Tuesday, May 20, 2025

Perfect Hero Bab 217 - Be Crazy || a Romance Novel by Vella Nine

 


Bellina menatap tubuh Lian yang berbaring membelakangi dirinya. Akhir-akhir ini, Lian tidak begitu bergairah terhadap dirinya. Ia semakin membenci Yuna yang telah merenggut perhatian Lian secara perlahan.

 

Bellina menarik napas perlahan, ia berbalik dan memejamkan matanya.

 

“Bel ...!” Bellina tak asing dengan suara yang memanggilnya. Ia berbalik dan mendapati seorang wanita sudah berdiri di belakangnya.

 

“Yuna? Kamu ngapain di sini?”

 

“Menurut kamu? Apa yang bisa aku lakuin di sini?” tanya Yuna sambil tersenyum sinis.

 

Bellina gemetaran mendapati tatapan Yuna yang berapi-api.

 

“Kenapa? Kamu takut sama aku?” tanya Yuna sambil mendelik.

 

“Kenapa kamu bisa masuk ke rumah ini?” tanya Bellina.

 

“Kenapa nggak bisa?” tanya Yuna balik sambil menekan tubuh Bellina ke dinding. “Apa yang kalian miliki sekarang, semuanya punyaku! Aku bakal ngerebut semuanya kembali!” seru Yuna.

 

“Nggak!” Bellina menggelengkan kepala. “Kamu nggak akan bisa ambil semuanya dari aku!”

 

Yuna tersenyum sinis. “Kamu udah ngambil Lian dari aku. Kamu harus tahu gimana rasanya kehilangan dia!” seru Yuna.

 

Bellina menggelengkan kepala. Ia berusaha melepaskan diri dan berlari keluar dari kamarnya.

 

Yuna terus mengikuti langkah Bellina.

 

“Li, Lian!” seru Bellina melihat Lian yang sudah tersungkur di lantai bersimbah darah. “Apa yang udah kamu lakuin ke Lian?” teriak Bellina sambil menatap Yuna. Ia menangis histeris sambil memeluk tubuh Lian.

 

Di sudut ruangan, juga tergeletak sosok Melan dan Tarudi yang sudah tidak berdaya.

 

“Kamu bunuh mereka, Yun?” Bellina mengernyitkan dahi menatap Yuna.

 

“Hahaha. Aku pasti membalaskan dendam orang tuaku. Kalian udah bunuh bunda!” seru Yuna. “Kali ini, kamu harus ngerasain kehilangan orang-orang yang kamu sayang! Kamu harus ngerasain kehilangan segalanya! Hahaha.”

 

 

 

Bellina menatap Yuna penuh kebencian. Ia bangkit dan berusaha menyerang Yuna.

 

 

 

Yuna langsung mengacungkan pisau berlumuran darah yang ada di tangannya. “Kamu udah siap mati?” Matanya mendelik ke arah Bellina.

 

 

 

Bellina terpaku menatap Yuna. Ia tidak mengerti kenapa Yuna berubah menjadi seorang pembunuh berdarah dingin. Ia berusaha mencari barang-barang di sekitar yang bisa ia gunakan untuk menyerang Yuna.

 

 

 

“Hahaha ...!” Yuna tertawa puas melihat Bellina sangat ketakutan.

 

 

 

“Aku bakal ambil semuanya! Semuanya yang seharusnya jadi milikku!” seru Yuna.

 

 

 

“Nggak, Yun. Kamu nggak boleh kayak gini sama aku. Aku masih kakak kamu,” tutur Bellina pelan.

 

 

 

Yuna tersenyum, ia terus melangkah mendekati Bellina. Ia terus menekan tubuh Bellina ke dinding. “Sudah selesai, Bel! Kamu bukan kakak aku lagi!” seru Yuna sambil menghunuskan pisau ke dada Bellina.

 

 

 

“Aargh ...!” Bellina memejamkan mata sambil berteriak sekuat-kuatnya. Ia tidak ingin mati di tangan Yuna. Yuna tidak bisa mengambil semua yang sudah ia miliki.

 

 

 

“Bel, Bellina ...!” panggil Lian.

 

 

 

Bellina membuka mata, ia langsung bangkit dari tidurnya. “Cuma mimpi? Untungnya Cuma mimpi ...”

 

 

 

“Kamu mimpi buruk?” tanya Lian.

 

 

 

Bellina mengangguk.

 

 

 

Lian bangkit dari tempat tidur. Bergegas mengambilkan air minum untuk Bellina.

 

 

 

“Kamu mimpi apa?” tanya Lian.

 

 

 

“Nggak papa. Cuma mimpi,” jawab Bellina sambil memeluk kakinya sendiri.

 

 

 

Mimpi kali ini benar-benar mengganggunya. Ia tidak bisa membiarkan Yuna mengambil semua yang telah ia miliki.

 

 

 

Kini, Yuna sudah masuk ke keluarga Hadikusuma yang sangat kaya. Yuna memiliki kekuatan yang sangat besar untuk membalas dendam kepada keluarganya.

 

 

 

“Nggak boleh! Ini nggak boleh terjadi. Yuna nggak boleh lama-lama ada dalam keluarga itu. Aku harus bikin Yuna keluar dari keluarga Hadikusuma!” batin Bellina.

 

 

 

“Bel, kamu baik-baik aja?” tanya Lian saat melihat Bellina tidak bergerak dan masih termenung di tempat tidur selama beberapa menit.

 

Lian menghela napas. Ia bergegas pergi ke kamar mandi dan bersiap berangkat ke kantornya.

 

“Bel, kamu belum siap-siap? Nggak masuk kerja?”

 

Bellina menggeleng kecil. “Aku nggak enak badan,” tuturnya lemah.

 

“Oke. Kalo gitu, aku berangkat kerja dulu!” pamit Lian. Ia bergegas memakai jas dan sepatunya, kemudian keluar dari kamar. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan mimpi yang menghantui Bellina. Sebelumnya, Bellina tidak pernah setakut itu.

 

Bellina turun dari tempat tidur. Ia bergegas mandi dan bersiap melakukan perlawanan. Ia harus bergerak cepat sebelum terlambat. Sebelum Yuna benar-benar membalas dendam terhadap dirinya dan keluarganya. Ia tidak akan membiarkan Yuna mendapatkan dukungan dan kekuatan yang besar dari keluarga Hadikusuma.

 

Usai sarapan, Bellina bergegas menuju rumah besar keluarga Hadikusuma yang berada di kawasan Virginia Regensi.

 

Beberapa menit kemudian, Bellina sudah sampai di depan rumah keluarga Hadikusuma. Ia menekan klakson beberapa kali agar penjaga membukakan pintu gerbang untuknya.

 

“Cari siapa, Mbak?” tanya seorang penjaga sambil menghampiri Bellina.

 

“Kamu kenal sama Ayuna, kan?” tanya Bellina balik.

 

“Iya. Tapi, Nyonya Muda sedang tidak ada di rumah ini.”

 

“Aku kakak sepupunya Ayuna. Mau ketemu sama kakek,” tutur Bellina.

 

“Tapi ...”

 

“Nggak percaya?” tanya Bellina sambil menatap penjaga gerbang itu. “Perlu aku telepon Yuna sekarang?”

 

“Nggak usah, Mbak!” Penjaga gerbang tersebut membukakan pintu gerbang lebih lebar lagi agar mobil Bellina bisa masuk ke pekarangan rumah keluarga Hadikusuma yang sangat luas.

 

Bellina mengedarkan pandangannya menatap rumah bercat putih yang sangat besar dan mewah. Ia semakin iri dengan Yuna yang telah mendapatkan kebahagiaan dan kemewahan dari keluarga Hadikusuma.

 

Bellina melangkahkan kakinya menuju pintu masuk, tapi langkahnya dihadang oleh seorang pria bertubuh kekar dengan setelan jas rapi.

 

“Maaf, Mbak! Cari siapa?” tanya pria tersebut.

 

Bellina menarik napas, ia sangat kesal karena rumah keluarga Hadikusuma sangat sulit ia masuki. Ia harus berhadapan dengan beberapa penjaga di rumahnya.

 

“Aku mau ketemu kakek Nurali,” jawab Bellina sambil melangkah.

 

“Maaf, Mbak! Apa sudah ada janji?” tanya pria itu lagi sambil menghadang tubuh Bellina.

 

“Aku ini kakaknya Yuna. Cucu menantunya kakek. Apa harus buat janji dulu buat ketemu dia?”

 

“Maaf, Mbak! Kami tidak bisa membiarkan sembarang orang masuk ke dalam rumah ini. Kakek tidak memberitahukan kepada kami sebelumnya untuk menerima Anda masuk.”

 

“Apa!? Ribet banget sih mau masuk ke rumah ini aja?” gumam Bellina. “Oke, bilangin sama kakek. Aku, Bellina Widya Linandar, kakak dari Fristi Ayuna Linandar, mau ketemu sama kakek sekarang juga!”

 

Pria itu mengangguk. Ia bergegas masuk ke dalam rumah.

 

Bellina ingin melangkah mengikuti pria tersebut. Namun, lagi-lagi langkahnya dihentikan oleh dua orang yang berjaga di pintu depan.

 

“Sialan banget!” maki Bellina kesal. “Ini rumah atau penjara? Penjaganya banyak banget?”  batinnya dalam hati.

 

Beberapa menit kemudian, pria bertubuh kekar itu keluar dari pintu rumah dan menghampiri Bellina.

 

“Maaf, Mbak! Kakek tidak bisa menemui Anda.”

 

“Apa?” Bellina mengernyitkan dahi. “Aku ini kakaknya Ayuna, menantunya keluarga Hadikusuma.”

 

“Sudah saya sampaikan. Kakek tetap tidak mau bertemu dengan Anda. Sebaiknya, Anda segera pergi dari sini!”

 

Bellina membuka mulutnya lebar-lebar. Ia tak menyangka kalau akan diperlakukan seperti ini. Bukannya bertemu dengan kakek Nurali, ia justru diusir oleh pengawal keluarga Hadikusuma, bahkan ia belum sempat menginjakkan kakinya ke rumah keluarga itu.

 

“Aku nggak terima sama perlakuan kalian yang kayak gini!” batin Bellina sambil mengepalkan tangannya. Ia kembali masuk ke dalam mobil dan bergegas keluar dari pekarangan rumah keluarga Hadikusuma.

 

Bellina menepikan mobilnya tak jauh dari rumah keluarga Hadikusuma sambil terus memikirkan cara untuk bisa masuk ke rumah tersebut.

 

Beberapa menit kemudian, mobil Lincoln Limousine keluar dari pintu gerbang. Bellina tersenyum lega, tanpa pikir panjang, ia langsung mengikuti mobil tersebut dari kejauhan.

 

 

(( Bersambung ))

 

Terima kasih yang selalu mendukung Ye Couple. Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulisnya ya... I Love you double-double...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Perfect Hero Bab 216 - Give in To Me || a Romance Novel by Vella Nine

 


“Ikut aku, yuk!” ajak Yeriko sambil menatap Yuna yang sedang menyisir rambut di depan meja riasnya.

 

“Ke mana?”

 

“Ke bawah.”

 

“Bentar, aku ikat rambut dulu.”

 

Yeriko meraih pergelangan tangan Yuna dan langsung membawanya turun dari kamar.

 

“Ada apa, sih?” tanya Yuna sambil menuruni anak tangga.

 

“Nggak ada apa-apa. Duduk!” perintah Yeriko sambil menunjuk sofa yang ada di ruang tamunya.

 

Yuna mengerutkan dahi sambil menatap Yeriko. Ia perlahan duduk di sofa tanpa mengalihkan pandangannya. “Ini suamiku kenapa? Aneh banget?” gumam Yuna.

 

Yeriko merebut sisir dari tangan Yuna dan melompat ke atas sofa. Ia duduk di belakang Yuna dan membantu menyisir rambut istrinya.

 

“Yer, nyisir rambut kan bisa di kamar. Kenapa harus ke sini sih?” tanya Yuna sambil menengadahkan kepala menatap Yeriko yang duduk di belakangnya.

 

Yeriko tersenyum sambil mengecup kening Yuna. “Nurut aja!” pintanya.

 

Yuna tersenyum. Ia tidak bertanya lagi dan membiarkan Yeriko menyisir rambutnya.

 

“Bi, tolong bukain pintu! Ada tamu,” perintah Yeriko pada Bibi War yang kebetulan melintas di belakang mereka.

 

“Eh!? Ada tamu? Kenapa nggak bilang dari tadi? Aku bisa bukain pintu.”

 

“Kamu diam aja di sini!” pinta Yeriko sambil menahan pundak Yuna agar tidak bergerak dari tempatnya.

 

“Baik, Mas.” Bibi War bergegas menuju pintu.

 

Yeriko terus memerhatikan pintu rumahnya, menunggu tiga orang yang berdiri di halaman rumahnya itu masuk.

 

“Yun, kamu hitung sampai sepuluh!” perintah Yeriko.

 

“Eh!?” Yuna melongo mendengar permintaan Yeriko.

 

“Hitung mundur dari sepuluh!”

 

“Sepuluh ... sembilan ... delapan ... tujuh ... enam ... lima ... empat ....”

 

“Tiga ... dua ... satu ...” Yeriko langsung menjentikkan jari. Tiga orang yang ia tunggu sudah berdiri di depan pintu rumah Yeriko.

 

“Kamu tahu kalau mereka mau datang?” tanya Yuna sambil menengadahkan kepalanya menatap Yeriko.

 

Yeriko mengangguk kecil. “Mereka sudah ada di depan sejak dua puluh menit yang lalu.”

 

“What!? Kenapa nggak kamu suruh masuk?”

 

“Biar mereka tahu kalau masuk ke rumah ini nggak mudah,” jawab Yeriko sambil tersenyum sinis.

 

 

 

Yuna terdiam. Ia langsung menoleh ke arah Yulia dan dua orang yang bersamanya. “Mereka orang tua Yulia?”

 

 

 

“He-em.” Yeriko mengangguk kecil.

 

 

 

“Aku harus gimana?” tanya Yuna dengan jantung berdebar.

 

 

 

“Diam dan senyum. Cukup,” jawab Yeriko singkat.

 

 

 

Yuna mengangguk, ia mengerti maksud suaminya itu.

 

 

 

Yeriko tersenyum kecil. Ia menyisir rambut Yuna penuh kelembutan. Ia sengaja mengacuhkan kehadiran Yulia dan orang tuanya.

 

 

 

“Selamat sore, Pak Yeri!” sapa Agung dengan ramah.

 

 

 

Ratih ikut menunduk hormat dan tersenyum ke arah Yeriko.

 

 

 

Yeriko masih enggan menyapa tiga orang yang berdiri di hadapannya.

 

 

 

Yulia menatap Yuna penuh kebencian. Ia merasa, Yeriko sengaja menunjukkan kemesraannya.

 

 

 

“Mmh ... ini, kami bawakan oleh-oleh untuk Pak Yeri dan istri. Semoga suka dengan oleh-oleh yang kami bawakan.” Ratih meletakkan beberapa paper bag ke hadapan Yuna.

 

 

 

Yuna hanya tersenyum. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap di saat seperti ini.

 

 

 

Agung memerhatikan wajah Yuna. Ia merasa, wajah Yuna sangat familiar. “Sebenarnya dia siapa? Kenapa mirip sekali dengan ...?” Ia sibuk berdialog dalam hati. Merasa bahwa Yuna bukanlah orang biasa.

 

 

 

“Angkuh banget! Mentang-mentang kaya, memperlakukan orang lain seenaknya,” gumam Yulia.

 

 

 

Agung langsung menoleh ke arah Yulia yang berdiri di sampingnya.

 

 

 

“Pak Ye, atas nama puteri saya. Saya meminta maaf karena telah berbicara lancang kepada Pak Yeri!” Agung membungkukkan badannya di hadapan Yeriko.

 

 

 

Yeriko hanya tersenyum kecil sambil mengikat rambut Yuna. “Anda sudah tahu kesalahan puteri Anda ini apa?” tanya Yeriko dingin.

 

 

 

Agung menarik napas sambil menundukkan kepala. “Saya tahu, sikap anak saya memang sudah keterlaluan. Sudah merendahkan keluarga Pak Yeri. Saya janji, akan memberikan pelajaran untuk puteri saya!”

 

 

 

“Puteri Anda, bukan cuma mengatakan saya miskin. Tapi juga sudah menuduh istri saya berselingkuh dengan tunangannya dia.”

 

 

 

Agung membelalakkan mata dan langsung menatap Yulia. “Kamu bener ngelakuin itu?”

 

 

 

“Aku nggak bilang dia selingkuh. Aku cuma bilang kalau dia godain Andre terus, Pa!” sahut Yulia.

 

 

 

“Apa bedanya?” tanya Yeriko. “Kamu bilang ke semua orang kalau Yuna yang godain Andre!” sentak Yeriko. “Jelas-jelas Andre yang selalu ngejar-ngejar Yuna. Kamu bisa lihat sendiri Porsche yang ada di garasi itu punya siapa. Punya Andre. Dia bahkan mempertaruhkan mobilnya untuk mendapatkan istriku.”

 

 

 

“Andre itu masih muda. Dia juga sukses dan tampan. Dia nggak mungkin mau sama istri orang kalau perempuannya nggak kecentilan gangguin dia duluan,” sahut Yulia kesal.

 

 

 

“Kamu!?” Yuna mendelik sambil menunjuk wajah Yulia.

 

 

 

Yeriko menahan bahu Yuna agar tidak bergerak dari tempat duduknya.

 

 

 

“Yul, kamu jangan nambah masalah!” pinta Agung berbisik. “Lebih baik, kamu minta maaf!”

 

 

 

“Aku nggak mau minta maaf! Aku nggak salah, Pa!” sahut Yulia.

 

 

 

Agung hampir kehilangan wajah di depan Yeriko. Sikap Yulia benar-benar membuatnya malu.

 

 

 

“Kamu ke sini malah cari masalah sama kami!?” Yeriko menunjuk wajah Yulia sambil menahan geram.

 

 

 

“Bibi, panggilkan satpam di depan!”perintah Yeriko pada Bibi War.

 

 

 

Bibi War mengangguk dan langsung bergegas pergi. Tak butuh waktu lama untuk membawa dua satpam rumahnya itu masuk.

 

 

 

“Pak Ye, tolong maafin sikap puteri saya!” pinta Agung.

 

 

 

“Pak, tolong bawa mereka keluar dari rumah ini!” pinta Yeriko pada dua orang satpam yang bertugas.

 

 

 

“Pak Ye, tolong beri kami kesempatan!”

 

 

 

“Kami merasa sangat bersalah karena tidak bisa mendidik anak kami dengan baik. Kami minta maaf, Pak Ye ...”

 

 

 

Agung dan Ratih merosot ke lantai. Mereka berlutut si hadapan Yeriko.

 

 

 

Yulia melihat ke langit-langit ruangan. Ia merasa dirinya tidak bersalah. Untuk apa dia meminta maaf pada Yuna dan Yeriko.

 

 

 

“Yulia, cepet minta maaf sama Pak Yeri!” pinta Agung.

 

“Pa, aku nggak salah. Buat apa minta maaf. Emang kenyataannya kayak gitu. Aku tahu semuanya dari Bellina. Bahkan, Yuna juga godain tunangannya Bellina sampai sekarang.”

 

Yuna melongo mendengar ucapan Yulia. “Kamu nggak tahu apa-apa. Jangan asal ngomong!” sentak Yuna.

 

Yulia terdiam menghadapi Yuna yang penuh amarah.

 

Yeriko merangkul leher istrinya dengan mesra. “Jangan marah-marah, Sayang!” pintanya berbisik. “Ntar cantiknya luntur,” ucapnya sambil mengecup pelipis Yuna.

 

Pandangan Yeriko beralih pada Yulia dan kedua orang tuanya. Ia kini mengerti kenapa Yulia tiba-tiba menyerang istrinya. “Oh, kamu kayak gini karena dipengaruhi sama Bellina? Sebaiknya, kamu lebih berhati-hati dan tidak mudah terpengaruh omongan orang!”

 

Pak Agung menatap wajah Yulia, ia memberi isyarat agar puterinya segera meminta maaf pada Yeriko.

 

“Pak Agung, saya sarankan untuk Anda lebih berhati-hati lagi dalam menjaga puteri Anda. Jangan sampai tertipu oleh kejahatan dan kebohongan Bellina. Sepertinya, puteri Anda sudah diperalat oleh dia.”

 

“Baik, Pak. Terima kasih atas sarannya. Kami pasti akan memberi dia pelajaran. Mohon, maafkan kami dan sikap puteri kami!” Agung menunduk hormat.

 

Yeriko sama sekali tidak tersentuh melihat ekspresi wajah Yulia yang masih saja merasa tidak bersalah.

 

“Pak, bawa mereka keluar dari rumah ini!” pinta Yeriko pada satpam yang masih menunggu perintah Yeriko selanjutnya.

 

Dua orang satpam itu langsung meraih lengan Agung dan Yulia, membawanya keluar dari rumah Yeriko.

 

“Maaf, Pak!” Satpam tersebut menarik lengan Agung agar bangkit dan membawanya keluar.

 

“Pak Ye, tolong maafkan kami!” Agung terus menoleh ke belakang, melihat ekspresi wajah Yeriko yang begitu dingin. Ia tidak berhasil membuat suasana hati Yeriko membaik, sikap anaknya justru memancing kemarahan Yeriko lebih besar lagi.

 

(( Bersambung ))

 

Terima kasih yang selalu mendukung Ye Couple. Jangan lupa kasih Star Vote juga biar aku makin semangat nulisnya ya... I Love you double-double...

 

 

Much Love,

@vellanine.tjahjadi

 

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas