Thursday, August 14, 2025

THEN LOVE BAB 7 : CINTA TUMBUH DARI GAME ONLINE

 

BAB 7 – CINTA TUMBUH DARI GAME ONLINE

 


“Hai, Lady ...!” Delana mengernyitkah dahi begitu membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Tak pernah ada yang memanggilnya Lady kecuali temannya bermain game online. Tapi siapa? Ia tak pernah memajang nomor ponselnya di dalam game.

Delana meletakkan kembali ponselnyà, ia kembali fokus memakan buah apel di meja makan seoranģ dirì.

Drrrt ... Drrrr ...!

Delana meraih ponsel dàn membaca pesannya lagi. “Ini aku, Chillo.”

Delana tersenyum menatap layar ponselnya lalu mengetik balasan. “Oh... kamu. Ada apa Chil?” tanya Delana.

“Nggak main lagi?” tanya Chillo.

“Belum. Masih sibuk.”

“Owh .... Oh ya, kamu kenal deket sama Dewa, ya?” tanya Chillo.

“Kenal aja, nggak deket.”

“Dia tuh orangnya gimana, sih?” tanya Chillo.

“Hmm ...”  Delana memutar bola matanya. “Kenapa emangnya?” tanya Delana balik.

“Nggak papa. Aku ... suka aja sama dia. Baik banget orangnya.”

“Oh ya?”

“He eh. Ceritain ke aku dong, dia itu seperti apa?” pinta Chillo.

Delana terdiam. Ia tidak bisa bicara banyak. Mana mungkin dia bilang kalau Dewa bertubuh gemuk. Si cantik Chillo pasti akan kecewa. Ia tak lagi mau membalas pesan dari Chillo. Ia merasa tidak begitu menarik kalau perempuan mengejar cinta laki-laki di dunia maya.

Karena pesannya tak kunjung dibalas. Akhirnya Chillo menelepon Delana.

“Hai ... Lady ...! Lagi apa?” tanya Chillo.

“Lagi nyantai,” jawab Delana sembari mengunyah buah apel.

“Kenapa nggak balas chat aku, sih!?”

“Aku mau balas gimana?” tanya Delana.

“Ya ... kamu ceritain ke aku. Dewa itu kayak gimana orangnya. Soalnya, semalam dia nembak aku.”

“Uhuk ... uhuk ...!” Delana tersedak begitu mendengar ucapan Chillo lewat telepon. Ia segera meraih gelas air putih yang ada didekatnya agar tenggorokannya lebih lega.

“Kamu kenapa?” tanya Chillo.

“Nggak papa. Aku lagi makan, keselek.”

“Hati-hati dong kalo makan!”

“Hmm ....”

“Ceritain ke aku dong! Dewa Sakti itu gimana anaknya,” desak Chillo.

“Duh, aku nggak bakat mendeskripsikan seseorang.”

“Yah ....” Chillo mendesah kecewa. “Masa kamu nggak mau cerita ke aku sih?”

“Kamu tanya langsung ke dia aja. Ketemuan, kek. Atau vc kan bisa.”

“Huft, ya udah deh.” Chillo langsung mematikan teleponnya dengan kesal.

Delana mengernyitkan dahinya sambil menatap layar ponsel. Ia heran dengan sikap Chillo yang tiba-tiba ketus saat Delana tidak mau memberitahukan bagaimana sosok Dewa Sakti yang sebenarnya.

“Cewek nggak jelas!” maki Delana pada ponselnya yang sudah mati. Ia meletakkan ponselnya di atas meja dan kembali menghabiskan buah apel yang sudah ia bersihkan.

 

***

Delana duduk di kursi taman sambil bermain ponselnya. Chilton yang melihat dari jauh langsung menghampiri Delana.

“Main sama siapa?” tanya Chilton.

“Eh!? Nggak main.” Delana langsung menoleh karena ia terkejut tiba-tiba Chilton sudah duduk di sampingnya.

“Terus ngapain? Asyik banget lihatin hp.”

“Lihat-lihat foto di IG.”

“Oh.”

“Eh, semalem si Chillo tiba-tiba telpon aku.”

“Oh ya? Terus?”

“Dia nanyain si Attala mulu. Emang bener Attala nembak dia?” tanya Delana ingin tahu.

Chilton mengedikkan bahunya. “Nggak penting banget ngomongin mereka. Jadian atau enggak, nggak ada hubungannya sama sekali sama kita.”

“Ya ada, lah. Kita kan partner nge-game mereka.”

“Terus?”

“Ya, nggak ada terusannya.”

“Eh, kita main duo vs squad yuk!” ajak Chilton mengeluarkan ponsel dari sakunya.

“Hah!? Main di sini?” tanya Delana.

“Iya. Sekali-sekali main di luar ruangan gini biar seger. Bosen main dalam ruangan mulu.”

“Bentar, aku bawa headset nggak, nih,” tutur Delana sembari memeriksa isi tasnya. “Oh, bawa!” Ia menarik kabel earphone keluar dari dalam tasnya.

“Oke, kita mulai.” Chilton menyentuh earphone bluetooth yang sudah terpasang di telinganya.

“Kemarin kenapa kalah?” tanya Delana sambil login ke dalam game.

“Lagi bete banget aku.”

“Bete kenapa?” tanya Delana. “Bukannya kamu lagi pulang ke rumah?”

“Di rumah juga nggak ada siapa-siapa. Mama sering lembur. Dia baru pulang ke rumah jam dua belasan. Aku udah ngantuk banget, males turun.”

“Kamu bete sama mama kamu?”

“Enggak. Bete sama kamu.”

“Loh, kok aku?”

“Kamu pergi jalan nggak ngajak aku.”

“Eh!?” Delana menatap Chilton yang sudah asyik menatap layar ponselnya.

“Knock satu!” seru Chilton.

Delana menghela napas dan kembali fokus ke dalam permainan bersama Chilton. Mereka asyik bermain game di taman kampus. Tak peduli dengan jam pelajaran yang sudah dimulai, mereka malah asyik tertawa sambil bermain game. Sesekali mereka saling menggerutu.

“Del, kalo aku knocked down itu kamu cepet revive!” celetuk Chilton.

“Aku kan cari musuh. Lagian, kamunya juga nggak hati-hati,” sahut Delana. “Astaga ...! Aku kena tembak.” Delana langsung lari masuk ke dalam kontainer untuk memulihkan energinya.

“Bubuhannya lagi main juga kayaknya nih,” tutur Chilton.

“Iya kah?” Delana masih tak memalingkan pandangan dari ponselnya.

“Eh, kalo kita menang kali ini ... aku traktir kamu makan siang.”

“Makan siang doang?” goda Delana.

“Emangnya mau apa?” tanya Chilton.

“Hmm ... boleh deh makan siang. Tapi, kamu yang masak.”

“Jangan! Nanti kamu keracunan kalo aku yang masak.”

“Kok bisa?”

“Aku nggak pinter masak. Eh, ada musuh tuh di bukit!” seru Chilton.

“Dua puluh lagi musuhnya. Ayo, kita bersihkan! Kita naik mobil saja,” ucap Delana.

Beberapa menit kemudian Delana berteriak kegirangan sambil menari-nari di depan Chilton karena akhirnya mereka mendapatkan Chicken Dinner.

 

***

“Hai ... what’s up guys! Welcome to my squad!” seru Chilton begitu ia memasuki permainan, ia dan tiga temannya sudah bersepakat untuk menghabiskan malam minggunya dengan mabar.

“Hai ...!” sahut yang lainnya.

“Hai, Chillo sayang,” tutur Dewa Sakti alias Attala.

“Hai, juga sayangku.”

“Kalian jadian?” tanya Delana sambil menahan tawa.

“Iya.”

Delana langsung mengambil ponsel satu lagi miliknya dan mengirim pesan singkat paa Chilton. “Panglima, sudah buka paket yang aku kirim?”

Chilton sudah mengerti kode dari Delana. Ia langsung merogoh ponsel miliknya yang tidak ia gunakan untuk bermain game. Ia tertawa kecil membaca pesan dari Delana. “Sudah, Lady. Biarin aja ya!” pintanya.

“Oke. Kita turun di mana?” tanya Delana kemudian.

“Tempat biasa aja yang rame,” jawab Chilton.

“Sekali-sekali cari tempat sepi,” celetuk Chillo.

“Mau perang atau mau mojok?” dengus Delana.

“Mojok kan enak,” sahut Chillo tanpa malu-malu.

“Idih, yang pacaran. Maunya mojok mulu.”

“Iya. Makanya kalian buruan jadian juga!” celetuk Chillo.

“Kalian siapa?” tanya Delana.

“Kamu sama Panglima Kumbang.”

“Hahaha.” Chilton tertawa menanggapi ucapan Chillo.

“Kok, malah ketawa sih?” tanya Chillo.

“Dewa, bagi med kit dong!” pinta Chilton.

“Oke,” sahut Dewa Sakti.

Mereka menghabiskan malam minggu mereka dengan keseruan bermain game di dalam kamar masing-masing. Anak muda yang menghabiskan waktunya bermain game di dalam kamar, berfungsi mengurangi kemacetan kota di malam minggu.

 

***

 

Si cantik Chillo memang sudah berpacaran dengan Dewa Sakti di dunia maya. Mereka belum pernah melakukan panggilan video maupun bertemu langsung. Bertanya dengan Lady Death tak ada gunanya. Ia sama sekali tidak mendapatkan jawaban.

Akhirnya, Chillo memaksa Dewa untuk mengobrol via video call.

“Dewa, kita vidcall yuk!” ajak Chillo.

“Duh, aku nggak bisa, sayang. Aku lagi di kampus nih banyak tugas.” Attala berusaha mencari alasan agar Chillo tidak terus menerus mengajaknya video call.

“Yah, ya udah deh kalo gitu. Kamu udah makan?” tanya Chillo.

“Udah, dong! Aku mah makan terus.”

“Awas loh, nanti gendut! Aku nggak suka cowok gendut,” tutur Chillo.

Attala terdiam. Ia tak berkata apa-apa lagi. Bagaimana kalau Chillo tahu tubuhnya sangat gemuk? Apa cewek cantik itu akan langsung memutuskan dirinya? Oh. Tidak! Dia tidak boleh melakukan video call seperti permintaan Chillo agar ia bisa bertahan menjadi kekasihnya.

“Aku kuliah dulu, ya!” pamit Attala dan langsung mematikan sambungan teleponnya.

 

***

“Del, bisa main kah?” tanya Chilton via panggilan video saat ia dan Attala bermain game bersama di kamar Attala.

“Sekarang?” tanya Delana yang baru saja sampai di rumah.

“Iya, lah.”

“Bentar, aku mandi dulu.”

“Oke. Aku tunggu y!”

Delana langsung beranjak dari tempatnya. Ia kembali melirik ponsel yang ia sandarkan di meja riasnya. “Kenapa belum dimatiin?” Delana mengendus ponselnya.

“Emang harus dimatiin?” Chilton tersenyum menggoda.

“Kamu mau ngintipin aku?” Delana mendelik ke arah Chilton.

“Enggak. Mau lihat.”

“Dasar Omes!” Delana langsung mematikan panggilan video dari Chilton.

Chilton tertawa kecil begitu Delana mematikan panggilan videonya.

“Gimana si Dela? Bisa?” tanya Attala.

“Bisa. Tapi masih mau mandi dianya.”

“Main dulu kah?” tanya Attala.

“Iya. Aku mau main solo aja dulu.”

“Loh? Kenapa?” tanya Attala.

Chilton tak menjawab pertanyaan Attala.

Attala menghela napas panjang. Ia menelepon Chillo dan mengajaknya bermain duo sambil bercanda dan tertawa sesukanya. Sedangkan Chilton sudah tak memperdulikan temannya yang ribut, ia menyumpal telinganya dengan earphone dan tak bisa diajak bicara sama sekali.

“Kamu lagi sendirian aja?” tanya Chillo pada Attala sambil bermain game.

“Nggak. Lagi bareng Pak Ketu’.” Attala menatap Chilton yang sudah asyik bermain game sendirian.

“Panglima?” tanya Chillo.

“Iya.”

“Kok nggak ada suaranya?”

“Asyik dia nge-solo pake headset.”

“Kenapa si dia kalo nggak ada Lady, nggak mau main?” tanya Chillo.

“Gak tau. Males kali dia jadi obat nyamuk.”

“Hahaha.” Chillo tergelak.

Beberapa menit kemudian, Delana ikut bergabung di dalam game.

“Abis dari mana, Lady?” tanya Chillo begitu Delana masuk ke dalam game.

“Mandi,” jawab Delana singkat.

“Jutek amat,” celetuk Chillo.

“Sensi dia, masih jomlo,” sahut Attala.

“Hmm ... yang udah jadian, nggak usah ngolok terus ya!” gumam Delana.

Attala dan Chillo tertawa bersamaan. Sementara Chilton lebih banyak diam dan mulai muak dengan hubungan catfishing antara Attala dan Chillo.

 

***

 

“Sayang, vidcall yuk!” ajak Chillo usai bermain bersama Attala, Chilton dan Delana.

“Nggak usah, gin. Kamu tidur aja! Ini sudah malam.”

“Hmm ... kenapa sih kamu selalu aja nolak kalo aku ajak vc?” omel Chillo. “Kalo kamu masih nggak mau vc sama aku, aku nggak bakal mau main game lagi sama kamu!” serunya.

“Nggak usah. Ntar kita langsung ketemu aja gimana? Katanya, minggu depan pengen ketemu?” tanya Attala.

“Iih ... tapi aku pengen lihat wajah kamu dulu. Biar aku bisa ingat waktu ketemu nanti.”

“Nggak surprise dong?” tanya Attala yang menyadari kalau ia sebenarnya tidak punya keberanian untuk bertemu dengan Chillo. Ia terlalu cantik untuk bersanding dengan Attala.

“Huft, oke kalo gitu. Mending kita putus aja!” seru Chillo.

“Loh? Kok, putus? Baru juga jadian, udah main putus-putus aja.”

“Makanya vc aku kalo mau kita masih lanjut terus!”

“Beneran kamu masih mau lanjut terus pas udah vc aku nanti?” tanya Attala.

“Iya.” Chillo langsung mengalihkan panggilan telepon ke panggilan video. “Oh ... My God!” Ia terkejut begitu melihat sosok Dewa Sakti yang masuk di layar ponselnya. Benar-benar di luar ekspektasi. Ia tak menyangka kalau pemilik nama keren yang juga punya suara keren ternyata bertubuh sangat gemuk. Bahkan, hidungnya terlihat seperti memenuhi seluruh wajahnya.

“Hai ...!” Attala melambaikan tangan pada Chillo dengan perasaan ragu. Chillo yang punya wajah sangat cantik, putih, mulus, seksi bak boneka barbie itu membuat Attala minder namun tetap saja ia berusaha menutupi perasaannya dan memberanikan diri menyapa cewek yang telah menjalin hubungan dengannya di dunia maya.

“Hai ...!” balas Chillo tersenyum kecut. Ia sangat kecewa karena Attala tidak setampan yang ia bayangkan.

“Lagi apa?” tanya Attala.

“Lagi mau tidur,” jawab Chillo. “Kamu, kok?”

“Aku? Kenapa?” tanya Attala.

“Kamu kok gendut sih?”

“Iya. Aku udah kayak gini dari dulu.”

“Aku nggak suka cowok gendut!”

“Aku ...,”

“Kamu sama sekali nggak cocok sama aku.”

“Kok, gitu?”

“Iya. Aku mau kita putus sekarang juga!”

“Kamu putusin aku, cuma karena aku gendut?”

“Iya. Kamu makan terus! Dasar gendut!” seru Chillo yang melihat Attala asyik mengunyah snack yang ada di depannya.

“Tapi ... aku sayang sama kamu apa adanya,” balas Attala.

“Apa adanya? Aku ini nggak apa adanya,” tegas Chillo.

“Jadi?”

“Kita putus!”

Attala berteriak kesal karena Chillo memutuskan hubungan mereka hanya karena ia bertubuh gemuk. Chilton yang duduk di belakangnya langsung menoleh melihat tingkah sahabatnya itu.

“Siapa dia?” tanya Chillo pada Attala.

“Dia siapa?” tanya Attala.

“Itu, yang di belakang kamu.”

“Oh ... itu Chilton, si Panglima Kumbang.”

“Hah!? Dia ketua organisasi game?” tanya Chillo.

“Iya. Kenapa? Naksir?” tanya Attala.

“Iya. Ganteng banget!” seru Chillo dengan mata berbinar.

“Dasar cewek. Nggak bisa lihat cowok ganteng dikit aja,” dengus Attala kesal.

“Bodo amat! Aku masih normal. Masih bisa bedain mana cowok ganteng sama enggak,” tutur Chillo sambil menjulurkan lidahnya. Ia langsung mengambil screenshoot gambar Chilton. Ia mematikan panggilan video. Masuk ke dalam room organisasi game dan menyebarkan foto Chilton yang sedang duduk santai di kursi.

“Kuy ... ketua organisasi kita gantengnya tingkat dewa.” Chillo mengirimkan caption di dalam gambar yang ia kirim.

“Oh ... My God! Cowok idaman banget!” balas user lain.

“Nggak nyangka kalo ketua kita ternyata ganteng banget,” balas user lainnya lagi.

“Iya. Ganteng.”

“Ya ampun, gantengnya ...”

“Bungas banar euy ...!”

“Uuh ... charming ...!”

“Dia udah punya pacar atau belum ya?”

“Nggak papa biar udah punya. Aku mau kok jadi yang kedua.”

“Aku jadi yang ketiga juga nggak papa.”

“Aku jadi yang terakhir saja, lah. Hahahaha ...”

Room chat di dalam organisasi game tiba-tiba ramai, terutama user cewek yang menjadi anggota. Semuanya jadi ribut membahas ketua organisasi game mereka.

Delana menoleh ponselnya karena terus berbunyi. Ia membuka notifikasi yang muncul di layar ponselnya. “Pada ngomongin apaan sih? Kok, rame banget chatnya,” gumam Delana sembari membuka pesan yang sudah masuk ratusan. Padahal, ia baru saja selesai bermain game dan bersiap mau tidur. Baru ditinggal sebentar tapi chatnya sudah banyak sekali.

Delana terkejut karena Chillo menyebarkan foto Chilton dan membuat keriuhan di dalam grup. Perasaannya campur aduk. Ingin marah karena cemburu, juga tertawa dengan komentar-komentar lucu dari user lainnya terutama user cowok yang merasa tersaingi dengan kehadiran cowok ganteng yang menjadi ketua organisasi game mereka.

Belum selesai Delana membaca semua chat, tiba-tiba saja Chilton meneleponnya.

“Halo, kenapa Chil? Belum tidur?” tanya Delana.

“Belum. Kamu udah baca chat di room kita?”

“Ini lagi bacain.”

“Sialan memang si Chillo. Fotoku disebarin kayak gitu. Kalo bukan cewek, udah aku maki-maki tuh anak,” gerutu Chilton.

“Hmm ... terus?”

“Terus ... aku laporin ke polisi karena udah menyebarkan fotoku tanpa izin.”

“Ya udah, lakuin aja!” sahut Delana.

“Eh!?”

“Kenapa masih mikir?”

“Ya, nggak sampe setega itu.”

“Oh ... kalo nggak tega ya udah. Toh, semuanya juga udah pada tahu. Udah ribut gitu di grup. Paling besok juga udah reda, kok.”

“Kayak hujan aja, pake acara reda segala,” celetuk Chilton.

“Iya. Kamu kan lagi dihujani pujian dan pujaan.” Delana tertawa kecil.

“Apaan sih? Risih aku sama mereka.”

“Ya udah. Tidur, yuk! Aku udah ngantuk banget nih. Paling mereka ramenya cuma malam ini doang. Besok juga udah nggak bakal dibahas lagi.”

“Kalo dibahas lagi gimana?”

“Ya ... itu di luar tanggung jawabku. Namanya juga netizen. Jari mereka lebih kejam dari mulut harimau.”

“Hmm ... ya udah. Aku tidur dulu. Ngomong sama kamu nggak dapet solusi sama sekali.”

“Loh? Kok, ngambek?” tanya Delana.

“Au ah ...!” Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya.

Delana menghela napas menghadapi sikap Chilton yang sering mengomel dengannya. Tak peduli siapa yang salah dan siapa yang benar. Sepertinya Chilton sering meluapkan kemarahannya di depan Delana. Ia harus menjadi perempuan yang lebih sabar lagi menghadapi sikap Chilton yang terkadang seperti anak kecil.

 

***

“Udah sarapan?” tanya Delana begitu ia bertemu dengan Chilton di taman.

“Belum,” jawab Chilton dengan napas terengah-engah karena baru saja berlari pagi.

“Ini!” Delana menyodorkan kotak bekal ke arah Chilton yang sudah duduk di sampingnya.

Chilton tersenyum dan mengambil kotak bekal yang diberikan Delana. Ia langsung melahapnya di taman seperti biasa.

“Del, kamu kalo bangun pagi jam berapa?” tanya Chilton.

“Kenapa?”

“Masih sempat bikinin aku sarapan. Padahal, semalam kita nge-game sampe jam dua belas malam.”

Delana tersenyum menatap Chilton. “Aku udah terbiasa bangun jam empat subuh. Walau tidur jam dua pagi, tetep aja bangunnya jam empat.”

Chilton mengernyitkan dahinya. Ia tiba-tiba khawatir dengan kesehatan Delana jika ia sering mengajak cewek itu begadang untuk menemaninya bermain game online.

Usai memakan sarapan yang dibuatkan Delana, Chilton menghela napas sejenak sembari menikmati udara sejuk di pagi hari. Mereka saling diam untuk beberapa saat.

“Chil ...!” panggil Delana.

“Del ...! panggil Chilton bersamaan.

“Kamu duluan, deh!” pinta Delana.

“Kamu aja yang duluan. Ladies first.” Chilton tersenyum ke arah Delana.

“Mmh ....” Delana berpikir sejenak. Ia mengambil ponsel dari dalam tasnya. “Mabar, yuk!”

“Astaga ...! Aku juga mau ngajak itu.”

“Oh ya?” Delana tertawa kecil yang disambut dengan tawa juga oleh Chilton.

“Iya. Aku mau mastikan kalo keributan semalam sudah selesai atau masih berlanjut.”

“Hmm ...”

Mereka login ke dalam game dan semua terasa biasa saja. Keributan semalam tak terdengar lagi di dalam game. Mungkin karena masih pagi, sebagian masih sibuk menyiapkan aktivitas di pagi hari, sebagian lagi masih asyik mendengkur di dalam selimut mereka.

“Hmm ... aman!” tutur Chilton sambil bangkit dari tempat duduknya. “Aku balik dulu. Makasih sarapannya.

Delana tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Ia melambaikan tangan ke arah Chilton yang juga melambaikan tangan ke arahnya.

Sore hari setelah selesai kuliah, Chilton kembali mengajak Delana bermain game online. Kebetulan, Delana juga tak banyak kesibukan karena ayahnya akan pulang malam hari. Adiknya juga melakukan kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya.

“Hai ... welcome to my Squad! How are you today? Mari kita menang hari ini,” sapa Chilton begitu ia masuk ke dalam room game.

“Aargh ...! Panglima ... I Love You So Much!” teriak salah satu user tanpa ragu-ragu.

Chilton terdiam. Ia tak menyangka kalau ada user yang agresif di dalam room chat squadnya.

“Panglima ... minta nomer hapenya dong!” sahut user lainnya.

“Panglima, kamu ganteng banget!” teriak lainnya lagi.

Chilton mendengus kesal karena hampir semua user cewek berteriak memanggil namanya.

“Eh, kalian ribut banget sih? Aku juga ganteng kali,” sahut salah satu user cowok yang ikut bergabung.

“Huuu ...!”

“Lady Death ...!” Chilton memanggil Delana agar cewek itu bersuara.

“Siap. Panglima!” sahut Delana.

“Follow me!”

“Eh!?” Delana bingung dengan intruksi dari Chilton. Beberapa detik kemudian, Chilton offline dari permainan. Delana langsung ikut offline dari permainan mereka.

“Kamu di mana?” Chilton mengalihkan pembicaraan ke panggilan telepon.

“Di rumah. Kenapa?” tanya Delana.

“Aku jemput, ya!” pinta Chilton.

“Mau ke mana?” tanya Delana.

“Ke luar. Bete aku main game ribut banget!”

“Oh ... gitu? Ya udah, aku siap-siap dulu ya,” pinta Delana.

“Lima belas menit lagi aku udah di depan gang rumahmu.”

“Cepet banget? Aku belum mandi.”

“Kenapa sih cewek selalu ribet kalo mau diajak jalan!?” gerutu Chilton.

“Iya, iya. Lima belas menit aku udah di depan gang,” teriak Delana menahan kekesalan.

“Nah .,.. gitu dong!” Chilton langsung mematikan sambungan teleponnya tanpa berpamitan.

“Kebiasaan! Nelpon nggak pernah pake salam. Udah gitu main ngabur-ngabur aja kayak jelangkung!” maki Delana pada layar ponselnya.

Lima belas menit kemudian, Chilton dan Delana sudah bertemu di depan gang rumah Delana sesuai kesepakatan.

“Mandi nggak?” tanya Chilton begitu Delana sudah duduk manis di dalam mobilnya.

“Mandi, lah. Nggak sempet dandan aja,” sahut Delana dengan wajah kesal.

Chilton tertawa kecil. “Udah cantik, kok,” pujinya. Ia langsung melajukan mobilnya ke pusat perbelanjaan.

Keributan di dalam room game membuat Chilton merasa terganggu dan  menjadi tidak nyaman karena ia tak lagi bebas bermain. Ia memutuskan untuk offline dari dunia game dan mengajak Delana menonton film.

 

((Bersambung...))

 

Then Love Bab 5 : Mabar

 

BAB 5 – MABAR

 

Delana akhirnya pergi ke Lapmer untuk jogging bersama Chilton. Ia lupa meminta nomor ponsel Chilton sehingga ia kesulitan mencari keberadaan Chilton sementara warga mulai memadati kawasan Lapmer setiap hari minggu pagi untuk berolahraga atau hanya sekedar jalan-jalan santai.

Delana berlari-lari kecil sembari mengedarkan pandangannya mencari sosok Chilton di antara beberapa cowok yang sedang berlari pagi. Ia mulai bingung karena di Lapmer ada tiga lapangan. Dia tidak tahu pasti kemarin Chilton mengajaknya di lapangan satu, lapangan dua atau lapangan tiga.

Delana berhenti di tepi jalan, tepat di lapangan dua. Ia duduk di atas trotoar sembari meluruskan kakinya. Napasnya tersengal, padahal ia baru berlari sebentar saja.

“Nih!” Chilton tiba-tiba sudah berdiri di depannya sambil menyodorkan sebotol air mineral dingin.

“Kamu ke mana aja sih!? Aku cari dari tadi nggak nemu-nemu,” celetuk Delana kesal sambil menyambar botol minum dari tangan Chilton.

“Kamu aja yang nggak perhatiin bener-bener. Aku lihat kamu dari tadi.”

“Aku udah nyari tau! Banyak cowok-cowok pada jogging, tapi aku nggak lihat kamu.”

“Kamu kalo lihat cowok-cowok ganteng, udah nggak ingat sama aku.”

“Ingat, lah.”

“Ayo jalan lagi!” ajak Chilton.

“Aku capek.”

“Baru lari sebentar udah capek. Kayak gitu kalo nggak pernah olahraga,” gerutu Chilton.

“Iih ... bawel!” Delana mengulurkan tangannya ke arah Chilton. Chilton langsung menarik tangan Delana agar bangkit dari duduknya. Mereka melanjutkan lari pagi bersama.

“Chil, jantung aku berdebar.” Delana menghentikan langkahnya. Ia membungkuk, memegang lututnya sembari mengatur napas.

“Berdiri tegak!” pinta Chilton yang sudah berdiri di hadapannya.

Delana berdiri tegak sesuai intruksi dari Chilton.

“Rentangkan tanganmu!” pinta Chilton. Delana mengikuti sesuai instruksi. “Pejamkan mata, tarik napas dalam-dalam ... trus hembuskan pelan-pelan!”

Pelan-pelan Delana mengikuti intruksi dari Chilton beberapa kali sampai debar jantungnya membaik.

“Kamu tadi nggak pemanasan dulu?” tanya Chilton.

“Hehehe ...” Delana nyengir menanggapi pertanyaan Chilton. Mereka melanjutkan berlari lagi.

Baru sekitar sepuluh meter, Delana kembali berhenti. Ia merasa tubuhnya lemas dan kepalanya pusing.

“Kenapa?” tanya Chilton.

“Kepalaku pusing.”

“Ya udah. Kita jalan santai aja. Kayaknya kamu nggak kuat ya?” Chilton memerhatikan wajah Delana yang terlihat lebih pucat dari biasanya.

“Iya.” Delana menatap Chilton. Ia mengerutkan keningnya karena bayangan tubuh Chilton perlahan menghilang dan semuanya berubah jadi gelap.

“Dela ...!” Chilton menangkap tubuh Delana yang jatuh pingsan.

“Kenapa, Mas?” tanya beberapa orang yang melihat kejadian tersebut.

“Pingsan.” Chilton langsung menggendong Delana. Ia berlari membawa Delana masuk ke dalam mobilnya. Ia sedikit khawatir dengan keadaan jantung Della karena denyut nadinya sangat lemah.

Chilton melajukan mobilnya memasuki halaman rumah sakit Pertamina. Ia langsung membawa Delana ke ruang IGD untuk mendapat penanganan secepatnya.

Chilton menunggu di ruang tunggu sementara dokter melakukan pemeriksaan. Dua puluh menit kemudian, petugas kesehatan keluar.

“Keluarga Delana!” panggil petugas tersebut.

Chilton bangkit dan menghampiri petugas tersebut. Ia diperbolehkan masuk ke ruangan dan melihat keadaan Delana.

“Gimana keadaannya, Dok?” tanya Chilton.

“Nggak papa. Cuma kecapekan aja. Mungkin dia kurang istirahat. Kalau sudah sadar, sudah boleh pulang,” jawab dokter yang melakukan pemeriksaan.

“Jantungnya nggak bermasalah, Dok?” tanya Chilton lagi.

“Nggak masalah. Semuanya baik. Cuma kelelahan.”

“Oke. Terima kasih, Dokter!”

Chilton menunggu Delana sampai sadar dan mengantarnya pulang.

“Sampai sini aja!” pinta Delana begitu Chilton mengantarnya sampai di depan gang rumah.

“Kenapa? Aku bisa antar kamu sampe depan rumah.”

“Nggak usah. Makasih ya!” ucap Delana. “Maaf, aku sudah ngerepotin kamu tadi. Aku—”

“Nggak papa.”

Delana tersenyum sembari melepas safety belt yang mengikat di pinggangnya. “Oh ya, aku boleh minta nomer hapemu?” tanya Delana sebelum ia keluar dari mobil.

Chilton langsung menyebutkan nomor ponselnya dengan cepat.

Delana mengerutkan hidungnya. “Niat ngasih nggak, sih!?”

“Enggak!” Chilton menjulurkan lidahnya.

“Dasar cowok pelit!” celetuk Delana.

Chilton tertawa sembari mengulurkan ponselnya ke arah Delana.

Delana mengerutkan keningnya. “Aku minta nomer hape. Kenapa malah dikasih hape? Kamu baik banget sih?” Delana langsung menyambar ponsel Chilton dengan cepat.

“Eh, siapa juga yang ngasih hape? Itu hape kamu pake buat missed call nomermu! Aku nggak hafal nomerku sendiri,” sahut Chilton sewot.

Delana tertawa kecil. “Cowok emang jarang yang bisa hafal nomer hp-nya sendiri. Paling yang dihapal cuma nomer sepatu sama nomer punggung kesebelasan favorite.”

“Nah, itu tau!”

Delana menekan nomer di ponsel Chilton dan langsung melakukan panggilan. Setelah ponselnya berdering, ia langsung mematikan panggilan dan mengembalikan ponsel Chilton.

“Makasih, ya!” Delana membuka pintu mobil dan langsung keluar. Ia berdiri di trotoar sembari menunggu Chilton menjalankan mobilnya.

Delana melambaikan tangan ke arah mobil Chilton yang mulai menjauh.

 

***

 

“Lagi apa?” Delana mengirim pesan ke Chilton saat ia sedang berkumpul di kamar Belvina.

“Mabar,” balas Chilton singkat.

“Udah makan?”

Pesan Delana tak lagi mendapat balasan dari Chilton. Dua puluh menit kemudian, barulah Chilton membalas pesannya.

“Ini lagi mau keluar cari makan.”

Delana memutar-mutar ponselnya. Ia ingin membalas lagi pesan dari Chilton. Tapi, niatnya ia urungkan karena Chilton akan pergi keluar mencari makan. Pastinya tidak akan membalas pesan dari Delana lagi.

Sejak mendapat nomer ponsel Chilton. Delana sering mengirim pesan pagi, siang, sore malam kepada Chilton.

“Kamu chatting sama siapa, sih? Senyum-senyum terus dari tadi,” tanya Belvi melirik ponsel Delana.

“Ada, deh. Kepo aja deh, kamu.” Delana menutup layar ponsel dengan dadanya.

“Paling chatting sama si pujaan hati,” sahut Ivona.

“Ya iya, lah.” Delana menyambar ucapan Ivona dengan perasaan bangga.

“Eh, Bel ... mabar apaan sih?” tanya Delana.

“Mabar? Main bareng kali, Del.”

“Main game gitu ya?” tanya Delana.

“Iya. Game online, kan bisa main bareng-bareng.”

“Yang gimana sih gamenya?”

“Banyak. Ada ML, PUBG, FF dan lain-lain.”

“Kira-kira dia main apa ya?” tanya Delana.

“Dia siapa?” tanya Belvi.

“Chilton.”

“PUBG kali, Del.” Ivona ikut menyahut.

“Yang kayak gimana tuh game-nya?” tanya Delana.

“Yang tembak-tembakan gitu deh kayaknya,” sahut Ivona.

“Yang gimana sih?” tanya Delana masih penasaran.

“Ini.” Belvi menunjukkan game yang sedang dimainkannya.

“Seru kayaknya tuh.”

“Banget!”

“Pantesan dari kemarin aku tanya dia lagi apa, katanya mabar-mabar mulu. Nggak paham aku, mabar tuh apaan,” gumam Delana.

“Cara mainnya gimana?” tanya Delana pada Belvi.

“Download dulu!” jawab Belvi.

“Terus?” Delana langsung mendownload permainan yang dimaksud Belvi. “Cara mainnya gimana?” tanya Belvi.

“Bentar. Aku masih main, nih. Kamu nonton di youtube aja dulu!” sahut Belvi.

Delana berdecak kesal. Ia kemudian menonton cara bermain terlebih dahulu lewat video youtube.

Ivona memerhatikan dua sahabatnya yang sedang berbaring di atas ranjang sambil bermain game. Ia sama sekali tidak tertarik dengan game apa pun. Ia lebih suka chatting atau teleponan dengan seseorang. Tapi, kali ini ia sibuk membersihkan kukunya dan mengganti warna kuku yang tadinya berwarna pink menjadi warna merah maroon.

“Bel, ajarin aku main!” rengek Delana.

“Bentar, Del. Dikit lagi, nih. Kamu nonton dulu aja cara mainnya!”

“Udah. Tapi, aku masih bingung.”

“Iya, sebentar putri Delana yang yang cantik jelita, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung ...”

“Aku mau ikut main sama Chilton, ntar. Tapi, aku harus tahu dulu cara mainnya. Kalo aku kalahan, mana mau dia main sama aku,” gumam Delana.

“Iya. Main sama yang kalahan mah males. Bawaannya emosi. Ntar kamu ditelan mentah-mentah sama Chilton kalo kalahan.”

“Makanya, ajarin aku, cepet!”

“Iya. Aku invite ya!” tutur Belvi.

Delana akhirnya belajar bermain game dari Belvi. Belvi memang tomboy dan lumayan suka bermain game online.

 

***

Delana menunggu Chilton di taman seperti biasa. Ia tak pernah lupa membawakan sarapan pagi untuk Chilton sebelum jam pelajaran mereka dimulai.

“Sudah lama nunggu?” tanya Chilton.

“Belum.”

Chilton bergeming.

Delana menyodorkan bekal sarapan untuk Chilton. “Kamu nggak jogging?” tanya Delana yang melihat Chilton tidak mengenakan sepatu dan pakaian olahraganya.

“Nggak.”

“Kenapa?”

“Kesiangan bangunnya.”

“Oh. Begadang lagi?” tanya Delana.

Chilton nyengir menanggapi pertanyaan Delana.

“Kalo begadang ngapain aja sih?” tanya Delana.

“Mabar.”

“Game online?” tanya Delana.

“Iya.”

“Kamu sering begadang main game?” tanya Delana saat Chilton sudah asyik memakan makanan yang dibawakan Delana.

“Kenapa?” tanya Chilton balik.

“Apa pertanyaan harus dijawab dengan pertanyaan?” Delana lumayan kesal setiap kali bertanya harus mendapat jawaban pertanyaan. Baginya, pertanyaan dari pertanyaan adalah salah satu cara untuk mengalihkan pembicaraan agar kita lupa pada topik utama atau pertanyaan yang sebenarnya.

Chilton tersenyum. “Ya. Kadang-kadang.”

“Game apa?” tanya Delana.

“PUBG.”

“Ajakin aku main, dong!” pinta Delana.

Chilton mengerutkan keningnya. Ia pikir, Delana akan marah karena ia menghabiskan waktunya semalaman untuk bermain game. Tapi, cewek satu ini malah minta diajak bermain game bersama.

“Kok, diam? Kamu nggak mau ajak aku main?” tanya Delana.

Chilton tertawa kecil. “Nanti aku invite kalo aku main sama temen-temenku.”

“Seriusan?” tanya Delana dengan mata berbinar.

Chilton menganggukkan kepalanya. “Tapi, ada syaratnya.”

“Apa itu?” tanya Delana.

“Aku nggak suka main sama noob. Aku keluarkan dari permainan kalau sampe kamu noob, ya?”

“Hmm ...” Delana memutar bola matanya. “Oke. Setuju!”

Chilton mengacungkan jempolnya.

“Kalau aku yang menang terus, kamu kasih apa?” tanya Delana.

“Kamu mau apa?” tanya Chilton.

“Nanti aja aku mintanya kalau aku udah menang.”

“Sok jaim!” celetuk Chilton.

Delana mencebik ke arah Chilton. Tingkahnya membuat Chilton gemas dan hampir mencubit bibir mungilnya itu.

 

***

Delana berusaha keras berlatih game agar tidak jadi noob dan bisa masuk squad Chilton. Ia sering tidur larut malam dan menjadikan Belvi sebagai sasaran untuk membantunya berlatih game online. Ia juga sering menonton review beberapa pemain game profesional dari video youtube.

“Bel, help me! Aku knock, aku knock!” teriak Delana. Ia semakin asyik bermain game sambil berteriak-teriak sendiri di dalam kamarnya.

Teriakan-teriakannya mengundang perhatian isi rumah termasuk ayah dan adiknya.

“Kakak kamu ngapain di kamar? Dari kemarin ayah perhatikan, dia teriak-teriak terus. Telponan kok teriak-teriak begitu?” Ayah Delana bertanya pada adik Delana.

“Main PUBG, yah.”

“PUBG?” Harun mengernyitkan dahinya. Ia menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putri kesayangannya itu. Bukannya rajin belajar malah rajin bermain game.

“Dela ...!” teriak Harun dari ruang keluarga. “Delaa ...!”

“Nggak bakal denger, Yah. Kakak pakai earphone.”

“Naik! Panggilin kakak kamu biar dia turun,” pinta Harun.

Bryan bangkit, menaiki anak tangga perlahan dan membuka pintu kamar kakaknya yang sedikit terbuka.

“Ada apa?” tanya Delana tanpa suara ketika melihat adiknya masuk ke dalam kamar.

“Dipanggil ayah.”

“Duh, bentar ya!”

“Cepet, kak! Ayah udah teriak-teriak dari tadi, kakak nggak denger,” ucap Bryan. Ia langsung meninggalkan kakaknya yang masih asyik bermain game.

“Aduh, AFK lagi aku!” seru Delana sembari meletakkan ponselnya di atas meja. Ia bergegas turun dari kamarnya.

“Lagi apa?” tanya Harun begitu anaknya sudah duduk bersamanya.

“Mmh, lagi main, Yah.”

“Bukannya belajar malah main!?” sentah Ayahnya.

“Sudah, Yah. Aku sudah belajar tadi. Lagian, capek kalo suruh belajar terus. Aku main game cuma hiburan aja pas waktu aku luang,” cerocos Delana. “Daripada aku keluyuran malam-malam, mending aku main game aja kan, Yah?”

Harun menghela napasnya. Ia memang tidak pernah bisa menang berdebat dengan anaknya. Apa pun yang diinginkan Delana, selalu saja ia turuti. Membuat putri kecilnya itu sedikit berani melawan ayahnya. Walau begitu, ia juga tetap menyayangi ayah dan adiknya.

“Ya sudah. Jangan tidur larut malam!” pinta Harun.

“Oke.” Delana menautkan jempol tangan dan jari telunjuknya.

Harun kembali fokus menonton berita yang ada di televisi.

“Udah, Yah?” tanya Delana.

“Udah.”

“Delana boleh balik ke kamar?” tanya Delana hati-hati.

Harun menganggukkan kepalanya.

Delana langsung berlari kembali ke kamarnya. Ia mengambil ponsel dan langsung menelepon Belvi yang bermain dengannya sejak tadi.

“Bel, main lagi, yuk!” ajak Delana lagi begitu teleponnya tersambung.

“Kenapa tadi?” tanya Belvi.

“Dipanggil sama Ayah.”

“Oh. Ayo main lagi!” Belvi langsung mematikan telepon. Mereka kembali asyik bermain game online sambil mengobrol.

“Huu .... berhasil!” teriak Delana. “Sembilan kill!” Delana melonjak kegirangan.

“Ayo, main lagi!” ajak Delana lagi.

“Udah, Del. Aku mau tidur.”

Delana melirik jam dinding yang ada di kamarnya yang sudah menunjukkan jam dua belas malam. Besok mereka harus kuliah pagi dan mereka memutuskan untuk mengakhiri permainan.

 

***

Delana sedang mengerjakan tugas kuliahnya saat Chilton tiba-tiba melakukan panggilan video.

“Halo ... kenapa?” tanya Delana begitu ia menjawab panggilan video dari Chilton.

“Nggak papa. Aku mau invite kamu nge-game. Udah siap?” tanya Chilton.

“Mmh ... aku masih ngerjain tugas kuliah.” Delana menunjukkan buku-buku di hadapannya.

“Oh. Ya udah, kerjain aja dulu tugas kuliahmu. Kalau udah nggak sibuk, chat aku ya!” pinta Chilton.

Delana tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

“Oke. Aku main sama yang lain dulu, ya? Bye ...!” Chilton melambaikan tangan dan langsung mematikan sambungan Video Call.

Delana menghela napas lega. Untungnya Chilton menelepon saat ia sedang belajar. Jadi, dia punya alasan tepat untuk menunda bergabung bermain game bersama Chilton. Ia masih harus berlatih beberapa kali lagi sampai ia bisa jadi pemain yang bisa diandalkan teman-temannya. Ia tak ingin mengecewakan Chilton karena noob terus.

Sementara itu, Chilton sedikit kecewa karena Delana tak kunjung bergabung ke dalam timnya. Alasannya masih banyak tugas kuliah dan ia bisa memahaminya.

“Kenapa?” tanya Attala, teman baik Chilton yang sering menemaninya bermain game bersama di kamar Chilton.

“Nggak papa.”

“Kamu ngajak nge-game siapa sih? Lemes amat? Kayak abis ditolak cintanya aja,” celetuk Atalla.

“Ngaramput!” Chilton melempar Atalla dengan snack yang ada di tangannya.

“Oh ... aku tahu. Cewek yang sering ketemu sama kamu di taman itu ya?” goda Atalla.

Chilton tersenyum menaanggapi pertanyaan Atalla. Ia tidak bisa memungkiri juga tak bisa mengiyakan begitu saja.

“Hmm ... dia cantik, baik, ceria, ramah dan kelihatannya penyayang,” tutur Atalla.

“Sok tahu!”

“Yah, emang aku belum kenal dia langsung. Tapi, semua orang udah tahu tentang dia karena selama ini cuma dia aja cewek yang deket sama kamu. Jelas aja kalian berdua jadi bahan pembicaraan di mana-mana.”

“Cowok nggak usah ikutan gosip!” Chilton kembali melempar makanan ke arah Atalla yang bertubuh gembul itu.

Atalla tergelak. “Aku nggak ikutan. Cuma denger-denger aja.”

“Sama aja!”

“Apa yang kamu suka dari dia?” tanya Attala.

“Hmm ... awalnya, aku suka masakannya dia. Aku bisa nolak perasaan cewek. Tapi, kalo makanan enak ... sulit buat ditolak.”

“Serius? Masakannya enak? Aku dicipratin sekali-sekali napa?”

“Ya. Entar aku cipratin pake air kobokan!”

“Tega banget sama temen.”

“Dia kalo bawain sarapan cuma satu porsi. Udah gitu masakannya enak banget. Itu aja aku masih kurang. Gimana mau bagi ke kamu? Mending aku makan sendiri,” tutur Chilton.

Attala menelan ludah membayangkan makanan yang diceritakan oleh Chilton. Ia hanya bisa membayangkan saja. Tidak bisa benar-benar menikmati rasanya.

“Ayo, main lagi!” ajak Chilton.

“Ayo.” Attala menanggapi.

Mereka kembali asyik bermain game bersama.

 

***

“Chilton ...!” Beberapa mahasiswi berteriak dan mengerubungi Chilton saat ia melintas. Ia merasa kurang nyaman dengan mahasiswi yang kerap kali bergelayut tanpa izin di lengannya. Ia menyingkirkan satu per satu dengan sopan.

Dari kejauhan, Chilton melihat Delana yang sedang berdiri di depan papan informasi seorang diri. Dari sekian banyak cewek yang heboh saat ia keluar kelas, cuma Delana yang terlihat bersikap biasa saja.

Chilton melangkahkan kaki mendekati Delana. Membuat cewek-cewek kampus yang mendekatinya gigit jari dan kesal karena Chilton lebih memilih Delana ketimbang mereka yang sudah berdandan habis-habisan untuk bisa menarik perhatian Chilton.

“Del, masih banyak tugas?” tanya Chilton saat ia sudah berdiri di samping Delana.

“Eh!? Kenapa?” tanya Delana sambil menoleh ke arah Chilton.

“Mabar,” bisik Chilton di telinga Delana. Ia tak peduli dengan beberapa pasang mata yang menatap kedekatan mereka.

“Aargh ...!” teriak cewek-cewek kampus karena mereka melihat Chilton seolah ingin mencium pipi Delana.

“Oh, No!” teriak yang lainnya.

Seketika suasana menjadi riuh. Delana langsung memutar kepalanya menghadap ke belakang, mencari tahu kenapa tiba-tiba mahasiswi di belakangnya berteriak-teriak tak karuan.

Chilton membalikkan tubuh Delana kembali dan merangkulnya. Ia mengajak Delana berjalan menyusuri koridor menuju ke taman, tempat mereka biasa bertemu.

“Mereka kenapa?” tanya Delana masih bingung.

“Udah, nggak usah dipikirin!” Chilton sudah hafal kelakuan cewek-cewek di kampusnya. Dia merasa terganggu dengan teriakan-teriakan centil itu. Hanya bersama Delana, ia merasa tenang dan aman dari godaan cewek-cewek di kampusnya.

“Kamu masih banyak tugas?” tanya Chilton sambil berjalan-jalan santai di sekitar taman.

“Hmm, nggak sih. Udah kelar. Tadi, udah aku kasih ke dosen.”

“Good! Kalo gitu entar malem udah siap mabar?” tanya Chilton.

Delana mengangguk-anggukkan kepalanya. “Jam berapa?” tanya Delana.

“Kamu bisanya jam berapa?”

“Mmh ... ntar malam, malam minggu ya?” Delana merapatkan bibirnya sembari menatap ke langit.

“Iya. Kamu sudah ada jadwal kencan?” tanya Chilton sambil melirik Delana. Ia memasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku celananya.

“Apaan sih!? Kencan sama siapa?” tanya Delana balik.

“Yah ... sama siapa aja.”

“Hmm ... iya, sih. Biasanya, ayah ngajak aku kencan.”

Chilton mengernyitkan dahinya. “Emangnya kalau ayah sama anak makan malam bareng, itu bisa dibilang kencan?”

“Mmh ... Maybe,” sahut Delana sambil tertawa kecil.

Chilton ikut tertawa.

“Kamu chat aku kalau sudah ada waktu ya!” pinta Chilton.

“Emang kamu nggak jalan? Malam mingguan?” tanya Delana.

“Enggak.”

“Bagus, deh!”

“Apanya yang bagus?” tanya Chilton.

“Ya bagus kalo di rumah aja. Aku nggak perlu khawatir kamu ngilang atau diculik.”

“Siapa yang mau nyulik aku?” tanya Chilton.

“Siapa? Banyak kali fans-fans fanatik kamu itu.”

“Iiiii....” Chilton mengedikkan bahunya.

Delana tergelak. Ia tahu, kemanapun Chilton pergi akan selalu menjadi sebutir gula yang diperebutkan semut-semut cantik. “Susah sih, kalau artis mah gitu!” celetuk Delana.

“Artis apaan!?”

“Artis ... tik,” jawab Delana ngasal.

Chilton mengernyitkan dahinya. “Artistik?”

“Iya. Kamu itu artistik. Makanya selalu jadi pusat perhatian banyak orang.”

“Tahu dari mana?”

“Lihat aja tuh!” Delana menunjuk beberapa cewek yang sedang menatap kebersamaan mereka.

Chilton menoleh ke arah yang ditunjuk Delana. Cewek-cewek itu langsung berpura-pura mengobrol membelakangi mereka.

“Saat kita ngobrol kayak gini. Banyak banget cewek-cewek yang perhatiin kita. Aku sebenarnya kurang nyaman. Apalagi omongan mereka tuh kadang nyelekit banget. Tapi, makin ke sini aku makin nggak peduli sama omongannya mereka,” tutur Delana.

“Oh ya? Emang mereka ngomongin kamu apa?” tanya Chilton menghentikan langkahnya.

Duh, Delana keceplosan! Tidak seharusnya ia mengatakan pada Chilton kalau hari-harinya cukup bermasalah saat mereka sering bertemu dan mengobrol.

“Mereka ngomong apa?” tanya Chilton sekali lagi.

“Eh!? Nggak ngomong apa-apa. Udah, lupain aja!” Delana tertawa untuk menunjukkan pada Chilton bahwa ia baik-baik saja.

“Oke. Ntar malam aku tunggu ya!”

“Tunggu apa?”

“Mabar.” Chilton melirik jam yang ada di tangannya. “Aku balik ke kelas dulu!” ucapnya dan langsung berlari kembali ke kelasnya agar tak dicegat oleh cewek-cewek agresif yang tak sungkan menarik dan bergelayut manja di lengannya.

Delana tertawa kecil sembari menatap punggung Chilton yang mulai menjauh dan hilang dari pandangannya. Ia tahu, ia tak bisa melakukan apa pun untuk bisa membuat Chilton terkesan kepadanya selain hati yang ia bingkai indah untuk cowok itu. Ia rela melakukan apa saja demi Chilton. Ia rela bangun lebih pagi untuk membawakan bekal sarapan. Ia rela tidur larut malam agar bisa tetap menemani cowok itu melalui malam-malamnya.

“Aku tahu, bikin kamu jatuh cinta sama aku itu nggak mudah. Tapi, aku bakal berusaha terus sampai kamu bisa suka sama aku,” ucap Delana lirih. “Kata orang, kalau jodoh nggak bakal ke mana.” Delana terduduk lesu di kursi taman. “Tapi, ngejar jodohnya sampe ke mana-mana.” Delana menertawakan dirinya sendiri.

 

((Bersambung...))

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas