Monday, March 2, 2026

Perfect Hero Bab 489 : Kejutan dari Sahabat

 


Yeriko dan Yuna kembali ke rumah usai makan malam romantis di hari ulang tahun mereka.

 

DUAR ...!

 

DUAR ...!

 

Yuna terkejut saat ia baru masuk ke rumah dan mendengar suara petasan kertas di dalam rumahnya. Lampu ruangan yang gelap, tiba-tiba menyala. Ada Jheni dan sahabat-sahabatnya yang sudah menunggu di sana.

 

“Selamat ulang tahun ...!” seru Jheni yang sudah ada di dalam rumah Yuna.

 

“Kalian pada di sini?” tanya Yuna sambil menutup mulutnya. Ia tak menyangka kalau Jheni akan memberikan kejutan ulang tahun kepadanya.

 

“Iya, dong! Waktu aku ulang tahun, kita bikin perayaan kecil. Kalian berdua ulang tahun, mau diam-diam aja?”

 

Yuna dan Yeriko saling pandang. “Tapi, kami nggak ada persiapan buat perayaan. Besok malam aja, gimana? Nggak ada makanan di rumah,” tutur Yuna.

 

“Tenang aja! Kita sama Bibi War udah siapin makanan banyak di meja makan,” sahut Icha.

 

“Serius?” tanya Yuna dengan wajah berbinar.

 

Jheni menganggukkan kepala. Ia dan yang lainnya mengucapkan selamat ulang tahun untuk Yuna dan Yeriko.

 

“Kalian itu emang ditakdirkan buat berjodoh, ya? Ulang tahunnya aja barengan,” tutur Jheni.

 

“Hahaha.”

 

“Aku udah laper, nih. Makan yuk!” ajak Lutfi.

 

“Ayo!” sahut Jheni ceria.

 

“Eh, beresin dulu ini!” perintah Yeriko. “Ini sudah hampir tengah malam. Pembantu udah pada pulang semua. Kalian malah ngotorin rumahku!” tutur Yeriko sambil menunjuk lantai yang sudah berserakan dengan kertas-kertas yang baru saja mereka tembakan sebagai kejutan ulang tahun.

 

“Astaga! Besok aja dibersihkan. Ada banyak pembantu juga.”

 

“Sekarang! Aku risih lihat rumah kotor kayak gini.”

 

“Iih ... kamu ini nggak seru banget, sih! Ambil sapu, Cha!” perintah Jheni kesal.

 

Yuna tertawa kecil melihat Jheni yang kesal karena perlakuan Yeriko. “Kamu juga nggak suka kotor-kotor kayak gini ‘kan?”

 

Jheni menjulurkan lidahnya ke arah Yuna.

 

“Bersihin dulu ya!” perintah Yuna sambil ngeloyor pergi ke meja makan. Ia melihat meja makan sudah penuh dengan hidangan lezat yang disediakan oleh sahabat-sahabatnya.

 

“Temen nggak tahu diri! Dikasih kejutan malah nyiksa!” seru Jheni sambil membersihkan kotoran kertas yang berserakan di lantai.

 

“Sini, aku bantuin!” Chandra langsung mengambil alih sapu yang ada di tangan Jheni. “Kamu langsung ke meja makan aja!”

 

“Uch, emang pacar yang pengertian. Thank’ you!” Jheni langsung menyerahkan sapu ke tangan Chandra. Ia mengecup pipi Chandra dan bergegas pergi ke meja makan.

 

“Nyiksa pacar sendiri!” dengus Yuna begitu Jheni duduk di salah satu meja makan.

 

“Daripada kamu, nyiksa temen sendiri!” sahut Jheni tak mau kalah.

 

“Udah, kalian jangan berantem!” pinta Lutfi. “Mau makan aja ribut.”

 

Yuna dan Jheni terkekeh. Bagi mereka, yang dirindukan adalah saat-saat mereka berdebat, saat mereka bertengkar dan menangis bersama.

 

“Kalian cuma mau ngerayain ulang tahun berdua aja? Nggak punya perasaan!” celetuk Jheni.

 

“Kami butuh waktu buat berduaan. Kamu yang nggak pengertian,” sahut Yeriko.

 

Jheni gelagapan sambil menoleh ke arah Yeriko.

 

Yuna langsung menendang kaki Yeriko. Walau bagaimanapun, ia tidak ingin menyakiti perasaan sahabatnya.

 

“Kalian itu udah berduaan setiap hari. Masih nggak cukup? Harusnya, yang kayak gini tuh aku sama Chandra. Karena kami jarang ketemu. Kalo kalian, tiap hari kelonan di dalam kamar. Masih aja mau minta waktu berduaan?” cerocos Jheni.

 

Chandra yang baru muncul langsung merangkul pundak Jheni. Telapak tangannya menutup mulut Jheni yang seringkali bicara sesukanya. “Mau makan atau ngomel?”

 

Jheni terdiam, ia hanya menghela napas.

 

“Mulutnya dia itu minta disumpal pake bibir, Chan!” seru Lutfi.

 

“Halah, kamu aja yang sewot sama aku,” sahut Jheni.

 

Chandra tersenyum tepat di hadapan wajah Jheni. “Kalau masih nggak mau diam, beneran aku sumpal pake bibir.”

 

“Aargh ...! Mau banget!” seru Jheni, ia menutup mulut sambil menahan tawa.

 

Chandra berusaha menepikan tangan Jheni yang menutup mulutnya.

 

Jheni menggeleng-gelengkan kepala sambil memundurkan kepalanya. “Aku bercanda, nggak beneran.”

 

Yuna dan yang lainnya tertawa melihat candaan Jheni dan Chandra.

 

“Aku nggak pernah bercanda,” sahut Chandra sambil melepaskan rangkulannya dan memperbaiki posisi duduknya.

 

“Makanya, Chan ... buruan lamar si Jheni!” pinta Yeriko.

 

Chandra langsung melirik ke arah Yeriko. “Dikira nikah itu gampang? Ngomongmu aja gampang!”

 

“Gampang. Tinggal bawa penghulu, kelar!”

 

“Kalo kayak kamu mah enak. Hidup nggak ada yang ngatur, udah mapan, banyak yang suka. Mana ada cewek yang nolak kamu nikahin,” tutur Chandra.

 

“Emangnya si Jheni nolak?” tanya Yeriko sambil menahan tawa.

 

“Bukan nolak, Yer. Aku belum siap nikah. Aku masih meniti karir. Kalo aku nikah dan punya anak. Aku nggak bisa bebas lagi.”

 

Yeriko mengangguk-anggukkan kepalanya.

 

“Udah, nggak usah dibahas lagi! Emang dua-duanya nggak mau terikat. Maunya pacaran doang!” sahut Lutfi. “Oh ya, ini hadiah dari aku sama Icha,” lanjutnya sambil menyodorkan kotak hadiah berwarna hijau tua dengan pita merah di tengahnya.

 

“Wah ...! Thank you!” seru Yuna sambil menerima hadiah dari Lutfi. Ia menoleh ke arah Yeriko. “Aku boleh terima ‘kan?”

 

Yeriko menganggukkan kepala sambil menyuap potongan udang yang ada di tangannya.

 

“Emangnya kenapa?” tanya Lutfi sambil menatap Yuna dan Yeriko bergantian. “Cemburu lagi?”

 

Yuna tertawa mendengar pertanyaan Lutfi. “Kayak nggak tahu dia aja. Aku nggak boleh nerima hadiah dari orang lain.”

 

“Hahaha. Kalo aku, kubiarkan aja si Icha nerima hadiah dari orang lain. Lumayan, hemat pengeluaran,” sahut Lutfi santai.

 

“Kalo Yeriko, mana mau begitu. Harga diri laki-laki lebih penting dari apa pun!” sahut Jheni.

 

“Maksud kamu, aku nggak punya harga diri, gitu?”

 

“Kalo dilihat sih begitu. Kamu kan cowok mauan,” jawab Jheni.

 

“Kamu ...!?” Lutfi menatap geram ke arah Jheni.

 

“Udah, jangan berantem! Nggak baik berantem di meja makan!” pinta Icha sambil mengelus lembut tangan Lutfi.

 

Lutfi menghela napas panjang. “Sabarkan Aim, ya Allah ...!”

 

Icha tertawa kecil melihat tingkah Lutfi yang seperti anak kecil.

 

Suasana menjadi hening untuk beberapa saat.

 

“Jhen, mana hadiah kamu untuk Kakak Ipar?” tanya Lutfi. Meski sering berdebat, tapi mereka tak pernah serius melakukannya.

 

“Oh, iya.” Jheni langsung mengeluarkan kotak hadiah yang sudah ia simpan di bawah meja dan menyodorkan ke arah Yuna. “Selamat ulang tahun buat kalian berdua. Semoga panjang umur, sehat selalu dan terus saling menyayangi seperti ini!”

 

“Aamiin. Thank’s, Jhen!”

 

Jheni menganggukkan kepala. Mereka melanjutkan makan sambil berbincang banyak hal. Setiap berkumpul, mereka tak pernah sepi. Selalu dipenuhi dengan canda tawa hingga larut malam.

 

Setelah sahabat-sahabatnya kembali ke rumah masing-masing. Yuna dan Yeriko langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.

 

“Kenapa mereka datang di saat kayak gini?” gumam Yeriko sambil merebahkan tubuhnya ke atas kasur.

 

“Kamu nggak suka sama kedatangan mereka?”

 

“Suka. Waktunya aja yang nggak tepat,” jawab Yeriko sambil menarik tubuh Yuna hingga jatuh ke dalam pelukannya. “Aku ingin menghabiskan waktu bercumbu denganmu sampai pagi,” bisiknya.

 

Yuna tersenyum sambil menatap mata Yeriko. Ia menenggelamkan tubuhnya ke dalam pelukkan Yeriko. Menikmati setiap sentuhan kulit yang menjalar di seluruh tubuhnya. Mereka selalu bermain dengan hati-hati agar tidak menyakiti anak yang ada di dalam perut Yuna.

 

  ((Bersambung ...))

 

Baca terus kisahnya dan selamat ber-baper ria. Muach!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 488 : Menjadi Pelayanmu Seumur Hidup

 


Di atas rooftop Galaxy Office, Yeriko menyiapkan makan malam romantis hanya untuk dia dan istrinya. Ia sangat bahagia karena tahun ini bisa merayakan ulang tahun bersama seseorang yang spesial dalam hidupnya.

 

“Yun, aku nggak pernah menyangka kalau aku akan merayakan ulang tahunku di tempat seperti ini. Hanya berdua dengan kamu ... ini yang paling spesial seumur hidupku,” tutur Yeriko sambil menatap wajah Yuna.

 

“Oh ya? Sebelumnya, kamu selalu ngerayain ulang tahun di mana?” tanya Yuna.

 

“Di klub, kafe atau hotel. Selalu bikin pesta bareng sahabat-sahabatku,” jawab Yeriko. “Kenapa kamu nggak mau bikin pesta ulang tahun?”

 

Yuna menggelengkan kepala. “Aku lebih suka merayakan ulang tahunku dengan ketenangan seperti ini.”

 

“Gimana kamu melewati hari ulang tahun kamu selama ini?” tanya Yeriko sambil menyuap makanan ke mulutnya.

 

Yuna menggelengkan kepala. “Semenjak Bunda meninggal, aku nggak pernah merayakan ulang tahun. Biasanya, aku menghabiskan malam ulang tahunku sambil nemenin ayah di rumah sakit. Saat aku kuliah di Melbourne ... aku menghabiskan malam ulang tahunku di perpustakaan.”

 

“Perpustakaan?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Setiap hari ulang tahunku, aku pasti merindukan kehangatan orang tuaku. Aku menghabiskan waktu di perpustakaan, menyibukkan diri dengan tugas dan kegiatan untuk mengalihkan kesedihanku. Setiap tahunnya, aku selalu menjalaninya seorang diri.”

 

Yeriko tersenyum sambil menyentuh pipi Yuna. “Mulai sekarang, kita akan merayakan ulang tahun bersama-sama.”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

Seorang pelayan, tiba-tiba datang sambil membawa kue ulang tahun. Membuat Yuna hampir tidak bisa berkata-kata. Di atas kue itu, ada dua pasang lilin yang menyala. Lilin itu menunjukkan usia Yuna yang sudah genap dua puluh lima tahun, satunya lagi menunjukkan usia Yeriko yang genap tiga puluh tahun.

 

“Maaf, aku cuma mampu beli satu kue untuk ulang tahun kita!” tutur Yeriko sambil bangkit dari kursinya.

 

Yuna tertawa kecil. “Apaan, sih? Merendah banget,” sahut Yuna.

 

Yeriko mengulurkan tangannya ke arah Yuna. Ia mengajak Yuna untuk berdiri di depan kue tersebut, melaksanakan ritual tiup lilin seperti biasanya.

 

Seorang pelayan berusaha menyalakan lilin yang ada di atas kue tersebut. Namun, ia kesulitan karena angin yang ada di atas gedung tersebut terlalu kencang.

 

“Tuan, lilinnya susah dinyalain. Angin di sini terlalu kencang.”

 

Yeriko mengerutkan dahi sambil berkacak pinggang. “Cari cara supaya lilinnya nggak mati. Gimana, sih!?” sahutnya kesal.

 

Pelayan itu mengangguk. Ia bergegas mencari sesuatu untuk melindungi lilin dari terpaan angin kencang yang ada di atas gedung tersebut.

 

Yeriko memerhatikan beberapa pelayan yang terlihat sibuk mencari sesuatu untuk menutupi lilin agar tidak mudah mati saat tertiup angin kencang.

 

“Kenapa sih selalu aja kacau saat mau bikin kejutan?” batin Yeriko kesal.

 

“Ay, di atas gedung memang anginnya kencang banget. Nggak usah tiup lilin, gimana?” tutur Yuna sambil mengambil lilin yang ada di atas kue tersebut.

 

“Nggak bisa, tetap harus tiup lilin!” sahut Yeriko sambil mengembalikan lilin yang ada di tangan Yuna ke tempatnya.

 

“Ay, ini di luar ruangan. Di atas gedung juga. Angin di sini kencang banget. Kasihan pelayan itu, mereka juga bingung mau gimana.”

 

“Argh, mereka pasti punya cara untuk melindungi lilin-lilin ini dari angin. Aku lihat di drama yang kamu tonton, mereka bisa tiup lilin di atas gedung.”

 

Yuna menghela napas. Ia tak berani berargumen lagi karena suaminya keukeuh ingin meniup lilin di tempat itu.

 

“Mbak, ditutupin pakai nampan aja, ya!” perintah Yuna. “Tiup lilin cuma sebentar aja, kok.”

 

Pelayan yang ada di sana menganggukkan kepala. Ia dan tiga orang pelayan lainnya langsung berdiri mengelilingi Yuna dan Yeriko. Salah seorang menyalakan lilin dan yang lainnya melindungi lilin tersebut dari terpaan angin malam yang cukup kencang.

 

Yeriko dan Yuna saling pandang.  Mereka berhadapan sambil berpegangan tangan.

 

“Make a wish dulu!” pinta Yuna sambil menatap Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna memejamkan matanya perlahan, diikuti dengan Yeriko. Mereka memanjatkan doa untuk masa depan mereka.

 

Yuna menghela napas saat ia sudah selesai berdoa dan membuka matanya kembali. Ia dan Yeriko serempak meniup lilin yang ada di atas kue yang sudah disediakan Yeriko.

 

Prook ...! Prook ...! Prook ...!

 

Tepuk tangan dari pelayan-pelayan di sana membuat semua orang tersenyum bahagia.

 

“Potong kuenya! Potong kuenya ...!” seru pelayan-pelayan itu sambil bertepuk tangan.

 

“Nggak usah dipotong kuenya,” tutur Yeriko.

 

Yune menaikkan kedua alisnya. “Kenapa?”

 

Yeriko menyolek icing kue yang ada di hadapannya dan menempelkan ke hidung Yuna.

 

“Iih ... kotor! Kamu jahil ...!” seru Yuna. Ia berusaha menggapai kue ulang tahun yang ada di hadapannya, tapi tubuhnya ditahan oleh Yeriko.

 

“Nggak bisa!” sahut Yeriko sambil memeluk tubuh Yuna agar tidak bisa meraih kue tersebut.

 

“Iih ... culas!” seru Yuna sambil berusaha mencapai kue tersebut.

 

Yeriko tertawa kecil. “Mbak, kuenya bawa pergi!” perintah Yeriko sambil mengambil icing lebih banyak lagi dan mengoleskan ke wajah Yuna.

 

“Aargh ...! Mukaku kotor! Nanti jerawatan!” seru Yuna. Ia kesal karena kue ulang tahunnya sudah dibawa pergi oleh pelayan yang ada di sana.

 

Yeriko tergelak melihat wajah Yuna. “Lucu! Kayak badut di Jatim Park!”

 

Yuna mengerutkan hidungnya sambil menatap Yeriko. “Bersihin!” pintanya.

 

Yeriko masih tertawa melihat wajah Yuna.

 

“Bersihin! Kalo nggak, aku marah!” ancam Yuna.

 

“Iya, iya.” Yeriko menarik beberapa tisu yang ada di tas meja.

 

Yuna menahan tawa. Ia langsung memeluk tubuh Yeriko dan mengusap-usapkan wajahnya ke dada Yeriko.

 

“Eh, eh ...!? Baju aku kotor, Yun!” seru Yeriko.

 

“Biar aja!” sahut Yuna sambil menjulurkan lidahnya.

 

Yeriko langsung mengelap bajunya yang kotor menggunakan tisu. “Nah, kan ... kena noda bedak juga,” gumam Yeriko.

 

Yuna tertawa kecil. “Lagian, masa mukaku mau dilap pake tisu? Kasar banget!” dengusnya.

 

“Terus, dilap pake apaan? Adanya tisu.”

 

“Aku bawa micellar water sama kapas,” jawab Yuna sambil meraih tas tangannya.

 

“Baju aku gimana? Bisa dibersihin pakai micellar water?” tanya Yeriko.

 

“Nggak bisa. Cuci aja!” sahut Yuna.

 

Yeriko tertawa kecil, ia kembali duduk di kursinya sambil mengamati Yuna yang sedang membersihkan wajahnya sendiri.

 

“Nggak dibersihin bajunya?” tanya Yuna.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Kamu juga yang nyuci bajuku. Biar aja!”

 

Yuna membelalakkan matanya. “Iya, ya?” gumamnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sedikit menyesal karena sudah mengotori kemeja suaminya itu.

 

Yeriko tertawa kecil. Ia terus memerhatikan istrinya hingga selesai membersihkan wajahnya dari icing kue dan make-up yang sebelumnya digunakan oleh istrinya itu.

 

“Kenapa senyum terus?” tanya Yuna saat ia sudah selesai membersihkan wajahnya.

 

“Kamu lebih cantik kalau nggak pakai make-up.”

 

Yuna mencebik ke arah Yeriko. “Gombal! Jelas-jelas lebih cantik kalau pake make-up.”

 

Yeriko tertawa kecil. Ia mengeluarkan kotak hadiah dari saku jasnya. Membuat Yuna juga mengeluarkan kotak hadiah yang sudah ia siapkan untuk suaminya itu. Mereka tersenyum sambil bertukar hadiah ulang tahun.

 

Yuna melihat kotak kecil yang dikeluarkan Yeriko, membuatnya tidak begitu bersemangat. “Cincin lagi? Kalung lagi? Perhiasan lagi? Nggak kreatif banget jadi cowok!” batinnya.

 

Yeriko membuka kotak hadiah yang diberikan Yuna. Ia langsung tersenyum menatap sepasang cangkir susun warna merah dan gambar beruang yang ada di sana. “Ini kamu buat sendiri?” tanyanya.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Gimana? Suka?”

 

Yeriko menganggukkan kepala sambil mengamati cangkir lucu buatan Yuna. Mungkin, ia tidak akan pernah menemukan barang yang sama di dunia ini. Istrinya memang yang paling pandai memberikan hadiah spesial untuknya.

 

Yeriko mengalihakan pandangannya melihat Yuna yang masih belum membuka hadiah yang ia berikan. “Kenapa nggak dibuka?”

 

Yuna tersenyum kecil. Ia tak bersemangat membuka kotak hadiah yang diberikan oleh Yeriko. Ia pikir, Yeriko akan memberikan hadiah yang dibuat sendiri dengan tangannya. Lagi-lagi, Yeriko memberikan hadiah mewah yang bisa dibeli dengan uang yang dimilikinya.

 

Yuna membuka kotak itu perlahan. Ia tertegun selama beberapa detik saat melihat hadiah yang diberikan oleh Yeriko.

 

“Gimana? Suka?”

 

“Ini ...? Bikin sendiri?” tanya Yuna balik.

 

Yeriko menganggukkan kepala. “Gimana? Suka, nggak?”

 

Yuna mengeluarkan hadiah dari kotak tersebut dan meletakkan di atas telapak tangannya. Ia tersenyum melihat gelang kaki yang terbuat dari rajutan. Ada tulisan “YY” di bagian tengahnya. Persis seperti sweater rajut yang ia buat untuk Yeriko.

 

“Kamu bisa ngerajut?”

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Jadi, ini bukan buatan kamu?”

 

“Itu buatanku. Setiap hari aku belajar membuat gelang itu. Kamu tahu, aku menghabiskan waktu sampai satu minggu untuk membuat gelang itu. Aku nggak berbakat seperti kamu. Tapi aku melakukannya untuk kamu. Aku nggak kebayang gimana rumitnya kamu buatkan aku sweater.”

 

“Kalau gitu, kamu harus menjaga sweeter buatanku dengan baik!” Yuna tersenyum bahagia melihat hadiah dari Yeriko. Ia langsung menyodorkan gelang kaki tersebut ke hadapan suaminya.

 

Yeriko mengerutkan dahinya. “Kenapa dibalikin? Nggak suka?”

 

“Pakein!” pinta Yuna.

 

Yeriko tersenyum lebar. Ia langsung meraih gelang dari tangan Yuna. Bangkit dari tempat duduk dan memasangkan gelang kaki itu di kaki Yuna.

 

Yuna tersenyum bahagia saat Yeriko memasangkan gelang ke kakinya. “Kenapa kamu ngasih aku gelang kaki? Kenapa bukan gelang tangan? Kamu nggak perlu berlutut seperti ini.

 

Aku sengaja, supaya bisa berlutut di hadapan kamu. Karena aku ingin mengabdikan seluruh hidupku untuk kamu. Menjadi pelayanmu seumur hidupku,” jawab Yeriko sambil menengadahkan kepalanya menatap Yuna.

 

Yuna menangkupkan kedua tangan di wajah Yeriko. “Bukankah seharusnya aku yang melayani kamu?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Akulah yang lebih pantas menjadi pelayanmu seumur hidup. Karena kamu adalah wanita yang mulia. Wanita yang harus aku lindungi, aku bahagiakan, aku cintai sepanjang usiaku.

 

Yuna menatap wajah Yeriko dengan mata berkaca-kaca. Ia menempelkan dahinya ke dahi Yeriko. Menyerahkan seluruh hati dan hidupnya untuk pria yang membuatnya merasa menjadi wanita paling berharga di dunia ini.

 

 ((Bersambung ...))

 

Baca terus kisahnya dan selamat ber-baper ria. Muach!

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas