“Ma, Yeriko belain kita. Aku yakin, bisa dengan mudah
menghancurkan hidup Yuna,” bisik Bellina di telinga Melan.
Melan tersenyum puas. Mereka memilih beberapa pakaian
mahal dan membawanya ke kasir.
“Kamu yakin, berbaik hati sama mereka?” bisik Yuna di
telinga Yeriko.
Yeriko tersenyum. Ia merogoh dompet di sakunya.
Mengeluarkan kartu dan memberikannya pada kasir.
Kasir tersebut tersenyum sambil mengangguk sopan.
Bellina tersenyum bahagia. Ia menatap Yeriko penuh cinta.
“Makasih ya!” Ia melangkah mendekati Yeriko.
Yeriko tersenyum menatap Bellina. “Iya. Ini terakhir
kalinya kalian belanja di sini,” tegas Yeriko.
Bellina menghentikan langkahnya. “Maksud kamu?”
Yeriko menyandarkan lengannya dengan santai ke meja
kasir. Ia mengerdipkan satu matanya ke pegawai kasir. “Blacklist mereka berdua
dari semua outlet penjualan brand kita!” pintanya sambil tersenyum.
“Kamu …!?” Bellina menatap geram ke arah Yeriko.
Yeriko tersenyum kecil sambil melirik Bellina. Tangannya
asyik memainkan dompet miliknya.
Yuna menahan tawa melihat ekspresi wajah Bellina. Ia
langsung menyembunyikan wajahnya di ketiak Yeriko. “Ini rencana kamu?” bisik
Yuna.
Yeriko tersenyum kecil. Ia mengelus rambut Yuna sambil
menatap Bellina dan Melan.
Bellina dan Melan langsung menatap tajam ke arah Yuna.
“Kurang ajar kamu, Yun!” sentak Melan.
“Kamu mau ngajak berantem, hah!?” Bellina berusaha
menerobos tubuh Yeriko dan bersiap mencakar wajah Yuna. “Apa maksud kalian
blacklist kami, hah!?”
Yeriko tersenyum sinis menatap Bellina. “Alasannya
simple. Toko ini sudah menjadi bagian dari anak perusahaan Galaxy Group. Aku
punya wewenang mutlak untuk mem-blacklist orang seperti kalian.”
Bellina membuka mulutnya lebar-lebar. Matanya tetap saja
tertuju pada Yuna. “Pasti kamu yang udah nyuruh suami kamu ini, kan? Kalo
berani, hadapi aku sendirian! Nggak usah berlindung di balik punggung suami
kamu ini!” sentak Bellina.
Yuna langsung melangkah sambil mengangkat dagunya menatap
Bellina. “Kamu pikir, aku takut sama kamu, hah!?”
Yeriko menahan tubuh Yuna agar tidak terpancing dengan
ucapan Bellina. “Nggak usah diladeni!” pinta Yeriko sambil berbisik. “Biarkan
mereka gila secara perlahan!”
Yuna langsung menatap tajam ke arah Bellina. Jiwa mudanya
meronta-ronta. Ingin sekali ia bergulat dengan Bellina saat itu juga.
“Sudah, Yun. Nggak usah ribut di sini!” pinta Adjie.
“Malu, dilihatin banyak orang.”
“Dia yang cari gara-gara duluan!” sahut Yuna.
Melan dan Bellina geram. Namun, tatapan Adjie dan Yeriko
yang tertuju ke arah mereka, membuat mereka tidak bisa apa-apa.
“Ayo, kita pergi dari sini!” ajak Melan sambil menarik
lengan Yeriko.
Bellina mengangguk. Ia mengikuti perintah ibunya untuk
segera pergi dari sana.
“Eh, tunggu!” seru Yeriko.
Melan dan Bellina berbalik dan menatap Yeriko.
“Kenapa lagi?” tanya Melan.
Yeriko mengambil beberapa paper bag yang ada di atas meja
kasir. “Ini barang kalian!” tuturnya sambil melemparkan paper bag tersebut ke
lantai, tepat di depan kaki Bellina dan Melan.
Bellina dan Melan terkejut. Mereka ingin memaki Yeriko,
hanya saja kekuatan mereka tak cukup dan hanya ternganga menatap beberapa paper
bag yang berserakan di kaki mereka.
“Bel, ini baju mahal-mahal. Dibuang gitu aja,” celetuk
Melan. Ia langsung menatap tajam ke arah Yuna dan Yeriko. “Kalian sengaja mau
menghina kami?”
Yeriko tersenyum sinis. “Bukannya kalian suka
barang-barang mahal? Kalau nggak suka, buang aja ke tempat sampah!”
Bellina menatap kesal ke arah Yeriko dan Yuna. Ia sangat
cemburu dengan Yuna. Memiliki suami yang tampan dan sangat kaya. Ia dan mamanya
sengaja memilih pakaian mahal untuk menguras dompet Yeriko. Ternyata, nilai
sepuluh juta dari pakaian itu hanya dianggap sampah bagi Yeriko. Dengan kesal,
ia dan mamanya memungut pakaian-pakaian tersebut dan bergegas meninggalkan Yuna
dan dua lelaki yang bersama Yuna.
Yuna tertawa kecil menatap kepergian Bellina dan Melan.
“Rasain!” umpatnya.
Yeriko tersenyum kecil.
“Nak, kamu nggak perlu berlebihan seperti ini sampai
membuang banyak uang untuk melawan mereka!” pinta Adjie.
Yeriko tersenyum menatap ayah mertuanya. “Aku nggak buang
uang banyak kok, Yah. Sudah seharusnya aku membela kalian.”
“Tapi, nggak perlu bertindak gegabah sampai harus
mengakuisisi brand seperti ini.”
Yuna langsung menatap wajah Yeriko. “Iya. Kenapa kamu
bisa mengakuisisi brand hanya dalam hitungan menit?” tanyanya. Ia tak menyangka
kalau Yeriko memiliki kekuatan yang begitu besar untuk menguasai pasar.
Yeriko tertawa kecil. “Aku bukan Bandung Bondowoso yang
bisa bikin Candi Prambanan untuk Roro Jonggrang dalam semalam atau Sangkuriang
yang bisa bikin Gunung Tangkuban Perahu. Proses akuisisi brand ini udah lama.
Kebetulan aja momennya pas banget buat ngadepin mereka.”
“Hah!? Serius?” tanya Yuna dengan mata berbinar.
Yeriko menganggukkan kepala.
Yuna tersenyum bahagia. Ia tidak menyangka kalau bisa
melawan Bellina dengan mudah.
“Sebenarnya, mereka itu siapa?” tanya Adjie pura-pura
tidak tahu agar Yuna tidak mencurigai ingatannya.
“Mereka saudaranya Yuna. Istri dan anaknya Oom Rudi. Yang
kemarin ketemu sama Ayah di rumah sakit,” jawab Yeriko.
“Oh. Itu mereka? Kenapa mereka kelihatan jahat? Bukannya
Yuna bilang, selalu diperlakukan dengan baik di rumah pamannya?”
Yuna langsung mencubit lengan Yeriko. “Ayah hilang
ingatan. Harusnya, kamu nggak kasih tahu siapa mereka. Nanti ayah jadi
kepikiran,” bisik Yuna.
“Ayah harus tahu gimana keluarga paman kamu itu
memperlakukan kamu selama ini,” sahut Yeriko.
Yuna mengerutkan hidungnya sambil menginjak sepatu
Yeriko.
“Aw …!” seru Yeriko. “Kamu mau nindas suami kamu sendiri?
Aku baru aja nolongin kamu,” tuturnya geram.
Yuna tertawa kecil. “Kamu baru aja bongkar rahasiaku.”
“Itu bukan rahasia. Semua orang juga tahu,” sahut Yeriko.
Yuna mengerutkan hidungnya.
“Sudahlah, nggak perlu berantem!” pinta Adjie. “Sekarang,
Ayah sudah tahu siapa mereka. Ayah akan melindungi kamu dan cucu Ayah.”
Yuna tersenyum menatap ayahnya. “Maaf, Yah. Aku cuma
nggak mau bikin Ayah khawatir. Aku baik-baik aja, kok. Walau mereka sering
marahin aku, mereka masih ngasih aku makan sehari tiga kali,” tuturnya sambil
tersenyum.
Adjie tersenyum menatap Yuna. Ia kini mulai mengerti
bagaimana Yuna menjalani kehidupannya seorang diri. Andai ia bisa bangun lebih
cepat, Yuna tidak akan mengalami banyak penderitaan.
“Bu, ini belanjaan Ibu.” Seorang pelayan toko menyodorkan
beberapa paper bag kepada Yuna.
“Biar Ayah yang bawa!” pinta Adjie sambil menyambar paper
bag tersebut dari tangan pelayan toko.
Pelayan toko itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Kemudian ia bergegas pergi, melayani pelanggan toko lainnya.
“Mau belanja apa lagi?” tanya Yeriko.
Yuna menggelengkan kepala. “Udah nggak ada. Kita langsung
pulang aja!” pinta Yuna.
“Belanja bahan makanan dulu, ya!” pinta Yeriko. “Di rumah
Ayah, pasti belum ada apa-apa.”
Yuna mengangguk sambil tersenyum. “Oke.”
Yeriko mengajak Yuna dan Adjie berkeliling di
supermarket. Ia berniat untuk membuatkan makanan khusus untuk ayah mertuanya.
Ia membeli bahan-bahan makanan juga keperluan bulanan lainnya untuk ayah
mertuanya.
“Nak, kamu nggak perlu seperti ini. Membuang banyak uang
untuk kami!” tutur Adjie saat melihat banyak belanjaan yang dibeli oleh Yeriko
dan Yuna.
“Ayah nggak perlu sungkan!” pinta Yeriko. “Aku sudah
anggap Ayah seperti ayah kandungku sendiri.”
Adjie tersenyum menatap Yeriko. Ia tak menyangka kalau
sekarang ia memiliki seorang putera yang begitu menyayanginya. Ia juga akan memperlakukan Yeriko seperti
anaknya sendiri.

.png)

.png)
.png)
.png)
