Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 388 : Hasil Tes DNA

 


“Kakak Ipar, gimana kalau kamu lomba gigit koin dalam beras juga?” tanya Satria sambil menghampiri Yuna.

 

Yuna menggelengkan kepala.

 

“Nggak sportif nih,” protes Satria.

 

“Aku kan sponsor, mana boleh ikutan lomba.” Yuna berkelit.

 

Satria membelalakkan matanya. “Sponsor apaan? Yeriko aja ikutan lomba.”

 

Yuna tertawa kecil sambil menyembunyikan wajahnya di ketiak Yeriko. “Aku nggak mau ikutan lomba, tolongin aku!” rengeknya.

 

“Curang ...!” seru Satria.

 

“Sat, kamu nggak bisa ngalah sama perempuan?”

 

“Nggak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam duniaku. Semua harus diperlakukan sama.”

 

“Kamu pikir, istriku ini anak didik militermu!?” sentak Yeriko sambil menendang kaki Satria.

 

“Astaga ...!” Satria mengelus-elus kakinya.

 

“Nggak usah macem-macem!” pinta Yeriko santai. “Aku mau ajak dia jalan-jalan. Kalian mau ikut atau nggak?”

 

“Jalan ke mana?” tanya Satria.

 

“Keliling kota aja. Di mana tempat yang paling ramai malam ini, Sat?” tanya Yeriko.

 

“Aku di kodam malam ini. Ke kodam aja!”

 

“Mana undangannya?” tanya Yeriko.

 

“Waduh, aku bukan panitia acara. Cuma jaga, Yer. Kayaknya, nggak pake undangan. Masuk aja! Nanti aku jaga di pintu masuk.”

 

“Konser artis, Sat?”

 

“Iya.”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Mending kelonan daripada desak-desakan di lapangan.”

 

“Seru, tahu!” sahut Yuna.

 

“Kamu lagi hamil, nggak usah pengen macem-macem!” pinta Yeriko.

 

Yuna mengunci bibirnya. Ia hanya bisa menuruti suaminya saja.

 

“Kita jalan-jalan keliling kota aja. Lihat tempat ramai dari mobil. Nggak perlu turun dan membahayakan kandungan kamu.”

 

Yuna menganggukkan kepala. Akhir-akhir ini, suaminya semakin protective. Ia juga tak bisa membantah karena ia juga ingin melindungi janin yang ada dalam perutnya. Ia lebih menuruti keinginan Yeriko. Menghabiskan waktu menikmati keramaian kota hanya dari dalam mobil.

 

 

 

...

 

 

 

Dua hari kemudian ...

 

“Yun, hasil tes DNA udah keluar. Kamu mau temenin aku ambil?” tanya Yeriko.

 

“Hah!? Serius!? Ikut ...!” seru Yuna sambil bangkit dari sofa. “Aku mandi dulu!”

 

“Cepet ya!”

 

Yuna menganggukkan kepala. Ia bergegas mandi dan mengganti pakaiannya.

 

Yeriko menatap Yuna yang mengenakan dress warna tosca dengan gambar bunga baby breath di beberapa sudutnya.

 

“Udah siap?” tanya Yeriko sambil menatap kaki Yuna untuk memastikan kalau istrinya tidak mengenakan high heels.

 

“Kenapa? Bajuku jelek?” tanya Yuna sambil memerhatikan tubuhnya sendiri.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Cantik.”

 

Yuna tersenyum. Ia merangkul lengan Yeriko dan bergegas keluar dari kamarnya.

 

“Ay ...!” panggil Yuna saat ia sudah berada di dalam mobil.

 

“Umh.” Yeriko mulai menjalankan mobilnya.

 

“Mobil Porsche punya Andre mau diapain?”

 

“Nggak diapa-apain.”

 

“Gimana kalau dikembaliin aja?” tanya Yuna.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko balik.

 

Yuna menghela napas. “Kasihan juga si Andre. Mobil itu juga nggak kita pakai.”

 

“Duitnya dia banyak. Buat apa kasihan?”

 

Yuna terdiam.

 

Yeriko tersenyum sinis. Ia bergegas melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.

 

Sesampainya di rumah sakit, Yeriko langsung menemui dokter yang telah membuat janji dengannya beberapa jam lalu.

 

“Sore, Dok!” sapa Yeriko.

 

“Mas Yeri? Kebetulan sudah datang. Saya harus segera pergi.” Dokter tersebut terlihat terburu-buru. “Ini hasil tes DNA yang Mas Yeri minta.”

 

“Terima kasih, Dokter!” ucap Yeriko sambil menerima dokumen yang diberikan oleh dokter tersebut.

 

Dokter tersebut mengangguk. Ia membereskan meja kerjanya dengan buru-buru.

 

“Dokter, kami langsung pergi. Terima kasih atas kerjasamanya ...!”

 

Dokter tersebut menganggukkan kepala.

 

Yeriko dan Yuna bergegas pergi meninggalkan dokter tersebut.

 

“Gimana hasilnya? Aku penasaran,” tutur Yuna sambil melangkah bersama Yeriko menyusuri koridor rumah sakit.

 

“Aku juga penasaran,” sahut Yeriko sambil menatap map yang ada di tangannya.

 

“Gimana kalo kita buka dulu?” tanya Yuna penasaran.

 

PLUK ...!

 

Map yang ada di tangan Yeriko langsung mendarat di kepala Yuna. “Nggak boleh ngintip rahasia orang lain!” dengusnya.

 

Yuna memonyongkan bibir sambil merapikan rambutnya. “Yah, siapa tahu bisa. Lihat duluan, biar nggak penasaran.

 

Yeriko tertawa kecil. “Biar nggak penasaran, kita temui Lutfi sekarang.”

 

“Oke Bos!” Yuna menautkan ujung jari telunjuk dengan ibu jarinya. Ia bergegas melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Lutfi.

 

Yuna langsung membuka pintu tanpa mengetuk. “Selamat sor—” Ucapannya terhenti saat Icha sedang membantu Lutfi memakai kaosnya. Ia langsung menutup wajah dengan telapak tangannya. “Aku nggak lihat apa-apa, kok.” Ia menahan tawa sambil mengintip lewat sela-sela jarinya.

 

“Kami nggak ngapa-ngapain,” sahut Lutfi sambil menatap Yuna.

 

Icha tersenyum canggung. “Aku Cuma bantu Lutfi pakai kaos doang.”

 

Yuna tertawa kecil. “Kenapa kalian harus jelasin ke aku kalau emang nggak ngapa-ngapain?”

 

Icha dan Lutfi saling pandang.

 

“Kami punya hadiah buat kalian ...!” seru Yuna ceria sambil menunjukkan map yang dibawa Yeriko.

 

“Hasil tes DNA udah keluar,” tutur Yeriko sambil melemparkan amplop map ke pangkuan Lutfi.

 

“Cepet buka! Aku penasaran,” seru Yuna.

 

Lutfi menatap amplop di pangkuannya. Ia memegang amplop tersebut perlahan dengan tangan gemetar.

 

Yuna dan Yeriko ikut cemas melihat sikap Lutfi.

 

Icha tersenyum kecil. Ia sudah melatih hatinya untuk menerima Lutfi sebagai kakaknya. Ia tidak ingin merasa sakit lagi karena terlalu berharap kalau Lutfi akan menjadi satu-satunya pria yang akan mencintai seumur hidupnya.

 

Lutfi menatap wajah Icha. Ia merasa ada badai yang tiba-tiba menyerang matanya. Sekuat mungkin, ia menahan matanya agar tetap kering.

 

Yuna langsung meraih tangan Yeriko dan menggenggam sangat erat. Ada hal sulit yang harus dihadapi oleh Icha saat dokumen itu dibuka. Jika mereka benar kakak-beradik, Yuna sendiri tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada keduanya di masa depan. Ia tak yakin kalau Lutfi benar-benar bisa menerima kenyataan pahit ini.

 

Icha tersenyum menatap Lutfi yang masih enggan membuka dokumen tersebut. “Apa pun hasilnya, aku akan terima dengan lapang dada.”

 

“Kamu yakin?” tanya Lutfi.

 

Icha menganggukkan kepala sambil tersenyum.

 

“Berdoa dulu, Lut!” pinta Yuna, ikut cemas melihat hasilnya.

 

Lutfi mengangguk, ia memejamkan matanya sambil berdoa. “Semoga ... aku dan Icha nggak punya hubungan darah,” batinnya.

 

Lutfi membuka mata, ia merobek map amplop tersebut secara perlahan. Ia mengeluarkan kertas di dalamnya secara perlahan. Kemudian, meletakkan kembali dokumen itu ke atas tempat tidur. “Aku takut, Yer!” serunya.

 

“Takut kenapa?” tanya Yuna.

 

Lutfi menarik napas panjang, kemudian mengeluarkan perlahan. Ia melakukannya beberapa kali.

 

“Lut, cepetan ...! Jangan bikin aku makin jantungan!” pinta Yuna.

 

“Bentar,” jawab Lutfi sambil menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang dan melakukan push up beberapa kali.

 

Yuna makin tak sabar dengan sikap Lutfi. Perasaannya semakin was-was.

 

Lutfi menarik napas dan langsung membuka dokumen yang ada di hadapannya. Ia membacanya seorang diri.

 

Wajah Lutfi berubah masam seketika setelah membaca dokumen tersebut. Ia memeluk dokumen itu ke dadanya dan meringkuk di atas ranjang.

 

“Lut ...!” panggil Yuna lirih.

 

Lutfi menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia tak mau melihat tiga orang yang bersamanya melihat raut wajahnya yang buruk.

 

“Lut, apa pun itu ... aku terima kok. Aku bakal tetep sayang sama kamu sebagai kakak,” tutur Icha lirih. Ia merasa sangat sakit melihat Lutfi yang begitu menderita karena harus menerima kenyataan pahit hubungannya kali ini.

 

“Lut ...!” panggil Icha lirih sambil menyentuh lembut pundak Lutfi.

 

Lutfi langsung menyingkirkan tangan Icha. “Nggak usah hibur aku. Aku nggak perlu hiburan saat ini!” tutur Lutfi sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

 

Yuna, Icha dan Yeriko saling pandang. Mereka tidak tahu bagaimana caranya membujuk Lutfi agar tidak perlu bersedih lagi.

 

Melihat Lutfi terpuruk seperti ini, Icha merasa jauh lebih sakit daripada menerima kenyataan kalau pria yang ia cintai adalah kakaknya sendiri.

 

 

 ((Bersambung...))


 

Perfect Hero Bab 387 : Gigit Koin dalam Beras

 


“Nyonya muda, ini pesanan Nyonya.” Riyan langsung menghampiri Yuna sambil membawa tiga buah nampan, beras dan uang koin yang diminta oleh Yuna.

 

Yuna langsung bangkit dari tempat duduk. Ia menghampiri seorang pria pemilik tempat latihan tersebut dan membisikkan sesuatu di telinganya.

 

Pria itu mengangguk sambil mengacungkan jempol.

 

“Makasih ...!” Yuna berbalik menghampiri Riyan.

 

“Yan, bantu aku ya!” pinta Yuna.

 

Riyan menganggukkan kepala.

 

“Berasnya, dibagi ke tiga nampan ini!” perintah Yuna sambil menyodorkan nampan berbentuk bundar ke hadapan Riyan.

 

Riyan meletakkan nampan tersebut di atas meja.

 

“Yun, kamu mau bikin apa?” tanya Jheni.

 

“Bikin lomba tujuh belasan,” jawab Yuna santai sambil menghitung uang koin yang ada di tangannya.

 

“Mau lomba makan beras? Kamu ini, jangan aneh-aneh deh!”

 

Yuna tertawa kecil. “Ini ... baru lomba yang bakal seru untuk tiga tuan muda yang manja itu. Sayangnya, Lutfi masih sakit. Kalo ada dia, pasti lebih seru lagi.”

 

Jheni tertawa kecil. Ia memerhatikan Yuna yang memasukkan koin ke dalam beras yang ada di nampan tersebut.

 

“Perlombaan sudah siap!” seru Yuna sambil menunjukkan meja yang ada di sebelahnya.

 

Yeriko dan dua sahabatnya langsung menoleh ke arah Yuna.

 

“Lomba apaan?” tanya Satria sambil menatap tiga nampan berisi beras yang ada di atas meja. “Mau nyuruh kami lomba makan beras?”

 

Yuna menganggukkan kepala. “Nggak makan beras. Lebih tepatnya, lomba nyari koin di dalam beras ini,” jawab Yuna sambil tersenyum.

 

Ketiga pria itu saling pandang selama beberapa saat.

 

“Kenapa? Nggak berani?” tanya Yuna.

 

“Yer, otaknya istrimu ini terbuat dari apa?” bisik Satria.

 

Yeriko mengedarkan pandangannya, kemudian melihat wajah Yuna. “Sat, di sini nggak rame, kok. Ikuti aja maunya istriku!” pinta Yeriko berbisik.

 

“Kamu ...!?” Satria mendelik ke arah Yeriko. Ia menoleh ke arah Chandra yang terlihat sangat tenang.

 

“Chan ...! Kamu mau kayak gini?” bisik Satria.

 

“Kamu bisa ngelawan kemauan Yeriko?” balas Chandra berbisik.

 

Satria menahan geram.

 

“Kenapa? Takut sama beras?” tantang Jheni sambil menatap Satria.

 

“Siapa yang takut?” sahut Satria.

 

Jheni memberi isyarat dengan kepalanya agar tiga pria itu segera berdiri di depan meja.

 

Ketiga pria itu berdiri di depan meja. Jheni langsung mengikat tangan mereka di belakang badan.

 

“Kenapa diikat?” tanya Satria.

 

“Nggak boleh pake tangan,” jawab Jheni.

 

“Terus? Pake apa?” tanya Satria.

 

“Pake mulut,” jawab Yuna.

 

“APA!?” seru Satria.

 

Yuna dan Jheni menahan tawa. Mereka berdiri di seberang ketiga pria tersebut untuk menjaga mereka.

 

“Jhen, mau ditaruh mana muka gantengku ini!?” seru Satria.

 

“Taruh aja di situ!” sahut Jheni.

 

“Awas kamu ya! Abis ini, aku bakal bikin permainan yang lebih seru lagi buat kalian berdua!” ancam Satria.

 

Yuna dan Jheni hanya tersenyum menanggapi ucapan Satria.

 

“Waktunya enam puluh detik ya! Yang paling banyak ngumpulin koin, dia yang menang,” tutur Yuna.

 

Tiga ...

 

Dua ...

 

Satu ...

 

“Mulai ...!” seru Jheni sambil menekan stopwatch di ponselnya.

 

Ketiga pria itu langsung mencari koin di dalam beras menggunakan mulutnya. Wajah mereka berubah seketika menjadi putih karena Yuna dengan sengaja menambahkan tepung ke dalamnya.

 

“Aseem ...!” seru Satria setelah mendapatkan satu koin dari jilatan lidahnya.

 

Yuna dan Jheni tergelak melihat tiga pria tampan yang kini wajahnya tak berbentuk lagi.

 

“Ayo ...!”

 

“Ayo ...!”

 

“Ayo ...!”

 

Seketika, mereka menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di tempat itu. Mereka semua menonton perlombaan gigit koin dalam beras yang dilakukan oleh tiga pria tampan itu.

 

Yuna menahan tawa saat melihat Yeriko ragu-ragu menyentuhkan bibirnya ke beras. “Ayo, sayangku! Harus menang!” seru Yuna sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko melirik ke arah istrinya. Ia bergegas mengejar ketertinggalannya. Buru-buru mencari koin lebih banyak untuk menyenangkan hati istrinya itu.

 

Semua orang terus berteriak memberi semangat. Sampai akhirnya, waktu mereka habis.

 

“Jhen, kamu hitung punya Chandra. Riyan hitung punya Satria. Aku hitung punya suamiku,” tutur Yuna sambil meraih gelas berisi koin yang ada di meja tersebut.

 

Jheni dan Riyan menganggukkan kepala. Mereka mulai menghitung koin yang didapat oleh ketiga pria tersebut.

 

“Lepasin tanganku!” pinta Satria.

 

Beberapa orang yang ada di sana, membantu melepas ikatan tali yang ada di tangan ketiga pria tersebut.

 

“Yeay ...! Chandra pemenangnya!” seru Jheni. Ia melompat kegirangan sambil memeluk tubuh  Chandra.

 

Yuna memonyongkan bibirnya. “Kita kalah lagi,” ucapnya tak bersemangat.

 

“Nggak papa. Cuma permainan,” tutur Yeriko sambil membersihkan wajahnya menggunakan tisu yang ada di atas meja tersebut.

 

“Aku ke toilet dulu!” tutur Satria sambil melangkah pergi. Chandra dan Yeriko mengikuti langkahnya dari belakang. Mereka bergegas masuk ke dalam toilet pria untuk mencuci wajahnya.

 

“Istri kalian ini bener-bener nggak punya perasaan!” dengus Satria sambil menatap wajahnya di cermin.

 

Yeriko tertawa kecil. “Tapi, seru juga sih.”

 

“Seru apanya? Muka jadi begini. Tadi, ada yang videoin kita atau nggak ya?” tanya Satria.

 

“Banyak,” jawab Chandra santai.

 

“Aih, bakal rame lagi di instagram. Anak Walikota yang super ganteng ini, tiba-tiba jadi badut kayak gini,” tutur Satria sambil mengelap wajahnya menggunakan handuk miliknya.

 

 “Hahaha.” Yeriko tergelak.

 

“Kamu nggak malu, Yer?” tanya Satria.

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Malu kenapa?”

 

“Mukamu dilihat banyak orang dalam keadaan kayak gini.”

 

“Mau diapain lagi? Waktu latihan militer, mukaku jauh lebih buruk dari ini.”

 

“Beda, Yer!” sahut Satria kesal. “Latihan militer, nggak ada mata kamera di mana-mana.”

 

“Anggap aja nggak ada,” tutur Chandra.

 

“Eh, kalian berdua ini udah diracuni sama cinta? Sampe mau jadi jelek kayak gini buat nyenengin wanita kalian itu?”

 

Yeriko dan Chandra hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan Satria. Setelah memastikan wajah mereka bersih kembali, mereka bergegas keluar dari toilet.

 

“Woii ...! Kebiasaan, main tinggalin aja!” seru Satria. Ia ingin mengejar langkah Yeriko, namun panggilan alam menghentikan langkah kakinya. “Duh, malah mau pipis.” Ia kembali masuk ke dalam toilet.

 

Yeriko dan Chandra melangkah santai mendekati Yuna dan Jheni.

 

“Ay, lihat deh!” Yuna menghampiri Yeriko sambil menunjukkan rekaman video yang ada di ponselnya. “Kalian lucu banget. Hahaha.”

 

Yeriko ikut tertawa melihat rekaman video tersebut. “Chan, jeleknya mukamu!” serunya sambil tertawa terbahak-bahak.

 

“Sama aja. Kamu juga.”

 

“Eits, lihat! Aku tetep ganteng walau kayak gini,” sahut Yeriko.

 

“Lihat mukanya Satria! Astaga! Hahaha.” Chandra tertawa lebar sambil memegangi perutnya.

 

“Kalo dia tahu ini ... bisa dibanting ini hape,” tutur Yeriko sambil menahan tawanya.

 

“Eh, harusnya ... yang perempuan juga lomba kayak gini. Lumayan pake masker beras, nggak usah ke salon lagi,” tutur Chandra sambil menatap wajah Jheni dan Yuna.

 

Yuna memonyongkan bibirnya.

 

“Nggak mau!” sahut Jheni dan Yuna bersamaan.

 

“Kompak banget,” tutur Chandra sambil memutar ulang video tersebut. Ia dan Yeriko tertawa bersamaan.

 

Chandra menatap wajah Yeriko sejenak. Sudah lama, mereka tidak pernah tertawa sebahagia ini. Kehadiran Yuna dan Jheni, berhasil membuat dunianya jauh lebih indah.

 

“Eh, simpan hapenya!” pinta Chandra sambil mematikan layar ponsel Yuna dan memberikannya pada Yeriko saat Satria melangkah ke arah mereka.

 

“Kalian lagi pada ngetawain apa?” tanya Satria.

 

“Nggak ada,” jawab Chandra santai.

 

Satria langsung duduk santai di kursi sambil mengeluarkan rokok dari sakunya.

 

“Jangan ngerokok di dekat istriku! Dia lagi hamil,” pinta Yeriko.

 

“Ck.” Satria berdecak dan mencari tempat duduk yang lebih jauh dari Yuna.

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia merangkul lengan istrinya sambil mengajaknya duduk bersantai di tempat tersebut bersama Chandra dan Jheni.


((Bersambung...))



 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas