Thursday, July 10, 2025

Perfect Hero Bab 263 || Berhenti Kerja

 


“Bunda, hati-hati ya! Jaga anak kita!” pinta Yeriko sambil mengecup kening Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia balas mengecup bibir Yeriko dan bergegas turun dari mobil.

 

Yeriko menatap tubuh Yuna yang melangkah perlahan memasuki gedung kantornya. Ia merasa sedikit khawatir membiarkan Yuna pergi bekerja, namun ia juga harus menghormati keputusan istrinya.

 

Yuna terus tersenyum sambil melangkahkan kakinya. Di lobi, ia bertemu dengan  Icha yang juga baru masuk.

 

“Hai, Cha!” sapa Yuna ceria. Sudah beberapa hari ia tidak masuk kerja dan membuat perasaannya sangat senang saat bisa kembali bekerja.

 

“Hai, Yun. Udah bisa masuk kerja?”

 

Yuna menganggukkan kepala. Mereka melangkah beriringan menuju ruang kerja mereka.

 

Saat jam istirahat tiba, Yuna dan Icha duduk berdampingan di kantin sambil menikmati makan siang.

 

“Eh, semalam si Lutfi cerita, kalian abis dari peternakan lele?”

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Dapet telur lelenya?”

 

Yuna mengangguk lagi. “Kesel dia sama aku.”

 

“Kesel kenapa?” tanya Icha.

 

“Itu telur lele kan dapetnya banyak banget. Terus, aku nggak habisin. Eh, dianya kesel soalnya dia udah ikut kotor-kotoran demi dapetin itu.”

 

“Terus?”

 

“Ujung-ujungnya dia makan juga, hahaha.”

 

“Astaga! Lutfi tuh emang kayak gitu.”

 

“Hubungan kamu sama dia baik-baik aja kan?” tanya Yuna.

 

Icha menganggukkan kepala.

 

“Bagus, deh. Aku mau semuanya bahagia.”

 

Icha tersenyum menatap Yuna. “Gimana si Yeriko? Protective banget ke kamu?” tanya Icha.

 

Yuna menganggukkan kepala. “Pastinya. Dia sampe ngubah semua dekorasi rumah buat aku biar tetep aman.”

 

“Serius?”

 

Yuna mengangguk.

 

“Uh, sweet banget sih dia.”

 

“Iya. Karena kami sudah menanti kehadiran anak ini begitu lama. Pastinya dia nggak mau terjadi apa-apa.”

 

Icha tersenyum kecil. “Tadi dia chat aku.”

 

“Dia siapa?”

 

“Suami kamu?”

 

“Kok, bisa?”

 

“Selalu nanyain kamu. Nih!” Icha menyodorkan ponselnya, menunjukkan beberapa chat dari Yeriko yang selalu menanyakan keadaan istrinya.

 

Yuna tersenyum membaca chat yang ada di ponsel Icha. “Dia itu khawatir banget. Secara, aku di sini kayak masuk kandang singa. Untungnya, Bellina masih di rumah sakit. Jadi aku bisa lebih tenang, nggak ada yang ngajak berantem.”

 

Icha tersenyum kecil melihat wajah bahagia yang tergambar di wajah Yuna. Ia merasa bukan hanya bibir Yuna yang tersenyum, matanya, pipinya dan seluruh tubuhnya ikut menyiratkan kebahagiaan.

 

“Apa yang sudah kamu lakuin ke menantu saya, hah!?” Mega tiba-tiba sudah ada di samping Yuna.

 

Yuna menengadahkan kepalanya menatap Mega. Ia tak menyangka kalau mamanya Wilian akan menghampiri dan langsung memakinya di depan banyak orang.

 

“Aku nggak ngelakuin apa-apa,” jawab Yuna santai.

 

“Masih nggak mau ngaku? Kamu udah bunuh cucu saya!” sentak Mega geram. Emosinya semakin meningkat karena Yuna menanggapinya dirinya sangat santai.

 

“Tante, jangan sembarangan nuduh ya!” Yuna bangkit dari tempat duduk dan berhadapan langsung dengan Mega.

 

“Aku nggak nuduh sembarangan. Bellina sendiri yang bilang kalo kamu yang dorong dia sampai jatuh.”

 

“Bellina yang sengaja menjatuhkan dirinya di tangga!” sahut Yuna tak mau kalah.

 

“Nggak mungkin! Nggak mungkin dia membunuh anaknya sendiri.”

 

“Kenyataannya begitu, aku bahkan nggak menyentuh dia sedikitpun! Dia yang bunuh anaknya sendiri.”

 

“Nggak mungkin Bellina bunuh anaknya sendiri!” Mega masih tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Yuna. Ia lebih mempercayai ucapan Bellina yang terlihat histeris karena kehilangan anak kandungnya sendiri.

 

“Kita lihat aja nanti!” Yuna semakin menantang Mega. “Aku nggak akan ngebiarin Bellina fitnah aku kayak gini!”

 

“Kamu!? Udah salah masih aja berani ngelawan,” sahut Mega geram.

 

“Aku nggak salah! Makanya aku berani ngelawan. Sampai kapan pun, aku nggak akan mengakui kesalahan yang nggak pernah aku lakuin!” sentak Yuna.

 

“Anak kurang ajar!” Mega langsung berusaha menyerang Yuna.

 

Dengan cepat, Icha langsung melindungi Yuna dari serangan Mega. “Awas, Yun!” seru Icha.

 

“Kamu siapa? Berani ngelawan saya, hah? Nggak tahu saya ini siapa?”

 

“Maaf, Nyonya. Saya memang cuma karyawan biasa. Tapi, Nyonya tetap tidak bisa berbuat semena-mena seperti ini.” Icha menatap wajah Mega. Ia mencoba memberanikan diri untuk melawan Nyonya Besar pemilik perusahaan tersebut.

 

“Oh, jadi kamu mau belain dia? Kamu udah bosan kerja di sini, hah!?”

 

Icha terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya tidak ingin kalau Mega melukai Yuna.

 

“Kamu nggak usah ikut campur urusan saya!” sentak Mega sambil mendorong tubuh Icha.

 

BRAAK ...!

 

Tubuh Icha terhuyung dan langsung membentur beberapa meja dan kursi yang berjejar di dekatnya. “Aw ...!” rintih Icha sambil memegang kepalanya yang terbentur meja.

 

“Icha!” seru Yuna sambil menghampiri Icha yang tersungkur di lantai. Ia langsung menengadahkan kepalanya menatap Mega. “Tante tega banget ngelukain orang lain. Sama aja kayak Bellina!” sentak Yuna.

 

“Kamu yang duluan membunuh cucu saya. Ini belum seberapa!” sahut Mega.

 

“Aku nggak akan ngelepasin Tante kalau sampai terjadi sesuatu sama Icha!” tutur Yuna sambil membantu Icha bangkit dari duduknya.

 

Icha memijat keningnya yang berdenyut. Pandangannya semakin buram dan ia bahkan tidak bisa melihat Yuna yang berada di hadapannya.

 

“Icha!?” seru Yuna saat Icha kembali terjatuh dan tak sadarkan diri. “Tolong!” seru Yuna histeris. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Icha.

 

Beberapa karyawan langsung menghampiri Icha dan Yuna. Pak Heri langsung membopong Icha keluar dari kantin.

 

“Bawa ke rumah sakit!” perintah Yuna sambil menatap darah segar yang ada di tangannya. Tangan Yuna gemetaran sambil menatap tajam ke arah Mega.

 

Mega ikut tertegun melihat darah segar yang ada di tangan Yuna.

 

“Kalian bener-bener keluarga yang kejam!” tutur Yuna penuh amarah. “Kami nggak pernah melukai kalian sedikitpun. Kalian nggak pernah berhenti melukai kami.” Yuna langsung melangkahkan kakinya mengejar Icha yang dibawa masuk ke dalam taksi oleh Pak Heri.

 

“Biar aku aja yang bawa Icha ke rumah sakit!” Yuna langsung masuk ke dalam taksi. “Cepetan, Pak!” perintahnya pada supir taksi.

 

 

 

“Pak Heri, makasih ya!” Yuna menatap Pak Heri yang berdiri di sisi taksi.

 

 

 

Pak Heri mengangguk. “Hati-hati di jalan!”

 

 

 

Yuna mengangguk. Ia menutup kaca mobil dan bergegas pergi meninggalkan halaman kantor untuk menuju ke rumah sakit.

 

 

 

Semua karyawan menyaksikan kejadian ini. Termasuk Juan yang diam-diam tersenyum sinis melihat Icha dan Yuna terluka.

 

 

 

Walau ada beberapa orang yang tidak menyukai Yuna, tapi masih lebih banyak yang menaruh simpati pada Yuna. Di mata semua karyawan, Yuna sangat baik dan perhatian. Mereka masih tidak mengerti kenapa keluarga Wijaya begitu membenci Yuna. Walau dalam hati ingin membela Yuna, mereka tidak punya keberanian untuk melawan pemilik perusahaan.

 

 

 

 

 

Sepanjang perjalanan, Yuna sangat gelisah. Ia langsung memberitahu Lutfi dan Yeriko soal kejadian yang menimpa dirinya dan Icha.

 

 

 

Begitu sampai di rumah sakit, Icha langsung masuk ke ruang IGD. Petugas medis langsung memberikan pertolongan dengan cepat. Memasang selang infus ke tangan Icha dan mengobati luka yang ada di kepala Icha.

 

 

 

Yuna mondar-mandir di depan pintu IGD, ia sangat berharap kalau Icha baik-baik saja. Beberapa menit kemudian, Yeriko dan Lutfi datang menghampiri Yuna.

 

 

 

“Kamu nggak papa?” tanya Yeriko langsung menggenggam kedua pundak Yuna dan memperhatikan  seluruh tubuh Yuna dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.

 

 

 

“Aku nggak papa. Tapi Icha ...” Mata Yuna tertuju pada Lutfi yang berdiri di sebelah Yeriko. “Maaf, gara-gara aku ... Icha jadi kayak gini lagi,” tutur Yuna dengan mata berkaca-kaca.

 

 

 

Lutfi menghela napas. “Nggak usah menyalahkan diri kamu sendiri!” pintanya. “Semoga aja Icha nggak papa.”

 

 

 

Yuna mengangguk kecil. Hatinya tetap saja gelisah karena belum mendapat kabar tentang keadaan Icha saat ini.

 

 

 

Yeriko menatap bercak darah yang menempel di kemeja putih milik Yuna. Ia bisa memahami kekhawatiran dalam benak Yuna. Ia langsung merengkuh Yuna ke dalam pelukannya. “Semua akan baik-baik aja!” bisiknya memenangkan Yuna.

 

 

 

“Icha terluka lagi karena belain aku,” tutur Yuna lirih.

 

 

 

Yeriko menarik napas panjang. Ia merasa kalau tempat kerja Yuna bukanlah tempat yang aman. Jika bukan Icha, sudah pasti istrinya yang terbaring di atas brankar saat ini.

 

 

 

“Tempat kerja kamu bener-bener mengerikan. Lebih baik, kamu berhenti kerja!” pinta Yeriko. “Ini demi anak kita.”

 

 

 

Yuna mengangguk. Kali ini ia tidak akan membantah perintah Yeriko. Ia juga harus melindungi anak yang ada di dalam kandungannya. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada janinnya. Ia sudah berusaha keras mendapatkan seorang anak dan juga akan berusaha keras melindungi anaknya.

 

 

 

Lima belas menit kemudian, seorang perawat keluar dari ruang IGD dan memberitahukan kalau keadaan Icha baik-baik saja. Mereka langsung masuk ke dalam bangsal untuk melihat keadaan Icha.

 

(( Bersambung ... ))

 

 

 

 

Perfect Hero Bab 262 || Rencana Pembalasan Jangka Panjang

 


“Uch, akhirnya ... kesampaian juga!” seru Yuna saat melihat telur lele goreng yang sudah terhidang di atas meja. Ia langsung mengendus aroma yang sudah ia idam-idamkan sejak beberapa hari lalu.

 

“Kakak Ipar, kalo sampe nggak dihabisin itu telur lele. Aku nangis sampe pagi!” ancam Lutfi.

 

“Eh!? Kenapa?” Yuna melongo menatap Lutfi.

 

“Kita udah ikut susah payah nyari ini telur lele. Kalo sampe nggak dihabisin, seriusan aku bakal nangis.”

 

Yuna tertawa kecil. “Jadi pengen lihat kalo kamu nangis.”

 

“Wah ... ngece!” dengus Lutfi. Ia, Chandra dan Riyan bergabung ke meja makan untuk menikmati makan malam bersama Yuna dan Yeriko.

 

“Bi, Bibi cantik banget. Masakan Bibi pasti enak!” puji Lutfi sambil menatap Bibi War yang sedang menyiapkan hidangan ke atas meja makan.

 

“Halah, kamu ini muji Bibi kalo ada maunya aja,” sahut Bibi War.

 

“Hihihi.” Lutfi terkekeh geli. “Udah lama aku nggak makan masakan Bibi, nih.”

 

“Sekarang kan sudah punya pacar. Pasti udah dimasakin terus sama pacarnya, kan?” goda Bibi War.

 

“Ah, Bibi bisa aja.” Lutfi menyembunyikan wajahnya.

 

Yuna dan Yeriko ikut tertawa melihat tingkah Lutfi.

 

“Yer, kapan kamu ganti dekorasi rumah ini?” tanya Chandra.

 

“Hari ini.”

 

Chandra mengedarkan pandangannya sambil mengangguk-anggukkan kepala.

 

“Kenapa?” tanya Yeriko sambil menatap Chandra.

 

“Bagus. Aman buat Yuna.”

 

Yeriko tersenyum kecil. “Yuna lagi hamil, aku harus pastikan rumah ini aman buat dia bergerak.”

 

Yuna tersenyum menatap Yeriko. “Makasih!”

 

Yeriko tersenyum kecil menanggapi ucapan Yuna. “Makan yang banyak!”

 

“Kamu sendiri nggak makan?” tanya Chandra.

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

Mereka menikmati makan malam bersama sambil bercanda.

 

Usai makan, Yeriko menggendong Yuna naik ke kamarnya. Hal ini, membuat tiga pria single yang melihatnya sangat iri.

 

“Istirahat ya!” pinta Yeriko lembut sambil membaringkan Yuna ke atas kasur.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum.

 

“Aku temenin mereka ngobrol. Kamu nggak usah tungguin aku. Tidur duluan aja!”

 

Yuna mengangguk lagi.

 

Yeriko tersenyum. Ia mengecup bibir Yuna dan bergegas keluar dari kamar. Ia menghampiri Lutfi dan yang lainnya yang sedang bercengkerama di halaman belakang rumahnya.

 

“Yer, rumahmu enak banget sekarang. Di mana-mana ada bantal sama karpet bulu,” tutur Chandra sambil menunjuk Riyan dengan dagunya.

 

Riyan menelungkupkan tubuhnya di atas karpet bulu sambil bermain ponsel.

 

Yeriko tertawa kecil. Ia duduk santai di sebelah Riyan. “Aku harus jagain anakku. Nggak boleh sampai ada hal-hal yang berbahaya buat Yuna. Kalau kayak gini, dia bisa nyaman di mana aja tanpa harus naik turun tangga.”

 

Lutfi menggeleng-gelengkan kepala. “Nggak nyangka, orang yang nggak pernah jatuh cinta, sekali jatuh cinta langsung berubah tiga ratus enam puluh derajat.”

 

“Balik lagi, goblok!” sahut Chandra.

 

“Hahaha. Asal nggak balik lagi sama mantan!” dengus Lutfi.

 

Chandra tersenyum kecil menanggapi ucapan Lutfi.

 

“Chan, Amara sama Jheni, enak yang mana?”

 

“Enak apanya?” tanya Chandra.

 

“Masakannya, Chan. Kamu kira enak apanya? Hahaha.”

 

“Pertanyaanmu ambigu banget,” celetuk Chandra.

 

Lutfi menahan tawa. “Otakmu aja yang ngeres!” sahutnya.

 

Yeriko tertawa kecil menanggapi candaan sahabatnya. Ia menoleh ke arah Riyan yang berbaring di sebelahnya. “Yan ...!” panggilnya.

 

“Eh, iya, Pak Bos!” Riyan langsung bangkit dan duduk di sebelah Yeriko.

 

“Gimana penyelidikan Bellina?”

 

“Besok aku tanya lagi ke anggota, Pak Bos.”

 

“Kenapa lagi Mak Lampir itu? Bikin masalah lagi?” tanya Lutfi.

 

Yeriko mengangguk. “Dia bilang kalo Yuna yang dorong dia dari tangga.”

 

“Kamu percaya?” tanya Chandra.

 

Yeriko menggelengkan kepala. Ia menyulut batang rokok dan menghisapnya perlahan.

 

“Nggak mungkin Kakak Ipar ngelakuin itu. Bunuh nyamuk aja dia nggak berani. Apalagi sampe nyelakain orang lain,” sahut Lutfi.

 

“Aku tahu, makanya aku suruh Riyan selidiki ini. Karena ada yang aneh. Mereka ngancam mau laporin Yuna ke polisi. Tapi, sampe sekarang aku tungguin nggak ada dilaporin juga. Mereka pasti gak punya keberanian karena salahnya di mereka.”

 

“Bunuh aja orang kayak gitu!” sahut Lutfi.

 

Yeriko tertawa kecil. “Terus, kamu suruh aku masuk penjara? Anakku aja belum lahir.”

 

“Banyak pembunuh bayaran,” sahut Lutfi kesal.

 

“Idemu sama sekali nggak berkelas,” gumam Yeriko. “Kamu suruh aku jadi pembunuh?” tanya Yeriko sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Kayak biasanya aja,” sahut Chandra.

 

“Chan, dia itu sepupunya Yuna. Masih ada hubungan darah. Aku nggak tahu kenapa mereka benci banget sama Yuna. Kemungkinan besar karena kasus sebelas tahun yang lalu. Kalo aku ngancurin mereka terang-terangan, yang ada Bellina makin benci sama Yuna. Yuna pasti marah kalo aku bertindak sembarangan ke keluarga dia. Kamu tahu sendiri istriku itu baiknya minta ampun. Pusing aku!” keluh Yeriko.

 

“Kenapa juga Kakak Ipar masih baik sama keluarga berengsek itu?”

 

“Kalo dibilang baik, nggak juga sih. Dia sebenarnya nggak mau berhubungan sama keluarga itu lagi. Tapi, dia tetep merasa berhutang budi karena pamannya udah ngerawat dia.”

 

“Ngerawat apaan? Nyiksa iya,” sahut Lutfi.

 

Yeriko menatap Lutfi dan Chandra. “Kalian ada rencana yang bagus atau nggak?” tanya Yeriko.

 

Chandra dan Lutfi saling pandang.

 

“Buat rencana jangka panjang. Kasih mereka pelajaran pelan-pelan. Aku nggak mau mengakhiri mereka dengan mudah. Aku mau menikmati penderitaan mereka secara perlahan.”

 

Chandra dan Lutfi saling pandang dan tersenyum bersama. Di kepala mereka, sudah ada ide jahat dan akan membantu Yeriko mendapatkan keinginannya.

 

“Yan, kabar Pak Adjie gimana?” tanya Yeriko sambil menoleh ke arah Riyan.

 

“Sudah mulai membaik, Pak. Mmh ... mmh ...”

 

“Kenapa?” Yeriko langsung menatap tajam ke arah Riyan.

 

“Beberapa hari yang lalu, Pak Adjie kembali tidak sadarkan diri.”

 

“Kenapa? Nggak kritis kan?”

 

Riyan menggelengkan kepala. “Sepertinya, ada yang sengaja membuat Pak Adjie terus tertidur selama ini.”

 

“What!?” Lutfi membelalakkan matanya. “Kenapa bisa begitu?”

 

Yeriko menggelengkan kepala.

 

“Yer, aku jadi penasaran sama latar belakang keluarga Yuna. Kenapa ayah sama anak jadi incaran orang jahat? Jangan-jangan ... ada rahasia besar di balik ini semua.”

 

Yeriko mulai memikirkan ucapan Lutfi. Ia benar-benar tidak tahu dengan masa lalu keluarga Yuna yang sebenarnya. Bahkan Yuna sendiri tidak begitu mengetahui kebenaran tentang ayahnya.

 

“Yan, kamu minta ajudan ke kakek. Suruh jagain ruang perawatan Pak Adjie. Jangan sampai kita kecolongan lagi!” perintah Yeriko.

 

“Baik, Pak Bos!” Riyan menganggukkan kepala.

 

Yeriko tersenyum kecil. “Chan, gimana hubungan kamu sama Jheni? Nggak mau lebih serius?”

 

Chandra terdiam sejenak.

 

“Kenapa?” Lutfi ikut penasaran melihat raut wajah Chandra.

 

“Ternyata, mereka bukan orang tua kandung Jheni. Kalau mau nikah, harus nemuin orang tua kandung Jheni dulu.”

 

“Apa!?” Lutfi membelalakkan matanya.

 

“Nggak usah heboh!” sahut Yeriko. “Ini bukan masalah besar. Cari aja orang tua kandungnya! Kalo nggak dapet, bisa pake wali hakim.”

 

“Huft, entahlah. Kayaknya Jheni belum berniat juga berumah tangga.”

 

“Halah, cewek itu biasa jual mahal. Kamu dong yang harusnya ngelamar dia!” sahut Lutfi.

 

“Nggak usah ngajarin! Hubunganmu sama Icha aja masih nggak jelas.”

 

Lutfi terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

 

“Eh, kamu udah punya pacar atau belum?” Lutfi menatap wajah Riyan dengan tatapan menyelidik.

 

Riyan menggelengkan kepala.

 

“Buruan! Pacaran itu enak tahu!” tutur Lutfi lagi.

 

“Asisten pribadiku nggak boleh pacaran!” sahut Yeriko. “Ntar malah sibuk ngurus cewek daripada kerjaan.”

 

“Egois lu!” sahut Lutfi. “Kasihan Riyan kalo nggak boleh pacaran.”

 

“Boleh. Asal kerjaan nomor satu.”

 

“Di mana-mana, pacar itu nomor satu. Kerjaan nomor dua.”

 

“Kerjaan nomor satu. Kalo dia nggak punya kerjaan, gimana mau bahagiain pacarnya?” sahut Yeriko.

 

Riyan menatap Lutfi dan Yeriko bergantian. Ia masih tidak mengerti kenapa dua tuan muda ini memperdebatkan soal dirinya.

 

“Pak Bos, saya pasti berkerja dengan baik,” sela Riyan.

 

Yeriko bangkit sambil meliukkan badannya. “Aku tidur duluan!” pamitnya.

 

“Astaga! Baru jam sebelas, Yer. Udah nggak tahan mau kelonan?” celetuk Lutfi.

 

Yeriko tersenyum kecil sambil melangkah pergi meninggalkan tiga pria itu. “Kasihan istriku sendirian di atas. Kalo pulang, jangan lupa tutup pintu!”

 

“Ada satpam juga di depan,” celetuk Lutfi. Ia mengajak Chandra dan Riyan berbincang banyak hal tentang rencana bisnis mereka ke depan juga cara membantu Yuna menyelesaikan musuh-musuhnya dengan cara yang elegan.

 

(( Bersambung ... ))


 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas