Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 524 : Peran Hans (IT Muda Berbakat)

 


“Pak Bos, handphone ibu Melan sudah saya kembalikan ke mobilnya,” tutur salah seorang anak buah Yeriko saat ia sudah masuk ke dalam ruang kerja Yeriko.

 

“Bagus!” sahut Yeriko.

 

Pria itu langsung mengangguk dan bergegas keluar dari ruangan usai memberikan laporan untuk bosnya.

 

“Hans, udah bisa?” tanya Yeriko.

 

“Bentar, Pak Bos. Tunggu dia nyalakan ponselnya, baru bisa kita lihat semua aktivitas hapenya.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. Ia mengetuk-ngetuk ujung jemari ke atas meja.

 

“Kamu nyadap, Yer?” tanya Lutfi sambil menatap Hans yang duduk di sofa ruang kerja Yeriko.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil sambil memainkan alisnya.

 

“Gimana caranya dapetin hape tante itu?” tanya Lutfi.

 

“Menurut kamu?” tanya Yeriko sambil melirik ke arah Lutfi.

 

“Parah kamu, Yer! Kamu ngerayu tante-tante?”

 

“Bangsat!” sahut Yeriko sambil melempar dokumen ke arah Lutfi. “Aku nggak ngerayu. Aku ngambil handphone dia tanpa dia sadari.”

 

“Aku suka otak licikmu ini, Yer,” tutur Lutfi sambil mengangguk-anggukkan tangannya ke arah Yeriko.

 

Yeriko hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Lutfi. “Oh ya, Chandra mana?”

 

“Masih meeting sama timnya, Pak Bos!” sahut Riyan yang juga berada dalam ruangan itu.

 

“Oh.” Yeriko mengangguk-anggukkan kepala. “Suruh cepet, Yan!”

 

“Siap, Pak Bos!” sahut Riyan, ia bergegas keluar dari ruang kerja Yeriko untuk memanggil Chandra.

 

“Gimana, Hans?” tanya Yeriko pada salah satu karyawan IT Departemen perusahaannya yang paling muda dan paling cekatan di perusahaannya.

 

“Belum nyala, Pak Bos.”

 

“Oke. Kita tunggu sebentar lagi sampai dia menemukan ponselnya!” pinta Yeriko.

 

Hans menganggukkan kepala.

 

“Kamu masih kuliah, Hans?” tanya Lutfi sambil asyik memakan kacang kulit yang sudah ada di atas meja.

 

“Masih, Mas,” jawab Hans sambil menatap Lutfi yang ada di hadapannya.

 

“Semester berapa?”

 

“Semester empat, Mas.”

 

“Hah!? Baru semester empat? Kamu kerja di sini udah berapa lama?”

 

“Tiga tahun,” jawab Hans.

 

“Masih SMA waktu kerja di sini?” tanya Lutfi.

 

Hans menggelengkan kepala. “Sudah lulus, Mas. Tapi saya belum kuliah karena nggak ada biaya. Bos Yeri yang minta saya masuk ke perusahaan ini.”

 

“Serius? Kamu masih semuda ini bisa memikat hati Tuan Ye yang perfeksionis ini. Gimana kamu ngelamar kerjanya? Pakai ijazah SMA?”

 

Hans menganggukkan kepala.

 

“Lut, jangan lihat ijazahnya! Ijazah itu cuma kertas. Yang penting kemampuannya.”

 

“Kamu nemuin anak ini di mana?” tanya Lutfi.

 

“Waktu kompetisi antar sekolah, Mas,” jawab Hans.

 

“Iya. Dia mengembangkan aplikasi yang mudah untuk dunia usaha. Simple untuk kalangan menengah ke bawah. Jadi, aku ambil dia ke sini untuk bisa berkembang dengan tim IT yang lain.”

 

Lutfi mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu beruntung bisa ketemu Yeriko di usia semuda ini. Dia selalu menghargai kemampuan orang lain, bukan titelnya. Walau dia lulusan luar negeri juga.”

 

Hans mengangguk-anggukkan kepala. “Iya, Mas. Saya merasa berhutang budi sama Pak Bos. Beliau yang merekrut saya tanpa melihat usia dan ijazah yang saya miliki. Sekarang, saya bisa kuliah dari gaji yang saya dapatkan di perusahaan ini. Saya juga bisa membiayai adik dan orang tua saya.”

 

Lutfi mengangguk-angguk, ia melihat wajah Hans yang begitu bersemangat menceritakan masa lalunya saat bertemu dengan Yeriko. “Dari umur berapa kamu belajar coding?” tanya Lutfi.

 

“Sepuluh tahun,” jawab Hans.

 

“Hah!? Sepuluh tahun sudah belajar coding?” tanya Lutfi sambil membelalakkan mata. “Aku ... sepuluh tahun ... lagi ngapain ya?” tanyanya lagi pada dirinya sendiri.

 

“Kamu, sepuluh tahun masih main odong-odong,” sahut Yeriko sambil tertawa kecil.

 

“Hahaha. Kayaknya, sih begitu.”

 

Hans ikut tertawa kecil. “Tapi ... Mas Lutfi sudah kaya dari lahir. Nggak perlu kerja keras. Main-main pun, tetap aja kaya.”

 

“Ah, kamu ... mau kaya juga kerja keras. Lebih enak jadi orang seperti kamu, bisa menikmati hidup. Coba lihat si Yeri!” pinta Lutfi sambil menatap Yeriko yang sedang memeriksa dokumen di meja kerjanya.

 

Yeriko langsung melirik ke arah Lutfi begitu namanya disebut.

 

“Ada apa dengan Pak Bos?” tanya Hans.

 

“Semakin besar perusahaannya, semakin banyak orang yang bergantung hidup sama dia. Kalau kamu mikirin dapur keluargamu sendiri, Yeriko mikirin dapurnya ratusan bahkan ribuan keluarga di luar sana. Lihat aja mukanya, cepet tua. Hahaha.”

 

Yeriko langsung mendelik ke arah Lutfi.

 

“Ah, Pak Bos masih muda dan ganteng banget. Saya aja kalah gantengnya,” tutur Hans sambil menatap Yeriko.

 

“Nah, ini baru bener!” sahut Yeriko. “Minta gaji berapa?” tanyanya sambil menahan tawa.

 

“Yang sekarang udah lebih dari cukup, Pak Bos! Nanti, kalau skill saya meningkat, baru boleh minta upah meningkat juga ‘kan?”

 

“Hahaha. Saya suka anak muda seperti kamu,” sahut Yeriko. “Gimana? Udah tersambung?” tanya Yeriko.

 

Hans langsung menyalakan kembali layar laptop yang ada di hadapannya. “Sudah, Pak Bos!” serunya.

 

Yeriko langsung bangkit dari kursi dan menghampiri Hans. “Ada pergerakan apa?” tanyanya.

 

“Belum ada?”

 

“Pesan masuk, pesan keluar, panggilan masuk, panggilan keluar ... semuanya bisa kita lihat dari sini ‘kan?”

 

“Bisa, Pak. Semua pergerakan ponselnya bisa kita lihat dari sini sesuai dengan yang dilakukan pengguna.”

 

“Wah, kamu pintar juga, Hans!” puji Lutfi. “Bisa hack akun bank dia atau nggak? Siapa tahu, bisa ambil duitnya,” tutur Lutfi yang sudah duduk di sebelah Hans sambil menatap layar laptop.

 

Yeriko langsung mengeplak kepala Lutfi. “Kamu mau maling? Kayak kekurangan duit aja!”

 

Lutfi langsung memutar kepala, menoleh ke arah Yeriko yang berdiri di belakangnya. “Lumayan, bisa buat party, Yer!”

 

“Abis party dimasukin bui!” dengus Yeriko.

 

Lutfi terkekeh mendengar ucapan Yeriko. “Emangnya bisa ketahuan?”

 

“Bisa, Mas. Kalau ada IT yang melacak. Kepolisian juga punya badan inteligen yang khusus menangani masalah cyber crime.”

 

“Oh ... aku kira, nggak bisa ketahuan. Ini si Tante Melan tahu atau nggak kalau handphone dia lagi disadap?” tanya Lutfi.

 

Hans menggelengkan kepala.

 

“Wah, calon mafia ini, Yer!” seru Lutfi sambil menunjuk wajah Hans.

 

“Dia nggak akan jadi mafia selama aku masih bisa ngasih dia makan,” sahut Yeriko.

 

“Bisa aja hatinya dia berubah, Yer.”

 

“Mudahan nggak, Mas. Ada orang yang memilih untuk menjadi orang baik dalam kesulitan, ada juga yang memilih untuk menjadi jahat dalam menghadapi kesulitan.”

 

“Kamu pilih yang mana?” tanya Lutfi sambil menatap Hans.

 

“Saya pilih jadi orang baik. Karena Tuhan akan mempertemukan saya dengan orang-orang yang lebih baik dari saya. Contohnya, saya bertemu dengan Bos Ye yang membuat hidup saya banyak berubah,” jawab Hans sambil mengamati pergerakan layar laptopnya.

 

Lutfi tersenyum sambil menatap Hans dan Yeriko bergantian.

 

“Dia karyawanku yang paling muda, cerdas, loyal dan pekerja keras. Punya sepuluh orang anak muda kayak dia di perusahaanku, aku berjaya, Lut,” tutur Yeriko sambil tersenyum bangga.

 

“Kamu memang paling pintar memanfaatkan potensi orang lain, Yer,” sahut Lutfi. Pandangan matanya langsung beralih saat layar laptop Hans mengeluarkan suara.

 

Melan Calling ...

 

“Dia nelepon siapa?” tanya Lutfi.

 

“Nomer yang ini, Mas,” jawab Hans sambil menunjukkan nomor ponsel tanpa nama.

 

“Dengerin aja! Mungkin, itu orang suruhan Melan,” perintah Yeriko.

 

Hans dan Lutfi menganggukkan kepala. Mereka bertiga bersiap menyimak pembicaraan telepon Melan yang sudah mereka sadap sebelumnya.

 

“Halo, Honey ...!” sapa Lonan yang mengangkat panggilan telepon dari Melan.

 

Lutfi dan Yeriko langsung saling pandang begitu mendengar sapaan hangat dari pria asing yang tersambung dengan panggilan telepon Melan.

 

“Halo ...!” balas Melan dengan nada yang sangat lembut. “Yang kamu butuhkan sudah ada. Kita ketemu di mana?” tanya Melan.

 

“Aku nginap di Sheraton Hotel. Kamu ke sini aja! Langsung ke kamarku!”

 

“Kamar nomor berapa?” tanya Melan.

 

“Kamar 235,” jawab Lonan.

 

“Oke, aku ke sana jam tujuh malam.”

 

“Oke, Honey. Aku tunggu secepatnya, ya! Udah nggak sabar pengen ketemu kamu lagi.”

 

“Iya. Aku juga kangen pengen ketemu sama kamu,” tutur Melan. “Sampai jumpa nanti malam!” ucapnya sambil memutuskan panggilan telepon.

 

“Uweeek ...! Jijik aku dengernya!” seru Lutfi sambil bergidik. “Mamanya Belatung parah banget! Pantes aja, anaknya jadi Belatung.”

 

Yeriko hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Lutfi. Ia merogoh ponsel dari saku kemejanya dan langsung menelepon Riyan.

 

“Halo ...!” sapa Riyan begitu panggilan Yeriko tersambung.

 

“Kamu ke mana?”

 

“Ini sudah mau ke ruangan Pak Bos. Nunggu Mas Chandra selesai meeting.”

 

“Cepet! Aku tunggu!” seru Yeriko.

 

“Kami udah sampai,” seru Chandra yang baru saja masuk ke ruangan Yeriko bersama dengan Riyan.

 

Yeriko langsung memutar tubuhnya menatap Chandra dan Riyan. “Yan, tolong booking kamar yang berseberangan dengan kamar 235 di Sheraton Hotel. Sekarang juga!” perintahnya.

 

“Siap, Pak Bos!” sahut Riyan sambil merogoh ponsel dan menghubungi pihak hotel untuk memesan kamar yang diinginkan oleh bosnya.

 

Yeriko langsung duduk sambil menyandarkan tubuhnya di sofa. “Ada permainan baru,” gumamnya sambil tersenyum. Ia menatap layar ponsel, kemudian mengirimkan pesan singkat pada Tarudi untuk bertemu dengannya di Sheraton Hotel.

 

“Ada rencana apa?” tanya Chandra yang baru saja bergabung dengan mereka.

 

“Melan sama Lonan bakal ketemu malam ini di Sheraton Hotel.”

 

“Kita mau nangkap orang yang lagi selingkuh?” tanya Chandra.

 

“Bukan kita, tapi suaminya,” jawab Yeriko sambil memainkan alisnya. “Aku udah kirim pesan ke Oom Rudi. Dia bakal datang ke sana di jam yang sama. Usahakan, semua terlihat secara alami. Kita cukup jadi penonton aja!”

 

“Hahaha. Udah ngerti isi otakmu. Jadi, malam ini kita ke Sheraton?” tanya Chandra.

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Yes! ada tontonan seru malam ini!” seru Lutfi sambil tertawa bahagia. “Aku ngebayangin dulu gimana Tante Melan yang lagi enak-enak sama pacarnya, terus ketahuan sama suaminya. Hahaha.”

 

Yeriko hanya tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya itu tertawa lebar. Mereka mulai menyusun rencana untuk membuat Melan jatuh secara perlahan tanpa bisa kembali ke tempat yang saat ini ia rebut dengan cara yang tidak manusiawi.

 

((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 523 : Kemunculan Lonan

 


“Jeng, lihat deh! Aku baru aja beli tas limited edition keluaran terbaru. Murah banget! Cuma tiga ratus juta,” tutur salah satu teman Melan saat mereka berkumpul di salah satu restoran mewah yang ada di pusat kota.

 

“Itu keluaran brand yang lagi hits itu ya? Aku udah nggak kebagian. Kok, kamu bisa dapet sih?” sahut wanita yang lainnya lagi.

 

“Dapet, dong. Aku selalu langganan newsletter produk ini. Jadi, waktu rilis produk baru ... aku langsung order. Termasuk beruntung karena ada jutaan orang yang pengen produk ini.”

 

“Lebih beruntung lagi kalau suami langsung kasih izin buat beli tas keluaran terbaru,” sahut yang lainnya.

 

“Yaelah, aku mah nggak perlu izin sama suami kalau mau beli tas branded. Uang yang dia kasih buat aku, nggak pernah ditanyain lagi untuk apa. Waktu ulang tahun kemarin, dia bahkan belikan aku tas yang harganya tujuh ratus juta.”

 

“Wah, enak banget kalau punya suami kayak gitu.”

 

“Iya, dong. Eh, Jeng Melan ... kenapa diam aja? Nggak kebagian tas keluaran baru atau nggak dikasih izin suami buat beli tas baru?” tanya wanita paruh baya yang sedang memamerkan tas branded yang baru saja ia beli.

 

“Belum ada yang menarik perhatianku. Design tasnya biasa aja,” sahut Melan.

 

“Kok, biasa aja? Ini design-nya bagus banget. Mewah dan elegan. Perpaduan warnanya juga keren, cocok banget buat ibu-ibu sosialita kayak kita.”

 

Melan hanya menanggapi ucapan wanita itu dengan senyuman. “Buat aku, masih biasa aja.”

 

“Halah, bilang aja kalau mau beli tas mahal ... masih perlu izin dari suami,” celetuk wanita lainnya.

 

Melan tersenyum kecut. Ia memang tidak bisa menggunakan uang dari suaminya untuk sembarang hal. Terlebih, saat ini ia harus memberikan banyak uang untuk Lonan. Membuat ia berpikir dua kali jika ingin membeli tas keluaran terbaru.

 

“Selamat siang ...!” Suara seorang pria mengalihkan perhatian semua orang.

 

Semua orang yang ada di ruangan itu terlihat mengamati pria yang sudah berdiri di sebelah mereka.

 

Melan langsung melebarkan kelopak matanya begitu melihat Lonan sudah ada di sana dengan penampilan yang berantakan.

 

“Siapa ya?” tanya salah seorang wanita sambil menatap risih ke arah Lonan.

 

“Aku nyari dia,” jawab Lonan sambil menunjuk wajah Melan.

 

Semua orang langsung menoleh ke arah Melan.

 

“Kamu kenal sama laki-laki ini?” tanya salah seorang wanita sambil menatap Melan.

 

Melan hanya meringis menanggapi pertanyaan dari teman-teman arisannya. “Adik sepupuku dari jauh,” jawab Melan. Ia bangkit dari tempat duduk dan menarik Lonan menjauh dari kerumunan teman-teman arisannya.

 

“Kamu ngapain ke sini?” bisik Melan sambil menatap wajah Lonan.

 

“Nyari kamu. Aku udah telepon, nomor kamu nggak aktif. Kamu mau kabur dari aku setelah manfaatin aku?”

 

“Kabur gimana? Aku lupa taruh hapeku. Sampai sekarang, masih belum ketemu.”

 

“Aku nggak peduli sama itu. Aku cuma mau, kamu kasih aku uang lagi!”

 

“Kemarin baru aja aku kasih uang, udah habis?” tanya Melan berbisik.

 

“Uang yang kamu kasih ke aku, cuma bisa buat bertahan dua hari,” jawab Lonan. “Kamu tahu, aku baru keluar dari penjara dan nggak punya uang untuk bertahan hidup. Aku cuma bisa mengandalkan uang dari kamu.”

 

“Tapi, aku belum bisa kasih kamu uang sekarang.”

 

“Aku udah banyak bantu kamu tanpa memperhitungkan apa pun. Kamu masih mau perhitungan sama aku? Aku bakal bilang ke semua orang, siapa aku sebenarnya!”

 

Melan menghela napas. “Oke. Oke. Aku kasih kamu uang, tapi jangan macam-macam lagi!”

 

Lonan langsung tersenyum manis ke arah Melan. “Gitu, dong!” tuturnya sambil menyolek dagu Melan.

 

Melan menepis tangan Lonan begitu saja. Ia mengeluarkan uang yang ada di dompetnya dan menyodorkan ke arah Lonan.

 

“Cuma segini?” tanya Lonan sambil menatap lembaran uang merah yang tak lebih dari sepuluh juta rupiah. Amarahnya langsung tersulut karena merasa dimanfaatkan oleh Melan tanpa imbalan setimpal seperti yang ia inginkan.

 

“Aku cuma ada uang ini aja,” sahut Melan berbisik.

 

“Uang segini, nggak akan bisa membungkam mulutku. Ini cuma cukup buat hidup sehari. Kamu mau main-main sama aku, hah!?”

 

“Nan, aku cuma ada segini dulu. Nanti, aku kasih lagi setelah ...”

 

“Aku mau bayaran yang setimpal. Kalau kamu nggak mau ngasih uang yang aku butuhkan, aku bakal seret kamu dalam kasus ini!” tegas Lonan.

 

“Iya. Aku pasti kasih uang yang kamu butuhkan,” sahut Melan lirih. “Nanti, kita atur waktu untuk ketemu lagi. Aku masih arisan, aku selesaikan arisanku, dulu. Gimana?”

 

Lonan langsung menoleh ke arah kumpulan ibu-ibu yang menjadi teman arisan Melan. Ia tertawa kecil sambil mengalahkan pandangannya ke arah Melan. “Kamu beneran sudah jadi orang kaya?”

 

Melan menghela napas. “Kamu kira, incaranku itu main-main kekayaannya?”

 

Lonan tersenyum sambil menatap Melan. “Baguslah. Setidaknya, aku juga bisa ikut menikmati kekayaan suami kamu yang bodoh itu, hahaha.”

 

Melan tersenyum sambil menatap Lonan. Matanya kemudian tertuju pada teman-teman arisan yang mulai mengalihkan perhatian ke arahnya. “Sekarang, kamu pulang!”

 

Lonan mengangkat kedua alisnya. “Pulang ke mana dengan uang segini.”

 

“Itu cukup untuk check-in hotel. Aku bakal temui kamu ntar malam untuk ngantar uang yang kamu butuhkan.”

 

Lonan menganggukkan kepala. “Oke. Aku bakal tunggu kamu nanti malam.”

 

Melan menganggukkan kepala. “Cepat pergi!” pintanya lirih.

 

Lonan tersenyum sambil menatap wajah Melan selama beberapa detik. Ia langsung berbalik dan pergi meninggalkan Melan begitu saja.

 

Melan langsung menghela napas begitu melihat Lonan sudah pergi dari hadapannya. “Huft, ini orang bikin panik aja,” celetuknya sambil melangkahkan kaki menghanpiri meja teman-teman arisannya kembali.

 

“Ada apa dengan sepupu kamu itu?” tanya salah seorang wanita.

 

“Nggak ada apa-apa,” jawab Melan.

 

“Kelihatannya, sepupu kamu itu ... bukan dari keluarga kaya. Penampilannya nggak banget.”

 

Melan tersenyum kecut. “Dia memang lebih suka tampil apa adanya.”

 

“Oh. Merendah gitu ya?” sahut wanita lain sambil mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Yah, seperti itulah,” sahut Melan. Ia tidak ingin semua teman-teman sosialitanya mengetahui siapa Lonan sebenarnya. Ia juga tak ingin dipandang rendah oleh teman-teman yang lain hanya karena uang.

 

“Jeng, aku balik duluan ya! Mau jemput anak kesayangan di sekolah,” pamit salah seorang wanita yang ada di sana.

 

“Emangnya nggak pakai supir?”

 

“Ada supir. Tapi, dia lebih bahagia kalau mamanya yang jemput langsung. Aku juga lebih suka mengurus anakku sendiri. Kalau soal anak, jangan sampai diurus orang lain.”

 

Wanita yang lain mengangguk-angguk sambil tersenyum. Usai salah satu temannya pergi dari tempat itu, mereka semua keluar satu per satu dari restoran.

 

Melan menghela napas begitu semua temannya pergi. Ia merasa kali ini hidupnya tidak sesantai biasanya. Ia tidak menikmati apa yang dia lakukan hari ini. Perasaannya masih cemas karena banyak hal yang tidak bisa ia tebak ke depannya.

 

“Huft, mungkin cuma  perasaanku aja,” gumam Melan sambil bangkit dari tempat duduk, melangkah keluar menuju parkiran.

 

Melan membuka pintu mobil, ia langsung duduk di belakang kemudi sambil memasukkan kunci dengan tangan gemetaran.

 

“Kenapa sih ini tangan!?” maki Melan kesal saat kunci mobilnya jatuh ke sela-sela kakinya. Ia menunduk sambil meraba-raba lantai di bawah kakinya.

 

“Astaga ...! Ternyata hapeku di sini!?” seru Melan sambil meraih ponsel dari bawah kakinya. Ia tersenyum bahagia dan kembali mencari kunci mobilnya.

 

Usai mendapatkan kunci, ia langsung bergegas menyalakan mesin mobil. Ia mencoba menyalakan ponselnya yang sudah mati.

 

“Kelamaan nggak di-charge,” gumam Melan sambil mengeluarkan kabel charger yang ia simpan di laci dashboard dan menyambungkan ponselnya untuk mengisi daya baterai.

 

Usai mengisi daya batrainya, ia bergegas menjalankan mobil tersebut keluar dari halaman parkir, kembali menuju rumahnya.

 

((Bersambung ...))

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas