” teriak Delana lagi sembari memeluk erat perut Chilton.

“Nggak nyampe-nyampe kalo pelan. Ntar kita telat.”

Delana melihat jam yang ada di tangannya. Benar saja, lima menit lagi mereka seharusnya sudah mulai mengajar. Tapi, mereka masih berada di perjalanan.

Sesampainya di tempat les, Chilton dan Delana langsung masuk ke kelas masing-masing. Mereka mengajar seperti biasa.

 

***

“Dela, Chilton ...!” panggil salah satu admin yang ada di meja resepsionis saat Delana dan Chilton baru saja keluar dari ruang belajar mereka.

“Ya,” sahut Delana dan Chilton yang sudah hampir sampai pintu keluar.

“Kalian dipanggil sama bos,” tutur admin resepsionis.

“Ada apa ya?” tamua Delana.

“Nggak tahu. Ibu cuma pesen gitu aja.”

“Sekarang beliau di mana?” tanya Chilton.

“Di ruangannya.”

“Oke.”

Delana dan Chilton bersama-sama melangkahkan kaki menuju ruang atasan mereka.

“Selamat sore, Bu!” sapa Chilton dan Delana bersamaan begitu mereka masuk ke dalam ruangan atasannya.

“Sore ...! Sini! Duduk!”

“Ada apa ya, Ibu memanggil kami ke sini?” tanya Delana hati-hati.

“Mmmh ... sudah jam enam ya?” tanya atasan mereka sambil melirik jam dinding. “Langsung saja ya!”

Delana dan Chilton menganggukkan kepalanya.

“Ada dua guru yang tiba-tiba resign hari ini,” tutur atasan Delana perlahan. “Jadi, ada jam kosong yang sudah kita jadwalkan. Kira-kira, apakah kalian bersedia mengisi jam kosong tersebut? Karena guru yang lain sudah penuh jamnya.”

“Bersedia, Bu,” sahut Chilton.

Delana langsung menoleh ke arah Chilton sambil menyikut lengannya. Ia kesal karena Chilton tidak ingin membicarakannya terlebih dahulu.

“Mmh ... maaf, Bu. Saya masih harus memikirkannya terlebih dahulu.”

“Ck, sayang sekali kalau kalian tidak bersedia. Karena jadwal malam ini kosong dan murid-murid yang les tetap akan berdatangan.”

Delana dan Chilton saling pandang. Mereka merasa iba jika melihat anak-anak semangat untuk belajar tapi pengajarnya justru tidak ada.

“Baiklah, Bu. Untuk malam ini, kami akan membantu sampai Ibu menemukan guru pengajar yang baru,” tutur Delana.

“Nah, gitu dong!” ucap ketua sambil tersenyum.

Mengambil jam les lebih, artinya mereka akan pulang malam hari dan itu sudah menjadi kesepakatan mereka.

Delana dan Chilton tidak begitu keberatan setelah mereka bisa bernegosiasi untuk mengajar dalam satu kelas saja. Karena, murid yang les pada malam hari adalah murid sekolah menengah dan membuat mereka harus bekerja lebih ekstra.

Usai mengajar malam untuk pertama kalinya, Delana dan Chilton keluar dari kelas mereka bersama-sama. Mereka berjalan beriringan keluar dari gedung kursus dan disapa oleh beberapa muridnya yang juga pulang dari tempat kursus tersebut.

“Kami duluan ya, Bu!”

“Selamat malam, Pak!”

“Permisi, Bu!”

Suara sapaan murid yang melintas membuat Delana dan Chilton menganggukkan kepalanya.

“Pacaran ya, Bu?” goda salah satu murid.

Delana dan Chilton menganggukkan kepala. Kemudian mereka menyadari kalau murid itu memberikan pertanyaan berbeda yang seharusnya tidak membuat mereka menganggukkan kepala.

“Ciyeee ....!” seru murid yang lain.

Wajah Delana menghangat ketika muridnya menggodanya. Ia tidak bisa memungkiri kalau hatinya memang bahagia ketika Chilton berada di sampingnya dan tidak menolak sedikit pun apa yang dibicarakan orang lain tentang mereka. Ia berharap, hari-hari yang ia lalui bersama bisa meluluhkan hati cowok itu.

Chilton hanya tertawa kecil menanggapi candaan murid-muridnya. Baginya, itu hal biasa. Hanya sekedar ucapan basa-basi antara murid dan guru karena tidak tahu apa lagi kalimat yang tepat untuk menyapa.

 

***

“Del, kita cari makan dulu, yuk!” ajak Chilton saat ia dan Delana sudah di jalan pulang. Ia mengendarai motornya perlahan sembari menikmati jalanan kota di malam hari.

“Di mana?” tanya Delana.

“Enaknya di mana?” tanya Chilton balik.

“Nggak tahu. Aku jarang makan di luar karena—”

“Selalu masak sendiri?”

“Iya.”

“Ya udah. Kita makan di rumah kamu aja!”

“Aku belum masak. Kalau malam gini, ART aku udah nggak ada di rumah. Dia cuma bantu-bantu dari pagi sampe sore.”

Chilton melirik jam yang ada di pergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan jam sembilan lewat lima belas menit. “Masak yang gampang aja!” pinta Chilton. “Lagian, udah jam segini banyak restoran udah mau tutup.”

“Masak apa yang cepet? Mie instan?” celetuk Delana.

“Nah ... itu aja! Kayaknya enak malam-malam gini makan mie instan,” sahut Chilton.

“Ya udah, mampir minimarket aja dulu! Aku nggak punya stock mie instan.”

“Siap! Beneran mau dimasakin nih?” tanya Chilton meyakinkan.

“Iya.”

Beberapa menit kemudian, Chilton membelokkan motornya memasuki parkiran salah satu minimarket untuk mengantar Delana membeli mie instan.

“Kamu mau mie yang mana?” tanya Delana saat mereka sudah ada di dalam minimarket.

Chilton memerhatikan deretan mie instan yang memajang aneka jenis mie instan, mulai dari merk hingga rasa yang disajikan. “Ini aja, deh!” Chilton menunjuk mie kuah rasa kari ayam dari salah satu merk terkenal di Indonesia.

Delana langsung mengambil lima bungkus dan memasukkan ke dalam keranjang belanjanya.

“Banyak amat?” tanya Chilton sembari mengikuti langkah Delana yang akhirnya juga membeli barang-barang keperluan lainnya.

“Siapa tahu, Bryan juga mau makan. Masa cuma beli buat kita doang?” Delana tersenyum menatap Chilton.

“Oh, oke. Cari apa lagi?” tanya Chilton.

“Bentar.” Delana berkeliling dari satu rak ke rak lainnya.

“Jangan lama-lama. Ini sudah malam. Lagian, perutku udah laper banget!” celetuk Chilton.

“Salah sendiri. Kenapa tadi dikasih nasi bungkus sama bos malah nggak mau?” tanya Delana.

“Aish ... nggak demen aku makan nasi bungkus.”

“Demennya apa?”

“Makanan buatanmu.”

Delana tertawa kecil. Chilton mulai membuat perasaannya semakin bermekaran karena ia menyambut kebaikan dan ketulusan Delana. Demi apa pun, Delana merasa bahagia karena bisa membuatkan makanan untuk Chilton.

“Biar aku yang bayar!” pinta Chilton begitu Delana sudah berdiri di depan meja kasir.

Delana tidak menolak, kali ini ia hanya tersenyum dan membiarkan Chilton membayar barang belanjaan miliknya.

 

***

“Masuk, yuk!” ajak Delana begitu ia dan Chilton sudah sampai di rumahnya.

“Nggak papa masuk ke dalam?” tanya Chilton.

“Nggak papa.”

“Ada siapa di dalam?” tanya Chilton lagi.

“Ada adik aku. Tapi, biasanya jam segini udah tidur.”

“Ayah kamu?” tanya Chilton sembari mengikuti langkah Delana masuk ke dalam rumah.

“Belum pulang kayaknya. Mobilnya belum ada di garasi.”

“Lembur?” tanya Chilton.

“Iya. Akhir-akhir ini dia sering lembur,” jawab Delana. “Kita di dapur aja ya!” pinta Delana. Ia langsung melangkah masuk ke dapur yang dinding dan perabotannya berwarna pink.

“Girly banget ini dapur.” Chilton mengedarkan pandangannya menikmati suasana dapur yang semuanya bernuansa pink.

“Iya.” Delana tersenyum sembari menyiapkan air di dalam panci untuk merebus mie instan. “Aku banyak ngabisin waktu di sini. Jadi, ayah nggak pernah protes. Yang penting aku nyaman di sini. Padahal, cuma aku doang cewek di rumah ini. Tapi, jadi penguasa rumah.” Delana tergelak.

“Kelihatan, sih.” Chilton mengangguk-anggukkan kepala.

“Waktu itu Bryan sempat ngomel gara-gara aku ganti gorden kamarnya pake gorden gambar chibi-chibi gitu,” tutur Delana sambil menahan tawa.

“Eh!? Serius?” tanya Chilton.

Delana menganggukkan kepala sambil tertawa kecil. “Duduk, gih! Jangan berdiri terus kayak gitu!” perintah Delana saat melihat Chilton masih berdiri sambil menyandarkan lengannya di atas kursi meja makan.

Chilton langsung duduk sembari menunggu Delana memasak mie instan untuknya. Aroma masakan menyeruak ke seluruh ruangan dan membuat cacing-cacing di dalam perutnya mengamuk minta diberi makan secepatnya.

Tak menunggu lama. Mie instan buatan Delana sudah tersaji di atas meja makan dengan topping sayuran, udang, telur dan irisan tomat.

“Mmh ... enak nih kayaknya,” tutur Chilton begitu melihat masakan Delana.

“Ayo, makan!” pinta Delana.

Chilton langsung mencicipi masakan Delana, kemudian melahapnya dengan cepat karena perutnya memang sudah sangat lapar.

“Hati-hati makannya!” pinta Delana.

Chilton mengangguk-anggukkan kepala dengan mulut penuh makanan.

“Gimana pengalaman mengajar hari ini?” tanya Delana.

Chilton menelan seluruh makanan yang ada di dalam mulutnya. “Asyik! Ngajar anak-anak SD itu asyik juga. Kenapa nggak dari dulu ya?” balas Chilton.

Delana tersenyum. “Iya. Mereka tuh lucu, polos dan nyenengin banget!” tutur Delana. “Lucunya lagi, mereka ngira kalo kita pacaran. Padahal, mereka masih SD. Udah ngerti pacar-pacaran segala,” celetuk Delana.

“Siapa dulu gurunya?” ucap Chilton sambil menahan tawa.

“Iih ... apaan sih? Aku nggak pernah ngajarin mereka pacar-pacaran!” dengus Delana.

“Anak zaman sekarang, siapa yang nggak tahu pacaran? Anak TK aja loh udah ngerti.”

“Iya, juga sih. Anak SD juga sudah ada yang pacaran. Heran aku, waktu mereka bilang kalo aku disuruh jadi pacar Kak Chilton!” Delana tergelak.

“Kenapa ketawa? Ada yang lucu?” tanya Chilton.

Delana langsung menghentikan tawanya. “Mereka yang lucu.” Delana meringis ke arah Chilton.

Chilton tertawa kecil. Mudah sekali membuat Delana merasa bersalah. Tapi, ia selalu tidak tega melihat wajah murung yang tergambar dari cewek yang selalu ceria itu.

“Kamu sendiri gimana?” tanya Delana.

“Gimana apanya?”

“Pengalaman ngajar di kelas pertama kalinya.”

“Baik,” sahut Chilton singkat.

Delana mengernyitkan dahinya. “Cuma itu?”

“Terus apa?” tanya Chilton.

“Yah ... anak-anaknya gimana? Respon mereka saat kamu mengajar seperti apa? Dan semuanya tentang pengalaman mengajar kamu hari ini.”

“Kamu lihat sendiri waktu kita ngajar di kelas bareng malam ini,” tutur Chilton.

Delana tertawa kecil saat murid cewek banyak mengerubungi dan menarik-narik tangannya untuk bertanya pada Chilton tentang materi yang belum mereka mengerti. Delana tahu, mereka tidak benar-benar tidak mengerti. Hanya sekedar basa-basi untuk mencari perhatian Chilton.

“Kenapa ketawa?” tanya Chilton kesal melihat Delana cekikina sendiri.

“Nggak papa. Lucu aja!”

“Lucunya di mana? Kamu tuh selalu aja senang kalo aku dikerubungin kayak gitu!” celetuk Chilton.

“Terus? Aku harus gimana? Mereka kan murid kamu juga.”

“Iya, tapi ... tetep aja akhirnya aku nggak nyaman ngajar. Kalo sama anak-anak SD sih santai aja. Yang SMA ini nah bikin aku risih!”

“Itu karena kamu baru aja ngajar. Lama-lama mereka juga bosan kalo udah sering ketemu.”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Emang aku se-ngebosenin itu?”

Delana menghela napas. “Aku salah mulu,” gumamnya.

“Apa kamu juga udah mulai bosan ketemu sama aku?” tanya Chilton.

Delana menggelengkan kepala, kemudian tertawa. “Nggak, lah. Kamu nih baperan banget sih!?”

“Ya kali aja kamu mulai bosan. Buktinya, kamu nggak bawain sarapan lagi buat aku.”

Delana menghela napas. Ia lemas mendengar ucapan Chilton. Ia merasa, Chilton kali ini semakin menyebalkan dan terlihat seperti perempuan. “Kenapa sih dia jadi aneh gini? Aseeli, kayak cewek banget! Dikit-dikit baper,” gumam Delana dalam hatinya. Delana merasa Chilton semakin berubah. Chilton yang ia kenal pertama kali sangat dingin, jarang bicara dan tidak ramah. Kini, cowok itu mulai berubah. Bahkan, Chilton tak malu melakukan hal-hal konyol yang seharusnya tidak ia lakukan sebagai cowok paling cool di kampusnya.

“Aku pulang ya! Udah malam,” pamit Chilton begitu ia menghabiskan makanannya.

Delana mengangguk dan mengantarkan Chilton sampai ke halaman rumahnya. Ia merasa bahagia karena untuk pertama kalinya ia menghabiskan banyak waktu bersama Chilton. Semoga saja ini pertanda baik untuk hubungan mereka.

 

 

 

 

THEN LOVE BAB 10 : JATUH CINTA PADA TATAPAN KE SERATUS

 

BAB 10 – JATUH CINTA PADA TATAPAN KE SERATUS

 


Sepulang kuliah, Delana mondar-mandir di dalam kamarnya. Semenjak ia pensiun dari dunia game, ia mulai merasa jenuh dengan kesehariannya.

“Ngapain ya? Masak, udah. Beres-beres, udah,” gumam Delana.

Delana merebahkan tubuhnya ke atas kasur. “Biasanya, Chilton ngajak aku ngegame. Sekarang dia udah nggak nge-game lagi. Aku jadi gabut banget.” Delana menelungkupkan tubuhnya. Ia menopang dagu dengan tangannya. Kemudian berbaring kembali.

“Asli! Aku kayak orang gila kayak gini terus!” Delana bangkit dari tidurnya, ia berjalan perlahan menuju meja riasnya.

Dengan malas, Delana meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja rias. Ia duduk sambil memangku wajah dengan tangan kirinya. Tangan kanannya sibuk membuka beranda salah satu media sosial facebook.

“Wah, kayaknya perlu dicoba nih,” gumam Delana saat melihat lowongan kerja di salah satu akun teman facebooknya.

Tanpa pikir panjang, ia langsung menghubungi nomor yang tertera di lowongan tersebut.

“Halo ... selamat sore ...!” sapa seseorang dari ujung sana.

“Selamat sore. Ini bener nomer Media Belajar?” tanya Delana.

“Iya, benar. Ada yang bisa dibantu?”

“Saya mau nanyain soal lowongan kerja jadi guru les. Apakah masih ada?” tanya Delana.

“Masih, Mbak. Mbaknya mau ngelamar?”

“Iya. Gimana cara ngirim lamarannya? Diantar langsung atau lewat email?” tanya Delana.

“Lebih baik diantar langsung saja, Mbak.”

“Oke. Alamatnya sesuai dengan iklan itu, ya?” tanya Delana.

“Iya, Mbak.”

“Jam berapa tutup kantornya?”

“Jam lima kami sudah tutup.”

Delana melirik jam dinding yang ada di kamarnya. “Oke, setengah jam lagi saya ke sana,” ucap Delana.

“Iya, Mbak.”

“Makasih, ya! Selamat sore!”

“Sore.”

Delana mematikan panggilan teleponnya. Ia membuka laci meja riasnya untuk mengambil beberapa berkas persyaratan lamaran.

Setelah memastikan semuanya lengkap, ia langsung bergegas keluar dari rumah. Ia pergi ke tempat fotokopi terdekat dan langsung menuju ke alamat yang tertera dalam lowongan pekerjaan sebagai guru les di salah satu lembaga kursus.

Sesampainya di tempat les, Delana tidak langsung mendapatkan pekerjaan sampingan yang dia inginkan. Ia masih harus menjalani tes tertulis dan wawancara bersama beberapa orang yang juga ikut melamar menjadi guru les.

Ia harus pulang ke rumah dan menunggu kabar selanjutnya dari admin tempat kursus tersebut apakah ia diterima sebagai guru les atau tidak.

Delana berharap ia bisa diterima di tempat les itu. Bukan karena dia tak punya uang, tapi ia ingin ada kegiatan yang lebih bermanfaat untuknya daripada sekedar bermain game online.

***

“Ayah, aku mau kerja ya!” tutur Delana saat ia sedang makan malam bersama keluarga kecilnya.

Ayah Delana langsung mengangkat kepalanya. “Buat apa? Uang jajan dari ayah masih kurang?” tanya Harun.

Delana menggelengkan kepala. “Uang jajan dari ayah itu lebih dari cukup.”

“Terus, kenapa mau kerja?”

“Biar ada kegiatan aja. Jenuh banget di rumah. Bryan juga mulai sibuk dengan kegiatannya sampe sore. Aku gabut banget di dalam rumah sendirian.”

“Kuliah kamu gimana?”

“Ya, tetep kuliah, dong. Aku cuma jadi guru les tiap sore. Jadi, aku ngajarnya setelah pulang kuliah.”

“Oh, gitu? Baiklah. Selama itu positif, jalani saja. Tapi ingat, kamu harus bisa bagi waktu kamu dengan baik!”

“Siap, Ayah!” Delana tersenyum bahagia karena ayahnya mengijinkannya untuk bekerja di salah satu tempat kursus.

“Di mana tempatnya?” tanya Harun.

“Media Belajar.”

“Daerah mana?”

“Prapatan.”

“Lumayan jauh juga, ya?” tutur Harun. “Mulai kapan kerjanya?”

“Belum tahu. Masih nunggu kabar. Aku belum tahu bakal keterima atau enggak.”

“Keterima, dong! Anak Ayah!” ucap Harun dengan bangga.

“Aamiin.”

“Emangnya kakak bisa ngajar?” tanya Bryan.

“Bisa, lah,” sahut Delana percaya diri.

“Ngajarin Bryan aja nggak pernah,” celetuk Bryan.

“Yee ... males ngajarin kamu, mah.”

“Sudah, jangan bertengkar!” sergah Harun. “Kakak kamu lagi belajar mengajar, kenapa nggak disupport?”

“Iya. Aku support. Semoga aja murid-murid kakak betah ya diajarin sama kakak.”

“Aaamiin ...!”

 

***

 

Sehari kemudian, Delana mendapat kabar kalau ia diterima sebagai guru les di Media Belajar. Ia senang sekali karena ia akan mengajar anak-anak SD. Ia meloncat-loncat kegirangan di atas kasurnya.

Sore hari sepulang kuliah, Delana melangkahkan kakinya sangat antusias saat pergi mengajar ke tempat les pertama kalinya.

“Selamat sore ...!” sapa Delana pada teman kerja yang lainnya.

“Sore ...!” sahut mereka bersamaan.

Delana langsung menghadap ke meja resepsionis.

“Ibu Delana?” tanya resepsionis tersebut.

Delana menganggukkan kepala.

“Hari ini, Ibu dapet jadwal mengajar di kelas itu!” Petugas jaga menunjukkan kelas yang akan dipakai oleh Delana mengajar pertama kalinya.

Setelah petugas jaga memberitahukan ruangan yang akan ia ajar, ia langsung memasuki ruang kelas tempat ia akan mengajar.

“Selamat sore ...!” sapa Delana saat ia memasuki ruang belajar. Ada 20 anak sekolah dasar yang akan belajar bersamanya.

“Sore, Bu...!”

Panggil kakak aja, ya!” pinta Delana. “Perkenalkan, nama saya Delana. Panggil aja kakak Dela ya!” pinta Delana sembari tersenyum manis pada murid-murid yang baru saja ia temui.

“Iya, Kak Dela ...!” seru murid-murid berbarengan.

“Hari ini ... jadwal les pelajaran apa, hayo?” tanya Delana ceria.

“Matematika, Kak!” jawab murid-murid serempak.

“Bener banget!” sahut Delana ceria. “Kalau ketemu sama kakak, artinya kalian akan belajar berhitung,” lanjutnya. “Siapa di sini yang sudah hapal perkalian satu sampai sepuluh?” tanya Delana.

Salah satu murid yang paling buntal mengangkat tangannya. “Saya, Bu. Eh!? Kak.”

“Oh ya? Siapa nama kamu?” tanya Delana.

“Ilham.”

“Oke, Ilham maju!” pinta Delana. “Kita akan nge-game sambil belajar matematika.” Delana mengajak Ilham untuk segera maju ke depan.

Ilham berjalan perlahan dan berdiri di depan kelas sesuai dengan intruksi dari Delana.

“Yang lain, akan kakak bagi per kelompok. Satu kelompok tiga orang ya!” pinta Delana.

Semua mengangguk setuju dan ada juga yang sibuk mencari teman kelompok yang sesuai keinginan mereka.

“Oke. Sekarang kalian berdiri sesuai dengan kelompoknya masing-masing,” lanjut Delana.

Semua murid mengikuti intruksi dari Delana dengan senang hati. Mereka bermain salah satu games sembari berhitung. Semua terlihat riang sambil belajar berhitung Matematika.

Setelah dirasa cukup mengajak murid-muridnya bermain game seru. Delana akhirnya memulai materi pelajaran matematika dengan buku yang sudah sesuai kurikulum sekolah.

 

***

 

Delana tersenyum riang sembari masuk ke dalam rumah. Ia bahagia sekali bisa memberikan pelajaran tambahan untuk anak-anak. Kenapa tidak ia lakukan ini dari dulu? Mengajar anak-anak ternyata seru dan tawa mereka sungguh membuat Delana rindu.

Karena hari ini adalah hari pertama Delana mengajar  di tempat les dan dia sangat gembira, ia memutuskan akan berjalan-jalan sebentar di sepanjang jalan seberang kampus yang selalu ramai dipadati pengunjung saat malam hari.

Delana melangkahkan kakinya menyusuri trotoar. Ia melihat beberapa cafe sudah terhiasi lampu-lampu yang indah. Selanjutnya, ada deretan pedagang kaki lima yang menyuguhkan aneka makanan nusantara. Mulai dari sate ayam sampai mie aceh. Kota ini memang terdiri dari beragam suku, sehingga kuliner pun beragam. Mulai dari jajanan tradisional khas nusantara sampai makanan western dan timur tengah.

Kali ini, Delana memilih untuk membeli sate ayam. Ia duduk di kursi plastik sembari menunggu sate pesanannya selesai dibakar.

“Kamu, kok, di sini?” tanya Chilton yang tiba-tiba sudah duduk di sebelah Delana.

“Lagi pengen makan sate ayam.” Delana tersenyum ke arah Chilton. “Kamu sendiri, ngapain di sini?” tanya Delana.

“Cari makan.” Chilton mengelus-elus perutnya. “Abisnya, dapet makan gratis cuma pagi doang.”

Delana spontan menoleh ke arah Chilton dengan dahi berkerut. “Maksudnya? Minta dianterin makan pagi siang sore, gitu?” dengus Delana.

“Yah ... siapa tahu ada yang baik hati mau nganterin makan pagi siang malam,” tutur Chilton sambil tertawa kecil.

“Hmm ...” Delana menatap Chilton sambil menopang dagu dengan tangan kirinya.

“Kenapa?” tanya Chilton menahan tawa. “Bukan kamu yang aku maksud. Masih banyak cewek yang mau ngasih aku makan pagi siang malam,” lanjutnya.

Delana menghela napas. Ia mencoba lebih bersabar menghadapi Chilton yang seringkali membuatnya kesal dan ingin sekali berhenti mengejar cinta cowok itu. Tapi, ia tak ingin menyerah begitu saja. Ia ingin membuktikan kalau ia layak menjadi kekasih Chilton. “Ya, aku tahu itu,” tutur Delana lirih sembari menundukkan kepala. Ia ingin menangis karena Chilton tak menganggapnya spesial hingga saat ini.

“Tadi sore ke mana aja? Aku telponin nggak aktif terus.” Chilton menatap Delana.

“Eh!?” Delana balas menatap Chilton. Ia sendiri lupa kalau ponselnya ia nonaktifkan sejak mulai mengajar di tempat lesnya.

Chilton mengernyitkan dahinya melihat ekspresi wajah Delana. “Kamu kok malah bingung gitu?”

“Eh!? Enggak.” Delana meringis ke arah Chilton. “Aku lupa kalo dari tadi sore hp kunonaktifkan.”

Chilton berdecak kesal. “Masih mending kalo hape kehabisan baterai atau apa. Ini hape dinonaktifkan dan nggak sadar? Emangnya kamu sama sekali nggak pengen ngubungin siapa atau dihubungi sama siapa?”

“Siapa? Nggak ada juga yang hubungi aku.”

“Bisa aja kan, ayah kamu telpon karena ada hal penting.”

“Hmm ...” Delana melirik ke atas. “Iya, juga sih. Tapi, sejauh ini kayaknya nggak ada, deh. Kalo ayah nggak bisa hubungi aku, paling dia telpon ke telpon rumah. Lagian ayah juga udah tahu kalau aku mulai ngajar sore tadi.”

“Ngajar?” tanya Chilton.

Delana tersenyum sembari menyambut pesanan sate yang sudah disodorkan oleh penjualnya.

“Iya. Aku sekarang ngajar di salah satu tempat kursus gitu. Lumayan sih buat ngisi waktu luang daripada nggak ngapa-ngapain. Aku ngajar anak-anak SD. Mereka tuh lucu banget!” ucap Delana gemas.

“Kamu sekarang jadi guru les?” tanya Chilton meyakinkan.

Delana mengangguk pasti. Ia menyuap satu buah potongan daging sate ayam. “Semenjak kita offline ngegame, aku bete banget. Nggak tahu mau ngapain. Kebetulan ada lowongan kerja ngeles. Ya udah, aku langsung coba ngelamar dan keterima,” tutur Delana. “Aku seneng banget karena ini pertama kali aku ngajar dan murid-murid aku tuh seru, lucu, asyik, bikin aku lupa sama semuanya.”

“Oh, ya? Tempat lesnya yang di mana?” tanya Chilton.

“Di Media Belajar.”

“Media Belajar yang di mana?” tanya Chilton.

“Yang di daerah Prapatan itu loh.”

“Prapatan?” Chilton mengernyitkan dahinya.

Delana menganggukkan kepala.

“Aku baru tahu di sana ada tempat les. Di mananya, ya?” tanya Chilton.

“Agak masuk ke dalam gang gitu, sih. Tapi, tempatnya lumayan luas dan nyaman.”

Chilton mengangguk-anggukkan kepala sambil berpikir. “Jadi guru les kayaknya asyik banget,” gumamnya.

“Kamu mau?” tanya Delana.

“Emang boleh?” tanya Chilton balik.

“Hmm ... aku masih kurang tahu juga sih, hehehe.”

“Mmh ... kalo aku main ke sana boleh?”

“Boleh banget, main aja! Sekalian aja bikin lamaran buat jadi guru les di sana.”

“Emang masih ada lowongan?”

“Ya ... masukin lamaran aja dulu. Ntar kalo udah ada lowongan pasti dipanggil kan?”

“Hmm ....boleh juga. Jam berapa kamu ke tempat kerja?” tanya Chilton.

“Jam empat sore.”

“Berapa lama ngajarnya?” tanya Chilton.

“Satu jam lebih,” jawab Delana. “Aku sampe rumah sekitar jam enaman gitu.”

“Ya udah, besok aku ikut ke tempat ngajar kamu, ya!” pinta Chilton.

Delana menganggukkan kepala.

“Nanti aku nyusul. Soalnya jam empat aku ada janji ketemu sama temen sebentar.”

“Oke.” Delana tersenyum kecut. Ia mulai curiga dengan kata ‘temen’ yang keluar dari mulut Chilton. Temmen cowok atau cewek?

Delana menghela napas agar perasaannya menjadi lebih baik. Ia menyadari kalau dirinya bukan siapa-siapa. Walau ia tak bisa membohongi dirinya sendiri kalau ia memang cemburu.

“Kamu kenapa?” tanya Chilton.

“Eh!? Nggak papa.”

“Kamu sering banget tiba-tiba berubah. Kenapa, sih?” tanya Chilton lagi.

Delana ingin sekali memaki Chilton. Tidak tahukah kalau dia sangat menyebalkan?

“Mau nambah lagi satenya?” tanya Chilton yang melihat Delana sedang menghabiskan tusukan sate terakhirnya.

Delana menggelengkan kepalanya. “Udah kenyang.”

“Serius? Aku traktir, deh.”

“Please, deh. Kamu mau traktir di saat aku sudah kenyang?” dengus Delana.

Chilton tertawa kecil.

“Aku balik dulu, ya!” pamit Delana. Ia meletakkan piring satenya. “Berapa, Paklek?” tanya Delana pada penjual sate.

“Lima belas ribu, Mbak.”

Delana langsung memberikan selembar uang dua puluh ribuan. Setelah mendapatkan uang kembalian, ia bergegas pergi meninggalkan Chilton yang tidak menyahut ucapannya sama sekali.

Delana menghela napas sebelum ia memantapkan langkahnya meninggalkan Chilton. Ia berharap kalau cowok itu masih menahannya untuk mengajak bicara. Ia ingin menoleh ke belakang untuk memastikan Chilton menatapnya atau tidak. Tapi jika ia melakukan itu, artinya ia meminta cowok itu menahannya. Akhirnya, Delana terus melangkahkan kakinya sampai ke depan rumah tanpa menoleh ke belakang walau hanya sekali.

Chilton tertawa kecil memandang tubuh Delana yang mulai menjauh darinya. Hilang di antara kerumunan orang.

“Paklek, ini!” Chilton menyodorkan selembar uang lima puluh ribu pada pedagang sate dan langsung bergegas pergi secepatnya.

“Angsulnya, Mas!” seru pedagang sate tersebut.

“Ambil, aja!” teriak Chilton. Ia berlari secepatnya mengejar Delana. Bukan untuk menyapa cewek itu, hanya untuk memastikan kalau dia pulang dalam keadaan baik-baik saja dan tidak ada satu orang pun yang mengganggunya di perjalanan pulang. Sebagai laki-laki, naluri untuk melindungi seseorang selalu hadir tanpa diminta. Terlebih melihat perempuan dalam keadaan yang seharusnya bisa ia jaga, walau tak terlihat.

 

***

 

Keesokan harinya, Chilton menyusul Delana ke tempat lesnya. Semua perempuan di tempat mengajar Delana terpesona. Bahkan, mereka tak berkedip saat Chilton masuk ke dalam kantor tersebut.

“Wah ... ganteng banget! Dia siapa?” tanya salah satu admin yang berada di meja resepsionis.

“Iya. Kayaknya jodoh aku,” celetuk guru yang lain.

“Yee ... nyadar diri!” sahut teman lainnya.

“Selamat sore ...!” sapa Chilton pada tiga orang wanita yang sedang bergosip di meja resepsionis.

“Sore ...!” sahut mereka serempak.

“Saya mau tanya. Apa benar di sini ada lowongan kerja sebagai guru les?” tanya Chilton.

“Ada!” Tanpa pikir panjang, ketiga cewek itu langsung mengiyakan pertanyaan Chilton.

Chilton menyodorkan map berisi berkas persyaratan sebagai pelamar kerja. “Saya mau ngelamar jadi guru les.”

Admin resepsionis langsung menyambar map tersebut. “Oke, Mas. Masnya diterima.”

“Eh!? Langsung diterima?” tanya Chilton bingung. “Gimana bisa diterima? Berkas lamaran dibuka aja belum,” batin Chilton sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ketiga cewek itu menganggukkan kepalanya tanpa berkedip.

Chilton geleng-geleng kepala melihat tingkah cewek-cewek aneh yang sudah biasa ia temui. “Ada pengajar yang namanya Delana?” tanya Chilton lagi.

“Ada.” Mereka bertiga masih menganggukkan kepala tanpa mengedipkan matanya.

“Ruangannya di mana?” tanya Chilton.

Ketiga cewek itu serempak menunjuk pintu yang tak jauh dari tempat mereka. Eits ... wait! Sepertinya itu bukan tiga cewek, hanya ada satu orang cewek dan dua perempuan setengah baya. Seharusnya mereka sudah punya anak usia remaja. Tapi, masih saja terpesona dengan cowok ganteng.

Chilton berjalan perlahan menuju pintu ruangan tempat Delana mengajar. Ia membuka pintu tersebut dan langsung menyapa murid-murid Delana.

“Hai ... selamat sore!” sapa Chilton.

“Sore, Kakak!” sahut murid-murid bersamaan.

“Apa kabar kalian hari ini?” tanya Chilton.

“Baik!”

“Ya sudah, lanjutin belajarnya!” pinta Chilton. Ia tak segera pergi, justru bersandar di kusen pintu. Ia memerhatikan cara Delana mengajar. Ia sangat ramah, ceria dan cocok sekali mengajar anak-anak sekolah dasar yang memiliki banyak keceriaan. Delana memiliki energi positif setiap kali bertemu dengan siapa saja. Dan di hadapan anak-anak, ia terlihat lebih bersinar.

Guru les yang lain berbisik ketika melihat Chilton menunggu Delana.

“Siapanya Dela?”

“Nggak tahu.”

“Jangan-jangan pacarnya.”

“Bisa jadi. Duh, seneng banget bisa punya pacar ganteng kayak gitu.”

Chilton sesekali melirik ke arah wanita yang terlihat sedang bergosip. Satu hal yang paling ia benci dari perempuan adalah sibuk bergosip membicarakan orang lain.

“Kak, kakak ganteng itu siapa? Pacarnya, ya?” tanya salah satu murid Delana.

“Sst ...!” Delana menutup mulut dengan jemari telunjuknya. “Masih kecil, nggak boleh ngomong pacar-pacaran!”

Chilton tertawa kecil mendengar ucapan anak-anak yang masih terlihat begitu polos.

Seisi kelas Delana tiba-tiba menjadi riuh. Delana akhirnya harus menenangkan semuanya.

Usai mengajar, Delana langsung menarik Chilton keluar dari tempat kerjanya.

“Kamu udah jadi ngelamar kerjanya?” tanya Delana.

“Udah.”

“Terus?” Delana menatap Chilton cemas.

“Diterima, dong!”

“Serius?”

Chilton menganggukkan kepala.

“Cepet banget langsung keterima?”

Chilton mengedikkan bahunya. “Entah, berkas lamaran baru aku kasih langsung diterima.”

“Seriusan? Berarti nggak ikut tes dan wawancara?”

Chilton menganggukkan kepala sembari melangkahkan kaki menuju mobilnya.

“Enak banget!” celetuk Delana mengikuti langkah Chilton.

“Iya. Aku juga nggak ngerti.”

“Kayaknya mereka terpesona sama kamu, deh. Makanya mereka langsung nerima kamu kerja.”

“Sepertinya begitu.” Chilton menyalakan mesin mobilnya dan bergegas pergi. “Tapi, pas mereka tahu kalo aku jemput kamu. Kayaknya mereka bakal berubah pikiran.”

“Iih .. ya, nggak dong! Namanya udah diterima ya nggak bisa main batalin gitu aja,” cerocos Delana. “Kapan mulai ngajar?” lanjutnya.

“Besok lusa.”

“Ngajar SD juga?”

“Belum tahu. Ntar coba aku tanya lewat telepon, deh!”

“Udah dapet nomer adminnya?” tanya Delana.

“Udah.”

“Kamu enak banget sih? Pengen apa-apa tinggal ngomong doang, semua orang akan berusaha mewujudkan maunya kamu,” celetuk Delana.

“Cowok ganteng mah gitu.” Chilton membanggakan dirinya sendiri.

“Iya, kali. Kalo gitu, besok lusa kita berangkat ke tempat lesnya bareng aja ya?” pinta Delana.

“Boleh.” Chilton mengangguk-anggukkan kepalanya. “Kamu biasa berangkat jam berapa?” tanyanya.

“Jam tiga sore aku udah siap.”

“Oke. Aku jemput kamu jam setengah empat, ya!” pinta Chilton.

Delana menganggukkan kepala. Ia tersenyum senang karena akhirnya ia bisa lebih sering bersama Chilton di kelas les. Sebab ia tahu kalau ia tak mungkin satu kelas dengan Chilton di kampusnya. Jelas-jelas Chilton adalah kakak tingkatnya. Dengan mengajar di tempat les bersama, artinya Delana punya waktu yang semakin banyak untuk bersama dengan Chilton.

Chilton mengantarkan Delana sampai di depan rumahnya.

“Mampir dulu!” pinta Delana.

“Nggak usah. Sudah sore. Aku mau mandi,” sahut Chilton.

“Oke, deh.” Delana membuka safety belt dan bergegas keluar dari mobil. “Sampai ketemu besok.”

Chilton tersenyum sembari menganggukkan kepala. Ia langsung bergegas pergi menginggalkan rumah Delana menuju Gunung Dubs, ia ingin sekali bercerita pada mamanya kalau ia akan mengajar les. Namun, sampai malam hari Mamanya belum juga pulang ke rumah.

Chilton mengurungkan niatnya untuk bercerita langsung pada mamanya. Ia memilih menyimpannya sampai mamanya punya waktu makan malam bersamanya.

Malam hari, sembari menikmati indahnya kota dari balkon belakang rumahnya, Chilton melakukan panggilan video pada Delana.

“Selamat malam ibu guru yang cantik!” sapa Chilton begitu panggilannya tersambung.

Delana mengernyitkan dahinya melihat Chilton terlihat sangat ceria. Ia jauh berbeda dengan Chilton yang pertama kali ia kenal. Cowok pendiam dan dingin itu, ternyata punya sisi lucu dan humoris yang tidak diketahui oleh banyak orang.

“Selamat malam juga calon pak guru. Belum tidur?” tanya Delana.

“Belum. Aku di rumah Gunung Dubs.”

“Hmm ... terus?” Delana sudah merasa kalau Chilton akan memamerkan pemandangan kota dari atas balkon rumahnya.

Chilton tertawa jahil melihat ekspresi wajah Delana.

“Kamu mau pamerin aku lagi?” dengus Delana.

“Iya, nih. Bagus, kan?”

“Hmm ... aku mau tidur!” seru Delana sembari membenamkan wajahnya ke dalam bantal.

“Nggak mau lihat?” tanya Chilton.

“Nggak! Aku ngantuk!”

Chilton cekikikan. Ia tahu kalau Delana ingin sekali bisa melihat keindahan kota dari atas ketinggian Gunung Dubs. “Ya udah, tidur!” tutur Chilton. “Selamat malam. Selamat dirindukan murid-murid yang lucu!” lanjutnya.

“Hmm ... iya. Selamat juga buat kamu karena akan menjadi kakak guru yang paling mempesona.”

Chilton tertawa lebar. “Makasih!”

Mereka mengakhiri panggilan videonya dan terlelap bersama mimpi masing-masing. Delana dengan harapannya bisa mendapatkan hati Chilton seutuhnya. Chilton dengan keinginan kecilnya untuk bisa mengajak Delana menikmati indahnya malam dari atas balkon rumahnya.

Cinta ... terkadang tumbuh dari tatapan pertama. Tapi, banyak juga cinta yang baru tumbuh dari tatapan yang keseratus bahkan seribu. Tak peduli seberapa banyak waktu yang harus ia habiskan untuk menumbuhkan cinta. Delana berharap, suatu hari nanti Chilton akan memilihnya dengan tulus.

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas