Thursday, August 14, 2025

THEN LOVE BAB 8 : BANYAK SAINGAN

 

BAB 8 – BANYAK SAINGAN

 


“Kita mau ke mana?” tanya Delana begitu ia sudah di perjalanan bersama Chilton.

“Nonton aja. Bete banget aku main game. Si Chillo bikin rusuh!” celetuk Chilton sembari menyalakan mesin mobilnya.

“Kok bisa sih dia dapet foto kamu?” tanya Delana. Ia merogoh bedak dari dalam tasnya. Menepuk-nepuk pipinya dengan spon bedak agar wajahnya tidak terlihat begitu mengkilap.

“Ck, gara-gara si Attala vc sama dia. Aku pikir mereka ngobrol lewat telepon kayak biasanya. Sekalinya vc. Aku kan duduk di belakang Attala tuh, di screenshoot sama dia. Parah tuh cewek.”

“Nggak nyangka aja dia ngeshare foto kamu dan semuanya jadi seheboh itu,” tutur Delana sambil memoleskan lipstik tipis ke bibirnya. Ia melihat wajahnya di cermin sembari memonyong-monyongkan bibirnya.

“Kenapa sih cewek demen banget dandan?” tanya Chilton sambil melirik Delana.

“Karena cowok demennya sama cewek yang cantik.” Delana tersenyum.

“Oh, jadi cewek dandan itu buat narik perhatian cowok?”

“Hmm ...” Delana memutar bola matanya. “Sepertinya begitu ...”

“Nggak semua cowok tertarik sama cewek yang suka dandan.”

“So?”

Chilton tak menjawab. Ia fokus menatap jalanan yang ada di depannya.

“Kamu sendiri suka cewek yang dandan atau enggak?” tanya Delana.

“Aku suka cewek yang dandan ...”

“Nah, itu!”

“Aku belum selesai ngomong!”

“Oh ... lanjutin!”

“Aku suka cewek yang dandan tapi nggak berlebihan juga kayak badut. Buatku, cewek yang bisa merawat dirinya sendiri dengan baik adalah cewek yang punya kepedulian dan kasih sayang lebih.”

“Terus? Kalo cewek yang nggak dandan artinya nggak punya rasa peduli?”

“Ya, nggak gitu juga. Tapi, biasanya cewek yang suka merawat diri itu tipe cewek yang suka memperhatikan hal-hal kecil.”

Delana mengangguk-anggukkan kepalanya. “Contohnya ... kamu yang belum bersihin tahi matamu.” Delana menyondongkan badannya menatap Chilton.

“Hah!? Mana bisa!” Chilton langsung membersihkan ujung mata dengan jemarinya. Ia tak mendapatkan kotoran mata dari ujung matanya.

“Hehehe ... bercanda,” tutur Delansa sambil cengengesan.

“Waluhnya pang!” Chilton mengacak ujung kepala Delana.

“Eits ... jangan diacak-acak rambutku!” pinta Delana sambil merapikan rambutnya. “Ini perawatannya mehong, boo. Kalah-kalah perawatannya Teteh Syahrini,” ucap Delana dengan gaya berlebihan.

Chilton bergidik melihat tingkah Delana. “Geli aku lihat kamu kayak gitu.”

“Geli kenapa?”

“Kayak banci.”

“Lah? Aku kan cewek tulen, bukan banci. Wajar kalee aku ngomong gitu.”

“Nggak usah dilebay-lebaykan gitu ngomongnya. Biasa aja!” ucap Chilton.

“Hehehe. Siap bos!” Delana mengangkat tangannya memberi hormat pada Chilton. “Eh, ngomong-ngomong ... kamu nggak papa pergi ke mall?” tanya Delana.

“Nggak papa. Kenapa emangnya?” tanya Chilton.

“Takut aja diserbu sama cewek-cewek di sana.”

“Ya ... kan ada kamu.”

“Apa hubungannya?”

“Nanti aku bisa gandeng kamu. Terus ... kamu pasang aja muka jutek setiap kali ada cewek yang mau deketin aku!”

“Idih ... ogah banget!”

“Kenapa?”

“Lah? Aku cuma dimanfaatin doang.”

“Yaelah ... nolongin temen sekali-sekali.”

“Iya!” Delana melotot ke arah Chilton. “Nanti aku biarin aja tuh cewek-cewek nyerbu kamu!”

“Jangan, lah!”

“Bukannya kamu udah biasa digila-gilai banyak cewek kayak gitu?” tanya Delana.

“Risih aku sama cewek terlalu agresif. Masih mending kalo cuma say hello doang. Kadang ada yang narik-narik baju, nyubitin. Mereka nggak tahu kalo aku tersiksa banget digituin.” tutur Chilton.

Delana mengernyitkan dahinya. “Gimana dengan aku?” tanyanya kemudian.

“Kamu? Kenapa?”

“Apa bedanya aku sama mereka? Aku juga ...”

“Beda, lah. Kamu emang agresif tapi nggak anarkis.”

“Bahasamu ... ngeri!”

Chilton tertawa kecil.

Delana terdiam. Ia dan cewek-cewek itu sama. Sama-sama mengejar cinta Chilton. Apa Chilton juga risih dengannya?

Delana mengelus lengan kanannya dan membuang pandangannya ke luar jendela. Ia tak bicara sedikitpun. Hanya sibuk dengan pikirannya sendiri. Cewek secantik Chillo saja tidak membuatnya tertarik. Bagaimana dengannya yang hanya memiliki kecantikan standar?

“Del ...!” panggil Chilton lirih.

“Ya.” Delana menoleh ke arah Chilton.

“Kamu kenapa?” tanya Chilton tanpa menoleh ke arah Delana, ia tetap fokus menyetir.

“Eh!? Nggak papa.”

“Aku bisa ngerasa kalo ada yang berubah dari kamu.”

Delana tersenyum lebar. “Oh ya? Masa sih?”

“Iya. Orang yang selalu ceria dan ekspresif kayak kamu itu bakal kelihatan banget saat kamu ngerasa nggak nyaman sama sesuatu.”

“Kamu tahu dari mana?”

“Dari pengamatan aku.”

“Sok, tahu. Aku nggak papa.” Delana tersenyum menatap Chilton.

“Maaf, kalau kata-kataku ada yang bikin kamu tersinggung.”

Delana tersenyum kecut. “Nggak ada ... aku cuma ngerasa semakin nggak pantes aja ada di sisi kamu saat ini,” batin Delana.

Chilton membelokkan mobilnya masuk ke parkiran pusat perbelanjaan.

“Hei, jangan cemberut terus!” Chilton menggoyang-goyangkan rahang Delana.

“Apaan sih?” Delana melepaskan tangan Chilton dari wajahnya.

“Ya, udah. Turun, yuk!” Chilton melepas safety belt dan membuka pintu mobil.

“Chil ...!” Delana menahan lengan Chilton.

Chilton menoleh ke belakang, ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Delana. “Kenapa?”

“Apa kamu sering kayak gini?”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Maksudnya?”

“Ngajak cewek nonton film,” tutur Delana lirih.

Chilton tertawa kecil. Ia menatap Delana serius. “Ini yang pertama.” Ia menatap mata Delana sesaat dan kembali menarik dirinya untuk keluar dari mobil.

“Oh, ya. Satu lagi.” Chilton menoleh ke arah Delana. “Kamu satu-satunya cewek yang masuk mobil aku selain Mama,” ucap Chilton. Kemudian ia langsung keluar dari mobil.

Delana menghela napas. Ia tersenyum bahagia dan keluar dari mobil dengan perasaan berbunga-bunga.

Chilton menggenggam tangan Delana, mereka menaiki eskalator menuju bioskop yang ada di lantai dua. Mereka menyadari kalau ada banyak pasang mata yang memerhatikan mereka semenjak mereka memasuki pintu mall.

“Mau nonton film apa?” tanya Chilton begitu mereka sudah sampai di bioskop di salah satu pusat perbelanjaan.

Delana melihat jadwal film yang akan diputar hari ini. Ada beberapa film mancanegara dan film lokal. Ia bingung harus menonton film apa bersama cowok yang ia sukai untuk pertama kalinya.

“Aku mau nonton Princess Jasmine ya?” pinta Delana.

“Yang mana Princess Jasmine?” tanya Chilton mengamati judul film yang ada di schedule pemutaran hari ini.

“Aladdin ...” Delana menatap Chilton dengan mata berbinar.

“Oh ... yang ini?” tanya Chilton menunjuk judul film Aladdin.

Delana menganggukkan kepala.

“Ini kan film anak-anak,” tutur Chilton.

“Iih ... bukan!”

“Dongeng kayak Cinderella gitu kan?” tanya Chilton.

“Iya. Tapi, itu bukan dongeng untuk anak-anak. Dongeng untuk orang dewasa.”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Ada dongeng untuk orang dewasa?”

“Ada.”

“Itu kan kartun, Del. Males ah kalo nonton kokos gitu.”

“Bukan. Ini live action-nya. Bukan kartun.”

“Beneran?” tanya Chilton kurang yakin.

“Astaga ... nggak percayaan bener sih?”

“Awas aja kalo kartun!”

“Tanya sama mbaknya kalo nggak percaya!” tutur Delana sambil menunjuk karyawan yang melayani penjualan tiket.

“Ini kartun apa bukan, Mbak?” tanya Chilton.

“Bukan, Mas. Ini live actionnya. Masnya bisa lihat poster yang ada di sana!” pegawai itu tersenyum sembari menunjuk poster film yang ada di dalam neon box.

“Tuh, kan? Dibilangin nggak percaya!” Delana menjulurkan lidahnya.

“Iya. Aku percaya.”

Chilton langsung memesan tiket dan memilih kursi di paling belakang. Ia juga membeli satu kantong popcorn ukuran besar dan dua botol minuman dingin untuknya dan Delana.

“Aku baru tahu ada dongeng untuk dewasa. Bukannya cerita-cerita kayak gitu untuk anak-anak ya?” tanya Chilton begitu mereka masuk ke ruang tunggu. Jadwal pemutaran film masih setengah jam lagi dan mereka menunggu di depan pintu teater.

“Ck ... logikanya ... mana ada dongeng anak-anak tentang gimana seorang puteri jatuh cinta atau pangeran sedang jatuh cinta. Soal gimana caranya mendapatkan cinta sejatinya sampai mereka Happily ever after. Dongeng buat anak-anak itu Si Kancil.”

“Tapi, selama ini cerita tentang Prince dan Princess itu masuk ke dongeng anak-anak.” Chilton terlihat berpikir. Kenapa bisa masuk ke dalam dongeng anak padahal isinya memang cerita tentang percintaan orang dewasa.

“Iya ... anak-anak suka menghayal menjadi puteri yang cantik dan pangeran tampan. Itu memang masuk cerita anak, tapi berkonten dewasa.”

“Jadi, salah siapa dong?” tanya Chilton.

Delana mengedikkan bahunya. “Nggak ada yang salah. Lihat aja, tuh! Anak-anak juga ada yang nonton.” Delana  menunjuk anak kecil berumur sekitar sepuluh tahun yang datang bersama ibunya mengenakan baju ala Princess Jasmine.

“Ada adegan dewasa nggak sih?” tanya Chilton.

“Ada, lah. Mana ada sih film dewasa yang nggak ada adegan dewasanya. Tapi, paling cuma sebatas ciuman doang,” jawab Delana.

Chilton langsung menoleh ke arah Delana yang duduk di sampingnya. “Ciuman?” Chilton menunjuk bibirnya sendiri. Ia sudah sering menonton film dan adegan seperti itu menjadi hal yang biasa.

Delana menganggukkan kepala.

Chilton tertawa kecil. “Kalo abis nonton trus pengen ciuman juga gimana?”

Delana mengangkat kedua alisnya. “Kamu kok mikirnya sampe ke situ?”

“Ya ... bisa jadi, kan? Orang kita yang udah dewasa aja rasanya deg-degan lihat adegan ciuman gitu. Pengen juga.”

“Dasar mesum!” celetuk Delana.

“Halah ... paling kamu juga pengen kan kalo lihat begituan?” goda Chilton.

“Enggak, ih!”

“Bohong! Orang normal pasti pengen.”

Delana terdiam. Ia tak bisa mengiyakan juga tak bisa mengelak ucapan Chilton. Bisa jalan bareng cowok yang dia suka saja sudah membuatnya bahagia. Apalagi dicium sama cowok yang dia cintai.

“Nggak usah dibayangin!” celetuk Chilton. “Aku mau ke toilet dulu.” Chilton menyodorkan popcorn dan botol minuman ke arah Delana.

Delana mencebik ke arah Chilton. Sementara Chilton tertawa kecil sembari melangkahkan kakinya menuju toilet.

Delana duduk di kursi depan pintu teater 3 sembari menikmati popcorn, ia melihat jam di ponselnya. Pemutaran film masih dua puluh menit lagi.

Delana melihat ke sekelilingnya, beberapa pengunjung mulai berdatangan menunggu pemutaran film selanjutnya.

Delana memerhatikan beberapa cewek yang terlihat sibuk berfoto-foto ria. Ada juga sepasang kekasih yang terlihat duduk berdua sambil berbincang-bincang mesra.

Beberapa menit kemudian, Chilton muncul dan langsung duduk di sebelah Delana.

Beberapa cewek terlihat melongo karena terpesona melihat Chilton, ada juga yang berteriak histeris.

“Aargh ... ganteng banget! Foto bareng, dong!” pinta salah satu cewek tanpa malu-malu menghampiri Chilton. Hal ini membuat cewek-cewek yang lain juga ikut berebut berfoto bersama Chilton.

Delana melongo melihat Chilton yang sudah ditarik oleh cewek-cewek yang mengajaknya berfoto bersama. “Mereka nggak lihat aku apa ya?” batin Delana kesal karena kehadirannya tidak dianggap sama sekali. Ia sama sekali tidak merespon, ia tetap duduk di tempatnya.

“Ck, kabur dari netizen di game online malah ketemu netizen di dunia nyata. Ini mah lebih garang,” gumam Delana.

Bukannya habis, cewek yang mengerubungi Chilton justru semakin bertambah dan mulai menimbulkan keributan.

“Mas, aku juga dong!” pinta pengunjung lainnya yang baru datang.

“Aku juga minta foto ya Mas, bareng anakku ya. Kamu ganteng banget!” Ibu-ibu juga tak mau kalah, mereka ikut berebut untuk berfoto bersama Chilton.

“Mas, cubit pipinya dong! Biar ketularan gantengnya.” Salah satu ibu yang sedang hamil tak sungkan menyubit pipi Chilton. Chilton hanya meringis menanggapi perlakuan ibu-ibu padanya.

Chilton mulai tidak nyaman dengan bertambahnya orang yang memintanya untuk berfoto bersama.

“Del, tolongin aku dong!” pinta Chilton.

Delana hanya tersenyum menanggapi permintaan Chilton, ia sama sekali tidak berkeinginan untuk ikut menciptakan keributan. Ia malah asyik memakan popcorn sembari menatap Chilton yang sedang dikerubungi para cewek dan ibu-ibu.

Chilton menatap kesal ke arah Delana karena ia terlanjut dikerubungi dan tidak bisa melepaskan diri begitu saja dari kerumunan orang banyak. Sementara tangan Chilton masih ditarik ke sana ke mari untuk sekedar berfoto bersama.

Delana sendiri tak mau bergabung ke dalam kerumunan dan membuatnya terlihat konyol.

“Del, help!” Chilton mulai kesal dengan cewek-cewek yang mengerubungi dirinya.

Menyadari ada keributan yang semakin tak terkendali, petugas keamanan langsung menghampiri dan meminta para cewek untuk tidak mengerubungi Chilton.

“Mbak-mbak, mohon perhatiannya untuk bisa tertib. Kasihan masnya, dia cuma satu orang dikerubungi segini banyak. Tolong bisa menjauh dan jaga jarak!” pinta petugas keamanan tersebut.

Chilton tersenyum lega karena akhirnya petugas keamanan bisa menyelamatkannya. Ia menepiskan tangan cewek yang masih menggenggam lengannya. Kemudian ia merapikan bajunya yang sudah tak karuan karena ditarik-tarik oleh beberapa cewek yang memintanya untuk berswafoto.

“Masnya bisa ikut kami?” sapa karyawan cewek yang tiba-tiba menghampiri Chilton.

“Hah!? Buat apa, Mba?” tanya Chilton.

“Demi keamanan dan kenyamanan. Masnya bisa menunggu di dekat petugas.”

Delana mengerutkan hidungnya saat Chilton berjalan ke meja petugas bersama karyawan petugas bioskop. Ia lebih kesal lagi ketika cewek itu juga mengajaknya foto bareng.

Chilton menahan kekesalan karena karyawan bioskop justru ikut-ikut menahannya. Ia memang aman dari serangan cewek-cewek yang mengerubunginya. Tapi, ia mulai gusar melihat Delana yang duduk sendirian di kursi tunggu.

Delana mencoba untuk tenang, ia tak ingin mencari keributan. Kalau memang Chilton menganggapnya ada, ia akan kembali ke sisinya. Jika cowok itu memilih bersama yang lain, ia tak bisa berbuat apa-apa karena ia sadar kalau ia bukan siapa-siapa di mata Chilton.

“Hai ...!” Tiba-tiba seorang cowok menghampiri Delana dan menyapa dengan ramah.

Delana terkejut melihat cowok asing yang sudah duduk di sampingnya. Ia melirik ke arah Chilton yang masih berdiri di dekat meja petugas.

“Boleh kenalan?” tanya cowok itu.

Delana hanya menanggapinya dengan senyuman. Sementara Chilton langsung mengepalkan tangannya begitu melihat cowok yang mendekati Delana. Ia tak tahan melihat Delana digoda cowok lain. Terlebih, datang dua cowok lagi yang juga mendekati Delana.

Chilton langsung melompat melewati pembatas.

“Loh? Mas?” petugas jaga mencoba mencegah Chilton keluar.

“Maaf, Mbak. Saya nggak ngelakuin kriminal. Jadi, nggak usah tahan saya kayak gitu lagi!” sentak Chilton. Ia berlari menghampiri Delana yang tidak beranjak sedikitpun dari tempat duduknya sejak mereka tiba.

“Kalian ngapain?” tanya Chilton pada tiga cowok yang sedang mengajak Delana berkenalan.

“Oh ... sudah punya pacar, guys!” celetuk cowok yang berdiri di depan Delana.

Cowok yang duduk di samping Delana tergelak. “Kirain jomblo. Dari tadi duduk sendirian mulu.”

“Iya, lah. Cowoknya sibuk ngeladenin cewek lain,” sahut cowok satunya lagi. Mereka tergelak bersama menertawakan Chilton.

“Kalian ngajak berantem?” tanya Chilton sinis.

“Owh ... santai, Kuy.” Cowok yang duduk di samping Delana langsung bangkit dan menepuk-nepuk pundak Chilton. “Kalo udah punya cewek dijagain yang bener! Jangan sibuk sama cewek-cewek lain! Sayang banget kan, kalo ada cewek cantik dianggurin.” Ia tersenyum sinis dan mengajak dua temannya pergi meninggalkan Chilton dan Delana.

Chilton menatap tajam ke arah tiga cowok yang berjalan menjauh darinya. Ia merapatkan gigi-giginya, mengepalkan tangan menahan emosi.

“Udah, jangan emosi! Duduk sini!” pinta Delana lembut sembari menarik lengan Chilton agar duduk di sampingnya.

“Kamu kenapa sih diam aja digodain sama cowok-cowok kayak gitu!?” Chilton terlihat sangat kesal dengan sikap Delana yang terlihat santai.

“Kenapa? Kamu cemburu?” tanya Delana santai sembari memakan popcorn yang ada di tangannya.

“Eh ... ah ... nggak, lah. Buat apa aku cemburu sama cowok model kayak gitu,” jawab Chilton gugup.

Chilton kembali duduk di samping Delana. Mereka terdiam selama beberapa saat dalam pikiran mereka masing-masing.

 “Mas, minta foto bareng, dong!” satu cewek kembali mengundang perhatian yang lain begitu petugas keamanan pergi dari hadapan mereka. Cewek itu langsung duduk di samping Chilton dan mengarahkan kamera depannya untuk berfoto selfie bersama Chilton.

“Aku juga, dong!” seru lainnya. “Mbak, permisi dulu ya!” pintanya. Membuat Delana akhirnya harus bangkit dan bersandar di dinding sembari menunggu para cewek itu berfoto ria.

Delana mulai kesal dengan sikap cewek-cewek yang membuatnya tersingkir dari sisi Chilton. Ia melihat jam dan waktu pemutaran film masih sepuluh menit lagi. Sepuluh menit itu waktu yang cukup panjang, bisa ia gunakan untuk mengobrol dengan Chilton. Namun, waktunya bersama cowok itu justru terenggut oleh cewek-cewek centil yang terus menerus mengajak Chilton berfoto bersama. Ia berharap, semua ponsel mereka saat ini terbakar agar tak ada lagi yang merengek meminta foto bersama Chilton.

Beberapa menit kemudian, suara announcer terdengar agar mereka segera memasuki ruang teater 3.

“Udah, ya, foto-fotonya. Kami mau nonton film,” tutur Chilton.

Terdengar suara kecewa dari beberapa cewek yang belum sempat berfoto bersamanya.

Chilton menarik lengan Delana dan melangkahkan kakinya masuk ke teater 3.

“Asyik ya dideketin banyak cewek-cewek cantik?” goda Delana.

“Cemburu?” tanya Chilton.

“Mmmh ... mau bilang cemburu tapi bukan siapa-siapa,” jawab Delana sambil tertawa kecil.

Chilton tertawa kecil, ia menjepit hidung Delana dengan dua jarinya.

“Sakit, tahu!” seru Delana sembari menepiskan tangan Chilton. Mereka berjalan menaiki anak tangga menuju kursi di paling belakang.

Belum cukup membuat kehebohan di ruang tunggu. Di dalam pun cewek-cewek berebut agar ia bisa duduk di sebelah Chilton.

“Kak, aku duduk di sebelah kakak, dong!” seru cewek remaja yang tiba-tiba langsung menghampiri Chilton.

“Nggak bisa. Kakak sudah duduk sama dia,” sahut Chilton sambil tersenyum.

“Yah, nggak papa deh. Kita kan bisa tukeran tempat duduknya.”

“Eh, nggak bisa gitu dong! Kalian kan sudah dapet nomor kursi sesuai tiket masing-masing!” protes Delana yang tidak terima karena seharusnya dia yang duduk di sebelah Chilton.

“Heh!? Kamu siapa ngatur-ngatur kita?” sahut cewek lain yang ngotot duduk di sebelah Chilton.

“Eh, kamu kampungan banget sih! Nggak pernah nonton di bioskop, ya?” dengus Delana kesal.

“Apa kamu bilang?” Cewek itu langsung mendorong pundak Delana dengan kasar.

Chilton yang melihat pertikaian mulai memanas, langsung menarik lengan Delana dan merangkulnya. “Maaf ya, Mbak. Saya ke sini sama dia. Jadi, mohon pengertiannya untuk tidak mengganggu kami,” tutur Chilton dengan lembut dan sopan.

Cewek-cewek yang berebut ingin duduk di samping Chilton langsung bergegas pergi dan mencari kursi mereka masing-masing.

“Ayo, kita duduk!” bisik Chilton pada Delana.

Delana masih saja cemberut. Ia masih badmood dengan sikap cewek-cewek yang berbuat semaunya sendiri.

“Udah, jangan cemberut gitu!” pinta Chilton.

“Ngeselin banget!” celetuk Delana.

Chilton tersenyum. Mereka langsung duduk di kursi yang sudah sesuai dengan nomor tiket mereka.

“Kamu tumben banget ngeladenin mereka?” tanya Chilton berbisik.

“Ya ... aku ini kan normal, punya emosi. Wajar aja aku marah kalo mereka keterlaluan.” Delana berbicara dengan suara pelan karena tak ingin ucapannya di dengar oleh penonton yang lain.

Chilton tertawa kecil. Ia menatap wajah Delana yang masih terlihat menyimpan emosi di dalam dirinya.

“Kamu tuh kenapa sih selalu aja ngeladeni cewek-cewek kayak gitu? Nge-betein banget!”

“Del, kalo udah dikerubungin kayak gitu. Udah nggak bisa apa-apa lagi selain nurutin kemaunnya mereka. Kalo udah dituruti juga mereka pergi satu per satu.”

“Iya. Tapi kamu kan bisa nolak.”

“Kamu juga nggak bisa nolak waktu ada cowok lain duduk di samping kamu.”

“Itu beda. Aku nggak nolak tapi aku bisa nyuekin mereka.”

“Sama aja.”

“Beda!”

“Intinya, kamu cemburu?”

“Apa bedanya sama kamu?”

“Aku nggak cemburu.”

“Kenapa marah kalo ada cowok lain deketin aku?”

“Aku cuma kesel aja sama mereka.”

“Kamu bisa kesel itu karena cemburu. Aku juga kesel lihat kamu dikerubungin banyak cewek.”

“Ssst ...!” Chilton menempelkan jari telunjuk di bibirnya karena suara Delana semakin meninggi.

Delana menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menatap layar yang masih menampilkan cuplikan-cuplikan film yang sedang diputar minggu ini.

“Del, kamu pernah nonton di bioskop sebelum ini?” tanya chilton lirih.

“Pernah.”

“Oh ya? Bareng siapa?”

“Bareng ayah.”

“Sama cowok lain belum pernah?” tanya Chilton.

Delana menggelengkan kepalanya.

“Pacar kamu?”

“Aku nggak punya pacar.”

“Bukan sekarang. Waktu kamu masih SMA.”

“Aku nggak punya pacar waktu SMA.”

“Jadi, ini pertama kalinya kamu jalan nonton sama cowok?” tanya Chilton.

“Iya.”

Chilton menatap lekat wajah Delana.

“Kenapa lihatin aku kayak gitu?” tanya Delana.

“Nggak papa.” Chilton tersenyum tak berkedip. “Kamu kalo digelap-gelapan kelihatan lebih cantik,” bisiknya.

“Ngolok!” dengus Delana sembari menyubit pinggang Chilton.

Chilton terkekeh.

“Filmnya udah mulai,” bisik Delana.

Mereka akhirnya fokus menikmati film yang sedang diputar.

 

 

THEN LOVE BAB 7 : CINTA TUMBUH DARI GAME ONLINE

 

BAB 7 – CINTA TUMBUH DARI GAME ONLINE

 


“Hai, Lady ...!” Delana mengernyitkah dahi begitu membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Tak pernah ada yang memanggilnya Lady kecuali temannya bermain game online. Tapi siapa? Ia tak pernah memajang nomor ponselnya di dalam game.

Delana meletakkan kembali ponselnyà, ia kembali fokus memakan buah apel di meja makan seoranģ dirì.

Drrrt ... Drrrr ...!

Delana meraih ponsel dàn membaca pesannya lagi. “Ini aku, Chillo.”

Delana tersenyum menatap layar ponselnya lalu mengetik balasan. “Oh... kamu. Ada apa Chil?” tanya Delana.

“Nggak main lagi?” tanya Chillo.

“Belum. Masih sibuk.”

“Owh .... Oh ya, kamu kenal deket sama Dewa, ya?” tanya Chillo.

“Kenal aja, nggak deket.”

“Dia tuh orangnya gimana, sih?” tanya Chillo.

“Hmm ...”  Delana memutar bola matanya. “Kenapa emangnya?” tanya Delana balik.

“Nggak papa. Aku ... suka aja sama dia. Baik banget orangnya.”

“Oh ya?”

“He eh. Ceritain ke aku dong, dia itu seperti apa?” pinta Chillo.

Delana terdiam. Ia tidak bisa bicara banyak. Mana mungkin dia bilang kalau Dewa bertubuh gemuk. Si cantik Chillo pasti akan kecewa. Ia tak lagi mau membalas pesan dari Chillo. Ia merasa tidak begitu menarik kalau perempuan mengejar cinta laki-laki di dunia maya.

Karena pesannya tak kunjung dibalas. Akhirnya Chillo menelepon Delana.

“Hai ... Lady ...! Lagi apa?” tanya Chillo.

“Lagi nyantai,” jawab Delana sembari mengunyah buah apel.

“Kenapa nggak balas chat aku, sih!?”

“Aku mau balas gimana?” tanya Delana.

“Ya ... kamu ceritain ke aku. Dewa itu kayak gimana orangnya. Soalnya, semalam dia nembak aku.”

“Uhuk ... uhuk ...!” Delana tersedak begitu mendengar ucapan Chillo lewat telepon. Ia segera meraih gelas air putih yang ada didekatnya agar tenggorokannya lebih lega.

“Kamu kenapa?” tanya Chillo.

“Nggak papa. Aku lagi makan, keselek.”

“Hati-hati dong kalo makan!”

“Hmm ....”

“Ceritain ke aku dong! Dewa Sakti itu gimana anaknya,” desak Chillo.

“Duh, aku nggak bakat mendeskripsikan seseorang.”

“Yah ....” Chillo mendesah kecewa. “Masa kamu nggak mau cerita ke aku sih?”

“Kamu tanya langsung ke dia aja. Ketemuan, kek. Atau vc kan bisa.”

“Huft, ya udah deh.” Chillo langsung mematikan teleponnya dengan kesal.

Delana mengernyitkan dahinya sambil menatap layar ponsel. Ia heran dengan sikap Chillo yang tiba-tiba ketus saat Delana tidak mau memberitahukan bagaimana sosok Dewa Sakti yang sebenarnya.

“Cewek nggak jelas!” maki Delana pada ponselnya yang sudah mati. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali menghabiskan buah apel yang sudah ia bersihkan.

 

***

Delana duduk di kursi taman sambil bermain ponselnya. Chilton yang melihat dari jauh langsung menghampiri Delana.

“Main sama siapa?” tanya Chilton.

“Eh!? Nggak main.” Delana langsung menoleh karena ia terkejut tiba-tiba Chilton sudah duduk di sampingnya.

“Terus ngapain? Asyik banget lihatin hp.”

“Lihat-lihat foto di IG.”

“Oh.”

“Eh, semalem si Chillo tiba-tiba telpon aku.”

“Oh ya? Terus?”

“Dia nanyain si Attala mulu. Emang bener Attala nembak dia?” tanya Delana ingin tahu.

Chilton mengedikkan bahunya. “Nggak penting banget ngomongin mereka. Jadian atau enggak, nggak ada hubungannya sama sekali sama kita.”

“Ya ada, lah. Kita kan partner nge-game mereka.”

“Terus?”

“Ya, nggak ada terusannya.”

“Eh, kita main duo vs squad yuk!” ajak Chilton mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“Hah!? Main di sini?” tanya Delana.

“Iya. Sekali-sekali main di luar ruangan gini biar seger. Bosen main dalam ruangan mulu.”

“Bentar, aku bawa headset nggak, nih,” tutur Delana sembari memeriksa isi tasnya. “Oh, bawa!” Ia menarik kabel earphone keluar dari dalam tasnya.

“Oke, kita mulai.” Chilton menyentuh earphone bluetooth yang sudah terpasang di telinganya.

“Kemarin kenapa kalah?” tanya Delana sambil login ke dalam game.

“Lagi bete banget aku.”

“Bete kenapa?” tanya Delana. “Bukannya kamu lagi pulang ke rumah?”

“Di rumah juga nggak ada siapa-siapa. Mama sering lembur. Dia baru pulang ke rumah jam dua belasan. Aku udah ngantuk banget, males turun.”

“Kamu bete sama mama kamu?”

“Enggak. Bete sama kamu.”

“Loh, kok aku?”

“Kamu pergi jalan nggak ngajak aku.”

“Eh!?” Delana menatap Chilton yang sudah asyik menatap layar ponselnya.

“Knock satu!” seru Chilton.

Delana menghela napas dan kembali fokus ke dalam permainan bersama Chilton. Mereka asyik bermain game di taman kampus. Tak peduli dengan jam pelajaran yang sudah dimulai, mereka malah asyik tertawa sambil bermain game. Sesekali mereka saling menggerutu.

“Del, kalo aku knocked down itu kamu cepet revive!” celetuk Chilton.

“Aku kan cari musuh. Lagian, kamunya juga nggak hati-hati,” sahut Delana. “Astaga ...! Aku kena tembak.” Delana langsung lari masuk ke dalam kontainer untuk memulihkan energinya.

“Bubuhannya lagi main juga kayaknya nih,” tutur Chilton.

“Iya kah?” Delana masih tak memalingkan pandangan dari ponselnya.

“Eh, kalo kita menang kali ini ... aku traktir kamu makan siang.”

“Makan siang doang?” goda Delana.

“Emangnya mau apa?” tanya Chilton.

“Hmm ... boleh deh makan siang. Tapi, kamu yang masak.”

“Jangan! Nanti kamu keracunan kalo aku yang masak.”

“Kok bisa?”

“Aku nggak pinter masak. Eh, ada musuh tuh di bukit!” seru Chilton.

“Dua puluh lagi musuhnya. Ayo, kita bersihkan! Kita naik mobil saja,” ucap Delana.

Beberapa menit kemudian Delana berteriak kegirangan sambil menari-nari di depan Chilton karena akhirnya mereka mendapatkan Chicken Dinner.

 

***

“Hai ... what’s up guys! Welcome to my squad!” seru Chilton begitu ia memasuki permainan, ia dan tiga temannya sudah bersepakat untuk menghabiskan malam minggunya dengan mabar.

“Hai ...!” sahut yang lainnya.

“Hai, Chillo sayang,” tutur Dewa Sakti alias Attala.

“Hai, juga sayangku.”

“Kalian jadian?” tanya Delana sambil menahan tawa.

“Iya.”

Delana langsung mengambil ponsel satu lagi miliknya dan mengirim pesan singkat paa Chilton. “Panglima, sudah buka paket yang aku kirim?”

Chilton sudah mengerti kode dari Delana. Ia langsung merogoh ponsel miliknya yang tidak ia gunakan untuk bermain game. Ia tertawa kecil membaca pesan dari Delana. “Sudah, Lady. Biarin aja ya!” pintanya.

“Oke. Kita turun di mana?” tanya Delana kemudian.

“Tempat biasa aja yang rame,” jawab Chilton.

“Sekali-sekali cari tempat sepi,” celetuk Chillo.

“Mau perang atau mau mojok?” dengus Delana.

“Mojok kan enak,” sahut Chillo tanpa malu-malu.

“Idih, yang pacaran. Maunya mojok mulu.”

“Iya. Makanya kalian buruan jadian juga!” celetuk Chillo.

“Kalian siapa?” tanya Delana.

“Kamu sama Panglima Kumbang.”

“Hahaha.” Chilton tertawa menanggapi ucapan Chillo.

“Kok, malah ketawa sih?” tanya Chillo.

“Dewa, bagi med kit dong!” pinta Chilton.

“Oke,” sahut Dewa Sakti.

Mereka menghabiskan malam minggu mereka dengan keseruan bermain game di dalam kamar masing-masing. Anak muda yang menghabiskan waktunya bermain game di dalam kamar, berfungsi mengurangi kemacetan kota di malam minggu.

 

***

 

Si cantik Chillo memang sudah berpacaran dengan Dewa Sakti di dunia maya. Mereka belum pernah melakukan panggilan video maupun bertemu langsung. Bertanya dengan Lady Death tak ada gunanya. Ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban.

Akhirnya, Chillo memaksa Dewa untuk mengobrol via video call.

“Dewa, kita vidcall yuk!” ajak Chillo.

“Duh, aku nggak bisa, sayang. Aku lagi di kampus nih banyak tugas.” Attala berusaha mencari alasan agar Chillo tidak terus menerus mengajaknya video call.

“Yah, ya udah deh kalo gitu. Kamu udah makan?” tanya Chillo.

“Udah, dong! Aku mah makan terus.”

“Awas loh, nanti gendut! Aku nggak suka cowok gendut,” tutur Chillo.

Attala terdiam. Ia tak berkata apa-apa lagi. Bagaimana kalau Chillo tahu tubuhnya sangat gemuk? Apa cewek cantik itu akan langsung memutuskan dirinya? Oh. Tidak! Dia tidak boleh melakukan video call seperti permintaan Chillo agar ia bisa bertahan menjadi kekasihnya.

“Aku kuliah dulu, ya!” pamit Attala dan langsung mematikan sambungan teleponnya.

 

***

“Del, bisa main kah?” tanya Chilton via panggilan video saat ia dan Attala bermain game bersama di kamar Attala.

“Sekarang?” tanya Delana yang baru saja sampai di rumah.

“Iya, lah.”

“Bentar, aku mandi dulu.”

“Oke. Aku tunggu y!”

Delana langsung beranjak dari tempatnya. Ia kembali melirik ponsel yang ia sandarkan di meja riasnya. “Kenapa belum dimatiin?” Delana mengendus ponselnya.

“Emang harus dimatiin?” Chilton tersenyum menggoda.

“Kamu mau ngintipin aku?” Delana mendelik ke arah Chilton.

“Enggak. Mau lihat.”

“Dasar Omes!” Delana langsung mematikan panggilan video dari Chilton.

Chilton tertawa kecil begitu Delana mematikan panggilan videonya.

“Gimana si Dela? Bisa?” tanya Attala.

“Bisa. Tapi masih mau mandi dianya.”

“Main dulu kah?” tanya Attala.

“Iya. Aku mau main solo aja dulu.”

“Loh? Kenapa?” tanya Attala.

Chilton tak menjawab pertanyaan Attala.

Attala menghela napas panjang. Ia menelepon Chillo dan mengajaknya bermain duo sambil bercanda dan tertawa sesukanya. Sedangkan Chilton sudah tak memperdulikan temannya yang ribut, ia menyumpal telinganya dengan earphone dan tak bisa diajak bicara sama sekali.

“Kamu lagi sendirian aja?” tanya Chillo pada Attala sambil bermain game.

“Nggak. Lagi bareng Pak Ketu’.” Attala menatap Chilton yang sudah asyik bermain game sendirian.

“Panglima?” tanya Chillo.

“Iya.”

“Kok nggak ada suaranya?”

“Asyik dia nge-solo pake headset.”

“Kenapa si dia kalo nggak ada Lady, nggak mau main?” tanya Chillo.

“Gak tau. Males kali dia jadi obat nyamuk.”

“Hahaha.” Chillo tergelak.

Beberapa menit kemudian, Delana ikut bergabung di dalam game.

“Abis dari mana, Lady?” tanya Chillo begitu Delana masuk ke dalam game.

“Mandi,” jawab Delana singkat.

“Jutek amat,” celetuk Chillo.

“Sensi dia, masih jomlo,” sahut Attala.

“Hmm ... yang udah jadian, nggak usah ngolok terus ya!” gumam Delana.

Attala dan Chillo tertawa bersamaan. Sementara Chilton lebih banyak diam dan mulai muak dengan hubungan catfishing antara Attala dan Chillo.

 

***

 

“Sayang, vidcall yuk!” ajak Chillo usai bermain bersama Attala, Chilton dan Delana.

“Nggak usah, gin. Kamu tidur aja! Ini sudah malam.”

“Hmm ... kenapa sih kamu selalu aja nolak kalo aku ajak vc?” omel Chillo. “Kalo kamu masih nggak mau vc sama aku, aku nggak bakal mau main game lagi sama kamu!” serunya.

“Nggak usah. Ntar kita langsung ketemu aja gimana? Katanya, minggu depan pengen ketemu?” tanya Attala.

“Iih ... tapi aku pengen lihat wajah kamu dulu. Biar aku bisa ingat waktu ketemu nanti.”

“Nggak surprise dong?” tanya Attala yang menyadari kalau ia sebenarnya tidak punya keberanian untuk bertemu dengan Chillo. Ia terlalu cantik untuk bersanding dengan Attala.

“Huft, oke kalo gitu. Mending kita putus aja!” seru Chillo.

“Loh? Kok, putus? Baru juga jadian, udah main putus-putus aja.”

“Makanya vc aku kalo mau kita masih lanjut terus!”

“Beneran kamu masih mau lanjut terus pas udah vc aku nanti?” tanya Attala.

“Iya.” Chillo langsung mengalihkan panggilan telepon ke panggilan video. “Oh ... My God!” Ia terkejut begitu melihat sosok Dewa Sakti yang masuk di layar ponselnya. Benar-benar di luar ekspektasi. Ia tak menyangka kalau pemilik nama keren yang juga punya suara keren ternyata bertubuh sangat gemuk. Bahkan, hidungnya terlihat seperti memenuhi seluruh wajahnya.

“Hai ...!” Attala melambaikan tangan pada Chillo dengan perasaan ragu. Chillo yang punya wajah sangat cantik, putih, mulus, seksi bak boneka barbie itu membuat Attala minder namun tetap saja ia berusaha menutupi perasaannya dan memberanikan diri menyapa cewek yang telah menjalin hubungan dengannya di dunia maya.

“Hai ...!” balas Chillo tersenyum kecut. Ia sangat kecewa karena Attala tidak setampan yang ia bayangkan.

“Lagi apa?” tanya Attala.

“Lagi mau tidur,” jawab Chillo. “Kamu, kok?”

“Aku? Kenapa?” tanya Attala.

“Kamu kok gendut sih?”

“Iya. Aku udah kayak gini dari dulu.”

“Aku nggak suka cowok gendut!”

“Aku ...,”

“Kamu sama sekali nggak cocok sama aku.”

“Kok, gitu?”

“Iya. Aku mau kita putus sekarang juga!”

“Kamu putusin aku, cuma karena aku gendut?”

“Iya. Kamu makan terus! Dasar gendut!” seru Chillo yang melihat Attala asyik mengunyah snack yang ada di depannya.

“Tapi ... aku sayang sama kamu apa adanya,” balas Attala.

“Apa adanya? Aku ini nggak apa adanya,” tegas Chillo.

“Jadi?”

“Kita putus!”

Attala berteriak kesal karena Chillo memutuskan hubungan mereka hanya karena ia bertubuh gemuk. Chilton yang duduk di belakangnya langsung menoleh melihat tingkah sahabatnya itu.

“Siapa dia?” tanya Chillo pada Attala.

“Dia siapa?” tanya Attala.

“Itu, yang di belakang kamu.”

“Oh ... itu Chilton, si Panglima Kumbang.”

“Hah!? Dia ketua organisasi game?” tanya Chillo.

“Iya. Kenapa? Naksir?” tanya Attala.

“Iya. Ganteng banget!” seru Chillo dengan mata berbinar.

“Dasar cewek. Nggak bisa lihat cowok ganteng dikit aja,” dengus Attala kesal.

“Bodo amat! Aku masih normal. Masih bisa bedain mana cowok ganteng sama enggak,” tutur Chillo sambil menjulurkan lidahnya. Ia langsung mengambil screenshoot gambar Chilton. Ia mematikan panggilan video. Masuk ke dalam room organisasi game dan menyebarkan foto Chilton yang sedang duduk santai di kursi.

“Kuy ... ketua organisasi kita gantengnya tingkat dewa.” Chillo mengirimkan caption di dalam gambar yang ia kirim.

“Oh ... My God! Cowok idaman banget!” balas user lain.

“Nggak nyangka kalo ketua kita ternyata ganteng banget,” balas user lainnya lagi.

“Iya. Ganteng.”

“Ya ampun, gantengnya ...”

“Bungas banar euy ...!”

“Uuh ... charming ...!”

“Dia udah punya pacar atau belum ya?”

“Nggak papa biar udah punya. Aku mau kok jadi yang kedua.”

“Aku jadi yang ketiga juga nggak papa.”

“Aku jadi yang terakhir saja, lah. Hahahaha ...”

Room chat di dalam organisasi game tiba-tiba ramai, terutama user cewek yang menjadi anggota. Semuanya jadi ribut membahas ketua organisasi game mereka.

Delana menoleh ponselnya karena terus berbunyi. Ia membuka notifikasi yang muncul di layar ponselnya. “Pada ngomongin apaan sih? Kok, rame banget chatnya,” gumam Delana sembari membuka pesan yang sudah masuk ratusan. Padahal, ia baru saja selesai bermain game dan bersiap mau tidur. Baru ditinggal sebentar tapi chatnya sudah banyak sekali.

Delana terkejut karena Chillo menyebarkan foto Chilton dan membuat keriuhan di dalam grup. Perasaannya campur aduk. Ingin marah karena cemburu, juga tertawa dengan komentar-komentar lucu dari user lainnya terutama user cowok yang merasa tersaingi dengan kehadiran cowok ganteng yang menjadi ketua organisasi game mereka.

Belum selesai Delana membaca semua chat, tiba-tiba saja Chilton meneleponnya.

“Halo, kenapa Chil? Belum tidur?” tanya Delana.

“Belum. Kamu udah baca chat di room kita?”

“Ini lagi bacain.”

“Sialan memang si Chillo. Fotoku disebarin kayak gitu. Kalo bukan cewek, udah aku maki-maki tuh anak,” gerutu Chilton.

“Hmm ... terus?”

“Terus ... aku laporin ke polisi karena udah menyebarkan fotoku tanpa izin.”

“Ya udah, lakuin aja!” sahut Delana.

“Eh!?”

“Kenapa masih mikir?”

“Ya, nggak sampe setega itu.”

“Oh ... kalo nggak tega ya udah. Toh, semuanya juga udah pada tahu. Udah ribut gitu di grup. Paling besok juga udah reda, kok.”

“Kayak hujan aja, pake acara reda segala,” celetuk Chilton.

“Iya. Kamu kan lagi dihujani pujian dan pujaan.” Delana tertawa kecil.

“Apaan sih? Risih aku sama mereka.”

“Ya udah. Tidur, yuk! Aku udah ngantuk banget nih. Paling mereka ramenya cuma malam ini doang. Besok juga udah nggak bakal dibahas lagi.”

“Kalo dibahas lagi gimana?”

“Ya ... itu di luar tanggung jawabku. Namanya juga netizen. Jari mereka lebih kejam dari mulut harimau.”

“Hmm ... ya udah. Aku tidur dulu. Ngomong sama kamu nggak dapet solusi sama sekali.”

“Loh? Kok, ngambek?” tanya Delana.

“Au ah ...!” Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya.

Delana menghela napas menghadapi sikap Chilton yang sering mengomel dengannya. Tak peduli siapa yang salah dan siapa yang benar. Sepertinya Chilton sering meluapkan kemarahannya di depan Delana. Ia harus menjadi perempuan yang lebih sabar lagi menghadapi sikap Chilton yang terkadang seperti anak kecil.

 

***

“Udah sarapan?” tanya Delana begitu ia bertemu dengan Chilton di taman.

“Belum,” jawab Chilton dengan napas terengah-engah karena baru saja berlari pagi.

“Ini!” Delana menyodorkan kotak bekal ke arah Chilton yang sudah duduk di sampingnya.

Chilton tersenyum dan mengambil kotak bekal yang diberikan Delana. Ia langsung melahapnya di taman seperti biasa.

“Del, kamu kalo bangun pagi jam berapa?” tanya Chilton.

“Kenapa?”

“Masih sempat bikinin aku sarapan. Padahal, semalam kita nge-game sampe jam dua belas malam.”

Delana tersenyum menatap Chilton. “Aku udah terbiasa bangun jam empat subuh. Walau tidur jam dua pagi, tetep aja bangunnya jam empat.”

Chilton mengernyitkan dahinya. Ia tiba-tiba khawatir dengan kesehatan Delana jika ia sering mengajak cewek itu begadang untuk menemaninya bermain game online.

Usai memakan sarapan yang dibuatkan Delana, Chilton menghela napas sejenak sembari menikmati udara sejuk di pagi hari. Mereka saling diam untuk beberapa saat.

“Chil ...!” panggil Delana.

“Del ...! panggil Chilton bersamaan.

“Kamu duluan, deh!” pinta Delana.

“Kamu aja yang duluan. Ladies first.” Chilton tersenyum ke arah Delana.

“Mmh ....” Delana berpikir sejenak. Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya. “Mabar, yuk!”

“Astaga ...! Aku juga mau ngajak itu.”

“Oh ya?” Delana tertawa kecil yang disambut dengan tawa juga oleh Chilton.

“Iya. Aku mau mastikan kalo keributan semalam sudah selesai atau masih berlanjut.”

“Hmm ...”

Mereka login ke dalam game dan semua terasa biasa saja. Keributan semalam tak terdengar lagi di dalam game. Mungkin karena masih pagi, sebagian masih sibuk menyiapkan aktivitas di pagi hari, sebagian lagi masih asyik mendengkur di dalam selimut mereka.

“Hmm ... aman!” tutur Chilton sambil bangkit dari tempat duduknya. “Aku balik dulu. Makasih sarapannya.

Delana tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Ia melambaikan tangan ke arah Chilton yang juga melambaikan tangan ke arahnya.

Sore hari setelah selesai kuliah, Chilton kembali mengajak Delana bermain game online. Kebetulan, Delana juga tak banyak kesibukan karena ayahnya akan pulang malam hari. Adiknya juga melakukan kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya.

“Hai ... welcome to my Squad! How are you today? Mari kita menang hari ini,” sapa Chilton begitu ia masuk ke dalam room game.

“Aargh ...! Panglima ... I Love You So Much!” teriak salah satu user tanpa ragu-ragu.

Chilton terdiam. Ia tak menyangka kalau ada user yang agresif di dalam room chat squadnya.

“Panglima ... minta nomer hapenya dong!” sahut user lainnya.

“Panglima, kamu ganteng banget!” teriak lainnya lagi.

Chilton mendengus kesal karena hampir semua user cewek berteriak memanggil namanya.

“Eh, kalian ribut banget sih? Aku juga ganteng kali,” sahut salah satu user cowok yang ikut bergabung.

“Huuu ...!”

“Lady Death ...!” Chilton memanggil Delana agar cewek itu bersuara.

“Siap. Panglima!” sahut Delana.

“Follow me!”

“Eh!?” Delana bingung dengan intruksi dari Chilton. Beberapa detik kemudian, Chilton offline dari permainan. Delana langsung ikut offline dari permainan mereka.

“Kamu di mana?” Chilton mengalihkan pembicaraan ke panggilan telepon.

“Di rumah. Kenapa?” tanya Delana.

“Aku jemput, ya!” pinta Chilton.

“Mau ke mana?” tanya Delana.

“Ke luar. Bete aku main game ribut banget!”

“Oh ... gitu? Ya udah, aku siap-siap dulu ya,” pinta Delana.

“Lima belas menit lagi aku udah di depan gang rumahmu.”

“Cepet banget? Aku belum mandi.”

“Kenapa sih cewek selalu ribet kalo mau diajak jalan!?” gerutu Chilton.

“Iya, iya. Lima belas menit aku udah di depan gang,” teriak Delana menahan kekesalan.

“Nah .,.. gitu dong!” Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa berpamitan.

“Kebiasaan! Nelpon nggak pernah pake salam. Udah gitu main ngabur-ngabur aja kayak jelangkung!” maki Delana pada layar ponselnya.

Lima belas menit kemudian, Chilton dan Delana sudah bertemu di depan gang rumah Delana sesuai kesepakatan.

“Mandi nggak?” tanya Chilton begitu Delana sudah duduk manis di dalam mobilnya.

“Mandi, lah. Nggak sempet dandan aja,” sahut Delana dengan wajah kesal.

Chilton tertawa kecil. “Udah cantik, kok,” pujinya. Ia langsung melajukan mobilnya ke pusat perbelanjaan.

Keributan di dalam room game membuat Chilton merasa terganggu dan  menjadi tidak nyaman karena ia tak lagi bebas bermain. Ia memutuskan untuk offline dari dunia game dan mengajak Delana menonton film.

 

((Bersambung...))

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas