Tuesday, May 20, 2025

Perfect Hero Bab 203 - Saran Bunda Yana || a Romance Novel by Vella Nine

 


 

“Udah siap? Tanya Yeriko sambil menatap Yuna yang sedang berdiri di depan cermin. “Mama udah nunggu di bawah.”

 

Yuna mengangguk. “Kamu beneran nggak ikut ke rumah Bunda Yana?”

 

Yeriko menggeleng. “Akan lebih leluasa kalau nggak ada aku di sana. Aku nggak mau ganggu kalian.”

 

Yuna tersenyum sambil menatap wajah Yeriko. “Oke. Aku pergi dulu!” pamitnya sambil menatap wajah Yeriko.

 

Yeriko menganggukkan kepala.

 

Yuna mengecup bibir Yeriko, mereka bergegas turun menemui Rullyta.

 

“Udah siap?” tanya Rullyta saat Yuna dan Yeriko sudah menghampirinya.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Mau aku antar?” tanya Yeriko.

 

“Nggak usah. Mama bawa mobil sendiri, sama supir juga. Oh ya, di depan kok ada mobil Porsche? Mobilnya siapa?”

 

“Mobilnya Andre,” jawab Yuna.

 

“Andre? Andre yang ... digosipin skandal sama kamu itu?” tanya Rullyta sambil menatap Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Gimana bisa mobilnya ada di sini?”

 

“Mama tanya aja sama anak Mama tuh!” sahut Yuna sambil menunjuk Yeriko dengan dagunya.

 

Rullyta menatap Yeriko, meminta jawaban atas pertanyaan yang ia ajukan.

 

Yeriko tertawa kecil. “Aku taruhan mobil sama dia.”

 

“Sudah setua ini, kamu masih aja kekanak-kanakkan! Kamu jadiin Yuna sebagai bahan taruhan, hah!?”

 

“Nggak,” jawab Yeriko sambil menggelengkan kepala.

 

“Nggak gimana? Kamu taruhan mobil begitu. Kalo kamu kalah, kamu tukar istri kamu sama mobil? Nggak punya otak!” sentak Rullyta. Ia sangat kesal dengan sikap Yeriko yang kerap kali bermain-main.

 

GLEG ...!

 

Yeriko terdiam mendengar ucapan mamanya. Ia menatap Yuna yang berdiri di samping Rullyta. Ia tidak pernah berpikir sekalipun menukar istrinya dengan mobil semahal apa pun. Tapi, mamanya memiliki persepsi yang berbeda, ia khawatir kalau Yuna juga memiliki pemikiran yang sama sebagai sesama wanita.

 

“Ma, nggak mungkin Yeri nuker aku sama mobil,” tutur Yuna sambil menatap wajah Rullyta.

 

“Kamu malah belain suami kamu yang bodoh ini, hah!?”

 

Yeriko menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menatap Yuna, memberi isyarat agar segera membawa pergi mamanya.

 

Rullyta memerhatikan Yuna dan Yeriko yang terlihat berkomunikasi tanpa suara. “Heh, kalian udah mulai berkongsi buat ngelawan Mama ya?”

 

“Nggak, Ma. Mama terlalu jauh berpikirnya,” sahut Yeriko.

 

“Kamu ngapain main mata ke Yuna?”

 

“Eh, nggak papa. Aku cuma mau minta jatah lebih ntar malam karena Mama culik dia malam ini.”

 

Rullyta tersenyum menatap Yeriko. “Dasar, anak muda!”

 

Yuna meringis menatap wajah Rullyta.

 

“Ayo, kita berangkat!” ajak Rullyta sembari melangkah pergi.

 

Yuna mengerutkan hidungnya sambil menatap Yeriko. Ia memukul lengan Yeriko dan berlalu pergi mengikuti langkah Rullyta.

 

“Jangan lupa ntar malam ya!” seru Yeriko sambil menatap punggung Yuna.

 

Yuna memutar kepalanya memandang Yeriko yang tersenyum jahil ke arahnya. “Jangan bikin aku malu!” serunya dalam hati.

 

Yeriko tergelak mendapati ekspresi wajah Yuna. Ia membiarkan dua wanita kesayangannya itu pergi bersama.

 

Beberapa menit kemudian, Yuna dan Rullyta sudah sampai di rumah dinas walikota.

 

Bunda Yana langsung menyambut kedatangan Rullyta dengan ramah begitu mobil Rullyta memasuki pekarangan rumahnya.

 

“Hai ... udah lama nunggu ya?” tanya Rullyta sambil meraih kedua tangan Yana dan bersalaman pipi.

 

“Nggaklah. Di rumah sendiri gini, nyantai, kok,” jawab Yana. “Gimana kabar kamu, cantik?” tanyanya sambil menoleh ke arah Yuna, memeluknya dan bersalaman pipi.

 

“Baik, Bunda.” Yuna tersenyum manis sambil menatap Yana.

 

“Ayo, masuk!” pinta Yana.

 

Mereka bergegas masuk. Yana sudah menyiapkan jamuan lezat untuk menyambut kedatangan Yuna dan Rullyta.

 

“Yun, kamu kan kuliah di luar negeri. Pasti suka makanan western. Bunda udah siapin makanan spesial buat kamu.”

 

“Ah, Bunda berlebihan. Walau tinggal di luar negeri, lidahku masih Indonesia banget, kok.”

 

“Oh ya? Tapi, pastinya lebih familiar dengan makanan western kan?”

 

“Nggak juga. Yuna mah semua dimakan. Apalagi seafood, dia suka banget makan kepiting dan jago makan sambal,” sahut Rullyta.

 

“Oh ya?”

 

“Iya. Tahu sendiri gimana si Yeri. Dia nggak suka makan makanan yang ribet. Sementara, Yuna suka banget makanan yang ribet. Kalo dia makan kepiting, Yeri cuma ngelihatin doang.”

 

“Hahaha. Dia mau makan, kalau udah dipisahin daging kepitingnya. Kalo aku, nggak ngerasain nikmatnya kalo nggak ngisapin cangkang kepiting yang nikmat banget itu,” tutur Yuna.

 

“Kamu suka kepiting? Wah, sayang banget Bunda nggak masak kepiting. Bapak juga suka banget sama kepiting, tapi kolesterolnya tinggi. Jadi, Bunda nggak mau masak kepiting. Ntar dia ngiler lihatnya, hihihi.”

 

“Oh ya, suami kamu mana?” tanya Rullyta.

 

“Dia masih ada kegiatan di luar. Sekarang, dia udah punya warga kota Surabaya. Nggak punya banyak waktu buat keluarga.”

 

“Jadi, Bunda jarang ketemu sama Pak Walikota?” tanya Yuna di sela-sela menikmati makan malam bersama Yana dan Rullyta.

 

Yana mengangguk. “Ketemunya kalau malam aja. Kalau udah waktunya istirahat.”

 

Yuna tersenyum. Ia merasa sangat beruntung, suaminya juga pria yang sangat sibuk. Tapi masih menyempatkan waktu untuk menemaninya di rumah dan pergi jalan-jalan.

 

“Yan, kamu tahu nggak pengobatan tradisional biar bisa hamil?” tanya Rullyta. “Dulu, rahim kamu juga dingin kan?”

 

Yana langsung menatap Rullyta dan Yuna bergantian.

 

Yuna menggigit bibir, ia tidak tahu harus memulai dengan kata apa untuk mendeskripsikan perasaannya saat ini.

 

“Rahim kamu dingin?” tanya Yana sambil menatap Yuna.

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kamu nggak usah khawatir, itu bukan masalah besar. Sebentar ya!” Yana bangkit dari tempat duduk dan pergi meninggalkan Yuna dan Rullyta.

 

“Tenang aja! Masih bisa diusahakan. Semangat!” bisik Rullyta sambil menatap Yuna.

 

Yuna mengangguk sambil tersenyum. Ia sangat bahagia memiliki suami dan mama mertua yang begitu menyayanginya.

 

Beberapa menit kemudian, Yana kembali dan memberikan sebuah kartu nama kepada Rullyta.

 

“Kebetulan, aku masih simpan alamatnya. Kalian bisa datang ke alamat itu.”

 

Rullyta mengangguk. “Makasih banyak, Yan!”

 

Yana menganggukkan kepala. “Kondisi rahim dingin, memang sulit untuk hamil. Tapi, bukan berarti nggak bisa hamil. Jaga pola makan, makan makanan yang sehat dan jangan sampai stres!”

 

Yuna mengangguk. “Makasih, Bunda!”

 

“He-em. Masalah ini juga jangan jadi beban pikiran buat kamu. Ini bukan masalah besar. Jangan berpikiran negatif dan bikin kamu stres!” Yana tersenyum menatap Yuna.

 

Rullyta menatap Yuna tanpa berkedip.

 

“Kenapa Mama lihatin aku kayak gitu?”

 

“Kamu masuk kerja lagi?”

 

Yuna menganggukkan kepala.

 

“Kenapa nggak berhenti kerja aja? Kamu bisa fokus ke program kehamilan kamu. Mungkin, kamu terlalu capek kerja. Makanya jadi sulit buat hamil,” tutur Rullyta.

 

Yuna menggigit bibir. Ia merasa bersalah karena memutuskan pergi bekerja dan mengetahui kalau kondisi rahimnya tidak baik.

 

“Rully, kamu nggak boleh kayak gitu sama Yuna!” pinta Yana. “Kalo kamu ngelarang dia kerja, justru bikin dia stres. Apalagi kalau di rumah sendirian dan nggak ada kegiatan. Akan lebih baik kalau banyak aktivitas di luar. Asalkan nggak beraktivitas yang berat. Kerjaan Yuna kan di kantor, bukan pekerjaan yang berat.”

 

“Tapi ... dia kerjanya di departemen proyek. Walau kerjanya di kantor, sesekali dia terjun ke lapangan. Itu bahaya buat dia. Yeriko juga ini, jadi suami nggak becus banget! Ngebiarin istrinya pergi kerja terus,” cerocos Rullyta.

 

“Maaf, Ma! Aku yang salah, Ma. Aku yang pengen kerja karena bosan di rumah sendirian. Lagipula, Yeriko itu pemilik perusahaan besar, aku harus bisa mengembangkan karirku supaya terlihat pantas berdiri di samping dia.” Yuna menundukkan kepala.

 

Rullyta menghela napas. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Yuna. Ia juga tak ingin menjatuhkan harga diri Yuna. Ia sendiri tidak mengerti, kenapa begitu sulit menghadapi wajah Yuna yang murung. Ia kini mengerti bagaimana perasaan Yeriko saat melihat istrinya bersedih.

 

“Sudahlah, jangan berdebat lagi!” pinta Yana. “Makan!”

 

Mereka kembali menikmati makan malam bersama. Yana melontarkan beberapa cerita lucu untuk membuat suasana yang canggung kembali hangat.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  

Jangan sungkan selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Perfect Hero Bab 202 - Dukungan Mama Mertua || a Romance Novel by Vella Nine

 


Setelah sampai rumah, Yuna langsung berbaring di tempat tidur. Enggan untuk beranjak. Bahkan, senyum di bibirnya pun tak terlihat lagi.

 

“Yun ...!” panggil Yeriko lembut. “Makan yuk!”

 

“Aku ngantuk, mau tidur,” jawab Yuna sambil menutup tubuhnya dengan selimut.

 

Yeriko mengelus pundak Yuna. “Aku udah masakin banyak makanan enak buat kamu. Makan yuk!” ajak Yeriko lagi.

 

“Aku ngantuk. Biarkan aku tidur sebentar. Nanti aku makan kalo udah bangun,” tutur Yuna lirih.

 

Yeriko menghela napas, ia tidak tahu bagaimana cara membujuk Yuna agar tidak murung. Sejak pulang dari rumah sakit, ia tidak mau keluar dari kamar. Tidak banyak bicara dan terus berbaring di tempat tidur.

 

Yeriko bangkit, ia melangkah perlahan keluar dari kamar. Menuruni anak tangga dan menghampiri Bibi War yang sedang membereskan dapur.

 

“Mbak Yuna belum mau makan?” tanya Bibi War.

 

Yeriko menggeleng. “Aku nggak tahu apa yang lagi dipikirin sama dia sekarang. Dia nggak ada ngomong dan bikin aku bingung.”

 

“Sebenarnya ada apa? Kalian berantem lagi? Biasanya, Mas Yeri bisa dengan mudah ngerayu Mbak Yuna dengan makanan.”

 

“Kami nggak berantem.”

 

“Terus?”

 

“Abis periksa dari rumah sakit. Dia ...”

 

Bibi War menatap Yeriko, menunggu Yeriko melanjutkan ucapannya.

 

Yeriko menghela napas. “Aku ke rumah Mama sebentar.” Ia bangkit dan bergegas keluar rumah. Ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah besar keluarga Hadikusuma.

 

“Mama di mana?” tanya Yeriko pada pelayan saat ia masuk ke dalam rumah.

 

“Di atas, Tuan.”

 

Yeriko berlari menaiki anak tangga dan langsung naik ke lantai dua, menghampiri Rullyta yang sedang membaca majalah di ruang keluarga.

 

“Ma ...!” panggil Yeriko sambil melangkah menghampiri Rullyta.

 

Rullyta langsung menoleh ke arah Yeriko. “Tumben kamu ke sini? Yuna mana?”

 

“Aku sendirian.”

 

“Berantem lagi sama dia? Kamu nggak bisa lebih ngalah sama istri kamu?” cerca Rullyta.

 

“Aku nggak berantem sama dia.”

 

“Terus, kenapa Yuna nggak diajak ke sini?”

 

“Kami lagi ada masalah. Aku nggak bisa ngatasi dia.”

 

“Masalah apa lagi? Refi ganggu kalian lagi?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Aku abis periksain Yuna ke rumah sakit.”

 

“Dia sakit?”

 

Yeriko menggeleng.

 

“Kamu ngomong yang jelas dong ke Mama!” sentak Rullyta. “Kalo nggak sakit, kenapa harus diperiksa ke rumah sakit? Sebenarnya, ada apa sama Yuna?”

 

“Periksa kandungan,” jawab Yeriko lirih.

 

“Hah!? Yuna udah hamil!?”

 

Yeriko menggeleng.

 

“Rahim Yuna dingin, cold uterus bikin dia sulit hamil.” Yeriko memijat kening dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

 

“Yer, rahim dingin itu bukan mandul. Dia masih bisa hamil. Temen Mama ada yang seperti itu. Sekarang, dia sudah punya dua anak.”

 

“Gimana caranya?”

 

“Nanti mama coba tanyakan dia. Kayaknya, dia terapi dan minum obat-obatan herbal gitu.”

 

“Beneran masih bisa hamil kan, Ma?”

 

Rullyta menganggukkan kepala.

 

“Masalahnya ...” Yeriko menarik napas sejenak. “Yuna murung terus semenjak pulang dari rumah sakit.”

 

Rullyta menatap wajah Yeriko. “Dia pasti nge-down karena kondisi seperti ini. Semua perempuan, pasti sedih kalau divonis dokter seperti itu. Tapi, kalian masih bisa punya anak. Kamu hanya perlu mendukung istri kamu. Jangan biarin dia sedih!”

 

Yeriko mengangguk. “Aku udah ngasih dia pengertian. Sepertinya, dia lebih khawatir kalau mama nggak bisa nerima kondisi dia.”

 

“Kenapa dia berpikir kayak gitu?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Ma, tolong bujuk dia!” pinta Yeriko. “Dia nggak mau keluar kamar, nggak mau makan, nggak mau ngomong juga. Aku bingung, Ma.”

 

Rullyta tertawa kecil menanggapi ucapan Yeriko.

 

“Mama kenapa malah ketawa?”

 

“Baru ini Mama dengar kamu minta tolong sama Mama. Biasanya, kamu selalu mengatasi masalah kamu sendiri. Nggak butuh Mama.”

 

“Ck, ini bukan waktunya buat bercanda, Ma.”

 

“Mama juga nggak bercanda.”

 

“Ini beda, Ma. Aku nggak sanggup ngatasi Yuna. Apalagi kalau udah lihat dia murung kayak gitu. Aku nggak tahu harus gimana. Biasanya, dia gampang banget dihibur. Dikasih makanan enak, udah hilang sedihnya. Tapi kali ini, dia nggak tertarik sama sekali sama makanan. Bahkan nggak mau keluar dari kamar. Aku udah bujuk dia terus, tapi nggak berhasil,” cerocos Yeriko.

 

Rullyta hanya tersenyum kecil sambil melihat Yeriko yang uring-uringan.

 

“Nanti, Mama yang bujuk dia.”

 

“Beneran, Ma?”

 

Rullyta mengangguk. “Bener, dong. Yuna juga kan anak Mama. Mana mungkin Mama biarin dia sedih terus.”

 

Yeriko tersenyum menatap mamanya. “Oke. Kalo gitu, aku pulang dulu.”

 

“Mau langsung pulang?”

 

Yeriko mengangguk. “Yuna sendirian di rumah. Kalo aku pergi kelamaan, dia makin murung.”

 

“Oke. Kamu hibur dia dengan baik!” pinta Rullyta.

 

“He-em.” Yeriko mengangguk. “Kakek di mana?”

 

“Lagi tidur di kamarnya. Besok aja ke sini lagi, kamu urus Yuna!” sahut Rullyta.

 

Yeriko mengangguk. Ia bergegas kembali ke rumahnya. Ia membelikan banyak makanan untuk Yuna sebelum ia kembali ke rumah.

 

“Bi, Yuna udah makan?” tanya Yeriko saat ia kembali ke rumahnya.

 

“Belum keluar dari kamar,” jawab Bibi War.

 

Yeriko mendesah kesal. Ia menaiki anak tangga sembari membawa beberapa makanan yang ia beli dari luar. Yeriko membuka pintu kamar perlahan, meletakkan kantong makanan ke atas meja. Ia menatap Yuna yang masih berbaring sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

 

“Yun ...!” panggil Yeriko sambil melangkah perlahan menghampiri Yuna. Ia menyingkap perlahan selimut yang menutupi tubuh Yuna, menatap wajah istrinya yang terlelap.

 

 Yeriko mengelus pipi Yuna perlahan. “Yun, kamu nggak beneran tidur kan?” tanyanya berbisik. “Aku beliin banyak makanan enak buat kamu. Makan ya!”

 

Yuna masih bergeming.

 

“Yun, kamu jangan kayak gini!” pinta Yeriko berbisik. “Kita masih bisa berusaha. Asal kamu banyak makan, tetap sehat, kita pasti punya anak.” Yeriko mengelus rambut Yuna perlahan.

 

Yuna membuka mata perlahan, menatap wajah Yeriko yang begitu dekat dengannya.

 

“Yuna yang aku kenal nggak kayak gini. Penuh semangat, nggak mudah menyerah dan selalu ceria.”

 

Yuna tersenyum. “Aku nggak papa, cuma lelah. Pengen istirahat,” tuturnya lirih.

 

Ponsel Yuna tiba-tiba berdering. Yuna langsung menoleh ke ponsel di atas meja.

 

Yeriko meraih ponsel Yuna, ia tersenyum kecil begitu melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut. Ia langsung memberikan ponsel tersebut kepada Yuna. “Mama Rully,” ucapnya sambil menatap Yuna.

 

Yuna meraih ponsel dari tangan Yeriko. “Halo ...!” sapa Yuna begitu panggilan teleponnya tersambung.

 

“Halo ...! Lagi apa, Sayang?” tanya Rullyta ceria.

 

“Baru bangun tidur, Ma. Mama lagi apa?”

 

“Jam segini tidur?”

 

“Hehehe. Kepalaku rada pusing. Jadi, istirahat sebentar.”

 

“Yeriko udah cerita semuanya ke Mama.”

 

“Eh!?” Yuna langsung mengangkat tubuh dan duduk di tempat tidurnya.

 

“Kamu nggak perlu khawatir. Mama pasti bantu kamu. Oh ya, nanti malam Mama mau ke rumah Bunda Yana. Kamu siap-siap ya!”

 

“Mama nggak marah?”

 

“Marah kenapa?” tanya Rullyta balik.

 

“A ... aku ...”

 

“Jangan mikir yang aneh-aneh!” pinta Rullyta. “Rahim dingin, itu bukan masalah besar. Mama mau ajak kamu ke rumah Bunda Yana. Kamu siap-siap ya!”

 

“He-em.” Yuna menganggukkan kepala.

 

Rullyta langsung mematikan panggilan teleponnya.

 

Yuna menatap wajah Yeriko yang tersenyum kepadanya. Bibirnya juga ikut menyunggingkan senyum.

 

“Gimana? Mama nggak marah kan?” tanya Yeriko.

 

Yuna menggelengkan kepala. Ia merasa sangat tersanjung dan bahagia karena mama mertuanya memberikan dukungan kepada dirinya.

 

“Nggak ada yang perlu kamu khawatirkan! Sekarang, kita makan dulu ya! Aku laper banget.”

 

“Kamu belum makan?”

 

Yeriko menggelengkan kepala. “Kamu pikir aku bisa makan kalau istriku aja nggak mau makan.”

 

Yuna menatap wajah Yeriko. Ia merasa bersalah karena sikapnya telah membuat Yeriko tersiksa. “Maaf ...”

 

“Nggak perlu minta maaf. Aku nggak akan maafin kamu kalo masih nggak mau makan.”

 

“Iya, aku makan.”

 

Yeriko tersenyum sambil mengelus ujung kepala Yuna. Suasana hati Yuna sudah lebih baik, mereka makan bersama sambil berbincang banyak.

 

(( Bersambung ... ))

 

Makasih udah dukung cerita ini terus.  

Jangan sungkan selalu sapa aku dengan komen di bawah ya! Kasih kripik ... eh, kritik dan saran juga ya!

 

Much Love

@vellanine.tjahjadi

 

Copyright © Rin Muna
Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Edited by Gigip Andreas