Thursday, August 14, 2025

THEN LOVE BAB 6 : WINNER WINNER CHICKEN DINNER

 

BAB 6 – WINNER WINNER CHICKEN DINNER

 


  Setelah berlatih keras, akhirnya Delana masuk ke dalam Squad Chilton yang diberi nama Squad Lembuswana.

Nama ID game Delana adalah Lady Death. Ia langsung masuk ke dalam squad Lembuswana dan disambut dengan ramah.

“Hay, Lady Death...! Welcome to Lembuswana Squad!” seru Chilton.

Chilton menggunakan nama ID game “Panglima Kumbang” dan menjadi leader dalam squad tersebut.

“Kita turun di mana nih?” tanya Chilton.

“Di School.”

“Males, ah.”

“Ya udah, di Georgepol,” seru Attala yang menggunakan nama ID “Dewa Sakti”.

Delana mengikuti instruksi tanpa ikut bicara. Ia fokus dengan  game yang akan segera berlangsung. Delana langsung berlari kencang mencari senjata yang bisa ia gunakan untuk membunuh lawannya.

“Lady, kamu di mana?” seru Chilton, Delana sangat familiar dengan suara Chilton.

“Di sini.”

“Jangan jauh-jauh!”

“Siap.”

“Eh, gila! Aku ditembakin dari mana?” teriak Dewa. Ia langsung mencari tempat yang aman dan menggunakan med kit untuk memulihkan kembali tokoh game miliknya.

“Knock satu,” tutur Dela. “Knock dua.” Ucap Delana lagi. “Huu... mantap!” ucap Delana setelah membunuh dua lawannya.

“Mantap!” seru Chilton.

“Ada orang di dalam rumah putih!” seru Chillo, coser paling cantik.

Dewa Sakti yang kebetulan berada di dekat rumah putih langsung nge-kill.

“Di mana lagi?” tanya Chilton.

“Di bukit itu ada!” teriak Delana. Ia langsung menembaki lawan yang bersembunyi di balik bukit.

“Di mana sih?” tanya Chilton.

“Itu di balik bukit!” seru Delana. Ia langsung menembak saat kepala lawannya muncul di balik bukit. “Hmm....mampus kau! Head kill!”

“Di atas banyak kayaknya,” tutur Chillo.

“Oke. Ayo, kita ke sana aja!” seru Delana.

“Pake mobil, pake mobil. Ayo!” seru Chilton. Teman-temannya mengikuti instruksi dari Chilton.

“Knock satu,” tutur Delana. “Knock dua,” lanjutnya. “Knock tiga!”

“Kill!”

“Lady! Aku knocked down, help!” teriak Chilton. “Revive cepet!”

Delana langsung mendekat dan melakukan reviving sesuai permintaan Chilton.

“Thanks, Lady.” Tutur Chilton. “Tiga lagi!” serunya.

Winner Winner Chicken Dinner.

Beberapa detik kemudian mereka memenangkan permainan.

“Huu ... keren!” teriak Chilton. “Lady Death, kamu keren mainnya.”

“Iya. Baru gabung udah GG,” sahut Attala.

“Oke. Aku pamit dulu, ya! Besok kita lanjut lagi!” ucap Chilton berpamitan dari arena game dan langsung melempar ponsel gamenya ke atas ranjang.

Chilton mengambil satu lagi ponsel yang ia gunakan untuk berkomunikasi dan langsung menelepon Delana.

“Sudah tidur?” tanya Chilton begitu teleponnya dijawab oleh Delana.

“Belum.”

“Masih ngapain?” tanya Chilton lagi.

“Baru kelar cuci tangan, cuci kaki and cuci muka. Nih, sekarang mau tidur.”

“Udah ngantuk?”

“Iya.”

“Besok bisa main lagi?”

“Hmm, belum tahu. Kenapa?” tanya Delana balik.

“Ya nggak papa. Mau ngajak kamu main lagi aja. Kamu tadi mainnya keren banget. Udah lama nge-gaming juga?” tanya Chilton.

“Eh!? Enggak. Aku baru-baru aja main game yang ini.”

“Oh ya? Tapi, lumayan bagus loh. Kamu tadi banyak nge-kill.”

“Hehehe. Belum seberapa. Aku masih punya target yang belum bisa aku kill.”

“Oh ya? Siapa?”

“Kamu.”

“Jadi, kamu mau bunuh aku, hah!?”

“Iya.”

“Idih, cantik-cantik kok killer?”

“Nggak papa, lah. Mending killer daripada ngiler.”

Chilton terbahak. “Apa hubungannya killer ama ngiler?”

“Nggak ada, sih.”

“Terus?”

“Biar kamu ketawa aja.”

Chilton tertawa kecil. “Ya udah. Met tidur ya! Maaf aku ngeganggu jadinya.”

“Iya.”

Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia menarik selimut dan terlelap. Sama seperti yang dilakukan Delana di saat yang sama.

 

***

Jam tujuh, setelah makan malam bersama ayah dan adiknya, Delana langsung masuk ke dalam kamar. Ia membuka buku materi pelajaran untuk besok.

“Syukur, deh. Lagi nggak ada tugas,” gumam Delana. Ia melangkahkan kakinya ke tempat tidur dan langsung menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang.

Tiba-tiba saja ponsel Delana berdering. Ia meraih ponsel tersebut dan menjawab panggilan video dari Chilton.

“Del, mabar yuk!” ajak Chilton melalui panggilan video.

“Jam berapa?” tanya Delana.

“Sekarang.”

“Oke. Kamu lagi di mana?” tanya Delana begitu melihat cowok bertubuh gembul yang ikut menatapnya dari belakang Chilton.

“Di kamar Attala,” jawab Chilton.

“Hai ...!” Attala melambaikan tangan sambil tersenyum. “Ayo, Lady Death! Kita main lagi! Kita hancurkan dunia per-PUBG-an!” ucapnya penuh semangat.

Delana tertawa kecil melihat tingkah Attala. “Kamu yang pakai username Dewa Sakti itu kah?” tanyanya.

Attala mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengunyah snack yang ada di tangannya.

Delana menahan tawa. Nama ID Attala keren, tapi tubuhnya gembul seperti itu. Ia pikir, Dewa sakti itu setampan Oppa Korea atau setampan Chilton.

“Kenapa ketawa begitu?” tanya Chilton.

“Nggak papa. Ayo, kalo mau main!” ajak Delana.

“Kamu pakai handphone ini juga mainnya?” tanya Chilton.

“Eh!? Maksudnya?”

“Kamu pake hp yang dipake video call ini kah nge-gamenya?” tanya Chilton.

“Oh, enggak. Aku pakai tab untuk nge-game.”

“Sip lah kalo gitu. Vc-nya nggak usah dimatiin ya!” pinta Chilton.

“Loh? Kenapa?” tanya Delana.

“Nggak papa.”

“Ribet, Chil! Ntar suaranya jadi dua.”

“Hp yang pake video call di mute aja. Suaranya pke yang di game!” tutur Chilton.

Delana menghela napas. “Iya, deh!” Ia menurut saja apa yang diinginkan Chilton daripada mereka nantinya malah sibuk berdebat dan membuat mereka semakin rumit.

“Cantik, Chil!” bisik Attala di telinga Chilton, tapi Delana bisa mendengarnya.

“Bisik-bisik kok kedengaran!” celetuk Delana.

“Hehehe...” Attala nyengir.

Chilton bersiap mengambil ponsel game miliknya. “Jauh-jauh dari aku!” pinta Chilton pada Attala.

“Astaga...! Mentang-mentang ada ceweknya, kita yang diusir.” Attala langsung menyambar satu bungkus snack dan berjalan menjauh dari meja tempat Chilton duduk.

Delana juga ikut mempersiapkan tab dan earphone miliknya. Ia bersiap masuk ke dalam permainan.

“Chillo bisa nggak?” teriak Chilton pada Attala yang duduk membelakanginya beberapa meter dari meja Chilton.

“Bisa, Guys!” jawab Attala sembari mengangkat jempolnya.

“Oke. Masuk!” seru Chilton.

Mereka mulai masuk ke permainan.

“Kita turun di Vikendi aja!” seru Attala.

Yang lain langsung mengikuti intruksi dari Attala. Mereka turun di area Vikendi dan langsung berlari cepat mengumpulkan senjata dan peralatan lainnya.

Delana langsung mendapat senjata M24 dan langsung beraksi mencari lawan.

“Dewa, tolong aku! Aku ditembakin dari atas,” seru Chillo. Ia langsung mencari tempat yang aman untuk memulihkan tenaga tokoh game miliknya.

Attala langsung beraksi dan menembaki musuh dari kejauhan. “Tenang, aku akan selalu menjagamu.”

“Ow, co cwiiit!” seru Delana menggoda.

“Kamu mau aku jagain juga?” tanya Dewa alias Attala.

“Nggak deh. Aku sudah ada yang jagain. Ntar kalian tembak-tembakan pula,” balas Delana.

“Hahaha. Ya, nggak lah. Aku mana mungkin tega makan temen.”

“Knock, knock!” seru Chilton.

“Panglima keren!” seru Delana.

“Lady, kamu udah kill berapa?” tanya Chilton.

“Tujuh.”

“Sip!” sahut Chilton. “Ayo, masih tiga puluh lagi,” lanjutnya.

“Banyak musuhnya di sini, Kuy!”

“Lumayan seru jadinya.”

“Aargh ...! Aku knocked down, tolong revive dong!” teriak Chillo.

“Siap, sayang ... apa sih yang nggak buat kamu,” balas Dewa langsung melakukan reviving pada tokoh Chillo.

“Jangan sampe ketembak!” seru Delana langsung membunuh musuh yang menembaki Chillo dan membuatnya Knocked Down. “Mampus kau!”

“Thanks, Lady. Kamu sudah melindungi kami.”

Chilton tersenyum sembari menatap layar ponsel yang masih melakukan panggilan video pada Delana. Tapi, sepertinya Delana sudah asyik dan tidak sadar kalau ponselnya masih melakukan panggilan video. Ia tak pernah menoleh ke kamera sedikitpun dan asyik dengan game yang ada di tangannya.

“Aku knock lagi, help!” teriak Chillo.

Kali ini, Panglima Kumbang yang melakukan reviving pada Chillo.

“Yah, kalah cepet aku,” celetuk Dewa.

“Dewa, kamu tinggalnya di mana?” tanya Chillo sambil terus fokus pada game-nya.

“Di perumahan Mall Fantasi.”

“Oh ... kenal sama Lady Death?” tanya Chillo karena sepanjang bermain game, Lady Death dan Dewa Sakti terlihat sangat akrab dan sudah tahu satu sama lain.

“Satu kampus,” sahut Lady Death alias Delana.

“Oh, ya? Wah, seru dong? Bisa ketemu tiap hari dan ngumpul main bareng?”

Semua bungkam. Tak ada yang menanggapi pertanyaan dari Chillo.

Mereka fokus pada permainan sampai akhirnya memenangkan permainan tersebut dalam waktu dua puluh menit.

Chilton langsung berpamitan untuk berhenti bermain dengan alasan ingin istirahat. Ia meletakkan ponsel game-nya dan menatap ke layar ponsel satunya yang ia letakkan di atas meja. Ia bisa melihat Delana sedang meletakkan tabnya ke atas meja dan pergi dari hadapan kameranya. Kemudian kembali lagi, menarik selimut dan menutup tubuhnya. Ia bisa melihat Delana mulai memejamkan matanya. Delana memang tidak ingat sama sekali kalau panggilan video dengan Chilton masih aktif karena ia aktifkan mode mute.

Chilton tersenyum menatap wajah Delana yang sudah terlelap. Ia langsung mematikan panggilan videonya dan bangkit dari duduknya. “Aku balik dulu,” tutur Chilton sembari menepuk pundak Attala. Ia bergegas keluar dari kamar Attala dan pulang ke asrama kampusnya.

 

***

“Ton, cewek yang deket sama kamu itu cantik juga ya?” tutur Attala saat ia sudah berada di dalam kamar Chilton.

Chilton hanya tersenyum kecil.

“Anaknya juga asyik banget,” ucap Atalla. “Udah gitu, dia mainnya GG juga ternyata.”

Chilton  tertawa kecil. “Si cantik Chillo itu kayaknya suka sama kamu. Dia nanyain kamu terus. Nggak pernah nanyain aku.”

“Yah, nggak papa lah. Kan kamu sudah punya Delana si Lady Death itu. Chillo buat aku, dong!”

“Ambillah...! Nggak demen aku cewek begitu,” tutur Chilton bergidik. Ia memang tidak suka dengan foto ID Chillo yang terlihat terlalu vulgar.

“Halah, munafik!”

“Hahaha .... cewek begitu cocoknya buat ereksi doang.” Chilton tergelak.

“Anjir...! Otakmu ngeres banget!”

“Emangnya kamu nggak?”

“Awweee...”

“Ayolah, main lagi!” ajak Chilton.

“Dela udah dikasih tahu?” tanya Attala.

“Bentar. Aku telpon dulu.” Chilton meraih ponsel yang ia letakkan di atas meja. “Kamu telpon Chillo!” pinta Chilton.

“Hallo, Del. Kamu lagi apa?” tanya Chilton begitu panggilannya tersambung.

“Lagi mau jalan, nih.”

“Hah? Ke mana?” Chilton langsung mengangkat punggungnya dan bangkit dari sofa.

“Mau ke mall, belanja bulanan.”

“Sama siapa?” tanya Chilton.

“Sama ayah and adikku.”

“Oh, ya udah.”

“Kenapa? Mabar kah?”

“Iya. Tapi, kalo kamu sibuk ya nggak usah.”

“Iya. Maaf, ya! Ntar aku ikut gabung kalo udah balik ke rumah. Main sama yang lain aja dulu. Nggak enak aku sama bos lakiku.” Delana menjepit ponsel dengan telinga dan pundaknya. Tangannya sibuk mengecek isi tas untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal terutama dompetnya.

“Oke, lah. Salam ya buat bosmu!”

“Salam apa?”

“Salam apa aja lah.”

“Hmmm... iya. Udah dulu, ya! Aku mau berangkat.”

“Oke.” Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya.

“Kenapa? Kok, lemes? Dela nggak bisa?” tanya Attala.

“Nggak bisa, dia. Mau jalan sama bos lakinya.”

“Ke mana?”

“Belanja bulanan katanya. Biasa, cewek.”

“Ya udah, kita main sama yang lain aja.”

“Males!” Chilton melangkahkan kakinya, mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu dan bergegas keluat.

“Mau ke mana?” teriak Attala.

“Jalan. Cari makan. Mau ikut?” tanya Chilton.

“Nggak. Udah janji mau mabar sama Chillo. Aku nitip aja!”

“Nitip apa?”

“Sate ayam aja.”

Chilton tak bertanya lagi.  Ia segera keluar dari asrama dan melajukan mobilnya tanpa tujuan. Ia menikmati jalanan kota, sampai ia masuk ke wilayah Gunung Dub. Akhirnya, ia memilih pulang ke rumah.

Chilton membuka pintu rumah yang terkunci. Ia tahu kalau mamanya belum pulang ke rumah karena mobilnya tak ada di garasi. Ia langsung masuk ke dalam rumah. Menaiki anak tangga ke lantai dua dan membuka pintu balkon yang ada di belakang rumahnya. Matanya berbinar tertimp cahaya lampu kota. Ia baru menyadari kalau suasana malam hari di belakang rumahnya terlihat begitu indah. Cahaya lampu-lampu kota berkerlap-kerlip di bawahnya, ditambah pemandangan air laut yang juga berkerlipan ditimpa cahaya bulan. Beberapa kapal besar juga terlihat menghiasi perairan. Ada juga menara pengeboran minyak di laut lepas pantai yang dipenuhi dengan cahaya lampu.

Chilton menghela napas panjang. Ia teringat dengan kata-kata Delana yang ingin sekali bisa melihat indahnya kota Balikpapan dari Gunung Dubs. Yah, memang indah dan dia baru menyadarinya selama ini.

Chilton menikmati dinginnya angin malam yang menyapa lembut kulitnya. Seakan berbisik tentang sebuah cerita dan kerinduan. Seakan bersenandung menyajikan syair-syair cinta penuh bahagia.

Chilton menundukkan kepalanya. Ia kembali masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamarnya. Tiba-tiba ia ingin menginap di sini.

Drrrt ... Drrrt ... Drrt ...!

Chilton merogoh ponsel yang ada di sakunya. Ia membuka pesan dari Delana. “Aku sudah di rumah. Jadi mabar?”

Chilton tak segera membalas pesan dari Delana. Ia langsung menekan gambar video call.

“Kok, malah vc? Nggak jadi main?” tanya Delana.

“Bentar. Aku mau nunjukkin sesuatu ke kamu sebelum kita main.”

“Oh ya?” Delana memerhatikan Chilton yang terlihat di layar ponselnya. “Kamu di mana?”

“Aku di rumah Gunung Dubs.”

“Hmm ... jangan bilang kamu mau pamer suasana di belakang rumahmu itu!” dengus Delana.

Chilton tersenyum jahil. “Bagus banget, kamu nggak mau lihat?” Chilton berjalan keluar dari kamarnya menuju balkon. “Look at this!” Ia memutar tubuh dan kameranya. Memamerkan gemerlapnya lampu kota yang ada di bawahnya. “Keren kan?” pamernya.

Delana mengerutkan hidungnya. “Please, nggak usah bikin aku ngiri!”

“Kalo kamu ngiri, aku nganan.” Chilton menjulurkan lidahnya.

Delana kesal dibuatnya. Ia mengira kalau Chilton bermain game bersama Attala. Ternyata, ia malah keluyuran bahkan sampai pulang ke rumahnya. “Udah, deh. Mending kita mabar aja daripada kamu cuma bikin aku badmood!”

“Bentar, aku tanya Attala dulu. Dia main sama Chillo tadi.”

“Terus? Mereka kamu tinggal pergi?” tanya Delana.

“Iya. Masih males main tadi. Soalnya laper.”

“Oh ... jadi pulang ke rumah selajur cari makan?” tanya Delana.

“Iya.” Chilton terdiam sesaat karena teringat sesuatu. “Astaga!” Chilton menepuk jidatnya.

“Kenapa?”

“Tadi, Attala nitip belikan sate. Aku lupa ... asli!” seru Chilton. “Aku vc dia dulu.” Chilton langsung melakukan panggilan video tanpa menutup panggilannya dengan Delana.

“Nggak diangkat. Masih nge-game kali,” tutur Delana.

“Iya, kayaknya.” Chilton terus memanggil.

“Hei ... kamu di mana? Cari makan lama bener?” teriak Attala begitu tersambung. “Loh? Kamu di mana? Malah vc-an kalian ya?” dengus Attala.

“Aku di rumah Gunung Dubs. Lupa beliin kamu sate,” tutur Chilton. “Kayaknya aku mau nginep di rumah sini.”

“Eh, gile lu.” Attala berlagak bicara seperti orang Jakarta. “Aku di kamarmu nih.”

“Tidur aja di situ. Atau kunciin aja kamarku kalo kamu pulang. Besok pagi ambil kuncinya sama kamu.”

“Oke lah. Makananku gimana? Aku laper.”

“Delivery aja!”

“Ngomong kek dari tadi.”

Delana terkekeh mendengar perdebatan dua laki-laki itu.

“Masih main kah?” tanya Delana pada Attala.

“Masih. Kalian mau masuk?” tanya Attala.

“Iya.”

“Oke. Aku invite.”

“Oke.” Chilton mematikan panggilan videonya. Mereka melanjutkan obrolan lewat game.

“Georgepol aja ya!” pinta Chilton.

Mereka mengikuti instruksi dari Chilton dan turun di Georgepol.  Permainan berlangsung seru dan ramai. Kali ini Delana terlihat gemas dan penuh semangat membantai 20 musuh.

“Anjir! Aku Knocked Down!” teriak Chilton. “Aargh...!” Ia berteriak kesal karena akhirnya heronya mati. “Lady ...! Kenapa jauh-jauh dari aku?”

“Nggak malu dijagain cewek mulu?” celetuk Delana sambil tertawa.

“Awas kamu ya! Kalo ketemu beneran kugigit sampe habis!” maki Chilton bercanda.

“Mau aku kill duluan?” Delana tergelak. Ia tertawa bangga karena akhirnya ia bisa lebih tangguh daru Panglima Kumbang yang menjadi salah satu Pro Player dan juga ketua organisasi game di kotanya.

“Cari masalah ...,”

“Udah, jangan berantem!” seru Chillo. “Kamu diem aja nggak usah bikin buyar kita biar menang. Tinggal dua belas lagi musuhnya “

Chilton berdehem. Ia tak lagi banyak bicara dan membiarkan ketiga temannya menyelesaikan permainan.

“Hahaha. Panglima kita K.O!” teriak Attala.

“Dewa, kamu jangan ngolok gitu, mati juga baru tahu rasa!” sahut Chillo.

“Nggak, lah. Aku mah nggak noob.”

“Maksudnya? Kamu ngatain aku noob?” tanya Chilton.

“Enggak juga sih. Tapi bisa aja posisimu diganti sama Lady. Lihat aja dia makin keren mainnya.”

Chilton menggigit bibir dan memukul ranjangnya kesal. Ia tak mengerti kenapa hari ini dia bisa mati lebih dulu dari teman-temannya. Bahkan, ia baru membunuh tiga musuh. “Betenya aku eh.”

“Bete kenapa?”

“Bete nunggu gini. Lakasi lah!” seru Chilton.

“Sabar, tinggal tiga lagi musuhnya. Di mana mereka?” sahut Delana sembari fokus mencari posisi musuh.

“Di ujung sana ada,” teriak Chillo.

“Oke.” Delana dengan cepat mencari posisi musuh dan langsung menembakinya.

Winner Winner Chicken Dinner.

“Huu ... mantap!” teriak Delana dan yang lainnya juga.

“Udahan ya,” tutur Chilton.

“Kok cuma main sekali doang?” tanya Chillo.

“Bete aku. Ngantuk juga, mau tidur.”

“Tumben banget. Ini baru jam sebelas.”

“Namanya ngantuk itu nggak ditentuin sama jam,” sahut Chilton. “Lady, kamu masih mau main?” tanya Chilton.

“Eh!?”

“Ah ... eh ... ah ... eh ...!? Masih mau main gak?” Chilton meninggikan nada suaranya.

“Kamu kenapa sih marah-marah gitu sama Lady?” tanya Chillo heran.

“Sewot dia gara-gara mati,” sahut Attala sambil cekikikan.

“Bodo amat!” Chilton langsung log out dari permainan dan mengirim pesan pada Delana. “Nggak usah lanjutin game-nya!”

Delana menghela napas setelah membaca pesan dari Chilton. “Ini orang kenapa sih? Tiba-tiba jadi sensitif banget?” gumamnya.

Belum sampai ia meletakkan kembali ponselnya, Chilton sudah meneleponnya.

“Kenapa?” tanya Delana lembut.

“Kamu masih main?” tanya Chilton.

“Enggak.”

“Terus, lagi ngapain sekarang?”

“Siap-siap mau tidur.”

“Beneran nggak main lagi?”

“Enggak,” jawab Delana lirih. “Kamu kenapa sih tiba-tiba jadi marah-marah kayak gitu?” tanya Delana.

“Bete aku kalo kalah!” gerutu Chilton.

“Yang kalah kan kamu. Kenapa marah-marahnya sama aku?” tanya Delana mulai kesal.

“Kamu kejauhan jaraknya sama aku. Harusnya cepet revive aku tadi!”

“Tapi, aku kan udah kill dia juga jadinya.”

“Tetep aja aku mati duluan!”

“Ya udah, sih. Nggak usah marah-marah kayak gitu terus. Ini kan cuma game aja. Jangan snewen gitu, ntar cepet kena serangan jantung lho,” tutur Delana.

“Seneng kamu kalo aku kena serangan jantung!?”

Delana memutar bola matanya. “Salah lagi,” gumamnya. “Kamu jangan marah-marah terus kayak gitu, nanti cepet tua.”

“Ah, ya udah lah. Aku mau tidur.” Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya. Ia kesal dengan sikap Delana yang sama sekali tidak berpihak padanya.

Delana menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala. Ia melanjutkan kembali permainannya. Ia lebih memilih bermain solo karena ia hanya bermain sendirian saja. Kalau ia meminta bergabung kembali dengan Attala dan Chillo, itu artinya ia mencari masalah baru. Bisa saja Attala mengadu pada Chilton kalau semalaman Delana ikut bermain game bersamanya.

 

***

Akhir-akhir ini Delana semakin asyik bermain game. Membuatnya jadi semakin malas belajar dan tidak mengerjakan tugas kuliahnya. Ia sama sekali tidak bersemangat membuka buku. Dia lebih semangat membuka game yang ada di ponselnya ketimbang buku yang sangat membosankan itu.

“Bel, aku minta tolong, dong!” rengek Delana saat bertemu dengan Belvi.

“Minta tolong apa?” tanya Belvi.

“Kerjain tugas aku! Please ...!” Delana menangkupkan kedua telapak tangannya.

“Kamu ngapain aja?” tanya Belvi.

“Aku sibuk banget banyak kerjaan,” jawab Delana berbohong. “Ntar aku kasih uang pulsa, deh.”

“Hmm ...” Belvi memutar bola matanya. “Nggak biasanya kamu nyuruh orang lain ngerjain tugas kuliah. Ada apa, Del?” tanya Belvi penasaran.

“Hehehe ... aku kebanyakan nge-game bareng Chilton. Tugas aku sampe numpuk kayak gini,” jawabnya sambil cengengesan.

“Ckckck ... aku tuh ngegame juga kali, Del. Tapi, nggak sampe segininya. Sampe lupa sama tugas kuliah.”

Delana hanya meringis menanggapi ucapan Belvi. “Bantuin ya! Please ...!”

Belvi menghela napasnya. “Oke, aku bantu. Dengan syarat, kamu harus nemenin aku ngerjain tugas ini dan nggak boleh main hp!”

“Siap, bos!”

Walau ia bilang siap, tapi Delana tak memenuhi janjinya. Belvi membantunya mengerjakan tugas kuliah sedangkan ia asyik bermain game online bersama Chilton. Belvi hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya aitu.

 

 

 

 

THEN LOVE BAB 8 : BANYAK SAINGAN

 

BAB 8 – BANYAK SAINGAN

 


“Kita mau ke mana?” tanya Delana begitu ia sudah di perjalanan bersama Chilton.

“Nonton aja. Bete banget aku main game. Si Chillo bikin rusuh!” celetuk Chilton sembari menyalakan mesin mobilnya.

“Kok bisa sih dia dapet foto kamu?” tanya Delana. Ia merogoh bedak dari dalam tasnya. Menepuk-nepuk pipinya dengan spon bedak agar wajahnya tidak terlihat begitu mengkilap.

“Ck, gara-gara si Attala vc sama dia. Aku pikir mereka ngobrol lewat telepon kayak biasanya. Sekalinya vc. Aku kan duduk di belakang Attala tuh, di screenshoot sama dia. Parah tuh cewek.”

“Nggak nyangka aja dia ngeshare foto kamu dan semuanya jadi seheboh itu,” tutur Delana sambil memoleskan lipstik tipis ke bibirnya. Ia melihat wajahnya di cermin sembari memonyong-monyongkan bibirnya.

“Kenapa sih cewek demen banget dandan?” tanya Chilton sambil melirik Delana.

“Karena cowok demennya sama cewek yang cantik.” Delana tersenyum.

“Oh, jadi cewek dandan itu buat narik perhatian cowok?”

“Hmm ...” Delana memutar bola matanya. “Sepertinya begitu ...”

“Nggak semua cowok tertarik sama cewek yang suka dandan.”

“So?”

Chilton tak menjawab. Ia fokus menatap jalanan yang ada di depannya.

“Kamu sendiri suka cewek yang dandan atau enggak?” tanya Delana.

“Aku suka cewek yang dandan ...”

“Nah, itu!”

“Aku belum selesai ngomong!”

“Oh ... lanjutin!”

“Aku suka cewek yang dandan tapi nggak berlebihan juga kayak badut. Buatku, cewek yang bisa merawat dirinya sendiri dengan baik adalah cewek yang punya kepedulian dan kasih sayang lebih.”

“Terus? Kalo cewek yang nggak dandan artinya nggak punya rasa peduli?”

“Ya, nggak gitu juga. Tapi, biasanya cewek yang suka merawat diri itu tipe cewek yang suka memperhatikan hal-hal kecil.”

Delana mengangguk-anggukkan kepalanya. “Contohnya ... kamu yang belum bersihin tahi matamu.” Delana menyondongkan badannya menatap Chilton.

“Hah!? Mana bisa!” Chilton langsung membersihkan ujung mata dengan jemarinya. Ia tak mendapatkan kotoran mata dari ujung matanya.

“Hehehe ... bercanda,” tutur Delansa sambil cengengesan.

“Waluhnya pang!” Chilton mengacak ujung kepala Delana.

“Eits ... jangan diacak-acak rambutku!” pinta Delana sambil merapikan rambutnya. “Ini perawatannya mehong, boo. Kalah-kalah perawatannya Teteh Syahrini,” ucap Delana dengan gaya berlebihan.

Chilton bergidik melihat tingkah Delana. “Geli aku lihat kamu kayak gitu.”

“Geli kenapa?”

“Kayak banci.”

“Lah? Aku kan cewek tulen, bukan banci. Wajar kalee aku ngomong gitu.”

“Nggak usah dilebay-lebaykan gitu ngomongnya. Biasa aja!” ucap Chilton.

“Hehehe. Siap bos!” Delana mengangkat tangannya memberi hormat pada Chilton. “Eh, ngomong-ngomong ... kamu nggak papa pergi ke mall?” tanya Delana.

“Nggak papa. Kenapa emangnya?” tanya Chilton.

“Takut aja diserbu sama cewek-cewek di sana.”

“Ya ... kan ada kamu.”

“Apa hubungannya?”

“Nanti aku bisa gandeng kamu. Terus ... kamu pasang aja muka jutek setiap kali ada cewek yang mau deketin aku!”

“Idih ... ogah banget!”

“Kenapa?”

“Lah? Aku cuma dimanfaatin doang.”

“Yaelah ... nolongin temen sekali-sekali.”

“Iya!” Delana melotot ke arah Chilton. “Nanti aku biarin aja tuh cewek-cewek nyerbu kamu!”

“Jangan, lah!”

“Bukannya kamu udah biasa digila-gilai banyak cewek kayak gitu?” tanya Delana.

“Risih aku sama cewek terlalu agresif. Masih mending kalo cuma say hello doang. Kadang ada yang narik-narik baju, nyubitin. Mereka nggak tahu kalo aku tersiksa banget digituin.” tutur Chilton.

Delana mengernyitkan dahinya. “Gimana dengan aku?” tanyanya kemudian.

“Kamu? Kenapa?”

“Apa bedanya aku sama mereka? Aku juga ...”

“Beda, lah. Kamu emang agresif tapi nggak anarkis.”

“Bahasamu ... ngeri!”

Chilton tertawa kecil.

Delana terdiam. Ia dan cewek-cewek itu sama. Sama-sama mengejar cinta Chilton. Apa Chilton juga risih dengannya?

Delana mengelus lengan kanannya dan membuang pandangannya ke luar jendela. Ia tak bicara sedikitpun. Hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Cewek secantik Chillo saja tidak membuatnya tertarik. Bagaimana dengannya yang hanya memiliki kecantikan standar?

“Del ...!” panggil Chilton lirih.

“Ya.” Delana menoleh ke arah Chilton.

“Kamu kenapa?” tanya Chilton tanpa menoleh ke arah Delana, ia tetap fokus menyetir.

“Eh!? Nggak papa.”

“Aku bisa ngerasa kalo ada yang berubah dari kamu.”

Delana tersenyum lebar. “Oh ya? Masa sih?”

“Iya. Orang yang selalu ceria dan ekspresif kayak kamu itu bakal kelihatan banget saat kamu ngerasa nggak nyaman sama sesuatu.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Dari pengamatan aku.”

“Sok, tahu. Aku nggak papa.” Delana tersenyum menatap Chilton.

“Maaf, kalau kata-kataku ada yang bikin kamu tersinggung.”

Delana tersenyum kecut. “Nggak ada ... aku cuma ngerasa semakin nggak pantes aja ada di sisi kamu saat ini,” batin Delana.

Chilton membelokkan mobilnya masuk ke parkiran pusat perbelanjaan.

“Hei, jangan cemberut terus!” Chilton menggoyang-goyangkan rahang Delana.

“Apaan sih?” Delana melepaskan tangan Chilton dari wajahnya.

“Ya, udah. Turun, yuk!” Chilton melepas safety belt dan membuka pintu mobil.

“Chil ...!” Delana menahan lengan Chilton.

Chilton menoleh ke belakang, ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Delana. “Kenapa?”

“Apa kamu sering kayak gini?”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Maksudnya?”

“Ngajak cewek nonton film,” tutur Delana lirih.

Chilton tertawa kecil. Ia menatap Delana serius. “Ini yang pertama.” Ia menatap mata Delana sesaat dan kembali menarik dirinya untuk keluar dari mobil.

“Oh, ya. Satu lagi.” Chilton menoleh ke arah Delana. “Kamu satu-satunya cewek yang masuk mobil aku selain Mama,” ucap Chilton. Kemudian ia langsung keluar dari mobil.

Delana menghela napas. Ia tersenyum bahagia dan keluar dari mobil dengan perasaan berbunga-bunga.

Chilton menggenggam tangan Delana, mereka menaiki eskalator menuju bioskop yang ada di lantai dua. Mereka menyadari kalau ada banyak pasang mata yang memerhatikan mereka semenjak mereka memasuki pintu mall.

“Mau nonton film apa?” tanya Chilton begitu mereka sudah sampai di bioskop di salah satu pusat perbelanjaan.

Delana melihat jadwal film yang akan diputar hari ini. Ada beberapa film mancanegara dan film lokal. Ia bingung harus menonton film apa bersama cowok yang ia sukai untuk pertama kalinya.

“Aku mau nonton Princess Jasmine ya?” pinta Delana.

“Yang mana Princess Jasmine?” tanya Chilton mengamati judul film yang ada di schedule pemutaran hari ini.

“Aladdin ...” Delana menatap Chilton dengan mata berbinar.

“Oh ... yang ini?” tanya Chilton menunjuk judul film Aladdin.

Delana menganggukkan kepala.

“Ini kan film anak-anak,” tutur Chilton.

“Iih ... bukan!”

“Dongeng kayak Cinderella gitu kan?” tanya Chilton.

“Iya. Tapi, itu bukan dongeng untuk anak-anak. Dongeng untuk orang dewasa.”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Ada dongeng untuk orang dewasa?”

“Ada.”

“Itu kan kartun, Del. Males ah kalo nonton kokos gitu.”

“Bukan. Ini live action-nya. Bukan kartun.”

“Beneran?” tanya Chilton kurang yakin.

“Astaga ... nggak percayaan bener sih?”

“Awas aja kalo kartun!”

“Tanya sama mbaknya kalo nggak percaya!” tutur Delana sambil menunjuk karyawan yang melayani penjualan tiket.

“Ini kartun apa bukan, Mbak?” tanya Chilton.

“Bukan, Mas. Ini live actionnya. Masnya bisa lihat poster yang ada di sana!” pegawai itu tersenyum sembari menunjuk poster film yang ada di dalam neon box.

“Tuh, kan? Dibilangin nggak percaya!” Delana menjulurkan lidahnya.

“Iya. Aku percaya.”

Chilton langsung memesan tiket dan memilih kursi di paling belakang. Ia juga membeli satu kantong popcorn ukuran besar dan dua botol minuman dingin untuknya dan Delana.

“Aku baru tahu ada dongeng untuk dewasa. Bukannya cerita-cerita kayak gitu untuk anak-anak ya?” tanya Chilton begitu mereka masuk ke ruang tunggu. Jadwal pemutaran film masih setengah jam lagi dan mereka menunggu di depan pintu teater.

“Ck ... logikanya ... mana ada dongeng anak-anak tentang gimana seorang puteri jatuh cinta atau pangeran sedang jatuh cinta. Soal gimana caranya mendapatkan cinta sejatinya sampai mereka Happily ever after. Dongeng buat anak-anak itu Si Kancil.”

“Tapi, selama ini cerita tentang Prince dan Princess itu masuk ke dongeng anak-anak.” Chilton terlihat berpikir. Kenapa bisa masuk ke dalam dongeng anak padahal isinya memang cerita tentang percintaan orang dewasa.

“Iya ... anak-anak suka menghayal menjadi puteri yang cantik dan pangeran tampan. Itu memang masuk cerita anak, tapi berkonten dewasa.”

“Jadi, salah siapa dong?” tanya Chilton.

Delana mengedikkan bahunya. “Nggak ada yang salah. Lihat aja, tuh! Anak-anak juga ada yang nonton.” Delana  menunjuk anak kecil berumur sekitar sepuluh tahun yang datang bersama ibunya mengenakan baju ala Princess Jasmine.

“Ada adegan dewasa nggak sih?” tanya Chilton.

“Ada, lah. Mana ada sih film dewasa yang nggak ada adegan dewasanya. Tapi, paling cuma sebatas ciuman doang,” jawab Delana.

Chilton langsung menoleh ke arah Delana yang duduk di sampingnya. “Ciuman?” Chilton menunjuk bibirnya sendiri. Ia sudah sering menonton film dan adegan seperti itu menjadi hal yang biasa.

Delana menganggukkan kepala.

Chilton tertawa kecil. “Kalo abis nonton trus pengen ciuman juga gimana?”

Delana mengangkat kedua alisnya. “Kamu kok mikirnya sampe ke situ?”

“Ya ... bisa jadi, kan? Orang kita yang udah dewasa aja rasanya deg-degan lihat adegan ciuman gitu. Pengen juga.”

“Dasar mesum!” celetuk Delana.

“Halah ... paling kamu juga pengen kan kalo lihat begituan?” goda Chilton.

“Enggak, ih!”

“Bohong! Orang normal pasti pengen.”

Delana terdiam. Ia tak bisa mengiyakan juga tak bisa mengelak ucapan Chilton. Bisa jalan bareng cowok yang dia suka saja sudah membuatnya bahagia. Apalagi dicium sama cowok yang dia cintai.

“Nggak usah dibayangin!” celetuk Chilton. “Aku mau ke toilet dulu.” Chilton menyodorkan popcorn dan botol minuman ke arah Delana.

Delana mencebik ke arah Chilton. Sementara Chilton tertawa kecil sembari melangkahkan kakinya menuju toilet.

Delana duduk di kursi depan pintu teater 3 sembari menikmati popcorn, ia melihat jam di ponselnya. Pemutaran film masih dua puluh menit lagi.

Delana melihat ke sekelilingnya, beberapa pengunjung mulai berdatangan menunggu pemutaran film selanjutnya.

Delana memerhatikan beberapa cewek yang terlihat sibuk berfoto-foto ria. Ada juga sepasang kekasih yang terlihat duduk berdua sambil berbincang-bincang mesra.

Beberapa menit kemudian, Chilton muncul dan langsung duduk di sebelah Delana.

Beberapa cewek terlihat melongo karena terpesona melihat Chilton, ada juga yang berteriak histeris.

“Aargh ... ganteng banget! Foto bareng, dong!” pinta salah satu cewek tanpa malu-malu menghampiri Chilton. Hal ini membuat cewek-cewek yang lain juga ikut berebut berfoto bersama Chilton.

Delana melongo melihat Chilton yang sudah ditarik oleh cewek-cewek yang mengajaknya berfoto bersama. “Mereka nggak lihat aku apa ya?” batin Delana kesal karena kehadirannya tidak dianggap sama sekali. Ia sama sekali tidak merespon, ia tetap duduk di tempatnya.

“Ck, kabur dari netizen di game online malah ketemu netizen di dunia nyata. Ini mah lebih garang,” gumam Delana.

Bukannya habis, cewek yang mengerubungi Chilton justru semakin bertambah dan mulai menimbulkan keributan.

“Mas, aku juga dong!” pinta pengunjung lainnya yang baru datang.

“Aku juga minta foto ya Mas, bareng anakku ya. Kamu ganteng banget!” Ibu-ibu juga tak mau kalah, mereka ikut berebut untuk berfoto bersama Chilton.

“Mas, cubit pipinya dong! Biar ketularan gantengnya.” Salah satu ibu yang sedang hamil tak sungkan menyubit pipi Chilton. Chilton hanya meringis menanggapi perlakuan ibu-ibu padanya.

Chilton mulai tidak nyaman dengan bertambahnya orang yang memintanya untuk berfoto bersama.

“Del, tolongin aku dong!” pinta Chilton.

Delana hanya tersenyum menanggapi permintaan Chilton, ia sama sekali tidak berkeinginan untuk ikut menciptakan keributan. Ia malah asyik memakan popcorn sembari menatap Chilton yang sedang dikerubungi para cewek dan ibu-ibu.

Chilton menatap kesal ke arah Delana karena ia terlanjut dikerubungi dan tidak bisa melepaskan diri begitu saja dari kerumunan orang banyak. Sementara tangan Chilton masih ditarik ke sana ke mari untuk sekedar berfoto bersama.

Delana sendiri tak mau bergabung ke dalam kerumunan dan membuatnya terlihat konyol.

“Del, help!” Chilton mulai kesal dengan cewek-cewek yang mengerubungi dirinya.

Menyadari ada keributan yang semakin tak terkendali, petugas keamanan langsung menghampiri dan meminta para cewek untuk tidak mengerubungi Chilton.

“Mbak-mbak, mohon perhatiannya untuk bisa tertib. Kasihan masnya, dia cuma satu orang dikerubungi segini banyak. Tolong bisa menjauh dan jaga jarak!” pinta petugas keamanan tersebut.

Chilton tersenyum lega karena akhirnya petugas keamanan bisa menyelamatkannya. Ia menepiskan tangan cewek yang masih menggenggam lengannya. Kemudian ia merapikan bajunya yang sudah tak karuan karena ditarik-tarik oleh beberapa cewek yang memintanya untuk berswafoto.

“Masnya bisa ikut kami?” sapa karyawan cewek yang tiba-tiba menghampiri Chilton.

“Hah!? Buat apa, Mba?” tanya Chilton.

“Demi keamanan dan kenyamanan. Masnya bisa menunggu di dekat petugas.”

Delana mengerutkan hidungnya saat Chilton berjalan ke meja petugas bersama karyawan petugas bioskop. Ia lebih kesal lagi ketika cewek itu juga mengajaknya foto bareng.

Chilton menahan kekesalan karena karyawan bioskop justru ikut-ikut menahannya. Ia memang aman dari serangan cewek-cewek yang mengerubunginya. Tapi, ia mulai gusar melihat Delana yang duduk sendirian di kursi tunggu.

Delana mencoba untuk tenang, ia tak ingin mencari keributan. Kalau memang Chilton menganggapnya ada, ia akan kembali ke sisinya. Jika cowok itu memilih bersama yang lain, ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia sadar kalau ia bukan siapa-siapa di mata Chilton.

“Hai ...!” Tiba-tiba seorang cowok menghampiri Delana dan menyapa dengan ramah.

Delana terkejut melihat cowok asing yang sudah duduk di sampingnya. Ia melirik ke arah Chilton yang masih berdiri di dekat meja petugas.

“Boleh kenalan?” tanya cowok itu.

Delana hanya menanggapinya dengan senyuman. Sementara Chilton langsung mengepalkan tangannya begitu melihat cowok yang mendekati Delana. Ia tak tahan melihat Delana digoda cowok lain. Terlebih, datang dua cowok lagi yang juga mendekati Delana.

Chilton langsung melompat melewati pembatas.

“Loh? Mas?” petugas jaga mencoba mencegah Chilton keluar.

“Maaf, Mbak. Saya nggak ngelakuin kriminal. Jadi, nggak usah tahan saya kayak gitu lagi!” sentak Chilton. Ia berlari menghampiri Delana yang tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya sejak mereka tiba.

“Kalian ngapain?” tanya Chilton pada tiga cowok yang sedang mengajak Delana berkenalan.

“Oh ... sudah punya pacar, guys!” celetuk cowok yang berdiri di depan Delana.

Cowok yang duduk di samping Delana tergelak. “Kirain jomblo. Dari tadi duduk sendirian mulu.”

“Iya, lah. Cowoknya sibuk ngeladenin cewek lain,” sahut cowok satunya lagi. Mereka tergelak bersama menertawakan Chilton.

“Kalian ngajak berantem?” tanya Chilton sinis.

“Owh ... santai, Kuy.” Cowok yang duduk di samping Delana langsung bangkit dan menepuk-nepuk pundak Chilton. “Kalo udah punya cewek dijagain yang bener! Jangan sibuk sama cewek-cewek lain! Sayang banget kan, kalo ada cewek cantik dianggurin.” Ia tersenyum sinis dan mengajak dua temannya pergi meninggalkan Chilton dan Delana.

Chilton menatap tajam ke arah tiga cowok yang berjalan menjauh darinya. Ia merapatkan gigi-giginya, mengepalkan tangan menahan emosi.

“Udah, jangan emosi! Duduk sini!” pinta Delana lembut sembari menarik lengan Chilton agar duduk di sampingnya.

“Kamu kenapa sih diam aja digodain sama cowok-cowok kayak gitu!?” Chilton terlihat sangat kesal dengan sikap Delana yang terlihat santai.

“Kenapa? Kamu cemburu?” tanya Delana santai sembari memakan popcorn yang ada di tangannya.

“Eh ... ah ... nggak, lah. Buat apa aku cemburu sama cowok model kayak gitu,” jawab Chilton gugup.

Chilton kembali duduk di samping Delana. Mereka terdiam selama beberapa saat dalam pikiran mereka masing-masing.

 “Mas, minta foto bareng, dong!” satu cewek kembali mengundang perhatian yang lain begitu petugas keamanan pergi dari hadapan mereka. Cewek itu langsung duduk di samping Chilton dan mengarahkan kamera depannya untuk berfoto selfie bersama Chilton.

“Aku juga, dong!” seru lainnya. “Mbak, permisi dulu ya!” pintanya. Membuat Delana akhirnya harus bangkit dan bersandar di dinding sembari menunggu para cewek itu berfoto ria.

Delana mulai kesal dengan sikap cewek-cewek yang membuatnya tersingkir dari sisi Chilton. Ia melihat jam dan waktu pemutaran film masih sepuluh menit lagi. Sepuluh menit itu waktu yang cukup panjang, bisa ia gunakan untuk mengobrol dengan Chilton. Namun, waktunya bersama cowok itu justru terenggut oleh cewek-cewek centil yang terus menerus mengajak Chilton berfoto bersama. Ia berharap, semua ponsel mereka saat ini terbakar agar tak ada lagi yang merengek meminta foto bersama Chilton.

Beberapa menit kemudian, suara announcer terdengar agar mereka segera memasuki ruang teater 3.

“Udah, ya, foto-fotonya. Kami mau nonton film,” tutur Chilton.

Terdengar suara kecewa dari beberapa cewek yang belum sempat berfoto bersamanya.

Chilton menarik lengan Delana dan melangkahkan kakinya masuk ke teater 3.

“Asyik ya dideketin banyak cewek-cewek cantik?” goda Delana.

“Cemburu?” tanya Chilton.

“Mmmh ... mau bilang cemburu tapi bukan siapa-siapa,” jawab Delana sambil tertawa kecil.

Chilton tertawa kecil, ia menjepit hidung Delana dengan dua jarinya.

“Sakit, tahu!” seru Delana sembari menepiskan tangan Chilton. Mereka berjalan menaiki anak tangga menuju kursi di paling belakang.

Belum cukup membuat kehebohan di ruang tunggu. Di dalam pun cewek-cewek berebut agar ia bisa duduk di sebelah Chilton.

“Kak, aku duduk di sebelah kakak, dong!” seru cewek remaja yang tiba-tiba langsung menghampiri Chilton.

“Nggak bisa. Kakak sudah duduk sama dia,” sahut Chilton sambil tersenyum.

“Yah, nggak papa deh. Kita kan bisa tukeran tempat duduknya.”

“Eh, nggak bisa gitu dong! Kalian kan sudah dapet nomor kursi sesuai tiket masing-masing!” protes Delana yang tidak terima karena seharusnya dia yang duduk di sebelah Chilton.

“Heh!? Kamu siapa ngatur-ngatur kita?” sahut cewek lain yang ngotot duduk di sebelah Chilton.

“Eh, kamu kampungan banget sih! Nggak pernah nonton di bioskop, ya?” dengus Delana kesal.

“Apa kamu bilang?” Cewek itu langsung mendorong pundak Delana dengan kasar.

Chilton yang melihat pertikaian mulai memanas, langsung menarik lengan Delana dan merangkulnya. “Maaf ya, Mbak. Saya ke sini sama dia. Jadi, mohon pengertiannya untuk tidak mengganggu kami,” tutur Chilton dengan lembut dan sopan.

Cewek-cewek yang berebut ingin duduk di samping Chilton langsung bergegas pergi dan mencari kursi mereka masing-masing.

“Ayo, kita duduk!” bisik Chilton pada Delana.

Delana masih saja cemberut. Ia masih badmood dengan sikap cewek-cewek yang berbuat semaunya sendiri.

“Udah, jangan cemberut gitu!” pinta Chilton.

“Ngeselin banget!” celetuk Delana.

Chilton tersenyum. Mereka langsung duduk di kursi yang sudah sesuai dengan nomor tiket mereka.

“Kamu tumben banget ngeladenin mereka?” tanya Chilton berbisik.

“Ya ... aku ini kan normal, punya emosi. Wajar aja aku marah kalo mereka keterlaluan.” Delana berbicara dengan suara pelan karena tak ingin ucapannya di dengar oleh penonton yang lain.

Chilton tertawa kecil. Ia menatap wajah Delana yang masih terlihat menyimpan emosi di dalam dirinya.

“Kamu tuh kenapa sih selalu aja ngeladeni cewek-cewek kayak gitu? Nge-betein banget!”

“Del, kalo udah dikerubungin kayak gitu. Udah nggak bisa apa-apa lagi selain nurutin kemaunnya mereka. Kalo udah dituruti juga mereka pergi satu per satu.”

“Iya. Tapi kamu kan bisa nolak.”

“Kamu juga nggak bisa nolak waktu ada cowok lain duduk di samping kamu.”

“Itu beda. Aku nggak nolak tapi aku bisa nyuekin mereka.”

“Sama aja.”

“Beda!”

“Intinya, kamu cemburu?”

“Apa bedanya sama kamu?”

“Aku nggak cemburu.”

“Kenapa marah kalo ada cowok lain deketin aku?”

“Aku cuma kesel aja sama mereka.”

“Kamu bisa kesel itu karena cemburu. Aku juga kesel lihat kamu dikerubungin banyak cewek.”

“Ssst ...!” Chilton menempelkan jari telunjuk di bibirnya karena suara Delana semakin meninggi.

Delana menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menatap layar yang masih menampilkan cuplikan-cuplikan film yang sedang diputar minggu ini.

“Del, kamu pernah nonton di bioskop sebelum ini?” tanya chilton lirih.

“Pernah.”

“Oh ya? Bareng siapa?”

“Bareng ayah.”

“Sama cowok lain belum pernah?” tanya Chilton.

Delana menggelengkan kepalanya.

“Pacar kamu?”

“Aku nggak punya pacar.”

“Bukan sekarang. Waktu kamu masih SMA.”

“Aku nggak punya pacar waktu SMA.”

“Jadi, ini pertama kalinya kamu jalan nonton sama cowok?” tanya Chilton.

“Iya.”

Chilton menatap lekat wajah Delana.

“Kenapa lihatin aku kayak gitu?” tanya Delana.

“Nggak papa.” Chilton tersenyum tak berkedip. “Kamu kalo digelap-gelapan kelihatan lebih cantik,” bisiknya.

“Ngolok!” dengus Delana sembari menyubit pinggang Chilton.

Chilton terkekeh.

“Filmnya udah mulai,” bisik Delana.

Mereka akhirnya fokus menikmati film yang sedang diputar.

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas