Wednesday, February 11, 2026

Perfect Hero Bab 383 : Malam Tujuh Belas

 


“Ada apa ini?” Lutfi terkejut saat banyak orang tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.

 

“Malam ini kita mau buat perayaan tujuh belasan. Karena kamu sakit, jadi kita buat perayaan di sini aja.”

 

Lutfi mengerutkan dahinya. “Kalian mau melanggar peraturan rumah sakit? Aku ini pasien. Kalian mau bikin perayaan malam di sini?”

 

Yeriko tertawa kecil. “Ini kamar VVIP. Nggak akan ganggu pasien lain. Lagipula, kamu juga udah baikan.”

 

Lutfi tertawa kecil. “Oke. Oke. Kamu yang jamin!” Ia langsung turun dari tempat tidur dan bergabung di sofa bersama teman-teman yang lainnya.

 

“Gampang,” sahut Yeriko.

 

“Sat, kamu nggak ke kompi?”

 

“Besok aja pas upacara.”

 

“Nggak latihan?”

 

“Latihan apaan jam segini?” tanya Satria balik.

 

“Buat upacara besok.”

 

“Udah latihan dari beberapa hari lalu. Hari ini, waktunya mereka istirahat buat persiapan upacara besok.”

 

“Kamu nggak istirahat?” tanya Yuna sambil menatap Satria.

 

“Aku di sini sampai jam dua belas aja,” jawab Satria.

 

“Oh.” Yuna hanya menyahut santai.

 

“Kamu juga nggak boleh malam-malam. Bumil nggak boleh begadang!” sahut Jheni sambil menatap Yuna.

 

“Iya, Bos!” dengus Yuna.

 

“Tuh, Yer. Istri kamu ini nakal banget. Nggak bisa dinasehati,” tutur Jheni sambil menoleh ke arah Yeriko.

 

“Kata siapa? Aku ini penurut,” sahut Yuna.

 

“Penurut tapi nyolot. Mana ada orang nurut, tapi mukanya begitu.”

 

“Kenapa sama mukaku?” tanya Yuna sambil menahan tawa.

 

“Masih tanya?” Jheni langsung menyerang pinggang Yuna.

 

“Hahaha. Jangan gelitikin aku, Jhen!” serunya sambil mencoba melakukan perlawanan. Ia langsung melompat ke pelukan Yeriko.

 

“Culas! Berlindung sama suami,” dengus Jheni.

 

“Biarin!” sahut Yuna sambil menjulurkan lidahnya.

 

Yeriko ikut tertawa kecil sambil memeluk tubuh Yuna.

 

“Cha, kamu jangan murung terus!” tutur Jheni. “Minum nih, spesial aku tuangin buat kamu.”

 

Icha hanya tersenyum kecil sambil meraih gelas dari tangan Jheni. “Thanks ...!”

 

Riyan mengeluarkan semua makanan dan minuman yang mereka bawa ke atas meja.

 

“Besok pagi, kalian ikut upacara di lapangan utama aja!” pinta Satria.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

“Mau ikut upacara? Aku ikut!” bisik Yuna.

 

“Nggak usah. Ntar kamu kecapean berjemur di lapangan,” tutur Yeriko.

 

“Bukannya papaku ngirim undangan VIP ke kamu. Duduk di tribun kan? Mana ada panas-panasan. Meremehkan papaku!” sahut Satria.

 

Yeriko tertawa kecil.

 

“Kamu bohongin aku?” tanya Yuna.

 

Yeriko langsung menendang kaki Satria. “Nggak bisa banget diajak kompromi!”

 

“Kenapa?” tanya Satria sambil menahan tawa.

 

Yuna mengerutkan hidungnya menatap Yeriko.

 

Yeriko langsung merengkuh kepala Yuna ke dadanya. “Nggak usah ngambek! Aku cuma nggak mau kamu kecapean. Lagi hamil, baik-baik di rumah!” pinta Yeriko.

 

“Yer, istrimu sepanjang hari di dalam rumah. Kamu bikin dia kayak hewan peliharaan. Cuma ikut upacara doang, masa nggak boleh? Ada mamaku di sana.”

 

Yeriko menatap Satria kesal. “Kamu ...!?” Yeriko mengepal tangan ke arah Satria.

 

“Udah, nggak usah marah!” pinta Yuna sambil menarik dan memeluk tubuh Yeriko. “Aku nggak ikut upacara. Cuma bercanda doang.”

 

“Bilang aja takut sama suami,” celetuk Satria.

 

“Kamu!?” Yeriko kembali menendang kaki Satria.

 

“Sakit, Yer!” seru Satria sambil mengusap kakinya sendiri. “Kamu ini suka banget nendangin. Kenapa nggak jadi pemain bola aja sana!”

 

“Kamu yang jadi bolanya,” sahut Yeriko kesal.

 

“Asyik kali kalo jadi bola. Direbutin orang banyak. Aku mau banget kalo yang ngerebutin cewek-cewek cantik.”

 

“Halah, kamu demen sama cewek cantik. Sampe sekarang masih jomblo aja,” sahut Yeriko.

 

“Aih ... banyak cewek cantik yang mau sama aku. Akunya aja yang nggak mau. Terlalu ganteng.”

 

“Pedenya kamu ngomong gitu,” sahut Lutfi.

 

“Yee ... pede, lah.” Satria merangkul Lutfi. Matanya melirik Icha yang tak jauh darinya. “Cha, ganteng mana? Aku atau Lutfi?”

 

“Eh ...?” Icha melongo mendengar pertanyaan Satria.

 

“Heh, dia ini bukan pacarmu lagi. Kakak kamu sendiri. Jujur aja! Mana yang lebih ganteng?”

 

“Sama-sama ganteng,” jawab Icha.

 

“Halah, jawaban bohong!” sahut Satria. “Yang jujur, dong!” pintanya.

 

Icha tertawa kecil.

 

“Nggak berani jujur kalau aku yang lebih ganteng dari Lutfi. Kakak Ipar Kecil, menurut kamu gimana?” tanya Satria sambil menoleh ke arah Yuna.

 

“Huu ... tetep ganteng suamiku ke mana-mana,” sahut Yuna penuh percaya diri.

 

“Iya, sih. Dia aja yang udah laku di sini.”

 

“Kamu yang paling nggak laku. Semuanya punya pasangan. Kamu aja yang ...” Lutfi mengedarkan pandangannya.

 

“Ya Tuhan ... baru di sini aku dibully. Riyan ... come here!” perintah Satria. “Jadilah pasanganku malam ini!”

 

“Bang Sat ...!” Riyan enggan menghampiri Satria.

 

“Apa kamu bilang? Barusan ngatain apa?”

 

“Nggak ngatain, Bang. Cuma manggil nama doang,” sahut Riyan.

 

“Hahaha.” Lutfi tergelak sambil memegangi perutnya yang terasa nyeri.

 

“Jangan lebar-lebar ketawanya!” bisik Icha. “Luka kamu belum sembuh banget.”

 

Lutfi mengangguk-angguk sambil menahan tawanya. Sementara, teman-teman yang lain juga ikut tertawa. “Bangsat memang kamu, Sat. Hahaha.”

 

“Makanya, cepet cari pacar!” tutur Chandra.

 

“Susah, Chan. Yang suka banyak. Yang mau diajak pacaran, nggak ada. Hahaha.”

 

“Cari di sini aja, Sat. Sesuai dengan kriteria idamanmu,” tutur Chandra.

 

“Oh ya? Siapa?” tanya Yuna penasaran.

 

“Dia suka perawat yang tinggi badannya lebih dari seratus enam puluh lima sentimeter,” bisik Yeriko.

 

“Oh.” Yuna mengangguk-angguk tanda mengerti.

 

“Kamu aneh juga. Nyari pacar, kalo bukan perawat, nggak mau,” sahut Lutfi.

 

“Bukan nggak mau, Lut. Alangkah baiknya kalau aku punya pacar perawat. Kalo sakit, ada yang ngerawat aku dengan baik.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Dia juga tugas merawat orang lain, Sat. Egois banget!”

 

“Bilang aja kalo iri!”

 

“Ngapain iri? Udah punya istri yang bisa melayani dan merawat aku dengan baik,” sahut Yeriko santai.

 

“Perawat itu, profesi yang mulia. Orang lain aja dirawat sampai sembuh. Apalagi pasangan sendiri,” tutur Satria tak mau kalah.

 

“Aargh ... sudah, sudah. Perdebatan kayak gini, nggak bakal ada berhentinya,” sela Chandra. “Mending, kita nge-games sambil ngerayain malam kemerdekaan.”

 

“Jangan games yang terlalu berisik!” pinta Lutfi. “Ntar, dimarahin sama petugas kesehatan yang jaga kalau terlalu ribut,” tutur Lutfi.

 

“Tenang aja. Sudah diamankan sama Yeriko,” sahut Chandra.

 

“Maksudnya?”

 

“Ah, nggak usah banyak nanya! Kayak cewek aja.” Chandra langsung mengeluarkan papan ular tangga berukuran besar ke atas meja.

 

“Game apa ini? Kayak anak kecil,” tanya Lutfi sambil tertawa.

 

“Ck, game ini aja yang bisa dilakuin sama orang sakit, tapi tetep seru.”

 

“Hmm ... lumayan,” tutur Lutfi sambil mengelus-ngelus dagu dan memandang papan ular tangga yang ada di hadapannya.

 

“Jumlah pemainnya juga nggak dibatasi. Bisa langsung main sepuluh orang sekaligus.”

 

“Iya juga, sih. Ya udah. Main ini aja!”

 

“Kalo delapan orang, perputarannya terlalu lama. Gimana, kalau satu boneka, untuk satu pasangan?”

 

“Boleh,” sahut Yeriko. Yang lain juga setuju untuk memainkan berpasangan.

 

“Aku pasangan sama siapa?” tanya Satria.

 

“Sama Riyan. Mau sama siapa lagi?” sahut Lutfi.

 

“Ck, apes jadi jomblo,” gumam Satria.

 

Semua orang tertawa mendengar gumaman Satria.

 

“Ayo, kita mulai. Siapa yang mau jalan duluan?”

 

“Batu Gunting Kain dulu, dong!” pinta Satria.

 

“Oke. Perwakilan pasangan, silakan!” tutur Chandra.

 

Setelah mereka menentukan giliran main. Akhirnya, mereka memilih menghabiskan malam pesta perayaan kemerdekaan negara mereka di dalam bangsal rumah sakit. Bermain ular tangga sambil membicarakan banyak hal tentang kehidupan mereka, menghabiskan banyak waktu bersama sahabat dalam canda tawa.

 

 

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 382 : Pasien Mau Mandi

 


Andre calling …

 

Yuna menoleh ke arah layar ponsel yang ia letakkan di atas meja.

 

“Siapa?” tanya Jheni.

 

“Andre,” jawab Yuna sambil meraih ponsel tersebut. Ia mengusap layar ponsel dan menjawab panggilan A dre.

 

“Halo …!” sapa Yuna.

 

“Halo, Yun …! Kamu di mana?” Suara Andre terdengar jelas dari ponsel Yuna yang sengaja mengaktifkan loudspeaker.

 

“Aku lagi di Cocofrio bareng Jheni. Kenapa, Ndre?” tanya Yuna balik.

 

“Aku mau undang kamu ke acara ulang tahunku. Sekalian, sama Jheni juga ya!”

 

“Wah, iya. Minggu depan ya?”

 

“Iya, Yun. Dateng ya!”

 

“Mmh … aku usahain, Ndre.”

 

“Kenapa? Takut nggak dibolehin sama suami kamu?”

 

“Kamu tahu kalau dia cemburuan banget. Apalagi kalo udah sama kamu.”

 

Andre tergelak mendengar ucapan Yuna. “Aku nggak maksa, kok. Tapi, aku berharap banget kalo kamu bisa datang.”

 

“Iya, deh. Kalo nggak sibuk, aku datang.”

 

Andre tertawa kecil. “Iya, Nyonya Muda yang super sibuk.”

 

Yuna terkekeh. “Sibuk tidur,” sahutnya.

 

“Hahaha. Udah dulu ya, aku mau undang yang lain juga.”

 

“Oke. Bye …!” Yuna langsung mematikan panggilan telepon dari Andre.

 

“Masih aja ngarepin kamu,” celetuk Jheni.

 

“Hush, nggak boleh negatif thinking gitu!” sahut Yuna.

 

“Yah, abisnya … dia masih aja mepetin kamu terus.”

 

“Nggak ada salahnya bersikap baik, Jhen. Gimana kalo mantan pacar kamu yang deketin kamu lagi? Kalo niatnya mau berteman, masa mau kita benci?”

 

“Huu, nggak bakal aku mau baik sama mantan pacar.”

 

“Nggak boleh gitu. Biar gimana pun, kamu pernah sayang sama dia.”

 

“Iih, aku paling males kalo denger kamu ngomong kayak gini,” tutur Jheni kesal.

 

Yuna tertawa kecil. “Eh, mantan pacar kamu itu, nggak ada yang deketin kamu lagi?”

 

“Nggak ada. Emangnya Wilian yang udah ketahuan selingkuh, tapi masih aja ngejar-ngejar kamu.”

 

Yuna terkekeh mendengar ucapan Jheni. Mereka terus bercanda sambil menikmati makanan di tempat tersebut sebelum kembali ke rumah masing-masing.

 

 

 

 

 

 

Icha melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit sambil membawakan makanan untuk Lutfi. Ia terus merawat Lutfi selama di rumah sakit.

 

“Pagi …!” sapa Icha begitu ia masuk ke dalam ruang rawat.

 

“Pagi juga,” sahut Lutfi sambil tersenyum ke arah Icha. Ia berusaha untuk mengangkat tubuhnya secara perlahan.

 

Icha langsung membantu Lutfi untuk duduk di atas ranjangnya. “Aku bawain bubur ayam buat kamu. Makan dulu ya!”

 

Lutfi menganggukkan kepala. “Semalam, kamu tidur di mana?”

 

“Di kosan yang baru. Kenapa?” tanya Icha balik.

 

“Kenapa tinggal di kosan? Rumah kamu?”

 

“Udah habis sewanya. Uang yang aku punya, cuma cukup untuk bayar kos-kosan. Sisanya, harus aku simpan dengan baik supaya bisa ngelunasin hutang-hutangku.”

 

“Tinggal di rumahku aja. Gimana?”

 

Icha menggelengkan kepala. “Tinggal di kosan bukan sesuatu yang buruk.”

 

“Tapi, kosan itu kecil. Toh, kita juga kakak-adik. Apa kata dunia kalau adiknya Lutfi, penguasa villa di Pulau Jawa ini tinggalnya di kosan?”

 

Icha tersenyum. “Nggak usah berlebihan! Makan dulu, ya!” pinta Icha sambil menyodorkan bubur untuk Lutfi.

 

Lutfi langsung mengambil mangkuk dari tangan Icha dan melahap bubur tersebut.

 

“Pelan-pelan …!” pinta Icha lembut.

 

“Aku nggak bisa makan pelan-pelan.”

 

“Nggak ada yang ngejar-ngejar kamu. Santai aja.”

 

Lutfi menghentikan makannya sejenak. Ia tersenyum menatap wajah Icha. Kemudian, melanjutkan makannya lagi hingga habis.

 

“Cha, udah seminggu aku nggak mandi. Kepalaku gatal banget. Aku mau mandi dulu.”

 

“Luka kamu belum kering banget. Emangnya nggak bahaya kalau mandi?”

 

“Nggak papa.”

 

“Tapi … dokter bilang kalo luka kamu belum boleh kena air.”

 

“Luka kena air nggak papa. Ntar juga kering sendiri.”

 

“Kamu ngeyel banget sih!? Sengaja biar lebih lama tinggal di rumah sakit!?” sentak Icha.

 

Lutfi terdiam. Ia tidak pernah mendengar Icha berbicara dengan nada tinggi, apalagi sampai meneriaki dirinya.

 

“Sorry …!” tutur Icha lirih. “Aku tanya dokter dulu. Supaya nggak bahayain luka kamu.”

 

Lutfi menganggukkan kepala.

 

Icha tersenyum canggung. Ia bergegas pergi mencari dokter yang menangani kesehatan Lutfi.

 

Lutfi tersenyum menatap Icha yang keluar dari ruangannya. Ia merasa sangat bahagia dengan perhatian yang diberikan Icha kepadanya.

 

Icha bergegas pergi bertanya pada dokter.

 

“Permisi, Dok …!” sapa Icha pada dokter yang kebetulan berpapasan dengannya di koridor.

 

“Ya, ada apa?”

 

“Mmh … pa-, eh, kakak saya mau mandi. Apa sudah boleh?”

 

“Mas Lutfi ya?”

 

Icha menganggukkan kepala.

 

“Kalau mau mandi, lukanya harus ditutup dulu. Supaya nggak kena air.”

 

“Oke, Dok. Terima kasih.”

 

“Cari saja plastik wrapper untuk membalut lukanya sebelum mandi.”

 

“Baik, Dokter. Terima kasih atas informasinya.”

 

Dokter tersebut menganggukkan kepala dan kembali melangkahkan kakinya untuk memeriksa pasien.

 

Icha bergegas mencari plastik wrapper untuk membalut luka Lutfi.

 

Setelah mencari ke beberapa toko, akhirnya ia bisa menemukan plastik wrapper untuk membalut luka Lutfi. Ia bergegas kembali ke rumah sakit.

 

“Lut, dokter bolehin kamu mandi. Tapi, harus dibalut lebih dulu pakai wrapper,” tutur Icha begitu ia menghampiri Lutfi.

 

“Hah!?” Lutfi mengerutkan dahi. Ia tak mengerti maksud Icha.

 

Icha memberikan plastik wrapper ke tangan Lutfi. “Pakai ini dulu sebelum mandi.”

 

“Gimana makenya?” tanya Lutfi.

 

“Dibalutkan aja ke perut kamu. Supaya luka kamu nggak kena air waktu mandi.”

 

Lutfi membuka plastik wrapper tersebut. Ia mencoba membalut perutnya sendiri. Namun, ia justru membuat kekacauan karena tidak bisa melakukannya dengan baik.

 

Icha mulai gerah dengan apa yang dilakukan Lutfi. Ia mengambil alih apa yang dilakukan Lutfi. Ia membantu membalut luka yang ada di perut Lutfi menggunakan plastik wrapper.

 

Napas keduanya saling beradu saat kedua lengan Icha melingkar di perut Lutfi. Lutfi terus menatap wajah Icha yang jaraknya tak lebih dari sepuluh sentimeter di hidungnya.

 

“Cha, kenapa aku selalu merasa kalau kamu adalah orang lain yang bisa bikin dadaku bergetar sehebat ini,” batin Lutfi sambil menatap wajah Icha. Ia sulit mengendalikan dirinya saat tubuhnya bersentuhan dengan kulit lengan Icha. Ia terus mendekatkan wajahnya ke wajah Icha.

 

“Udah selesai,” tutur Icha sambil bergerak menjauhi Lutfi.

 

Lutfi menelan ludah. Tiba-tiba menjadi sangat canggung. Ia tersenyum kecil sambil menurunkan bajunya yang tersingkap. “Makasih …”

 

Icha mengangguk.

 

Lutfi melangkah perlahan menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut. Sementara, Icha menunggunya sambil duduk di sofa.

 

Gemericik air mulai terdengar dari dalam kamar mandi. Membuat Icha tak bisa mendengar suara lain. Sebab, ia masih mengkhawatirkan keadaan Lutfi yang belum benar-benar pulih dan harus mandi sendiri.

 

 

 

BRAAAK …!!!

 

 

 

Suara yang terdengar dari dalam kamar mandi, membuat Icha melompat dari atas sofa dan langsung berlari ke arah kamar mandi. Ia sangat khawatir kalau Lutfi terpeset dan jatuh.

 

Icha mencoba membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci dengan baik.

 

“Aaargh …!” teriak Icha saat melihat Lutfi berdiri di dalam kamar mandi tanpa mengenakan apa pun di tubuhnya. Ia langsung berbalik membelakangi tubuh Lutfi.

 

Lutfi langsung menarik handuk dan menutupi bagian bawah perutnya. Kepala dan tubuhnya masih penuh dengan busa sabun. “Kenapa masuk?”

 

“Sorry …! Aku pikir, kamu yang jatuh.”

 

“Tutup lagi pintunya!” perintah Lutfi.

 

Icha mengangguk. Ia meraba gagang pintu yang ada di belakangnya dan langsung menutup pintu itu kembali.

 

Lutfi tertawa kecil melihat tingkah Icha yang terlihat sangat gugup. “Dia kan adikku. Buat apa aku malu? Kita sama-sama udah dewasa. Lagian, barangku sama aja kayak yang lain,” gumam Lutfi sambil melanjutkan mandinya.

 

Di luar, Icha terlihat sangat gugup. Wajahnya memanas dan apa yang tak sengaja ia lihat barusan terus terbayang di pelupuk matanya. “Iih … Icha, dia kan kakak kamu. Nggak boleh mikir aneh-aneh,” gumamnya sambil memukul-mukul kepalanya sendiri.

 

Mereka terlihat sangat canggung karena status hubungan mereka yang tiba-tiba berubah. Dari pacar menjadi saudara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas