Tuesday, April 28, 2026

Perfect Hero Bab 520 : Hati yang Bergejolak

 


Arjuna terus tersenyum sambil memainkan kunci mobil begitu ia selesai memarkirkan mobilnya. Ia melangkahkan kakinya sambil bersenandung dan menari kegirangan menuju ke lantai apartemennya.

 

“Kamu dari mana?” tanya seorang wanita yang sudah menunggu Arjuna di depan pintu apartemennya.

 

Arjuna mengangkat kedua alisnya. “Kamu udah lama di sini?”

 

Wanita itu menganggukkan kepala. “Kamu dari mana?” tanyanya sekali lagi. “Kamu lupa kalau hari ini ada janji makan siang bareng aku?”

 

Arjuna langsung menepuk dahinya. “Iya, aku lupa. Gimana, kalau aku ganti besok?” tanyanya.

 

Wanita itu terus menatap Arjuna yang menyunggingkan senyum dan terlihat sangat bahagia. Sejak kecil, mereka selalu bersama ... namun, baru kali ini ia melihat wajah Arjuna begitu ceria setelah sekian lama.

 

“Kamu ngapain aja siang ini?” tanya wanita itu.

 

“Aku? Menikmati hidup, seperti biasa,” jawab Arjuna sambil membuka pintu apartemennya.

 

“Kamu punya mainan baru lagi?” tanya wanita itu sambil mengikuti langkah Arjuna memasuki apartemennya.

 

“Mmh ... bukan mainan. Tapi, cukup menyenangkan,” jawab Arjuna sambil tersenyum manis membayangkan wajah Yuna yang baru saja bersamanya.

 

Wanita itu menatap Arjuna yang begitu terlihat bahagia. Semenjak papanya meninggal setahun lalu, ia tidak pernah melihat Arjuna tersenyum. Ia merasa tertohok karena telah menemani Arjuna bertahun-tahun, tapi tetap tidak bisa membuat Arjuna meliriknya.

 

“Kamu nggak sibuk hari ini?” tanya Arjuna.

 

Wanita itu menggelengkan kepala. “Nanti malam, kita makan bareng, yuk! Gimana?”

 

“Ntar malam aku di klub. Kamu ke klub aja!”

 

Wanita itu menghela napas. Ia tidak suka menghampiri Arjuna di klub karena terlalu berisik, tidak ada waktu untuk bicara berdua saja.

 

“Vina, aku mau tidur. Kalau nggak ada yang mau kamu urus di sini, lebih baik kamu pulang!” pinta Arjuna.

 

Wanita muda bernama Vina itu langsung mendengus kesal. Ia menghentakkan kaki dan berbalik, melangkah keluar dari apartemen Arjuna. Ia sangat kesal karena Arjuna tetap saja menganggapnya sebagai teman biasa walau banyak hal yang sudah ia lakukan untuk pria itu.

 

 

 

...

 

 

 

Yuna terkejut saat melihat suaminya sudah ada di dalam rumah saat ia kembali dari makan siangnya.

 

“Ay, kamu udah pulang?” tanya Yuna sambil menghampiri Yeriko yang duduk di sofa sambil membaca majalah.

 

“Kenapa? Nggak boleh pulang cepat?” tanya Yeriko balik tanpa menoleh ke arah Yuna.

 

Yuna menahan tawa melihat sikap suaminya. “Kamu cemburu?”

 

Yeriko langsung melirik tajam ke arah Yuna. “Kamu pergi makan siang sama pria lain, gimana aku nggak cemburu?”

 

Yuna tersenyum, ia menghampiri Yeriko dan duduk di sebelahnya. “Ay, aku kan udah bilang kalau aku mau makan siang sama Arjuna. Aku punya hutang budi sama dia. Nggak ada maksud lain.”

 

“Kamu nggak ada maksud lain. Gimana sama dia?” tanya Yeriko.

 

“Kamu cemburu sama anak-anak? Dia itu jauh lebih muda dari aku. Baru dua puluh tahun. Mana ada anak muda yang mau sama perempuan yang lebih tua dan dalam keadaan hamil seperti aku. Udahlah, jangan cemburuan terus!” pinta Yuna sambil meletakkan dagunya di bahu Yeriko.

 

Yeriko melirik wajah Yuna yang begitu dekat dengan pipinya. “Kamu jangan berkeliaran di luar sana sama pria lain. Gimana kalau ada yang fotoin kamu dan dijadiin headline koran atau majalah? Kamu harus tahu posisi kamu sekarang!”

 

Yuna menghela napas. Ia mengangguk-anggukkan kepala. Ia tidak bisa membantah apa pun ucapan suaminya. Hanya bisa menuruti agar tidak membuat mereka bertengkar hanya karena masalah kecil.

 

Yeriko langsung merengkuh kepala Yuna ke dalam pelukannya. Pikirannya masih terganggu dengan kehadiran Arjuna yang masih sangat muda dan tampan. “Kehadiran Lian dan Andre aja sudah bikin aku kesal. Sekarang, datang lagi pria muda yang mau deketin kamu. Ck, kenapa sainganku semakin bertambah? Padahal, kamu sudah hamil seperti ini. Apa cowok-cowok zaman sekarang lebih senang mengincar istri orang?”

 

Yuna tertawa kecil sambil menatap wajah Yeriko. “Perasaan kamu aja. Mereka pria yang normal. Wilian sudah punya istri, Andre juga sudah punya tunangan. Kamu nggak perlu berpikir terlalu jauh!” pinta Yuna.

 

Yeriko memperhatikan wajah Yuna. “Oh ya, kenapa kamu nggak pernah cemburu sama aku?”

 

“Cemburu? Sering. Tapi aku nggak posesif kayak kamu.”

 

“Posesif? Emangnya aku posesif?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Nggak, kok. Kamu nggak posesif. Cuma ...”

 

“Cuma apa?”

 

“Cuma ... cemburunya kayak Merapi lagi erupsi,” jawab Yuna sambil tertawa.

 

Yeriko hanya tersenyum kecil sambil menatap wajah Yuna. “Kamu yang senang bikin aku erupsi.”

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Yeriko. “Oh, ya ... besok ayah udah boleh keluar dari rumah sakit. Kita jemput dia, gimana?”

 

“Jam berapa?” tanya Yeriko.

 

“Mmh ... mungkin, setelah jam makan siang. Katanya, setelah kunjungan dokter. Biasanya, dokter periksa ayah jam sepuluhan. Jadi, kita jemput dia setelah jam makan siang. Gimana?”

 

“Aku ada jadwal meeting setelah makan siang. Gimana kalau minta temenin Angga?”

 

“Angga lagi temenin Mama Rully ke Jakarta. Dia nggak ada di sini.”

 

“Oh. Aku suruh Riyan. Soalnya, aku nggak bisa tinggalin meetingku kali ini.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala. “Aku ngerti, kok.”

 

“Setelah ini, kamu jangan keluar rumah lagi ya!” pinta Yeriko.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kalau kamu bosan sendirian, panggil Jheni atau Icha ke sini!”

 

“Siap, Bos!”

 

Yeriko tersenyum sambil mengecup kening Yuna. Ia merasa sangat bahagia karena memiliki istri yang mau mematuhi keinginannya.

 

 

 

Keesokan harinya ...

 

Yuna menjemput ayahnya yang sudah sembuh dan membawanya kembali ke apartemen.

 

“Yah, mau makan apa?” tanya Yuna begitu ia sudah masuk ke dalam apartemen Adjie.

 

“Ayah sudah sembuh. Kamu nggak perlu masak untuk Ayah. Kali ini, Ayah yang akan masakin kamu.”

 

“Jangan, dong! Biar aku yang masak untuk ayah!” pinta Yuna.

 

“Kamu lagi hamil. Banyak istirahat! Jangan sampai kelelahan!” pinta Adjie lembut.

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah ayahnya. “Oke. Kalau gitu, hari ini aku akan makan semua masakan ayah.”

 

Adjie mengangguk-anggukkan kepala. “Kamu duduk aja!”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia memberikan kesempatan pada ayahnya untuk memasak. Sementara, ia masuk ke kamar Adjie untuk melipat pakaian ayahnya dan merapikan ke dalam lemari. Ia juga membawa pakaian kotor yang dibawa dari rumah sakit dan membawanya ke dalam kamar mandi.

 

Adjie langsung berlari ke kamar mandi begitu melihat Yuna membawa pakaian kotor ke dalamnya. “Biar Ayah cuci sendiri! Kamu duduk aja!” pinta Adjie.

 

“Nggak papa, Yah. Nyuci juga pakai mesin. Ayah lanjutin masaknya aja! Aku bisa nyuci sambil baca majalah.”

 

Adjie tersenyum kecil. Ia memperhatikan puterinya yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam mesin. Kemudian, ia kembali ke dapur setelah Yuna duduk di sofa sambil menunggu mesin cuci yang bekerja sendiri.

 

Beberapa menit kemudian, mereka berdua sudah berada di meja makan. Mereka menikmati makanan sambil berbincang banyak hal. Mereka sama-sama ingin menikmati hari-hari dengan tenang dan bahagia seperti ini.

 

 

 

...

 

 

 

Di tempat lain ...

 

Melan justru terlihat sangat gelisah karena sikap Yuna dan keluarganya yang begitu tenang. Ia tidak bisa menebak apa yang akan terjadi ke depannya. Ia mencoba menghubungi Lonan beberapa kali, tapi tetap tidak bisa tersambung.

 

Di menit berikutnya, Melan menerima panggilan telepon dari Lonan. Ia langsung tersenyum lebar begitu nomor Lonan tertera di layar ponselnya.

 

“Halo ...!” sapa Melan begitu ia menjawab panggilan telepon dari Lonan.

 

“Halo ...! Gimana di sana? Ada yang curiga?” tanya Lonan.

 

“Kamu tenang aja! Suamiku bisa dikendalikan,” jawab Melan sambil tersenyum.

 

“Baguslah. Aku butuh uang, sekarang!”

 

“Berapa?” tanya Melan.

 

“Cukup untuk aku makan dan tidur sebulan ke depan,” jawab Lonan santai.

 

“Oke. Aku antar ke mana uangnya?” tanya Melan.

 

“Aku sekarang ada di Malang. Kamu transfer aja uangnya.”

 

“Malang? Kenapa di sana?”

 

“Aku kabur. Ada dua orang laki-laki ngejar aku terus sepanjang hari. Kamu pikir, aku mau membahayakan diriku sendiri dengan menetap di Surabaya?”

 

Melan menghela napas. “Aku nggak bisa kasih uang dengan transfer. Suamiku, bisa melacak transaksi rekeningku. Lebih baik, kita ketemu langsung.”

 

“Oke. Aku di Swiss-Bell Malang. Cepetan ke sini!” perintah Lonan.

 

“Iya, aku ke sana sekarang!” Melan segera mematikan panggilan teleponnya. Ia bersiap-siap untuk menemui Lonan agar bisa membungkam mulut pria itu.

 

Sebelum menuju ke kota Malang, Melan terlebih dahulu pergi ke salah satu Bank untuk mengambil uang yang ia butuhkan. Ia tidak ingin jejak kejahatannya kali ini terungkap. Ia harus bisa membuat Lonan mengorbankan semua untuknya seperti yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun.

 

Melan keluar dari gedung bank swasta sambil tersenyum lebar. Ia merasa sangat bahagia karena Lonan kembali dalam hidupnya dan bersedia membantu dirinya melakukan banyak hal. Meski ia masih sedikit khawatir dengan keadaan Lonan, mendengar semua baik-baik saja ... ia sudah merasa tenang.

 

“Mau ke mana, Tante?”

 

Melan langsung menghentikan langkah dan melebarkan kelopak matanya menatap wajah Yeriko yang sudah berdiri menghadangnya.

 

Yeriko tersenyum dingin sambil melipat kedua tangan di dadanya.

 

Melan memaksa bibirnya untuk tersenyum ke arah Yeriko. “Aku mau ke mana aja, bukan urusan kamu!”

 

Yeriko tersenyum sinis. Tangan kirinya membuka pintu mobil yang ada di sebelahnya, sedang tangan satunya menarik lengan Melan dan mendorong tubuh wanita itu masuk ke dalam mobil.

 

“Kamu mau apa!?” seru Melan. Ia menoleh ke arah dua pria berjas yang duduk di kursi depan. “Kalian siapa?”

 

“Kami pengawal Tuan Ye,” jawab pria yang ada di dalam mobil itu.

 

Yeriko tersenyum, ia masuk ke dalam mobil dan duduk santai di sebelah Melan.

 

“Kamu mau nyulik saya, hah!?” seru Melan.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap wajah Melan. “Aku nggak akan dapet keuntungan dengan menculik Tante Melan. Aku cuma mau bermain-main sebentar saja.”

 

“Maksud kamu?” Melan mengernyitkan dahi sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap tajam ke arah Melan. Tatapannya bersiap menerkam tubuh Melan dan membuat Melan gemetaran.

 

“Aku nggak ngelakuin apa-apa. Kenapa kamu culik aku?” tanya Melan dengan bibir bergetar.

 

“Aku cuma mau main-main. Sudah lama, aku nggak punya mainan yang begitu asyik dan mendebarkan,” jawab Yeriko sambil tersenyum dan mendekatkan wajahnya.

 

Melan langsung meraih handle pintu mobil. Ia melemparkan tas tangannya ke wajah Yeriko dan berlari keluar dari mobil.

 

Yeriko tersenyum sinis. Ia meraih tas tangan milik Melan. Ia buru-buru mengambil ponsel dari dalam tas tersebut. “Jalan, Pak!” perintahnya pada supir yang mengawalnya.

 

Supir itu mengangguk. Ia langsung menjalankan mobilnya keluar dari parkiran.

 

Yeriko tersenyum sambil menatap ponsel yang sudah ada di tangannya. Ia membuka kaca mobil dan melemparkan tas Melan keluar dari mobilnya. “Aku akan ikuti permainan kamu,” ucapnya sambil tersenyum.

 

Yeriko merogoh kantong plastik yang ada di sakunya dan memasukkan ponsel Melan ke dalamnya. Ia melepas sarung tangan yang menutupi tangannya sambil tersenyum puas. Ia ingin semuanya berada di bawah kendalinya, termasuk menghancurkan kehidupan Melan secara perlahan.

 

 

((Bersambung ...))



 

 

 

Perfect Hero Bab 519 : Makan Siang Bersama Arjuna

 


Di hari berikutnya, Yuna kembali ke rumah sakit untuk menemani ayahnya.

 

“Kamu ke sini sama siapa?” tanya Adjie saat melihat Yuna masuk seorang diri ke ruang rawatnya.

 

“Diantar sama supir. Ayah makan dulu, ya!” pinta Yuna sambil meletakkan termos makanan ke atas meja dan membukanya perlahan.

 

“Yeriko kerja?” tanya Adjie.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kamu nggak antar makan siang untuk dia?” tanya Adjie lagi.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Hari ini, dia ada jadwal makan siang sama kliennya. Jadi, aku nggak antar makan siang ke kantor.”

 

“Oh.” Adjie mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

 

“Ayah makan, ya!” pinta Yuna sambil menyendok makanan yang ia bawa.

 

“Ayah bisa makan sendiri,” tutur Adjie sambil meraih tempat makan dari tangan Yuna.

 

Yuna tersenyum sambil menatap ayahnya yang sudah membaik. Ia menemani ayahnya sambil bercerita banyak hal.

 

“Yah, Yuna pulang dulu ya!” pamit Yuna sambil mengemas tempat bekal yang ia bawa, usai ayahnya selesai makan.

 

Adjie menganggukkan kepala. “Istirahatlah di rumah! Kamu lagi hamil, harus banyak istirahat.”

 

Yuna tersenyum menanggapi ucapan ayahnya. “Kata dokter, aku harus banyak bergerak supaya bisa melahirkan secara normal dengan mudah. Aku sudah bersantai-santai sepanjang hari, Yah. Suamiku terlalu memanjakanku.”

 

Adjie tersenyum menanggapi ucapan Yuna. “Ayah senang karena kamu mendapatkan suami yang sangat baik dan bertanggung jawab.”

 

“Ayah nggak perlu khawatir! Aku akan selalu hidup dengan baik.”

 

“Bundamu pasti bangga melihat anak gadis kesayangannya sudah dewasa dan hidup bahagia.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Aku pulang dulu, Yah! Ayah cepet sembuh ya,” pamitnya sambil mengecup kening ayahnya.

 

Adjie menganggukkan kepala. “Hati-hati di jalan! Sudah dijemput supir?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Aku nggak mungkin bilang ke ayah kalau aku naik taksi. Ntar ayah khawatir. Yeriko dan Angga lagi sibuk banget,” batinnya dalam hati.

 

“Ya sudah, hati-hati ya! Sampai rumah langsung istirahat!”

 

Yuna mengangguk. Ia bergegas keluar dari ruang rawat ayahnya dan melangkah menyusuri koridor rumah sakit.

 

“Hai ...! Gimana kabar ayah kamu?” sapaan seseorang menghentikan langkah kaki Yuna.

 

“Kamu!? Yang kemarin nolongin ayahku?” tanya Yuna dengan mata berbinar.

 

Arjuna menganggukkan kepala sambil tersenyum.

 

“Makasih ya sudah bantu ayahku. Maaf, aku belum sempat nyari kamu untuk berterima kasih. Aku akan secepatnya menyempatkan waktu untuk membalas budi.”

 

Arjuna tersenyum menatap wajah Yuna. “Mau balas budi?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Balas budi pakai apa?” tanya Arjuna.

 

“Kamu mau apa?” tanya Yuna.

 

“Aku nggak mau dibayar pakai uang atau barang,” jawab Arjuna sambil tersenyum.

 

“Maksud kamu ...!?” Yuna langsung melebarkan kelopak matanya menatap Arjuna.

 

Arjuna tertawa kecil. “Jangan negatif thinking dulu!” pintanya. “Aku pria yang tampan dan bermartabat,” lanjutnya penuh percaya diri.

 

Yuna hanya tertawa kecil menanggapi ucapan pria muda yang ada di hadapannya itu.

 

“Hutang uang dibayar uang, hutang barang dibayar barang, hutang jasa dibayar jasa. Gimana?” tanya Arjuna.

 

“Oh ... oke. Aku ngerti. Kamu mau, aku melakukan apa buat kamu?”

 

Arjuna tersenyum sambil menatap wajah Yuna. “Temenin aku makan siang! Gimana?”

 

“Makan siang doang?” tanya Yuna.

 

Arjuna mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Boleh. Sekarang?”

 

Arjuna menganggukkan kepala. Ia segera mengajak Yuna keluar dari rumah sakit dan membawa wanita itu masuk ke dalam mobilnya.

 

Yuna menarik napas dalam-dalam saat ia sudah ada di dalam mobil. Ia merogoh ponsel dan meninggalkan pesan singkat untuk suaminya.

 

“Nama kamu siapa?” tanya Arjuna sambil menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobilnya perlahan keluar dari parkiran.

 

“Ayuna, panggil aja Yuna!”

 

“Oke.” Arjuna mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Oh ya? Nama kamu siapa ya? Aku lupa,” tanya Yuna sambil berusaha mengingat nama pria itu.

 

“Arjuna. Panggil Arjun!”

 

“Oh, iya. Arjun ya? Arjun ...” tutur Yuna lirih sambil berusaha mengingat-ingat nama Arjuna.

 

“Panggil Juna juga boleh, supaya sama dengan kamu ... Yuna.”

 

Yuna tertawa kecil. “Kamu bisa aja. Siapa tahu, kita bisa jadi saudara. Kamu ganteng banget. Aku pasti seneng kalau punya adik ganteng kayak kamu.”

 

“Aku cocok jadi adik kamu?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Apa aku harus manggil kamu dengan panggilan kakak?” tanya Arjuna.

 

“Boleh,” jawab Yuna sambil tertawa.

 

Arjuna hanya tersenyum kecil. Ia sesekali melirik wajah Yuna yang duduk di sisinya. “Kamu hamil berapa bulan?”

 

“Tujuh,” jawab Yuna.

 

“Oh. Udah lama nikahnya?”

 

“Setahun. Kamu sendiri, sudah punya pacar?” tanya Yuna.

 

Arjuna menggelengkan kepala.

 

“Kenapa? Kamu masih muda dan ganteng banget. Masa nggak punya pacar? Aku nggak percaya,” tutur Yuna sambil tertawa kecil.

 

Arjuna hanya melirik Yuna sambil menghela napas. “Belum dapet yang pas.”

 

“Emangnya mau yang kayak gimana? Siapa tahu, aku bisa bantu jadi jasa mak comblang. Supaya aku bisa lunasin hutang jasaku ke kamu.”

 

“Hahaha. Aku nggak perlu mak comblang. Laki-laki harus bisa mendapatkan wanita impian dengan kemampuannya sendiri.”

 

“Oh ... ya, ya, ya,” sahut Yuna sambil manggut-manggut. “Laki-laki selalu menjaga harga dirinya yang super tinggi itu. Oh ya, kamu tinggal di mana?”

 

“Di Gunung Arjuna.”

 

“Hah!?”

 

“Bercanda,” ucap Arjuna sambil tertawa kecil. “Aku tinggal di salah satu apartemen di Pakuwon.”

 

“Mmh ... kayaknya, waktu itu bilang kalau kamu pemilik Arjuna Club ya?” tanya Yuna.

 

Arjuna mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Masih semuda ini, kamu sudah bisnis klub malam?” tanya Yuna.

 

“Emangnya kenapa?”

 

“Sejak usia berapa belajar soal dunia malam?”

 

Arjuna tertawa kecil sambil menatap Yuna. “Aku cuma nerusin bisnis almarhum Papa.”

 

“Oh, Sorry ...! Aku nggak tahu kalau ...”

 

“Nggak masalah. Santai aja! Papaku meninggal setahun lalu. Mamaku ... dia sudah meninggal sejak aku masih kecil. Aku sudah terbiasa hidup di klub bareng Papa.”

 

Yuna mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Ia tidak ingin membuka kesedihan Arjuna karena kehilangan. Sebab, ia juga pernah merasakan kehilangan seorang ibu.

 

“Kamu masih muda dan cantik, kenapa memilih menjadi seorang ibu muda?” tanya Arjuna.

 

Yuna mengangkat kedua alisnya. “Apa aku kelihatan masih muda? Aku rasa, masih lebih muda kamu. Berapa usia kamu, sekarang?”

 

“Dua puluh tahun.”

 

Yuna terkekeh mendengar jawaban Arjuna.

 

“Kenapa ketawa?” tanya Arjuna.

 

“Kamu itu lima tahun lebih muda dari aku. Gimana bisa kamu ngatain aku masih muda? Kalau cantiknya ... bolehlah.”

 

“Penampilan kamu masih seperti gadis umur enam belas tahun.”

 

“Oh ya? Masa sih? Gimana kalau gadis enam belas tahun ini manggil kamu ‘Adik’?” tanya Yuna sambil tertawa kecil.

 

Arjuna tertawa kecil. “Adik kecil ini juga bisa bikin adik.”

 

Yuna melebarkan kelopak matanya. Ia yang tadinya tersenyum sambil menatap Arjuna, tiba-tiba berubah menjadi khawatir karena ia hanya berduaan dengan Arjuna. Otaknya yang liar, mulai berpikir yang tidak-tidak.

 

Arjuna hanya tersenyum kecil melihat sikap Yuna yang salah tingkah. Ia terus melajukan mobilnya menuju salah satu restoran mewah yang berada di pusat kota.                                                                                                                  

 

Begitu sampai di restoran, Arjuna mengajak Yuna masuk ke dalam private room di restoran tersebut.

 

“Kenapa harus makan di private room?” tanya Yuna saat ia melangkah masuk ke dalam private room tersebut.

 

“Biar lebih leluasa,” jawab Arjuna santai.

 

“Biar nggak ketahuan orang lain kalau kamu bawa makan siang seorang wanita hamil?”

 

“Hahaha. Bukan gitu. Aku nggak suka kalau jadi pusat perhatian orang banyak. Aku terlalu tampan berada di luar sana.”

 

 Yuna tergelak mendengar ucapan Arjuna.

 

Arjuna tersenyum. Ia memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka tanpa bertanya makanan apa yang diinginkan Yuna.

 

Beberapa menit kemudian, semua menu yang dipesan Arjuna sudah terhidang di atas meja.

 

Mata Yuna berbinar saat melihat semua makanan kesukaannya ada di atas meja. “Wah, selera kita sama?”

 

Arjuna tersenyum sambil menatap wajah Yuna yang begitu ceria. “Makanlah! Aku sengaja pesan banyak makanan karena kamu berbadan dua. Makannya pasti lebih banyak.”

 

“Hahaha. Nggak gitu juga. Bukannya hari ini, aku yang traktir kamu makan? Kamu yang harus makan lebih banyak!”

 

Arjuna mengangguk-anggukkan kepala. Mereka menikmati makan siang bersama dalam private room tersebut. Namun, Arjuna tak begitu menikmati makanan yang ada di hadapannya, ia lebih sibuk menikmati wajah Yuna yang makan dengan lahap.

 

“Kenapa lihatin aku kayak gitu? Kamu nggak makan?”

 

“Aku udah kenyang,” jawab Arjuna sambil tersenyum.

 

Yuna tertawa kecil. Ia segera menghentikan makannya.

 

“Kenapa?”

 

“Huft, hari ini aku yang traktir kamu makan siang. Kenapa aku yang makan lebih banyak?”

 

Arjuna tertawa kecil. “Aku nggak bisa makan banyak.”

 

“Kenapa pesan makan sebanyak ini?” tanya Yuna.

 

“Buat kamu yang lagi hamil.”

 

“Makasih ...!” ucap Yuna sambil tersenyum manis. Ia memanggil pelayan untuk membayar semua tagihan makan siang mereka.

 

“Biar aku yang bayar!” pinta Arjuna sambil memberikan kartu pada pelayan restoran tersebut saat Yuna baru saja mengeluarkan dompetnya.

 

“Eh!?” Yuna langsung melebarkan kelopak matanya. “Bukannya, hari ini aku yang harusnya traktir kamu?” tanyanya sambil menatap wajah Arjuna. Pandangannya kemudian beralih pada pelayan yang sudah berdiri di sebelah mejanya.

 

“Pakai punya saya aja, Mbak!” pinta Yuna sambil menyodorkan kartu ke arah pelayan tersebut.

 

Pelayan itu menatap wajah Arjuna dan Yuna bergantian.

 

Arjuna langsung mengisyaratkan pelayan itu keluar dari ruangan itu.

 

Pelayan itu mengangguk dan bergerak keluar dari ruangan tersebut.

 

Yuna mengerutkan hidungnya menatap Arjuna. “Kenapa malah kamu yang bayar makan?”

 

“Apa aku kelihatan seperti laki-laki yang kekurangan uang? Aku paling benci, saat makan dibayarin sama perempuan.”

 

Yuna menghela napas. “Tapi, kali ini aku ingin membalas budi karena kamu sudah menolong ayahku. Seharusnya, kamu nggak menolak niat baikku dan keadaan ini bisa jadi pengecualian.”

 

Arjuna tersenyum sinis. “Aku cuma minta kamu nemenin makan siang, bukan bayarin aku makan.”

 

Yuna menggigit bibirnya. Ia merasa kalau pria muda yang ada di hadapannya itu cukup sulit dihadapi karena pendirian dan harga dirinya begitu tinggi. “Kalau kayak gini, bukannya aku malah berhutang banyak?” gumamnya.

 

Arjuna terus tersenyum sambil menatap wajah Yuna yang begitu cantik meski tanpa riasan di wajahnya. Ia tak pernah merasakan makan siang sebahagia ini. Melihat cara Yuna menikmati makanan, membuatnya merasakan hal yang berbeda.

 

“Aku pulang dulu, ya!” pamit Yuna sambil bangkit dari tempat duduknya. Aku nggak bisa ada di luar terlalu lama.

 

“Takut sama suami kamu?” tanya Arjuna.

 

“Eh!?”

 

Arjuna tersenyum kecil. “Suami kamu itu terlalu mengekang kamu. Apa kamu bahagia jadi wanita yang dikurung dalam rumah?” tanyanya sambil bangkit dari tempat duduk.

 

Yuna langsung menatap wajah Arjuna. “Maksud kamu?”

 

Arjuna hanya tersenyum sinis menanggapi pertanyaan Yuna. “Aku antar kamu pulang.”

 

“Nggak usah! Aku bisa naik taksi,” sahut Yuna.

 

Arjuna tersenyum sambil menatap Yuna. “Aku suka caramu menolak. Sepertinya ... kamu lebih menikmati hidup dalam sangkar daripada terbang bebas menikmati keindahan di luar sana.”

 

Yuna tersenyum sinis. Ia mulai mengerti maksud dari kalimat yang keluar dari mulut Arjuna. “Aku sudah pernah merasakan terbang bebas di luar sana. Bukan hanya menikmati keindahan, tapi juga menantang bahaya. Burung cantik sepertiku, terlalu berbahaya berada di luar karena banyak pemburu yang bersiap memangsaku.”

 

“Bukankah lebih baik aku jadi burung yang cantik dan manis bersama tuanku? Aku bisa makan dan tidur dengan baik, aku juga sering diajak keluar untuk menikmati keindahan di bawah perlindungan dia,” lanjut Yuna sambil tersenyum manis.

 

Arjuna tersenyum sambil menatap wajah Yuna. Mendengar tanggapan Yuna, membuat ia semakin mengagumi karakter Yuna.

 

“Aku pulang dulu! Terima kasih untuk traktirannya. Aku nggak akan lupa dengan kebaikanmu dan pasti membalas semuanya,” pamit Yuna. Ia berbalik dan bergegas keluar dari ruangan tersebut.

 

Arjuna tersenyum kecil. Ia terus mengikuti langkah kaki Yuna dari belakang hingga wanita itu berdiri di tepi jalan.

 

“Kenapa ngikutin aku?” tanya Yuna saat Arjuna berdiri di hadapannya.

 

“Aku harus pastikan kalau kamu sampai ke rumah dalam keadaan baik,” jawab Arjuna. Ia menghentikan taksi yang kebetulan melintas di hadapannya.

 

“Makasih!” ucap Yuna. Ia bergegas membuka pintu taksi dan masuk ke dalamnya.

 

Arjuna juga dengan cepat masuk ke dalam taksi tersebut.

 

“Kamu!?” Yuna membelalakkan matanya begitu melihat Arjuna sudah duduk di sampingnya.

 

Arjuna tersenyum kecil sambil menatap Yuna. “Jalan, Pak!” perintahnya pada supir taksi tersebut.

 

Yuna menghela napas. “Dasar bocah! Kamu ini terlalu kekanak-kanakkan!”

 

“Aku yang bawa kamu keluar. Kalau ada apa-apa, suami kamu bisa membahayakan buat aku. Aku pastikan kamu sampai di rumah dengan selamat, baru bisa tidur dengan tenang,” tutur Arjuna sambil melipat kedua tangan di dada sambil memejamkan mata. Ia menyandarkan kepalanya dan terlihat sangat santai menikmati perjalanan menuju ke rumah Yuna.

 

Yuna menghela napas. Ia tidak ingin berdebat dengan orang yang telah membantunya. Ia memilih untuk diam sepanjang perjalanan, sesekali melirik pria muda yang ada di sebelahnya itu. Ia tidak tahu bagaimana cara membalas budi pada pria muda yang sulit untuk ia pahami keinginannya.

 

 

 ((Bersambung ...))

 

Sapa aku terus di kolom  komentar, biar aku makin semangat nulisnya. Walau nggak sempat balas satu per satu, tapi aku selalu baca dan bikin aku semangat!

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas